Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Berbagai macam pendekatan dilakukan untuk mendapatkan produk bahan
alam, dalam hal ini obat dari bahan alam yang memilki aktivitas biologis. Tujuan
utama dari pencarian ini adalah untuk mendapatkan tanaman yang akan dikaji
kandungan kimianya secara lebih mendalam. Pada dasarnya ada 2 metode untuk
mendapatkan zat aktif secara bioligis dalam suatu tanaman yaitu dengan mencari
zat aktif (senyawanya) ataupun dengan mencari efek biologis yang ditimbulkan
oleh tumbuhan tersebut.
Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapis
senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk
mendeteksi senyawa tumbuhan berdasarkan golongannya. Sebagai informasi
awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang mempunyai aktivitas biologi
dari suatu tanaman. Informasi yang diperoleh dari pendekatan ini juga dapat
digunakan untuk keperluan sumber bahan yang mempunyai nilai ekonomi
lain seperti sumber tanin, minyak untuk industri, sumber gum, dll. Metode
yang telah dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa
alkaloid,

flavonoid,

senyawa

fenolat,

tannin, saponin, kumarin, quinon,

steroid/terpenoid. (Teyler.V.E,1988).
Salah satu tanaman yang lazim digunakan sebagai obat tradisional adalah
Jati Belanda (Guazumae ulmifolia). Tanaman ini dimanfaatkan antara lain sebagai
pelangsing tubuh, obat sakit perut atau diare, perut kembung, perut nyeri, batuk
rejan dan kaki bengkak gatal berair. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun,
buah dan biji. Kegunaan Jati Belanda sebagai obat tidak lepas dari keberadaan
senyawa-senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap respon hayati.
Senyawa golongan flavonoid merupakan salah satu senyawa yang berperan dalam
respon tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan isolasi senyawa flavonoid
pada daun jati belanda, untuk mengetahui golongan flavonoid apa yang terdapat

pada daun jati belanda dan untuk mengetahui metode isolasi senyawa flavonoid
yang bersumber dari daun jati belanda
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah dari penelitian ini
adalah:
1.2.1. Apakah daun jati belanda mengandung flavonoid?
1.2.2. Jika terdapat kandungan flavonoid pada daun jati belanda, apakah senyawa
flavonoid tersebut?
1.2.3. Apakah metode yang tepat untuk mengisolasi senyawa flavonoid tersebut?
1.3. Tujuan
Tujuan dari proses penelitian ini untuk mengetahui metode isolasi senyawa
flavonoid yang bersumber dari daun jati belanda dan untuk mengetahui golongan
senyawa flavonoid apakah yang terdapat pada daun jati belanda.
1.4. Metode
Metode yang digunakan untuk mengisolasi senyawa flavonoid yang
bersumber dari daun jati belanda yaitu maserasi.
1.5. Hipotesis
Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah pada daun jati belanda
mengandung flavonoid golongan flavonol yaitu tilirosida yang dihitung sebagai
quersetin
1.6. Lokasi dan Waktu
Penelitian di lakukan di Laboratorium Farmakologi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Bakti Tunas Husada Tasikmalaya.
Waktu penelitiaan berlangsung pada saat praktikum mata kuliah Fitokimia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Jati Belanda
Tumbuhan berasal dari Amerika. Morfologi tumbuhan berupa semak atau
pohon, tinggi 10-20 m, percabangan ramping. Bentuk daum bundar telur sampai
lanset, panjang helai daun 4 cm sampai 22,5 cm, lebar 2-10 cm, pangkal

menyerong berbentuk jantung, bagian ujung tajam, permukaan daun bagian atas
berambut jarang, permukaan bagian bawah berambut rapat; panjang tangkai daun
5- 25 mm, mempunyai daun penumpu berbentuk lanset atau berbentuk paku,
panjang 3- 6 mm. Perbungaan berupa mayang, panjang 2- 4 cm, berbunga
banyak, bentuk bunga agak ramping dan berbau wangi; panjang gagang bunga
lebih kurang 5 mm; kelopak bungalebih kurang 3 mm; mahkota bunga berwarna
kuning, panjang 3-4 mm; tajuk terbagi dalam 2 bagian, berwarna ungu tua
kadang-kadang kuning tua, panjang 3-4 mm;bagian bawah terbentuk gsris,
panjang 2- 2,5 mm; tabung benang sari berbentuk mangkuk; bakal buah
berambut, panjang buah 2 cm sampai 3,5 cm. Buah yang telah masak bewarna
hitam (Anonim, 1978).
Tanaman jati belanda (Guazuma ulmifolia L.) mempunyai efek antidiare,
astringen, dan menguruskan badan (Arief, 2005). Infus daun jati belanda
(Guazuma ulmifolia L.) mempunyai khasiat antidiare pada tikus putih yang dibuat
diare dengan menggunakan minyak jarak, semakin tinggi dosis yang diberikan
semakin besar daya antidiarenya. Selain itu daun jati belanda bisa juga digunakan
sebagai antidiare (Sundari dkk, 2001). Bagian dalam kulit batang tanaman jati
belanda (Guazuma ulmifolia L.) dipakai untuk mengobati penyakit cacing dan
kaki gajah. Air rebusan biji yang telah dibakar dan digiling halus sangat berguna
untuk menciutkan urat darah (Sulaksana dan Jayusman, 2005).

Klasifikasi dari Jati Belanda yaitu :

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotylledonae

Ordo

: Malvales

Famili

: Sterculiceae

Genus

: Guazuma

Species

: Guazuma ulmifolia Lamk

2.2.Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman obat. Adapun
tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam
simplisia. Ekstraksi adalah teknik yang sering digunakan bila senyawa organik
(sebagian besar hidrofob) dilarutkan atau didispersikan dalam air. Pelarut yang
tepat (cukup untuk melarutkan senyawa organik; seharusnya tidak hidrofob)
ditambahkan pada fasa larutan dalam airnya, campuran kemudian diaduk dengan
baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. Lapisan organik dan air
akan dapat dipisahkan dengan corong pisah, dan senyawa organik dapat diambil
ulang dari lapisan organik dengan menyingkirkan pelarutnya.
Ekstraksi bermanfaat untuk memisahkan campuran senyawa dengan
berbagai sifat kimia yang berbeda. Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua
komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada
perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan
mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam
pelarut.
Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan: bila suatu zat terlarut
terdistribusi antara dua pelarut yang tidak dapat campur, maka pada suatu
temperatur yang konstan untuk setiap spesi molekul terdapat angka banding
distribusi yang konstan antara kedua pelarut itu, dan angka banding distribusi ini
tidak tergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin ada. Harga angka
banding berubah dengan sifat dasar pelarut, sifat dasar zat terlarut, dan temperatur
(Svehla, 1990).
Ekstraksi dibagi menjadi ekstraksi cara dingin dan cara panas. Ekstraksi
cara dingin terdiri dari maserasi dan perklorasi. Sedangkan ekstraksi cara panas
terdiri dari refluks, soxhletasi dan destilasi uap.
Ekstraksi secara dingin :
4

1. Metode maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada
temperatur kamar dan terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke
dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang
konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari
dengan konsentrasi rendah ( proses difusi ). Peristiwa tersebut berulang sampai
terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari
setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan.
Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung
komonen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung
benzoin, tiraks dan lilin. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya
sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk
mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih
banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur
keras seperti benzoin, tiraks dan lilin.
2. Metode Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi. Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara
serbuk simplisia dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke
dalam bejana silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan
penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari
akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan
jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi, dan berat
cairan di atas dikurangi gaya kapiler yang menahan gerakan ke bawah. Perkolat
yang diperoleh dikumpulkan, lalu dipekatkan. Keuntungan metode ini adalah
tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah
dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau

terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin


selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.
Ekstraksi cara panas :
1. Metode refluks
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke
dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan,
uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekulmolekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan
menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya
berlangsung

secara

berkesinambungan

sampai

penyarian

sempurna,

penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Keuntungan dari metode ini adalah
digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar
dan tahan pemanasan langsung.. Kerugiannya adalah membutuhkan volume
total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator.
2. Metode destilasi uap
Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak
menguap (esensial) dari sampel tanaman. Metode destilasi uap air
diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap
atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada
tekanan udara normal. Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan
air ditempatkan dalam labu berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air
akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap
yang terdapat dalam simplisia, uap air dan minyak menguap yang telah
terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi, lalu akan melewati pipa
alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah,
dan akan memisah antara air dan minyak atsiri.
3. Metode Soxhletasi
Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia
ditempatkan dalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring sedemikian rupa,
cairan penyari dipanaskan dalam labu alas bulat sehingga menguap dan
dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari
yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam simplisia dan jika

cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan akan turun
kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.
Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak
noda jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak yang
diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
2.3.Flavonoid
Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada, senyawa
ini terdiri dari lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan
dalam kandungan tumbuhan.Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin,
dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna
pada bunga yang dihasilkan.Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi
flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia, bakteri tanah yang
bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang
ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan
biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.
Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan
merah dapat ditemukan pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba,
rempah-rempah, serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak
zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang
Amerika bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan
ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati
penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan.
Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak
dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan
pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat
dipandang sebagai fungsi alat komunikasi (molecular messenger) dalam proses
interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses
metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan, baik bersifat negatif
(menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi).

Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan


tersebar luas. Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid,
dengan struktur kimia dan peran biologi yang sangat beragam Senyawa ini
dibentuk dari jalur shikimate dan fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif
biosintesis. Flavonoid banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga),
khususnya tumbuhan berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua
bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga,
buah buni dan biji. Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh
tumbuh-tumbuhan diubah menjadi flavonoid. Flavonoid merupakan turunan fenol
yang memiliki struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan oleh kerangka
15 karbon (C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin
aromatis. Substitusi gugus kimia pada flavonoid umum- nya berupa hidroksilasi,
metoksilasi, metilasi dan glikosilasi. Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di
antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi flavon, flavonon,
isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih dari 6467 senyawa
flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat. Kebanyakan
flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid),
trimer, tetramer, dan polimer. Istilah flavonoid diberikan untuk senyawa-senyawa
fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoida yang
terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai
kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari dari cincin A dan atom karbon
yang terikat pada cincin B dari 1,3 diarilpropana dihubungkan oleh jembatan
oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada
tingkat oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon,
flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga
sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini
disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari
struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya
ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae. Masingmasing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida

mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur flavonoida


mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6.
Cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau
dua pada posisi para dan meta aau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta.
Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa
sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam
senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari
15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana
(C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat
menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida, yaitu :
Beberapa senyawa flavonoida yang ditemukan di alam adalah sebagai
berikut

1. Antosianin
O
+
OH
Anthocyanidin

Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar


luas dalam tumbuhan. Secara kimia antosianin merupakan turunan suatu
struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari
pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus
hidroksil atau dengan metilasi. Antosianin tidak mantap dalam larutan
netral atau basa. Karena itu antosianin harus diekstraksi dari tumbuhan
dengan pelarut yang mengandung asam asetat atau asam hidroklorida
(misalnya metanol yang mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya
harus disimpan di tempat gelap serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin
ialah aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis

dengan asam. Antosianidin terdapat enam jenis secara umum, yaitu :


sianidin, pelargonidin, peonidin, petunidin, malvidin dan delfinidin.
Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk
kelompok flavon. Glikosida antosianidin dikenal sebagai antosianin.
Nama ini berasal dari bahasa Yunani antho-, bunga dan kyanos-, biru.
Senyawa ini tergolong pigmen dan pembentuk warna pada tanaman yang
ditentukan oleh pH dari lingkungannya. Bagian bukan gula dari
glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu tipe garam
flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin, sebagian
bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower dan warna
merah bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin.
Adisi gugus hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna kuning.
Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya
rendah, daun segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus
digerus dengan MeOH. Antosianin secara umum mempunyai stabilitas
yang rendah. Pada pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat
warna antosianin akan berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain
mempengaruhi warna antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya,
dimana dalam suasana asam akan berwarna merah dan suasana basa
berwarna biru. Antosianin lebih stabil dalam suasana asam daripada
dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini juga tidak stabil
dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat kadang
melindungi antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen, asam
askorbat akan menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika
enzim menyerang asam askorbat yang akan menghasilkan hydrogen
peroksida yang mengoksidasi sehingga antosianin mengalami perubahan
warna. Sewaktu pemanasan dalam asam mineral pekat, antosianin pecah
menjadi antosianidin dan gula. Pada pH rendah (asam) pigmen ini
berwarna merah dan pada pH tinggi berubah menjadi violet dan
kemudian menjadi biru. Pada umumnya, zat-zat warna distabilkan
dengan penambahan larutan buffer yang sesuai. Jika zat warna tersebut

10

memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer asetat,


demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus
dilakukan penyesuaian larutan buffer. Warna merah bunga mawar dan
biru pada bunga jagung terdiri dari pigmen yang sama yaitu sianin.
Perbedaannya adalah bila pada bunga mawar pigmennya berupa garam
asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam netral. Konsentrasi
pigmen juga sangat berperan dalam menentukan warna. Pada konsentrasi
yang encer antosianin berwarna biru, sebaliknya pada konsentrasi pekat
berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna ungu. Adanya tanin akan
banyak mengubah warna antosianin. Dalam pengolahan sayur-sayuran
adanya antosianin dan keasaman larutan banyak menentukan warna
produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila air
pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda)
maka warna menjadi kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna
akan mejadi merah terang kembali. Tetapi jarang makanan mempunyai
pH yang sangat tinggi. Dengan ion logam, antosianin membentuk
senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet. Karena itu pada
pengalengan bahan yang mengandung antosianin, kalengnya perlu
mendapat lapisan khusus (lacquer)
2. Flavonol
O
OH
O
Flavonols

Flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat


dalam berbagai bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling
sederhana adalah galangin, 3,5,7 tri-hidroksiflavon; sedangkan yang
paling rumit, hibissetin adalah 3,5,7,8,3,4,5 heptahidroksiflavon.
Bentuk khusus hidroksilasi (C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A)
adalah turunan phloroglusional, dan cincin B adalah 4-atau 3,4-

11

dihidroksi, diperoleh dalam 2 flavonol yang paling lazim yaitu


kaempferol dan quirsetin. Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi
flavon, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai glikosida. Flavonol
kebanyakan terdapat sebagai 3-glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan
flavanon pada umumnya terdistribusi melalui tanaman tinggi tetapi tidak
terdapat

hubungan

khemotakson

yang

jelas.

Genus

Melicope

mengandung melisimpleksin dan ternatin, dan genus citrus mengandung


nobiletin, tangeretin dan 3,4,5,6,7-pentametoksiflavon.
3. Flavonon
HO

O
Flavanons

Jenis flavonoid ini mirip dengan jenis flavonoid flavon tetapi pada
flavanol tidak memiliki ikatan rangkap pada cincin C. Bebepara senyawa
yang termasuk kedalam jenis ini adalah hespertin yang terdapat pada
buah jeruk yang diperoleh dalam bentuk glikosidanya, senyawa ini
merupakan suatu aglikon. Senyawa ini juga memiliki efek sebagai
antioksidan dan anti inflamantory pada tubuh manusia.
4. Flavononol
HO

O
OH
O
Flavononols

Sama halnya dengan flavonoid flavanone, jenis ini mirip dengan flavonol
tetapi dengan struktur dasar flavan yang tidak memiliki ikatan rangkap
pada cincin C.
5. Isoflavons

12

O
Isoflavon

Isoflavon merupakan golongan flavonoida yang jumlahnya sangat


sedikit, dan sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi
warna manapun. Beberapa isoflavon berwarna biru muda bila dilihat
dibawah sinar ultraviolet setelah diberi uap ammonia. Senyawa isoflavon
mempunyai aktivitas sebagai antioksidan yang dapat mengurangi resiko
penyakit kanker, jantung koroner, dan osteoporosis.
Senyawa ini mempunyai aktifitas biologis sebagai penangkap radikal
bebas penyebab kanker karena berkaitan dengan struktur dan gugusgugus yang berikatan pada struktur molekulnya. Adanya gugus OH
ganda, gugus OH pada atom C3 ataupun C5 yang berdekatan dengan
gugus C=O pada struktumya berhubungan terhadap aktifitas biologisnya
6. Khalkon

Chalcon

Polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun


terdistribusinya di alam tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat
mengalami isomerasi menjadi flavanon dalam satuan keseimbangan. Bila
khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer flavanon mngikat 5 gugus hidroksil,
dan stabilisasi mempengaruhi ikatan hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil
maka menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon condong ke arah
flavanon. Hingga khalkon yang terdapat di alam memiliki gugus 2,4hidroksil atau gugus

2-hidroksil-6-glikosilasi.

