Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tanggung Jawab Akuntan Publik


Akuntan adalah seseorang yang berhak menyandang gelar atau sebutan akuntan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Akuntan Publik adalah akuntan
yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan ini. Kantor Akuntan Publik yang selanjutnya disebut KAP,
adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan
Publik dalam memberikan jasanya. (PMK No. 17 tahun 2008, pasal 1).
Profesi akuntan publik (auditor independen) memiliki tangggung jawab yang sangat
besar dalam mengemban kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat (publik).
1. Statement Auditing Standards
Beberapa Statements on Auditing Standards (SAS) yang dikeluarkan oleh Auditing
Standards Board (ASB) di Amerika Serikat yang cukup penting adalah :
a. SAS No. 53 tentang The Auditors Responsibility to Detect and Report
Errors and Irregularities, yaitu mengatur tanggung jawab auditor untuk
mendeteksi dan melaporkan adanya kesalahan (error) dan ketidakberesan
(irregularities).
b. SAS No. 55 tentang Consideration of Internal Control in a Financial
Statement Audit, yang merubah tanggung jawab auditor mengenai internal
control. Statement yang baru ini meminta agar auditor untuk merancang
pemahaman tentang pengendalian intern yang memadai (internal control
sufficient) dalam merencanakan audit. SAS No. 55 kemudian diperbaharui
dengan diterbitkan SAS No. 78 pada tahun 1997, dengan mencantumkan
definisi ulang pengendalian intern (redefined internal control) dengan
memasukkan dua komponen yaitu lingkungan pengendalian (control
environment) dan penilaian risiko (risk assessment) yang merupakan usulan
dari the Treadway Commission.

c. SAS No. 61 mengatur tentang komunikasi antara auditor dengan komite


audit perusahaan (Communication with Audit Committees). Auditor harus
mengkomunikasikan dengan komite audit atas beberapa temuan audit yang
penting, misalnya kebijakan akuntansi (accounting policy) perusahaan yang
signifikan, judgments, estimasi akuntansi (accounting estimates), dan
ketidaksepakatan manajemen dengan auditor.
d. SAS No. 82 Consideration of Fraud in a Financial Statement
Audit dikeluarkan ASB pada Februari 1997. SAS no. 82 menyatakan
bahwa auditor harus bertanggung jawab untuk mendeteksi dan melaporkan
adanya kecurangan (fraud) yang terjadi dalam laporan keuangan yang disusun
oleh manajemen. Selaij itu, SAS no. 82 juga menyatakan bahwa setiap
melakukan

audit

auditor

harus

menilai

risiko

(assessment

of

risk) kemungkinan terdapat salah saji material (material misstatement) pada


laporan keuangan yang disebabkan oleh fraud.
e. SAS No. 99 Consideration of Fraud in a Financial Statement
Audit merupakan revisi dari SAS No. 82 dan mulai diberlakukan efektif
untuk audit laporan keuangan setelah tanggal 15 Desember 2002, penerapan
lebih awal sangat dianjurkan. Auditor bertanggungjawab untuk merencanakan
dan melaksanakan audit guna mendapatkankeyakinan memadai (reasonable
assurance) bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang
disebabkan oleh kekeliruan (error) maupun kecurangan (fraud).
Pengaruh SAS No. 99 terhadap tanggung jawab auditor antara lain :

Tidak ada perubahan atas tanggung jawab auditor untuk mendeteksi fraud

atas audit laporan keuangan.


Tidak ada perubahan atas kewajiban auditor untuk mengkomunikasikan

temuan atas fraud.


