Anda di halaman 1dari 7

FORM REFLEKSI KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Nama Dokter Muda : Sivi Budiananda S.


Stase

NIM : 14712053

: Anestesi dan Reanimasi

Identitas Pasien
Nama / Inisial

: Ny. F

No RM

Umur

: 17 tahun

Jenis kelamin

Diagnosis/ kasus

: Abortus Inkomplet

: 489582
: Perempuan

Pengambilan kasus pada minggu ke : 1


Jenis Refleksi

a. Ke-Islaman
b. Psikologi
Form uraian
1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/
kasus yang diambil ).
A. Anamnesis
Diberikan oleh

: Pasien

Tempat/Tanggal

: bangsal Melati/27 Februari 2015

Keluhan Utama

: nyeri perut

Riwayat Penyakit Sekarang

: Seorang G1P0A0, 17 tahun, umur

kehamilan 13+1 minggu datang ke IGD dengan keluhan nyeri perut dan
keluar darah dari jalan lahir sejak pukul 02.00 WIB. Darah yang keluar
mrongkol-mrongkol, keluar jaringan seperti gajih disangkal. Riwayat trauma
(-). Pasien pernah mondok di melati sebeluknya (dengan diagnosis Ab
Imminen).
Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat hipertensi, DM, asma, alergi disangkal.

B. Pemeriksaan fisik
KU

: sedang, compos mentis

Vital Sign : TD : 120/80 mmHg, Nadi :


Page 1

88x/menit, Suhu : 36,5oC, R : 20x/menit


Mata

: konjungtiva anemis (-/-),

sklera ikterik (-/-)


Thorax

: jantung dan paru dalam

batas normal
Abdomen : supel, nyeri tekan (-), TFU
teraba 2 jari di atas TFU SOP
Genital

: darah (+), discharge (+)

C. Pemeriksaan Penunjang
Darah Rutin :
- AL : 11.600/uL
- AE : 4,46 juta/uL
- Hb : 13,4 gram/dL
- AT : 303.000/uL
- GDS : 83 mg/dL
Kimia darah :
- SGOT : 26 U/L
Page 2

- SGPT : 24 U/L
- Ureum : 20 mg/dL
- Kreatinin : 0,91 mg/dL
USG ginekologi :
- VU : isi cukup
- Uterus : bentuk dan ukuran normal,
tak tampak sacus gestasional, sisa
jaringan (+)
- Gambaran abortus inkompletus
D. Diagnosis
Abortus Inkomplet
E. Terapi
Kuretase
2. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal di dalam
uterus. Pada abortus inkomplet sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri melalui kanalis servikalis. Hal ini mengakibatkan terjadinya
manifestasi perdarahan pada kehamilan muda yang terjadi apabila plasenta
(seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus. Hal ini merupakan tanda
utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan
kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia
Page 3

berat.
Abortus inkomplet atau orang awam menyebutnya keguguran bukan
merupakan kasus yang jarang terjadi, terutama di RSUD dr. Soediran
Mangun Sumarso Wonogiri. Di mana pada kasus abortus inkomplet akan
dilakukan penanganan berupa kuretase pada pasien. Kejadian abortus
inkomplet ini bukan merupakan kejadian yang diharapkan terutama bagi
pasangan yang menginginkan keturunan. Bagi seorang ibu, atau wanita
yang mengalami kejadian abortus inkompet ini tak jarang akan berdampak
pada kondisi psikologisnya. Kesedihan teramat mendalam yang tingkatnya
berbeda-beda pada setiap wanita. Selain itu, pada wanita yang mengalami
kejadian abortus inkomplet kemudian dikuret akan menjalani masa dimana
keluar darah paska keguguran yang dari sudut pandang keislaman memiliki
hukum dan kaidahnya sendiri.
Oleh karena itu, berdasarkan dua hal tersebut di atas, penulis tertarik
untuk menyusun refleksi kasus mengenai abortus inkomplet dari sudut
pandang sosial dalam hal ini kaitannya dengan kondisi psikologis wanita
tersebut dan segi keislaman mengenai hukum darah yang keluar paska
kuretase.
3. Refleksi dari aspek psikologi beserta penjelasan evidence / referensi yang
sesuai
Pada seorang wanita yang mengalami keguguran, akan timbul berbagai
macam masalah yang membutuhkan fase pemulihan, baik dari aspek
fisiknya maupun psikis wanita itu sendiri. Sementara itu, pada beberapa
wanita aspek psikologis atau emosional membutuhkan waktu yang lebih
lama untuk sembuh dibandingkan aspek fisiknya.
Wanita yang mengalami keguguran akan mengalami reaksi psikologis
yang

bermacam-macam.

