Anda di halaman 1dari 21

TEORI AKUNTANSI

CHAPTER 6
ACCOUNTING MEASUREMENT SYSTEM

Akuntansi B

Kelompok 6
Melisabeth.A.W - 1213010
Johan Arli - 1313007
Erika Thiotrisno - 1313022

LO 1 Tiga Sistem Pengukuran Utama Pendapatan dan Modal


Sistem pertama yang muncul adalah biaya historis (historical cost) khususnya
pada tahun 1929 setelah kejadian runtuhnya Wall Street. Kemudian mulai pada
tahun 1960 muncul beberapa sistem alternatif yaitu biaya saat ini (current cost)
dan harga jual saat ini (current selling price).
LO 2 Akuntansi Biaya Historis (Historical Cost)
Tujuan Akuntansi
Seiring pertumbuhan perusahaan selama setengah abad terakhir, informasi
akuntansi telah menjadi sebuah sumber informasi perusahaan yang dikatakan
cukup besar dan signifikan. Salah satu alasan yang mendukung hal ini adalah
bahwa bentuk perusahaan berskala besar mengakibatkan adanya pemisahan
pengendalian dan kepemilikan usaha. Perusahaan yang berskala besar telah
memperjelas bahwa perusahaan tersebut memiliki identitas tersendiri, adanya
perbedaan dan pemisahan dari pemilik perusahaan, kreditor dan semua pihak
lainnya yang berkepentingan. Meskipun pemilik dan para kreditur menyediakan
dana untuk entitas usaha, dalam banyak kasus, pemilik dan para kreditor dianggap
outsiders (pihak luar) dan tidak memiliki akses khusus dalam catatan dan dalam
akun entitas.
Tujuan dari biaya historis stewardship menekankan hubungan konservatif
kontraktual antara perusahaan dengan pihak yang menyediakan sumber daya
dengan membuat manajemen bertanggung jawab terhadap input dari aset hingga
operasi dan output pada nilai bersih ekuitas dari operasi. Dengan demikian,
laporan rugi-laba merupakan kunci dari mekanisme komunikasi.
Dalam pandangan biaya historis, perubahan dalam nilai aset secara
mendasar diabaikan hingga aset tersebut terjual atau dibuang. Artinya, sebuah
transaksi harus muncul dalam rangka adanya peristiwa akuntansi yang harus
diakui. Masalah-masalah penilaian tersebut merupakan tema yang berulang dalam

literatur. Singkatnya, dalam teori biaya historis, bukanlah hal yang cukup penting
dalam menentukan residu nilai bersih.
Modal dan Laba
Dalam rangka penentuan laba menurut biaya historis, entitas akuntansi harus
terlebih dahulu menahan jumlah modal yang sama yang dimiliki pada awal
periode - di mana seluruh aset dan kewajiban dinilai berdasarkan biaya pembelian
historis. Dengan demikian, pendapatan merupakan kenaikan modal dari biaya
historis pada akhir periode akuntansi.
Pencocokan Teori Biaya
Akuntan biaya historis terus-menerus melacak aliran biaya. Karena biaya bersifat
melekat, ini hanya merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa akuntan
menjaga akun-akun transaksi dari suatu bisnis. Dalam pembelian barang dan jasa
suatu perusahaan, tugas akuntan adalah untuk melacak pergerakan biaya dan
melampirkannya (menyesuaikan) biaya terhadap pendapatan yang diterima saat
biaya mengalir dalam bisnis. Dengan kata lain, akuntan harus menentukan biaya
mana yang telah "kadaluarsa" dan oleh karena itu harus dicocokkan terhadap
pendapatan dalam laporan rugi-laba dan biaya apa yang masih "belum kadaluarsa"
dan ditempatkan pada Laporan Posisi Keuangan sebagai residu.
Konservatisme
Komponen penting lainnya adalah penerapan dari prosedur pencocokan yang
konservatif. Beban harus dialokasikan secepat mungkin, sedangkan pendapatan
belum perlu diakui sampai ada kemungkinan yang tinggi bahwa pendapatan akan
diterima. Artinya, ada kecondongan yang bias terhadap pengakuan beban yang
berhadapan

(vis-a-vis)

dengan

pengakuan

pendapatan.

Konsep

dasar

konservatisme lainnya yaitu bahwa kenaikan dalam nilai aset belum perlu diakui,
tetapi penurunan nilai harus diakui - baik aturan nilai terendah biaya atau aturan
pasar. Penerapan dari prosedur sejenis ini dimaksudkan bahwa laba dihitung