Beberapa

khalkon

misalnya merein, koreopsin, stillopsin, lanseolin yang terdapat dalam


tanaman, terutama sebagai pigmen daun bunga berwarna kuning,

13

kebanyakan terdapat dalam tanaman Heliantheaetribe, Coreopsidinae


subtribe, dan family Compositea,
7. Flavon
O

O
Flavons

Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau


tergantung pada kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari
cincin A. flavon stabil terhadap asam kuat dan eternya mudah didealkilasi
dengan penambahan HI atau HBr, atau dengan aluminium klorida dalam
pelarut inert. Namun demikian, selama demetilasi tata ulang sering
teramati; oleh pengaruh asam kuat dapat menyebabkan pembukaan
cincin

pada

cara

yang

lain.

Sebagai

contoh

demetilasi

5,8-

dimetoksiflavon dengan HBr dalam asam asetat menghasilkan 5,6


dihidroksiflavon (persamaan 1). Dalam keadaan khusus pembukaan
lanjut dapat terjadi (persamaan 2). Demetilasi gugus 5-metoksi dalam
polimetoksiflavon segera terjadi pada kondisi yang cocok, sehingga 5hidroksi-polimetoksiflavon mudah dibuat.
2.4.Kuersetin
Flavonoid merupakan golongan senyawa yang banyak ditemui dalam
tumbuhan sebagai bahan obat. Salah satu contoh golongan flavonoid adalah
kuersetin yang bersifat sebagai anti tumor. Kuersetin adalah senyawa golongan
flavonol (bagian dari flavonoid) yang banyak terkandung dalam buah-buahan dan
sayuran, misalnya apel, anggur, teh, bawang merah, dan kopi. Kuersetin memiliki
5 gugus -OH bebas yang dapat disubstitusi oleh gugus asil melalui reaksi
esterifikasi. Ester kuersetin dapat diperoleh dengan mereaksikan kuersetin dengan
senyawa golongan asam karboksilat, halida asam karboksilat, dan anhidrida
karboksilat. Senyawa kuersetin propionat dapat disintesis dengan mereaksikan
kuersetin dan anhidrida propionat dengan katalis basa. Penggunaan asam
14

propionat dalam reaksi esterifikasi kuersetin tidak berlangsung karena asam


propionat kurang reaktif dibandingkan dengan anhidrida propionat. Data spektrum
inframerah menunjukkan bahwa senyawa kuersetin propionat telah terbentuk dan
masih menyisakan satu gugus -OH bebas pada kuersetin yang membentuk ikatan
hidrogen. Data spektrum massa menunjukkan bahwa hanya terdapat 4 gugus -OH
kuersetin yang tersubstitusi oleh gugus asil. Data spektrum UV-Vis menunjukkan
bahwa letak gugus -OH bebas kuersetin terletak pada posisi 5. Karakteristik
kuersetin propionat berbentuk Kristal berwarna putih dengan titik lebur 123125C. dibawah ini merupakan struktur kuersetin :

BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu penyiapan simplisia,
skrining fitokimia, ekstraksi, pemantauan ekstrak, fraksinasi, pemantauan fraksi,
subfraksinasi, pemantauan subfraksinasi, pemurnian dengan KLT Preparatif, Uji
Kemurnian dan Karakterisasi.
3.1.Alat Percobaan
Alat yang digunakan pada penelitian ini menggunakan blender, refluks,
Rotary Evaporator, Chamber, Alat-alat gelas yang biasa digunakan di
laboratorium, corong pisah dan Spektrofotometer UV-VIS
3.2.Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu simplisia Daun Jati
Belanda, etanol, metanol, kloroform, etil asetat, serbuk Zn, Amil alkohol, HCl,
Plat Silika gel GF254
15

3.3.Prosedur
3.3.1. Penyiapan sampel
Simplisia daun jati belanda dihaluskan dengan menggunakan blender
hingga terbentuk serbuk kasar.
3.3.2. Skirining Fitokimia
3.3.2.1.
Penapisan Alkaloid
Simplisia dibasakan dengan amoniak encer, digerus dalam mortir lalu
tambahkan 5 mL kloroform dan 3 tetes amoniak. Fraksi kloroform dipisahkan dan
diasamkan dengan 2 tetes H2SO4 2M. Fraksi asam dibagi menjadi 2 tabung lalu
masing-masing ditambahkan pereaksi Dragendorf dan Mayer. Adanya alkaloid
ditandai dengan terbentuknya endapan putih pada pereaksi Mayer dan endapan
kuning pada pereaksi Dragendorf (Fransworth, 1996).
3.3.2.2.
Penapisan Tanin dan Polifenolat
Simplisia digerus lalu tambahkan 5 mL aquadest kemudian didihkan
selama 5 menit lalu saring dan filtratnya tambahkan 5 tetes FeCl 3 1%. Warna biru
tua atau hitam kehijauan yang terbentuk menunjukan adanya polifenolat. Sebagian
kecil filtrat diuji dengan penambahan larutan gelatin 1%. Adanya endapan putih
menunjukan dalam simplisia terdapat tanin (Fransworth, 1996).
3.3.2.3.
Penapisan Flavonoid
Simplisia dipanaskan dengan campuran logam magnesium dan asam
klorida 5 N, lalu saring. Adanya flavonoid akan mnyebabkan filtrat berwarna
merah yang dapat ditarik oleh amil alkohol (Fransworth, 1996).
3.3.2.4.
Penapisan Monoterpenoid dan Seskuiterpenoid
Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan hingga kering.
Pada residu diteteskan dengan reagen vanilin 10% dalam asam sulfat.
Terbentuknya warna-warna menunjukan adanya senyawa monoterpenoid dan
seskuiterpenoid (Fransworth,1996).
3.3.2.5.
Penapisan Steroid dan Triterpenoid
Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan hingga kering.
Pada residu diteteskan dengan reagen Lieberman Burchard. Terbentuknya warna
hijau-biru menunjukan bahwa dalam simplisia mengandung senyawa steroid
(Fransworth,1996).
3.3.2.6.
Penapisan Kuinon

16

Simplisia digerus dan dipanaskan dengan air, lalu disaring. Filtrat ditetesi
dengan larutan NaOH. Terbentuknya warna kuning hingga merah menunjukan
adanya senyawa kelompok kuinon (Fransworth, 1996).
3.3.2.7.
Penapisan Saponin
Diatas tangas air simplisia dicampur dengan air dan dipanaskan beberapa
saat dalam tabung reaksi, kemudian saring. Setelah disaring filtrat dalam tabung
reaksi dikocok kuat-kuat selama lebih kurang 30 detik. Pembentukan busa
sekurang-kurangnya 1 cm tinggi dan persisten selama beberapa menit serta tidak
hilang pada penambahan 1 tetes asam klorida encer menunjukan bahwa dalam
simplisia terdapat saponin.
3.3.3. Ekstraksi
Sebanyak 200 gram serbuk daun jati belanda di maserasi selama 3 x 24 jam
dengan etanol teknis dalam maserator sebanyak 1000 ml, sambil sesekali dikocok.
Ekstrak yang didapatkan lalu

dipekatkan dengan menggunakan Rotary

Evaporator.
3.3.4. Pemantauan Ekstrak
Pemantauan ekstrak dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) dengan parameter sebagai berikut :
Fase gerak

: Kloroform Metanol air (40:10:1)

Fase diam

: Silika gel GF254

Larutan uji

: 5% dalam metanol P

Volume Penotolan

: Totolkan 5 L larutan uji

3.3.5. Fraksinasi
Fraksinasi dilakukan dengan cara Ekstraksi Cair-Cair. Ekstrak pekat etanol
dilarutkan dalam pelarut air, kemudian fraksinasi dengan pelarut n-Heksan dengan
perbandingan 1:1. Fraksinasi dilakukan dengan cara corong pisah, sehingga
diperoleh 2 fraksi, yaitu fraksi n-Heksan dan fraksi air. Kemudian dilanjutkan
dengan fraksinasi antara fraksi air dengan pelarut etil asetat dengan perbandingan
1:1. Sehingga dihasilkan 3 fraksi, yaitu fraksi air, fraksi etil asetat dan fraksi nHeksan.

