Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

MODIFIKASI RESEP LAUK NABATI (STEAK TAHU) DAN SAYUR


[SAMBAL CIS-POT (BUNCIS-POTATO)]
DALAM SIKLUS MENU KE LIMA
DI UNIT GIZI RSPAD GATOT SOEBROTO DITKESAD

Disusun Oleh :
DEA AZZA C.I.F.

(NIM. P2.06.31.2.13.007)

FANNY DEFIANI

(NIM. P2.06.31.2.13.012)

MAHFUZHOH F.H.

(NIM. P2.06.31.2.13.020)

MARLIANA TIWI F.

(NIM. P2.06.31.2.13.021)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM KESEHATAN
JURUSAN GIZI POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
PROGRAM STUDI DIPLOMA III GIZI CIREBON
2016

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI.................................................................................................................i
BAB

I PENDAHULUAN....................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................3
C. Tujuan....................................................................................................3
1. Tujuan Umum.........................................................................3
2. Tujuan Khusus........................................................................3

BAB

II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................5
A. Makanan Biasa.......................................................................................5
B. Konsep Dasar Hidangan Modifikasi Tahu.............................................5
1. Definisi Tahu..........................................................................5
2. Manfaat Tahu..........................................................................6
3. Kandungan Gizi Tahu................................................................7

C. Konsep Dasar Hidangan Modifikasi Sayur............................................8


1. Buncis.................................................................................. 8
2. Kentang............................................................................... 10

BAB

III PENGEMBANGAN PRODUK.........................................................15


A. Definisi Pengembangan Produk...........................................................15
B. Kegiatan Pengembangan Produk.........................................................17

BAB

IV METODE PENGEMBANGAN HIDANGAN.................................19


A. Waktu dan Tempat................................................................................19
i

B. Sasaran Konsumen...............................................................................19
C. Lauk Nabati..........................................................................................19
1. Nama Produk...................................................................................19
2. Bahan-Bahan...................................................................................20
3. Cara Membuat.................................................................................20
4. Alat..................................................................................................21
5. Alur..................................................................................................22
6. Analisis Kebutuhan Bahan dan Biaya.............................................23
7. Analisis Zat Gizi..............................................................................24
D. Sayur....................................................................................................25
1. Nama Produk...................................................................................25
2. Bahan-Bahan...................................................................................25
3. Cara Membuat.................................................................................25
4. Alat..................................................................................................26
5. Alur..................................................................................................27
6. Analisis Kebutuhan Bahan dan Biaya.............................................28
7. Analisis Zat Gizi..............................................................................28
BAB

V HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................29


A. Lauk Nabati..........................................................................................30
1. Kajian Analisa Produk.............................................................30
2. Hasil Uji Organoleptik............................................................32

B. Sayur....................................................................................................34
1. Kajian Analisa Produk.............................................................34

ii

2. Hasil Uji Organoleptik............................................................36

BAB

VI PENUTUP............................................................................................40
A. Kesimpulan..........................................................................................40
B. Saran....................................................................................................42

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................43

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit adalah suatu rangkaian
mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada
konsumen, dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui
pemberian diet yang tepat. Tujuan untuk menyediakan makanan yang
kualitasnya baik, jumlah sesuai kebutuhan serta pelayanan yang baik, dan
layak sehingga memadai bagi klien atau konsumen yang membutuhkan
(Kemenkes RI, 2013).
Kegiatan penyelenggaraan makanan merupakan bagian dari instalasi
gizi atau unit pelayanan gizi di rumah sakit. Sistem penyelenggaraan makanan
di rumah sakit terbagi menjadi dua, yaitu swakelola dan out-sourcing.
Instalasi

atau

unit

gizi

bertanggung

jawab

atas

semua

kegiatan

penyelenggaraan makanan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi


adalah sistem swakelola. Sistem out-sourcing yaitu penyelenggaraan makanan
yang memanfaatkan perusahaan jasa boga atau catering. Semi out-sourcing,
pengusaha jasa boga memanfaatkan sarana dan prasarana dari rumah sakit,
sedangkan full out-sourcing pengusaha jasa boga tidak memanfaatkan sarana
dan prasana milik rumah sakit melainkan milik perusahaannya sendiri
(Kemenkes RI, 2013). Pemberian makanan yang memenuhi gizi seimbang

serta habis termakan merupakan salah satu cara untuk mempercepat


penyembuhan dan memperpendek hari rawat (Kemenkes RI, 2013).
Penyelenggaraan makanan merupakan salah satu sarana penunjang
dalam pelayanan kesehatan. Tujuan dari penyelenggaraan makanan untuk
mencukupi kebutuhan pasien terhadap gizi seimbang. Sekitar 20 40%
anggaran rumah sakit digunakan untuk makanan. Biaya adalah sumber daya
yang sangat penting dan menentukan dalam penyelenggaraan makanan rumah
sakit. Biaya ini harus diperhitungkan dan dikendalikan seefisisen serta
seefektif mungkin (Utami, 2010).
Menu yang disajikan dalam satu kali penyajian terdiri dari makanan
pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah. Rumah Sakit Pusat
Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto merupakan salah satu rumah sakit
yang menjalankan sistem penyelenggaraan makanan dengan sistem swakelola,
dengan adanya siklus menu 10 hari. Penulis bermaksud memodifikasi menu,
dengan memperhatikan waktu, biaya, nilai gizi, dan daya terima pasien.
Hidangan yang disajikan di rumah sakit diharapkan dapat lebih variatif,
inovatif, agar tidak menimbulkan kebosanan pada pasien, rasa mual pada
pasien dan tidak terjadi malnutrisi. Modifikasi menu dari menu yang sudah
ada seperti hidangan nabati dan sayur dengan bahan sebelumnya adalah tahu,
sayur buncis dan kentang dikembangkan menjadi lebih menarik dari segi
warna, rasa, dan aroma namun tetap memperhatikan nilai gizi dan tekstur
yang sudah ditetapkan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini ingin
memberikan gambaran bagaimana inovasi atau pengembangan hidangan
nabati dan sayur dengan bahan sebelumnya adalah tahu, sayur buncis dan
kentang.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengembangkan

