Anda di halaman 1dari 44

PENGETAHUAN STRUKTUR ( 3 SKS )

PENGANTAR
Pengetahuan Struktur adalah sebuah pengetahuan tentang sebuah struktur atau
sering disebut sebuah konstruksi. Sebuah kontruksi akan dinyatakan aman apabila
memenuhi beberapa persyaratan teknis diantaranya : Kestabilan atau
keseimbangan,Teknologi Bahan,konstruksi Kayu,baja dan beton
Sebuah konstruksi dikatakan stabil bila memenuhi kestabilan arah vertikal &
horizontal.
Teknologi Bahan adalah suatu pengetahuan tentang diagram regangan tegangan
pada bahan konstruksi.
Konstruksi Kayu,Baja dan Beton adalah sebuah konstruksi yang umum di pakai
pada bangunan-bangunan yang terkait dengan Teknik Lingkungan
Daftar-pustaka
1.Sudarwati,Ir Diktat Kuliah
2.Binsar Hariandja, Statika Dalam Analisis Struktur Berbentuk Rangka
3.Sudarwati,Ir Diktat kuliah konstruksi Kayu
4.Sunggono Kh,Ir.Buku Teknik Sipil,Nova Bandung
5.P.K.K.I.
6.P.M.I

BAB I
MEKANIKA TEKNIK & PENGGUNAAN
1.1.MEMAHAMI KONSEP DASAR MEKANIKA TEKNIK
Mekanika Teknik adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang keseimbangan,prinsip
keseimbangan tidak hanya digunakan di pekerjaan teknik saja namun
keseimbangan dapat digunakan dan harus digunakan pada semua kehidupan
didunia ini.
Apabila kita melihat sebuah pesawat terbang melayang di udara,maka dapat
dipahami adanya pengaruh gaya-gaya yang mengangkat dan mendorong pesawat
tersebut. Lain hal nya apabila kita melihat sebuah benda tergantung pada sebuah
kawat dan diam tidak bergrak,maka sukar dipahami adanya pengaruh gaya gaya
yang bekerja pda benda tersebut,kecuali kawat itu putus.
Apabila kawat tempat benda tergantung itu putus, maka segera dapat dipahami
pengaruh gaya-gaya didalam sistem itu.Yaitu pengaruh gaya berat pada enda yang
mengakibatkan benda tersebut jatuh bila kawat putus dan pengaruh suatu gaya
yang menyebabkan kawat tegang selama benda tergantung padanya.
Gaya yang digambarkan tersbut disebut GAYA DALAM (arrested forces) yaitu gaya
yang tersembunyi didalam konstruksi.Gaya-gaya semacam inilah yang dipelajari
dalam Mekanika Teknik.
Didalam bab ini akan dipelajari berbagai macam gaya dengan segala istilah yang
akan digunakan beserta kaidah-kaidahnya.
Dari kejadian diatas dapat disimpulkan bahwa ;
Gaya memiliki ;
Besaran :
Untuk menggambarkan besaran suatu gaya ditunjukan dengan panjangnya
anak panah.Makin panjang anah panah makin besar gayanya.Untuk
menegaskan masih diberikan angka mis P=500 kg.
Arah :
Arah gaya ditunjukan dengan arah mata panah.
Titik Tangkap :
Titik tangkap sebuah gaya ditunjukan dengan atau oleh sebuah garis melalui
sumbu panah.

Contoh:
Sebuah gaya P=500 kg bekerja tegak lurus kebawah (lihat gambar)

I.2. RESULTAN
Diketahui gaya-gaya batang yang NON KONGKUREN KOPLANAR
P1 = 2 ton, 1 = 300 , titik tangkap ( 3,4 )
P2 = 4 ton, 2 = 1500 , titik tangkap ( -2,2 )
P3 = 3 ton, 3 = 1800 , titik tangkap ( -1,-2 )
P4 = 5 ton, 3 = 3000 , titik tangkap ( 3,-4 )
Diminta : Hitunglah besarnya gaya resultante beserta arahnya dengan cara analisa
dan grafis.
Penyelesaian : 1) Secara Analitis
Gambar

Rx = Px1 + Px2 + Px3 + Px4


= P1 cos 1 + P2 cos 2 + P3 cos 3 + P4 cos 4
= 2 cos 300 + 4 cos 1500 + 3 cos 1800 + 5 cos 3000
= 1,73 3,46 3 + 2,5 = - 2,23 ton

Rx = Py1 + Py2 + Py3 + Py4


= P1 sin 1 + P2 sin 2 + P3 sin 3 + P4 sin 4
= 2 sin 300 + 4 sin 1500 + 3 sin 1800 + 5 sin 3000
= 1+ 2 0 4,33
= - 1,33 toN
R= Rx 2Ry 2

Besarnya gaya resultan


R= 2,231,33 ton
R = 2,6 ton

Mx = Px1.y1 + Px2.y2 + Px3.y3 +Px4.y4


= 1,73 . 4 3,46 . 2 + 2,5 . 4
= - 4 ton cm
Mx = Py1.x1 + Py2.x2 + Py3.x3 +Py4.x4
= -1 . 3 2. 2 + 0 + 4,33 . 3
= 13,99 ton cm
Misalkan koordinat titik tangkap Resultan R ( X R , YR )
Mx = RX . YR

YR =

Mx
Rx
4
2,23

13,99
1,33

My = Ry . XR

YR =

My
Ry

Arah Resultan tg

Ry
RX

arc tg 0,596 =

1,79 cm

1,33
2,23

= - 10,52 cm

= 0,596

180 0 + 300 48 44,57 = 2100 48 44,57

2). Cara GRAFIS ,


Skala gaya : 1 ton ~ cm,Skala panjang : 1 cm & Lukiskan dengan Poligon gaya
0,1,2,3,4
4