17

3.3.6. Skrining hasil Fraksinasi dan Pemantauan Fraksi


3.3.6.1.
Skrining Flavonoid
Uji Flavonoid. Sebanyak 1 gram dimasukan dalam gelas kimia kemudian
tambahkan 100 ml air panas lalu didihkan selama 5 menit. Setelah itu filtrat
disaring. Filtrat yang didapatkan dimasukan dalam tabung reaksi. Kemudian
tambahkan serbuk Zn, larutan alkohol : HCl (1:1) dan amil alkohol. Campuran
dikocok kuat-kuat dan diamkan hingga memisah menjadi 2 fasa. Adanya
flavonoid akan menyebabkan filtrat berwarna merah, kuning atau jingga yang
dapat ditarik oleh amil alkohol (Soetarno, 1997).
3.3.6.2.

Pemantauan Fraksi
Pemantauan fraksi dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis

(KLT) dengan parameter sebagai berikut :


Fase gerak

: Kloroform Metanol air (40:10:1)

Fase diam

: Silika gel 60 F254

Larutan uji

: 5% dalam metanol P

Volume Penotolan

: Totolkan 5 L larutan uji

3.3.7. Subfraksinasi
Fraksi etil asetat dikromatografi kolom menggunakan eluen n-heksan
100%, n-heksan dan etil asetat dengan perbandingan 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 1:1, 4:6,
3:7, 2:8, 1:9 dan etil asetat 100 % pada kromatografi kolom. Fraksi etil asetat lalu
dibuat ekstrak kering dengan cara menggerusnya bersama dengan silika gel.
Setelah itu ekstrak kering fraksi etil asetat dimasukan dalam kolom. Sebelum
digunakan Silika gel di aktivasi terlebih dahulu lalu dimasukkan kedalam kolom
yang dasarnya telah diberi kapas. Basahi silika gel dengan eluen yang paling non
polar.
3.3.8. Pemantauan Subfraksinasi
Pemantauan ekstrak dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) dengan parameter sebagai berikut :
Fase gerak

: Kloroform Metanol air (40:10:1)

18

Fase diam

: Silika gel 60 F254

Larutan uji

: 5% dalam metanol P

Volume Penotolan

: Totolkan 5 L larutan uji

3.3.9. Pemurnian subfraksinasi


Pemisahan flavonoid menggunakan KLT preparatif dilakukan pada plat
KLT 5x10 cm, pengembang yang digunakan adalah pengembang terbaik pada
deteksi awal. Dideteksi dengan menggunakan lampu UV 366 nm, bercak dengan
pita ditandai dengan pensil. Bercak yang ditandai dikerok dan dilarutkan dalam
metanol.
3.3.10. Uji Kemurnian
Dilakukan dengan teknik KLT 2 dimensi, pengembangan dilakukan pada
plat KLT 4 x 4 cm. Ekstrak metanol ditotolkan 1 cm dari tepi bawah kanan.
Pengembang pertama yang digunakan adalah pengembang terbaik dari identifikasi
awal, pengembang kedua menggunakan pelarut asam asetat 15%. Plat dielusi pada
posisi 90 dari kondisi mula-mula.
3.3.11. Karakterisasi Senyawa
Isolat relatif murni yang diperoleh kemudian dianalisis dengan Instrumen
spektroskopi yaitu UV-Vis. Data-data yang diperoleh berupa spektrum selanjutnya
diinterpretasi untuk memperoleh data spektroskopi senyawa yang digunakan
untuk menentukan karakter dari senyawa yang terdapat dalam fraksi etil asetat
dari Daun Jati Belanda.

19

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Skrining Fitokimia
Skrining

fitokimia

merupakan

pemeriksaan

pendahuluan

untuk

mengetahui adanya kandungan metabolit sekunder dari suatu simplisia. Pada


skrining fitokimia digunakan simplisia daun jati belanda. Berdasarkan hasil
skirining fitokimia menunjukan metabolit sekunder yang terkandung dalam
simplisia daun jati belanda flavonoid, monoterpen dan seskuiterpen, triterpenoid,
dan polifenol.
Tabel 4.1. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Jati Belanda
Pengujian
Alkaloid
Flavonoid
Polifenol
Tanin
Monoterpen dan Seskuiterpen
Steroid dan Triterpenoid
Saponin
Kuinon

Hasil
+
+
+
-

Keterangan
Tidak terbentuk endapan
Terbentuk warna merah
Terbentuk warna biru kehitaman
Tidak terbentuk endapan
Terbentuk warna ungu
Terbentuk warna ungu (Terpenoid)
Terbentuk busa namun tidak persisten
Tidak terbentuk endapan merah

Uji yang pertama dilakukan adalah uji penapisan alkaloid. Di alam,


alkaloid berikatan dengan asam organik sehingga membentuk garam. Maka dari
itu, ditambahkan amoniak pada saat penggerusan yang bertujuan untuk
membebaskan alkaloid dalam bentuk garam menjadi basa bebas yang mudah larut
dalam kloroform. Penggerusan dilakukan untuk merusak dinding sel simplisia
agar alkaloid dapat keluar. Penambahan kloroform bertujuan untuk menarik
alkaloid basa. HCl ditambahkan untuk menggaramkan kembali alkaloid basa yang
sudah di tarik oleh kloroform menjadi alkaloid HCl. Filtrat yang didapatkan lalu
20

diuji dengan pereaksi Dragendorf, Mayer dan Wagner. Pada ketiga pereaksi ini,
semuanya sama-sama menghasilkan senyawa kompleks antara Kalium dengan
alkaloid, dimana hasil samping yang terbentuk memberikan warna endapan yang
berbeda-beda. Berikut ini persamaan reaksi nya

Gambar 1.1 Reaksi antara Alkaloid dengan pereaksi Mayer

Gambar 1.2 Reaksi antara Alkaloid dengan pereaksi Dragendorf

Gambar 1.3 Reaksi antara Alkaloid dengan pereaksi Mayer


Namun hasil dari pemeriksaan alkaloid menunjukan bahwa pada daun jati
belanda tidak mengandung alkaloid.
Pada penapisan senyawa saponin, didapatkan hasil pada daun jati belanda
tidak mengandung saponin. Saat dikocok, terbentuk busa namun busa yang
terbentuk tersebut sedikit dan cepat sekali menghilang.
Pada penapisan senyawa flavonoid, ditambahkan serbuk Mg dan HCl.
eaksi didasarkan pada reduksi gugus karbonil pada lingkar -lakton menjadi
alkohol yang berwarna-warna (garam flavilium) tergantung gugus fungsi pada
lingkar A atau B. Serbuk Mg dan HCl berfungsi sebagai agen pereduksi untuk
mereduksi ikatan antara glikon dengan flavonoid. Flavonoid yang sudah terlepas

21

dari glikonnya, kemudian ditarik oleh amil alkohol sehingga terjadi perubahan
warna pada amil alkohol dari bening menjadi merah jingga. Hal ini menunjukan
bahwa flavonoid sudah tertarik dalam amil alkohol. Berikut ini persamaan
reaksinya :

Hasil pemeriksaan flanoid menunjukan bahwa pada simplisia daun jati


belanda mengandung flavonoid.
Pada penapisan senyawa polifenol menujukan reaksi positif dimana
terbentuk warna biru kehitaman. Reaksi yang terjadi adalah pembentukan
senyawa kompleks antara ion Fe3+ dengan polifenol. Polifenol yang banyak
mengandung gugus fenol akan membentuk garam fenolat dengan ion Fe3+ yang
membentuk warna warna. Berikut ini persamaan reaksinya :

Pada penapisan tanin, daun jati belanda tidak memberikan reaksi positif
karena pada saat direaksikan dengan gelatin tidak terbentuk endapan putih.
Dimana tanin memiliki ciri khas bisa mengendapakan makromolekul seperti

