Anda di halaman 1dari 3

Hukum Ohm semulanya terdiri atas dua bagian.

Bagian pertama tidak lain


adalah definisi hambatan, yakni V = I R. Sering hubungan ini dinamai Hukum Ohm.
Akan tetapi, Ohm juga menyatakan, bahwa R adalah suatu konstanta yang tidak
bergantung pada V maupun I. bagian kedua hukum ini tidak seluruhnya benar.
Hubungan V = I R dapat diterapkan pada resistor apa saja, di mana V adalah beda
potensial antara kedua ujung hambatan, dan I adalah arus yang mengalir di dalamnya,
sedangkan R adalah hambatan (atau resistansi) resistor tersebut. (Frederick J. Bueche:
1989)
Banyak fisikawan yang akan mengatakan bahwa ini bukan merupakan hukum,
tetapi lebih berupa definisi hambatan. Jika kita ingin menyebut sesuatu sebagai hukum
Ohm, hal tesebut akan berupa pernyataan bahwa arus yang melalui konduktor logam
sebanding dengan tegangan yang diberikan, I V. Sehingga, R konstan, tidak
bergantung pada V, untuk konduktor logam. Tetapi hubungan ini tidak berlaku umum
untuk bahan dan alat lain seperti diode, tabung hampa udara, transistor, dan
sebagainya. Dengan demikian Hukum Ohm bukan merupakan hukum dasar, tetapi
lebih berupa deskripsi mengenai kelas bahan (konduktor logam) tertentu. (Douglas C.
Giancoli: 2001)
Resistansi suatu material bergantung panjang, luas penampang lintang, tipe
material, dan temperature. Untuk material-material yang mematuhi hukum Ohm
resistansi tidak bergantung pada arus, yaitu perbandingan V/I tidak bergantung pada I.
material seperti ini, seperti kebanyakan logam, disebut material ohmik. Untuk material
ohmik, tegangan jatuh pada suatu segmen sebanding dengan arus:

V=IR

R konstan

Untuk material non-ohmik, perbandingan V/I bergantung pada arus sehingga


arus tidak sebanding dengan beda potensial. Untuk nonohmik, resistansi R, seperti
pada persamaan tergantung pada arus I. (Paul A. Tipler: 1991)
Arus listrik adalah aliran muatan-muatan listrik yang melalui suatu penghantar.
Dalam suatu rangkaian listrik, dapat terjadi arus listrik jika terdapat beda potensial listrik
(beda tegangan listrik). Semakin banyak muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu
dikatakan semakin besar (kuat) arus listriknya. Arah arus listrik dalam suatu rangkaian
listrik yaitu dari potensial tinggi ke potensial rendah. Kuat arus listrik dapat diukur
dengan alat amperemeter.Beda potensial listrik dapat diukur dengan alat voltmeter.

Amperemeter adalah alat ukur arus listrik. Amperemeter sering dicirikan dengan
simbol A pada setiap rangkaian listrik. Satuan arus listrik dalam satuan SI adalah
ampere atau diberi simbol A. Amperemeter harus dipasang seri dalam suatu rangkaian,
arus listrik yang melewati hambatan R adalah sama dengan arus listrik yang melewati
amperemeter tersebut.

Voltmeter adalah alat ukur tegangan listrik. Voltmeter sering dicirikan dengan
simbol V pada setiap rangkaian listrik. Voltmeter harus dipasang paralel dengan ujungujung hambatan yang akan diukur beda potensialnya. Satuan beda potensial listrik
dalam satuan SI adalah volt atau diberi simbol V. Voltmeter sendiri mempunyai
hambatan sehingga dengan disisipkannya voltmeter tersebut menyebabkan arus listrik
yang melewati hambatan R sedikit berkurang.

Tegangan listrik ( kadang disebut sebagai voltase) adalah perbedaan potensial


listrik antara dua titik dalam rangakaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan volt.
Secara definisi tegangan listrik menyebabkan objek bermuatan listrik negatif tertarik dari
tempat bertegangan rendah menuju tempat bertegangan lebih tinggi. Sehingga arah
arus listrik konvesional di dalam suatu konduktor mengallir dari tegangan tinggi menuju
tegangan rendah.
Untuk menghasilkan arus listrik pada suatu rangkaian diperlukan beda potensial. Hasil
eksperimen Georege simon ohm (1787-1854) menunjukan bahwa arus litrik I yang
mengalir pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial v yang diberikan
pada ujung-ujungnya.
Jadi artinya jika beda potensial diperbesar, arus yang mengalir juga semakin besar,
sebaliknya kija beda potensial diperkecil, arus yang mengalir juga semakin kecil. Hasil
eksperimen ini disebut Hukum ohm.
Besar arus listrik pada rangkaian tidak hanya tergantung pada beda potensial
(tegangan) tetapi juga tergantung pada hambatan yabg diberikan kawat terhadap aliran
muatan. Untuk nilai tegangan tertentu, semakin besar hambatan semakin kecil yang
mengalir jadi arus I berbanding terbalik dengan hambatan R . Dengan demikian,
tetapam kesebandingan hokum ohm adalah I/R dengan demikian
I
V
I= R V atau R= I

Persamaan ini merupakan definsi umum hambatan antara dua titik tertinjau dari
penurunan tegangan. Dalam SI, suatu hambatan adalah volt per ampere atau
ohm,dengan symbol huruf besar Yunani (dibaca omega) jadi 1= 1 V/A
Hambatan suatu bahan penghantar tergantung pada panjang, luas penampang jenis
bahan, dan suhu.Untik bahan yang memenuhi hokum ohm, hambatan tidak
tergantungbpada arus. Jadi perbandingan V/I tidak tergantung pada I. bahan yang
memiliki sifat demikian, yaitu pada kebanyakan logam. Disebut bahan ohmik jadi untuk
untuk bahan ohmik berlaku
V=IR R=tetapan
Untuk bahan non-ohmik perbandingan V/I tergantung pada arus sehingga arus tidak
sebandingan dengan tegangan. Untuk bahan non-ohmik ini hambatan R tergantung
pada arus I .Hubungan antara tegangan V dan Iarus I untuk bahan ohmik dan nonohmik. Untuk bahan ohmik (kurva bawah) hubungan antara V dan I linear sehingga
R=V/I tidak tergantung pada I. untuk bahan non-ohmik (kurva atas). Hubungan antara V
dan I tidak linear sehingga R=V/I tergantung pada I. Hukum ohm bukan merupakan
hokum fundamental seperti Hukum Newton tetapi hanya merupakan gambaran dari
sifat yang dimiliki bahan.