-Mencari Resultan pada gaya-gaya sejajar secara grafis ,


Diketahui : Gaya-gaya // P1 = 5ton, P2 = 5 ton dan P3 = 2,5 ton.
Dengan masing-masing jarak = 4 m dan 2 m
Hitung : Besarnya Resultan secara GRAFIS
Penyelesaian :
P1 = 5 ton

P2 = 5 ton
P3 = 2,5 ton

a1
P1=5ton

a2
P2

O
P2=5ton

a3

P3=2,5 to

a4

R (Resultante)= 12,5 ton

Latihan soal,
Selesaikan secara grafis
P3

P2

P1 =
P4

R (resultante)

Latihan soal,

1.3.MENCARI REAKSI VERTIKAL,HORIZONTAL & MOMEN


1.3.1.Gelagar sederhana dengan muatan terpusat
P=10 ton
A=sendi l1=4m

l2=6m

B=rol

Diketahui pada gambar gelagar sederhana A B dengan muatan terpusat P=10 ton
yang terletak pada 4m disebelah kiri sendi (A). B berfungsi sebagai sendi.
Penjelasan Sendi & Rol
Penjelasan Kesimbangan
Menghitung Reaksi berdasarkan keseimbangan
Latihan soal,
1.3.2.Gelagar sederhana dengan muatan beban terbagi rata
q = 10 to/m

A=rol

l=8m

B = sendi

1.3.3. GELAGAR SEDERHANA DENGAN MUATAN BEBAN MERATA &TERPUSAT


q = 10 ton/m
A
A=sendi

B = roll

C
A-C=3m

P = 4 ton
D

C-D=2m

B
D-B=3m

Hitung Reaksi di A dan di B


Latihan soal,
1.4.MENCARI BESARNYA MOMEN MAXIMUM
Penjelasan tentang momen maximum dan penggunaannya.
1.4.1 .

P=10 ton

A=sendi l1=4m

l2=6m

B=rol

Diketahui pada gambar gelagar sederhana A B dengan muatan terpusat P=10 ton
yang terletak pada 4m disebelah kiri sendi (A). B berfungsi sebagai sendi.
Hitung: Besarnya momen maximum yang terjadi

Latihan soal,

1.4.2.
q = 10 to/m

A=rol

l=8m

B = sendi

Hitung: Besarnya momen maximum yang terjadi


Latihan soal,
1.4.3.
q = 10 ton/m
A
A=sendi

B = roll

C
A-C=3m

D
C-D=2m

P = 4 ton
B

D-B=3m

Hitung: Besarnya momen maximum yang terjadi


Latihan soal,

1.4.4.Menghitung Reaksi pada konstruksi Portal dengan beban terpusat.


P1 = 2 ton
2m
P2 = 3 ton
4m

2m

2m

Diketahui : Konstruksi tersebut pada gambar

Ditanyakan : Hitung Reaksi Vertikal, Reaksi Horizontal


Latihan soal,

1.4.5.Menghitung Reaksi pada konstruksi Portal dengan beban merata.


q = 2 ton/m

6,00 m

4,00 m
Latihan soal,

Bab II
TEKNOLOGI BAHAN
Perkembangan industri konstruksi semakin berkembang pesat.
Perkembangan ini diikuti oleh penemuan-penemuan inovasi bahan bangunan.
Untuk mendukung pembangan teknologi konstruksi yang semakin maju diperlukan
material/ bahan bangunan yang bermutu dan berkualitas tinggi.
Oleh karena itu perlu pengetahuan tentang jenis dan karakteristik dari
material/bahan konstruksi.
Bahan-bahan bangunan utama yang memikul beban dan biasa digunakan pada
konstruksi adalah beton. Untuk menghasilkan beton yang baik dan mempunyai
kekuatan sesuai persyaratan konstruksi diperlukan pengetahuan tentang bahanbahan penyusun beton. Bahan-bahan penyusun beton terdiri dari agregat, bahan
perekat dan air. Perkembangan akhir-akhir ini penggunaan admixture/bahan tambah
untuk memperbaiki sifat beton semakin umum digunakan. Buku ini menguaraikan
tentang batu alam sebagai dasar untuk mempelajari agregat, agregat, bahan
perekat, air dan admixture.
Selain bahan bangunan penyusun beton, pengetahuan tentang bahan logam/baja
dan kayu juga sangat diperlukan, karena untuk mengetahui karakteristik baja yang
digunakan untuk tulangan beton maupun baja konstruksi (baja profil). Bahan
bangunan yang juga akan dibahas adalah tentang kayu Bahanbahan ini sangat umum digunakan di bidang bangunan. Oleh karena itu perlu
pengetahuan tentang bahan-bahan tersebut.
Setiap kita membahas tentang teknologi bahan maka segi kekuatan yang harus kita
perhatikan

penjelasan diagram

regangan tegangan.

