Anda di halaman 1dari 4

Hubungan Antara Pemberian ASI Eksklusif dengan

Angka Kejadian Diare Pada Bayi Umur 0-6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Rowosari Kecamatan Tembalang Semarang

P= Population
Bayi berusia 0 - 6 bulan
I= Intervention
Usia Bayi 0-6 bulan, Pemberian ASI eksklusif, Pemberian Makanan Pendamping ASI,
Pengetahuan ibu, Riwayat Kejadian Diare
C= Control
Bayi usia 0 6 bulan yang diberi ASI ekslusif dan bayi berusia 0 6 bulan yang tidak diberi
ASI eksklusif
O= Outcome
Penyakit diare

Latar Belakang
Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti
biasanya. Perubahan yang terjadi berupa peningkatan volume, keenceran dan frekuensi,
dengan atau tanpa lendir darah lebih dari 3 kali/hari dan pada neonates lebih dari 4 kali/hari.
Diare termasuk penyakit berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian dan dapat
menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa). Penyebab utama kematian karena diare adalah
dehidrasi. Lebih dari 5.000 anak yang meninggal setiap hari akibat diare di seluruh dunia.
Menurut WHO dan UNICEF, ada sekitar 2 miliar kasus diare di seluruh dunia setiap tahun
dan 1,9 juta anak-anak usia kurang dari 5 tahun meninggal karena diare setiap tahun. Dari
seluruh kematian anak akibat diare, sebanyak 78% terjadi di kawasan Afrika dan Asia
Tenggara (World Gastroenterology Organization, 2012).
Diare merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di
negara berkembang. Anak usia 0-3 tahun rata-rata mengalami tiga kali diare pertahun.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, didapatkan bahwa penyebab
kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak adalah diare (31,4%) dan pneumonia
(23,8%).
Pada tahun 2000, incident rate (IR) diare adalah 301/1.000 dan data terakhir, yaitu
pada tahun 2010, sebesar 411/1.000. Terjadi peningkatan sekitar 36,5% dalam 10 tahun ini
(Widoyono, 2011). Dari data riset kesehatan dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007,
dilaporkan bahwa prevalensi Diare 9,0%, dan diantara 33 provinsi bervariasi antara 4,2% 18,9%. Prevalensi Diare berdasarkan kelompok umur, dari SKRT 2001 prevalensi diare pada
balita (1-4 tahun) 9,4% dan terlihat tinggi pada Riskesdas 2007 yaitu 16,7%. Demikian pula
pada bayi (<1 tahun), yaitu dari SKRT tahun 2001 prevalensi diare pada balita 9,4%,
sedangkan pada Riskesdas 2007 dilaporkan 16,5%. Tingginya perbedaan ini dapat disebabkan
oleh berbagai faktor, dilaporkan bahwa Diare berkait an erat dengan sanitasi, akses terhadap
air bersih dan perilaku hidup sehat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh masyarakat
(Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, 2011).

Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2013, jumlah kasus diare untuk
penderita umur <1 tahun sebesar 4.462 kasus.
Penelitian yang dilakukan Gijayanti (2010) menyebutkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian diare (p=0,000). Diketahui bahwa
dari 30 bayi yang tidak mendapatkan ASI Ekslusif, 20 bayi diantaranya mengalami diare.
Sedangkan dari 30 bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif, hanya terdapat 6 bayi yang
mengalami diare.
Hal ini juga sesuai dengan penelitian Ibrahim dik (2013) bahwa terdapat hubungan
antara riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare akut pada Anak di RSUP Prof.
DR. R. D. Kandou Manado (p=0,016). Subyek penelitian berjumlah 100 anak yang terdiri
atas 44 anak dengan riwayat asi eksklusif yang terdiri dari 16 mengalami diare dan 28 tidak
mengalami diare sedangkan 56 anak dengan riwayat tidak asi eksklusif yang terdiri dari 34
mengalami diare dan 22 tidak mengalami diare.
Kejadian diare pada bayi dapat disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makan,
dimana bayi sudah diberi makan selain ASI (Air Susu Ibu) sebelum berusia 4 bulan.
(Susanti,2004).
Perilaku tersebut sangat beresiko bagi bayi untuk terkena diare karena alasan sebagai
berikut; (1) pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI,(2) bayi
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zan t kekebalan yang hanya dapat diperoleh dari
ASI ,(3) adanya kemungkinan makanan yang diberikan bayi sudah terkontaminasi oleh
bakteri karena alat yang digunakan untuk memberikan makanan atau minuman kepada bayi
tidak steril. Berbeda dengan makanan padat ataupun susu formula, ASI bagi bayi merupakan
makanan yang paling sempurna. Pemberian ASI secara dini dan eksklusif sekurangkurangnya 4-6 bulan akan membantu mencegah penyakit pada bayi. Hal ini disebabkan
karena adanya antibodi penting yang ada dalam kolostrum dan ASI (dalam jumlah yang
sedikit). Selain itu ASI juga selalu aman dan bersih sehingga sangat kecil kemungkinan bagi
kuman penyakit untuk dapat masuk ke dalam tubuh bayi (Depkes, 2001).
Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, pajanan mikroorganisme
patogen maupun zat alergen lainnya masih merupakan masalah. Infeksi gastrointestinal
maupun non gastrointestinal lebih sering ditemukan pada bayi yang mendapat pengganti air
susu ibu (PASI) dibanding dengan yang mendapat air susu ibu (ASI). Hal ini menandakan
bahwa ASI merupakan komponen penting pada sistem imun mukosa gastrointestinal maupun
mukosa lain, karena sebagian besar mikroorganisme masuk ke dalam tubuh melalui mukosa
(Matondang, dkk, 2008).

Di Kota Semarang, cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi umur 0-6 bulan sejumlah
7.986 bayi atau 61,2% dari 13.050 bayi (Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2013).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, persentase pola menyusui
eksklusif pada bayi umur 0 bulan adalah 39,8 %. Sedangkan pada bayi yang berumur 5 bulan
menyusui eksklusif hanya 15,3%.

Penelitian-penelitian yang sudah dilakukan para ahli di India dengan menggunakan


ASI donor dari manusia, didapatkan kejadian infeksi lebih sedikit secara bermakna dan tidak
terdapat infeksi berat pada kelompok yang diberi ASI manusia, sedangkan bayi pada
kelompok yang tidak mendapat ASI (kontrol) banyak mengalami diare, pneumonia, sepsis,
dan meningitis (Tumbelaka, dkk, 2008).
Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang tahun 2007 juga menunjukkan bahwa
diantara 37 Puskesmas yang ada di Kota Semarang, Puskesmas Rowosari memiliki angka
kejadian diare yang masih cukup tinggi yaitu 21-40 per 1000 penduduk (Dinas Kesehatan
Kota Semarang, 2007).
Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui apakah terdapat hubungan riwayat
pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi di
Puskesmas Rowosari Kecamatan Tembalang Semarang.