Anda di halaman 1dari 14

MORFOLOGI ANGGREK

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Restu Indria Sopyan


: B1J013113
: II
:2
: Ika Febriani

LAPORAN PRAKTIKUM ORCHIDOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PERGURUAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan jenis flora dan faunanya.
Anggrek merupakan famili terbesar yang menempati 7-10% tumbuhan berbunga dan
memiliki kurang lebih 20.000 sampai 35.000 jenis (Dressler, 1993). Di Indonesia
diperkirakan ada 4.000-5.000 jenis (Latif, 1960). Di Pulau Jawa areal hutan sudah
banyak terkonversi menjadi pemukiman, perkebunan, transportasi, industri dan
pembanguan fisik lainnya, sehingga populasi anggrek di alam mulai terancam.
Banyak diantara jenis-jenis anggrek yang dahulu banyak dan mudah dijumpai di
alam, tetapi sekarang sulit untuk mendapatkan kembali bahkan ada beberapa yang
dianggap sudah punah di alam (Whitten, 1992). Hal tersebut disebabkan karena
selain kerusakan habitat, juga karena banyak dieksploitasi untuk diperdagangkan.
Anggrek termasuk salah satu kelompok tumbuhan kosmopolitan yang hampir
tersebar di seluruh bagian dunia. Akan tetapi tipe dan keberadaan suatu vegetasi ada
kalanya dapat menjadi faktor pembatas persebaran jenis-jenis anggrek. Seperti
halnya kelompok tumbuhan tinggi lainnya, anggrek lebih banyak tumbuh di daerah
tropik dan dengan persebaran yang tidak seragam. Beberapa jenis diketahui mampu
tumbuh dan berkembang pada daerah dataran rendah sampai ke daerah dataran
tinggi. Dilain pihak ada jenis-jenis lain yang hanya tumbuh dan berkembang pada
daerah dengan kisaran ketinggian tertentu1). Dilaporkan bahwa keanekaragaman
jenis anggrek tertinggi terdapat pada ketinggian 500 2000 m dpl.2) (Sulistiarini &
Djawaningsih, 2009).
Anggrek sebagai tanaman hias telah mendapat posisi tersendiri di hati para
penggemarnya. Para pecinta anggrek berlomba-lomba mencari anggrek yang unik
dan langka untuk memenuhi koleksinya. Meskipun banyak tanaman hias yang
dimanfaatkan bunganya namun keunikan anggrek adalah nilai estetikanya yang
tinggi. Bentuk dan warna bunga serta karakteristik lainnya yang unik menjadi daya
tarik tersendiri dari spesies tanaman hias inisehingga banyak diminati oleh
konsumen, baik di dalam maupun luar negeri (Sabran et al, 2003).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum Morfologi Anggrek kali ini, antara lain:
1. Dapat membedakan akar, batang, dan daun anggrek yang berkaitan dengan cara
hidupny, yaitu anggrek tanah (terestrial) dan anggrek epifit.
2. Dapat membedakan dan menyebutkan bagian-bagian bunga anggrek; mengetahui
bentuk buah anggrek beserta bijinya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan salah satu negara tropik yang kaya dengan