Terdapat perubahan

penting

terhadap

prosedur

audit

(audit

procedure) serta dokumentasi yang harus dilakukan oleh auditor atas


audit laporan keuangan.
Dua tipe salah saji (misstatements) yang relevan dengan tanggung
jawab auditor, yaitu salah saji yang diakibatkan oleh fraudulent financial

reporting dan salah saji yang diakibatkan oleh penyalahgunaan asset


(misappropriation of assets).SAS No. 99 juga menegaskan agar auditor
independen memiliki integritas (integrity) serta menggunakan kemahiran
professional (professional skepticism) melalui penilaian secara kritis (critical
assessment) terhadap bukti audit (audit evidence) yang dikumpulkan.
f. SAS No. 110 Fraud & Error dinyatakan bahwa auditor harus dapat
mendeteksi terhadap kesalahan material (material mistatement) dalam
laporan keuangan yang ditimbulkan oleh kecurangan atau kesalahan (fraud
or error). SAS 110 , paragraf 14 & 18 berbunyi sbb. :
Auditors plan, perform and evaluate their audit work in order to have a
reasonable expectation of detecting material misstatements in the financial
statements arising from error or fraud. However, an audit cannot be expected
to detect all errors or instances of fraudulent or dishonest conduct. The
likelihood of detecting errors is higher than that of detecting fraud, since
fraud is usually accompanied by acts specifically designed to conceal its
existence
2. SPAP
1

Tanggung Jawab Moral (Moral Responsibility)


Akuntan publik memiliki tanggung jawab moral untuk:

Memberi informasi secara lengkap dan jujur mengenai perusahaan yang


diaudit kepada pihak yng berwenang atas informasi tersebut, walaupun

tidak ada sanksi terhadap tindakannya.


Mengambil keputusan yang bijaksana dan obyektif (objective) dengan
kemahiran profesional (due professional care).

Tanggung Jawab Profesional (Professional Responsibility)


Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab profesional terhadap asosiasi
profesi yang mewadahinya (rule professional conduct).

Tanggung Jawab Hukum (Legal Responsibility)

Akuntan publik harus memiliki tanggung jawab diluar batas standar


profesinya yaitu tanggung jawab terkait dengan hukum yang berlaku.Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) dalam Standar Auditing Seksi 110, mengatur tentang Tanggung
Jawab dan Fungsi Auditor Independen. Pada paragraf 2, standar tersebut antara
lain dinyatakan bahwa auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan
melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah
laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh
kekeliruan atau kecurangan.
Laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen. Tanggung
jawab auditor adalah untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan.
Manajemen bertanggung jawab untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sehat
dan untuk membangun dan memelihara pengendalian intern yang akan, di
antaranya, mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan transaksi (termasuk
peristiwa dan kondisi) yang konsisten dengan asersi manajemen yang tercantum
dalam laporan keuangan. Auditor independen dapat memberikan saran tentang
bentuk dan isi laporan keuangan atau membuat draft laporan keuangan,
seluruhnya atau sebagian, berdasarkan informasi dari manajemen dalam
pelaksanaan audit. Namun, tanggung jawab auditor atas laporan keuangan auditan
terbatas pada pernyataan pendapatnya atas laporan keuangan tersebut. (SA 110
No. 3)
Auditor independen juga bertanggung jawab terhadap profesinya,
tanggung jawab untuk mematuhi standar yang diterima oleh para praktisi rekan
seprofesinya. Dalam mengakui pentingnya kepatuhan tersebut, Ikatan Akuntan
Indonesia telah menerapkan aturan yang mendukung standar tersebut dan
membuat basis penegakan kepatuhan tersebut, sebagai bagian dari Kode Etik
Ikatan Akuntan Indonesia yang mencakup Aturan Etika Kompartemen Akuntan
Publik.
Bidang jasa akuntan publik meliputi:

Jasa Atestasi, termasuk di dalamnya adalah audit umum atas laporan


keuangan, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, pemeriksaan atas
pelaporan informasi keuangan proforma, review atas laporan keuangan, dan
jasa audit serta atestasi lainnya.

Jasa Non-atestasi, yang mencakup jasa yang berkaitan dengan akuntansi,


keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi.