hidangan

nabati

dan

sayur

dengan

meningkatkan tingkat konsumsi dan daya terima pasien agar dapat


dijadikan hidangan untuk makanan biasa di Unit Gizi RSPAD Gatot
Soebroto Ditkesad.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap rasa dari
hidangan yang telah dimodifikasi.
b. Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap warna dari
hidangan yang telah dimodifikasi.
c. Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap aroma dari
hidangan yang telah dimodifikasi.
d. Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap tekstur dari
hidangan yang telah dimodifikasi.
e. Menganalisa alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan
hidangan modifikasi lauk nabati dan sayur pada makanan biasa.
f. Menganalisa waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan hidangan
modifikasi lauk nabati dan sayur pada makanan biasa.
3

g. Menganalisa biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan hidangan


modifikasi lauk nabati dan sayur pada makanan biasa.
h. Menganalisa zat gizi hidangan modifikasi lauk nabati dan sayur pada
makanan biasa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Makanan Biasa
Makanan biasa merupakan makanan sehari-hari yang beraneka ragam
dan bervariasi dengan bentuk, tekstur, dan aroma yang normal. Susunan
makanan mengacu pada pola menu seimbang dan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang di anjurkan bagi seseorang yang sehat. Makanan biasa di berikan
kepada pasien yang berdasarkan penyakit tidak memerlukan makanan khusus
(diet). Walaupun tidak ada pantangan secara khusus, namun makanan
sebaiknya tetap di berikan dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak
merangsang pada saluran cerna (Ahli Gizi, 2016).
B. Konsep Dasar Hidangan Modifikasi Tahu
1. Definisi Tahu
Tahu merupakan sumber protein nabati yaitu protein yang
berasal dari bermacam tumbuhan dan biji-bijian serta kacang-kacangan.
Tahu sangat diminati oleh masyarakat Indonesia karena memiliki
kandungan gizi yang cukup tinggi yakni kaya akan protein nabati dan
asam amino serta merupakan sumber zat pembangun tubuh. Protein
adalah zat yang berperan penting dalam proses pembentukan jaringan
otot. Protein juga berfungsi sebagai zat pengatur hormon-hormon yang

ada di dalam organ pencernaan manusia serta sebagai cadangan makanan


dan energi dalam tubuh (Wales, 2015).
Tahu adalah makanan yang dibuat dari endapan perasan biji
kedelai yang mengalami koagulasi. Tahu berasal dari Tiongkok seperti
halnya kecap, tauco, bakpau dan bakso. Nama Tahu merupakan serapan
dari bahasa Hokkian (tauhu) yang secara harfiah berarti kedelai
terfermentasi. Tahu memiliki kandungan protein tinggi dan zat penting
lainnya (Wales, 2015).
2. Manfaat Tahu
Tahu dengan kandungan asam folat yang bermanfaat mencegah
penyakit jantung, stroke, alzheimer (pikun), dan pembentukan sel darah
merah. Tahu kaya akan kandungan protein dan asam amino. Kedua zat
gizi ini sangat baik untuk pembentukan, pemeliharaan dan perbaikan selsel tubuh, pembentukan antibodi, dan meningkatkan kecerdasan otak
anak. Tahu berbahan dasar kedelai yang

banyak

mengandung

isoflavonoid, genestein yang merupakan sebagai antioksidan dan


fitosterol yang merupakan sangat baik untuk menurunkan kadar kolesterol
total, dan meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), sedangkan saponin,
asam fitat, dan protease inhibitor pada tahu dapat menyebabkan
pengeroposan tulang. Tahu juga mengandung semua asam amino esensial
dan kaya akan mineral, seperti magnesium, kalsium, dan zat besi. Zat-zat

gizi ini sangat penting untuk kesehatan saraf, perkembangan otak dan
pertumbuhan (Anggraini dan Surbakti, 2008).
3. Kandungan Gizi Tahu
Tahu merupakan bahan makanan yang memiliki kandungan zat
gizi yang baik yang diperlukan oleh tubuh. Komposisi zat gizi tahu
ditampilkan pada tabel.
Tabel 1. Komposisi nilai gizi pada 100 gram tahu segar
Jumlah Zat Gizi
Jumlah Kandungan Gizi
Energi
63 Kal
Air
86,7 gr
Protein
7,9 gr
Lemak
4,1 gr
Karbohidrat
0,4 gr
Serat
0,1 gr
Abu
0,9 gr
Kalium
150 mg
Besi
0,2 mg
Vitamin B1
0,004 mg
Vitamin B2
0,02 mg
Vitamin B6
0,239 mg
Niacin
0,4 mg
Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Rebuplik
Indonesia
Tahu mempunyai daya cerna yang tinggi yaitu mendekati 95%
sehingga dapat dikomsumsi oleh semua golongan umur, termasuk orang
yang mengalami gangguan pencernaan. Kandungan karbohidrat dan
kalorinya rendah menjadikan tahu baik sebagai menu bagi orang yang
menjalani diet karbohidrat. Setiap 200 gram tahu hanya memberikan
7,2% dari kebutuhan kalori orang dewasa perhari (Mahmud, dkk, 1990).

C. Konsep Dasar Hidangan Modifikasi Sayur


1. Buncis
a. Definisi Buncis
Buncis (dari

bahasa

Belanda boontjes untuk

kacang-

kacangan secara umum) adalah sejenis polong-polongan yang dapat


dimakan dari berbagai kultivar Phaseolus vulgaris. Buah, biji, dan
daunnya dimanfaatkan orang sebagai sayuran. Sayuran ini kaya
dengan kandungan protein (Wales, 2016).
Buncis adalah sayur yang kaya dengan protein dan vitamin
yang berguna untuk menurunkan tekanan darah serta mengawal
metabolisme gula dalam darah dan amat sesuai dikonsumsi oleh
penderita diabetes atau hipertensi. Kandungan serat dan enzim yang
tinggi dapat membantu penurunan berat badan (Wales, 2016).
b. Manfaat Buncis
Menurut Widodo (2015), kandungan dan beberapa manfaat
dari buncis adalah sebagai berikut:
1)

Mengatasi gejala penyakit diabetes. Zat seperti stigmasterol dan


sitisterol yang terkandung dalam buncis berperanan untuk
meningkatkan produksi insulin dari pankreas. Insulin ini yang
akan mengontrol kadar gula darah pada tubuh. Semakin banyak
produksi insulin makan akan semakin turun kadar gula darah.