keanekaragaman hayati tumbuhan, diperkirakan terdapat 40.000-45.000 jenis
tumbuhan berbunga. Sebagian besar keanekaragaman tumbuhan tersebut baik
persebaran, ekologi dan taksonominya belum banyak dipahami. Salah satu tanaman
yang melimpah adalah anggrek (Ramadanil, 2010).
Anggrek merupakan tanaman hias yang sangat populer karena memiliki jenis
yang beragam. Bunganya dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti upacara
keagamaan, hiasan dan dekorasi ruangan, ucapan selamat serta ungkapan sukacita
maupun dukacita. Anggrek yang banyak digemari salah satunya adalah jenis
Dendrobium sp. Permintaan pasar domestik terhadap bunga anggrek juga masih
tinggi yaitu sebanyak 16.205.949 tangkai pada tahun 2009 dan meningkat menjadi
20.727.891 tangkai tahun 2012 (Febrizawati, et al, 2014).
Orchidaceae adalah famili yang sangat besar tanaman berbunga yang
mengandung setidaknya 20.000 spesies dan 735 genera, penyebarannya mencakup
seluruh dunia dan paling banyak di tempat yang lembab yang meliputi daerah
khatulistiwa. Selain itu, orchidists menciptakan genera baru dengan menciptakan
hibrida intergenerik, yang melibatkan dua atau lebih genera alami. Anggrek termasuk
tanaman bunga yang berkembang sangat baik, memiliki tiga sepal dan tiga kelopak
dan kadang-kadang tumbuh secara tunggal, tetapi biasanya muncul dengan bunga
lain pada satu sisi batang utama, atau semua sekitar batang utama (Bercu et al.,
2011).
Anggrek merupakan kelompok tumbuhan yang unik dengan berbagai tipe
bunga, daun, dan cara hidupnya. Bunga anggrek sangat bervariasi dalam hal bentuk,
ukuran, warna, dan sebagainya, demikian juga dengan daunnya bervariasi dari
berdaun pensil (bulat panjang) sampai berdaun lebar (Lee et al., 1990). Menurut
Sulitiarini (2009), Cara hidup anggrek juga bermacam-macam, ada yang epifit yaitu
menempel pada batang pohon atau tumbuhan lain, contohnya Dendrobium sp.,
Phalaenopsis sp., dan Cattleya sp. Hidup di tanah (terrestrial) contohnya Phaius sp.,
dan Spaghlottis sp. Hidup secara amoebofit yaitu hidupnya seperti anggrek saprofit,
namun anggrek ini hanya berdaun saja atau berbunga saja contohnya Nervilia. Hidup
saprofit yaitu anggrek yang hidup diatas humus atau lahan organik contohnya
Galeola, Didymoplexis. Ada pula yang hidup pada tempat becek atau rawa,
contohnya Vanda hookeriana (Purwantoro et al., 2005).

BAB III. MATERI DAN METODE


A.

Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara 1 adalah alat tulis, dan buku
gambar.
Bahan-bahan yang digunakan adalah Dendrobium sp., Phalaenopsis sp.,
Mokara sp.
B.

Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:


1. Disiapkan tanaman anggrek Dendrobium sp., Mokara sp. Dan Phalaenopsis
sp.
2. Bagian-bagian anggrek seperti akar, batang, daun dan bunga diamati.
3. Anggrek digambar, ditulis bagian-bagian, klasifikasi, dan deskripsinya.
4. Anggrek didokumentasikan dengan kamera.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Gambar 1. Dendrobium sp.

Gambar 2. Phalaenopsis sp.

Gambar 3. Mokara sp.

B. Pembahasan

Anggrek

dalam

penggolongan

taksonomi,

termasuk

dalam

familia

Orchidaceae suatu familia yang sangat besar dan bervariasi. Famili ini terdiri dari
800 genus dan tidak kurang dari 25.000 spesies. Keluarga orchidae ini merupakan
tanaman yang tersebar luas di pelosok dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia,
anggrek banyak ditemukan di hutan, umumnya hutan Kalimantan yang merupakan
surga anggrek Indonesia (Sandra, 2001).
Anggrek Dendrobium sp. bersifat simpodial, memiliki akar udara, ujung
daunnya lancip, dan bunga berbentuk bintang. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan
Sutiyoso dan Sarwono (2003), bahwa Anggrek Dendrobium sp. memiliki
pseudobulbus yang besar dan bersifat simpodial. Bunganya tumbuh berkelompok
atau berupa tandan. Labellum Dendrobium sp. tampak besar dan jelas. Bunga
anggrek ini memiliki warna yang bermacam-macam. Bunga dapat bertahan satu hari
di tangkai, tetapi ada pula yang tahan hingga berminggu-minggu. Menurut Sandra
(2001), Dendrobium sp. adalah anggrek yang bersifat epifit, yang hidupnya
menempel pada batang, dahan, atau ranting pohon yang sudah mati. Akarnya
sebagian menempel pada medianya sebagian menjuntai bebas di udara. Menurut
Dressler dan Dodson (2000), klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Orchidales

Famili

: Orchidaceae

Genus

: Dendrobium

Spesies

: Dendrobium sp.

