Anda di halaman 1dari 32

Pedoman Moral

Pelindung Alam Semesta

Penerbit : SAMWARA – Tim Penerbit Bodhi Buddhist Centre Indonesia


http://www.geocities.com/bbcid.geo/

5
Pedoman Moral, Pelindung Alam Semesta
Penyusun : Rofin Bodhikusalo
Penerbit : SAMWARA, Tim Penerbit Bodhi Buddhist Centre Indonesia

UNTUK KALANGAN SENDIRI

BEBAS UNTUK DISEBARLUASKAN TIDAK DIPERJUALBELIKAN

6
DAFTAR ISI
HALAMAN

Bab 1 Kata Sambutan ...………………………………………… 5

Bab 2 Panduan Moral Untuk Muda/i …………………………. 6

Bab 3 Pelanggaran Moral………………………………………. 14

Bab 4 Lima Pedoman Moral …………………………………… 16

Appendix A Sekawanan Perampok …………………………………... 23

Appendix B Pelajaran Dari Seekor Ular ……………………………… 25

Appendix C Pancasila Buddhis ………………………………………. 29

Appendix D Ajivatthamaka Sila ………………………………………. 30

Appendix E Cara Melatih Sila ………………………………………... 31

7
Namo Sanghyang Adi Budhaya

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammả-sambuddhassa

Namo Sarve Bodhisattvaya Mahasattvaya

8
BAB 1
KATA SAMBUTAN
Lima Sila:

Kita mengetahuinya, kita sangat sering mengucapkan atau mengambilnya


dalam acara kebaktian rutin, itulah Lima Sila yang menjadi dasar kehidupan
spiritual kita. Akan tetapi… menambah perbuatan baik dan menjauhi
perbuatan jahat, seperti yang selalu diceritakan berulang-ulang, adalah
petunjuk yang sangat mudah dipahami, anak umur tiga tahun pun
mengetahuinya tetapi kakek atau nenek berumur 60 tahun belum tentu
mampu mempraktekannya dengan mudah.

Lima Sila tersebut bukanlah sesuatu yang bisa kita laksanakan hanya dengan
membaca atau menghafalkannya dari waktu ke waktu. Ada tahap-tahap
yang perlu dilalui untuk mencapai praktek seutuhnya. Seseorang yang
menjalankan sila-sila ini dengan sempurna dan seutuhnya adalah orang
yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat, dan siapa saja yang belum
mencapai tingkat Arahat tentu masih sedang dalam tahap untuk
mengembangkan kesempurnaan moral.

Tiga makalah pendek dalam buku ini memiliki cakupan yang luas dan
contoh pemakaian sila-sila Buddhis untuk menciptakan dunia yang lebih
bersahabat. Sandy Eastoak menjelaskan bagaimana beliau mengajarkan sila-
sila itu kepada anak-anak dan remaja. Julie Quinn memberikan contoh
perumpamaan yang bisa membantu anak-anak untuk kembali ke jalan yang
benar setelah melakukan sebuah kesalahan. Sulak Sivaraksa menganalisa
cakupan pemakaian sila-sila ini untuk mengatasi penderitaan global yang
diakibatkan oleh sikap egois manusia. Semua penulis tersebut mengilhami
kita untuk meneropong sisi moral kita sendiri dari sudut pandang yang
beda, untuk mengintrospeksi dan memperbaikinya bila perlu. Rasa terima
kasih kami haturkan kepada North Atlantic Book dan Parallax Press atas ijin
untuk mengutip dan mencetak isi buku terbitan mereka.

Bodhisara Stephen Gerber

9
July 1997
Penang, Malaysia

BAB 2
PEDOMAN MORAL UNTUK MUDA/I

Sang Buddha mengajarkan tentang sila (kemoralan) sebagai pedoman hidup


agar kita berusaha untuk tidak mencelakakan diri sendiri dan orang lain.

Pedoman yang pertama,

JANGAN LAKUKAN KEJAHATAN

Yang kedua,

LAKUKAN KEBAJIKAN

Yang ketiga,

LAKUKAN KEBAJIKAN DEMI MAKHLUK LAIN

Itulah yang dinamakan Tiga Pedoman Kemurnian, yang merupakan


dasar dari semua ajaran moral. Dalam tiga pedoman tersebut begitu jelas
sekali telah diuraikan bagaimana cara untuk hidup dengan baik dan benar.

Namun manusia kadang perlu diberi petunjuk yang lebih mendetail,


sehingga pedoman tersebut disampaikan dengan cara berikut ini, yaitu
Sepuluh Pedoman/Sila Utama:

1. TIDAK MEMBUNUH

Semua tindak pembunuhan membawa penderitaan. Seekor semut,


bahkan tumbuhan pun tentu ingin hidup, seperti juga kita manusia
tidak ada yang ingin mati atau dibunuh dengan cara apapun. Semua
makhluk dan benda hidup adalah berharga.

Larangan membunuh adalah bentuk penghargaan terhadap semua


makhluk hidup secara absolut, besar ataupun kecil. Ini memberi
kita pengertian tentang insting semua makhluk untuk bertahan
hidup, kadang-kadang dengan memangsa makhluk hidup lainnya,
namun hanya semata untuk bertahan hidup. Bandingkan hal ini
10
dengan tindakan manusia yang sering membunuh sebagai bentuk
rekreasi (karena hobi berburu, memancing ikan dll.) ataupun
karena kecerobohan.

2. TIDAK MENCURI

Artinya tidak mengambil sesuatu yang tidak diberikan. Kalau kita


perhatikan lingkungan sekeliling kita maka akan terlihat betapa
banyaknya tindak pencurian yang dianggap wajar-wajar saja dan
betapa tindakan tersebut sebenarnya menimbulkan begitu banyak
derita. Cara terbaik untuk mengatasi tindak pencurian yang
merajalela ini adalah dengan menumbuhkan rasa saling
menghormati sesama dan melatih kemurahan hati.

Bagaimana kalau kita memetik apel dari pohonnya? Apakah pohon


apel itu memberi kita buah apel atau kita yang mencuri dengan
memetiknya? Bagaimana kalau kita mencangkul sepetak kebun
yang tadinya adalah tempat bermain tikus, katak dan belalang? Ini
adalah pertanyaan yang sulit. Jalankanlah dulu praktek yang
gampang untuk saat ini … misalnya berbagilah mainan dengan
teman-temanmu dan jangan merampas buku komik adikmu dengan
seenaknya.

3. TIDAK MENGUCAPKAN HAL YANG TIDAK BENAR

Segala sesuatu yang kita ucapkan sebenarnya selalu mengandung


bagian dari kebenaran, walaupun kadang kita berkata “tidak, bukan
aku” yang artinya “aku takut kamu akan marah padaku apabila aku
mengatakan bahwa aku menumpahkan makanan di atas baju
putihmu itu.”

Salah satu alasan kita berlatih meditasi yaitu karena untuk


mengatakan hal yang BENAR sesungguhnya amat sangat sulit.
Sewaktu masih kecil kita kadang tidak bisa membedakan realita,
harapan ataupun rasa takut kita. Setelah dewasa kita pun tetap
sama, tidak ada bedanya dengan saat kita masih kecil, bahkan

11
semakin tinggi harapan dan kuat rasa ketakutan itu, maka akan
semakin sulit bagi kita untuk melihat realita dengan jelas.