22

gelatin. Gelatin merupakan makromolekul karena terdiri dari banyak asam amino
sebagai monomernya.
Pada penapisan kuinon, daun jati belanda tidak menunjukan reaksi positif
karena tidak terbentuk warna merah pada saat penambahan NaOH.
Pada penapisan terpenoid dan steroid, daun jati belanda menunjukan reaksi
positif dimana terbentuk warna ungu setelah ditambahkan pereaksi LiebermanBurchard. Pereaksi ini biasa digunakan untuk membedakan senyawa steroid dan
triterpenoid. Penggunaan eter sebagai penyari adalah untuk melarutkan terpenoid
yang terkandung dalam daun jati belanda karena terpenoid dan steroid tersebut
bersifat non polar sehingga akan lebih larut dalam pelarut non polar. Penambahan
asam asetat anhidrat akan bereaksi dengan steroid melalui reaksi asetilasi
menghasilkan kompleks asetil steroid. Penambahan asam sulfat pekat bertujuan
untuk mendekstruksi kompleks asetil steroid. Asam sulfat pekat lebih bersifat
reaktif jika bereaksi dengan steroid dibandingkan dengan asam asetat. Hal ini
dikarenakan kemampuan asam sulfat yang lebih mudah masuk mengatasi efek
sterik yang besar dari molekul steroid sehingga senyawa kompleks yang
dihasilkan lebih stabil dari kompleks asetil steroid. Terbentuknya warna ungu
menunjukan bahwa didalam daun jati belanda mengandung terpenoid.
Pada penapisan monoterpenoid dan seskuiterpenoid, daun jati belanda
menunjukan reaksi positif saat ditambahkan perekasi Vanilin-Sulfat. Penggunaan
eter sebagai penyari adalah untuk melarutkan seskuiterpenoid atau monoterpenoid
yang terkandung dalam daun jati belanda karena senyawa tersebut bersifat non
polar sehingg akan lebih larut dalam pelarut non polar. Kedua senyawa ini
merupakan unsur penyusun minyak atsiri. Reaksi nya didasarkan pada
kemampuannya membentuk warna-warna dengan pereaksi vanilin sulfat.
Terbentuknya warna ungu menunjukan bahwa didalam daun jati belanda
mengandung monoterpenoid dan seskuiterpenoid.

4.2.

Ekstraksi Cair Padat

23

Pada percobaan ini dilakukan ekstraksi padat cair pada senyawa bahan
alam terhadap daun jati belanda dengan menggunakan ekstraksi cair padat
dimana senyawa senyawa pada daun jati belanda akan dipartisi. Ekstraksi cair
padat itu sendiri adalah transfer difusi komponen terlarut dalam padatan inert
kedalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena
komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi kedalam semula tanpa mengalami
perubahan kimiawi. Dilakukan dengan menggunakan tekhnik maserasi, yaitu
suatu tekhnik ekstraksi dingin dengan cara merendam sampel bahan alam dengan
cara merendam pelarut yang sesuai.
Hal pertama yang dilakukan yaitu menimbang simplisisa daun jati belanda
sebanyak 200 gram dan selanjutnya dimaserasi atau direndam dengan
menggunakan pelarut etanol. Fungsi dari penambahan pelarut etanol tersebut
adalah karena pelarut ini bersifat melarutkan senyawa senyawa mulai dari
kurang polar sampai dengan polar dan juga karena pelarut etanol adalah pelarut
yang paling sempurna dalam melarutkan metabolit sekunder yang ada pada
sampel daun jati belanda.
Penambahan etanol sebanyak 1 liter selanjutnya dimaserasi atau direndam
selama 3 x 24 jam. Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk memperoleh hasil yang
lebih maksimal selain itu juga untuk memastikan bahwa senyawa senyawa yang
terdapat pada simplisia memiliki kepolaran sama dengan pelarut akan optimal
terlarut oleh pelarut dan tujuan dari perendaman sampel daun jati belanda tersebut
agar semua senyawa metabolit sekunder dapat larut dalam pelarut etanol.
Selanjutnya menyaring hasil rendaman sampel tersebut dengan menggunakan kain
kasa agar endapan yang ada pada sampel daun jati belanda tidak ikut kedalam
ekstrak cair daun jati belanda yang disaring setelah didapatkan ekstrak daun jati
belanda yang cair atau ekstrak yang pekat maka dilanjutkan dengan evavorasi
yang berfungsi untuk menguapkan sehingga akan terpisah antara pelarut etanil
yang digunakan pada ekstrak daun jati belanda yang diperoleh.
Evaporator adalah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau
keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap.
Prinsip dari evaporator adalah proses pemisahan ekstrak dari cairan penyaringnya.

24

Pada saat simplisisa daun jati belanda yang telah dipekatkan dari hasdil ekstraksi
dimana pada proses penguapan untuk memisahkan pelarut dengan hasil
ekstraknya. Dimana penguapan terjadi karena adanya pemanasan yang dipercepat
oleh putaran dari labu alads bulat yang dibantu dengan penurunan tekanan dengan
bantuan pompa vakum , uap larutan penyaring akan naik ke kondensor dan
mengalami kondensasi menjadi molekul molekul cairan pelarut murni yang
ditampung dalam labu alas bulat penampung. Proses penguapan ini dilakukan
hingga diperoleh ekstrak kental yang ditandai dengan terbentuknya gelembunggelembung udara yang pecah pada permukaan ekstrak. Pelarut etanol dalam labu
penampung dapat digunakan kembali karena telah murni dengan evaporasi.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan rendemen ekstrak untuk menetapkan
rendemen ekstrak, rendemen itu sendiri adalah perbandingan antara ekstrak yang
diperoleh dengan simplisia awal. Sejumlah tertentu ekstrak kental dalam cawan
penguap ditimbang kemudian diuapkan diatas penangas air dengan temperature
40C- 50C sampai bobot tetap. Selanjutnya setelah diperoleh ekstrak yang pekat
kemudian disimpan pada cawan petri dan dilakukan penimbangan.
Tabel 4.2. Pengamatan Ekstraksi Cair-Padat
Berat simplisia
Volume ekstrak yang diperoleh
Berat ekstrak kental
Rendemen
Berat piknometer kosong
Berat piknometer + air
Berat air
Kerapatan air
Berat piknometer + ekstrak
Berat ekstrak
Kerapatan ekstrak

200 gram
2200 ml
14,6006 gram
7,3 %
11,5245 gram
21,4514 gram
9,9269 gram
0,998 g/ml
19,8970 gram
8,3725 gram
0,8414 g/ml

Dari hasil diatas diperoleh rendemen yaitu 7,3 %. Hasil ini sangatlah kecil
jauh dari dari hasil yang diharapakan. Semakin lama waktu ekstrak dan semakin
halus ekstraknya maka semakin banyak pula rendemen yang didapatkan. Semakin
besar perbandingan bahan baku pelarut yang digunakan, maka semakin banyak

25

ekstrak kasar yang yang didapat. Untuk mendapatkan ekstrak yang lebih banyak
harus dilakukan ekstraksi yang lebih lama.
Selanjutnya dilakukan parameter ekstrak cair dengan pola dinamolisis,
proses dinamolisis dilakukan untuk memberikan gambaran secara kualitatif dari
kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak karena masing masing ekstrak
memiliki pola dinamolisis yang berbeda. Uji dinamolisis dilakukan dengan cara
ekstrak dilarutkan dengan sebanyak 50 ml dengan etanol dan 10 ml dituangkan
kedalam cawan petri kemudian ditutup dengan kertas saring whatman yang
dilubangi pada bagian tengahnya bersumbu vertical bertujuan untuk sumbu yang
terbuat dari kertas saring dapat menempel pada cawan petri yang berisis ekstrak
cair dan dibiarkan terjadi proses difusi selama 10 menit sampai dihasilkan noda
pada kertas saring lalu diamati polanya. Berdasarkan hasil percobaan pola yang
dimiliki oleh daun jati belanda menunjukan pola lingkaran dimana dari kertas
saring diukur diamtere yang diperoleh menghasilkan diameter 3,5 cm.
4.3.

