Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI
ANASTESI, CARA PENGORBANAN DAN PEMBEDAHAN SERTA
PENGAMBILAN DARAH

Disusun oleh:
Kelompok 2
Deagita Puspitasari (31112009)
Desi Astriani
(31112011)
Desi Hadisah
(31112012)
Dicky Nurdiansyah (31112014)
Tian Nugraha
(31112049)
Farmasi 3A

PROGRAM STUDI S1-FARMASI


STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2015

I.

Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan anestesi umum, cara pengorbanan
dan pembedahan hewan serta pengambilan darah.

II.

Dasar Teori
Anestesi berasal dari bahasa Yunani an yang berarti tidak, tanpa
dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti
suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan
dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr
pada tahun 1846.
Tipe Anestesi
1. Anestesi Lokal Anastesi local
Anestesi Lokal Anastesi local atau zat penghilang rasa setempat
adalah obat yang pada penggunaan local merintangi secara reversible
penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian menghilangkan atau
mengurangi rasa nyeri, gatal gatal, rasa panas atau dingin. Banyak
persenyawaan lain juga memiliki daya kerja demikian, tetapi efeknya tidak
reversible dan menyebabkan kerusakan permanen terhadap sel-sel saraf.
Anastesi local pertama adalah kokain, yaitu suatu alkaloid yang diperoleh
dari daun suatu tumbuhan alang-alang di pegunungan Andes (Peru).
Anestesi local adalah pengurang rasa sakit di satu bagian kecil tertentu
tubuh. Suntikan anestesi diberikan pada sekitar area yang akan di operasi
untuk mengurangi rasa sakit. Anestesi juga dapat diberikan kepada pasien
dalam bentuk salep atau semprotan. Sebuah anestesi lokal akan membuat
pasien terjaga selama operasi berlangsung dan pasien akan merasakan mati
rasa di sekitar daerah yang dioperasi.
2. Anestesi Regional

Anestesi jenis ini diberikan pada bagian sekitar saraf utama tubuh
untuk membius bagian yang lebih besar pada tubuh pasien. Anestesi
regional sering dipilih untuk meredakan nyeri saat persalinan normal
ataupun caesar. Ada dua jenis anestesi regional, yaitu: Anestesi Peripheral
adalah memberikan bius untuk menghambat rasa nyeri di sekitar saraf
tertentu atau kelompok saraf. Anestesi ini sering digunakan untuk prosedur
operasi pada tangan, lengan, kaki, dan wajah. Anestesi Epidural dan
Spinal adalah memberikan bius dekat sumsum tulang belakang. Anestesi
ini paling cocok untuk prosedur operasi pada bagian perut, dada, pinggul,
dan kaki.
3. Anestesi Umum
Anastetika umum adalah obat yang dapat menimbulkan anastesia
atau narkosa (yunan = tanpa, aesthesis = perasaan), yakni suatu keadaan
depresi umum dari pelpagai pusat di SSP yang bersifat reversible, dimana
seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan, sehingga agak mirip keadaan
pingsan. Anestesi ini akan membuat pasien sepenuhnya tidak sadar
selama operasi sehingga pasien tidak menyadari dan merasakan sakit
selama operasi dilakukan. Obat bius diberikan kepada pasien dengan cara
disuntikan melalui pembuluh darah (intravena, atau IV) atau dengan cara
diberikan melalui alat pernapasan. Bius yang digunakan berbentuk gas.
4. Anestesi Epidural
Pada anestesi epidural, dampak pembiusannya terjadi lebih lama dan
dosisnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Semisal butuh tindakan
darurat, dokter akan menambahkan dosis bius. Beberapa dokter lebih

menyarankan anestesi epidural sebab biasanya tidak menimbulkan sakit


kepala setelah persalinan usai.
5. Anestesi Spinal
Sedangkan anestesi spinal, durasi pembiusan terjadi selama
pengaruh

obat

berlangsung,

sehingga

bila

masih

membutuhkan

perpanjangan jangka pembiusan, anestesi ini akan disuntikan kembali.