Apabila kita tidak mengatakan hal yang sebenarnya kita akan


menderita, orang di sekitar kita juga menderita. Rasa tidak percaya
dan kebingungan akan timbul, kemudian rasa takut dan kemarahan
segera menyertai. Supaya kita semuanya bisa selalu melakukan
tindakan yang benar di setiap saat, kita sangat bergantung pada
kejujuran antara satu sama lain.

4. TIDAK MELAKUKAN PELANGGARAN SEKSUAL

Artinya kita menjaga kemoralan diri sendiri dan orang lain dengan
tidak sembarang menyentuh dan menyakiti tubuh sesama. Kita
tidak saling menyentuh tubuh, yang menimbulkan rasa nikmat
sekejap namun kemudian membawa penderitaan. Kita perlu
berhati-hati, penuh kasih dan hormat dengan segala yang kita
sentuh. Kita jangan merusak dan mengganggu ikrar setia yang telah
dibuat oleh sepasang insan untuk saling mencintai di dalam
pernikahan mereka. Kita perlu menunda ungkapan kasih secara
seksual sampai tahap dimana sebuah persahabatan menjadi sangat
kuat dan cinta kasih tumbuh sangat mendalam, untuk selanjutnya
kalian ingin saling memberi ikrar kesetiaan di dalam sebuah
pernikahan.

Sangat mudah untuk hanyut dalam nafsu akan sentuhan-sentuhan,


terutama saat kita beranjak menjadi dewasa. Tetapi demi
menghindari penderitaan bagi diri kita sendiri maupun orang lain,
kita perlu memahami dengan jelas jenis-jenis sentuhan yang pantas
dan bermanfaat dengan jenis sentuhan yang tidak pantas dan
merugikan.

5. TIDAK MENYALAHGUNAKAN OBAT-OBATAN

Setiap situasi kehidupan yang kita jalani adalah sangat sederhana


namun sekaligus juga sangat rumit sehingga kadang sulit sekali bagi
kita untuk membedakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan

12
dan hal-hal yang membawa kebahagiaan dalam hidup. Terlebih-
lebih sulit untuk menyadari hal tersebut bilamana kita
menggunakan obat-obatan. Di bawah pengaruh obat-obatan segala
usaha yang kita lakukan untuk memahami kebenaran (meditasi,
kesabaran, ketekunan berlatih, cinta kasih) kehilangan wujud dan
fungsinya sama sekali.

Obat-obatan dalam pengertian ini bukan hanya alkohol, marijuana


atau pil ekstasi tetapi juga semua yang dapat menumpulkan
kesadaran, dan segala sesuatu yang menimbulkan rasa
ketergantungan yang membuat kita selalu mencari-cari.
Benda/kegiatan demikian bisa saja termasuk TV atau kegemaran
bergosip atau mengisi teka-teki silang. Obat-obatan yang dimaksud
biasanya adalah segala sesuatu yang membuat pikiran kita tumpul,
mati rasa, keluar dari kenyataan, keluar dari kesadaran akan saat
ini, membuat kita tidak bisa bereaksi dengan baik untuk
menghadapi kenyataan.

6. TIDAK MEMBURUK-BURUKAN ORANG LAIN

Di dalam setiap komunitas sosial–keluarga, sekolah, tetangga, grup


meditasi, sesama teman–ada dua hal yang penting, yaitu rasa saling
percaya dan keterbukaan. Keterbukaan artinya mengutarakan
secara jujur segala ganjalan yang timbul terhadap pihak lain
sehingga kedua belah pihak bisa mencari jalan keluar, yaitu dengan
saling menyesuaikan, saling melakukan perubahan yang
diperlukan.

Kita tahu bahwa mengkritik orang lain di belakang mereka akan


merusak hubungan baik, rasa percaya mereka terhadap kita lenyap
dalam sekejap. Namun kita sering mengkritik di belakang, hal ini
karena keterbukaan adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagi
kita. Lebih mudah untuk mengeluh pada pihak ketiga.

Perlu disadari bahwa keterbukaan tidak mungkin dicapai lagi


apabila rasa percaya sudah hilang. Bila hal itu terjadi maka tidak
perlu lagi untuk terbuka dan berterus terang, karena semuanya
terlambat sudah. Berterus terang kadang memang menakutkan

13
tetapi harga yang harus dibayar karena tidak mau berterus terang
adalah kehilangan rasa kepercayaan orang lain terhadap kita.

Agar tidak memburuk-burukan orang lain kita perlu memikul


tanggung jawab untuk menyelesaikan ganjalan yang kita
hadapi/rasakan dalam berhubungan dengan orang lain, bicarakan
sejujurnya dan rundingkan perubahan yang bisa dilakukan.
Imbalan yang kita dapat adalah rasa saling percaya dalam semua
hubungan yang kita jalin.

7. TIDAK MEMUJI DIRI SENDIRI DENGAN MENCELA ORANG


LAIN.

Demi kehormatan diri sendiri dan kesejahteraan teman dan


keluarga, kita harus selalu ingat bahwa setiap manusia adalah
istimewa. Dengan demikian maka kita tidak akan menyombongkan
diri sendiri dan mencela orang lain. Kita tidak akan hanyut oleh
rasa kepuasan diri, selalu berpikir bahwa ‘aku lebih hebat dari
orang lain’ ataupun larut oleh rasa rendah diri dengan berpikir
‘orang lain lebih hebat dari aku’. Tidak seorangpun yang lebih
hebat dari kita. Kita tidak lebih penting dari orang lain. Seperti biji
teratai di dalam polong teratai, kita semua adalah sama.

Kita perlu menumbuhkan kesadaran akan kesetaraan semua


makhluk, di setiap saat dalam setiap tindakan kita. Dengan
demikian kita akan dapat hidup bahagia menikmati hasil karya dan
keterampilan, mendapat manfaat kebaikan di antara sesama.

8. TIDAK PELIT

Artinya kita memiliki kerelaan untuk selalu berbagi, apapun


kesenangan yang kita miliki akan selalu kita bagikan kepada
sesama. Kita bisa memberi sebagian penghasilan kita untuk
membantu kaum miskin. Kita bisa memberi waktu kita yang
berharga, beberapa jam dalam seminggu untuk membantu yang
sakit atau jompo. Kita bisa membantu kelestarian hutan dengan
mendaur ulang kertas atau kelestarian lingkungan hidup dengan

14
menulis surat gagasan atau dukungan atas Undang Undang
Kelestarian Lingkungan Hidup.

Namun segala yang berharga tidak selalu berupa hal-hal yang


menyenangkan, penderitaan juga bisa menjadi sebuah berkah yang
membuat kita lebih mengerti makna kehidupan. Kita perlu berbagi
bukan saja kekayaan materi, namun juga segala sesuatu yang
membuat kita paham, bijaksana dan bertindak benar dalam hidup.
Kita perlu berbagi cinta kasih, ilmu, ide dan keterampilan yang kita
miliki dengan sesama.

9. TIDAK HANYUT DALAM NAFSU AMARAH

Kemarahan bisa menjadi sumber kekuatan, memberi cahaya terang


untuk melihat kebutuhan akan perubahan dan sebuah dorongan
untuk berubah. Namun tanpa kontrol yang baik, rasa kemarahan
adalah mesin penghancur. Segala sesuatu di alam semesta memiliki
tahapan-tahapan; tahap berkembang, seimbang (statis) dan
kehancuran. Rasa marah adalah sangat mirip dengan tanda awal
kehancuran.