2)

Makanan tinggi serat. Serat diet membantu menurunkan kadar


kolesterol darah, obesitas, dan sembelit.

3)

Sumber asam folat yang sangat baik. Studi penelitian


menunjukkan bahwa makanan yang kaya folat yang memadai
pada ibu hamil akan membantu mencegah cacat tabung saraf
pada bayi yang baru lahir. Mampu melancarkan ASI bagi ibu
hamil, dengan mengkonsumsi buncis yang berusia di bawah satu
tahun atau biasa dikenal baby bean.

4)

Kaya

dengan

pitosterol,

terutama

-sitosterol.

Studi

menunjukkan bahwa sayuran seperti kacang-kacangan, buahbuahan, dan sereal kaya sterol membantu menurunkan kadar
kolesterol dalam tubuh.
5)

Mengandung vitamin K yang telah ditemukan memiliki peran


dalam membangun massa tulang dengan mempromosikan
aktivitas osteo-trofik dalam tulang. Hal ini juga telah membatasi
kerusakan saraf di otak.

c. Kandungan Gizi Buncis


Buncis merupakan sumber protein, vitamin dan mineral
yang penting dan mengandung zat-zat lain yang berkhasiat untuk
obat dalam berbagai macam penyakit. Gum dan pektin yang
terkandung dapat menurunkan kadar gula darah, sedangkan lignin
berkhasiat untuk mencegah kanker usus besar dan kanker payudara.
9

Serat kasar dalam polong buncis sangat berguna untuk melancarkan


pencernaan sehingga dapat mengeluarkan zat-zat racun dari tubuh
(Cahyono, 2007). Zat-zat gizi yang terdapat di dalam buncis dalam
100 g bahan yang dapat dimakan dapat dilihat pada tabel.
Tabel 2. Kandungan nilai gizi kacang buncis per 100 g bahan
yang dapat dimakan
Kandungan Zat Gizi
Kalori
Jumlah Lemak
Lemak jenuh
Lemak tak jenuh ganda
Lemak tak jenuh tunggal
Kolesterol
Natrium
Kalium
Jumlah Karbohidrat
Serat pangan
Protein
Vitamin A
Kalsium
Vitamin D
Vitamin B12
Vitamin C
Zat besi
Vitamin B6
Magnesium
Sumber: Wales, 2016

Nilai Gizi
30 kkal
0,1 g
0g
0,1 g
0g
0 mg
6 mg
209 m
7g
3,4 g
1,8 g
108 IU
37 mg
0 IU
0 g
16,3 mg
1m
0,1 mg
25 mg

2. Kentang
a. Definisi Kentang
Kentang adalah tanaman hortikultura tetapi sekaligus juga
sebagai tanaman pangan penting di dunia dan mendapat prioritas
dalam pengembangannya di Indonesia. Hingga saat ini pertanaman
10

kentang masih terpusat di dataran tinggi dengan ketinggian 10003000 mdpl dengan produktivitas sekitar 16,2 ton /ha (Samosir, 2013).
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas
umbi-umbian yang banyak mendapat perhatian karena memiliki nilai
ekonomis yang cukup tinggi. Kentang (Solanum tuberosum L.)
merupakan salah satu jenis umbiumbian yang bergizi. Zat gizi yang
terdapat dalam kentang antara lain karbohidrat, mineral (besi, fosfor,
magnesium, natrium, kalsium, dan kalium), protein, serta vitamin
terutama vitamin C dan B1. Selain itu, kentang juga mengandung
lemak dalam jumlah yang relatif kecil, yaitu 1.0 1.5% (Bambang,
1987).
Komposisi kimia kentang sangat bervariasi tergantung varietas, tipe
tanah, cara budidaya, cara pemanenan, tingkat kemasakan dan
kondisi penyimpanan.
b. Manfaat Kentang
Menurut Yuliyana (2014), manfaat kentang antara lain sebagai
berikut:
1) Pencegahan kanker
Vitamin B6 pada kentang ampuh melawan terjadinya
pembentukan tumor dalam tubuh yang sangat memicu kanker,
dalam hal ini adalah kanker prostat pada pria dan kanker rahim
pada wanita. Mengkonsumsi kentang akan mencegah tumbuhnya

11

sel kanker dalam tubuh dan telah banyak studi yang


membuktikannya.
2) Mengurangi kadar kolesterol
Manfaat kentang dalam mengurangi kadar kolesterol
berasal dari kandungan zat potasium yang cukup banyak dalam
dirinya. Seperti yang dapat kita temui pada manfaat pisang, zat
potasium membantu menghalangi penumpukan kolesterol dalam
darah. Kalori yang rendah pada kentang, dapat menjadi menu
diet rendah kolesterol anda, tentu saja tanpa di goreng.
3) Mengurangi resiko batu ginjal
Memang pada kentang kandungan kalsium dan zat besi
dapat memicu pembentukan batu ginjal, namun magnesium yang
kaya pada kentang dapat menolak kalsium yang ada pada
jaringan ginjal. Pada orang-orang penderita batu ginjal, kentang
bukan merupakan makanan yang haram bahkan beberapa menu
diet juga melibatkan kentang.
4) Kesehatan tulang
Kentang sangat baik untuk tulang, kandungan zat besi
yang terdapat pada kentang memastikan ia sangat membantu
pertumbuhan dan kesehatan tulang secara keseluruhan. Zat Besi,
kalsium, fosfor, magnesium, dan seng yang ada dalam kentang

12

merupakan

kombinasi

sempurna

untuk

membangun

dan

membentuk struktur serta kekuatan tulang.


