Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Dengan meningkatnya mobilitas manusia terutama di kota-kota besar, kasus
kecelakaan lalu lintas akan meningkat frekuensinya. Penggunaan helm pengaman yang
sesuai dengan peraturan yang ditetapkan diharapkan akan mengurangi beratnya
perlukaan kepala pada pengendara sepeda motor. Pada kecelakaan lalu lintas biasanya
kepala yang bergerak terbentur atau terpelanting pada benda yang diam. Kepala yang
diam yang dibentur oleh benda yang bergerak terjadi bila kepala tertimpa sesuatu atau
dipukul. Kemungkinan yang lebih jarang terjadi ialah kepala yang tidak dapat bergerak
karena tertahan sesuatu mengalami benturan yang menggencetnya.(1)
Statistik negara-negara yang sudah maju menunjukkan bahwa trauma capitis
mencakup 26% dari jumlah segala macam kecelakaan, yang mengakibatkan seseorang
tidak bisa bekerja lebih dari satu hari sampai selama jangka panjang. Kurang lebih 33%
kecelakaan yang berakhir pada kematian menyangkut trauma capitis. Diluar medan
peperangan lebih dari 50% dari trauma capitis terjadi karena kecelakaan lalu lintas,
selebihnya dikarenakan pukulan atau jatuh. Orang-orang yang mati karena kecelakaan,
40% sampai 50% meninggal sebelum mereka tiba di rumah sakit. Dari mereka yang
dimaksukkan rumah sakit dalam keadaan masih hidup 40% meninggal dalam satu hari
dan 35% meninggal dalam satu hari dan 35% meninggal dalam satu minggu perawatan.
(2)

Jika kita meneliti sebab dari kematian dan cacat yang menetap akibat trauma
Capitis, maka 50% ternyata disebabkan oleh trauma secara langsung dan 50% yang
tersisa disebabkan oleh gangguan peredaran darah sebagai komplikasi yang terkait
secara tidak langsung pada trauma. Komplikasi itu berupa perubahan tonus pembuluh
darah serebral, perubahan-perubahan yang menyangkut sistem kardiopulmonal yang
bisa menimbulkan gangguan pada tekanan darah, PO 2 arterial atau keseimbangan asambasa.(2)
Trauma berarti luka atau jejas. Trauma bisa timbul akibat gaya mekanik, tetapi
bisa juga karena gaya non-mekanik. Walaupun kebanyakan trauma bersifat mekanik,
namun adalah penting juga untuk sekaligus dibahas efek trauma non-mekanik terhadap
susunan saraf, oleh karena masih belum mendapat perhatian yang semestinya.(2)

Trauma Kapitis

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang
menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural atau
gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat, 2009). Menurut Brain Injury
Association of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan
bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau
benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang
mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois,
Rutland-Brown, Thomas, 2006).(3)
2.2 Karakteristik Penderita Trauma Kepala
2.2.1 Jenis Kelamin
Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih banyak
mengalami trauma kepala kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih tua
perbandingan hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua
disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma
kepala adalah 3,4:1 (Jagger, Levine, Jane et al., 1984).(3)
Menurut Brain Injury Association of America, laki-laki cenderung mengalami
trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan (CDC, 2006).(3)
2.2.2 Umur
Resiko trauma kepala adalah umur 15-30 tahun, hal ini disebakan karena
pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol, narkoba dan
kehidupan sosial yang tidak bertanggung jawab (Jagger, Levine et al., 1984).
Menurut Brain Injury Association of America, dua kelompok umur mengalami
risiko yang tertinggi adalah dari 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun
(CDC, 2006)(1)
2.3 Jenis Trauma Kapitis
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi
trauma (Sastrodiningrat, 2009). Cedera yang tampak pada kepala bagian luar
terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kepala tertutup dan
Trauma Kapitis

terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen tengkorak yang


masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord
Organization 2009, mengatakan trauma kepala tertutup adalah apabila suatu
pukulan yang kuat pada kepala yang secara tiba-tiba sehingga menyebabkan
jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai
kepada durameter. (Anderson, Heitger, and Macleod, 2006). Kemungkinan
kecederaaan atau trauma adalah seperti berikut:
a) Fraktur
Menurut American Accreditation Health care Commision, terdapat 4 jenis
fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depresed fracture,
compound fracture. Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut:

Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit


Linear or Hairline : retak pada cranial yang berbentuk garis halus tanpa

depresi, distorsi dan spintering


Depressed : retak pada cranial dengan depresi ke arah otak.
Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak.
Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner, 2008)

Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak atau
kelainan pada bagian cranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada
4% pasien yang mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000;
Orlando Regional Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan
fraktur basis cranii yaitu rhinorrhea (cairan serebrospinal keluar dari rongga
hidung) dan gejala raccons eye (penumpukan darah pada orbital mata). Tulang
pada foramen magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan
pembuluh darah. Fraktur basis cranii bisa terjadi pada fossa anterior, media dan
posterior (Garg, 2004)
Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang
merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur pada
bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilaris (Garg, 2004)(3)
b) Laserasi (luka robek atau koyak)

Trauma Kapitis

Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul
atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata
tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila
terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya
terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan
biasanya pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.(3)
c) Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana
pembuluh darah (kailer) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya,
kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar
pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung
otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat
terlihat di CT-Scan atau MRI (agnetic Resonance imaging) seperti luka besar.
Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang
di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat
kesadaran (Corrigan, 2004)(3)
d) Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,
tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang cranial. Dengan kata lain
intak kulit pada cranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2000).(3)
e) Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka
ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada
jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung
syaraf yang rusak.(3)
Lesi yang dapat timbul pada trauma kepala(1)
1. Kulit kepala robek atau mengalami pendarahan subkutan
2. Otot-otot dan tendo pada kepala mengalami kontusio
3. Perdarahan terjadi di bawah galea aponeurotika
4. Tulang tengkorak patah
5. Geger otak (komosio serebri)
6. Edema serebri traumatik
7. Kontusio serebri
8. Perdarahan subaraknoidal
9. Perdarahan epidural
Trauma Kapitis

10. Perdarahan subdural


Hematom epidural adalah suatu hematom yang cepat terakumulasi di antara
tulang tengkorak dan duramater, biasanya disebabkan oleh pecahnya arteri
meningea media. Ditandai oleh adanya penurunan kesadaran yang mulai bukan
pada detik trauma tetapi lebih lambat (kecuali tertutup koma kontusio), defisit
neurologik lambat, anisokoria (penekanan batang otak dari jarak jauh oleh masa
hemisferik sesisi), bradikardia, tensi naik, maka kecurigaan akan hematoma
epidural makin jelas dan deteksi dini harus dimulai dengan CT atau arteriografi
cito. Begitu ditegakkan hematom epidural, terapi (bedah, burrhole, trepanasi)
harus segera dilaksanakan.(4)

Gambar 1: Hematom epidural

Hematom subdural kumpulan darah terdapat di ruangan yang normalnya hanya


imajiner di antara dura mater dan arakhnoid. Penyebab biasanya adalah trauma.
(5)

1. Perdarahan subdural akut terjadi pada trauma kepala berat. Keadaan ini
memiliki prognosis yang buruk, tidak hanya karena darah di subdural itu saja,
tetapi karena sangat sering berkaitan dengan cedera parenkimal di sekitarnya.
Letalitasnya dapat mencapai sekitar 50%. Manifestasi klinis perdarahan
subdural ditentukan oleh lokasi dan luas cedera parenkimal yang sesuai.(5)
2. Perdarahan subdural kronik etiologinya masih belum dipahami secara
lengkap. Sering didapatkan satu atau beberapa kali riwayat trauma kepala ringan
sebelumnya. Kumpulan cairan terletak di antara membran dura interna dan
arakhnoid dan kemungkinan berasal dari perdarahan bridging vein sebelumnya.
Pada fase kronik, jaringan granulasi ditemukan di dinding hematoma. Jaringan
ini dianggap sumber perdarahan berulang sekunder ke dalam kumpulan cairan
Trauma Kapitis

sehingga kumpulan cairan ini membesar secara perlahan-lahan dan bukan


diabsorpsi.(5)

Gambar 2 : Hematom subdural

Kontusio adalah perdarahan kecil (ptechiae) disertai edema pada parenkim otak.
Dapat timbul perubahan patologi pada tempat cedera (coup) atau di tempat yang
berlawanan dari cedera (contre coup).