TANGGUNG JAWAB DAN TUJUAN AUDIT SERTA BUKTI AUDIT DAN KERTAS KERJA
A. Tanggung Jawab dan Tujuan Audit
TUJUAN PELAKSANAAN AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN
Tujuan audit atas laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat tentang
kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil operasi, serta arus kas
sesuai dengan prinsip-pinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP).
Langkah-langkah untuk mengembangkan tujuan audit:

Memahami tujuan dan tanggung jawab audit

Membagi laporan keuangan menjadi berbagai siklus

Mengetahui asersi manajemen tentang laporan keuangan

Mengetahui tujuan audit umum untuk kelas transaksi, akun, dan pengungkapan

Mengetahui tujuan audit khusus untuk kelas transaksi, akun, dan pengungkapan

TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN

Tanggung jawab untuk mengadopsi kebijakan akuntansi yang baik,


menyelenggarakan pengendalian internal yang memadai, dan menyajikan laporan
keuangan yang wajar berada di pundak manajemen, bukan di pundak auditor.

Tanggung jawab manajemen atas kewajaran penyajian (asersi) laporan keuangan


berkaitan dengan privilege untuk menentukan penyajian dan pengungkapan apa

yang dianggap perlu. Jika manajemen bersikeras dengan pengungkapan laporan


keuangan yang menurut auditor tidak dapat diterima, auditor dapat memilih untuk
menerbitkan pendapat tidak wajar atau wajar dengan pengecualian atau
mengundurkan diri dari penugasan tersebut.

Sarbanes-Okley Act mengharuskan CEO dan CFO untuk menyatakan bahwa


laporan keuangan telah sesuai dengan persyaratan Security Exchange Act tahun
1934 dan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan disajikan secara
wajar, dalam semua hal yang material serta menandatangani laporan keuangan.

TANGGUNG JAWAB AUDITOR


Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna memperoleh
kepastian yang layak tentang apakah laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material,
apakah itu disebabkan oleh kekeliruan ataupun kecurangan. Auditor tidak bertanggung jawab
untuk mendeteksi salah saji yang tidak material.
1. Salah Saji yang Material vs Tidak Material
Tingkat materialitas diukur dari kemungkinan salah saji atas laporan keuangan untuk
mempengaruhi atau bahkan mengubah keputusan pengguna laporan keuangan. Auditor
bertanggung jawab untuk memperoleh kepastian yang layak bahwa ambang batas materialitas
telah dipenuhi. Sedangkan untuk menemukan semua salah saji yang tidak material memerlukan
biaya yang sangat besar, tidak sejalan dengan prinsip cost-benefit.
2. Kepastian yang Layak
Kepastian yang layak adalah tingkat kepastian yang tinggi, tetapi tidak absolut, bahwa laporan
keuangan telah bebas dari salah saji yang material. Konsep ini menunjukkan bahwa auditor
bukanlah penjamin atau pemberi garansi atas kebenaran laporan keuangan. Jadi kemungkinan
salah saji yang material tidak ditemukan dapat terjadi.
Alasan auditor bertanggung jawab atas kepastian yang layak:
o Bukti audit diperoleh dengan cara sampling

