Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Promosi kesehatan adalah suatu proses membantu individu masyarakat meningkatkan
kemampuan dan keterampilannya mengontrol berbagai faktor yang berpengaruh pada
kesehatan,sehigga dapat meningkatkan derajat kesehatan nya (WHO).Menurut Green dan
Kreuter (1991),promosi kesehatan adalah kombinasi dari pendidikan kesehatan dan faktor-faktor
organisasi,ekonomi dan lingkungan yang seluruhnya mendukung terciptanya perilaku yang
kondusif terhadap kesehatan.Adapun yang dimaksud dengan perilaku kesehatan menurut Kasl
dan Cobb (1996) meliputi : a) perilaku pencegahan, b) perilaku sakit, dan c) perilaku peran sakit.
Misi dari promosi kesehatan adalah advokasi,mediasi dan pemberdayaan.Yang dimaksud
dengan advokasi adalah upaya meyakinkan para pengambil kebijakan agar memberikan
dukungan berbentuk kebijakan terhadap suatu program. Mediasi adalah upaya mengembangna
jejaring atau kemitraan, lintas program, lintas sector dan lintas institusi guna menggalang
duungan bagi implementasi program. Adapun pemberdayaan berarti upaya meningkatkan
kemampuan kelompok sasaran sehingga kelompok sasaran mampu mengembangkan tindakan
tepat atas berbagai permasalahan yang dialami.
Konsep pemberdayaan mengemukan sejak dicanangkannya Strategi Global WHO tahun
1984, yang ditindaklanjuti dengan rencana aksi dalam Piagam Ottawa (1986). Dalam deklarasi
tersebut

dinyatakan tentang perlunya mendorong terciptanya: a. Kebijakan berwawasan

kesehatan, b. lingkungan yang mendukung, c. Reorentasi dalam pelayanan kesehatan, d.


Keterampilan individu, dan e. gerakan masyarakat. Olehnya itu, untuk lebih jelasnya makalah ini
akan membahas masalah pemberdayaan masyarakat dalam konsep promosi kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Pemberdayaan
Empowerment yang dalam bahasa Indonesia berarti pemberdayaan, adalah sebuah
konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat kebudayaan Barat,
utamanya Eropa. Memahami konsep empowerment secara tepat harus memahami latar belakang
kontekstual yang melahirkannya. Konsep empowerment mulai nampak sekitar dekade 70-an dan
terus berkembang hingga 1990-an. (Pranarka & Vidhyandika,1996).
Pranarka dan Vidhyandika (Hikmat, 2004) menjelaskan bahwa konsep pemberdayaan
dapat dipandang sebagai bagian atau sejiwa sedarah dengan aliran yang muncul pada paruh abad
ke-20 yang lebih dikenal sebagai aliran ostmodernisme. Aliran ini menitikberatkan pada sikap
dan pendapat yang berorientasi pada jargon antisistem, antistruktur, dan antideterminisme yang
diaplikasikan pada dunia kekuasaan. Pemahaman konsep pemberdayaan oleh masing-masing
individu secara selektif dan kritis dirasa penting, karena konsep ini mempunyai akar historis dari
perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat. Prijono Dan Pranarka (1996)
membagi dua fase penting untuk memahami akar konsep pemberdayaan, yakni: pertama,
lahirnya Eropa modern sebagai akibat dari dan reaksi terhadap alam pemikiran, tata masyarakat
dan tata budaya Abad Pertengahan Eropa yang ditandai dengan gerakan pemikiran baru yang
dikenal sebagai Aufklarung atau Enlightenment, dan kedua, lahirnya aliran aliran pemikiran
eksistensialisme, phenomenologi, personalisme yang lebih dekat dengan gelombang NeoMarxisme, Freudianisme, strukturalisme dan sebagainya.
Perlu upaya mengakulturasikan konsep pemberdayaan tersebut sesuai dengan alam
pikiran dan kebudayaan Indonesia. Perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan
Barat diawali dengan proses penghilangan harkat dan martabat manusia (dehumanisasi). Proses
penghilangan harkat dan martabat manusia ini salah satunya banyak dipengaruhi oleh kemajuan
ekonomi dan teknologi yang nantinya dipakai sebagai basis dasar dari kekuasaan (power).
Power adalah kemampuan untuk mendapatkan atau mewujudkan tujuan. Bachrach dan
Baratz (1970) membuktikan bahwa power adalah konsep rasional (rational concept). Dalam