Phalaenopsis sp. merupakan salah satu jenis anggrek yang sangat disukai oleh
konsumen karena memiliki warna, corak, keunikan bentuk dan tekstur serta aroma
tersendiri. Phalaenopsis memiliki kurang lebih 46 spesies yang tersebar di beberapa
negara dan di Indonesia memiliki lebih dari 30 spesies. Dibandingkan dengan jenis
anggrek yang lainnya, permintaan anggrek Phalaenopsis dalam pot menduduki
urutan kedua setelah anggrek Dendrobium. Phalaenopsis memiliki kekhasan sebagai
anggrek golongan epifit yaitu memiliki akar yang menempel dengan kuat di batang
kayu atau dinding bebatuan. Tipe pertumbuhannya termasuk monopodial yaitu
berbatang tunggal, hal

ini

mempengaruhi cara perbanyakannya

sehingga

perbanyakan melalui anakan lebih sulit karena tanaman tidak memiliki anakan.

Perbanyakan dapat dilakukan menggunakan bagian vegetatif melalui teknik kultur


jaringan atau secara generatif melalui biji hasil persilangan untuk mendapatkan jenis
baru atau untuk melestarikan spesies. Phalaenopsis memiliki potensi yang sangat
besar untuk menghasilkan jenis-jenis baru meskipun membutuhkan waktu yang lebih
lama karena anggrek ini akan berbunga setelah tanaman berumur tiga tahun
(Ferziana & Erfa, 2013). Klasifikasi anggrek Phalaenopsis adalah sebagai berikut
(Hsuang Keng, 1978):
Kingdom : Plantae
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Monocotyledonae

Ordo

: Orchidales

Famili

: Orchidaceae

Genus

: Phalaenopsis

Spesies

: Phalaenopsis sp.
Mokara sp. adalah anggrek hasil silangan antara dua marga yakni arakhis dan

ascocenda. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan sifat-sifat baik dari keduanya,


misalnya mendapatkan jenis dan tatanan kuntum bunga yang sempurna. Anggrek
mokara banyak digunakan sebagai bunga potong. Anggrek jenis morara miri dengan
vanda sp. bedanya adalah jarak antar ruas daun yang lebih lebar. Klasifikasi Mokara
sp. yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Asparagales

Family

: Orchidaceae

Genus

: Dendrobium

Spesies

: Mokara sp.
Anggrek

dalam

penggolongan

taksonomi,

termasuk

dalam

familia

Orchidaceae suatu familia yang sangat besar dan bervariasi. Famili ini terdiri dari
800 genus dan tidak kurang dari 25.000 spesies. Keluarga orchidae ini merupakan
tanaman yang tersebar luas di pelosok dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia,
anggrek banyak ditemukan di hutan, umumnya hutan Kalimantan yang merupakan
surga anggrek Indonesia (Sandra, 2001).

