Anda di halaman 1dari 15

Lembaran Pengesahan

KESEIMBANGAN SENYAWA KOORDINASI

Oleh :
KELOMPOK VII

Darussalam, 16 Desember 2015


Mengetahui

(Asisten)

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan yang berjudul Keseimbangan Senyawa Koordinasi


dengan tujuan untuk mengetahui kecenderungan suatu ion logam untuk dapat
membentuk senyawa koordinasi dengan ion atau molekul netral. Prinsip dari
percobaan ini adalah analisa kualitatif dimana pengamatan dilakukan terhadap
perubahan sifat yang terjadi. Hasil yang diperoleh pada percobaan ini yaitu pada
pembentukan ion kompleks dengan ammonia menghasilkan larutan biru dan
endapan, pada pembentukan hidroksida amfoter terbentuk endapan dan kemudian
larutan menjadi bening, pada reaksi ion Zn dengan ammonia terbentuk endapan
dan kemudian larutan menjadi bening dan pada pembentukan kompleks ion
klorida menghasilkan larutan bening dan larutan keruh berendapan. Kesimpulan
yang dapat diambil dari percobaan ini yaitu kestabilan senyawa kompeks
dipengaruhi oleh kekuatan ligan, sifat logam pusat dan sifat sam atau basa dari
larutan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senyawa-senyawa kimia sangat berperan dalam kehidupan makhluk hidup.
Senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan langsung di dalam kehidupan seharihari dan ada pula yang harus melewati beberapa tahap sebelum dapat digunakan.
Senyawa kimia yang biasanya ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah air
(H2O), garam dapur (NaCl), klorin yang terdapat dalam pemutih pakaian dan
masih banyak lagi.
Salah satu senyawa kimia yang sangat bermanfaat adalah senyawa
koordinasi. Senyawa koordinasi sudah menjadi topik yang sangat berkembang
saat ini. Hal ini disebabkan senyawa koordinasi sangat memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia terutama aplikasinya dalam berbagai bidang
seperti dalam bidang kesehatan, bidang farmasi, industri serta bidang lingkungan.
Dunia industri menggunakan katalis yang biasanya berupa senyawa
kompleks. Misalnya dalam industri petrokimia, kebutuhan katalis semakin
meningkat karena hampir seluruh produk petrokimia yang diubah menjadi
senyawa kimia lainnya membutuhkan katalis untuk mempercepat pembentukan
produknya, seperti pada reaksi hidrogenasi, karbonilasi, dan

hidroformolasi.

Kestabilan suatu senyawa kompleks cukup penting dalam pengaplikasiannya.


Oleh karena itu, dilakukanlah percobaan ini untuk lebih memahami mengenai
senyawa kompleks dan keseimbangannya.

1.2 Tujuan Percobaan


Adapun percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
kecenderungan suatu ion logam untuk dapat membentuk senyawa koordinasi
dengan ion atau molekul netral.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Senyawa koordinasi adalah salah satu senyawa yang memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia. Senyawa ini terbentuk karena adanya ikatan
antara ligan yang berperan sebagai donor pasangan elektron (basa lewis) dengan
ion pusat (logam) yang berperan sebagai akseptor pasangan elektron (asam lewis).
Perkembangan ilmu senyawa koordinasi semakin pesat. Kajian dan penelitian
tentang sintesis senyawa koordinasi juga semakin beragam. Salah satunya adalah
penelitian tentang senyawa kompleks sebagai katalis. Dari beberapa penelitian
telah dilaporkan bahwa senyawa kompleks besi memiliki peranan penting pada
proses katalitik, yaitu sebagai sisi aktif katalis. Besi(III)-trifluoroasetat merupakan
katalis dan baik digunakan pada reaksi diasetilasi aldehid dan tioasetilasi senyawa
karbonil. Senyawa kompleks besi-monoetanolamin dengan penyangga silika baik
digunakan sebagai katalis pada reaksi adisi 1-oktena, di mana semakin banyak
kandungan besi pada senyawa kompleks akan meningkatkan aktivitas
katalitiknya. Silika yang diimpregnasi dengan senyawa kompleks [(5C5H5)Fe(CO)2(THF)]+[BF4]+ memiliki daya katalitik yang lebih baik pada reaksi
pembentukan siklopropana, atau aziridine dari senyawa diazo, olefin dan imina
dibandingkan silika yang tidak diimpregnasi dengan senyawa kompleks. Senyawa
kompleks yang bisa dijadikan sebagai katalis harus memiliki sifat yang stabil.
Salah satu senyawa kompleks yang sangat stabil adalah senyawa kompleks yang
membentuk khelat. Salah satu senyawa kompleks yang memiliki tingkat
kestabilan tinggi adalah senyawa kompleks besi(III)-EDTA yang memiliki
kestabilan = 25,1 (Harsasi, 2010).
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari ion logam
dengan satu atau lebih ligan. Interaksi antara logam dengan ligan-ligan dapat
diibaratkan seperti reaksi asam-basa lewis, di mana basa lewis merupakan zat
yang mampu memberikan satu atau lebih pasangan elektron (ligan). Titrasi
kompleksometri adalah salah satu metode kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi
kompleks antara ligan dengan ion logam utamanya, yang umum di indonesia
EDTA (disodium ethylendiamintetraasetat/ tritiplex/ komplekson). Titrasi