Namun apa yang harus kita lakukan dengan tanda-tanda


kehancuran tersebut? Saat kita dikuasai kemarahan, kita menjadi
sangat merusak, kita mengirimkan sinyal karma buruk ke segala
penjuru. Namun apabila kita bisa mengenali dan berteman dengan
kemarahan tersebut secara hati-hati, rasa belas kasihan dan
kebijaksanaan dapat merubah karma buruk tersebut menjadi cinta
kasih. Apapun yang kita ucapkan atau lakukan terhadap sesama,
nantinya akan menjadi ucapan dan tindakan yang kita terima
kembali. Maka berhati-hatilah, sangat hati-hati.

10. TIDAK MENGHINA AJARAN LAIN

Apapun agama seseorang, walau tanpa agama sekalipun, tidak ada


kebahagiaan yang bisa didapatkan dengan mengingkari kebenaran
dan nilai-nilai kebaikan yang ditunjukkan oleh para bijaksana.
Semua orang tidak selalu sependapat tentang jalan hidup yang

15
terbaik, kita semua mencari jalan masing-masing yang paling sesuai
untuk diri kita. Tetapi siapapun dan apapun hal-hal yang
mengajarkan dan membantu manusia dalam pencarian kebenaran
dan kejujuran hati mereka tentunya patut kita hormati.

Kita semua perlu menghargai figur pribadi dan ajaran yang


membantu banyak orang dalam pencarian kebenaran mereka
masing-masing, terlepas dari faktor apakah ajaran tersebut sama
ataupun berbeda dengan yang kita anut. Kebenaran agung di alam
semesta adalah keberadaan seluruh isinya sesuai kondisi yang ada,
kita semua adalah bagian dari kebenaran agung tersebut, bagaimana
bisa kita mencela bagian dari suatu kebenaran? Sadarilah setiap
pikiran, perkataan dan perbuatan kita dan tanamkan sikap saling
pengertian. Nikmati keragaman makhluk, alam, sifat, ajaran, tata
cara dan semuanya yang ada di sekeliling kita, tanpa keragaman itu
kita mungkin tidak eksis.

Ada ritual formal yang kita terapkan setiap kali selesai membaca
Pedoman Moral tersebut di atas, yaitu kita semua akan ditanya ‘Apakah
kamu sudah berusaha menghayati dan mempraktekkan pedoman tersebut
dalam dua minggu terakhir ini?” Baik sekali untuk melakukan ritual
pengucapan Pedoman Moral seperti ini secara berkelompok walaupun kita
bisa juga melakukannya sendiri-sendiri. Ada umat yang melakukan ritual
ini sekeluarga bersama setiap malam bulan purnama.

Pedoman Moral ini mengajarkan kita untuk tidak menimbulkan


penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain. Biasanya penderitaan timbul
karena kita tidak sepenuhnya hidup di saat ini, terpaku pada suatu
pemikiran tentang masa depan dan masa lalu. Kadang kita tidak sepenuhnya
sadar dengan hal-hal yang terjadi saat ini. Sadarilah setiap saat yang kita
jalani adalah sangat unik, terus berubah dan tidak bisa diulang lagi. Saat kita
benar-benar meresapi hidup hanya untuk saat ini, penderitaan itu lenyap.

Oleh sebab itu sebenarnya Pedoman Moral adalah suatu peringatan


untuk hidup di saat ini, buat diri sendiri dan orang lain. Bagaimana kita
perlu selalu waspada di saat ini dan juga tidak melupakan orang lain.
Bagaimana agar kita semua bisa saling terbuka dan tidak menyimpan
ganjalan perasaan apapun. Bagaimana agar kita semua bisa saling
menghargai dan saling memperlakukan sesamanya dengan rasa hormat yang

16
tinggi. Inilah petunjuk Buddha yang bermanfaat untuk mencapai tingkat
Kebuddhaan.

Tapi janganlah kuatir, kita semua tidak sempurna, orang kadang-kadang


bisa berbuat kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita memperbaiki
kesalahan yang telah diperbuat, bukan dengan terus menerus menyesali dan
menghukum diri sendiri atau orang lain atas kesalahan yang telah
diperbuat. Mulailah lagi dengan niat yang baik dan semangat yang baru.

17
BAB 3
PELANGGARAN MORAL

Salah satu cara yang saya lakukan untuk berbagi ajaran Dhamma dengan
anak-anak saya, Sara umur empat tahun dan Trenton umur dua tahun
adalah dengan membaca paritta bersama. Ini adalah sesuatu yang biasanya
kami lakukan dalam acara kekeluargaan sebulan sekali di Pusat Meditasi
ZEN Minnesota.

Kami biasanya melafalkan Lima Pedoman Moral, masing-masing tiga


kali:

Tidak membunuh

Tidak mencuri

Tidak marah

Tidak mencela orang lain

Tidak berbohong

Di rumah, biasanya kami bergiliran membunyikan lonceng, yang berupa


gelas kristal hadiah perkawinan saya, setiap kali pengulangan itu dilakukan.
Selesai membacakan paritta kami akan duduk bermeditasi selama beberapa
menit kemudian saling memberi hormat dan meletakkan kembali bantal
duduk ke tempatnya dan kemudian makan sarapan pagi bersama.

Seluruh ritual doa tersebut selesai dalam lima menit dan pada awalnya
tidak terpikirkan bahwa ritual yang begitu singkat dapat membawa
pengaruh besar bagi anak-anak saya. Kejadiannya pada suatu hari saya
mendengar Sara menjelaskan kepada papanya bahwa kita tidak boleh
marah-marah, karena itu tidak hanya membuat semua orang di sekeliling
kita menderita tetapi juga akan membuat diri kita sendiri menderita.
Sungguh hebat sekali! Sara ternyata bukan hanya sekedar melafalkan paritta
tetapi dia juga meresapi makna paritta tersebut.
18
Beberapa minggu kemudian Sara menghampiri saya untuk menanyakan
bagaimana ia dapat memperbaiki Sila / Pedoman Moral yang telah ia
langgar. Kelihatannya ia sangat kuatir tentang apa yang telah terjadi, hal itu
menyadarkan saya bahwa saya telah salah kaprah dalam membahas dan
mengartikan Pedoman Moral tersebut, seperti saya membahas dan
mengartikan Sepuluh Perintah Tuhan di masa kecil dan remaja saya dulu.
Perintah yang mana apabila dilanggar harus selalu disertai dengan hukuman
berat sebagai konsekwensinya.

Setelah lama membahas dengan Sara akhirnya kami putuskan bersama-


sama bahwa Pedoman Moral itu adalah seperti sebuah jembatan besar di
atas sungai. Perumpamaannya adalah apabila kita menjalankan Pedoman
Moral itu dengan baik maka kita seperti berjalan di atas jembatan yang
kokoh. Apabila kita melanggar maka ibaratnya kita tergelincir jatuh ke
sungai atau kita mungkin juga dengan sengaja menceburkan diri, maka
konsekwensinya adalah kita pasti basah kuyup dan kerepotan, kita harus
berenang untuk mencapai tepi sungai dan memanjat bahu sungai untuk naik
kembali ke daratan.