Gambar 3 : Kontusio

Hematom intraserebral biasanya terjadi karena cedera kepala berat, ciri


khasnya adalah hilang kesadaran dan nyeri kepala beratsetelah sadar kembali.

Gambar 4 : Hematom intraserebral

Trauma Kapitis

Hematom subaraknoid adalah perdarahan yang terdapat pada ruang


subaraknoid, biasanya disertai hilang kesadara, nyeri kepala berat dan perubahan
status mental yang cepat.

Gambar 5 : Hematom subaraknoid

2.4 Klasifikasi
Trauma capitis dapat dibagi 3 kelompok berdasarkan nilai GCS, (Glasgow
Coma Scale) yaitu:
1. CKR (Cedera Kepala Ringan):
GCS > 13
Tidak terdapat kelainan pada CT scan otak
Tidak memerlukan tindakan operasi
Lama dirawat di RS < 48 jam
2. CKS (Cedera Kepala Sedang):
GCS 9-13
Ditemukan kelainan pada CT scan otak
Memerlukan tindakan operasi untuk lesi intrakranial
Dirawat di RS setidaknya 48 jam
3. CKB (Cedera Kepala Berat) bila dalam waktu 48 jam setelah trauma, nilai
GCS <9
2.5 Diagnosis
Pemerikasaan Fisik

Glasgow Coma Scale (GCS)


Membuka Mata (E)
- Spontan
- Terhadap Suara
- Dengan rangsang nyeri
- Tidak ada reaksi

Trauma Kapitis

Score
4
3
2
1

Respons Verbal (V)


Baik, tidaka ada disorientasi
Kacau/confused
Tidak tepat
Mengerang
Tidaka ada jawaban

Score
5
4
3
2
1

Respons Motorik (M)


Menurut perintah
Melokalisasi nyeri
Reaksi menghindar
Reaksi fleksi (dekortikasi)
Reaksi ekstensi (deserebrasi)
Tidak ada reaksi

Score
6
5
4
3
2
1

2.6 Pemeriksaan Penunjang

Foto Polos Kepala


Foto polos kepala/otak memiliki sensitifitas yang rendah dalam
mendeteksi perdarahan intrakranial. Pada era CT-Scan, foto polos kepala mulai
ditinggalkan.

CT-Scan Kepala
CT-Scan kepala merupakan standard baku untuk mendeteksi perdarahan
intrakranial. Semua pasien dengan GCS < 15 sebaiknya menjalani pemeriksaan
CT scan, sedangkan pada pasien dengan GCS 15, CT scan dilakukan hanya
dengan induksi tertentu seperti:
- Nyeri kepala hebat
- Adanya tanda-tanda fraktur basis cranii
- Adanya riwayat cedera yang berat
- Muntah lebih dari 1 kali
- Penderita lansia (usia> 65 tahun) dengan penurunan kesadaran atau amnesia
- Kejang
- Riwayat gangguan vaskuler atau menggunakan obat-obat antikoagulan
- Amnesia, gangguan orientasi, berbicara, membaca, dan menulis
- Rasa baal pada tubuh
- Gangguan keseimbangan atau berjalan

MRI Kepala
MRI adalah teknik pencitraan yang lebih sensitif dibandingkan dengan
CT-scan; kelainan yang tidak tampakpada CT-scan dapat dilihat pada MRI.
Namun, dibutuhkan waktu pemeriksaan lebih lama dibandingkan dengan CT
scan sehingga tidak sesuai dalam situasi gawat darurat.