kompleksometri meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun


pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Syaratnya
mempunyai kelarutan tinggi. Contohnya : kompleks logam dengan EDTA dan
titrasi dengan merkuro nitrat dan perak sianida (Achmadi, 1987).
Reaksi pengkompleksan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian
satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi, dengan gugus-gugus
nukleofilik lain. Gugus-gugus yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan
dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan:
M(H2O)n + L = M (H2O)(n-1) L + H2O
Ligan (L) dapat berupa sebuah molekul netral atau sebuah ion bermuatan, dengan
penggantian molekul-molekul air berturut-turut selanjutnya dapat terjadi, sampai
terbentuk kompleks MLn; n adalah bilangan koordinasi dari logam itu, dan
menyatakan jumlah maksimum ligan monodentat yang dapat terikat padanya
(Adlim, 2007).
Ligan dapat dengan baik diklassifikasikan atas dasar banyaknya titik-lekat
kepada ion logam. Begitulah, ligan-ligan sederhana, seperti molekul-molekul H2O
atau NH3, F-, Cl-, Br-, CN-, NH3, CH3OH, dan OH- adalah monodentat, yaitu
ligan itu terikat pada ion logam hanya pada satu titik oleh penyumbangan satu
pasangan-elektron-menyendiri kepada logam. Namun, bila molekul atau ion ligan
itu mempunyai dua atom, yang masing-masing mempunyai satu pasangan
elektron menyendiri, maka molekul itu mempunyai dua atom-penyumbang, dan
adalah mungkin untuk membentuk dua ikatan-koordinasi dengan ion logam yang
sama; ligan seperti ini disebut bidentat dan sebagai contohnya dapatlah
diperhatikan kompleks tris(etilenadiamina) kobalt(III), [Co(en)3]3+. Kompleks
oktahedral berkoordinat-6 (dari) kobalt(III), setiap molekul etilenadiamina
bidentat terikat pada ion logam itu melalui pasangan elktron menyendiri dari
kedua ataom nitrogennya. Ini menghasilkan terbentuknya tiga cincin beranggota5, yang masing-masing meliputi ion logam itu; proses pembentukan cincin ini
disebut penyepitan (pembentukan sepit atau khelat). Ligan polidentat mengandung
lebih