Dari segi harga, anestesi spinal lebih murah.
Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan pengobatan yang
menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian
tubuh yang akan ditangani (R. Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2005).
Pembukaan bagian tubuh ini umumnya menggunakan sayatan. Setelah
bagian yang ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang di
akhiri dengan penutupan dan penjahitan luk. Digestif atau saluran
pencernaan adalah saluran yang menerima makanan dari luar dan
mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan jalan proses
pencernaan dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari mulut
sampai anus.
Tahap-tahap Pembedahan :
1. Tahap pra bedah (pre opersi)
2. Tahap pembedahan (intra operasi)
3. Tahap pasca bedah (post operasi)
Kondisi tubuh pada pembedahan
Pembedahan tubuh sengaja dibuat luka sehingga terjadi stres yang
menyebabkan perubahan metabolik akibat reaksi endokrin yang kompleks.
Akibat dari luka terjadi proses penyembuhan luka yang merupakan proses
kompleks dan banyak yang terkait. Kebutuhan kalori, protein, lemak dan

elektrolit sangat diperlukan untuk kebugaran fisik dan penyembuhan luka


pasca bedah.
Puasa merupakan hal yang rutin pada pembedahan berencana. Puasa
lebih dari 24 jam akan terjadi proses katabolik yang menghabiskan
cadangan glycogen hati dan otot. Badan manusia tanpa asupan nutrisi
membutuhkan 25 kkal/kg/hari (kilokalori). Cadangan kalori habis memicu
terjadi gluconeogenesis yang diambil dari proteolisis otot juga dari protein
viseral yang mengakibatkan menurunnya integritas sel, sistem imunitas
dan enzim. Puasa panjang dengan mengistirahatkan saluran pencernaan
diperlukan asupan nutrisi yang memadai.

III.

Alat dan Bahan


Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

IV.

Bahan

Wadah/Baskom
Kain/Lap
Sarung tangan
Ram kawat
Suntikan
Gunting
Gelas kimia
Gabus

1. Mencit
2. Tikus
3. Kloroform

Prosedur
a.

Cara

menganestesi hewan percobaan


1. Menganestesi mencit dan tikus dengan kloroform
- Obat diletakkan dalam suatu wadah
- Kemudian hewan dimasukan dan wadah ditutup
- Setelah hewan sudah kehilangan kesadaran
- Hewan dikeluarkan dan siap dibedah.
b. Cara mengorbankan hewan percobaan
1. Mencit
- Cara kimia : dengan menggunakan kloroform atau Napentobarbital pada dosis yang mematikan.

Cara fisik dilakukan dengan dislokasi leher. proses dislokasi


dilakukan dengan cara :
a) ekor mencit dipegang dan kemudian ditempatkan pada
permukaan ram kawat.
b) mencit akan meregangkan badannya.
c) saat mencit meregangkan badannya, pada tengkuk ditempatkan
suatu penahan misalnnya pensil atau batang logam yang
dipegang dengan tangan kiri.
d) ekor ditarik dengan tangan kanan dengan keras, sehingga

lehernya akan terdislokasi dan mencit akan terbunuh.


2. Tikus
- Cara kimia : dengan menggunakan kloroform atau Na-

pentobarbital pada dosis yang mematikan.


Cara fisik dilakukan dengan proses sebagai berikut
a) tikus diletakkan diatas sehelai kain, kemudian badan tikus
dibungkus termasuk kedua kaki depannya dengan kain
tersebut. tikus selanjutnya dibunuh dengan cara memukul
bagian belakang telinganya dengan tongkat.
b) tikus dipegang dengan perutnya menghadap keatas, kemudian
bagian belakang kepalanya dipukulkan dengan keras pada
permukaan yang keras seperti meja.
c) ekor tikus dipegang. kemudian diayunkan sampai tengkuknya
tepat mengenai permukaan benda keras seperti bagian pinggir
meja.

c. Pengambilan darah
Mencit dan tikus
1. Ada 4 lokasi pengambilan darah : sinus orbitalis mata, vena lateral
pada ekor, vena saphena kaki, intrakardial.