secara konservatif dan berarti bahwa beberapa arus pendapatan yang potensial
mengalir ke laporan rugi-laba perlahan seiring berjalannya waktu.
Argumen untuk Akuntansi Biaya Historis
Akuntansi biaya historis terserang oleh banyak pihak, terutama atas dasar bahwa
biaya historis tidak melaporkan realitas komersial atau tidak memberikan
penilaian yang terbaru dari kekayaan bersih. Pihak yang masih mempertahankan
hal ini telah menyajikan argumen berikut:
1. Biaya historis relevan dengan pengambilan keputusan ekonomi. Sebagai
seorang manajer yang membuat keputusan menyangkut komitmen di masa depan,
maka manajer membutuhkan data transaksi di masa lalu. Manajer harus mampu
meninjau upaya masa lalu dan ukuran dari upayanya yang merupakan konsep
biaya historis.
2. Biaya historis didasarkan pada transaksi yang sebenarnya, bukan sekedar
kemungkinan. Dalam akuntansi untuk biaya historis, sebuah catatan dari transaksi
yang aktual dibuat. Sebuah catatan pendukung angka pada laporan keuangan
kemudian disediakan dan dapat diamati. Hal ini bukanlah kasus seperti pada
sistem "nilai sekarang" lainnya yang mengakui harga sekarang sebagai nilai atau
bahkan pendapatan - kejadian ini mungkin terjadi atau tidak.
3. Dalam sejarahnya, laporan keuangan yang berlandaskan biaya historis telah
dianggap bermanfaat. Littleton berargumen bahwa praktik akuntansi manajerial
dan industri modern merupakan keturunan langsung dari percobaan bertahuntahun

dan

kesalahan

yang

dikeluarkan

oleh

owner-operators

dalam

mengembangkan data yang akan berguna bagi mereka dalam menjalankan


kegiatan bisnisnya.
4. Merupakan konsep pemahaman terbaik dari laba di mana laba adalah selisih
lebih harga jual atas biaya historis. Konsep laba yang diterima sebagai ukuran
kinerja dari keberhasilan. Keputusan mengenai apakah akan melanjutkan lini
produk atau divisi atau pabrik tergantung sampai batas-batasan tertentu apakah

terdapat penyebaran yang menguntungkan antara pendapatan dan biaya. Orang


perlu memahami konsep ini untuk keberhasilan kegiatan bisnisnya.
Kritik Akuntansi Biaya Historis
Kritik untuk akuntansi biaya historis telah berulang kali berargumen bahwa sistem
gagal dalam mendasari fungsi menyediakan informasi yang obyektif. Ada begitu
banyak keputusan terkait dengan pencatatan, pengukuran dan pelaporan informasi
yang mana sistem biaya historis jauh dari obyektif dan terbuka untuk manipulasi.
Biaya historis tidak mencukupi untuk mengevaluasi keputusan bisnis. Ketika aset
diperoleh, biaya historisnya menjadi relevan karena mengacu pada peristiwa saat
ini. Namun setelah periode akuisisi lewat, hal ini tidak lagi saat ini dan kemudian
menjadi tidak konsekuensial.
Salah satu pembenaran untuk penggunaan biaya historis adalah asumsi going
concern (asumsi kelangsungan hidup perusahaan). Dugaannya adalah bahwa
kehidupan perusahaan bersifat tidak terbatas, sehingga harapan normal mengenai
item non-moneter akan terpenuhi. Steling mempertanyakan validitas asumsi
tersebut: tingginya tingkat kegagalan bisnis sulit untuk membangun bukti kasus
untuk proyeksi kontinuitas. Tidak ada bisnis yang pernah berlanjut tanpa batas
waktu ke masa depan.

LO 3 Akuntansi Biaya Untuk Saat Ini (CURRENT COST)


Tujuan Akuntansi Biaya Saat Ini
Akuntansi biaya saat ini adalah sebuah sistem akuntansi di mana aset dinilai
berdasarkan harga pasar saat pembelian dan laba ditentukan oleh alokasi
berdasarkan biaya saat ini. Apa tujuan dari akuntansi untuk current cost? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu mempertimbangkan jenis keputusan
yang dihadapi oleh manajer dalam menjalankan bisnisnya. Suatu asumsi yang
dapat dibuat adalah bahwa manajer dari suatu perusahaan ingin mengetahui

bagaimana harus mengalokasikan sumber daya perusahaan untuk memaksimalkan


laba.
Konsep Laba Usaha dan Ekuitas Keuangan
Edwards dan Bell menawarkan konsep laba yang disebut "laba usaha" yang terdiri
dari (1) laba operasi saat ini dan (2) penghematan biaya realisasi. Laba operasi
saat ini merupakan kelebihan dari nilai output saat ini yang terjual melebihi dari
biaya saat input terkait. Penghematan biaya realisasi merupakan peningkatan
biaya saat ini dari aset yang ditahan oleh perusahaan pada periode berjalan.
Keduanya mencakup perubahan biaya yang telah direalisasi maupun yang belum
direalisasi.
Penahanan Keuntungan dan Kerugian
Sebuah asumsi yang mendasari laba usaha adalah bahwa pencampuran penahanan
keuntungan/kerugian