Perumpamaan jembatan dan sungai untuk pengertian anak kecil


sangatlah bermanfaat. Perumpamaan seperti itu membuat mereka berpikir
bahwa menjalani hidup dengan perilaku yang baik adalah cukup gampang
dan bisa dicapai. Memperbaiki sesuatu yang telah pecah karena kita langgar
adalah hampir tidak mungkin tetapi memanjat untuk naik kembali apabila
kita jatuh cukup gampang untuk dilakukan, baik oleh anak-anak sekalipun.
Maka mereka akan termotivasi untuk mempraktekkan sila-sila itu setiap
hari.

19
BAB 4
LIMA PEDOMAN

Semua umat Buddha menerima Lima Sila / Pedoman Moral (Panca-Sīla)


sebagai pedoman atau etika dasar kehidupan mereka. Dengan menggunakan
pedoman tersebut sebagai kemudi dan kompas, seorang umat Buddha tahu
bagaimana menghadapi berbagai situasi dan memahami topik dalam
kehidupan sehari-hari.

Sila pertama adalah “TIDAK MEMBUNUH”. Kita berjanji untuk tidak


melakukan, menyebabkan, menyuruh sesorang melakukan ataupun
mengizinkan terjadinya pembunuhan terhadap makhluk hidup. Dengan
menjalankan sila ini kita mengakui adanya hubungan saling ketergantungan
di antara sesama makhluk hidup, menyadari bahwa dengan menyakiti
makhluk lain kita sebenarnya menyakiti diri sendiri. Buddha Gautama
mengajarkan, “Bilamana diri sendiri tidak suka disakiti maka demikian pula
makhluk lain. Dengan menyadari hal tersebut kita tidak akan membunuh
atau menyebabkan pembunuhan makhluk”.

Sila ini berlaku untuk semua makhluk, besar maupun kecil. Kita tidak
patut mengorbankan kehidupan makhluk lain untuk tujuan penghormatan,
kesenangan, hiburan atau sebagai bahan makanan. Sebaliknya kita perlu
mengalahkan keinginan pemuasan nafsu yang mementingkan diri sendiri.
Umat Buddha tradisi Mahayana bertindak lebih jauh lagi, mengorbankan
dirinya sendiri apabila hal tersebut sungguh dapat menolong makhluk lain.
Contoh nyata yang pernah terjadi, bhikkhu-bhikkhu di Vietnam membakar
diri mereka sendiri dengan tujuan untuk mengakhiri perang Vietnam.

Ajaran Buddha tradisi Theravada mengutamakan kemurnian pelaksanaan


Sila untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan belas kasihan terhadap semua
makhluk. Umat Theravada yang ketat tidak melakukan pembunuhan sekecil
apapun. Bhikkhu Theravada tidak menebang pohon ataupun mengolah
ladang karena hal tersebut bisa saja menyebabkan terjadinya pembunuhan
makhluk. Namun kita semua harus membuat pilihan-pilihan tertentu. Alan
Watt menuturkan bahwa dia memilih menjadi vegetaris (tidak

20
mengkonsumsi daging) karena sapi yang dijagal berteriak lebih keras
daripada sayuran kol yang dipotong.

Bhikkhu Mahayana biasanya adalah vegetaris karena mereka boleh


mengelola ladang (bercocok tanam) sayuran. Bhikkhu Theravada
bergantung sepenuhnya pada pemberian dana makanan dari umat, mereka
memakan apa saja yang diberikan, termasuk daging. Namun apabila
Bhikkhu Theravada curiga bahwa makhluk hidup telah dibunuh dengan
sengaja khusus untuknya maka mereka tidak boleh makan makanan
tersebut.

Pembantaian hewan sebagai bahan makanan bisa diterima dalam lingkup


masyarakat agraris yang sederhana atau pola hidup di pedesaan. Namun
apabila proses penjagalan skala besar telah disertai dengan promosi yang
gencar maka kita perlu mengkaji ulang Sila Buddhis yang pertama tersebut.
Dalam masyarakat industri di kota besar, daging hewan hanyalah berupa
produk, benda mati. Apakah produksi daging hewan skala besar
menunjukkan rasa penghargaan kita terhadap nyawa dan nilai kehidupan
hewan-hewan tersebut?

Apabila anggota masyarakat di negara-negara yang mengkonsumsi daging


bisa mengurangi kegiatan peternakan komersil untuk kebutuhan makanan,
hal ini bukan saja menunjukkan rasa simpati dan penghargaan kita terhadap
nyawa makhluk hidup namun juga rasa simpati terhadap sesama manusia
yang hidup dalam kemiskinan dan sangat membutuhkan bahan pangan
untuk kelangsungan hidup.

Umat Buddha perlu tahu bahwa sebenarnya ada cukup banyak makanan
yang tersedia untuk seluruh penduduk di bumi ini. Wabah kelaparan
sebenarnya lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan ekonomi dan susunan
kekuasaan yang tidak mengizinkan bahan pangan untuk disalurkan kepada
yang membutuhkan, bahkan penduduk di negara produsen pangan itu
sendiri yang sedang kelaparan.

Kita juga perlu mencermati usaha penjualan senjata api dan menentang
sistem tersebut karena mendukung terjadinya pembunuhan. Pembunuhan
sangat merajalela dalam sistem kehidupan modern saat ini, seperti
contohnya perang, konflik antar ras, makhluk yang khusus dipelihara untuk
dibantai, pengunaan obat pembasmi hama (insektisida) yang berbahaya.
Bagaimana kita dapat menentang hal tersebut dan membantu menciptakan
21
masyarakat dunia yang bebas kekerasan? Bagaimana cara agar Sila pertama
ini dan nilai luhur yang dikandungnya dapat dipakai untuk menciptakan
dunia yang adil dan berbelas kasihan? Saya tidak bertujuan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut di sini. Saya hanya ingin mengemukakan
pertanyaan-pertanyaan ini untuk kita renungkan bersama.

Sila kedua “TIDAK MENCURI”. Dalam Sutta Kemenangan Agung


(Cakkavatti Sahananda Sutta), Sang Buddha bersabda bahwa apabila seorang
raja membiarkan kemiskinan merajalela di kerajaannya maka rakyat negeri
itu akan selalu mencuri demi untuk bertahan hidup. Kesejahteraan ekonomi
sebuah Negara berkaitan erat dengan pelaksanaan Mata Pencaharian Benar
bagi rakyatnya. Negara perlu mengusahakan sekuat tenaga untuk
mengurangi angka pengangguran. Negara juga perlu berhati-hati agar sistem
ekonomi yang dijalankan tidak memancing terjadinya eksploitasi golongan
tertentu, penyelundupan ataupun perdagangan gelap.

Mencari nafkah dengan pedoman mata pencaharian yang benar, hidup


sederhana penuh rasa belas kasihan terhadap sesama dan menghindari
ketenaran, kekayaan dan kekuasaan berlebihan dalam penghidupan kita
sebenarnya bertujuan untuk mengikis tindak penindasan ekonomi secara
struktural yang terjadi saat ini. Namun dengan hidup sederhana saja apakah
cukup tanpa kita juga mengusahakan perbaikan sistem ekonomi yang
nyatanya memojokkan demikian banyak rakyat untuk hidup dalam jurang
kemelaratan?