dari

dua

atom

koordinasi

per

molekul,

misalnya

asam

1,2-

diaminoetanatetraasetat (asam etilenadiaminatetraasetat, EDTA) yang mempunyai

dua atom nitrogen-penyumbang dan empat atom oksigen-penyumbang dalam


molekul, dapat merupakan heksadentat (Suharto, 2007).
Material magnetik banyak dipelajari dalam beberapa tahun ini karena
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia elektronik seperti
display, saklar molekular dan bahan penyimpan data. Pentingnya material
magnetik ini menyebabkan banyak penelitian untuk merancang material baru
dengan sifat yang lebih unggul. Sifat magnetik suatu material dapat dirancang
melalui pembentukan senyawa kompleks. Senyawa kompleks dapat bersifat
diamagnetik atau paramagnetik. Senyawa kompleks mononuklir umumnya
bersifat paramagnetik dan memiliki momen magnetik yang rendah yaitu 1,7 - 5,9
Bohr Magneton (BM). Sifat paramagnetik suatu senyawa dapat berupa
feromagnetik dan antiferomagnetik. Senyawa yang bersifat feromagnetik atau
antiferomagnetik disebabkan adanya interaksi antar elektron tidak berpasangan
yang terdapat pada orbital d dari ion logam penyusun senyawa kompleks.
Interaksi feromagnetik senyawa kompleks umumnya ditunjukkan pada temperatur
rendah. Saat ini senyawa kompleks terus dikembangkan untuk mendapatkan
material bersifat feromagnetik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah
merancang suatu senyawa kompleks agar terjadi interaksi hidrogen sehingga
menaikkan nilai Temperatur Curie Weiss (TCW) senyawa (Lexy, 2012).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, batang pengaduk, beaker gelas,
kaca arloji dan pipet tetes.
Bahan-bahan yang digunakan adalah larutan NH4Cl 1 M, larutan NH3 1 M,
6 M, 15 M, larutan NaOH 6 M, HNO3 6 M, larutan HCl 12 M. 6 M, larutan
CuSO4.5H2O, larutan NaCl 0,1 M, larutan AgNO3 0,1 M, Zn(NO3)2 0,1 M, dan
indikator phenolpthalein 0,1 %.

3.2 Konstanta Fisik


Tabel 3.2 Konstanta Fisik dan Tinjauan Keamanan
Berat Molekul Titik Didih
No.
Bahan
(gr/mol)
(oC)
1.
NH4Cl
53,49
520
2.
NH3
17,031
-33,34
3.

NaOH

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

HNO3
HCl
CuSO4
H2O
NaCl
AgNO3
Zn(NO3)2

Titik Leleh
(oC)
33
-17,73

40

-3,8

139

63
36,47
160
18
54,88
169,87
65,39.

122
-85,05
150
100
1413
444
907

- 42
-114,2
110
0
801
212
419.53

Tinjauan
Keamanan
Iritasi
Korosif
Mudah
terbakar
Korosif
Korosif
Beracun
Aman
Aman
Beracun
Aman

3.3 Skema Kerja


3.3.1 Pembentukan Ion Kompleks dengan Ammonia
Ditambahkan setetes NH3 6 M ke dalam 3 mL larutan CuSO4 0,1 M.
Diaduk sampai terjadi perubahan warna. Untuk mengetahui zat pada larutan
ammonia (NH4+, OH-, NH3, H2O) yang menyebabkan terjadinya perubahan
tersebut maka ditambahkan :
a. 1 mL larutan NH4Cl 1 M pada 2 mL larutan CuSO4 1 M.
b. 2 tetes larutan NaOH 6 M pada 2 mL larutan CuSO4 0,1 M.

3.3.2 Pembuatan Hidroksida Amfoter


Ditambah beberapa tetes NaOH 6 M ke dalam 5 mL larutan Zn(NO3)2 0,1
M sambil diaduk sampai endapan yang terbentuk larut kembali. Dihindari
penggunaan NaOH yang berlebih. Larutan tersebut diuji dengan indikator
phenolpthalein dan ditambahkan beberapa tetes HCl 6 M sampai terbentuk
endapan dan ditambahkan HCl berlebih sampai endapan larut kembali.
3.3.3 Reaksi Ion Zn dengan Ammonia
Ditambahkan beberapa tetes NH3 6 M ke dalam 3 mL larutan Zn(NO3)2 0,1
M sambil diaduk sampai endapan yang terbentuk larut kembali. Larutan
tersebut diuji dengan indikator phenolpthalein.
3.3.4 Kompleks Ion Klorida
Ditambahkan 2 mL HCl pekat (12 M) ke dalam 2 mL larutan CuSO4 0,1 M
dan diencerkan dengan 5 mL aquadest. Diamati perubahan warna yang
terjadi. Diasumsikan bahwa kompleks yang terbentuk adalah CuCl42-.
Ditambahkan 3 mL HCl pekat ke dalam 1 mL larutan AgNO3 0,1 M dan
dikocok larutan selama beberapa menit agar endapan yang terbentuk larut
kembali. Diencerkan larutan dengan 5 mL aquadest. Diamati perubahan
yang terjadi. Diasumsikan kompleks yang terbentuk adalah AgCl2-.