dan

keuntungan/kerugian

dalam

operasi

terlihat

membingungkan evaluasi terhadap keputusan manajemen dan menghambat


alokasi sumber daya dalam perekonomian. Konsep laba usaha memungkinkan
pemisahan komponen tersebut. Penahanan komposisi tertentu dari aset dan
liabilitas merupakan salah satu cara manajemen dalam mencoba untuk
meningkatkan posisi pasar perusahaan. Manajer dan pihak yang berkepentingan
ingin tahu apakah kegiatan penahanan ini berhasil. Dalam akuntansi untuk biaya
historis, keuntungan dicatat hanya ketika aset tersebut dilepaskan. Oleh karena itu,
dalam menentukan apakah kegiatan penahanan yang dilakukan manajemen itu
sukses atau hampir dikatakan mustahil kecuali aset tersebut dibeli dan dijual
dalam periode yang sama. Juga, dalam akuntansi untuk biaya historis, dalam
membandingkan perusahaan satu sama lain dapat menjadi menyesatkan di mana
perusahaan dianggap lebih efisien.
LO 4 Ekuitas Keuangan VS Ekuitas Fisik
Dalam akuntansi berbasis current cost, ada dua pandangan mendasar dan
dikatakan bersaing tentang apa yang merupakan ekuitas awal dan ekuitas akhir -

konsep keuangan dan konsep fisik. Tidak ada perselisihan antara konsep penilaian
yang diterima oleh kedua paradigma karena harga beli pasar saat ini (current
cost), tetapi perselisihan berkisar pada definisi ekuitas dan bagaimana laba diukur
dari definisi tersebut.
Dari sudut pandang praktis, perbedaan utama antara konsep ekuitas
keuangan dengan konsep ekuitas fisik adalah masalah apakah menahan atau tidak
menahan keuntungan (atau kerugian) dimasukkan dalam laba. Dalam segi
kuantitatif, perbedaan antara dua sudut pandangnya adalah bahwa menahan
keuntungan termasuk dalam laba di ekuitas keuangan namun tidak untuk ekuitas
fisik.
1.

Pihak Pendukung Ekuitas Fisik


Berkaitan dengan argumen yang menyatakan bahwa sebuah korespondensi

yang terbentuk di antara perubahan dalam biaya saat ini dan nilai masa kini
(diskonto) pada aset, yang mana asumsinya adalah bahwa perubahan dalam biaya
saat ini berkorelasi positif dengan perubahan nilai realisasi bersih dari
aset.Namun, untuk aset tidak lancar, arus kas individual tidak dapat
diidentifikasi.Oleh karena itu, perlu untuk melihat korelasi antara biaya terkini
dari aset dan nilai sekarang dari seluruh bagian perusahaan, karena arus kas
dikaitkan dengan aset tidak lancar yang disajikan dengan arus kas yang
direalisasikan berdasarkan penjualan output dari perusahaan.
2.

Argumen Pendukung dan Penentang Current Cost


Para pendukung dari akuntansi untuk biaya historis berpendapat bahwa

akuntansi biaya saat ini (current cost) melanggar prinsip konservatisme bahwa
laba hanya harus diakui pada saat aset non-moneter tersebut dilepas.Hal ini
berlaku untuk keuntungan yang belum direalisasi ketika diambil sudut pandang
dari sisi ekuitas keuangan yang mengakui penahanan keuntungan yang belum
terealisasi. Para pendukung current cost menunjukkan bahwa penahanan
keuntungan yang belum direalisasi merupakan fenomena gerakan bebas yang

sebenarnya terjadi pada periode saat ini dan karena itu harus diakui jika terdapat
bukti yang objektif cukup untuk mendukung perubahan harga.
Mereka yang mendukung konsep biaya historis yang kaku berpendapat
bahwa akuntansi current cost kurang memiliki objektivitas karena dalam
kebanyakan kasus, current cost digunakan tidak didasarkan pada transaksi aktual
di

mana

perusahaan

merupakan

partisipan.

Bagaimanapun,

objektivitas

merupakan hal yang relatif - bahkan dalam akuntansi historis konvensional


dengan teknik alokasi yang banyak sekali, yang mana penentuan objektivitas lebih
banyak dibandingkan yang lain.
Untuk item yang harga pasarnya relatif mudah diperoleh, maka
objektivitas current cost dari item tersebut mungkin dapat diterima oleh akuntan.
Persediaan bahan baku dan barang jadi yang dibeli dari pihak lain termasuk dalam
kategori ini. Bahkan, current cost dari persediaan ini lebih objektif, dalam artinya
bahwa dispersinya kurang, dibandingkan dengan biaya historis yang ditentukan
atas dasar arus yang diasumsikan, seperti LIFO atau FIFO.Bagi kebanyakan
perusahaan berskala besar, hal ini hampir tidak mungkin dalam menghitung aliran
biaya historis yang aktual dari barang.Karena kesulitan ini, arus yang diasumsikan
untuk tujuan akuntansi yang digunakan mungkin tidak koresponden dengan arus
fisik yang aktual.Sebaliknya, akuntansi current cost menuntut bahwa persediaan
akhir dijual dengan harga biaya yang berlaku pada tanggal pelaporan, dan biaya
penjualan dinyatakan pada biaya saat ini pada saat barang yang dijual.
3.

Kritik yang Lebih Spesifik


Para pendukung teori akuntansi untuk biaya historis menolak akuntansi

current cost, terutama karena melanggar prinsip realisasi tradisional. Masalah


yang terkait adalah masalah subjektivitas dalam menentukan jumlah kenaikan
biaya.Jika tidak ada pasar barang bekas terpercaya, maka dasar untuk menentukan
current cost untuk aset tetap yang digunakan oleh perusahaan harus menjadi aset
baru yang diharapkan untuk menggantikan yang lama. Konsep current cost
disebut sebagai sebuah penyesuaian yang harus dibuat untuk setiap kelebihan

operasi atau kekurangan antara aset aktual yang dimiliki dengan penggantinya
untuk sampai pada current cost sebagai pembentuk. Hal ini bukanlah tugas yang
mudah dalam menghitung jumlah setiap kelebihan operasi atau kekurangan
operasi.