o Auditor mengandalkan bukti audit yang persuasif, tetapi tidak meyakinkan. Hal ini disebabkan
karena penyajian akuntansi mengandung estimasi yang kompleks, yang melibatkan sejumlah
ketidakpastian serta dapat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa di masa depan
o Laporan keuangan yang disusun dengan penuh kecurangan seringkali tidak mungkin untuk
dideteksi oleh auditor. Pembelaan auditor jika salah saji yang material tidak terungkap adalah
melaksanakan audit sesuai dengan standar auditing.
3. Kekeliruan (Error) vs Kecurangan (Fraud)
Kekeliruan adalah salah saji dalam laporan keuangan yang tidak disengaja, sementara
kecurangan adalah salah saji yang disengaja. Keduanya dapat bersifat material maupun tidak
material.
Kecurangan dapat dibedakan menjadi misaprosiasi aktiva (penyalahgunaan/kecurangan
karyawan) dan pelaporan keuangan yang curang (kecurangan manajemen).
4. Skeptisme Profesional
Agar auditing dapat memberikan kepastian yang layak untuk mendeteksi kekeliruan ataupun
kecurangan, maka auditing harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sikap skeptisme
profesional, yaitu sikap yang penuh dengan keingintahuan serta penilaian kritis atas bukti audit.
5. Kecurangan yang Berasal dari Pelaporan Keuangan yang Curang vs Misaprosiasi Aktiva
Pelaporan keuangan yang curang akan merugikan pemakai karena menyediakan informasi
laporan keuangan yang tidak benar untuk membuat keputusan sedangkan misaprosiasi aktiva
akan mengakibatkan pemegang saham, kreditor, serta pihak lainnya mengalami kerugian karena
aktiva tersebut tidak lagi menjadi milik pemiliknya yang sah.
TINDAKAN ILEGAL
Tindakan Ilegal didefinisikan sebagai tindakan yang melanggar hukum atau peraturan
pemerintah selain Kecurangan.
1. Tindakan ilegal yang berdampak langsung
Pelanggaran atas UU dan peraturan tertentu memiliki dampak keuangan yang langsung terhadap
saldo akun tertentu dalam laporan keuangan. Tanggung jawab auditor atas tindakan ini sama
dengan tanggung jawab auditor atas kekeliruan dan kecurangan.

2. Tindakan ilegal yang berdampak tidak langsung


Sebagian besar tindakan ilegal hanya mempengaruhi laporan keuangan secara tidak langsung.
Standar auditing menyatakan bahwa auditor tidak memberikan kepastian bahwa tindakan ilegal
yang berdampak tidak langsung akan terdeteksi.
Auditor mempunyai 3 tingkat tanggung jawab untuk menemukan dan melaporkan tindakan
ilegal:
1. Pengumpulan bukti, jika tidak ada alasan untuk percaya bahwa ada tindakan ilegal yang
berdampak tidak langsung
2. Pengumpulan bukti dan tindakan lainnya apabila ada alasan untuk mempercayai bahwa
tindakan ilegal yang berdampak langsung atau tidak langsung telah terjadi. Tindakan yang perlu
dilakukan adalah
Meminta keterangan kepada manajemen yang berada satu tingkat di atasnya
Berkonsultasi dengan penasihat hukum klien dan spesialis lainnya
Mempertimbangkan pengumpulan bukti audit tambahan
3. Tindakan apabila auditor mengetahui suatu tindakan ilegal:
Mempertimbangkan pengaruhnya pada laporan keuangan termasuk kecukupan
pengungkapan
Mempertimbangkan pengaruhnya terhadap hubungan kantor akuntan publik dengan
manajemen.
Berkomunikasi dengan komite audit atau pihak lainnya yang memiliki wewenang yang sama.

3
4

Peran Internal Auditor Terhadap Terjadinya Fraud Pada Korporasi


Peran Internal Auditor Terhadap Terjadinya Fraud Pada Korporasi
Pendahuluan
Tidak ada organisasi yang terbebas dari fraud, karena pada akhirnya
pemasalahan harus kembali berkutat ke masalah manusia. The man behind
the gun. Apapun aturan dan prosedur diciptakan, sangat dipengaruhi oleh