5) Menurunkan tekanan darah tinggi
Asupan natrium harus dikurangi agar dapat membantu
dalam hal menurunkan tekanan darah, namun meningkatkan
asupan kalium cukup penting untuk menurunkan tekanan darah
ini. Sumber zat lain seperti kalium, magnesium, dan kalsium
merupakan zat yang dipercaya dapat menurunkan anda yang
memiliki tekanan darah tinggi.
6) Kesehatan jantung
Ada banyak zat gizi yang terdapat di dalam sebuah
kentang yang dapat mendukung kinerja jantung yang sehat, serat,
kalium,

vitamin

dan

vitamin

B6

adalah

beberapa

diantaranya. Kentang juga tidak memiliki kandungan kolesterol


yang tinggi semuanya sangat baik untuk jantung.
7) Membangun dan pembentukan sel
Vitamin B6 merupakan salah satu vitamin penting yang
dibutuhkan untuk melakukan pemrosesan reaksi kimia yang
dibutuhkan untuk membentuk sel dalam tubuh. Vitamin B6
dibutuhkan lebih dari 100 reaksi enzimatik, enzim sendiri adalah
protein yang menyebabkan terjadinya reaksi kimia. Sebagian
besar protein dan asam amino membutuhkan vitamin B6 untuk
13

sintesis dalam pembentukan DNA dalam tubuh. Untuk itu


vitamin B6 ini juga dibutuhkan untuk pembuatan sel sel baru
dalam tubuh kita.
8) Kesehatan otak & saraf
Kandungan vitamin B6 yang tinggi juga sangat
membantu kesehatan otak dan membantu dalam proses transmisi
yang dilakukan dalam saraf.
c. Kandungan Gizi Kentang
Tabel 3. Komposisi Kimia Kentang Tiap 100 g
Kandungan Zat Gizi
Kalori
Jumlah Lemak
Lemak jenuh
Lemak tak jenuh ganda
Lemak tak jenuh tunggal
Kolesterol
Natrium
Kalium
Jumlah Karbohidrat
Serat pangan
Gula
Protein
Vitamin A
Kalsium
Vitamin D
Vitamin B12
Vitamin C
Zat besi
Vitamin B6
Magnesium
Sumber: Wales, 2016

14

Nilai Gizi
76 kkal
0,1 g
0g
0g
0g
0 mg
6 mg
421 mg
17 g
2,2 g
0,8 g
2g
2 IU
12 mg
0 IU
0 g
19,7 mg
0,8 mg
0,3 mg
23 mg

BAB III
PENGEMBANGAN PRODUK

A. Definisi Pengembangan Produk


Pengembangan produk dan inovasi merupakan hal penting yang
dibutuhkan oleh sebuah perusahaan ataupun rumah sakit.

Inovasi adalah

perubahan pengetahuan yang sudah ada atau pengetahuan yang baru menjadi
produk baru atau mengubah produk, proses, dan pelayanan yang bermaksud
untuk membuat nilai yang baru kepada pelanggan dan memberikan
peningkatan keuntungan kepada pembuat inovasi (Magrab et all., 2010 dalam
Mustamu & Wijaya, 2013). Inovasi dan kreativitas mempunyai arti yang
hampir sama. Inovasi mempunyai arti untuk membuat ide atau sebuah hal
baru sedangkan kreativitas adalah kepandaian membuat hal baru tersebut
menjadi ada dan nyata (Wilemon & Millson, 2006 dalam dalam Mustamu &
Wijaya, 2013).
Produk baru dapat dikelompokkan dalam berbagai definisi, yaitu
produk yang benar-benar baru (belum pernah ada sebelumnya), hasil
modifikasi produk yang sudah ada atau hasil meniru produk yang sudah ada.
Pengembangan produk dilakukan agar pasien di rumah sakit tidak merasa
bosan dengan hidangan yang ada, selain itu pengembangan produk juga dapat
meningkatkan daya kreativitas seseorang (Kusnandar, 2010).

15

Menurut Kotler & Fernando (2003) dalam Mustamu & Wijaya,


(2013), dalam melakukan sebuah inovasi produk ada beberapa dasar yang
dibutuhkan:
1. Modulasi
Melakukan pengubahan suatu karakter dasar dari produk dengan
mengubah karater fisik. Contohnya produk deterjen yang memperbanyak
pemutih, kadar sabun, dan pewangi.
2. Ukuran
Melakukan pengubahan pada volume dari produk tersebut. Contohnya
minuman ringan dengan volume 10 ons, 20 ons, 1 liter, 2 liter.
3. Kemasan
Melakukan pengubahan pada kemasan untuk mengubah persepsi
konsumen mengenai produk tersebut, agar sesuai dengan yang dinginkan.
Contohnya coklat Nestle dengan berbagai tipe kotak namun rasa dan
bentuknya sama. Untuk pendistribusian coklat dalam kotak kecil yang
sederhana dan terbuat dari kertas dijual di kios atau toko permen,
sedangkan ada juga kotak kertas tapi jauh lebih besar dijual di pasar
swalayan.
4. Desain
Melakukan pengubahan pada desain kemasan produk, namun untuk
kemasan dan ukuran tetap sama. Contohnya banyak inovasi peralatan ski
dari tahun ke tahun hanya melakukan perubahan pada desain warna.
16

5. Komplemen
Melakukan pengubahan dengan menambahkan sejumlah bahan baru ke
dalam produk. Contohnya biskuit yang ditaburi gula, kayu manis, coklat
susu.
6. Pengurangan upaya
Melakukan pengubahan dengan menurunkan upaya dan biaya dari produk.
Contohnya parfum yang mahal dari perusahaan ternama memutuskan
untuk mengeluarkan parfum dengan harga yang jauh lebih rendah agar
dapat dijangkau konsumen.
B. Kegiatan Pengembangan Produk
Kegiatan pengembangan produk pangan merupakan kegiatan yang
sering dilakukan oleh industri pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumen
dan peluang pasar. Pengembangan produk pangan yang baru sebaiknya
melalui tahapan-tahapan yang sistematis dan terencana. Proses yang sistematis
dan terencana dalam pengembangan produk diharapkan dapat meminimalisir
resiko kegagalan (Kusnandar 2010).
Pengembangan produk pangan di rumah sakit perlu dilakukan agar
makanan yang disajikan kepada pasien menjadi lebih bervariasi dan menarik
sehingga diharapkan akan meningkatkan selera makan pasien dan
meminimalisir resiko rasa kejenuhan/kebosanan pasien terhadap makanan
rumah sakit yang telah ada sebelumnya. Pengembangan produk yang akan
dilakukan di Unit Gizi RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad adalah modifikasi

17

resep yang sudah ada di siklus menu ke lima menjadi hidangan baru dengan
bahan yang telah dikembangkan. Modifikasi yang akan dilakukan adalah
modifikasi terhadap lauk nabati dan sayur dalam siklus menu ke lima dengan
menjadikan hidangan yang lebih menarik dan tetap memperhatikan nilai gizi.