2.1.Tegangan yang di butuhkan


Cara mencari Tegangan yang dibutuhkan < Tegangan yang dimiliki untuk mengkontrol
apakah material yang digunakan aman atau tidak.
Untuk mengetahui sebuah bahan konstruksi aman untuk dilaksanakan, maka harus
memahami rumus dibawah

Tegangan yang diperlukan Tegangan yang diijinkan

Penjelasan :
1.Menghitung demensi
2.Mengukur kekuatan bahan
3. Mengukur kekuatan struktur

Latihan soal,

2.2.Tegangan Ijin :
Tegangan yang terjadi akibat pembebanan yang berlangsung tak terbatas lamanya
pada elemen mesin, tanpa mengakibatkan terjadinya kepatahan maupun perubahan
bentuk yang menuju ke kerusakan.
Pemilihan tegangan ijin sangat menentukan untuk menghitung dan memeriksa
kembali ukuran dari elemen mesin
Besarnya tegangan ijin tergantung pada :
Bahan / Material
Logam ( Ferro / non Ferro )
Non Logam ( Kayu, Keramik etc. )
Jenis Pembebanan
Pembebanan Tekan Menghasilkan tegangan tekan sd
Pembebanan Tarik menghasilkan tegangan tarik sz
Pembebanan Tekuk / Bengkok Menghasilkan tegangan tekuk / bengkok sb
Pembebanan Puntir / Torsi Menghasilkan tegangan puntir / torsi t t
Jenis Beban
Beban Statik
Beban Dinamik Ulang
Beban Dinamik Ganti
Beban Dinamik Umum
2.3. Beban Statik
Terdapat terutama pada penyangga, tiang, sambungan atap, termasuk didalamnya
konstruksi kran ( katrol ) dan jembatan.
Kekuatan material ( tegangan batas ).
F
sB atau tB =

( N mm2 )

A0
sB = Batas patah ( N / mm2 )
Fm = Beban maksimum atau beban patah ( N )
A0 = Penampang awal dari batang uji ( mm2 )
Untuk menghitung tegangan ijin pada elemen konstruksi
dengan material sebagai berikut :
baja ,baja paduan ,baja tuang ,metal ringan yang lain dan paduannya,seperti :
kuningan ,aluminium ,paduan aluminium
2.4. Angka keamanan
10

Beberapa pertimbangan untuk menentukan besarnya angka keamanan

Angka keamanan kecil apabila :


Besarnya gaya luar diketahui dengan pasti
Patahnya elemen konstruksi yang bersangkutan tidak membawa akibat yang fatal
terhadap keseluruhan konstruksi.
Kerusakan dari elemen konstruksi yang bersangkutan dapat diatasi dengan cepat.
Angka keamanan besar apabila :
Besarnya gaya luar tidak diketahui dengan pasti
Patahnya elemen konstruksi yang bersangkutan berakibat fatal terhadap
keseluruhan konstruksi ( membawa kematian, kemacetan operasi ).
Kerusakan dari elemen konstruksi yang bersangkutan sukar diatasi ( suku cadang
yang langka / mahal, pengerjaan sukar, kesukaran memperoleh material ).
2.5. Beban Dinamik :
Terdapat terutama pada elemen-elemen mesin yang bergerak, misalnya : poros,
tuas, roda gigi, pegas dan lain-lain.Dipandang dari segi keamanan, elemen mesin
yang dibebani secara dinamik akan jauh lebih kritis dari pada elemen mesin yang
dibebani secara statik.
Titik tolak perhitungan untuk menentukan jenis material, ukuran jenis pengerjaan dan
lain-lain berbeda dari yang diperuntukkan bagi elemen mesin dengan beban statik.

2.6. Efek Lekuk


Efek yang menurunkan batas tegangan kontinyu ( kekuatan ) material yang terutama
disebabkan
oleh perubahan penampang sisi luar, misalnya :
Slot / alur ( groove ).
Lekuk bubut ( undercut ).
Pundak poros ( shoulder ).
Lubang bor yang melintang
Dan lain-lain semua konstruksi yang menahan tekuk atau knik
2.7. Penyebab efek lekuk
Terjadinya pemadatan garis gaya setempat ( di sekitar lokasi perubahan penampang
sisi luar ) yang juga berarti naiknya tegangan pada bagian tersebut.
Material yang keras dan getas lebih peka terhadap efek lekuk.
Pada material elastik puncak-puncak tegangan dapat diimbangi dengan deformasi
elastik atau sebagian deformasi plastik.
Puncak tegangan yang sedikit melebihi batas tegangan kontinyu pada material
elastik tidak bersifat merusak elemen konstruksi.

11

Kerusakan kolom akibat gempa


Pertemuan ke 7 ; latihan soal-soal (bahan kuliah yang sudah dipelajari)
Pertemuan ke 8 : UTS sesuai jadwal
12

Bahan kuliah setelah UTS


Bab III.
BAHAN BAHAN KONTRUKSI
Konstruksi Kayu.

3.1 Kelas Kuat Kayu dan Tegangan-tegangan yang diperkenankan


Jenis-jenis kayu yang dipergunakan didalam konstruksi kayu digolongkan ke dalam
kelas-kelas yaitu kelas kuat I,II, III dan IV, serta kelas JATI.
Masing-masing jenis kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda dan masingmasing kelas kayu mempunyai tegangan-tegangan yang berbeda pula.
Tegangan-tegangan yang harus diperhatikan didalam konstruksi kayu dituangkan
dalam daftar di bawah ini.

Tegangan

Kelas Kuat

(Kg/cm2)

II

III

IV

Jati

150

100

75

50

130

130

85

60

45

110

40

25

15

10

30

20

12

15

(Kg/cm )
2

(Kg/cm )
2

(Kg/cm )

Harga Modulus Elastisitas

(kg/cm2)

Kayu Kelas I

= 125.000 kg/cm2

Kayu Kelas II

= 100.000 kg/cm2

Kayu Kelas III

= 80.000 kg/cm2

Kayu Jati

= 100.000 kg/cm2

13

3.2.Ketentuan-ketentuan yang harus ditaati


a. Segi Kekuatan
Suatu konstruksi dikatakan kuat jika tegangan-tegangan yang timbul lebih
kecil dari tegangan yang diijinkan.