Sebuah sistem ekonomi yang adil dan merata secara global adalah sangat
perlu dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha untuk
menciptakan perdamaian dunia. Tindak kekerasan dan penindasan hak asasi
manusia dalam semua skala dan segala bentuknya besar maupun kecil –
penjajahan atas bangsa, penguasaan kelompok, penindasan individual – pada
dasarnya berakar dari keinginan yang sama, yaitu untuk memperoleh
keuntungan ekonomi dan kekuasaan politik. Ada sebuah cerita dari jaman
Buddha Gautama yang memberi ilustrasi hal tersebut. Lima tahun setelah
mencapai Penerangan Sempurna, Beliau pulang ke kampung halamanNya
dan menemukan bahwa suku asal ibuNya, Koliya dan suku asal ayahNya,
Sakya sedang berperang. Perang tersebut berawal ketika para petani dari
suku Sakya dan Koliya tidak bisa bersepakat dalam menentukan siapa yang
lebih berhak untuk mengalihkan aliran sungai Rohini ke ladang sawah padi
mereka. Masing-masing bersikeras bahwa hanya dengan satu kali pengairan
22
lagi maka mereka akan segera mendapat panen padi dan kemudian pihak
lainnya dapat mengalihkan air sungai ke ladang padi mereka juga. Kedua
pihak petani mulai saling mencerca yang kemudian memancing kemarahan
para prajurit masing-masing dan kemudian prajurit pun saling baku hantam.
Sang Buddha menengahi mereka pada saat itu. Para prajurit meletakkan
senjata dan merasa malu sendiri sewaktu Sang Buddha menanyakan sebab
pertentangan mereka. Setelah Beliau mengetahui bahwa sebab
pertentangannya adalah karena air, Beliau menanyakan seberapa tinggi nilai
air tersebut dibandingkan nyawa manusia. Mereka menjawab bahwa nyawa
manusia tak ternilai oleh uang, tingginya melebihi semua. Sang Buddha
kemudian bertanya lagi,”Oleh karena itu apakah sebanding apabila karena
air yang sedikit kalian mesti saling membunuh dan menghilangkan nyawa
manusia atau prajurit yang tidak ternilai itu?”. Mereka pun menjadi sadar.

Umat Buddha semestinya dianjurkan untuk mempelajari dan memberi


komentarnya atas “Paham Dunia Baru” dari perspektif Buddhis, untuk
menguji model pembangunan yang cocok dan tidak cocok, pola konsumsi
yang tepat dan tidak tepat, sistem penjualan yang jujur ataupun tidak,
pemanfaatan ataukah pengrusakan sumber daya alam dan kiat-kiat
penyembuhan untuk mengobati ‘penyakit’ dunia. Dimanakah posisi kita
sebagai Buddhis untuk menciptakan norma sebuah Ekonomi Baru dalam
skala nasional maupun internasional? Banyak grup umat Kristen yang telah
melakukan studi tentang perusahaan multinasional dan perbankan
internasional. Kita perlu mencontoh langkah dan memanfaatkan hasil-hasil
studi yang telah mereka lakukan.

Sila ketiga, “TIDAK MELAKUKAN PELANGGARAN SEKSUAL”. Seperti


sila lainnya, kita perlu melatih sila ini dalam kehidupan sehari-hari untuk
menghindari tindak eksploitasi dan perbuatan yang dapat menyakiti orang
lain. Selain itu kita juga perlu memahami struktur global dominasi kaum
pria dan eksploitasi kaum wanita. Struktur dominasi pria yang demikian
berkaitan erat dengan tindak kekerasan yang berkembang saat ini. Marvin
Harris dan Eric Ross dalam studi mereka mengungkapkan salah satu fakta
sebagai contoh, yaitu tindak pembunuhan bayi perempuan di beberapa suku
yang mengakibatkan timbulnya peperangan antar suku untuk mengatasi
masalah kelebihan jumlah penduduk pria. Hal tersebut memupuk tindak
kekerasan dan menumbuhkan kekuasaan kaum pria yang pada gilirannya
lagi-lagi merugikan anak perempuan dan memihak pada anak lelaki

23
(Marvin Haris and Eric B. Ross, Death, Sex and Fertility: Population
Regulation in Preindustrial Society, New York: Columbia University, 1987).
Kebijakan militer modern di beberapa negara juga mendukung paham
patriarki seperti ini. Praktek Buddhis yang benar mendukung pertumbuhan
watak yang seimbang, bebas dari anut paham masyarakat tentang
maskulinitas dan feminitas.

Sila keempat, , “TIDAK BERBOHONG”. Kebenaran akhir sesungguhnya


sulit dipahami dan tidak dapat diterangkan. Bagi seorang Buddhis, cara
untuk memahami kebenaran adalah dengan pemikiran yang mendalam dan
kritis tentang semua kepercayaan dan teori. Melalui praktek meditasi,
seseorang dapat melihat dengan jelas proses timbulnya segala jenis
pemikiran dan bayangan mental sehingga ia akan mengerti bahwa semua
pemikiran yang muncul sebenarnya selalu berubah dan tidak kekal, apapun
itu, sehingga tidak perlu terpaku dan bersikukuh. Kebijaksanaan hanya bisa
dicapai melalui pemikiran yang bebas dari konsep, terbuka dan kritis.

Dalam Vimalakirti Sutra para Bodhisattva (bahasa Pali: Bodhisattas)


dianjurkan untuk ‘mengabdikan diri mereka kepada semua suku bangsa di
dunia untuk menciptakan rasa kebersamaan dan toleransi di antara mereka
yang terperangkap dalam pemikiran yang terlalu dogmatis’. Praktek
spiritual yang benar menyadarkan kita akan ketiadaan musuh-musuh yang
dikonsepkan secara umum maupun spesifik, dan mengungkapkan adanya
kesamaan tendensi kebencian dan ketamakan di dalam diri setiap manusia.
Musuh-musuh ‘dari dalam’ inilah yang sebenarnya paling berbahaya.

Kita perlu mencermati media massa, sistem pendidikan dan pola


penyebaran informasi yang kita terima, yang berperan sangat besar dalam
membentuk pemikiran kita tentang kenyataan yang ada dan konsepsi
banyak hal yang terjadi di dunia kita. Dalam hal ini umat Buddha
sebenarnya sangat terbelakang dibandingkan saudara-saudaranya yang
beragama Islam dan Kristen. Contohnya adalah Institusi pendidikan
Pesantren di Indonesia yang menerapkan nilai tradisional dan ajaran Islam
dalam lingkup kehidupan modern, mengajarkan generasi muda tentang
kebaikan dan kebenaran, tentang dunia dan bagaimana merencanakan masa
depan mereka. Kita dapat keluar dari penyakit kebohongan sistematik yang
merajalela di masyarakat sekarang ini hanya apabila Ucapan Benar
dipraktekkan secara kolektif dan menyeluruh.

24
Harga diri dan martabat manusia semestinya ditempatkan di atas
kepentingan peningkatan konsumsi, banyak propaganda dibuat hanya
untuk merangsang konsumsi melebihi apa yang dibutuhkan. Dengan
menggunakan hati nurani sebagai pedoman, riset semestinya dilakukan di
berbagai Universitas untuk mengekang pertumbuhan propaganda politik
dan iklan komersil. Tanpa mengesampingkan nilai kebebasan berpendapat
dan kebebasan pers (media), kita perlu menciptakan alternatif sistem
penyebaran informasi saat ini yang penuh kebohongan atau akan menjadi
tidak mungkin bagi kita untuk menyaring semua konsep menyesatkan yang
disebarluas dengan alasan untuk menjamin keamanan nasional dan menjaga
kepentingan umum.

