Anda di halaman 1dari 5

Pancasila Sebagai Sistem Nilai

A. PENGERTIAN NILAI
Ada beberapa pengertian dari nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu,
menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia yang pada hakikatnya melekat pada suatu
objek. Sesuatu mengandung nilai artinya ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu
itu. Nilai juga merupakan kenyataan tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya.
Menilai berarti menimbang, artinya suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan denagn
sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan denagn menyatakan
sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek, suci atau berdosa.
Nilai bagi manusia dipakai dan diperlukan untuk menjadi landasan alas an, motivasi dalam
segala sikap, tingkah laku dan perbuatannya. Karena pada kenyataannya bahwa ada orang
yang sengaja dan sadar melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kesadaran akan nilai
yang diketahui dan diyakini.
B. MACAM-MACAM NILAI
1. Walter G. Everet, menggolongkan nilai-nilai manusiawi menjadi 8 kelompok :
a. Nilai ekonomis
Ditunjukkan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang dapat dibeli.
Misalnya : emas atau logam mulia, mempunyai nilai ekonomis daripada seng, kemanfaatan,
kedayagunaan.
b.Nilai kejasmanian
Mengacu pada kesehatan, efisieni, dan keindahan badan.
Misalnya: kebugaran,kesehatan, kemulusan tubuh, dan kebersihan.
c. Nilai hiburan
Yaitu nilai-nilai permainan dan waktu senggang yang dapat menyumbang pada pengayaan
kehidupan.
Misalnya : kenikmatan rekreasi, keharmonian music, dan keselarasan nada.
d. Nilai social
Berasal mula dari perbagai bentuk perserikatan manusia. nilai social dalam masyarakat
biasanya tumbuh berdasarkan status yang dimiliki orang tersebut.

Misalnya : kerukunan, persahabatan, persaudaraan, kesejahteraan, keadilan, kerakyatan, dan


persatuan.
e. Nilai watak
Merupakan keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan social yang diinginkan.
Misalnya : kejujuran, kesederhanaan, dan kesetiaan.
f. Nilai estetis
Yaitu nilai-nilai keindahan dalam alam dan karyaseni.
Misalnya : keindahan, keselarasan, keseimbangan, dan keserasian.
g.Nilai intelektual
Merupakan nilai-ilai pengetahuan dan pengajaran kebenaran.
Misalnya : kecerdasan, ketekunan, kebenaran dan kepastian.
h.Nilai keagamaan
Yaitu nilai-nilai yang ada dalam agama.
Misalnya : kesucian, keagungan Tuhan, keesaanTuhan, dan keibadahan.
2. Notonagoro membagi nilai menjadi tiga, yaitu:
a. Nilai material
Yaitu, segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
Misalnya: kebutuhan makan, minum, sandang, papan, kesehatan, dll.
b.Nilai vital
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau
aktivitas.
Misalnya: semangat, kemauan, kerja keras, ketekunan, dll.
c. Nilai kerohanian
Yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia. Nilai kerohanian dapat dibedakan
menjadi empat:
a. Nilai kebenaran
Merupakan nilai yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta manusia)

b. Nilai keindahan (nilai estetis)


Nilai yang bersumber pada perasaan.
c. Nilai kebaikan (nilai moral)
Nilai yang bersumber dari kehendak manusia (will, wollen, karsa manusia)
d. Nilai religious
Merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak, bersumber pada kepercayaan dan
keyakinan manusia.
3. Jenis-jenis nilai :
a. Nilai dasar
Nilai dasar masih bersifat abstrak karena masih dalam pemikiran manusia, sehingga harus
dijabarkan lebih lanjut agar dapat diterapkan dan dijadikan pedoman dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks hidup bernegara, Pancsila sebagai dasar Negara, dan asas kerohanian Negara
menjadi nilai dasar.
b.Nilai instrumental
Nilai instrumental merupakan penjabaran dari nilai dasar dengan cara interpretasi, dan masih
berupa rumusan umum yang berwujud norma-norma.
Nilai dasar dalam Pancasila dijabarkan lebih lanjut dalam nilai instrumental, yaitu berupa
UUD 1945 sebagai hokum dasar tertulis yang berisi norma-norma dalam mengatur
penyelenggaraan Negara.
c. Nilai praksis
Nilai instrumental dijabarkan lebih lanjut menjadi nilai praksis yang sifatnya konkrit dan
menunujuk pada sesuatu yang kontekstual, sehingga rumusan nilai praksis dapat diubah
dengan mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Misalnya, pasal 28 UUD 1945
dijabarkan dalam Undang-Undang tentang Ormas dan Orsospol.
C. SISTEM NILAI DALAM PANCASILA
Sistem dapat diartikan sebagai rangkaian yang saling berkaitan antara unsure yang satu
dengan yang lain.
System nilai adalah konsep atau gagasan yang menyeluruh mengenai apa yang hidup dalam
pikiran seseorang.
Pancasila sebagai system nilai mengandung serangkaian nilai yaitu ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Kaelan mengatakan bahwa niai-nilai Pancasila bersifat objektif, yaitu :