Pemantauan Ekstrak
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk pemantauan hasil ekstraksi yang

telah dilakukan. Pemantauan ekstrak yang dilakukan yaitu dengan cara metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan bentuk kromatrografi planar.
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu metode pemisahan campuran analit
dengan mengelusinya melalui fase diam yang datar pada plat penyangga. Dalam
KLT, fase gerak ini berupa cairan. Pemisahan akan terjadi jika salah satu
komponen dari campuran diadsorpsi lebih kuat dari komponen yang lainnya.
Karena adsorpsi merupakan fenomena permukaan, maka derajat pemisahan
dipengaruhi oleh luas permukaan yang ada atau secara tidak langsung dipengaruhi
oleh ukuran partikel fase diam (adsorben) Walaupun demikian koefisien
distribusi/partisi senyawa antara kedua fase dalam sistem merupakan faktor kunci
setiap bentuk kromatogram.
Dalam percobaan ini, fase diam yang digunakan adalah silica gel GF 254
nm. Sedangkan, fase geraknya berupa campuran dari kloroform : methanol : air
dengan perbandingan 40 : 10 : 1. Fase gerak ini bersifat non polar karena adanya

26

penambahan kloroform (non polar) yang lebih banyak dibandingkan methanol


(semipolar) dan air (polar). Penggunaan pelarut campuran yang bersifat non polar
diharapkan agar proses pengelusian tidak berlangsung cepat ataupun tidak
berlangsung lambat. Proses pengelusian yang terlalu cepat ataupun lambat juga
tidak baik untuk hasil pemisahan nantinya. Eluen di kocok dalam chamber,
tujuannya untuk menghomogenkan antar pelarut karena eluen yang digunakan
adalah eluen campuran.
Sebelum digunakan, dilakukan aktivasi plat KLT dengan cara dikeringkan
pada oven dengan suhu 1200C selama 30 menit. Aktivasi ini bertujuan untuk
menghilangkan sisa air yang terdapat fase diam dan juga untuk memindahkan
pengotor agar berada pada ujung plat KLT sehingga tidak mengganggu proses
pemisahan. Digunakan suhu 1200C dikarenakan air memiliki titik didih 1000C,
sehingga dengan cepat air dapat menguap. Setelah aktivasi selesai kemudian
dilakukan penjenuhan chamber. Penjenuhan chamber berfungsi untuk meratakan
tekanan uap eluen dalam chamber sehingga jumlah lempeng teoritis meningkat
dan pengelusian dapat seragam kecepatannya dan untuk mengoptimalkan proses
pengembangan fase gerak. Penjenuhan chamber dilakukan dengan menambahkan
fase geraknya yaitu kloroform : methanol : air ke dalam chamber dan meletakkan
kertas saring pada chamber. Penambahan kertas saring berfungsi agar penguapan
yang terjadi dalam chamber merata sehingga udara di dalam chamber tetap jenuh
pelarut. Selama proses penjenuhan, chamber harus ditutup dengan baik, kemudian
didiamkan selama 30 menit dan dijaga agar tidak mengalami pergeseran untuk
mencegah terjadinya ketidakjenuhan pelarut. Waktu penjenuhan chamber harus
diperhatikan agar chamber tidak lewat jenuh yang dapat memperlambat proses
elusi dan menghasilkan pemisahan yang kurang baik.
Setelah itu dilakukan penotolan sampel pada plat KLT dengan pipa kapiler.
Sampel yang ditotolkan harus memiliki ukuran bercak sekecil dan sesempit
mungkin karena jika sampel yang digunakan terlalu banyak akan menurunkan
resolusi. Selain itu, penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak
yang menyebar ke puncak ganda. Setelah dilakukan penotolan sampel, plat yang
telah ditotolkan lalu dielusikan pada chamber yang telah dijenuhkan. Volume fase

27

gerak dibuat sedikit mungkin namun dapat mengelusi lempeng sampai pada batas
jarak pengembangan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kontaminasi dari
kontaminan selama proses elusi/pengembangan. Volume fase gerak ini sekitar 5
ml. Setelah proses pengelusian plat selesai, plat dikeringkan. Untuk memperoleh
reprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan paling sedikit 0,5 l. Jika volume
sampel yang akan ditotolkan lebih besar dari 2-10 l maka penotolan harus
dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antar totolan. Ada
beberapa

teknik

untuk

melakukan

pengembangan

dalam

KLT

yaitu

pengembangan menaik (ascending), pengembangan menurun (descending),


melingkar, dan mendatar. Meskipun demikian, cara pengembangan menaik
merupakan cara yang paling populer dibandingkan dengan cara yang lain.
Parameter migrasi analitik pada KLT dinyatakan dengan Rf (waktu
tambat). Rf (waktu tambat) adalah waktu yang diperlukan untuk mengelusi
maksimum suatu sampel dihitung dari titik awal penotolan. Oleh karena itu
bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1. Waktu tambat dapat dihitung dengan rumus:
Rf = jarak yang ditempuh senyawa/ jarak yang ditempuh pelarut
Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Pemantauan Ekstrak
Plat 1
Bercak
1
2
3

Jarak Bercak (cm)


6,0
6,7
7,7

Nilai Rf
0,75
0,83
0,93

Plat 2
Bercak
1
2
3

Jarak Bercak (cm)


5,8
6,5
7,6

Nilai Rf
0,72
0,81
0,95

Adanya 3 spot yang dihasilkan menandakan bahwa pada ekstrak yang


diperoleh mengandung senyawa-senyawa lain selain flavonoid.

28

Deteksi bercak pada KLT dapat dilakukan secara kimia dan fisika. Cara
kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu
pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Penampak
bercak yang digunakan yaitu dengan pereaksi umum H 2SO4. Semua senyawa
organik, akan terjadi pengarangan. Menyemprot lempeng KLT dengan reagen
kromogenik yang akan bereaksi secara kimia dengan solute yang mengandung
gugus fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna. Kadang-kadang
dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan
intensitas warna bercak. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat lalu
dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut organik yang akan nampak sebagai
bercak hitam sampai kecoklat-coklatan. Cara fisika yang dapat digunakan untuk
menampakkan bercak adalah dengan cara fluorosensi sinar ultraviolet. Fluorosensi
sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat berfluorosensi, membuat
bercak akan terlihat jelas. Pada panjang gelombang 254 nm senyawa yang
berflouresensi adalah plat atau silica gel tersebut karena sesuai dengan silica yang
digunakan yaitu silica gel GF 254 artinya senyawa ini berflouresensi pada panjang
gelombang 254. Sedangkan panjang gelombang 366 nm senyawa yang
berflouresensi adalah analit itu sendiri.
4.4.

Ekstraksi Cair-cair (Fraksinasi)


Ekstraksi cair-cair atau fraksinasi bertujuan untuk memisahkan analit yang

dituju dari penganggu dengan cara melakukan partisi sampel antar 2 pelarut yang
tidak saling campur. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan ditemukan di
dalam fase air, sementara senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik/ non polar
akan masuk pada pelarut organik, dan senyawa-senyawa yang bersifat semipolar
akan larut kedalam pelarut semipolar.
Prinsip dari proses partisi yaitu digunakannya dua pelarut yang tidak
saling bercampur untuk melarutkan zat-zat yang ada dalam ekstrak. Ekstrak yang
digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak daun jati belanda. Pelarut yang
digunakan yaitu pelarut yang bersifat polar, semipolar dan nonpolar. Pada
pengerjaan awal, partisi dilakukan dengan menggunakan pelarut polar dan non

29

polar (n-heksan), kemudian pelarut polar dengan semipolar. Sesekali membuka


keran corong pisah untuk mengeluarkan udara dari hasil pengocokan. Dipisahkan
hingga terlihat adanya dua lapisan, dimana lapisan atas adalah lapisan n-heksan,
sedangkan lapisan bawah adalah lapisan air. Hal ini disebabkan karena air
memiliki massa jenis yang lebih besar daripada n-heksan.
Selanjutnya untuk lapisan ekstrak n-heksan ditampung dan diuapkan
sehingga di dapatkan ekstrak kering atau ekstrak kental. Sedangkan untuk lapisan
air, setelah dipartisi dengan menggunakan n-heksan, kemudian dilanjutkan dengan
menggunakan pelarut etil asetat, dengan melakukan proses yang sama dengan
seperti prosedur dengan n-heksan. Penggunaan air pada partisi cair yaitu sebagai
pelarut polar, etil asetat sebagai pelarut semipolar dan n-heksan digunakan sebagai
pelarut non polar.
Pada proses ecc ini akan didapatkan 2 fase yaitu fase diluen (rafinat) dan
fase solven (ekstraktan). Fase rafinat berisi residua tau sisa solute, sedangkan pada
fase ekstraktan berisi solute dan solven. Pemisahan zat-zat terlarut antara dua
pelarut yang tidak saling campur antara lain menggunakan corong pisah. Untuk
memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong
dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang
dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian
dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong
ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung. Penyumbat
dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan
mengontrol keran corong.
Pada

saat

pencampuran

terjadi

perpindahan

masa

yaitu

solute

meninggalkan pelarut yang pertama (rafinat) dan masuk ke dalam pelarut kedua
(ekstraktan). Sampel akan terpratisi/ terdistribusi ke dalam kedua pelarut
berdasarkan kepolarannya. Perbedaan konsentrasi solute diantara kedua pelarut
merupakan pendorong terjadinya ekstraksi.
Setelah didapat fraksi air, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan dilakukan
pemekatan dari masing-masing fraksi dengan menggunakan rotary evaporator
kecuali fraksi air karena titik didihnya yang tinggi dan sulit menguap. Maka dari

30

itu untuk fraksi air dipekatkan diatas penangas air. Dari semua fraksi akan di dapat
ekstrak kental dan dihitung rendemannya. Dari hasil pengamatan didapat
rendemennya yaitu fraksi air 36,6%, fraksi etil asetat 13,72%, fraksi n-heksan
19,42%.
Tabel 4.4. Hasil Pengamatan Ekstraksi Cair-Cair
Berat ekstrak
Berat fraksi n-heksan
Berat fraksi etil asetat
Berat fraksi air
Rendemen fraksi n-heksan
Rendemen fraksi etil asetat
Rendemen fraksi air

4.5.