pandangan mereka, power yang dilakukan A hanya dilakukan dalam hubungan individu atau
kelompok B untuk memenuhi kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan yang diberikan oleh B yang rela
melakukan pilihan atas sanksi yang ada atau akan kehilangan sesuatu yang lebih tinggi
(kekuasaan atau uang). Ironisnya, kekuasaan itu kemudian membuat bangunanbangunan yang
cenderung manipulatif, termasuk sistem pengetahuan, politik, hukum, ideologi dan religi. Akibat
dari proses ini, manusia yang berkuasa menghadapi manusia yang dikuasai. Dari sinilah muncul
keinginan untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi dan menghasilkan system
alternatif yang menemukan proses pemberdayaan. Sistem alternatif memerlukan proses
empowerwent of the powerless. Namun empowerment hanya akan mempunyai arti kalau
proses pemberdayaan menjadi bagian dan fungsi dari kebudayaan, yaitu aktualisasi dan
koaktualisasi eksistensi manusia dan bukan sebaliknya menjadi hal yang destruktif bagi proses
aktualisasi dan koaktualisasi eksistensi manusia (Prijono Dan Pranarka, 1996).
Para ilmuwan sosial dalam memberikan pengertian pemberdayaan mempunyai rumusan
yang berbeda-beda dalam berbagai konteks dan bidang kajian, artinya belum ada definisi yang
tegas mengenai konsep tersebut. Namun demikian, bila dilihat secara lebih luas, pemberdayaan
sering disamakan dengan perolehan daya, kemampuan dan akses terhadap sumber daya untuk
memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, agar dapat memahami secara mendalam tentang
pengertian pemberdayaan maka perlu mengkaji beberapa pendapat para ilmuwan yang memiliki
komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat.
Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan
sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak.
Ife (1995) mengemukakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kata empowerment, yang
berarti memberi daya, member power (kuasa), kekuatan, kepada pihak yang kurang berdaya.
Segala potensi yang dimiliki oleh pihak yang kurang berdaya itu ditumbuhkan, diaktifkan,
dikembangkan sehingga mereka memiliki kekuatan untuk membangun dirinya. Pemberdayaan
masyarakat dalam pengembangan masyarakat menekankan kemandirian masyarakat itu sebagai
suatu sistem yang mampu mengorganisir dirinya. Payne (1997) menjelaskan bahwa
pemberdayaan pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan daya, kekuatan
dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan
berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam
melakukan tindakan. Paul (1987) menyatakan bahwa pemberdayaan berarti pembagian

kekuasaan yang adil sehuingga meningkatkan kesadaran politis kekuasaan kelompok yang lemah
serta memperbesar pengaruh mereka terhadap proses dan hasil-hasil pembangunan. Rappaport
(1987) mengatakan bahwa pemberdayaan diartikan sebagai pemahaman secara psikologis
pengaruh kontrol individu terhadap keadaan sosial, kekuatan politik dan hak-haknya. MacArdle
(1989) mengartikan pemberdayaan sebagai proses pengambilan keputusan oleh orang orang
secara konsekuen melaksanakan keputusan itu. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif
diberdayakan

melalui

kemandiriannya,

bahkan

merupakan

keharusan

untuk

lebih

diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, ketrampilan serta
sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan
eksternal.
Pemberdayaan dapat diartikan sebagai suatu pelimpahan atau pemberian kekauatan
(power) yang akan menghasilkan hierarki kekuatan dan ketiadaan kekuatan, seperti yang
dikemukakan Simon (1990) dalam tulisannya tentang Rethinking Empowerment. Simon
menjelaskan bahwa pemberdayaan suatu aktivitas refleksi, suatu proses yang mampu
diinisiasikan dan dipertahankan hanya oleh agen atau subyek yang mencari kekuatan atau
penentuan diri sendiri (selfdetermination). Sementara proses lainnya hanya dengan memberikan
iklim, hubungan, sumber-sumber dan alat-alat prosedural yang melaluinya masyarakat dapat
meningkatkan kehidupannya. Pemberdayaan merupakan sistem yang berinteraksi dengan
lingkungan sosial dan fisik. Dengan demikian pemberdayaan bukan merupakan upaya
pemaksaan kehendak, proses yang dipaksakan, kegiatan untuk kepentingan pemrakarsa dari luar,
keterlibatan dalam kegiatan tertentu saja,dan makna-makna lain yang tidak sesuai dengan
pendelegasian kekuasaan atau kekuatan sesuai potensi yang dimiliki masyarakat.
Sulistiyani (2004) menjelaskan lebih rinci bahwa secara etimologis pemberdayaan
berasal dari kata dasar "daya" yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian
tersebut, maka pemberdayaan dimaknai sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau
kemampuan, dan atau proses pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang
memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya. Berdasarkan beberapa pengertian
pemberdayaan yang dikemukakan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya
pemberdayaan adalah suatu proses dan upaya untuk memperoleh atau memberikan daya,
kekuatan atau kemampuan kepada individu dan masyarakat lemah agar dapat mengidentifikasi,
menganalisis, menetapkan kebutuhan dan potensi serta masalah yang dihadapi dan sekaligus