manusia yang memegang kuasa untuk menjalankannya, karena tidak semua


orang jujur dan berintegritas tinggi. Fraud yang terjadi dilingkungan korporasi
dipengaruhi 3 unsur faktor pendorong fraud yaitu: motivasi, kesempatan dan
rasionalisasi atau pembenaran. Dari ketiga unsur tersebut yang dapat
dikendalikan oleh perusahaan hanya satu faktor saja, yaitu faktor kesempatan.
Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir peran internal auditor telah mengalami
kemajuan yang cukup signifikan, dan akan terus berkembang untuk
mengakomodasi perubahan lingkungan bisnis secara berkesinambungan, dan
semakin kompleks. Internal auditor saat ini menjalankan penugasan audit pada
semua tingkatan atas perintah dewan direksi maupun komite audit. Lembaga
internal audit saat ini juga telah dijadikan tempat magang (merupakan wadah
pelatihan) jabatan manajerial bagi mereka yang akan menduduki posisi
manajemen kunci, termasuk untuk menjadi anggota komite audit; namun
demikian tanggungjawab utama internal auditor adalah membantu manajemen
pada semua tingkatan untuk memenuhi tanggungjawab mereka atas;
1) Menilai efisiensi dan efektivitas dan ke-ekonomisan kinerja manajemen
2) Memberikan saran yang konstruktif untuk meningkatkan kinerja
3) Memonitor kualitas, intergritas dan keandalan proses pelaporan transaksi
keuangan.
Bab ini akan membahas mengenai peran internal auditor dalam corporate
governance, proses pelaporan transaksi keuangan, struktur pengendalian
intern, pencegahan, pendeteksian dan perbaikan atas terjadinya kecurangan
(fraud)
di
lingkungan
organisasi/
perusahaan.
Internal
Auditor
dan
Corporate
Governance
Tanggungjawab internal auditor dalam pencegahan, pendeteksian dan
menginvestigasi perbuatan fraud masih menjadi perdebatan yang
berkepanjangan dalam profesi audit, khususnya pada lembaga audit internal.
Namun demikian tidak bisa dibantah bahwa internal auditor memegang
peranan penting dalam mendukung penerapan good corporate governance.
Keterlibatan internal auditor dengan aktivitas operasional sehari-hari termasuk
keterlibatan dalam proses pelaporan transaksi keuangan dan struktur
pengendalian intern memberi kesempatan internal auditor untuk melakukan
penilaian
secara
berkala
dan
menyeluruh
atas
aspek-aspek
kegiatan/operasional perusahaan yang memiliki risiko tinggi. Efektivitas peran
internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi fraud sangat tergantung pada
besar kecilnya status kewenangan yang dimiliki dan mekanisme pelaporan
hasil investigasi fraud yang dapat dijalankannya, karena belum semua jajaran
direksi mau memberikan kewenangan penuh dalam proses pencegahan,
pendeteksian
dan
investigasi
fraud
pada
internal
auditor.
Standar Profesi Audit Internal (1210.2) menyatakan bahwa internal audit

harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti,


dan
menguji
adanya
indikasi
kecurangan.
Sejalan dengan itu penyataan standar internal audit (SIAS) No.3, internal audit
diwajibkan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya ketidakwajaran
penyajian, kesalahan, penyimpangan, kecurangan, inefficiency, konflik
kepentingan dan ketidak efektifan pada suatu aktivitas perusahaan, pada saat
pelaksanaan audit. Internal auditor juga diminta untuk menginformasikan
kepada pejabat yang berwenang dalam hal diduga telah terjadi penyimpangan,
dan menindaklanjutinya untuk meyakinkan bahwa tindakan yang tepat telah
dilakukan
untuk
memperbaiki
masalah
yang
ada.
Peran Internal Auditor Dalam Pencegahan dan Pendeteksian Fraud
W. Steve Albrecht dalam bukunya Fraud Examination (2003); menjelaskan
bahwa terdapat 4 pilar utama dalam memerangi fraud yaitu:
1.
Pencegahan
fraud
(fraud
prevention)
2.
Pendeteksian
dini
fraud
(early
fraud
detection)
3.
Investigasi
fraud
(fraud
investigation)
4. Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow-up legal action)
Berdasarkan 4 pilar utama dalam rangka memerangi fraud tersebut, peran
penting dari internal auditor dalam ikut membantu memerangi perbuatan fraud
khususnya
mencakup
:
Preventing
Fraud
(mencegah
fraud)
Detecting
Fraud
(mendeteksi
fraud)
Investigating
Fraud
(melakukan
investigasi
fraud)
Secara garis besar pencegahan dan pendeteksian serta investigasi merupakan
tanggung jawab manajemen, akan tetapi internal auditor diharapkan dapat
melakukan tiga hal tersebut di atas sebagai bagian dari pelaksanaan tugas
manajemen. Dalam perkembangannya penugasan dalam memerangi fraud saat
ini telah mengarah pada profesi tersendiri, seperti Certified Fraud Examiners
(CFE)
ataupun
akuntan
forensik.
Dalam menjalankan tugas auditnya, internal auditor harus waspada terhadap
setiap hal yang menunjukkan adanya kemungkinan adanya peluang atau
kemungkinan terjadinya fraud. Dalam kenyataannya, kewaspadaan dan sifat
skeptis yang pada tempatnya, mungkin merupakan dua ketrampilan yang
penting bagi internal auditor. Penyelidikan yang kritis terhadap kemungkinan
fraud, harus diikuti oleh penilaian terhadap pengendalian yang ada, praktik
pengendalian dan seluruh lingkup pengendaliannya yang potensial. Untuk
menyelidiki fraud yang terjadi dalam suatu perusahaan/organisasi, dibutuhkan
kombinasi keahlian seorang auditor terlatih dan penyelidik kriminal.
Internal auditor harus bertindak secara pro-aktif dalam mencegah dan
mendeteksi terjadinya fraud, khususnya keterlibatan secara aktif dalam