18

BAB IV
METODE PENGEMBANGAN HIDANGAN

A. Waktu dan Tempat


Kegiatan modifikasi produk dilakukan pada tanggal 15 Februari
2016. Tempat kegiatan dilakukan di ruang Food Service RSPAD Gatot
Soebroto Ditkesad Jakarta.
B. Sasaran Konsumen
Modifikasi resep makanan ini merupakan modifikasi dari resep
makanan biasa yang ditujukan/dianjurkan untuk pasien non diet khusus,
pegawai, tenaga pengolah dan lain sebagainya selain pasien diet khusus.
C. Lauk Nabati
1. Nama Produk
Nama produk setelah dimodifikasi yaitu Steak Tahu.

2. Bahan-Bahan
a. Tahu putih balok 7 bh (350 gr)

19

b. Bawang bombay 1 bh
c. Bawang putih 4 siung
d. Minyak sayur 37 ml
e. Tepung maizena 5 gr
f. Tepung terigu 50 gr
g. Bumbu teriyaki (saori teriyaki) 1 bks
h. Kecap manis
i. Air 100 ml
j. Lada 5 gr
k. Gula dan garam 1 sdm (13 gr)
3. Cara Membuat
a. Iris tahu menjadi dua bagian tipis kemudian balut dengan tepung terigu
yang sudah diberi garam, goreng dan tiriskan
b. Bersihkan bawang bombay dan bawang putih dengan cara dikupas dan
dicuci
c. Iris bawang bombay dan bawang putih, sisihkan
d. Bersihkan daun bawang dengan cara dicuci kemudian disiangi
e. Iris daun bawang, sisihkan
f. Panaskan minyak sayur ke dalam wajan, dan tumis bawang bombay dan
bawang putih hingga harum
g. Tuangkan bumbu teriyaki kemudian tepung maizena yang dicairkan
kira-kira seperempat gelas, aduk hingga mengental
20

h. Tambahkan irisan daun bawang


i. Tambahkan garam dan gula secukupnya, setelah itu matikan kompor
diamkan sejenak
j. Cara penyajian: tahu diletakkan dalam piring, tambahkan saus steak, dan
ditambahkan saus pedas.
4. Alat
a.

Piring

b.

Mangkok

c.

Wajan

d.

Spatula

e.

Kompor

f.

Garpu

g.

Pisau

h.

Talenan

i.

Saringan minyak

j.

Baskom

k.

Centong

21

5. Alur

Tahu

Tepung
bumbu

Bawang
bombay

Pencucian

Bawang
putih

Daun
Bawang

Pengupasan

Pencucian

Pencucian

Penyiangan

Pengirisan

Pemotongan

Pembaluran

Minyak
Gula pasir
Saori teriyaki

Penggorengan
Pemasakan

Garam
Maizena

Sajikan

Lada

22

6. Analisis Kebutuhan Bahan dan Biaya


Nama Bahan
Saori Teriyaki
Sachet
Tahu Putih
Daun Bawang
Bawang Bombay
Bawang Putih
Minyak sayur
Tepung terigu
Tepung maizena
Gula
Garam
Lada
Kecap manis

Berat Bahan sesuai Kebutuhan

Harga/kg

Harga Bahan sesuai Kebutuhan

1 bks (22 ml)

1.564

7 bh (350 gr)
12 gr
1 bh (20 gr)
4 siung
37 ml
50 gr
5 gr
1 sdm (13 gr)
1 sdm (13 gr)
5 gr
5 gr

7.500/bks
34.000
16.500
19.000
11.000
8.000
17.000
12.000
6.000
-

5.250
408
800
500
407
400
85
156
78
130
206
9.984
1.426/porsi

TOTAL

7. Analisis Zat Gizi


Jenis Pangan
Tahu
Minyak
Tepung terigu
Maizena
Bawang
Bombay
Daun bawang
Kecap
Gula pasir
Total (7 porsi)
Total / Porsi

Gram
E
P
L
KH
Ca
P
Fe
Vit. A Vit. B
350 238.00 27.30 16.10 5.60 434.00 220.50 0.00
0.00
0.35
37
333.74 0.00 37.00 0.00
0.00
0.00 0.00 2960.00
0.00
50
182.50 4.45 0.65 38.65
8.00 53.00 0.60
0.00
0.05
5
17.15 0.02 0.00 4.25
1.00
1.50 0.08
0.00
0.00
21
12
15
16

8.88

0.28

0.04

2.03

6.32

8.69 0.10

Vit. C
0.00
0.00
0.00
0.00

1.18

0.00

1.78

2.81 0.14 0.02 0.64


3.24
3.12 0.07
0.37
6.90 0.86 0.20 1.35 18.45 14.40 0.86
0.00
58.24 0.00 0.00 15.04
0.80
0.16 0.02
0.00
848.22 33.03 54.00 67.57 471.81 301.37 1.71 2961.56
121.17 4.72 7.71 9.65 67.40 43.05 0.24 423.08

0.01
0.00
0.00
0.41
0.06

1.06
0.00
0.00
2.84
0.41

D. Sayur
1. Nama Produk
Nama produk setelah dimodifikasi yaitu Sambal Cis-Pot
(Buncis-Potato).

2. Bahan-Bahan
a. 350 gr buncis
b. 350 gr kentang sedang
c. Minyak untuk menggoreng secukupnya
d. 300 gr cabe merah, 7 siung bawang merah, 3 siung bawang putih,
kemiri secukupnya, garam secukupnya, gula pasir 13 gr, haluskan
3. Cara Membuat
a. Bersihkan kentang dengan cara dicuci dan dikupas kulitnya
b. Potong kentang berbentuk jardiniere (persegi panjang)
c. Panas kan minyak secukupnya, lalu goreng kentang hingga matang
lalu angkat
d. Blancing buncis, kemudian campurkan dengan kentang yang sudah
digoreng

e. Goreng bawang putih yang telah dihaluskan sampai harum,


tambahkan bawang merah halus, cabe merah halus dan terakhir
kemiri halus, tumis bumbu hingga matang
f. Masukkan kentang dan buncis lalu di orak arik sampai semuanya
tercampur rata. Setelah matang, angkat dan sajikan
4. Alat
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Piring
Mangkok
Wajan
Spatula
Kompor
Garpu
Pisau
Talenan
Saringan minyak
Baskom
Centong