memilih alternatif pemecahnya dengan mengoptimalkan sumberdaya dan potensi yang dimiliki
secara mandiri.
Pemberdayaan sebagai proses menunjuk pada serangkaian tindakan yang dilakukan
secara sistematis dan mencerminkan pentahapan kegiatan atau upaya mengubah masyarakat yang
kurang atau belum berdaya, berkekuatan, dan berkemampuan menuju keberdayaan. Makna
"memperoleh" daya, kekuatan atau kemampuan menunjuk pada sumber inisiatif dalam rangka
mendapatkan atau meningkatkan daya, kekuatan atau kemampuan sehingga memiliki
keberdayaan. Kata "memperoleh" mengindikasikan bahwa yang menjadi sumber inisiatif untuk
berdaya berasal dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, masyarakat harus menyadari akan
perlunya memperoleh daya atau kemampuan. Makna kata "pemberian" menunjukkan bahwa
sumber inisiatif bukan dari masyarakat. Inisiatif untuk mengalihkan daya, kemampuan atau
kekuatan adalah pihak-pihak lain yang memiliki kekuatan dan kemampuan, misalnya pemerintah
atau agen-agen pembangunan lainnya .
2.2 Proses Pemberdayaan
Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa proses pemberdayaan mengandung
dua kecenderungan. Pertama, proses pemberdayaan yang mene-kankan pada proses memberikan
atau mengalihkan sebagian kekuatan, kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat agar
individu lebih berdaya. Kecenderungan pertama tersebut dapat disebut sebagai kecenderungan
primer dari makna pemberdayaan. Sedangkan kecenderungan kedua atau kecenderungan
sekunder menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar
mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan
hidupnya melalui proses dialog.
Kartasasmita (1995) menyatakan bahwa proses pemberdayaan dapat dilakukan melalui
tiga proses yaitu: Pertama: Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi
masyarakat berkembang (enabling). Titik tolaknya adalah bahwa setiap manusia memiliki
potensi yang dapat dikembangkan. Artinya tidak ada sumberdaya manusia atau masyarakat tanpa
daya. Dalam konteks ini, pemberdayaan adalah membangun daya, kekuatan atau kemampuan,
dengan mendorong (encourage) dan membangkitkan kesadaran (awareness) akan potensi yang
dimiliki serta berupaya mengembangkannya. Kedua, memperkuat potensi atau daya yang
dimiliki oleh masyarakat (empo-wering), sehingga diperlukan langkah yang lebih positif, selain

dari iklim atau suasana. Ketiga, memberdayakan juga mengandung arti melindungi. Dalam
proses pemberdayaan, harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah, oleh karena
kekurangberdayaannya dalam menghadapi yang kuat.
Proses pemberdayaan warga masyarakat diharapkan dapat menjadikan masyarakat
menjadi lebih berdaya berkekuatan dan berkamampuan. Kaitannya dengan indikator masyarakat
berdaya, Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu: (1) mampu
memahami diri dan potensinya, mampu merencanakan (mengantisipasi kondisi perubahan ke
depan), (2) mampu mengarahkan dirinya sendiri, (3) memiliki kekuatan untuk berunding, (4)
memiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling
menguntungkan, dan (5) bertanggungjawab atas tindakannya.
Slamet (2003) menjelaskan lebih rinci bahwa yang dimaksud dengan masyarakat berdaya
adalah masyarakat yang tahu, mengerti, faham termotivasi, berkesempatan, memanfaatkan
peluang, berenergi, mampu bekerjasama, tahu berbagai alternative, mampu mengambil
keputusan, berani mengambil resiko, mampu mencari dan menangkap informasi dan mampu
bertindak sesuai dengan situasi. Proses pemberdayaan yang melahirkan masyarakat yang
memiliki sifat seperti yang diharapkan harus dilakukan secara berkesinambungan dengan
mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara bertanggungjawab.
Adi (2003) menyatakan bahwa meskipun proses pemberdayaan suatu masyarakat
merupakan suatu proses yang berkesinambungan, namun dalam implementasinya tidak semua
yang direncanakan dapat berjalan dengan mulus dalam pelaksanaannya. Tak jarang ada
kelompok-kelompok dalam komunitas yang
melakukan penolakan terhadap pembaharuan ataupun inovasi yang muncul. Watson (Adi,
2003) menyatakan beberapa kendala (hambatan) dalam pembangunan masyarakat, baik yang
berasal dari kepribadian individu maupun berasal dari sistem sosial:
a.