Menurut Puspitaningtyas (2006), tanaman anggrek berdasarkan habitat dan


tempat hidupnya dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu:
1. Anggrek epifit (ephytis), adalah jenis anggrek yang menumpang pada batang
atau pohon lain tetapi tidak merusak atau merugikan tanaman yang
ditumpangi (tanaman inang). Alat yang dipakai untuk menempel adalah akar,
sedangkan akar yang berfungsi untuk mencari makanan adalah akar udara.
Anggrek epifit membutuhkan naungan dari cahaya matahari. Di habitat
aslinya, anggrek ini kerap menempel pada pohon-pohon besar dan rindang.
Contoh anggrek epifit antara lain Dendrobium, Cattleya, Oncidium, dan
Phalaenopsis.
2. Anggrek semi epifit, adalah jenis anggrek yang juga menempel pada pohon
atau tanaman lain yang tidak merusak. Anggrek semi epifit, selain untuk
menempel pada media, akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu
untuk mencari makanan untuk berkembang. Contoh anggrek semi epifit
antara lain Epidendrum, Leila, dan Brassavola.
3. Anggrek tanah (anggrek terrestrial), adalah jenis anggrek yang hidup di atas
permukaan tanah. Anggrek jenis ini membutuhkan cahaya matahari penuh
atau cahaya matahari langsung. Contoh anggrek teresterial antara lain Vanda,
Renanthera, Arachnis, dan Aranthera.
4. Anggrek saprofit, adalah anggrek yang tumbuh pada media yang
mengandung humus atau daun-daun kering. Anggrek saprofit dalam
pertumbuhannya membutuhkan sedikit cahaya matahari. Contoh jenis ini
salah satunya adalah Goodyera sp.
5. Anggrek litofit, adalah jenis anggrek yang tumbuh pada batu-batuan. Anggrek
jenis ini biasanya tumbuh dibawah sengatan cahaya matahari penuh. Contoh
jenis ini antara lain Dendrobium dan Phalaenopsis.
Akar udara Akar udara tumbuh dari bagian atas batang dan tumbuh ke arah
tanah. Oleh karena itu, akar tersebut terlihat menggantung di udara. Akar udara ini
berfungsi menyerap uap air dan gas dari udara. Namun, bila telah mencapai tanah,
akar tersebut masuk ke dalam tanah dan berfungsi menyerap air dan garam-garam
mineral. Tumbuhan yang memiliki akar gantung misalnya beringin. Akar tipe ini
biasanya yang terdapat pada tanaman anggrek.
Menurut Suryowinoto (1976), tubuh anggrek terdiri dari akar, batang, daun,
bunga, dan buah. Akar anggrek tanah berbentuk serabut, tidak terlalu dalam. Jenis-

jenis epifit umumnya mengembangkan akar sukulen, melekat pada batang pohon
tempatnya tumbuh dan tumbuh tanpa melekat pada substrat (akar udara), namun
tidak merugikan pohon inang. Ada pula yang tumbuh geofitis, dengan istilah lain
terestrial artinya tumbuh di tanah dengan akar-akar di dalam tanah. Ada pula yang
bersifat saprofit, tumbuh pada media daun-daun kering dan kayu-kayu lapuk yang
telah membusuk menjadi humus. Pada permukaan akar seringkali ditemukan jamur
akar (mikoriza) yang bersimbiosis dengan anggrek.
Batang anggrek beruas-ruas. Anggrek yang hidup di tanah (anggrek tanah)
batangnya pendek dan cenderung menyerupai umbi. Sementara itu, anggrek epifit
batangnya tumbuh baik, seringkali menebal dan terlindungi lapisan lilin untuk
mencegah penguapan berlebihan. Pertumbuhan batang dapat bersifat memanjang
(monopodial) atau melebar (simpodial), tergantung genusnya. Daun anggrek
biasanya oval memanjang dengan tulang daun memanjang pula, khas daun
monokotil. Daun dapat pula menebal dan berfungsi sebagai penyimpan air.
Bunga anggrek berbentuk khas dan menjadi penciri yang membedakannya
dari anggota suku lain. Bunga-bunga anggrek tersusun majemuk, muncul dari
tangkai bunga yang memanjang, muncul dari ketiak daun. Bunganya simetri
bilateral. Helaian kelopak bunga (sepal) biasanya berwarna mirip dengan mahkota
bunga (sehingga disebut tepal). Satu helai mahkota bunga termodifikasi membentuk
semacam "lidah" yang melindungi suatu struktur aksesoris yang membawa benang
sari dan putik. Benang sari memiliki tangkai sangat pendek dengan dua kepala sari
berbentuk cakram kecil yang disebut pollinia dan terlindung oleh struktur kecil yang
harus dibuka oleh serangga penyerbuk atau manusia dan membawa serbuk sari ke
mulut putik. Tanpa bantuan organisme penyerbuk, tidak akan terjadi penyerbukan.
Buah anggrek berbentuk kapsul yang berwarna hijau dan jika masak
mengering dan terbuka dari samping. Bijinya sangat kecil dan ringan, sehingga
mudah terbawa angin. Biji anggrek tidak memiliki jaringan penyimpan cadangan
makanan,

bahkan

embrionya

belum

mencapai

kematangan

sempurna.