Sila kelima, , “TIDAK MEMAKAI SEGALA SESUATU YANG


DAPAT MEMABUKKAN DAN MENGURANGI KESADARAN, SERTA
MENGANJURKAN ORANG LAIN AGAR MENJAUHINYA”. Agama
Buddha sangat menekankan pentingnya pikiran. Pikiran yang sadar dan
jernih adalah sangat berharga. Kita juga harus melawan kekuatan yang
mendorong penggunaan obat-obatan terlarang yang meracuni,
mengurangi kesadaran pikiran dan menimbulkan ketergantungan.

Masalah ini sebenarnya berkaitan erat dengan topik keadilan dan


perdamaian internasional. Petani-petani di negara berkembang menanam
heroin, coklat, kopi dan tembakau karena sistem ekonomi yang berkembang
tidak memungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan
menanam padi dan sayur-sayuran. Penghubung langganan para petani
heroin ini biasanya adalah bandit-bandit bersenjata yang menjadi pembeli
dan agen hasil panen mereka. Bandit-bandit ini biasanya adalah serdadu
gerilyawan, kelompok buronan politik, serdadu politikus sayap kanan
ataupun serdadu revolusioner sejenisnya.

Institusi CIA berdagang obat-obatan di Vietnam, pemerintah gerilya


komunis di Myanmar berdagang obat-obatan dan kelompok revolusioner
Amerika Selatan berdagang obat-obatan. Perang besar-besaran, contohnya
perang Opium di Cina (1840), terjadi karena adanya keinginan kelompok
pemerintahan tertentu untuk mempertahankan perdagangan obat-obatan.

25
Problem yang sama seriusnya adalah kondisi ekonomi yang mendorong para
petani untuk menanam tanaman komoditas ekspor seperti kopi dan teh
serta usaha-usaha untuk membuang kelebihan produksi rokok ke negara-
negara berkembang melalui iklan dan kampanye produk rokok yang sangat
gencar untuk meningkatkan jumlah perokok dan frekwensi penggunaan
produk.

Masalah penyalah-gunaan obat-obatan dan kriminal biasanya sangat


parah di lingkungan yang memiliki ketimpangan ekonomi dan tingkat
pengangguran tinggi. Kebijakan Presiden Reagan dan Bush yang
menggunakan angkatan bersenjata negara untuk memerangi masalah
perdagangan obat-obatan terlarang adalah sama sia-sianya seperti usaha
Presiden Gorbachev dalam kampanye melawan penggunaan alkohol oleh
kelompok masyarakat pekerja. Penyebab kegagalan mereka adalah sama,
kedua cara yang dipakai hanya berusaha mengatasi gejala yang timbul,
bukan menyembuhkan sumber penyakitnya. Ajaran Buddha menganjurkan
bahwa solusi efektif untuk masalah seperti ini harus diatasi dengan
pembaharuan menyeluruh atas cara berpikir dan nilai kemanusiaan yang
dianut. Khotbah-khotbah agama dengan melarang penggunaan obat-obatan
tidak ada manfaatnya. Kita perlu menelusuri masalah ini ke dalam
sumbernya dan mulailah dengan mengatasi penyebab awal terjadinya
penyalah-gunaan obat-obatan dan alkohol.

Sejalan dengan itu kita juga perlu mencermati perkembangan industri


bir, anggur dan produk minuman lainnya yang mengandung alkohol untuk
membatasi efek buruk yang mungkin ditimbulkan.

Ajaran sila-sila dasar ini penting dijalankan untuk kebaikan diri kita
sendiri sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Pemikiran-
pemikiran saya tentang Lima Sila dan bagaimana Sila tersebut dapat
diterapkan dalam lingkup kehidupan yang lebih luas untuk mengatasi
permasalahan yang ada hanyalah sekedar langkah awal. Saya berharap
diskusi yang lebih konkrit dapat tercetus dan akan berkelanjutan dalam
tindakan-tindakan nyata. Sesungguhnya landasan moral sangatlah
dibutuhkan sebagai pedoman tingkah laku dan pengambilan keputusan di
dalam kehidupan kita sehari-hari.

26
APPENDIX A
KAWANAN PEMABUK

Dahulu kala, jaman dimana Brahmadatta menjadi raja, seorang Bodhisatta


terlahir di keluarga yang kaya raya. Beliau adalah orang terkaya di Benares.
Di kota itu juga terdapat sekawanan pemabuk yang suka berkeliaran di
jalanan. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana cara untuk
mendapatkan lebih banyak minuman keras, benda yang amat sangat
penting, karena mereka merasa tidak dapat hidup tanpa minuman keras.

Suatu hari ketika mereka kehabisan uang seperti biasanya, mereka


membuat rencana untuk merampok orang terkaya di Benares. Sungguh
mereka tidak mengetahui bahwa orang terkaya tersebut adalah Bodhisatta
yang terlahir di alam manusia, tentunya tidak gampang bagi para pemabuk
itu untuk mengelabui Beliau.

Mereka memutuskan untuk membuat minuman khusus yang terbuat


dari alhohol yang dicampur dengan obat tidur. Mereka akan berusaha untuk
membuat orang terkaya di Benares itu minum minuman khusus tersebut.
Ketika orang kaya itu tertidur maka mereka dapat mengambil uang,
perhiasan dan pakaiannya yang mewah. Maka mereka membuat sebuah
warung minuman di pinggir jalan. Masing-masing mereka menuangkan
sisa-sisa minuman terakhir yang masih dimiliki ke dalam sebuah botol dan
mencampuri minuman tersebut dengan obat tidur yang kuat.

Beberapa saat kemudian orang terkaya di Benares itu lewat, ia sedang


dalam perjalanan menuju ke istana raja. Salah seorang pemabuk itu menegur
beliau dan berkata, “Tuan yang terhormat, bukankah sangat baik sekali
apabila di pagi hari yang cerah ini Tuan minum bersama kami? Minuman
yang pertama di warung kami ini gratis!” Sambil berkata demikian ia
menuangkan segelas minuman yang telah dicampur dengan obat tidur itu.

Orang kaya tersebut sama sekali tidak meminum minuman keras dan
tidak tertarik, namun Beliau menaruh curiga karena sikap pemabuk itu yang
terkesan sangat murah hati dengan minuman kegemarannya. Sikap seperti
itu sangat tidak lazim buat para pemabuk.
27
Beliau menyadari bahwa itu tentu merupakan tipuan dan memutuskan
untuk memberi pelajaran kepada mereka. Kemudian Beliau berkata, “Raja
tentu akan sangat murka apabila saya menghadap kepadanya dalam keadaan
mabuk, bahkan aroma minuman keras dari nafas saya sedikit saja pun akan
dianggap sebagai penghinaan kepada raja. Tetapi saya mohon agar kalian
berbaik hati dan menunggu sampai saya kembali. Saya akan kembali lagi
kesini setelah menemui raja di istana.”

Para pemabuk itu kecewa karena tidak bisa segera mendapatkan uang
untuk membeli minuman kegemaran mereka, namun akhirnya
memutuskan untuk bersabar dan menunggu.

Kemudian orang kaya di Benares itu kembali lewat di jalanan tersebut.


Saat itu para pemabuk sudah sangat menginginkan minuman keras. Mereka
memanggil orang kaya itu sambil berkata, “Tuan yang terhormat, bukankah
ini saat yang tepat untuk merayakan kunjungan Anda ke istana raja?
Minumlah arak yang sangat bermutu ini. Ingat, minuman yang pertama
tidak perlu bayar, gratis!”