Cabe
merah

5. Alur
Kentang

Buncis

Pencucian

Pencucian

Pengupasan

Penyiangan

Pemotongan
Perendaman

Pemotongan

Bawang
bombay

Bawang
putih

Bawang
merah

Pengupasan
Pencucian
Pemotongan

Blancing

Menggoreng

Minyak
Pemasakan

Sajikan

Garam

6. Analisis Kebutuhan Bahan dan Biaya


Nama Bahan
Buncis
Kentang
Minyak
Cabai merah
Bawang merah
Bawang putih
Garam
Gula pasir

Berat Bahan sesuai Kebutuhan


350 gr
350 gr
28 gr
300 gr
7 siung
3 siung
Secukupnya
13 gr

Harga/kg
8.000
9.000
11.000
20.000
32.000
19.000
6.000
12.000

Harga Bahan sesuai Kebutuhan


3.000
3.500
308
2.000
500
156
9.464
1.352/porsi

TOTAL

7. Analisis Zat Gizi


Jenis
Gram
Pangan
Buncis
350
Kentang
350
Gula pasir
13
Minyak
28
Total (7 porsi)
Total / Porsi

KH

Ca

Fe

Vit. A

110.25
246.93
47.32
252.56
657.06
93.87

7.56
5.95
0.00
0.00
13.51
1.93

0.63
0.30
0.00
28.00
28.93
4.13

24.26
56.82
12.22
0.00
93.30
13.33

20.48
32.73
0.65
0.00
53.85
7.69

13.86
166.60
0.13
0.00
180.59
25.80

3.47
2.08
0.01
0.00
5.56
0.79

299.25
0.00
0.00
2240.00
2539.25
362.75

Vit.
B
0.32
0.30
0.00
0.00
0.61
0.09

Vit. C
59.85
50.58
0.00
0.00
110.43
15.78

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengembangan resep merupakan suatu kegiatan untuk meningkatkan


menu sehingga lebih berkualitas dalam hal rasa, warna, aroma, tekstur, dan nilai
gizi. Modifikasi resep dilakukan pada menu biasa dalam siklus menu kelima
untuk makan sore yaitu menu bakwan tahu dan sop buncis kentang yang
dimodifikasi menjadi steak tahu dan sambal cis-pot (buncis-potato).
Kegiatan modifikasi menu berbahan dasar tahu, buncis dan kentang yang
dilaksanakan pada tanggal 15 Februari 2016 di dapur Unit Gizi RSPAD Gatot
Soebroto Ditkesad. Kegiatan ini dilakukan mulai pukul 08.00-13.00 WIB mulai
dari pengolahan sampai dengan penyajian untuk dilakukan uji organoleptik. Uji
organoleptik dilakukan dengan dihadiri 35 panelis yang terdiri dari ahli gizi,
petugas pengolah, dan mahasiswa.
Penilaian menu yang dimodifikasi dilakukan dengan uji cita rasa atau uji
organoleptik. Uji organoleptik merupakan cara pengujian dengan menggunakan
indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap
produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan
mutu, uji ini dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan
kerusakan lainnya dari produk. Panelis diberikan kertas kuisioner kemudian
panelis mencicipi sampel dan memberikan nilai pada produk yang disajikan.
Panelis juga dapat memberikan saran untuk produk yang dihidangkan dalam
formulir uji organoleptik yang diberikan.

29

A. Lauk Nabati
1. Kajian Analisa Produk
a. Waktu (Lamanya Pengolahan)
Sebelum Modifikasi (Bakwan

Setelah Modifikasi (Steak

Tahu)
Tahu)
60 menit
30 menit
Berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam
pengolahan, terdapat perbedaan lamanya waktu pengolahan
antara makanan sebelum dimodifikasi dan setelah modifikasi.
Setelah dimodifikasi, waktu yang dibutuhkan lebih efisien yaitu
30 menit lebih cepat. Lamanya waktu pengolahan dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal seperti banyaknya tenaga
pengolah, alat yang digunakan, proses/banyaknya langkah
pengolahan dan lain sebagainya.
Dalam manajemen penyelenggaraan makanan di Unit
Gizi RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad, pengolahan makanan
dilakukan oleh banyak tenaga pengolah dan alat yang mendukung
sehingga modifikasi resep ini dapat menjadi pertimbangan untuk
diterapkan dengan estimasi lamanya waktu pengolahan yang
sama/tidak jauh berbeda dengan lamanya waktu pengolahan saat
resep baru tersebut dicoba.
b. Analisis Zat Gizi
Sebelum Modifikasi
(Bakwan Tahu)
E = 114,45 Kkal

30

Setelah Modifikasi (Steak


Tahu)
E = 121,17 Kkal

P = 5,32 gr
P = 4,72 gr
L = 5,97 gr
L = 7,71 gr
KH = 10,97 gr
KH = 9,65 gr
Berdasarkan nilai gizi setelah dimodifikasi terjadi
peningkatan pada nilai energi. Hal ini dapat mencukupi
kebutuhan energi pasien.
c. Analisis Kebutuhan Biaya
Sebelum Modifikasi (Bakwan

Setelah Modifikasi (Steak

Tahu)
Tahu)
1.431/porsi
1.426/porsi
Berdasarkan analisis kebutuhan biaya, biaya makanan
per porsi setelah dimodifikasi lebih rendah daripada sebelum
dimodifikasi. Hal ini dapat menjadi pertimbangan penerapan
modifikasi resep di rumah sakit karena biaya yang dibutuhkan
tidak lebih besar dari sebelumnya.