2. darah yang diambil jangan terlalu banyak supaya tidak terjadi syok
hipovolemik, tetapi juga tidak boleh sedikit-sedikit tapi sering karena
bisa menimbulkan anemia
3. dan untuk mengatasi hal tersebut dapat diberi cairan pengganti atau
cairan exsanguinis, misalnya : cairan NaCl fisiologis 0,9% atau
glukosa 5%
4. jumlah darah maksimal yang boleh diambil
- 10% total volume darah / 2-4 minggu
- 1% total volume darah/ 24 jam

V.

Hasil pengamatan
1. Mencit
No
1
2
3
4
5
6
7

Organ
Lambung
Ginjal
Hati
Limfa
Jantung
Paru-paru
Panjang usus

Berat
1,96 gram
0,45 gram
2,49 gram
0,27 gram
0,10 gram
0,22 gram
60 cm

Lambung

Ginjal

Hati

Limfa
6

Jantung

Paru-paru

2. Tikus
No
1
2
3
4
5
6

Organ
Ginjal
Hati
Limfa
Jantung
Paru-paru
Panjang usus

Limfa

Ginjal

Hati

VI.

Berat
1,53 gram
8,46 gram
0,70 gram
0,70 gram
1,74 gram
90 cm

Jantung

paru-paru

Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa mampu melakukan
anestesi umum, cara pengorbanan dan pembedahan hewan serta

pengambilan darah. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit dan


tikus.
Anastesi yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah anastesi
inhalasi yang merupakan jenis anastesi umum. Anestesi umum adalah
keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran yang
bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat
karena adanya induksi secara farmakologi atau penekanan sensori pada
syaraf. Agen anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem syaraf
pusat (SSP) secara reversibel. Anestesi umum merupakan kondisi yang
dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui
penggunaan obat-obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai
dengan hilangnya respon rasa nyeri (analgesia), hilangnya

ingatan

(amnesia), hilangnya respon terhadap rangsangan atau refleks dan


hilangnya gerak spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran
(unconsciousness).
Agen anestesi umum dapat digunakan melalui injeksi, inhalasi, atau
melalui gabungan secara injeksi dan inhalasi. Anestetikum dapat
digabungkan atau dikombinasikan antara beberapa anestetikum atau
dengan zat lain sebagai preanestetikum dalam sebuah teknik yang
disebut balanced anesthesia untuk mendapatkan efek anestesi yang
diinginkan dengan efek samping minimal. Anestetika umum inhalasi yang
sering digunakan pada hewan adalah halotan, isofluran, sevofluran,
desfluran, dietil eter, nitrous oksida dan xenon. Anestetika umum yang

diberikan secara injeksi meliputi barbiturat (tiopental, metoheksital, dan


pentobarbital),

cyclohexamin

(ketamine,

tiletamin),

etomidat,

dan

propofol. Praktikum kali ini melakukan anestesi singkat dengan


menggunakan kloroform sebagai obat anestesi. Mekanisme kerja
kloroform sebagai anastesi yaitu merusak sel hati melalui metabolik
reaktif yaitu radikal triklorometil. Radikal ini secara kovalen mengikat
protein dan lipid jenuh sehingga terbentuk peroksidasi lipid pada membran
sel yang akan menyebabkan kerusakan yang dapat mengakibatkan
pecahnya membran sel peroksidasi lipid yang menyebabkan penekanan
pompa Ca2+ mikrosom yang dapat menyebabkan gangguan awal
hemostatik Ca2+ sel hati yang dapat menyebabkan kematian sel. Mencit
dimasukan dalam toples lalu dimasukan kloroform pada kapas kemudian
toples ditutup. Setelah ditutup ditunggu beberapa saat dan mencit langsung
lemas kemudian pingsan. Kloroform termasuk kedalam golongan
haloalkana yang berfungsi sebagai penganestesi umum.