Orang kaya tersebut memandang dengan cermat ke dalam botol


minuman dan gelas yang diletakkan di atas meja itu. Beliau berkata, “Saya
tidak percaya pada anda. Botol minuman itu dan gelas yang ada sama persis
keadaannya seperti pagi tadi. Kalau benar minuman tersebut sangat nikmat
seperti yang anda katakan maka tentunya anda akan mencicipinya sendiri.
Semestinya anda tentu sudah meminumnya sampai habis kalau benar sangat
nikmat! Saya bukan orang bodoh. Anda tentu telah memcampur sesuatu
obat ke dalam minuman tersebut.”

Orang kaya tersebut melanjutkan perjalanannya dan kawanan pemabuk

itu terpaksa menyusun rencana dan tipu muslihat yang lain

28
APENDIX B
PELAJARAN DARI SEEKOR ULAR
Dahulu kala, raja Brahmadatta dari kerajaan Benares punya seorang pendeta
penasehat yang sangat bijaksana. Pendeta itu berasal dari keluarga kaya
yang terhormat. Beliau sangat pintar dan berpengetahuan tinggi. Beliau juga
sangat murah hati dengan kekayaan dan ilmu yang dimilikinya, tidak ada
sesuatupun yang tidak akan diberikannya kepada yang membutuhkan.
Orang-orang menganggap beliau sebagai orang yang baik dan mulia.

Dengan melatih Lima Sila, beliau melatih dirinya untuk menghindari


lima perbuatan yang tercela. Beliau menyadari bahwa dengan tidak
melakukan perbuatan yang tercela maka ia akan dapat menjadi manusia
yang lebih baik, masing-masing dengan cara dan alasan seperti berikut ini:

- Membunuh makhluk hidup, karena kita harus membinasakan


bagian dari diri kita sendiri untuk membunuh makhluk lain;

- Mengambil apa yang tidak diberikan, karena hal tersebut akan


membuat pemiliknya marah kepada kita;

- Melakukan pelanggaran seksual, karena hal tersebut akan


menimbulkan penderitaan karena rasa sakit hati dan cemburu;

- Mengucapkan kebohongan, karena kita tidak dapat jujur pada diri


sendiri dengan berbohong kepada orang lain;

- Kehilangan kesadaran karena minuman memabukkan, karena kita


bisa saja mencelakakan diri sendiri dan orang lain pada saat kita
mabuk dengan melakukan empat perbuatan tercela tersebut di
atas.

Karena melihat cara hidupnya yang terpuji itu raja Brahmadatta


berpikir bahwa pendeta tersebut sungguh-sungguh merupakan orang yang
baik dan mulia.

Pendeta ini ingin menyelidiki lebih mendalam lagi tentang makna


kebaikan seorang manusia. Beliau berpikir, “ Sang Raja menghormati dan
menghargai saya melebihi pendeta-pendeta yang lain. Tetapi saya ingin
tahu sebenarnya hal apa tentang diri saya ini yang paling dihargai oleh sang

29
Raja. Mungkinkah karena asal suku bangsa saya, silsilah keturunan saya atau
mungkin karena kekayaan keluarga saya? Apakah karena kepintaran dan
pengetahuan yang saya miliki? Atau karena kebaikan perilaku saya? Saya
harus mencari jawaban yang pasti.”

Karena itu pendeta tersebut memutuskan untuk melakukan percobaan


untuk mencari jawaban atas pertanyaannya. Ia akan berpura-pura untuk
menjadi seorang pencuri!

Keesokan harinya, ketika pendeta itu akan meninggalkan istana, ia


mengunjungi pembuat uang emas kerajaan. Si tukang emas itu sedang
mencetak logam uang dari emas. Pendeta yang baik itu, tanpa keinginan
buruk, mengambil sebuah uang emas dan berjalan keluar dari istana. Karena
tukang emas itu sangat menghormati sang pendeta, ia duduk diam dan tidak
berkata apapun.

Di hari berikutnya, pendeta itu melakukan hal yang sama dan


mengambil dua buah uang emas. Seperti hari kemarin, si tukang emas tidak
berkata apapun.

Akhirnya di hari ketiga, pendeta yang baik itu mengambil segepok uang
emas. Kali ini si tukang emas tersebut tidak peduli lagi dengan kedudukan
ataupun reputasi sang pendeta. Dia bangkit menyentak, “Ini adalah ketiga
kalinya anda merampok uang sang Raja.” Sambil menyeret pendeta tersebut,
si tukang emas berteriak, “Saya telah menangkap pencuri yang merampok
uang emas sang Raja! Saya telah menangkap pencuri yang merampok uang
emas sang Raja! Saya telah menangkap pencuri yang merampok uang emas
sang Raja!”

Dalam sekejap kerumunan orang pun berdatangan, mereka berteriak,


“Ahha! Kamu berpura-pura seolah kamu lebih baik daripada kami! Phuih...
Pendeta teladan apaan kamu ini!” Mereka menampar wajah pendeta itu,
mengikat tangannya ke belakang dan membawa beliau untuk menghadap
raja.

Dalam perjalanan menuju tempat sang raja kebetulan mereka melewati


beberapa orang pawang ular. Mereka sedang mempertontonkan atraksi ular
kobra berbisa di lapangan kerajaan. Pawang-pawang ular itu memegang ular
kobra tersebut di bagian ekor dan lehernya dan membiarkan ular tersebut

30
melingkar di leher-leher mereka untuk menunjukkan keberanian dan
keahlian.

Pendeta yang sedang terikat tangannya itu berkata kepada mereka,


“Hati hati! Jangan pegang ular kobra itu di bagian ekor. Jangan pegang di
bagian leher. Dan jangan lingkarkan ular itu di leher kalian. Ular itu sangat
berbahaya, dia bisa menggigit sewaktu-waktu dan kalian bisa langsung mati
karena digigitnya!”

Para pawang itu menyahut, “Kamu pendeta yang bodoh, kamu tidak
mengerti ular ini. Ular ini sangat patuh dan baik, tidak seperti kamu! Kamu
adalah pencuri yang telah merampok dari sang raja. Karena tingkah laku
buruk dan kejahatan yang telah kamu lakukan makanya kamu perlu diikat.
Tetapi ular yang baik ini tidak perlu diikat sama sekali!”

Pendeta itu berpikir, “Ular yang berbahaya dan berbisa sekalipun


apabila tidak menggigit dan mencelakakan siapa pun akan disebut sebagai
“baik”. Sesungguhnya, ‘kebaikan’ itulah hal yang paling dihargai oleh semua
manusia di dunia ini!”

Ketika mereka sampai ke ruangan raja, sang Raja bertanya, “Ada apakah
ini hai rakyatku?” Mereka menjawab, “Tuanku, kami telah menangkap
pencuri yang merampok dari tempat penyimpanan uang emas kerajaan.”
Sang Raja pun berkata, “Kalau begitu hukumlah dia sesuai dengan undang-
undang yang berlaku.”

Pendeta yang terikat itu berkata, “Tuanku sang Raja, saya bukanlah
seorang pencuri!” “Lalu mengapa engkau mengambil pundi-pundi emas dari
ruang emas kerajaan?” tanya sang Raja.