LO 5 Akuntansi untuk Exit Price


Ekuitas dan Laba

1.

Exit price accounting merupakan sistem akuntansi yang menggunakan


harga jual pasar untuk mengukur posisi keuangan perusahaan dan kinerja
keuangan.Menurut Edwards and Bell (1961) exit value adalah harga maksimum
dari aset yang saat ini ditahan apabila dijual dan dikurangi dengan biaya transaksi.
Dengan sebutan lain exit value disebut juga dengan nilai realisasi bersih (net
relizable value) dari aset).. Hal ini memiliki dua penyimpangan utama dari
akuntansi biaya historis konvensional:
a.

Nilai dari aset non-moneter disesuaikan dalam mengukur perubahan


harga jual pasar yang spesifik untuk aset tersebut dan termasuk dalam

b.

laba sebagai keuntungan yang belum direalisasi.


Secara umum, perubahan kemampuan daya

beli

dari

uang

dipertimbangkan dalam mengukur ekuitas keuangan dan hasil dari


operasi.
2. Tujuan Akuntansi
Ketika sebuah perusahaan membeli aset tidak lancar, hal ini mengubah
kemampuannya untuk beradaptasi. Jika aset tersebut dibeli dengan kas, maka
penurunan terhadap saldo kas menjadi merosot, akan bebas menempatkan kas
untuk investasi lainnya. Jika aset tersebut dibeli secara kredit, hal ini menurunkan
kemampuan perusahaan untuk memperoleh kredit lebih lanjut.Tetapi konsep
perilaku adaptif melihat bahwa perusahaan selalu bersikap siap untuk membuang
aset jika tindakan ini adalah kepentingan yang terbaik. Oleh karena itu,
perusahaan akan menjaga aset tidak lancar hanya jika nilai sekarang dari arus kas
bersih masa depan berasal dari alternatif investasi dari exit value suatu aset. Oleh
karena itu pada setiap waktu, perusahaan harus mempertimbangkan apakah

kesempatan alternatif untuk tingkat pengembalian yang lebih besar ada untuk aset
tidak lancar apabila aset dijual dan hasilnya diinvestasikan.Ini adalah konsep
biaya peluang, yang menggunakan harga jual, bukan harga penggantian aset,
sebagai dasar pengukuran.
3.

Argumen Pendukung untuk Akuntansi untuk Exit Price


Akuntansi exit price merupakan sistem akuntansi yang menggunakan

harga jual pasar untuk mengukur posisi keuangan perusahaan dan kinerja
keuangan.Akuntansi untuk exit price berguna dalam hal, yaitu :
1.

Memberikan informasi yang berguna


Perusahaan bisnis pada masa lalu dimiliki langsung oleh orang atau
mitra kelompok kecil. Sehinggga Akuntan memiliki kewajiban untuk
menyiapkan Laporan Keuangan hanya untuk dua pihak, pemilk : yang
mengelola bisnis dan tahu semua rinciannya, dan kreditur : yang tertarik
terutama dalam kemampuan pemiliknya untuk membayar rekening atau
pinjaman saat jatuh tempo.
Pada masa sekarang, dengan banyaknya jumlah pemegang saham
pada suatu perusahaan menyebabkan Laporan keuangan perusahaan
sebagai media informasi utama mengenai perusahaan tersebut, sehingga
Laporan keuangan dari akuntan eksternal menjadi sangat penting. Menurut
MacNeal, Prinsip-prinsip Akuntansi yang Konvensional yang didasari
Historical Cost berpotensi menghasilkan laporan keuangan yang salah dan

2.

menyesatkan serta tidak berorientasi pada keputusan pemilik saham.


Informasi yang relevan dan dapat dipercaya
Untuk menjadi relevan, informasi harus berguna dalam model
keputusan pengguna laporan akuntansi.Model keputusan, pada gilirannya,
memungkinkan pengguna untuk menentukan tindakan yang diambil dari
beberapa alternatif.Jika tidak ada kendala, informasi yang dikumpulkan
dapat relevan untuk setiap user atau untuk setiap masalah yang diberikan
dan model keputusan. Namun, karena informasi sumber daya produksi
langka dan mahal maka menjadi kendala untuk memilih model keputusan

yang sesuai dengan menilai kemampuan model untuk memprediksi


3.

konsekuensi dari program alternatif yang tersedia saat tindakan.