Pembedahan Mencit dan Tikus

Paruparu

jantun
g

hati

lambun
g

ginj
al

limf
a

Usus
halus

Usus
besar

Organ-organ dalam tikus dan mencit


1. Jantung
Jantung terletak diatas rongga dada sebelah kiri, diatas diafragma.
Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna dan terletak di
dalam rongga dada serta terbungkus oleh pericardia. Pericardia terdiri dari

10

ginj
al

dua lapisan, yakni lamina parietalis (sebelah luar) dan lamina viseralis
(menempel di dinding jantung). Jantung terdiri dari empet ruang yakni dua
serambi (atrium) dan dua bilik (pentrikel).
Pada dasarnya fungsi serambi adalah sebagai tempat lewatnya darah
dari luar jantung ke bilik akan tetapi serambi juga dapat berfungsi sebagai
pemompa yang lemah sehingga membantu aliran darah dari serambi ke
bilik. Bilik memberi tenaga yang mendorong darah ke paru-paru dan
system sirkulasi tubuh jadi fungsi utama jantung adalah memompa darah
ke seluruh tubuh sambil membawa oksigen dan zat gizi serta membawa
memurnikan darah yang mengandung hasil metabolisme (satsix, 2009).
2. Paru-paru
Paru-paru terletak di dalam rongga di kanan dan di kiri jantung.
Paru-paru sebelah kanan terdiri atas tiga kelompok alveolus dan
merupakan dua belahan paru-paru (dua lobus). Di dalam paru-paru
bronkus sebelah kanan bercabang tiga sedangkan bronkus sebelah kiri dua
cabang, cabang itu disebut bronkiolus. Fungsi utama dari paru-paru adalah
menukar oksigen dari udara dengan karbondioksida dari darah (wati,
2009).
3. Hati
Hati merupakan organ homeostatis yang memainkan peranan penting
dalam proses metabolisme dalam manusia dan hewan. Hati berwarna
coklat kemerahan dan terletak di bawah diafragma di dalam rongga
abdomen. Hati menerima makanan terlarut dalam darah apabila makanan
ini tercerna dan diserap di usus. Fungsi hati antara lain mengubah zat
makanan yang diabsopsi dari usus dan yang disimpan di suatu tempat
dalam tubuh, mengubah zat buangan dan bahan racun untuk di eksresi

11

dalam empedu dan urin, memproduksi garam ampedu untuk pencernaan


lemak, menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen (satsix
2009).
4. Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk
seperti kacang kedelai. Terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus, antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan. Lambung
berfungsi menampung makanan, menghancurkan dan menghaluskan
makanan oleh peristaltic lambung dan getah lambung (satsix, 2009).
5. Pancreas
Pancreas merupakan kelenjar datar yang ditemukan dalam jaringan
antara lambung dan usus kecil dengan warna kecoklatan. Pancreas
memproduksi enzim-enzim pencernaan yang di kirim ke usus kecil melalui
saluran pancreas. Pancreas juga menghasilkan hormone insulin yang
berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah (satsix, 2009).

6. Limfa
Limfa terletak dibawah lambung. Organ ini berfungsi sebagai tempat
pembentukan sel darah putih untuk pertahanan tubuh, limpa termasuk
salah satu organ system imun yang terbesar, memproteksi tubuh dari benda
asing yang masuk ke dalam darah (misalnya bakteri). Limfa juga tempat
menghancurkan sel drah merah dan bisa menjadi tempat cadangan darah,
kalau tubuh butuh lebih banyak darah, limfa akan memberi tambahan
darah (satsix, 2009).
7. Ginjal

12

Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang


peritoneum pada kedua sisi vertebra thorakalis. Ginjal kanan sedikit lebih
rendah dari ginjal kiri, hal ini karena adanya lobus hepatis dexter yang
besar. Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
fibrosa terdapat cortex renalis di bagian luar yang berwarna coklat gelap
dan medulla renalis di bagian dalam yang berwarna coklat lebih terang
dibandingkan
pengeluaran

cortex.
zat-zat

Ginjal
toksis

memegang
atau

racun,

peranan

penting

mempertahankan

dalam
suasana

keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh (wati, 2009).