Pendeta itu menjelaskan, “Saya lakukan hal tersebut sebagai sebuah


percobaan, untuk menguji alasan mengapa Anda menghormati dan
menghargai saya melebihi pendeta-pendeta yang lain. Apakah alasannya
karena latar belakang keluarga dan kekayaan atau karena pengetahuan yang
saya miliki? Karena alasan tersebut saya bisa lolos dengan mengambil
sebuah atau dua buah pundi emas. Atau apakah tuanku Raja menghargai
kelakukan dan nilai-nilai kebaikan yang saya jalankan dalam hidup?
Jawabannya menjadi jelas setelah saya mengambil segepok uang emas, saya
pun bukan lagi orang yang patut disebut ‘baik’. Kelakuan demikian
membuat rasa hormat berubah menjadi rasa hina!

31
“Bahkan seekor ular kobra berbisa, yang tidak mencelakakan manusia
bisa disebut ‘baik’. Ular itu tidak butuh keluarga terhormat atau kekayaan
atau pengetahuan tinggi untuk disebut ular yang ‘baik’! Untuk menekankan
pelajaran yang telah dipetik dari pengalaman tersebut pendeta itu
melantunkan bait berikut:

“Silsilah keluarga dan kekayaan bahkan ilmu pengetahuan yang tinggi


sekalipun, telah kupahami, sebenarnya hal tersebut tidaklah setanding
dengan kebaikan dan keluhuran budi manusia.”

Sang Raja mengampuni pendeta itu. Pendeta tersebut kemudian


memohon ijin sang Raja untuk meninggalkan tugasnya dan kehidupan di
istana untuk bertapa di hutan. Setelah ditolak beberapa kali, sang Raja pun
akhirnya memberikan ijin. Pendeta itu pergi menuju ke pegunungan
Himalaya dan hidup bertapa dengan damai. Setelah meninggal Beliau
terlahirkan di alam Brahma.

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan;


Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan;
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri;
Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain.
~ Dari ajaran Buddha, kitab Dhammapada ~

32
Appendix C
PANCASILA BUDDHIS

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami


Saya bertekad untuk menghindari mengambil sesuatu yang tidak
diberikan.

2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami.


Saya bertekad untuk menghindari mengambil sesuatu yang tidak
diberikan.

3. Kamesu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami.


Saya bertekad untuk menghindari tindak pelanggaran seksual

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami.


Saya bertekad untuk menghindari ucapan yang tidak benar dan tidak
bermanfaat.

5. Surameraya majja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami.


Saya bertekad untuk menghindari minuman dan benda memabukkan
yang mengurangi kesadaran pikiran

33
Appendix D
Ajivatthamaka Sila

Ajivatthamaka Sila – Delapan Sila (termasuk sila mata pencaharian benar)

1. Saya bertekad untuk menghindari pembunuhan

2. Saya bertekad untuk menghindari mengambil sesuatu yang tidak


diberikan

3. Saya bertekad untuk menghindari segala tindakan yang menimbulkan


kesenangan seksual

4. Saya bertekad untuk menghindari ucapan yang tidak benar (bohong)

5. Saya bertekad untuk menghindari ucapan yang menghasut (fitnah) dan


menimbulkan perselisihan

6. Saya bertekad untuk menghindari ucapan kasar yang menyakiti


perasaan pendengarnya

7. Saya bertekad untuk menghindari ucapan yang tidak bermanfaat (gosip)


yang menghabiskan waktu

8. Saya bertekad untuk menghindari sumnber mata pencaharian hidup


yang tidak baik.

34
Appendix E
Cara Melatih Sila

Pembaca yang tertarik untuk melatih Lima Sila, dapat mencoba kiat-kiat
berikut ini sebagai langkah awal.

1. Pilih salah satu sila dan berlatihlah selama dua minggu. Kemudian ganti
dengan sila yang berikutnya. Dalam sepuluh minggu anda akan kembali
lagi ke sila yang dipilih pertama kali. Anda dapat mengulang lagi siklus
latihan ini sesering yang anda inginkan.

2. Dengan memakai sila yang anda pilih sebagai latihan cocokan pikiran
dan perbuatan yang telah anda lakukan, catatlah. Coba untuk
menyelami pemahaman anda tentang sila yang anda pilih: Kapan anda
telah melanggarnya; dimanakah batasan perilaku benar dan salah yang
anda buat untuk diri sendiri; alasan apa yang biasanya anda pakai untuk
menawar (menurunkan tingkat keketatan) aturan sila dalam latihan
anda?

3. Bila kita hanya ingin menjadi orang yang baik saja, itu tidak akan
membawa banyak perubahan. Perubahan yang mendasar hanya dapat
dicapai dengan perhatian penuh pada hal-hal yang terjadi, segala proses
yang berlangsung. Kita perlu dengan perlahan, sedikit demi sedikit dan
sejujurnya melihat diri kita sendiri di dalam pikiran, perasaan,
perkataan dan perbuatan secara terus menerus.

4. Ketika anda menyadari bahwa anda telah melanggar sila yang sedang
dilatih anda mungkin akan mengkritik dan mengutuk diri sendiri. Ini
disebut tindakan menghukum diri sendiri, ini merupakan bentuk dosa
(kebencian), kemarahan. Anda perlu waspada dengan perasaan ini agar
tidak berlebihan, perhatikan saja dengan cermat dan rasa ingin tahu,
namun jangan terbawa emosi.

5. Penyesalan atas kesalahan lampau yang kita lakukan merupakan hal


yang wajar karena kita telah melihat dengan jelas bagaimana tindakan
itu telah menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kita hanya perlu mengakui kenyataan hal-hal yang telah terjadi.
Sebuah kesalahan telah kita lakukan namun kehidupan kita perlu
35
berlanjut. Di kesempatan yang lain kita akan berusaha menjadi lebih
baik dan menghindari kesalahan yang sama. Rasa bersalah sebenarnya
timbul dari pikiran kita sendiri, hasil ciptaan pikiran diri sendiri karena
itu hanya kita sendiri yang dapat menghentikan ataupun menambah
intensitasnya. Rasa bersalah yang berlebihan membuat seseorang
menghukum diri sendiri atas kesalahan yang telah lewat. Ini adalah
tindakan yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kamma buruk.

6. Berlatih sila membutuhkan keseimbangan menyeluruh. Tanpa


semangat dan usaha yang sungguh-sungguh kita gampang terbawa
pemikiran tidak sehat dan melakukan perbuatan yang tidak baik.
Namun semangat yang terlalu berlebihan akan menghambat kemajuan
karena kita menjadi terlalu kaku dan cenderung untuk mengkritik
semua hal. Ajaran Buddha menekankan Jalan Tengah.

7. Manusia umumnya sangat bersemangat untuk mengajarkan dan


menyebar ajaran yang baik kepada orang lain ketimbang diri sendiri.
Sangatlah bermanfaat apabila sebelum mengajarkan anak-anak dan
remaja kita sendiri terlebih dahulu berlatih dengan tekun. Untuk
menjadi penuntun bagi yang lain setidaknya seseorang perlu berlatih
evaluasi cermat yang mencakup seluruh sisi moralitas pikiran dan
tindak perbuatannya sendiri, paling sedikit selama satu tahun. Cara
terbaik untuk mengajarkan sesuatu adalah melalui contoh, memberi
teladan tentu lebih efektif daripada sekedar menasehati.

KELUARGA BESAR

PESAREAN SEZATI            


© 2008 

pesareansezati@yahoo.com 

36