struktur pengendalian intern perusahaan dan status organisasi. Berbeda dengan


eksternal auditor, efektivitas internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi
fraud seringkali terkendala oleh waktu dan besarnya biaya untuk
menilai/menguji prosedur, kebijakan manajemen dan pengujian atas
pengendalian. Internal auditor berada dalam posisi yang penting untuk
memonitor secara terus menerus struktur pengendalian intern perusahaan
melalui identifikasi dan investigasi tanda-tanda (red flags) fraud yang
mengindikasikan terjadinya suatu fraud. Internal auditor berada pada posisi
yang tepat untuk memahami seluruh aspek tentang struktur organisasi, tempat
pelatihan yang tepat, pemahaman mereka terhadap sumberdaya manusia yang
ada, sangat memahami kebijakan dan prosedur operasi, dan memahami
kondisi bisnis dan lingkungan pengendalian intern yang memungkinkan untuk
mengidentifikasi dan menilai tanda-tanda (symptom ataupun red flag)
kemungkinan
terjadinya
fraud.
Peranan internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi fraud diatur secara
jelas dalam kewenangan pelaporan dan standar profesi. Komisi Treadway
merekomendasikan bahwa internal auditor harus berperan aktif dalam
mencegah dan mendeteksi fraud. Demikian pula dalam Pernyataan Standar
Internal Audit mensyaratkan bahwa internal auditor harus berperan aktif
dalam mencegah dan mendeteksi fraud dengan mengidentifikasi tanda-tanda
kemungkinan terjadinya fraud, menginvestigasi gejala fraud dan melaporkan
temuannya kepada komite audit atau kepada tingkat manajemen yang tepat.
Fraud biasanya tidak hanya dilakukan oleh karyawan pada tingkat bawah,
tetapi juga dapat dilakukan oleh jajaran direksi (top manajemen) baik secara
individual maupun bersama-sama (manajemen fraud) yang dalam cakupan
penugasan audit mungkin diluar jangkauan kewenangan internal auditor. Pada
dasarnya dalam menjalankan tugas audit regular, internal auditor perlu
mewaspadai terjadinya fraud yang dapat mempengaruhi, kualitas, integritas
dan keandalan pelaporan transaksi keuangan perusahaan. Dalam hal ini,
internal auditor harus menginvestigasi secara menyeluruh kemungkinan
terjadinya fraud dan mengkomunikasikan kepada komite audit terhadap
adanya indikasi terjadinya fraud. Sehingga, hubungan kerjasama yang erat
antara komite audit dengan fungsi audit internal, khususnya melalui
pertemuan-pertemuan antara ketua komite audit dengan kepala SPI, akan
dapat meningkatkan kualitas hasil kerja internal auditor dan mengurangi
kemungkinan
terjadinya
fraud.
Hubungan kerjasama antara internal auditor dengan eksternal auditor dapat
membawa keterlibatan internal auditor dalam proses penilaian terhadap
(kemungkinan) terjadinya fraud pada area peran internal auditor yang sangat
terbatas. misalnya pada level terjadinya fraud yang melibatkan manajemen lini
menengah dan atas (middle/top management). Sehingga secara tidak langsung