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Data hasil pengamatan


No.
Reaksi

Pengamatan

Pembentukan Ion Kompleks dengan


Ammonia
CuSO4 + NH3
1.

CuSO4 + NH3 berlebih


CuSO4 + NH4Cl
CuSO4 + NaOH

Larutan biru dan terbentuk


endapan
Larutan biru pekat dan
menghasilkan banyak endapan
Larutan biru pudar
Larutan biru dan membentuk
endapan biru

Pembentukan Hidroksida Amfoter

2.

Zn(NO3)2 + NaOH
Zn(NO3)2 + NaOH berlebih
Zn(NO3)2 + NaOH berlebih +
Phenolptalein
Zn(NO3)2 + NaOH berlebih + HCl

Terbentuk endapan
Endapan hilang (bening)
Larutan merah muda
Bening

Reaksi ion Zn dengan Ammonia


3.

Zn(NO3)2 + NH3
Zn(NO3)2 + NH3 berlebih
Zn(NO3)2 + NH3 + Phenolphtalein

Terbentuk endapan
Endapan hilang (bening)
Larutan merah muda

Pembentukan Kompleks Ion Klorida


4.

CuSO4 + HCl
CuSO4 + AgNO3

Bening
Larutan keruh dan terbentuk
endapan

4.2 Pembahasan
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari ion logam
sebagai atom pusat yang berikatan dengan ligan melalui ikatan kovalen
koordinasi. Ion logam merupakan atom pusat yang akan menerima elektron.

Contoh dari senyawa kompleks adalah magnesium sulfat heptahidrat [Cu


(H2O)6]SO4. Pada senyawa tersebut Cu bertindak sebagai atom pusat dan H2O
sebagai ligan. Sementara gugus SO4 merupakan gugus penyeimbang. Atom pusat
dan ligan berikatan secara kovalen koordinasi, yaitu ikatan yang terbentuk karena
adanya penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah satu atom
yang memiliki pasangan elektron bebas. Senyawa kompleks dipengaruhi oleh sifat
logam, asam basa dan kekuatan ligan.
Struktur dari ion kompleks dapat ditentukan dengan memperhatikan tiga
aspek yaitu bilangan koordinasi, geometri dan banyak elektron. Bilangan
koordinasi adalah banyaknya atom-atom donor di seputar atom logam pusat dan
ion kompleks. Geometri dari ion kompleks tergantung pada bilangan koordinasi
dan ion logam itu sendiri. Sedangkan banyaknya elektron dapat mempengaruhi
struktur, jika elektron tersebut berasal dari ligan yang mengelilingi atom pusat.
Ligan adalah molekul sederhana yang bertindak sebagai donor pasangan elektron
(basa lewis) pada senyawa kompleks. Berdasarkan jumlah pasangan elektron yang
disumbangkannya, ligan dibedakan atas beberapa bagian, yaitu :
1. Ligan monodentat yaitu ligan yang dapat menyumbangkan satu pasangan
elektron bebas kepada atom pusat, contohnya yaitu F-, Cl-, Br- dan OH-.
2. Ligan bidentat yaitu ligan yang menyumbangkan dua pasang elektron
bebas kepada atom pusat, contohnya etilendiamin dan oksalat.
3. Ligan polidentat yaitu ligan yang dapat menyumbangkan lebih dari dua
pasang elektron bebasnya kepada atom pusat, contohnya EDTA dan
trietilendiamin.
Hidrat adalah salah satu contoh senyawa koordinasi. Ion hidrat terjadi
karena adanya sifat polar dari molekul air. Sisi negatif pada molekul air akan
ditarik ke arah kation. Secara umum semakin besar muatan dan ukuran kation
maka semakin besar jumlah molekul air yang dapat terkoordinasi. Contoh :
H(H2O)+, Be(H2O)42+, Cu(H2O)63+ dan Fe(H2O)63+.
Percobaan pertama yaitu pembentukan ion kompleks dengan ammonia
menggunakan larutan CuSO4 yang diencerkan menjadi [Cu(H2O)6]SO4. Ketika
ditambahkan sedikit NH3 larutan menjadi biru dan menghasilkan sedikit endapan.
Semakin banyak NH3 yang ditambahkan maka warna larutan menjadi semakin