Bersifat aditif
Ketika perusahaan membeli aktiva tidak lancar, ia akan mengubah
kemampuannya untuk beradaptasi. Jika aset tersebut dibeli untuk kas,
penurunan saldo kas perusahaan menyebabkan berkurangnya kebebasan
untuk berinvestasi pada yang lain. Jika aset tersebut dibeli secara kredit,
hal ini mengurangi kemampuan perusahaan untuk memperoleh kredit lebih
lanjut.Tetapi konsep perilaku adaptif melihat perusahaan selalu siap untuk
tindakan membuang asset jika hal itu merupakan yang terbaik. Maka,
perusahaan akan menjaga aktiva tidak lancar hanya apabila nilai sekarang
dari arus kas masa depan bersih dari penggunaan aktiva lebih besar dari
nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan bersih dari investasi alternatif
exit

value

aset

tersebut.

Oleh

karena

itu,

perusahaan

harus

mempertimbangkan apakah kesempatan alternatif memberi keuntungan


yang lebih besar jika aset non-lancar mereka jual atau diinvestasi.Ini
adalah konsep opportunity cos, yang menggunakan harga jual dan bukan
harga penggantian aset, sebagai basis pengukuran.
4. Alokasi
Thomas mengeluhkan kenyataan bahwa sistem akuntansi biaya
(historical dan Current) sangat bergantung pada alokasi biaya untuk
penilaian asset dan penentuan keuntungan.Ia Berpendapat Exit Price
Accounting dimasa mendatang mempunyai laporan keuangan bebas
alokasi.Laporan laba-rugi tidak melaporkan perubahan dalam jumlah yang
dialokasikan, tapi melaporkan arus masuk aktiva dan perubahan nilai-nilai
keluar dari aset perusahaan dan kewajiban dalam suatu periode
tertentu.Laba menampilkan jumlah perubahan daya beli riil dari aktiva
bersih, tidak termasuk investasi tambahan oleh dan distribusi kepada
pemilik.
5.

Berdasarkan kenyataan
Exit price melibatkan referensi untuk contoh-contoh yang nyata
karena, setiap contoh mengacu pada saat ini, harga pasar sebenarnya.

Penyusutan tidak didefinisikan dengan cara konvensional, namun dalam


arti ekonomi penurunan harga pasar. Penyusutan tidak mungkin terjadi
dalam beberapa tahun jika harga naik atau tetap konstan. Jika tidak ada
nilai realisasi dapat dikaitkan dengan item, maka item tersebut akan
memiliki saldo nol. Selain itu, dipertukarkan adalah bagian dari definisi
suatu aset sehingga goodwill tidak dapat dijual secara terpisah, tidak
termasuk dari pertimbangan. Dengan dua kendala - dipertukarkan dan
adanya harga jual - semua item pada laporan keuangan dapat dikuatkan
dengan bukti nyata.
6. Objektif
Hal ini sering dikatakan bahwa harga pasar saat ini tidak
objektif.Namun, beberapa studi penelitian menunjukkan bahwa harga
pasar relatif lebih objektif daripada kebanyakan orang percaya. Parker
melakukan studi penelitian tentang perbandingan relatif dan objektivitas
untuk exit price dan jumlah biaya historis tercatat. Objektivitas
didefinisikan sebagai konsensus di antara penilai.Komparatif didefinisikan
sebagai sebuah konsensus dalam pengukuran. Menggunakan 148
perusahaan bisnis, Parker menunjukkan bahwa untuk mengukur
objektivitas dan komparatif, exit price mengungkapkan dispersi yang
sedikit dari jumlah tercatat. Penyebab utama dari kurangnya objektivitas
nilai tercatat adalah dispersi estimasi akuntansi di masa manfaat dan nilai
7.

sisa.
Pengukuran risiko
Exit price dan perubahan exit price juga bisa menjadi indikasi
risiko keuangan pembelian aset. Misalnya, jika sebuah perusahaan
pembelian aset dengan exit price yang berbeda secara signifikan dari entry
price, maka aset tersebut adalah proposisi berisiko. Informasi keuangan
menunjukkan bahwa pembelian aset tersebut harus merupakan proposisi
jangka panjang dimana nilai ekonomi yang ditemukan oleh nilai pakai,
Sebaliknya, jika exit price meningkat secara drastis, biaya peluang
meningkat kembali dan harus dioperasikan dengan lebih efisien.

4.

Argumen Penentang Akuntansi untuk Exit Price

Argumen yang bertentangan dengan exit price yang harus mengukur


peristiwa masa lalu, yang benar-benar terjadi, daripada yang mungkin terjadi jika
perusahaan melakukan sesuatu yang lain dari apa yang direncanakan.
Akuntansiexit price memiliki banyak hal yang ditentang oleh berbagai pihak
terutama dari
1.