(Harga tegangan-tegangan ini dari PKKI)


b. Segi Kekakuan
Suatu konstruksi dikatakan kaku jika memenuhi syarat kekakuan yang
timbul / ada lebih kecil dari kekakuan yang disyaratkan

(tiap-tiap

negara mempunyai persyaratan yang berbeda-beda untuk kekakuan ; di


Indonesia dapat dilihat di PKKI NI-5).
c. Stabilitas
Untuk stabilitas balok perlu ditinjau terhadap bahaya tekuk.

3.3. Contoh Perhitungan pada balok dengan momen tunggal


Balok diatas dua perletakkan A dan B panjangnya 6 meter dan dari kayu kelas II.
Tepat di tengah-tengah bentangnya diberi beban terpusat sebesar 1 ton. Berukuran
penampang 12/25 cm.
Pertanyaan :
Apakah balok penampang 12/25 cm itu cukup kuat, untuk menahan beban sebesar
1 ton itu ?
data-data :
Lendutan maximum yang dapat diambil sebesar 1/300 l.
Gambar : kayu kelas II :

= 100 kg/cm2
= 12 kg/cm2
= 1/300 x 600 cm
= 2 cm
= 100.000 kg/cm2

14

Mmax = P = x 1000 x 600 = 150.000 kg/cm


Dmax = x 100 kg/cm = 500 kg

Tegangan berdasarkan elastik design :


1. Momen menimbulkan tegangan :

lt

= M/IX . Ymax

lt

= M/WX

= 150.000 / 1/6 x 12 x 25 = 120 kg/cm 2

Balok tidak kuat memikul beban


2. Gaya lintang menimbulkan tegangan geser ( )

max

=
3/2 x 500 kg

12 x 25 cm

= 2,5 kg/cm2

= 12 kg/cm2

15

3. Kekakuan Balok
-

Biasanya lendutan di check di tengah-tengah bentang.


Bila lendutan yang timbul dari yang disyaratkan maka
1/48 x P x L3
=
EI
1/48 x 1000 x 6003
=
100.000 x 12/12 x 253

= 2,9 cm

Syarat lendutan maximum adalah 2 cm


Kesimpulan :
Balok tidak cukup kuat dan tidak cukup kaku.
V. Batang Tekan
1.1.

Tekuk Pada Bidang Gambar

Pada batang diberikan gaya tekan P sentris yang arahnya sejajar serat batang,
maka sebagai akibatnya akan timbul tegangan tekan sejajar serat yang besarnya
dinyatakan dengan rumus:

Dimana:
=

tegangan tekan sejajar serat yang timbul

luas penampang bruto

faktor kelangsingan
16

tegangan tekan sejajar serat izin

Harga tergantung dari harga (angka kelangsingan) dimana harga:

lk

panjang tekuk

imin

jari-jari kelembaman minimum

imin

Imin

momen inersia (kelembaban) minimum

Panjang lk dibeda-bedakan menurut masing-masing bentuk perletakannya.

1. Pada batang dengan kedua ujungnya bersendi maka panjang lekuk lk


(panjang tekuk) adalah sama dengan panjang batang itu sendiri.
2. Pada batang dengan kedua ujungnya dijepit maka panjang tekuk lk adalah
sama dengan setengah kali panjang batangnya sendiri.
3. Pada batang dengan salah satu ujungnya dijepit dan ujung lainnya bersendi
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan 0,7 kali panjang batangnya.
4. Pada batang yang salah satu ujungnya dijepit sedang ujung lainnya bebas
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan setengah kali panjang
batangnya.
Gambar panjang tekuk lk

17

Contoh soal :
1. Balok AB dari kayu kelas II, berukuran penampang sebesar 20/20 cm.
Panjangnya 4 m. Akan digunakan sebagai tiang dan hanya bagian bawahnya
saja yang dijepit. Berapa dan ?
Jawab:

18

= 800 cm/5,7 cm = 140, 35 150 (syarat PKKI). Harga pada tabel (PKKI)
merupakan harga bulat, sedangkan disini harga = 140,35 ; maka harga harus
dicari dengan cara interpolasi linier.

140
141
140,35

1
0,35

6,51
6,62
6,51 + 0,0385 = 6,5485

0,11
0,35 x 0,11 = 0,0385

V. Batang Tekan
1.2.

Tekuk Pada Bidang Gambar

Pada batang diberikan gaya tekan P sentris yang arahnya sejajar serat batang,
maka sebagai akibatnya akan timbul tegangan tekan sejajar serat yang besarnya
dinyatakan dengan rumus:

19

Dimana:
=

tegangan tekan sejajar serat yang timbul

luas penampang bruto

faktor kelangsingan
=

tegangan tekan sejajar serat izin

Harga tergantung dari harga (angka kelangsingan) dimana harga:

lk

panjang tekuk

imin

jari-jari kelembaman minimum

imin

Imin

momen inersia (kelembaban) minimum

Panjang lk dibeda-bedakan menurut masing-masing bentuk perletakannya.

5. Pada batang dengan kedua ujungnya bersendi maka panjang lekuk lk


(panjang tekuk) adalah sama dengan panjang batang itu sendiri.
6. Pada batang dengan kedua ujungnya dijepit maka panjang tekuk lk adalah
sama dengan setengah kali panjang batangnya sendiri.
7. Pada batang dengan salah satu ujungnya dijepit dan ujung lainnya bersendi
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan 0,7 kali panjang batangnya.
8. Pada batang yang salah satu ujungnya dijepit sedang ujung lainnya bebas
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan setengah kali panjang
batangnya.