5 gram
0,9712 gram
0,6859 gram
1,83 gram
19,42%
13,72%
36,6%

Skrining Fitokimia Senyawa Target dan Pemantauan Fraksinasi


Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Skrining fitokimia senyawa target dan pemantauan fraksi menggunakan

metode kromatografi lapis tipis yang bertujuan ingin memantau fraksi dengan
didapat harga Rf senyawa yang dibandingkan dengan Rf secara teorinya.
Praktikum sebelumnya mengenai fraksinasi menggunakan pelarut yang berbeda
kepolaran yaitu fraksi polar (air), fraksi semipolar (etil asetat) dan fraksi non polar
(n-heksan) menghasilkan fraksi yang kental karena telah diuapkan pelarutnya.
Fungsi skrining fitokimia kali ini adalah mencari senyawa target (flavonoid)
diantara ketiga fraksi tersebut. Sehingga pada tahap ini kita bisa mengetahui
golongan senyawa target (flavonoid) yang terkandung dalam tumbuhan yang
sedang kita uji/teliti terdapat pada fraksi yang mana. Selain itu bisa menentukan
metode yang akan digunakan selanjutnya

dalam mengisolasi senyawa dalam

tumbuhan. Senyawa flavonoid di dapat hasil positif (+) pada fraksi etil asetat.
Dari hasil pengamatan didapat bahwa bercak dari sampel ekstrak daun jati
belanda ini terdapat pada fraksi etil asetat dan n-heksan sedangkan pada fraksi air
tidak ditemukan bercak. Hal ini dapat terjadi karena senyawa target tidak larut
pada pelarut polar yaitu air dan selain itu juga, senyawa yang bersifat polar tidak

31

dapat terelusi karena senyawa terjerap di fase diam yang bersifat polar, sehingga
tidak dapat naik mengikuti fase gerak yang bersifat non polar.
Tabel 4.5. Hasil Pengamatan Skrining Fitokimia Senyawa Target Dan
Pemantauan Fraksinasi Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Skrining Fitokimia Senyawa Target (Flavonoid)
Pengujian
Hasil
Keterangan
Flavonoid
+
Terbentuk warna merah
Pemantauan Fraksinasi
Fraksi
Bercak
Jarak Bercak
Nilai Rf
Etil asetat
n-heksan

4.6.

1
2
3
1
2
3

(cm)
4,9
5,8
7,7
2,9
3,9
7,8

0,61
0,72
0,96
0,36
0,49
0,97

Kromatografi Kolom dan Pemekatan


Subfraksinasi ini bertujuan untuk memisahkan senyawa yang tidak

dikehendaki semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada senyawa berkhasiat


yang diinginkan sehingga diperoleh sekstrak yang murni. Subfraksinasi dilakukan
dengan kromatografi kolom.
Tahap pertama yang dilakukan pada subfraksinasi ini adalah penyiapan
kolom. Penyiapan kolom dilakukan aktivasi silika gel sebelum dimasukan dalam
kolom dan juga memasukan glass wool dan pasir pantai kedalam kolom. Tujuan
dari penambahan glass wool dan pasir pantai yaitu untuk menyaring senyawa
yang sudah terpisah dan sebagai pencegah terjadinya penyumbatan. Selanjutnya
masukan silika gel yang sudah di aktivasi ke dalam kolom semampat mungkin
agar tidak terdapat udara lagi dalam kolom tersebut. Adanya udara dalam kolom
dapat menyebabkan terjadi breaking atau pecahnya silika gel saat proses elusi.

32

Setelah dimasukan silika gel dalam kolom, basahi silika gel dengan eluen
yang paling non polar yaitu n-hexan. Tujuannya agar pada saat proses elusi
berlangsung, eluen yang paling non polar hanya akan mengelusi senyawa yang
paling non polar. Dikhawatirkan dengan menggunakan eluen yang lebih polar saat
membasahi silika gel, dapat mempengaruhi proses elusi sehingga tidak terjadi
pemisahan.
Lalu dilakukan proses subfraksinasi dengan elusi gradien. Dimana eluen
yang digunakan memiliki kepolaran yang bertingkat. Digunakan eluen n-hexan
100% , n-hexan : etil asetat dengan perbandingan 9:1 , 8:2 , 7:3 , 6:4 , 1:1 , 4:6 ,
7:3 , 8:2 , dan 9:1 , Pada saat proses elusi berlangsung, akan terbentuk pita-pita
yang berasal dari senyawa-senyawa yang sudah terpisah. Tampung warna-warna
tersebut ke dalam vial-vial yang berbeda.
Setelah warna-warna tersebut ditampung, didapatkan efluat dengan
berbagai warna yaitu dari mulai tidak berwarna, kuning, hijau muda hingga hijau
pekat. Hal ini menunjukan bahwa telah terjadi pemisahan senyawa yang ditandai
dengan banyaknya pita yang terbentuk lalu ditampung. Berikut ini merupakan
tabel hasil subfraksinasi :
Tabel 4.6. Hasil Subfraksinasi
ELUEN
N-HEXAN
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
4.7.

ETIL ASETAT
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

WARNA EFLUAT
Bening
Bening
Kuning muda
Hijau muda
Hijau pekat
Hijau pekat
Hijau pekat
Hijau pekat
Hijau pekat
Hijau pekat

Pemantauan Fraksi
Praktikum kali ini mengenai pemantauan subfraksinasi senyawa target

(Flavonoid) dengan metode KLT. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan


33

suatu metode pemisahan suatu senyawa berdasarkan adsorpsi desorpsi yang


terjadi terus menerus selama pemisahan kromatografi sehingga keadaannya
seimbang.
Fase gerak yang digunakan adalah kloroform : methanol : air dengan
perbandingan 40 : 10 : 1. Eluen yang digunakan dihomogenkan dan dijenuhkan
dalam chamber yang akan digunakan. Setelah proses elusi selesai, plat KLT dilihat
dibawah sinar UV untuk memastikan atau melihat sampel yang terelusi.
Dilakukan penyemprotan dengan penampak bercak universal yaitu H2SO4 dalam
metanol. H2SO4 ini dikatakan sebagai penampak bercak universal karena dapat
bereaksi dengan semua senyawa organik.
Berdasarkan hasil pengamatan fraksi yang mengahasilkan bercak yaitu
pada fraksi n-hexan:etil asetat dengan perbandingan 6:4, 5:5, 4:6, 3:7, 2:8, 1:9.
Dari setiap fraksi tersebut terdapat beberapa bercak yang tentunya memiliki nilai
Rf yang berbeda atau bervariasi. Hal ini menyatakan terdapat beberapa senyawa
yang terelusi. Berdasarkan literatur, senyawa metabolit sekunder atau senyawa
target (flavonoid) jika dilihat dibawah sinar UV 366 nm berwarna hijau serta
memiliki nilai Rf 0,7 cm. Hal ini sesuai dengan hasil percobaan yaitu terlihat
bercak warna hijau yang diduga sebagai senyawa flavonoid serta memiliki nilai Rf
0,7 cm yang terdapat pada fraksi n-hexan:etil asetat.
Tabel 4.7. Hasil Pengamatan Nilai Rf Pemantauan Fraksi
8:2
-

7:3
-

Fraksi (n-heksan : etil asetat)


6:4
5:5
4:6
3:7
0,79
0,79
0,58
0,21
0,91
0.84
0,62
0,42
0,97
0,87
0,64
0,52
0,9
0,69
0,58
0,94
0,73
0,6
0,77
0,71
0,84
0,77
0,89
0,84
0,93
0,93

34

2:8
0,21
0,44
0,52
0,57
0,61
0,69
0,77
0,84
0,93

1:9
0,23
0,48
0,57
0,63
0,67
0,79
0,85
-

4.8.