Konsep laba
Mengingat bahwa keuntungan adalah ukuran efektivitas kinerja
aktual

perusahaan

dalam

menggunakan

sumber

daya

yang

dipercayakan, Bell menyatakan:


Aktiva tertentu telah dibeli dengan rencana operasi yang
direncanakan. Rencana itu, operasi-operasi, memang orang-orang yang
telah mengembangkan rencana harus dievaluasi alternatif-altenatif
tentang masa depan yang dianggap, dan tugas akuntan untuk
memberikan data untuk mengevaluasi.
Setelah evaluasi ini dibuat, perusahaan dapat memutuskan apakah
akan terus menggunakan aset yang diperoleh untuk tujuan tersebut
atau untuk menjualnya dan menggunakan hasil itu dalam beberapa
alternatif lain. Konsep bermakna laba, oleh karena itu pengukuran
kinerja dalam hal yang seharusnya.Hanya setelah rencana yang
diharapkan dalam hal hasil yang dibuat dapat kita melanjutkan ke
tahap berikutnya untuk menentukan apakah rencana itu harus diubah
dan aktiva yang dijual. Di sisi lain, keluar pengukuran harga
memerlukan konsep keuntungan di mana rencana selalu untuk
memaksimalkan setara kas aktiva bersih selama periode pendek
periode yang berurutan. Bell berpendapat bahwa untuk perusahaan lain
dari satu yang berkaitan dalam operasi perdagangan paling sederhana,
seperti yang diteliti oleh Strelling, 'seperti pandangan dari perusahaan,
tujuan dan modus yang berpikir, hanya akan tampaknya tidak berlaku.
Argumen yang bertentangan dengan exit price yang harus mengukur
peristiwa masa lalu, yang benar-benar terjadi, daripada yang mungkin

terjadi jika perusahaan melakukan sesuatu yang lain dari apa yang
2.

direncanakan.
Sifat aditif
Pendukung exit price mengklaim bahwa pengukuran akuntansi,
jika mereka harus objektif, harus didasarkan hanya pada nilai masa
lalu dan kini. Perhitungan antisipasi tidak dapat ditambahkan bersamasama dengan angka saat ini.Pengkritik menunjukkan, bagaimanapun,
arus kas yang setara aset ditentukan berdasarkan asumsi likuidasi
bertahap dan teratur. Jika itu terjadi, peristiwa masa depan harus
diasumsikan ketika setara kas saat ini tercatat pada tanggal neraca.
Nilai realisasi untuk sebuah aset yang harus dijual segera di dalam
likuidasi mungkin memaksa sangat menyimpang dari likuidasi,
bertahap teratur.Jika, pada kenyataannya, antisipasi tidak dapat
dihindari dalam setara kas memastikan saat ini, maka model exit price

3.

sendiri melanggar prinsip eksklusi perhitungan antisipatif.


Penilaian kewajiban
Chambers berpendapat bahwa hutang obligasi secara efektif
berbentuk modal dan harus dinyatakan sebesar nilai nominal, bukan di
nilai pasar.Ini telah membuat inkonsistensi, karena obligasi sebagai
aktiva harus dinyatakan sebesar nilai pasar.Dalam pertahanan,
Chambers menyatakan bahwa pada waktu tertentu, terlepas dari harga
di pasar, perusahaan yang berutang kepada pemegang obligasi hanya
sebesar jumlah kontrak obligasi, karena itu adalah jumlah kontrak yang
relevan dalam menilai posisi keuangan saat ini.Dalam kebanyakan
kasus, ini setara dengan nilai nominal.Tapi kritikus tidak yakin karena,
menurut

definisi,

posisi

keuangan

menunjukkan

kemampuan

perusahaan untuk terlibat dalam transaksi.Hal ini secara logis


menyiratkan kemampuan perusahaan untuk pasar untuk membeli
4.

obligasi sendiri dengan harga pasar.


Current cost atau exit price.
Teori current cost berpendapat bahwa harga entri adalah ' metode
penilaian normal' dibandingakan exit price karena alasan berikut:
Menggunakan harga keluar (exit price) mengarah ke revaluasi

anomali atas perolehan karena segera setelah nilai pembelian

biasanya harga jatuh sehingga kurang dari harga perolehan.


Menggunakan harga keluar(exit price) menyiratkan
pendekatan jangka pendek untuk operasi bisnis karena salah

satu tertarik pada nilai-nilai disposisi dan likuidasi.


Menggunakan harga keluar (exit price) untuk persediaan
barang jadi mengarah pada antisipasi terhadap laba operasi
sebelum titik skala karena persediaan dinilai lebih dari biaya
saat ini.

LO 6 Nilai Pakai (Value In Use) Vs Nilai Tukar (Value In


Exchange)
Staubusmenunjukkan bahwa sejumlah faktor yang umum untuk setiap viewpoint :
a.
b.

Pengamatan harga pasar lebih relevan untuk pengambilan keputusan.


Keandalan yang dibutuhkan oleh sistem pengukuran, yaitu penilaian

c.

tidak bergantung pada alokasi subjektif.


Aditif (pengukuran) dari fenomena ekonomi adalah dibuat dalam satuan
yang sama, disesuaikan dengan pergerakan inflasi dan harga.

Ini dapat digambarkan oleh beberapa keputusan aturan sederhana yang


menggunakan kembali akuntansi dalam hubungannya dengan kebutuhan Net
Present Value (NPV):
a.

Jika CCA > EXA; dan CCA> NPV, maka aset memiliki nilai di saat ini

b.

digunakan - mempertahankan operasi saat ini.


Jika EXA> CCA; dan CCA > NPV, lalu melikuidasi aset saat ini yang
digunakan - dan terus-menerus aset tersebut beradaptasi untuk alternatif

investasi lainnya.
c. Jika EXA> CCA; dan CCA< NPV, maka melikuidasi dan menghentikan
semua operasi.