20

Gambar panjang tekuk lk

Contoh soal :
2. Balok AB dari kayu kelas II, berukuran penampang sebesar 20/20 cm.
Panjangnya 4 m. Akan digunakan sebagai tiang dan hanya bagian bawahnya
saja yang dijepit. Berapa dan ?
Jawab:

21

= 800 cm/5,7 cm = 140, 35 150 (syarat PKKI). Harga pada tabel (PKKI)
merupakan harga bulat, sedangkan disini harga = 140,35 ; maka harga harus
dicari dengan cara interpolasi linier.

140
141
140,35

1
0,35

6,51
6,62
6,51 + 0,0385 = 6,5485

0,11
0,35 x 0,11 = 0,0385

V. Batang Tekan
1.3.

Tekuk Pada Bidang Gambar

Pada batang diberikan gaya tekan P sentris yang arahnya sejajar serat batang,
maka sebagai akibatnya akan timbul tegangan tekan sejajar serat yang besarnya
dinyatakan dengan rumus:

22

Dimana:
=

tegangan tekan sejajar serat yang timbul

luas penampang bruto

faktor kelangsingan
=

tegangan tekan sejajar serat izin

Harga tergantung dari harga (angka kelangsingan) dimana harga:

lk

panjang tekuk

imin

jari-jari kelembaman minimum

imin

Imin

momen inersia (kelembaban) minimum

Panjang lk dibeda-bedakan menurut masing-masing bentuk perletakannya.

9. Pada batang dengan kedua ujungnya bersendi maka panjang lekuk lk


(panjang tekuk) adalah sama dengan panjang batang itu sendiri.
10. Pada batang dengan kedua ujungnya dijepit maka panjang tekuk lk adalah
sama dengan setengah kali panjang batangnya sendiri.
11. Pada batang dengan salah satu ujungnya dijepit dan ujung lainnya bersendi
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan 0,7 kali panjang batangnya.
12. Pada batang yang salah satu ujungnya dijepit sedang ujung lainnya bebas
maka panjang tekuk lk adalah sama dengan setengah kali panjang
batangnya.
Gambar panjang tekuk lk

23

Contoh soal :
3. Balok AB dari kayu kelas II, berukuran penampang sebesar 20/20 cm.
Panjangnya 4 m. Akan digunakan sebagai tiang dan hanya bagian bawahnya
saja yang dijepit. Berapa dan ?
Jawab:

24

= 800 cm/5,7 cm = 140, 35 150 (syarat PKKI). Harga pada tabel (PKKI)
merupakan harga bulat, sedangkan disini harga = 140,35 ; maka harga harus
dicari dengan cara interpolasi linier.

140
141
140,35

1
0,35

6,51
6,62
6,51 + 0,0385 = 6,5485

0,11
0,35 x 0,11 = 0,0385

Pengenalan alat sambung :

25

2.b. Sambungan Dengan Baut

26

2.b.1 Sambungan dengan Baut dikenal :


a.

Sambungan baut bertampang satu (baut yang bekerja satu irisan)

b.

Sambungan baut bertampang dua (baut yang bekerja dua irisan)


a

gambar sambungan bertampang satu

gambar sambungan bertampang dua


2.b.2 Ketentuan-ketentuan :
a.

Baut dibuat dari baja St 37 atau dari besi yang mempunyai kekuatan paling
sedikit sama seperti St 37.

b.

Lubang-lubang baut harus dibuat longgar dan tidak boleh lebih dari 1,3 mm

c.

Garis tengah baut minimal 10 mm 3/8 untuk tebal kayu 8 cm.

d.

Baut harus disertai plat ikatan yang tebalnya 0,3 d atau maksimum 5 mm
dengan garis tengah 3d.

e.

Jika bautnya hanya sebagai pelengkap saja, maka tebal plat ikutan dapat
diambil 0,2 d dan maksimum 4 mm.

f.

Sambungan dengan baut dibagi dalam tiga golongan menurut kekuatan kayu,
yaitu golongan I, II, III.

2.b.3 Menetukan diameter baut

27

= diameter baut

= lihat pada tabel (PPKI)

= tebal kayu

harga b untuk tiap-tiap golongan berbeda-beda.


Tabel harga b menurut (PPKI)
Golongan

Sambungan

Sambungan

bertampang satu
4,8

bertampang dua
3,8

II

5,4

4,3

III

6,8

5,7

Sambungan bertampang satu

Harga b di sini dipilih harga terkecil antara b1 dan b2


Sambungan bertampang dua

Harga b di sini dipilih harga terkecil antara (b 1 + b2) atau b3


2.b.4 Ukuran-ukuran Baut

28

Ukuran dalam inchi ()

Ukuran dalam mm

5/8

7/8
1

12
16
20
22
25

M12
M16
M20
M22
M24

2.b.5 Kekuatan baut


Kekuatan baut yang diizinkan dihitung dengan rumus dibawah ini.
(PKKI bab VI pasal 14).
Golongan I
Sambungan bertampang satu :

b = 4,8
S = 50 d b1 (1 0,6 sin )
S = 240 d2 (1 0,6 sin )
Sambungan bertampang dua :

b = 3,8
S = 125 d b3 (1 0,6 sin )
S = 240 d d1 (1 0,6 sin )
S = 480 d2

(1 0,35 sin )

Golongan II
Sambungan bertampang satu :

b = 5,4
29

S = 40 d b1

(1 0,6 sin )