Terdapat

beberapa

faktor

predisposisi

yang

berperan dalam timbulnya distress atau morbiditas psikologis pada wanita


yang mengalami keguguran. Sebagai contoh, wanita yang memiliki riwayat
penyakit psikiatrik sebelumnya, belum memiliki anak serta minimnya
dukungan dari orang sekitar, perasaan tidak menginginkan anak, maupun
pengalaman keguguran yang pernah dialami sebelumnya, menjadi faktor
yang mendorong peningkatan kejadian distress psikologis. Selain itu,
kejadian bunuh diri tak jarang terjadi pada wanita yang mengalami
keguguran. Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Finlandia menemukan

Page 4

fakta bahwa 18,1 dari 100.000 wanita yang keguguran memutuskan untuk
bunuh diri

dibandingkan mereka yang melahirkan bayinya (5,9 dari

100.000).
. Keguguran yang menimpa seorang wanita dapat menimbulkan efek
psikologis yang menimbulkan berbagai macam tingkat keparahan. Sebagai
contoh,

anxietas

yang

berkepanjangan

setelah

kejadian

keguguran,

timbulnya depresi dilaporkan terjadi pada wanita bahkan pria segera setelah
kejadian keguguran. DSM-IV mendeskripsikan perasaan duka cita (grief and
sadness) sebagai episode depresi mayor yang disertai berbagai gejala
seperti kehilangan nafsu makan, berat badan, perasaan bersalah, insomnia,
dan perasaan-perasaan tersakiti. Terdapat pula laporan mengenai kejadian
post traumatic stress disorder, obsessive-compulsive disorder, dan gangguan
panik. Beberapa efek psikologis ini merupakan sindrom dan gangguan yang
secara klinis signifikan, sehingga membutuhkan identifikasi dan tatalaksana
yang adekuat. Namun, selama ini follow-up rutin untuk mengidentifikasi
psikopatologi yang signifikan setelah kejadian keguguran masih belum
dilakukan secara umum.
4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai
Peristiwa keguguran pada wanita akan menimbulkan pertanyaan pada
sebagian orang mengenai status darah yang keluar setelah dikuret. Apakah
darah tersebut terhitung nifas atau tidak. Sementara itu, hukum terkait hal
ini didasarkan pada hadits mengenai urutan penciptaan manusia sebaga
berikut :
Hadits

dari

Ibnu

Masud radhiyallahu

anhu,

bahwasanya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan kepada kami, dan


beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah orang yang benar dan yang
mendapat

berita

yang

benar, Sesungguhnya

seseorang

dari

kalian

dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam


bentuk nuthfah, kemudian menjadi alaqah seperti itu pula, kemudian
menjadi mudhghah seperti itu pula. Kemudian seorang malaikat diutus
kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan kepadanya
untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan
celaka atau bahagianya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Seperti dikutip dari fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, terkait status darah
keguguran yang dialami wanita, para ulama memberikan rincian sebagai

Page 5

berikut :
Pertama, keguguran terjadi ketika janin berada pada dua fase pertama,
yaitu fase nutfah yang masih bercampur dengan mani, berlangsung selama
40 hari pertama, lalu fase alaqah, yaitu segumpal darah yang berlangsung
selama 40 hari kedua. Sehingga total dua fase ini berjalan selama 80 hari.
Apabila terjadi keguguran pada dua fase ini, ulama sepakat bahwa
status darah keguguran tidak dihukumi sebagai darah nifas. Para ulama
menghukumi darah ini sebagai darah istihadhah. Sehingga hukum yang
berlaku untuk wanita ini sama dengan wanita suci yang sedang mengalami
istihadhah, sehingga tetap wajib sholat, puasa, dst. Dan setiap kali waktu
sholat, wanita ini disyariatkan membersihkan darahnya dan berwudhu. Jika
ada darah yang keluar di tengah sholat, tetap dilanjutkan dan status
sholatnya sah, serta tidak perlu diulang.
Kedua, keguguran terjadi pada fase ketiga, yaitu fase mudhghah,
dalam bentuk gumpalan daging. Pada fase ini, mulai terjadi pembentukan
anggota badan, bentuk, wajah, dst. Fase ini berjalan sejak usia 81 hari
sampai 120 hari masa kehamilan.
Jika pada fase ini terjadi keguguran, ulama merinci menajdi dua :
1. Janin belum terbentuk seperti layaknya manusia. Pembentukan anggita
badan masih sangat tidak jelas. Hukum keguguran dengan model janin
semacam ini, statusnya sama dengan keguguran di fase pertama. Artinya
status wanita tersebut dihukumi sebagai wanita mustahadhah.
2. Janin sudah terbentuk seperti layaknya manusia, sudah ada anggota
badan yang terbentuk, dan secara dzahir seperti prototype manusia kecil.
Status

keguguran

dengan

model

janin

semacam

ini

dihukumi

sebagaimana wanita nifas. Sehingga berlaku semua hukum nifas untuk


wanita ini.
Oleh karena itu, jika mengalami keguguran pada usia 81 sampai 120
hari, untuk memastikan apakah statusnya nifas atau bukan, hal ini perlu
dikonsultasikan dengan dokter terkait, mengenai bentuk janinnya.

Ketiga, ketika keguguran terjadi di fase keempat, yaitu fase setelah ditiupkannya
ruh ke janin. Ini terjadi di usia kehamilan mulai 121 hari atau masuk bulan kelima
kehamilan. Jika terjadi keguguran pada fase ini, ulama sepakat wanita tersebut dihukumi
sebagaimana layaknya wanita nifas.
Umpan balik dari pembimbing

Page 6

Wonogiri, 2 Maret 2015


TTD Dokter Pembimbing

TTD Dokter Muda

dr. Yosie Arief Sanjaya, Sp.An

Sivi Budiananda

Sholikhah

Page 7