LO 7 Perspektif Global Dan International Financial Reporting


Standards
Current Cost Accounting ini telah direkomendasikan untuk digunakan, pada tahap
tertentu yaitu selama tahun 1970-an dan 1980-an di Amerika Serikat, Inggris dan
Australia dan kemudian ditinggalkan.

Current cost di Amerika Serikat


US Securities Exchange Commission telah melakukan percobaan terhadap
current cost namun ditolak dan berlangsung selama 1976-1984.
Current cost di Inggris
Pemerintahan Inggris pernah menerapkan Current Cost dan kemudian

ditinggalkan dan berlangsung selama 1975- 1984


Current Cost di Australia
Disarankan pada Professional Accounting Standards tapi dilupakan dan
berlangsung selama 1976- 1980
Kebanyakan sistem didasarkan pada modal fisik dan tidak mengakui holding
gains sebagai pendapatan. Pemeriksaan IFRS menunjukkan bahwa historical cost
accounting umumnya dipakai dan masih berlaku umum dari beberapa jenis nilai
standar akuntansi yang berlaku. Namun, metode pengukuran tidak secara
fundamental didorong oleh prinsip-prinsip yang nyata dan terakhir standarIASB
akuntansi

telah

mengambil

pendekatan

sedikit

demi

sedikit

untuk

penilaian. Menurut Horton dan Macve, IASB bergerak menuju pendekatan exit
price dan pada tahun 2004, mengusulkan sistem yang didasarkan pada akuntansi
nilai wajar di mana semua kenaikan nilai wajar akan dianggap menjadi bagian
dari laporan laba rugi.

Standar akuntansi internasional dan current cost


Gambaran umum di atas menunjukkan bahwa sejumlah negara di masa lalu
mengimplementasikan suatu bentuk telah melakukan upaya untuk current cost
accounting tapi sistem itu tidak diterapkan secara luas.Pada tahun 2004, AASB
menyetujui untuk mengadopsi yang standar akuntansi internasional untuk semua
entitas yang mempersiapkan pelaporan untuk pemakaian umum laporan keuangan

setelah 1 januari 2005.Standar IASB membuat lebih banyak yang menggunakan


fair value daripada GAAP.
Meskipun fair value biasanya diterima sebagai transaksi harga pasar, definisi dari
biaya transaksi tidak konsisten dan satu harga transaksi tidak secara konsisten
diterapkan IFRS.Fair value adalah harga biaya di mana saat pengakuisisi
memperoleh asset yang menjadi tanggal dari akuisisi.Setelah di akuisisi, setiap
entitas untuk setiap aset harus memilih model penilaian untuk digunakan. Semua
aset harus dihargai di bawah prinsip yang sama, tetapi tidak semua aset harus
menggunakan model penilaian yang sama. Dengan demikian, di bawah standar
akuntansi internasional definisi fair value dapat bervariasi secara substansial dari
biaya model untuk harga beli dan harga jual untuk model pengukuran berdasarkan
arus kas.

Bagaimana historical cost diterapkan?


Mendasari penerimaan objektivitas biaya historis adalah asumsi dari transaksi
ketentuan pasar yang wajar dan panjang yang terlibat dalam baik pembeli dan
penjual untuk kepentingan mereka sendiri.Namun, harus diingat bahwa biaya
perolehan aset dalam akuntansi tidak hanya harga faktur.Hal ini umumnya
dianggap sebagai kebutuhan untuk pengeluaran membawa asset ke kondisi yang
ada.Ada berbagai item yang dapat dimasukkan dari biaya aset tersebut. Sebagai
contoh, menurut paraghraph 7 dari AAS 2, berarti biaya persediaan agregat:
1.
2.
3.

Biaya pembelian
Biaya konversi, dan
Biaya lain;

Dengan demikian, dalam akuntansi biaya historis dasar utama untuk mengukur
persediaan pada tanggal neraca adalah biaya. The United States Committee on
Accounting Procedure menganggap aturan tersebut akan lebih mudah dinyatakan
daripada diterapkan. Dalam prakteknya, tidak mengherankan untuk menemukan
variasi dalam penerapan prosedur.Aturan dinyatakan oleh Kieso dan Weygandt
menetapkan biaya angkut sebagai biaya persediaan, tetapi dalam prakteknya
beberapaperusahaan mengecualikannya.Sebagian besar perusahaan mengabaikan

biaya penyimpanan dalam biaya persediaan. Jelas,penghakiman diperlukan dalam


memastikan harga akuisisi aset. Hal ini juga jelas bahwa praktik tidak konsisten.
Sehubungan dengan kriteria untuk mengukur aset, SAC 4 menyatakan suatu aset
harus diakui dalam laporan posisi keuangan jika:
1.

Besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan diwujudkan dalam aset

2.

akan terwujud,
Aset memiliki nilai biaya atau tindakan lainnya yang dapat dipercaya.