S = 215 d b2 (1 0,35 sin )


Sambungan bertampang dua :

b = 4,3
S = 100 d b3 (1 0,6 sin )
S = 200 d b1 (1 0,6 sin )
S = 430 d2

(1 0,35 sin )

Golongan III
Sambungan bertampang satu :

b = 6,8
S = 25 d b1 (1 0,6 sin )
S = 170 d2 (1 0,35 sin )
Sambungan bertampang dua :

b = 5,7
S = 60 d b3 (1 0,6 sin )
S = 120 d b1 (1 0,6 sin )
S = 340 d2

(1 0,35 sin )

= kekuatan sambungan dalam kg (harga S diambil harga yang terkecil)

= sudut antara arah gaya dan arah serat kayu

b1

= tebal kayu tepi dalam cm

b3

= tebal kayu tengah dalam cm

= garis tengah baut dalam cm

= sudut antara arah gaya dan arah serat kayu*

2.b.6 Banyaknya baut

30

Besarnya sudut =

Besarnya sudut = 0

2.b.7 Jarak-jarak baut


Penempatan baut-baut harus memenuhi persyaratan sbb :
a.

Arah gaya sejajar dengan serat kayu


1.

Jarak antara sumbu baut dan ujung kayu (kayu muka) yang di bebani
7d dan > 10 cm.

2.

Antara sumbu baut dan ujung kayu (kayu muka) yang tidak dibebani
3,5d

3.

Antara sumbu baut dan sumbu baut dalam arah gaya 6d

4.

Antara sumbu baut dengan sumbu baut dalam arah tegak lurus gaya
3d

5.

Antara sumbu baut dengan tepi kayu 2d

Gambar :

Latihan soal
31

Konstruksi Baja

32

Pipa baja panjang dengan bagian berongga dan tidak memiliki sendi di sekitar
bar baja. Hal ini terutama digunakan sebagai pipa untuk mentransfer cairan,
seperti minyak, gas alam, air dan beberapa bahan padat, dll Dibandingkan
dengan kekuatan torsi lentur dalam cahaya yang sama, itu adalah penampang
baja ekonomi. Pipa-pipa baja halus yang banyak digunakan dalam Manufaktur
dan bagian mechniacal, seperti pipa minyak, poros transmisi otomotif, pesawat
sepeda, serta konstruksi buliding. Dengan manufaktur pipa baja, bagian annular
dapat meningkatkan pemanfaatan bahan, menyederhanakan proses manufaktur,
menghemat material dan waktu mesin. Misalnya, cincin bantalan rol dan set jack
dan sebagainya telah banyak dibuat dari pipa baja. Udik silinder dapat
melahirkan lebih banyak cairan, karena lingkaran memiliki daerah terbesar di
bawah lingkar yang sama. Selain itu, cincin penampang beruang internal atau
eksternal tekanan, kekuatan yang lebih merata, sehingga sebagian besar pipa
baja tubular Rubes silinder. Namun, tabung juga memiliki beberapa
keterbatasan, seperti di pesawat kondisi membungkuk, pipa pada sisi yang lebih
baik, persegi panjang tabung lentur kekuatan, dan sejumlah set furnitur frame,
baja-kayu di alun-alun umum digunakan , tabung persegi panjang.

Kandungan Atom atau Unsur Ikatannya

33

Baja pada dasarnya ialah besi (Fe) dengan tambahan unsur karbon ( C ) sampai dengan
1.67% (maksimal). Bila kadar unsur karbon ( C) lebih dari 1.67%, maka material tersebut
biasanya disebut sebagai besi cor (Cast Iron).
Makin tinggi kadar karbon dalam baja, maka akan mengakibatkan hal- hal sbb:

Kuat leleh dan kuat tarik baja kan naik,

Keliatan / elongasi baja berkurang,

Semakin sukar dilas.

Oleh karena itu adalah penting agar kita dapat menekan kandungan karbon pada kadar
serendah mungkin untuk dapat mengantisipasi berkurangnya keliatan dan sifat sulit dilas
diatas, tetapi sifat kuat leleh dan kuat tariknya tetap tinggi.
Penambahan unsur unsusr ini dikombinasikan dengan proses heat treatment akan
menghasilkan kuat tekan yang lebih tinggi, tetapi keuletan dan keliatan, dan kemampuan
khusus lainnya tetap baik. Unsur unsur tersebut antara lain: Mangaan (Mn), Chromium
(Cr), Molybdenum (Mo), Nikel (Ni) dan tembaga (Cu). Tetapi proporsional pertambahan
kekuatannya tidak sebesar karbon. Pertambahan kekuatannya semata mata karena unsur
tersebut memperbaiki struktur mikro baja.
Klasifikasi Material
Baja karbon dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1. Baja karbon rendah
kandungan karbonnya < 0,25%C
tidak responsif terhadap perlakuan panas yang bertujuan membentuk martensit
metode penguatannya dengan Cold Working struktur mikronya terdiri ferit dan perlit
relatif lunak dan lemah ulet dan tangguh
mampu mesin dan mampu lasnya baik
murah
aplikasi : bodi mobil,bentuk struktur (profil I, L, C, H), pipa saluran
2. Baja karbon sedang
kandungan karbonnya: 0,25 0,6%C
dapat dinaikkan sifat mekaniknya melalui perlakuan panas austenitizing, quenching, dan
tempering
banyak dipakai dalam kondisi hasil tempering sehingga struktur mikronya martensit
lebih kuat dari baja karbon rendah
aplikasi :poros, roda gigi, crankshaft
3. Baja karbon tinggi
kandungan karbonnya: 0,6 < % C 1,7
34

dapat dinaikkan sifat mekaniknya melalui perlakuan panas austenitizing, quenching, dan

tempering
banyak dipakai dalam kondisi hasil tempering sehingga struktur mikronya martensit
paling keras, paling kuat, paling getas di antara baja karbon lainnya
tahan aus
aplikasi :pegas, pisau cukur, kawat kekuatan tinggi, rel kereta api,perkakas potong, dies
Sifat Mekanis
Sifat mekanis adalah kemampuan bahan tersebut memberikan perlawanan apabila
diberikan beban pada bahan tersebut. Berikut adalah sifat mekanis pada baja karbon :