8. Usus halus
Usus halus berfungsi untuk menerima zat-zat makanan yang sudah
dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran
limfa, berfungsi menyerap protein dalam bnetuk asam amino, menyerap
karbohidrat dalam bentuk monosakarida. Di dalam usus halus terdapat
kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan
(wati, 2009).
9. Usus besar
Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum,
kolon desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan rectum). Usus besar
meghasilkan lendir dan berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja.
Ketika mencapai usus besar, isi usus berbentuk cairan, tetapi ketika
mencapai rectum bentuknya menjadi padat. Banyaknya bakteri yang
terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan
membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga
berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. bakteri ini penting

13

untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotic bisa
menyababkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar (wati,
2009).
Pada pengambilan darah hewan percobaan, yaitu pada mencit dan
tikus memiliki karakterisasi yang sama pada lokasi tempat pengambilan
darahnya. Lokasi tersebut diantaranya pada sinus orbitalis mata, vena
lateral dari ekor, vena saphena (kaki), dan intrakardial. Adapun pada
percobaan ini dilakukan pengambilan darah dari mencit dilakukan dengan
intrakardial (langsung dari jantung). Teknik ini umumnya dilakukan jika
darah yang dibutuhkan banyak dan mencit yang diambil darahnya ini akan
sekalian dibedah untuk diambil organnya. Diperlukan anastesi (pada
percobaan ini menggunakan kloroform) sebelumnya dan cara ini sama
pada tikus. Adapun cara pengambilan darahnya dengan menusukkan
syringe langsung ke jantung dan disedot perlahan. Kemudian darah yang
diperoleh dimasukkan ke dalam Eppendorf. Sedangkan pada pengambilan
darah dari tikus dilakukan pada vena lateral dari ekor. Caranya tikus
dimasukkan dalam selongsong yang sesuai ukurannya tubuh tikus. Ekor
tikus dijulurkan keluar dan Vena lateralis pada ekor di Incisi (dipotong) 0,2
2 cm dari pangkal ekor dengan silet atau gunting yang steril. Pijat
perlahan-lahan ekor tikus yang telah dipotong supaya darah keluar, lalu
tampung darah ke dalam Eppendorf. Untuk meningkatkan vasodilatasi,
perlu diberi kehangatan pada hewan tersebut, misalnya tempatkan dalam
ruangan dengan suhu 40C selama 10-15 menit, dengan memasang lampu
pemanas dalam ruangan tersebut. Namun pada percobaan ini dilakukan

14

dengan mencelupkan ekor tikus ke dalam air hangat selama 1 menit.


Darah yang telah diperoleh dari kedua hewan percobaan diletakkan miring
45 dan dibiarkan mengendap pada suhu kamar, selanjutnya dilakukan
sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang dimaksud.
Pada umumnya pengambilan darah yang terlalu banyak pada hewan
percobaan akan menyebabkan shok hipovolemik yaitu keadaan dimana
terjadi kehilangan darah yang menyebabkan jantung tidak mampu
memompakan cukup darah ke seluruh tubuh sehingga perfusi jaringan
tubuh menjadi terganggu, dapat menyebabkan juga stress dan bahkan
dapat menyebabkan kematian. Tetapi pengambilan darah yang tidak sesuai
aturan juga dapat menyebabkan anemia pada hewan coba. Pada umumnya
pengambilan darah hanya dilakukan sekitar 10% dari total volume darah
dalam tubuh dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dari berat
tubah dengan interval 24 jam. Total darah yang hanya boleh diambil
sekitar 7,5% dari bobot badan hewan percobaan.

VII.

Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa anastesi yang
dilakukan pada praktikum kali ini adalah anastesi inhalasi yang merupakan
jenis anastesi umum dengan menggunakan kloroform sebagai obat
anestesi.
Organ-organ bagian dalam pada tikus dan mencit sama,
diantaranya yaitu jantung, paru-paru, hati, lambung, ginjal, pankreas, usus
besar, usus halus, dll.

15

Pengambilan darah dari mencit dilakukan dengan intrakardial


(langsung dari jantung). Sedangkan pada pengambilan darah dari tikus
dilakukan pada vena lateral dari ekor.

Dafatar pustaka
Gan Gunawan, Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Jakarta: FK-UI
Katzung, B.G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Malole, M.B.M. dan C.S. Pramono. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan
Laboratorium. Bogor
Tanu, Ian, dkk. 2009. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5. Jakarta: UI

16

17

18