pekat dan menghasilkan lebih banyak endapan. Hal ini terjadi karena ligan NH3
adalah ligan yang lebih kuat dibandingkan dengan ligan H2O, sehingga ligan NH3
dapat menggantikan ligan H2O. Ketika NH3 yang ditambahkan sedikit, warna
larutan tidak terlalu pekat karena NH3 belum menggantikan semua ligan H2O.
Namun ketika NH3 yang ditambahkan berlebih, maka NH3 mampu menggantikan
semua ligan H2O sehingga warna larutan menjadi semakin pekat.
NH3 merupakan ligan monodentat dimana N memiliki pasangan elektron
bebas yang menyumbangkan elektron sedangkan pada H2O atom yang
menyumbangkan elektron adalah O. Atom O lebih elektronegatif dibandingkan
dengan atom N sehingga sulit untuk mendonorkan elektron dan menyebabkan
H2O menjadi ligan lemah. Semakin elektronegatif suatu atom yang mendonorkan
elektron dalam suatu ligan, maka semakin lemah ligan tersebut.
Percobaan selanjutnya yaitu larutan [Cu(H2O)6]SO4 ditambahkan dengan
larutan NH4Cl sehingga larutan menjadi lebih pudar. Percobaan ini tidak
menghasilkan perubahan karena Cl- merupakan ligan lemah dan tidak mampu
menggantikan ligan H2O. Ketika [Cu(H2O)6] SO4 ditambah NaOH, larutan
tersebut menghasilkan endapan biru. Hal ini dikarenakan larutan berubah menjadi
basa. Kestabilan senyawa kompleks dipengaruhi oleh kondisi pH larutan. Karena
itu ketika larutan menjadi basa, kestabilan senyawa kompleks akan terganggu
sehingga ligan H2O akan tergantikan dengan ligan OH-. Oleh karena itu pada
penambahan NaOH dapat menghasilkan endapan biru.
Percobaan kedua yaitu pembentukan hidroksida amfoter. Larutan
Zn(NO3)2 direaksikan dengan NaOH sehingga larutan menjadi keruh. Kekeruhan
pada larutan tersebut menandakan hidroksida amfoter Zn(OH)42- telah terbentuk.
Zn(NO3)2 yang ditambahkan NaOH berlebih membuat larutan menjadi bening
kembali. Hal ini disebabkan oleh hilangnya Zn(OH)42- sehingga larutan kembali
membentuk Zn(H2O)42+. Ketika Zn(H2O)42+ terbentuk, ion OH- yang terdapat
dalam larutan menjadi bebas, artinya ion OH- tidak lagi terikat dengan Zn.
Indikator phenolphthalein ditambahkan untuk mengidentifikasi OH- bebas yang
terdapat dalam larutan. Larutan Zn(NO3)2 kemudian direaksikan dengan NaOH
dan sedikit HCl menghasilkan endapan. Endapan tersebut menandakan hidroksida
amfoter telah terbentuk. HCl yang ditambahkan mampu menghilangkan OH-