Regangan (e) : besar deformasi perpanjang awal (tanpa satuan)

Tegangan (s) : gaya per satuan luas dalam satuan Mpa.

Elongation : pertambahan panjang pada pengujian tarik (%).

Kekuatan tarik (tensile strength) : besar tegangan (gaya) yang diperlukan unutk
mematahkan atau memutuskan benda uji.

Kekuatan leleh (yield strength) : besar tegangan yang diperlukan untuk mencapai
regangan plastis 0.2%.

Keliatan (ductility) : besar regangan maksimal yang dapat terjadi pada saat benda uji
patah atau putus dalam satuan persen (%).

Kekerasan (hardness) : ketahanan bahan terhadap penetrasi dipermukaannya, yang


dinyatakan dalam Bilangan kekerasan Brinell (BHN), Vickers (DPH) dan atau
kekerasan Rockwell (R). BKB dihitung berdasarkan luas daerah lekukan yang
ditimbulkan, sedangkan R dihitung berdasarkan dalamnya lekukan.

Keuletan (toughness) : daya tahan bahan terhadap lenturan dan puntiran puntiran
berulang ulang yang diukur dari besarnya energi yang diperlukan untuk
mematahkan suatu benda uji yang dinyatakan dalam satuan joule. Penilaian keuletan
dilakukan dengan tes Charpy atau Izod.

2.4 Sifat Fisik


Sifat fisik adalah segala aspek dari suatu objek atau zat yang dapat diukur atau dipersepsikan
tanpa mengubah identitasnya. Berikut adalah sifat fisik pada baja karbon :

Titik didih : 1550OC

Titik lebur : 2900OC


35

Diagram regangan-tegangan

Perhitungan pendemensian Baja sama dengan


konstruksi kayu, yang berbeda hanya
tegangan ijin dan alat sambungnya misalkan kalau kayu tidak dapat disambung
menggunakan las. Tetapi kontruksi baja dapat disambung menggunakan las.

Contoh Perhitungan pada balok dengan momen tunggal ganti dulu baja
Balok diatas dua perletakkan A dan B panjangnya 6 meter dan dari kayu kelas II.
Tepat di tengah-tengah bentangnya diberi beban terpusat sebesar 1 ton. Berukuran
penampang 12/25 cm.
Pertanyaan :
Apakah balok penampang 12/25 cm itu cukup kuat, untuk menahan beban sebesar
1 ton itu ?
Lendutan maximum yang dapat diambil sebesar 1/300 l.
Gambar :

data-data :
kayu kelas II :

= 100 kg/cm2
= 12 kg/cm2
= 1/300 x 600 cm
= 2 cm
= 100.000 kg/cm2

Mmax = P = x 1000 x 600 = 150.000 kg/cm


36

Dmax = x 100 kg/cm = 500 kg


Tegangan berdasarkan elastik design :
4. Momen menimbulkan tegangan :

lt

= M/IX . Ymax

lt

= M/WX

= 150.000 / 1/6 x 12 x 25 = 120 kg/cm 2

Balok tidak kuat memikul beban


5. Gaya lintang menimbulkan tegangan geser ( )

max

=
3/2 x 500 kg

12 x 25 cm2

= 2,5 kg/cm2

= 12 kg/cm2

6. Kekakuan Balok
-

Biasanya lendutan di check di tengah-tengah bentang.


Bila lendutan yang timbul dari yang disyaratkan maka
1/48 x P x L3
=
EI
1/48 x 1000 x 6003
=
100.000 x 12/12 x 253

= 2,9 cm

Syarat lendutan maximum adalah 2 cm


Kesimpulan :
Balok tidak cukup kuat dan tidak cukup kaku.
Konstruksi Beton,
37

Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari Bahan Semen Hidrolik
(Portland cement), Agregat Kasar, Agregat Halus, Air, dan Bahan Tambah ( Admixture atau
Additive ). Untuk mengetahui dan mempelajari perilaku elemen gabungan atau Bahan
bahan penyusun beton tersebut tentunya kita harus memiliki pengetahuan mengenai
karakteristik masing masing komponen tersebut.
Menurut Nawy (1985 : 8 ) beliau mendefenisikan beton sebagai sekumpulan interaksi
mekanis dan kimiawi dari material pembentuknya. Dengan demikian , masing masing
komponen tersebut harus dipelajari sebelum mempelajari beton secara keseluruhan.
Perencana (engineer ) dapat mengembangkan pemilihan material yang layak komposisinya
sehingga diperoleh beton yang efisien, memenuhi kekuatan batas yang disyaratkan oleh
perencana dan memenuhi persyaratan serviceability yang dapat diartikan juga sebagai
pelayanan yang handal dengan memenuhi criteria ekonomi.
Dalam usaha untuk memahami karakter bahan penyusun campuran beton sebagai dasar
perancangan beton, maka Depertemen Pekerjaan Umum melalui LPMB banyak
mempublikasikan standar standar yang berlaku. DPU-LPMB memberikan defenisi tentang
Beton sebagai campuran antara semen Portland atau semen hidrolik yang lainnya, agregat
halut, agregat kasar, dan Air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan membentuk masa
padat (SK.SNI T-15-1990-03:11).