Salah satu isu akuntansi utama yang timbul sehubungan dengan aset tidak lancar
yaitu apakah mereka memenuhi syarat sebagai aset atau tidak, tapi apa yang harus
dimasukkan sebagai bagian dari biaya aset tidak lancar. Mayoritas aset tidak
lancar dalam neraca Australia dicatat sebesar harga perolehan disusutkan, atau
dinilai kembali dan biaya disusutkan.Namun, perhitungan penyusutan melibatkan
penilaian subyektif dalam menentukan baik kehidupan manfaat aset dan
memperkirakan nilai sisanya. Ini tidak bisa dianggap obyektif karena mereka
masih ada di masa depan.

Sistem Pengukuran Campuran Dan Standar Internasional


Meskipun dalam standar pelaporan keuangan internasional penilaian pasar
dilakukan dengan pendekatan nilai wajar, pendekatan ini dilakukan tidak
beraturan karena pada dasarnya lembaga pengatur akuntansi tidak memiliki
konsep

penilaian,capital

maintenance,

atau

pengukuran

pendapatan.

Staubusberpendapat bahwa mereka tidak benar-benar menerapkan teori decisionusefulness.Akan tepapi mereka menerapkan istilah mereka sendiri yaitu atribut
dari aset atau hutang daripada metode pengukuran yang unik.Hal inilah yang
menimbulkan sistem pengukuran campuran.
Miller dan Loftus berpendapat bahwa penggunaan informasi mengenai harga
pasar atau nilai sekarang membuat laporan keuangan semakin relevan.Meskipun
itu, mereka mengatakan bahwa pengambilan sebagian dari standar-standar

mengakibatkan kekurangan konsistensi dalam penentuan dasar penilaian.Hal


inilah mereka maksudkan sebagai sistem pengukuran campuran dan kekurangan
konsistensi. Uraian di bawah ini menunjukkan pergeseran dari nilai historis dan
penggunaan pengukuran yang berbeda dalam standar akuntansi internasional:
a.

IAS2/AASB 102: mengijinkan pengukuran persediaan dengan net


realisablevalue

bahkan

jika

nilainya

diatas

biayauntuk

produsen produk persediaan pertanian, hutan, mineral, dan broker


persediaan komoditas.
b. IAS 16/AASB 116: Peralatan (property, plant and equipment) dinilai
berdasarkan nilai historis atau nilai setelah revaluasi dimana nilai setelah
revaluasi adalah nilai wajar dikurangi akumulasi depresiasi sebelumnya
dan kerugian impairment.
c. IAS 16/AASB 117: leasehold interest tanah dihitung sebagai investment
property dan diukur pada nilai wajar dengan perubahan nilai diakui
sebagai laba atau rugi pada laporan laba rugi.
d. IAS 19/AASB 119: pengukuran curtailment gain or lossmeliputi : a)
perubahan nilai sekarang dari benefit obligation yang telah ditentukan,
b) perubahan dalam nilai wajar atas aset peralatan, dan c) bagian pro rata
yang berkaitan dengan laba atau rugi aktuaria.
e. IAS 29/AASB 129: penyesuaian atas laporan keuangan dari suatu entitas
yang beroperasi dapa hiperinflasi ekonomi dapat dilakukan dengan
f.

indeks level harga umum.


IAS 36/AASB 136: impairment aset dimana aset dinilai dalam nilai yang
dapat dipulihkan, yang lebih tinggi dari nilai aset yang digunakan

g.

Current Cash Equivalent.


IAS 36/AASB 136: memperlakukan nilai residu dari aset sebagai

current cash equivalent.


h. IAS 37/AASB 137: pengukuran provisi ditentukan berdasarkan metode
i.

nilai sekarang yang diharapkan.


IAS 40/AASB 140: Investasi properti dapat diukur dengan pilihan a)
impairment berdasarkan biaya depresiasi dan b) nilai wajar dengan
perubahan dimasukkan dalam laporan laba-rugi sebagai laba atau rugi.

LO 8 Issues For Auditors


Auditor harus memperoleh bukti yang cukup dan sesuai pada penyajian secara
wajar dan kepatuhan terhadap laporan keuangan. Berbagai risiko audit muncul
dengan model pengukuran campuran. Beberapa risiko ini ditangani oleh auditor
dengan mendapatkan penilaian ahli independen dan lainnya dengan menguji
asumsi dasar untuk manajemen dan input data ke model penilaian. Risiko dari
salah saji yang lebih tinggi dalam kondisi tertentu, seperti dalam keterlibatan
pihak terkait.

REFERENSI
Godfrey, J., Hodgson, A., Tarca, A., Hamilton, J., & Holmes, S. (2010).
Accounting Theory, 7th edition.
http://bdwinurcahyo.blogspot.co.id/2013/07/exit-price-accounting-accountingtheory.html (tanggal akses : 30 Oktober 2015)
http://id.scribd.com/doc/283580511/Makalah-TAK-Ch-6-AcccountingMeasurement-System#scribd (tanggal akses : 30 Oktober 2015)
http://bdwinurcahyo.blogspot.co.id/2013/07/exit-price-accounting-accountingtheory.html(tanggal akses : 30 Oktober 2015)
http://akuntansisangatmudah.blogspot.co.id/2014/04/sistem-pengukuranakuntansi.html(tanggal akses : 30 Oktober 2015)
https://wahbranz.wordpress.com/2012/12/18/biaya-histori-historical-cost/ (tanggal
akses : 30 Oktober 2015)