Perkecambahan baru terjadi jika biji jatuh pada medium yang sesuai dan melanjutkan
perkembangannya hingga kemasakan.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Anggrek memiliki organ vegetatif meliputi akar,
batang, daun, dan memiliki bunga sebagai organ
generatif.
2. Cara hidup anggrek dapat dibedakan menjadi empat
yaitu anggrek terrestrial, epifit, litofit dan saprofit. Tipe
pertumbuhan

anggrek

dapat

dibedakan

menjadi

anggrek monopodial dan simpodial.

B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini yakni Dalam praktikum morfologi anggrek
diharap praktikan lebih teliti dalam mengidentifikasi morfologi dari bagian-bagian
anggrek supaya dapat mengetahui ciri-ciri masing-masing jenis anggrek.

DAFTAR REFERENSI
Bercu, R., A. Bavaru dan Livia Broasc. 2011. Anatomical Aspects Of Phalaenopsis
amabilis (L.) Blume. Annals of RSCB 26(2).
Dressler, R. L. 1993. The orchids natural history and classification. Harvard
University Press. Cambridge, Massachusetts and London, England. 332p.
Dressler, R. and C. Dodson. 2000. Classification and Phylogeny in Orchidaceae.
Annals of the Missouri Botanic Garden 47: 2567.
Febrizawati, Murniati dan Sri Yoseva. 2014. Pengaruh Komposisi Media Tanam
dengan Konsentrasi Pupuk Cair terhadap Pertumbuhan Tanaman Anggrek
Dendrobium (Dendrobium sp.). Jom Faperta 1(2).
Ferziana & L. Erfa. 2013. Pengaruh Tripton dan Arang Aktif pada Pembesaran Bibit
Anggrek Phalaenopsis In Vitro The Influence of Tripton and Active Carbon
on Orchid Phaleonopsis InVitro Seedling Enlargement. Jurnal Pertanian
Terapan Vol. 13 (1): 45-51.
Hsuan Keng. 1978. Orders and Families of Malayan Seed Plants. Singapore
University Press.
Latief, S.M. 1960. Bunga Anggrek Permata Belantara Indonesia. PT Sumur,
Bandung.
Lee, Y. H., C. Kannagi and K.W. Tan. 1990. Trends in Mokara Breeding. Proc. Of the
13th World Orchid Conference. New Zealan: World Orchid Conference Trust.
Auckland pp: 221.
Purwantoro, A., Erlina A., dan Fitria S. 2005. Kekerabatan Antar Anggrek Spesies
Berdasarkan Sifat Morfologi Tanaman dan Bunga. Ilmu Pertanian. 12 (1): 111.
Puspitaningtyas, Dwi Murti, Sofi Mursidawati dan Suprih Wijayanti. 2006. Studi
Fertilitas Anggrek Paraphalaenopsis serpentilingua (J.J.Sm.) A.D. Hawkes.
Pusat Konservasi Tumbuhan-Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI), Bogor, Volume 7, Nomor 3 Juli 2006, Halaman: 237-241.
Ramadanil. 2010. Kajian Beberapa Aspek Botani Anggrek Endemik Coelogyne
celebensis J.J. Sm. dari Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Jurnal
Biocelebes 4(1):01-13.
Sabran, A. Krismawati, Y.R. Galingging, dan M.A. Firmansyah. 2003. Eksplorasi
dan Karakteristik Tanaman Anggrek di Kalimantan Selatan. B. Plasma
Nuftah Vol. 9(1): 1-6.
Sandra, E. 2001. Membuat Anggrek Rajin Berbunga. Agromedia Pustaka. Jakarta. 54
hlm.
Sulitiarini, D., dan Tutie Djarwaningsih. 2009. Keanekaragaman Jenis-Jenis Anggrek
Kepulauan Karimunjawa. J. Tek. Ling 10(2):167-172.

Suryowinoto, M. 1976. Mengenal Anggrek Alam Indonesia. Penebar Swadaya.


Jakarta.
Sutiyoso, Y & B. Sarwono. 2003. Merawat Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta . 72
hlm.
Whitten, A.J. 1992. Conservation of Javas Flora. In: Suhirman et al. (eds.).
Strategies for Flora Conservation in Asia. Kebun Raya Bogor Proceedings.
Bogor.