Trauma Kapitis

PET dan SPECT


Positron Emission Tomography (PET) dan Single Photon Emission
Computer Tomography (SPECT) mungkin dapat memperlihatkan abnormalitas
pada fase akut dan kronis meskipun CT Scan atau MRI dan pemeriksaan
neurologistidak memperlihatkan kerusakan. Namun, spesifitas penemuan
abnormalitas tersebut masih dipertanyakan. Saat ini, penggunaan PET atau
SPECT pada fase CKR masih belum direkomendasikan.(3)

2.7 Penatalaksaan
1. Survei Primer (Primary Survey)
Jalan Napas
Memaksimalkan oksigenasi dan ventilasi. Daerah tulang servikal harus
diimobilisasi dalam posisi netral menggunakan stiffneck collar, head block,
dan diikat pada alas yag kaku pada kecurigaan fraktur servikal.(3)

Pernapasan
Pernapasan dinilai dengan menghitung laju pernapasan, memperhatikan
kesimetrisan gerakan dinding dada, penggunaan otot-otot pernapasan
tambahan dan auskultasi bunyi napas dikedua aksila.(3)

Sirkulasi
Resusitassi cairan intravena, yaitu cairan isotonik, seperti Ringer Laktat
atau Normal Salin (20 ml/kgBB) jika pasien syok, transfusi darah 10-15
ml/kgBB harus dipertimbangkan.(3)

Defisit Neurologis
Status neurologis dinilai dengan menilai tingkat kesadaran, ukuran dan
reaksi pupil. Tingkat kesadaran dapat diklasifikasikan dengan GCS.(3)

Kontrol pemaparan/lingkungan
Semua pakaian harus dilepas sehingga semua luka dapat terlihat. Anak-anak
sering datang dengan keadaan hipotermia ringan karena permukaan tubuh
mereka lebih luas. Pasien dapat dihangatkan dengan alat pemancar panas,
selimut hangat, maupun pemeberian cairan intravena (yang telah
dihangatkan sampai 39oC) (3)

Trauma Kapitis

2. Survei Sekunder
Observasi ketat penting pada jam-jam pertama sejak kejadiancedera.
Bila telah dipastikan pendertita CKR tidaka memiliki masalah dengan
jalannapas, pernapasan dan sirkulasi darah, maka tindakan selanjutnya
adalah penanganan luka yang dialami akibat cedera disertai observasi tanda
vital dan

defisit neurologis. Selain itu, pemakaian penyangga leher di

indikasi jika :
Cedera kepala berat, terdapat fraktur klavikula dan jejas di leher
Nyeri pada leher atau kekakuan pada leher
Rasa baal pada lengan
Gangguan keseimbangan atau berjalan
Kelemahan umum.

Bila setelah 24 jam tidak ditemukan kelainan neurologis berupa:


Penurunan kesadaran (menurut skala koma Glasgow) dan observasi awal
Gangguan daya ingat
Nyeri kepala hebat
Mual dan muntah
Kelainan neurologis fokal (pupil anisokor, refleks patologis)
Fraktur melalui foto kepala maupun CT scan, maka penderita dapat
meninggalkan rumah sakit dan melanjutkan perawatanya di rumah. Namun,
bila tanda-tanda di atas ditemukan pada observasi 24 jam pertama, penderita
harus dirawat di rumah sakit dan observasi ketat. Status cedera kepala yang
dialami menjadi cedera kepala sedang atau berat dengan penanganan yang
berbeda.
Bila pada CT scan kepala kepala ditemukan hematom epidural (EDH)
atau hematom subdural (SDH), maka indikasi bedah adalah :

Indikasi bedah pada perdarahan epidural (EDH)


EDH simtomatik
EDH asimtomatik akut berukuran paling tebal > 1cm
EDH padapasien pediatri
Indikasi bedah pada perdarahan subdural (SDH)
SDH simtomatik
SDH dengan ketebalan > 1 cm pada dewasa atau > mm pada pediatri

2.8 Terapi
Tindakan yang diambil pada keadaan kontusio berat ditujukan untuk mencegah
meningginya tekanan intrakranial.
1. Usahakan jalan napas yang lapang dengan:
- Membersihkan hidung dan mulut dari darah dan muntahan
Trauma Kapitis