Kromatografi Lapis Tipis Preparative (KLTP)


Pada Kromatografi Lapis Tipis Preparatif, fase diam yang digunakan lebih

tebal dibanding dengan KLT dengan tujuan agar senyawa yang terjerap pada fase
diam lebih banyak sehingga senyawa target yang didapatpun lebih banyak.
Berdasarkan sampel yang diperoleh pada praktikum pemantauan ekstrak
yang menyatakan bahwa senyawa target terdapat pada fraksi n-hexan:etil asetat
dengan perbandingan 4:6, 3:7, dan 2:8 sehingga semua perbandingan fraksi
tersebut disatukan dan diuji kembali pada praktikum ini (KLT Preparatif) untuk
memisahkan atau mengambil senyawa target yang tunggal, yaitu senyawa
flavonoid dengan nilai Rf 0,7 cm atau yang mendekatinya.
Sampel yang ditotolkan pada plat KLTP berbeda dengan pada proses KLT.
Pada KLTP, sampel ditotolkan menyerupai garis horizontal sehingga spot yang
dihasilkan menyerupai pita juga sampel atau senyawa target yang dihasilkan lebih
banyak.
Berdasarkan hasil praktikum, setelah selesai proses elusi, plat dilihat
dibawah sinar UV-254 nm dan UV-366 nm. Hasil yang diperoleh terlihat banyak
spot yang menyatakan bahwa terdapat beberapa seyawa yang terelusi. Untuk
mengetahui senyawa target (flavonoid) dilakukan pengukuran dan perhitungan
nilai Rf. Nilai Rf untuk senyawa flavonoid adalah 0,7 cm dan spot yang
mendekati nilai Rf tersebut adalah 0,69 cm, sehingga spot tersebut dikerok dan
dilarutkan dalam kloroform:metanol:air yang selanjutnya disentrifuge. Tujuan
dilakukannya proses sentrifuge adalah untuk memisahkansilika gel dari pelarut
yang digunakan sehingga dalam pelarut tersebut hanya mengandung senyawa
target yang akan diuji pada proses pemurnian.
Tabel 4.8. Hasil Pengamatan Nilai Rf KLTP
Bercak
1
2
3
4
5
6

Jarak tempuh (cm)


5,5
5,9
6,1
6,6
6,9
7,1

35

Nilai Rf
0,69
0,73
0,76
0,82
0,85
0,89

4.9.

7,4

0,92

Uji Kemurnian (KLT 2 Dimensi)


Tujuan praktikum kali ini adalah untuk menguji kemurnian dari sampel,

metode yang digunakan adalah klt 2 dimensi yang tujuannya untuk meningkatkan
resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimia
yang hampir sama, karenanya nilai Rf juga hampir sama. Selain itu, 2 sistem fase
gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campuran
tertentu sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang
mempunyai tingkat polaritas yang berbeda. Salah satu aplikasi untuk mengetahui
kemurnian senyawa hasil isolat dengan metode ini yaitu dengan mengelusi noda
pada 2 arah yang berbeda dan menggunakan eluen yang berbeda, isolat dikatakan
murni apabila noda yang dinampakkan adalah tunggal.
Sampel dari hasil KLTP yang telah dikerok dilarutkan ke dalam sedikit etil
asetat kemudian dikocok agar homogen. Setelah itu di sentrifuge. Sentrifugasi
adalah metode sedimentasi untuk memisahkan partikel-partikel dari suatu fluida
berdasarkan berat jenisnya dengan memberikan gaya sentripetal. Senyawa target
yaitu flavonoid akan larut dalam etil asetat sedangkan silica gel akan mengendap
karena tidak larut dalam etil asetat. Kemudian dilakukan dekantasi. Prinsip
dekantasi adalah perbedaan wujud zat dalam campuran, yaitu antara zat padat dan
zat cair sehingga dengan menggunakan teknik dekantasi, cairan dapat terpisah dari
campurannya.
Langkah yang dilakukan pada proses klt 2 dimensi, sampel ditotolkan
pada tepi kanan atau kiri lempeng lalu dikembangkan dengan satu sistem fase
gerak sehingga campuran terpisah menurut jalur yang sejajar dengan salah satu
sisi. Lempeng diangkat dan dikeringkan. Elusi dilakukan satu kali karena noda
atau bercak yang dihasilkan sudah murni atau bercaknya hanya ada satu.
Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah
dengan pencacahan radioaktif dan fluoresensi sinar ultraviolet yang dipasang
panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk menampakkan solut sebagai bercak

36

yang gelap atau bercak yang berfluoresensi terang pada dasar yang berfluoresensi
seragam. Fluoresensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat
berfluoresensi maka bercak akan terlihat jelas. Jika senyawa tidak dapat
berfluoresensi maka bahan penyerapnya akan diberi indikator yang berfluoresensi,
dengan demikian bercak akan kelihatan hitam sedang latar belakangnya akan
kelihatan berfluoresensi.

Tabel 4.9 Hasil Pengamatan Nilai Rf KLT 2 Dimensi


Bercak
1

Jarak Bercak (cm)


2,1

Nilai Rf
0,7

4.10. Uji Karakterisasi


Daun jati belanda diketahui memiliki flavonoid kuersetin sebagai
kandungan utamanya. Golongan senyawa flavonoid dapat menyerap radiasi
elektromagnetik di daerah ultraviolet karena memiliki sistem aromatik sebagai
kromofor dan gugus hidroksil sebagai auksokrom, sehingga dapat dianalisis
dengan spektroskopi ultraviolet. Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan
golongan senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun jati belanda. Analisis
kandungan

flavonoid

dilakukan

dengan

menggunakan

spektrofotometer

ultraviolet-tampak dengan pelarut etil asetat. Analisis kualitatif flavonoid dapat


dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer

UV-Vis. Spektrum serapan

ultra violet dan serapan tampak merupakan cara tunggal yang paling bermanfaat
untuk mengidentifikasi struktur flavonoid. Flavonoid mengandung sistem
aromatis yang terkonjugasi dan dapat menunjukkan pita serapan kuat pada daerah
UV-Vis. Metode tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan uji secara
kuantitatif

untuk menentukan jumlah flavonoid yang terdapat dalam ekstrak

metanol juga dilakukan dengan spetrofotometer UV-Vis yaitu dengan mengukur


nilai absorbansinya. Absorbansi sebagai analisa kuantitatif dilakukan berdasarkan
Hukum Lambert-Beer.

37

Berdasarkan pengukuran pada Spektrofotometri UV-Vis dapat juga


diketahui jenis flavonoid yang terkandung dalam sampel tanaman obat daun jati
belanda. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan spektrum serapan maksimum
yang terlihat pada pengukuran spektrum flavonoid pada sampel yaitu pada 276
nm pada absorbansi 0,802 ini menandakan bahwa isolat yang dibaca positif
mengandung flavonol. Hal ini diperkuat oleh Markham (1988) bahwa rentang
serapan spektrum flavonol mempunyai panjang gelombang 250-280 nm.
BAB V
PENUTUP
5.1.

Simpulan
Berdasarkan hasil dari semua percobaan yang terdiri dari skrining
fitokimia, ECP, pemantauan ekstrak, ECC, pemantauan fraksinasi dengan
KLT, kromatografi kolom, KLTP, KLT 2 dimensi, dan spektrofotometri
UV-Vis dapat dinyatakan bahwa dalam

daun jati belanda terdapat

golongan senyawa flavonoid. Setelah di uji karakterisasi dengan


spektrofotometri UV-VIS didapat hasil panjang gelombang 276 nm dengan
absorbansi 0,802 yang merupakan golongan flavonol senyawa kuersetin.
5.2.

Saran
Saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan,
sehingga penyusunan laporan untuk kedepannya dapat menjadi lebih baik.

38

DAFTAR PUSTAKA
Daniel. (2010). Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Pada Fraksi Etil
Asetat Dari Daun Tumbuhan Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav).
(Online). Vol 9. No 1. http://fmipa.unmul.ac.id/pdf/164 : Diakses 02
Februari 2015.
Harborne. J.B.,(1987). Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan , Terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso. Bandung : ITB
Press
Neldawati.et.al. (2013). Analisis Nilai Absorbansi dalam Penentuan Kadar
Flavonoid untuk Berbagai Jenis Daun Tanaman Obat. (Online). Vol.2.
http://www. ejournal.unp.ac.id/students/index.php/fis/article. Diakses 02
Februari 2015.
Teyler.V.E.et.al.1988. Pharmacognosy Edition 9th. Phiadelphia : Lea & Febiger

39

40