1. Rumusan dari sila-sila pancasila menunjkkan adanya sifat-sifat yang umum, universal
dan abstrak. Karena pada hakikatnya pancasila adalah nilai.
2. Inti nilai-nilai Pancasila berlaku tidak terikat oleh ruang. Artinya keberlakuannya
sejak jaman dahulu, masa kini dan juga untuk masa yang akan dating, untuk bangsa
Indonesia boleh jadi untuk Negara lain yang secara eksplisit tampak dalm adat
istiadat, kebudayaan, tata hidup kenegaraaan dan tata hidup beragama.
3. Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat sebagai
pokok kaidah negara yang fundamental, sehingga merupakan suatu sumber hokum
positif di Indonesia. Oleh karena itu hierarki suatu tertib hokum di Indonesia
berkedudukan sebagai tertib hukum tertinggi. Maka secara objektif tidak dapat diubah
secara hokum, sehingga melekat pada kelangsungan hidup Negara. Sebagai
konsekwensinya jikalau nilai-nilai yang terkandung dalam pembukaa UUD 45 itu
diubah maka sama halnya dengan membubarkan Negara proklamasi 17 Agustus 1945.
Darmodiharjo, mengatakan bahwa Pancasila bersifat subjektif, yaitu :
1. Nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia itu sendiri.
Nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila merupakan hasil dari pemikiran, panilaian, dan
refleksi filosofis dari bangsa Indonesia sendiri. Deologi pancasila berbeda denagn ideologyideologi lain karena isi pancasila diambil dari nilai budaya bangsa dan religi yang telah
melekat erat, sehingga jiwa pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia sendiri, sedangkan
ideology lain seperti liberalis, sosialis, komunis, dan lain sebagainya merupakan hasil dari
pemikiran filsafat orang.
2. Nilai-nilai Pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia.
Pancassila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia menjadi pedoman bangsa untuk
mengatur aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus menjadi cermin jati diri bangsa
yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran, keadilan, kebaikan, dan kebijaksanaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Nilai-nilai Pancasila merupakan nilai-nilai yangs sesuai dengan hati nurani bangsa
Indonesia, karena bersumber dari kepribadian bangsa. Sehingga dalam perjalanannya akan
selaras dengan nilai-nilai pancasila.
Dalam kehidupan bernegara, nilai dasar Pancasila harus tampak dalam produk peraturan
perundangan yang berlaku, dengan kata lain, peraturan perundangan harus dijiwai oleh nilainilai Pancasila, sehingga tidak boleh bertentangan denagn nilai-nilai Pancasila.
DAFTAR PUSTAKA

Rukiyati, M. Hum dkk. 2008. Pendidikan Pancasila. UNY Press: Yogyakarta.

Administrator. PANCASILA SEBAGAI SISTEM NILAI.Diambil pada tanggal


13 Oktober 2010 pukul 5:34, dari
http://anakuncen.blogsome.com/2008/12/28/pancasila-sebagai-sistem-nilai/
Juswan. Pancasila Dan Sistem Nilai-nilainya. Diambil pada tanggal 13 Oktober 2010 pukul
7:38, dari http://juswan44.multiply.com/journal/item/87/Pancasila_Dan_Sistem_Nilainilainya

aa_uzey. Pancasila Sebagai Sumber Nilai. Diambil pada tanggal 13 Oktober


2010 pukul 7:39, dari http://uzey.blogspot.com/2009/09/pancasila-sebagaisumber-nilai.html