10

- Melonggarkan pakaian yang ketat


- Menghisap lendir dari mulut, tenggorok dan hidung
- Untuk amanya gigi palsu perlu dikeluarkan
- Bila perlu pasang pipa endotrakea atau lakukan tindakan trakeotomi
- O2 diberikan bila tidak ada hiperventilasi
2. Hentikan perdarahan
3. Bila ada ftraktur pasang bidal untuk fiksasi
4. Letakkan pasien dalam posisi miring hingga bila muntah dapat bebas keluar
dan tidak mengganggu jalan napas.
5. Berikan profilaksis antibiotika bila ada luka-luka yang berat.
6. Bila ada syok, infus dipasang untuk memberikan cairan yang sesuai.bila tidak
ada syok, pemasangan infus tidak perlu dilakukan dengan segera dan dapat
menunggu hingga keesokan harinya. Pada hari pertama

pemberian infus

berikan 1.5 liter cairan/hari, yag 0.5 liter adalah NaCl 0.9% bila digunakan
glukosa, pakailah yang 10% untuk mencegah menghebatnya edema otak dan
kemungkinan timbulnya edema pulmonum. Setelah hari ke-4 jumlah cairan
perlu ditambah 2.5 liter/24 jam. Bila bising usus sudah terdengar, baik diberi
makanan cair per sonde. Mula-mula dimasukkan glukosa 10% 100 cm3 tiap 2
jam untuk menambah kekurangan cairan yang telah masuk dengan infus. Pada
hari berikutnya diberi susu dan pada hari berikutnya lagi, makanan cair lengkap
2-3 kali perhari, 2000 kalori, kemudian infus dicabut.
7. Pada keadaan edema otak yang hebat diberikan manitol 20% dalam infus
sebanyak 250 cm3 dalam waktu 30 menit yang dapat diulangitiap 12-24 jam
8. Furosemida intramuskular 20 mg per 24 jam, selain meningkatkan diuresis
berkhasiat mengurangi pembentukan cairan otak
9. Untuk menghambat pembentukan edema serebri diberikan deksametason dalam
rangkaian pengobatan sebagai berikut:
- Hari I
: 10 mg intravena diikuti 5 mg tiap 4 jam
- Hari II
: 5 mg intravena tiap 6 jam
- Hari III : 5 mg intravena tiap 8 jam
- Hari IV-V : 5 mg intramuskular tiap 12 jam
- Hari VI : 5 mg intramuskular
10. Pemantauan keadaan penderita selain keadaan umumnya perlu di periksa secara
terartur PCO2 sekitar 42 mmHg dan PCO2 di atas 70 mmHg.
Selanjutnya ialah perawatan dalam keadaan koma.(1)
2.9 Komplikasi Trauma Kapitis
Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin berat kualitas trauma kepala,
semakin besar kemungkinan timbulnya akibat jangka panjang, meskipun ada
beberapa kelainan neurologik yang tidak berkaitan dengan berat-ringanya trauma
Trauma Kapitis

11

kepala, yaitu afasia, hemianopia dan hemiparesis. Sementara itu yang tidak erat
kaitanya dengan kualitas trauma kepala ialah anosmia, nyeri kepala, vertigo dan
epilepsi.
Beberapa peneliti sependapat bahwa kualitas trauma kepala dapat ditentukan
dari lamanya postraumatic amnesia, yaitu jangka waktu antara saat trauma sampai
dengan penderita sadar kembali, yang ditandai pulihnya orientasi penderita
terhadap diri sendiri, waktu dan tempat.(4)
2.10 Prognosis
Pasien dengan GCS yang rendah pada 6-24 jam setelah trauma, prognosisnya
lebih buruk daripada pasien dengan GCS 15.

BAB III
KESIMPULAN
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada
kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas.
Disamping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah
sakit, penilaian dan tindakan awal di ruang gawat darurat sangat menentukan
penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya. Berat ringanya daerah otak yang
mengalami cedera akibat trauma kapitis bergantung pada : besar dan kekuatan benturan,
arah dan tempat benturan, sifat dan keadaan kepala sewaktu menerima benturan
benturan.

Trauma Kapitis

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Harsono. 2009. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
2. Mardjono, Mahar dkk. 2013. Neurologis Klinis Dasar. Jakarta : Dian
Rakyat
3. Dewanto, George dkk. 2009. Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf.
Jakarta : EGC
4. Harsono. 2011. Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press
5. Baehr, Mathias. 2010 Diagnosis topik neurologi Duus : anatomi, fisiologi,
tanda, gejala.Jakarta : EGC

Trauma Kapitis

13