2. Hasil Uji Organoleptik


a. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Rasa
Diagram 1 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Rasa

31

Diagram 1 menunjukkan bahwa sebanyak 54% panelis


(19 orang) menyukai rasa dari steak tahu. Hal ini menunjukkan
bahwa daya terima hidangan yang disajikan dapat disukai karena
rasanya yang cukup lezat dan tingkat kematangan yang sesuai
berdasarkan penilaian panelis.
b. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Warna
Diagram 2 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Warna

Diagram 2 menunjukkan bahwa sebagian besar panelis


yaitu sebanyak 63% (22 orang) menyukai warna dari steak tahu.
Hal ini menunjukkan bahwa warna dari hidangan sudah menarik
karena eksistensi warna yang bagus dan tidak pucat sehingga
dapat diterima oleh panelis.
c. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Aroma
Diagram 3 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Aroma

32

Diagram 3 menunjukkan bahwa sebagian besar panelis


yaitu 71% (25 orang) menyukai makanan biasa bahan dasar nabati
yang dijadikan steak tahu dari segi aroma. Hal ini menunjukkan
bahwa aroma dari makanan biasa untuk pasien secara oral dapat
membuat seseorang menjadi tertarik untuk mencoba karena
berawal dari aroma yang sedap dan menggugah selera, orang akan
tertarik melihat dan mencoba makanan tersebut.

d. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Tekstur


Diagram 4 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Tekstur

33

Diagram 4 menunjukkan bahwa

sebagian besar

panelis yaitu 63% (22 orang) menyukai tekstur makanan biasa


bahan dasar nabati

yang dijadikan steak tahu. Hal ini

menunjukkan bahwa tekstur dari makanan biasa untuk pasien


secara oral dapat diterima dan membuat seseorang menikmati
makanan yang dihidangkan dengan tekstur yang sesuai dengan
daya terima.
B. Sayur
1. Kajian Analisa Produk
a. Waktu (Lamanya Pengolahan)
Sebelum Modifikasi (Gulai

Setelah Modifikasi [Sambal

Buncis Kentang)
Cis-Pot (Buncis-Potato)]
60 menit
30 menit
Berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam
pengolahan, terdapat perbedaan lamanya waktu pengolahan
antara makanan sebelum dimodifikasi dan setelah modifikasi.
Setelah dimodifikasi, waktu yang dibutuhkan lebih efisien yaitu
30 menit lebih cepat. Lamanya waktu pengolahan dapat

34

dipengaruhi oleh beberapa hal seperti banyaknya tenaga


pengolah, alat yang digunakan, proses/banyaknya langkah
pengolahan dan lain sebagainya.
Dalam manajemen penyelenggaraan makanan di Unit
Gizi RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad, pengolahan makanan
dilakukan oleh banyak tenaga pengolah dan alat yang mendukung
sehingga modifikasi resep ini dapat menjadi pertimbangan untuk
diterapkan dengan estimasi lamanya waktu pengolahan yang
sama/tidak jauh berbeda dengan lamanya waktu pengolahan saat
resep baru tersebut dicoba.
b. Analisis Zat Gizi
Sebelum Modifikasi (Gulai
Buncis Kentang)
E = 559,87 kkal
P = 19,97 gr
L = 19,89 gr
KH = 117,68 gr
Berdasarkan nilai gizi

Setelah Modifikasi [Sambal


Cis-Pot (Buncis-Potato)]
E = 657,06 kkal
P = 13,51 gr
L = 4,13 gr
KH = 13,33 gr
setelah dimodifikasi terjadi

peningkatan pada nilai energi. Hal ini dapat mencukupi


kebutuhan energi pasien.
c. Analisis Kebutuhan Biaya
Sebelum Modifikasi (Gulai

Setelah Modifikasi [Sambal

Buncis Kentang)
Cis-Pot (Buncis-Potato)]
1.754/porsi
1.352/porsi
Berdasarkan analisis kebutuhan biaya, biaya makanan
per porsi setelah dimodifikasi lebih rendah daripada sebelum
dimodifikasi. Hal ini dapat menjadi pertimbangan penerapan

35

modifikasi resp di rumah sakit karena biaya yang dibutuhkan


tidak lebih besar dari sebelumnya.
2. Hasil Uji Organoleptik
a. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Rasa
Diagram 5 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Rasa

Diagram 5 menunjukkan bahwa sebanyak 60% panelis


(21 orang) menyukai rasa dari Sambal Cis-Pot (Buncis-Potato).
Hal ini menunjukkan bahwa daya terima dari hidangan yang
disajikan dapat disukai karena rasanya yang cukup lezat dan
tingkat kematangan yang sesuai berdasarkan penilaian panelis.
b. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Warna
Diagram 6 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Warna

36

Diagram 6 menunjukkan bahwa sebagian besar panelis


yaitu sebanyak 71% (25 orang) menyukai warna dari Sambal CisPot (Buncis-Potato). Hal ini menunjukkan bahwa warna dari
hidangan sudah menarik karena eksistensi warna dan penyajian
yang bagus sehingga dapat diterima oleh panelis.

c. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Aroma


Diagram 7 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Aroma

Diagram 7 menunjukkan bahwa sebagian besar panelis


yaitu 71% (25 orang) menyukai makanan biasa bahan dasar sayur
kentang dan buncis yang dijadikan sambel cis-pot ala kerinci dari
segi aroma. Hal ini menunjukkan bahwa aroma dari makanan
biasa untuk pasien secara oral dapat membuat seseorang menjadi
terangsang untuk mencoba karena berawal dari aroma yang

37

menggairahkan, orang akan tertarik melihat dan mencoba


makanan tersebut.

d. Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan Aspek Tekstur


Diagram 8 Hasil Uji Organoleptik Hidangan Berdasarkan
Aspek Tekstur

Diagram 8 menunjukkan bahwa sebagian besar panelis


yaitu 60% (21 orang) menyukai makanan biasa bahan dasar sayur
kentang dan buncis yang dijadikan sambel cis-pot ala kerinci dari
segi tekstur. Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi makanan
biasa untuk pasien secara oral dapat diterima dan membuat
seseorang menikmati makanan yang dihidangkan dengan tekstur
yang sesuai dengan daya terima.

38

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil praktik modifikasi resep menu ke-5 dengan
bahan dasar protein nabati dan sayur yaitu steak tahu dan Sambal Cis-Pot
(Buncis-Potato) untuk makanan biasa bagi pasien tanpa diit khusus dapat
disimpulkan beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
1. Kegiatan modifikasi menu yang dilakukan

bertujuan

untuk

mengembangkan produk yang sudah ada di Unit Gizi RSPAD Gatot


Soebroto Ditkesad menjadi menu baru yang lebih bervariasi dalam segi
bahan, menekan harga menjadi lebih rendah, meningkatkan nilai gizi
dan dapat meningkatkan daya terima pasien dalam menyajikan
2.

makanan biasa tanpa diet khusus.