Berasal dari Kepribadian Individu; kestabilan (Homeostatis), kebiasaan (Habit), seleksi Ingatan
dan Persepsi (Selective Perception and Retention), ketergantungan (Depedence), Super-ego,
yang terlalu kuat, cenderung membuat seseorang tidak mau menerima pembaharuan, dan rasa tak
percaya diri (self- Distrust)

b.

Berasal dari Sistem Sosial; kesepakatan terhadap norma tertentu (Conformity to Norms),
yangmengikat sebagian anggota masyarakat pada suatu komunitas tertentu, kesatuan dan
kepaduan sistem dan budaya (Systemic and Cultural Coherence), kelompok kepentingan (vested

Interest), hal yang bersifat sacral (The Sacrosanct), dan penolakan terhadap Orang Luar
(Rejection of Outsiders)
2.3 Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Promosi kesehatan adalah suatu proses membantu individu dan masyarakat
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya guna mengontrol berbagai faktor yang
berpengaruh pada kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya (WHO).
Promosi kesehatan adalah kombinasi pendekatan pendidikan kesehatan dan pendekatan
organisasi, ekonomi, lingkungan yang seluruhnya mendukung terciptanya perilaku yang kondusif
dengan kesehatan (Mee Lian,1998).
Hubley (2002) mengatakan, bahwa pemberdayaan kesehatan (health empowerment),
melek (sadar) kesehatan (health literacy) dan promosi kesehatan (health promotion) diletakkan
dalam kerangka pendekatan yang komprehensif.Pemberdayaan didiskusikan dalam kerangka
bagaimana mengembangkan kemampuan penduduk untuk menolong didrinya sendiri (selfeficacy) dari teori belajar sosial.
Freira (dalam Hubley 2002) mengatakan,bahwa pemberdayaan adalah suatu proses
dinamis yang dimulai dari dimana masyarakat belajar langsung dari tindakan. Pemberdayaan
masyarakat biasanya dilakukan dengan pendekatan pengembangan masyarakat. Pengembangan
masyarakat biasanya berisis bagaimana masyarakat mengembangkan kemampuannya serta
bagaimana masyarakat mengembangkan kemampuannya serta bagaimana meningkatkan peran
serta masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Apabila kerangka diatas ditelaah, maka yang dimaksud dengan upaya pemberdayaan
berarti serangkaian upaya untuk:
a.

Self efficacy , maka upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan kesehatan yang
terus

menerus

menggunakan

beberapa

metode

yang

cocok,

kombinasi

komunikasi

massa,komunikasi kelompok serta komunikasi interpersonal. Yang lain adalah memberikan


pelatihan tentang tindakan-tindakan yang diperlukan dalam kesehatan, dalam upaya-upaya
meningkatkan (promotif), upaya pencegahan (preventif), upaya pengobatan (kuratif) maupun
upaya pemulihan (rehabilitatife) sehingga masyarakat mempunyai kemampuan dan kepercayaan
diri untuk mengambil tindakan yang rasional.

b.

Health literacy, dimana pada bidang ini diperlukan upaya pendidikan masyarakat tentang
pengenalan tema-tema dan isu kesehatan tertentu dan terkini, serta memberikan pelatihan
sehingga masyarakat yang sudah memahaminya mampu dan mau mengkomunikasikan kepada
anggota masyarakat lain. Sebagai contoh masyarakat mulai diperkenalkan dengan penyakitpenyakit akibat gaya hidup, misalnya akibat merokok, akibat minum minuman keras, akibat
menyalahgunakan narkotika, dan isu-isu lain.
Dengan demikian, sebenarnya pemberdayaan adalah suatu proses membantu memperkuat
kemampaun masyarakat, sehingga menjembatani jarak komunikasi antara petugas (provider) dan
kelompok sasaran ( target audiences/ communities). Hal ini sangat diperlukan mengingat sifat
dasar dari promosi kesehatan maupun pendidikan kesehatan yang cenderung bersifat top-down.