Paramater parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah :


- Kualitas Semen
- Proporsi semen terhadap Campuran
- Kekuatan dan kebersihan agregat
- Interaksi atau adhesi antara pasta semen dengan agregat.
- Pencampuran yang cukup dari bahan bahan pembentuk semen
- Penempatan yang benar,penyelesaian dan pemadatan beton
- Perawatan beton

Slum Tes

38

Uji Slump adalah suatu uji empiris/metode yang digunakan untuk menentukan
konsistensi/kekakuan (dapat dikerjakan atau tidak)dari campuran beton segar (fresh concrete)
untuk menentukan tingkat workability nya. Kekakuan dalam suatu campuran beton
menunjukkan berapa banyak air yang digunakan. Untuk itu uji slump menunjukkan apakah
campuran beton kekurangan, kelebihan, atau cukup air.
Dalam suatu adukan/campuran beton, kadar air sangat diperhatikan karena menentukan
tingkat workability nya atau tidak. Campuran beton yang terlalu cair akan menyebabkan mutu
beton rendah, dan lama mengering. Sedangkan campuran beton yang terlalu kering
menyebabkan adukan tidak merata dan sulit untuk dicetak.
Uji Slump mengacu pada SNI 1972-2008 dan ICS 91.100.30
39

Slump dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan (biasanya ketika ready mix
sampai, diuji setiap kedatangan). Hasil dari Uji Slump beton yaitu nilai slump. Nilai yang
tertera dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan mempunyai standar.
BAHAN:

1. Beton Segar (fresh concrete) yang diambil secara acak agar dapat mewakili beton
secara keseluruhan.

PERALATAN:
1. Kerucut terpenggal (kerucut yang bagian runcingnya hilang) sebagai cetakan slump.
Diameter bawah 30 cm, diameter atas 10 cm, tinggi 30 cm.
2. Batang logam bulat dengan panjang 50 cm diameter 10-16 mm.
3. Pelat Logam rata dan kedap air sebagai alas
4. Sendok adukan
5. Pita Ukur

Kerucut Uji

TAHAPAN UJI SLUMP:


1. Basahi cetakan kerucut dan plat dengan kain basah
2. Letakkan cetakan di atas plat
3. Isi 1/3 cetakan dengan beton segar, padatkan dengan batang logam sebanyak merata
dengan menusukkannya. Lapisan ini penusukan bagian tepi dilakukan dengan besi
40

dimiringkan sesuai dengan dinding cetakan. Pastikan besi menyentuh dasar. Lakukan
25-30 x tusukan.
4. Isi 1/3 bagian berikutnya (menjadi terisi 2/3) dengan hal yang sama sebanyak 25-30 x
tusukan. Pastikan besi menyentuh lapisan pertama.
5. Isi 1/3 akhir seperti tahapan nomor 4
6. Setelah selesai dipadatkan, ratakan permukaan benda uji, tunggu kira-kira 1/2 menit.
Sambil menunggu bersihkan kelebihan beton di luar cetakan dan di plat.
7. Cetakan diangkat perlahan TEGAK LURUS ke atas
8. Ukur nilai slump dengan membalikkan kerucut di sebelahnya menggunakan
perbedaan tinggi rata-rata dari benda uji.
9. Toleransi nilai slump dari beton segar

2 cm

10. Jika nilai slump sesuai dengan standar, maka beton dapat digunakan

Pemadatan

Mengangkat Kerucut

41

Mengukur Tinggi Slump

PERHITUNGAN NILAI SLUMP


NILAI SLUMP = Tinggi cetakan - tinggi ratarata benda uji

Bentuk Slump akan berbeda sesuai dengan kadar airnya.

Gambar 1 : Collapse / runtuh

Keadaan ini disebabkan terlalu banyak air/basah sehingga campuran dalam cetakan runtuh
sempurna. Bisa juga karena merupakan campuran yang workabilitynya tinggi yang
diperuntukkan untuk lokasi pengecoran tertentu sehingga memudahkan pemadatan,

Gambar 2 : Shear

Pada keadaan ini bagian atas sebagian bertahan, sebagian runtuh sehingga berbentuk miring,
mungkin terjadi karena adukan belum rata tercampur.

Gambar 3 : True

Merupakan bentuk slump yang benar dan ideal.

42

Jika pada sat uji slump bentuk yang dihasilkan adalah collapse atau shear, maka tidak perlu
membuat campuran baru terburu-buru. Cukup ambil sample beton segar yang baru dan
mengulang pengujian.
Standar nilai slump yang biasa dipakai (wikipedia.com)
0-25 mm untuk jalan raya
10-40 mm untuk pondasi (low workability)
50-90 mm untuk beton bertulang normal menggunakan vibrator (medium workability)
>100 mm untuk high workability
Namun standar setiap negara kadang berbeda. Berdasarkan ACI Commitee 2011 :

Tabel nilai slump berdasarkan ACI


Berdasarkan Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971
:

Tabel Slump berdasarkan PBBI 1971


Kelebihan dari Uji Slump adalah dapat dilakukan oleh semua orang: mudah dilakukan dan
mudah diukur, bahkan oleh tukang / pekerja sekalipun. Sehingga Uji ini lebih populer
dibandingkan uji lainnya dan sampai saat ini masih digunakan.
43

44