internal auditor akan lebih mampu berperan dalam memantau kemungkinan


terjadinya fraud pada level pembuat kebijakan. Situasi demikian ini akan
memberikan peluang bagi internal auditor untuk berperan aktif dalam
pengujian integritas, kualitas dan keandalan proses pembuatan hingga
impelmentasi kebijakan yang dilakukan oleh top manajemen. Bahkan dalam
laporannya pada tahun 1999, COSO mendorong agar internal auditor mampu
dan dapat berperan secara aktif dalam menilai kualitas, keandalan dan
integritas manajemen puncak dalam pembuatan dan implementasi kebijakan
agar
terbebas
dari
unsur
perbuatan
fraud.
Tanggungjawab
Internal
Auditor
Dalam
Pencegahan
Fraud.
Pernyataan standar internal auditing (SIAS) No.3 juga menguraikan mengenai
tanggungjawab internal auditor untuk pencegahan fraud adalah; memeriksa
dan menilai kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian intern, berkaitan
dengana pengungkapan risiko potensial pada berbagai bentuk kegiatan/operasi
organisasi Menurut SIAS No.3 internal auditor harus mengidentifikasi
indikator-indikator fraud, dan jika diperlukan, ditingkatkan dengan
pelaksanaan investigasi untuk membuktikan apakah fraud benar-benar terjadi.
SIAS No.3 memberikan pedoman berkaitan dengan tanggungjawab internal
auditor untuk pencegahan, pendeteksian, investigasi dan pelaporan fraud. Jadi,
standar ini secara jelas mengemukakan bahwa pencegahan fraud adalah
tanggungjawab manajemen. Meskipun demikian internal auditor harus menilai
kewajaran dan efektivitas tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap
kemungkinan penyimpangan atas kewajiban tersebut. Berkaitan dengan
pendeteksian fraud, SIAS No.3 masih belum tegas mengenai tanggungjawab
internal auditor. Sementara dipihak lain, adanya penegasan bahwa internal
auditor harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang fraud untuk dapat
mengidentifikasi gejala fraud dan menetapkan prosedur audit untuk
menemukan terjadinya fraud. Hal demikian seolah-olah mengindikasikan
bahwa;
Internal auditor tidak diharapkan memiliki pengetahuan yang setara dengan
mereka yang memiliki tanggungjawab utama mendeteksi dan menginvestigasi
fraud.
Prosedur audit rutin yang diterapkan oleh internal auditor tidak dirancang
untuk
mengungkapkan
terjadinya
fraud.
SIAS No.3 merekomendasikan agar investigasi fraud dilaksanakan oleh suatu
tim yang terdiri dari internal auditor, bagian hukum, investigator, petugas
security dan ahli-ahli lainnya baik dari dalam maupun dari luar organisasi.
Tanggungjawab internal auditor berkaitan dengan investigasi fraud adalah:
Menetapkan apakah pengendalian yang ada telah cukup memadai dan efektif
untuk
mengungkap
terjadinya
fraud