Keunggulan dari produk modifikasi ini adalah dari segi nilai gizi yang

meningkat dari resep menu sebelumnya.


3. Sasaran modifikasi resep makanan biasa ditujukan/dianjurkan untuk
pasien non diet khusus, pegawai, tenaga pengolah dan lain sebagainya
4.

selain pasien diet khusus.


Kandungan energi lauk nabati dalam 1 porsi meningkat sebesar 6,72%
serta kandungan lemak meningkat sebesar 1,74% dari menu

5.

sebelumnya yaitu bakwan tahu.


Kandungan energi sayur dalam 1 porsi meningkat sebesar 10% serta
kandungan lemak meningkat sebesar 0,86% dari menu sebelumnya
yaitu sop buncis kentang.

39

6.

Hasil uji organoleptik pada steak tahu berdasarkan aspek kesukaan


untuk warna 63%, rasa 54%, aroma 71% dan tekstur 63% sedangkan
untuk sambal Cis-Pot berdasarkan aspek kesukaan untuk warna 71%,
rasa 60%, aroma 71% dan tekstur 60%. Hal ini dapat disimpulkan baik
untuk tingkat kesukaan yang dinilai panelis karna nilainya sudah lebih

7.

dari 50%.
Harga untuk per porsi dari steak tahu untuk makanan biasa menurun

8.

yaitu dari Rp. 1431,- menjadi Rp. 1426,Harga untuk per porsi dari Sambal Cis-Pot (Buncis-Potato) untuk

9.

makanan biasa menurun yaitu dari Rp. 1754,- menjadi Rp. 1352,Waktu mengolahan dalam membuat steak tahu untuk makanan biasa

bagi pasien tanpa diet khusus yaitu 30 menit untuk 7 porsi.


10. Waktu mengolahan dalam membuat Sambal Cis-Pot (Buncis-Potato)
untuk makanan biasa bagi pasien tanpa diet khusus yaitu 30 menit
untuk 7 porsi.
11. Waktu daya tahan produk dari selesainya distribusi yaitu 6 jam.

B. Saran
1. Bisa dijadikan menu tetap di Unit Gizi RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad
karena pembuatan produk ini tidak memerlukan waktu yang cukup lama
dan harga perporsi produk yang kami buat lebih murah dibanding harga
perporsi dari menu yang sudah ada di RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad
serta meningkatkan kandungan gizi pada menu yang telah dimodifikasi.

40

2. Tahu yang digunakan untuk membuat steak tahu seharusnya menggunakan


tahu dengan tekstur yang lebih lembut dan berwarna putih dan tidak berasa
keasaman, agar saat tahu matang masi tetap terasa lembut.
3. Saat membuat saus teriyaki untuk topping steak tahu, warnanya lebih
pekat dari tahunya dan kekentalannya harus diperhatikan agar terlihat
menarik serta bumbu yang digunakan tidak berlebihan/kekurangan (seperti
halnya kurang asin/garam).
4. Bahan dasar untuk membuat Sambal Cis-Pot (Buncis-Potato) untuk
buncis, pilihlah buncis yang lebih muda dan berwarna hijau segar agar saat
dimasak dan matang rasa buncis tidak pahit.
5. Dalam pembuatan Sambal Cis-Pot (Buncis-Potato) bumbu yang digunakan
sebaiknya tidak terlalu tajam/ merangsang sistem pencernaan (terlalu
pedas).

41

DAFTAR PUSTAKA

Ahli

Gizi. 2016. Internet. Diet Makanan Biasa. Tersedia dalam


https://www.ahligizi.info/diet-makanan-biasa/ [Diakses tanggal 10
Februari 2016]

Anggraini, D. R. dan Surbakti, Y. 2008. Super Komplit Menu Sehari-Hari


Sepanjang Masa. Jakarta: Wahyu Media
Bambang, Prayudi. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kentang (Solanum
Tuberosum L.). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian, Jawa Tengah.
Cahyono, B. 2007. Kacang Buncis: Teknik Budidaya dan Analisis Usaha Tani.
Yogyakarta: Kanisius
Kemenkes RI (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia). 2013. Pelayanan
Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Kusnandar, Feri. 2010. Internet. Pengembangan Produk. Tersedia dalam
http://itp.fateta.ipb.ac.id/ [Diakses tanggal 10 Februari 2016]
Mahmud, Mien K, dkk. 1990. Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia. Depertemen
Kesehatan Rebuplik Indonesia, Direktorat Bina Gizi Masyarakat dan
Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor
Mustamu, R. H dan Wijaya, W. S. 2013. Analisis Pengembangan Produk pada
Perusahaan Tepung Terigu di Surabaya. Jurnal Mahasiswa Program Studi
Manajemen Universitas Kristen Petra Vol. 1 No. 1 2013
Samosir, O. M. 2013. Respon Eksplan Kentang (Solanum Tuberasum) Terhadap
Penggunaan Yang Di Perbanyak Melalui Embriogenesis Tidak Langsung.
Skripsi, Fakultas Pertanian Universitas Darma Agung Medan
Utami,

Siti. 2010. Internet. BAB I Pendahuluan. Tersedia dalam


http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-1675-BAB1.pdf.
[Diakses tanggal 10 Februari 2016]

Wales,

Jimmy
Donal.
2016.
Internet.
Buncis.
Tersedia
dalam
https://id.wikipedia.org/wiki/Buncis [Diakses tanggal 10 Februari 2016]

42

Wales,

Jimmy Donal. 2016. Internet. Kentang. Tersedia dalam


https://id.wikipedia.org/wiki/Kentang [Diakses pada tanggal 29 Februari
2016]

Wales,

Jimmy
Donal.
2015.
Internet.
Tahu.
Tersedia
dalam
https://id.wikipedia.org/wiki/Tahu [Diakses tanggal 10 Februari 2016]

Widodo. 2015. Internet. Manfaat Hebat Dan Kandungan Gizi Buncis. Tersedia
dalam
http://klinikgizi.com/2015/09/05/manfaat-hebat-dan-kandungangizi-buncis/ [Diakses tanggal 10 Februari 2016]
Yuliyana. 2014. Internet. 11 Manfaat Kentang bagi Kesehatan Tubuh. Tersedia
dalam http://manfaat.co.id/manfaat-kentang [Diakses tanggal 10 Februari
2016]

43