sehingga hidroksida amfoternya kembali terbentuk. Ketika ditambahkan HCl


berlebih, endapan larut kembali sehingga larutan menjadi bening.
Percobaan selanjutnya adalah reaksi ion Zn dengan ammonia. Larutan
Zn(NO3)2 direaksikan dengan sedikit NH3 menghasilkan endapan putih. Semakin
banyak larutan NH3 yang ditambahkan membuat larutan menjadi bening. Hal ini
membuktikan bahwa ligan NH3 mampu menggantikan ligan H2O pada molekul
Zn(NO3)2. Percobaan ini hampir sama dengan pembentukan hidroksida amfoter,
akan tetapi ligan yang digunakan untuk mengganti H2O adalah ligan NH3 yang
merupakan basa lemah. Karena NH3 merupakan basa lemah, volume yang
dibutuhkan untuk membentuk Zn(OH)42- jauh lebih besar dibandingkan dengan
penambahan NaOH. Penambahan indikator phenolptalein bertujuan untuk
mendeteksi keberadaan hidroksida amfoter pada larutan yang bersifat basa.
Berdasarkan beberapa uji di atas, dapat diketahui bahwa kekuatan ligan
dan penambahan asam atau basa dapat mempengaruhi senyawa kompleks. Atomatom yang memiliki keelektronegatifan yang tinggi, maka kekuatan ligannya akan
berkurang karena atom tersebut akan susah untuk mendonorkan pasangan elektron
bebasnya. Urutan atom tersebut adalah sebagai berikut :
Keelektronegatifan bertambah
C

O F

Kekuatan ligan bertambah


Karena itu jenis-jenis ligan memiliki kekuatan yang berbeda tergantung pada
kekuatan ligan untuk terikat pada atom pusat. Urutan kekuatan beberapa ligan
yaitu :
Cl- H2O

NH3

Kekuatan ligan bertambah

Percobaan terakhir yaitu pembentukan kompleks ion klorida menggunakan


larutan CuSO4 dan AgNO3. Masing-masing larutan direaksikan dengan HCl.
Larutan CuSO4 dengan HCl menghasilkan warna hijau, pada reaksi ini terbentuk
kompleks CuCl42- .kemudian larutan diencerkan dengan aquades yang membuat
larutan menjadi bening. Hal ini dikarenakan ligan H2O lebih kuat dari pada ligan
Cl sehingga ligan H2O menggantikan ligan Cl. Begitu pula pada AgNO3 yang

direaskikan dengan HCl menghasilkan larutan keruh dan endapan putih. Senyawa
kompleks yang terbentuk dari reaksi ini adalah AgCl2- . Penambahan aquades
membuat ligan Cl digantikan oleh ligan H2O. Ligan H2O dapat lebih mudah
berikatan dengan Ag dibandingkan dengan ligan Cl sehingga ikatan dengan ligan
H2O lebih mudah terjadi.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
1.

Keseimbangan senyawa koordinasi (kompleks) dipengaruhi oleh sifat logam,


asam-basa dan kekuatan ligan.

2.

Deret kekuatan ligan dari yang terkuat ke yang lemah adalah NH3 > H2O >
Cl.

3.

Semakin banyak NH3 yang ditambahkan maka semakin banyak ligan H2O
yang tergantikan.

5.2 Saran
Sebaiknya bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah bahan dengan
tingkat hazard yang rendah agar dapat meminimalisir kecelakaan yang terjadi di
dalam laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Suminar. 1985. Kimia Dasar. Terjemahan dari General Chemistry, oleh
Ralph H. Petcrucci, Penerbit Erlangga. Jakarta.
Adlim, 2007. Kimia Anorganik. Penerbit Erlangga. Jakarta
Harsasi,

Setyawati & Irmia, Kris. 2010. Optimalisasi Sains Untuk


Memberdayakan Manusia Sintesis Dan Karakterisasi Senyawa
Kompleks Besi(III)-EDTA. Jurnal Jurusan Kimia ITS Surabaya. 134 (3)
: 4-5

Lexy, Nidia. 2012. Sintesis dan Sifat Magnetik Kompleks Ion Logam Cu(II)
dengan Ligan 2-Feniletilamin. Jurnal Sains Dan Seni Pomits. 1 (1) : 1-5
Suharto, Saharti.2007. Kimia Anorganik. Terjemahan dari Anorganic Chemistry,
oleh Geoffrey Wilkson. UI Press, Jakarta