Merancang suatu prosedur audit untuk mengungkap dan mencegah


terulangnya
kembali
terjadinya
fraud
atau
penyimpangan.
Mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menginvestigasi fraud yang
sering
terjadi.
SIAS No.3 menjelaskan tanggungjawab internal auditor dalam mendeteksi
fraud mencakup; Pertama, internal auditor harus memperoleh pengetahuan
dan pemahaman yang memadai atas fraud agar dapat mengidentifikasi kondisi
yang menunjukkan tanda-tanda fraud yang mungkin akan terjadi. Kedua,
internal auditor harus mempelajari dan menilai struktur perusahaan untuk
mengidentifikasi timbulnya kesempatan, seperti kurangnya perhatian dan
efektivitas
terhadap
sistem
pengendalian
intern
yang
ada.
Kemampuan
Internal
Auditor
dalam
Mendeteksi
Fraud
Untuk mempercepat tujuan-tujuannya, seorang internal auditor dalam
kaitannya dengan pendeteksian fraud yang efektif, harus mampu melakukan
antara
lain
hal-hal
berikut
:
Mengkaji sistem pengendalian intern untuk menilai kekuatan dan
kelemahannya.
Mengidentifikasi potensi fraud berdasarkan kelemahan yang ada pada sistem
pengendalian
intern.
Mengidentifikasi hal-hal yang menimbulkan tanda tanya dan transaksitransaksi
diluar
kewajaran
(non
prosedural).
Membedakan faktor kelemahan dan kelalaian manusia dari kesalahan yang
bersifat
fraud.
Berhati-hati terhadap prosedur, praktik dan kebijakan manajemen.
Dapat menetapkan besarnya kerugian dan membuat laporan atas kerugian
karena fraud, untuk tujuan penuntutan pengadilan (litigasi), penyelesaian
secara perdata, dan penjatuhan sanksi internal (skorsing,hingga pemutusan
hubungan
kerja).
Mampu melakukan penelusuran dan mengurai arus dokumen yang
mendukung
transaksi
fraud.
Mencari dokumen pendukung untuk transaksi yang dipertanyakan (dispute).
Mereviu
dokumen
yang
sifatnya
aneh/mencurigakan.
Menguji jalannya implementasi motivasi dan etika organisasi di bidang
pencegahan
dan
pendeteksian
fraud.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keahlian seorang internal auditor
dalam pengungkapan terjadinya fraud, harus memiliki kemampuan mirip
dengan yang dimiliki seorang penyidik kriminal dan keberadaan keduanya
adalah untuk mencari kebenaran melalui pengungkapan bukti pendukung
perbuatan fraud-nya. Dalam pengungkapan fraud seorang internal auditor
harus mempunyai rasa ingin tahu dan suka akan tantangan pada hal-hal yang

muncul secara tidak lazim. Dengan kata lain ingin tahu pada hal-hal yang
bertentangan dengan logika atau apa yang diharapkan secara wajar.
Di bawah ini akan diuraikan lebih lanjut tentang dua peran inetrnal auditor
dalam preventing dan detecting, sedangkan peran ketiga yaitu investigating
berkaitan dengan peran akuntan forensik diuraikan dalam pembahasan
tersendiri.
Terjadinya tindakan fraud tidak lepas dari berbagai faktor baik intern maupun
ekstern. Disamping itu dalam upaya menemukan dan mengungkap
penyimpanan yang mengarah pada terjadinya perbuatan fraud, internal auditor
tidak harus mencari penyelesaian yang kompleks. Pengungkapan fraud dapat
dimulai dengan mengidentifikasi dan mencari jawaban/penyelesaian yang
paling
sederhana.
Beberapa teknik pencegahan fraud dapat diuraikan sebagai berikut:
Kebijakan
Kebijakan suatu unit organisasi harus memuat a high ethical tone dan harus
dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk menghadapi
tindakan-tindakan fraud dan kejahatan ekonomi lainnya. Dalam upaya
pencegahan fraud, seluruh jajaran manajemen dan karyawan harus
mempunyai komitmen yang sama terhadap pencegahan fraud dan
penyimpangan (irregularities). Dengan demikian, kebijaksanaan yang ada
akan dilaksanakan dengan baik.
5