2.4 Langkah-langkah Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sebagai proses dan
sebagai hasil. Sebagai hasil, pemberdayaan masyarakat adalah suatu perubahan yang signifikan
dalam aspek sosial politik dalam aspek sosial politik yang dialami oleh individu dan masyarakat,
yang seringkali berlangsung dalam waktu yang cukup panjang, bahkan seringkali lebih dari 7
tahun (Raeburn,1993).
Sebagai suatu proses, Jackson (1989), Labonte (1994), dan Rissel (1994) mengatakan,
pemberdayaan masyarakat melibatkan beberapa komponen berikut, yaitu:
a.

Pemberdayaan personal.

b. Pengembangan kelompok kecil.


c.

Pengorganisasian masyarakat.

d. Kemitraan.
e.

Aksi sosial dan politik.


Dengan demikian,pemberdayaan masyarakat mempunyai spektrum yang cukup
luas,meliputi jenjang sasaran yang diberdayakan (level of objects), kegiatan internal
masyarakat/komunitas maupun eksternal berbentuk kemitraan (partnership) dan jejaring
(networking) serta dukungan dari atas berbentuk kebijakan politik yang mendukung kelestarian
pemberdayaan.
Untuk itu maka pemberdayaan masyarakat dapat dilakasanakan dengan mengikuti
langkah-langkah:

1.

Merancang keseluruhan program, termaksud didalamnya kerangka waktu kegiatan,ukuran


program,serta

memberikan

perhatian

kepada

kelompok

masyarakat

yang

terpinggirkan.Perancangan program dilakukan menggunakan pendekatan partisipatoris, dimana


antara agen perubahan (pemerintah dan LSM) dan masyarakat bersama-sama menyusun
perencanaan. Perencanaan partisipatoris (participatory planning) ini dapat mengurangi terjadinya
konflik yang muncul antara dua pihak tersebut selama program berlangsung dan setelah program
dievaluasi.Sering terjadi apabila sutu kegiatan berhasil, banyak pihak bahkan termaksud yang
tidak berpartisipasi, berebut saling claim tentang peran diri maupun kelompoknya. Sebaliknya
jika program tidak berhasil, individu maupun kelompok bahkan yang sebenarnya berkontribusi
atas kegagalan tersebut, saling menyalahkan.
Perencanaan program pemberdayaan masyarakat harus memperhatikan adanya kelompok
masyarakat yang terpinggirkan (termarginalisasi). Marginalisasi adalah sutu proses sejarah
masyrakat yang kompleks,yang membuat mereka tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi
berbagai kebutuhannya, tidak mempunyai akses yang memadai terhadap sumber daya. Oleh
karenanya, untuk menghindari agar ini tidak semakin terpinggirkan, diperlukan perencanaan
yang lebih komprehensif.
2. Menetapkan tujuan. Tujuan promosi kesehatan biasanya dikembangkan pada tahap perencanaan
dan bisanya berpusat pada mencegah penyakit,mengurangi kesakitan dan kematian dan
manajemen gaya hidup melalui upaya perubahan perilaku yang secara spesifik berkaitan dengan
kesehatan. Adapun tujuan pemberdayaan biasanya berpusat bagaimana masyarakat dapat
mengontrol keputusannya yang berpengaruh pada kesehatan dan kehidupan masyarakatnya.
3.

Memilih strategi pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang terdiri dari
lima pendekatan, yaitu: pemberdayaan, pengembangan kelompok kecil, pengembangan dan
penguatan pengorganisasian mayrakat, pengembangan dan penguatan jaringan antarorganisasi,
dan tindakan politik. Strategi pemberdayaan meliputi: pendidikan masyarakat, mendorong
tumbuhnya swadaya masyarakat sebagai pra-syarat pokok tumbuhnya tanggung jawab sebagai
anggota masyarakat (community responsibility), fasilitasi upaya mengembangkan jejaring antar
masyarakat, serta advokasi kepada pengambil keputusan (decision maker).

4.

Implementasi strategi dan manajemen.Implementasi strategi serta manajemen program


pemberdayaan dilakukan dengan cara: a.meningkatkan peran serta pemercaya (stakeholder),
b.menumbuhkan kemampuan pengenalan masalah, c. mengembangkan kepemimpinan local,

d.membangun keberdayaan struktur organisasi, e. meningkatkan mobilisasi sumber daya, f.


memperkuat kemampuan stakeholder untuk bertanya mengapa?, g. meningkatkan control
stakeholder atas manajemen program, dan h. membuat hubungan yang sepadan dengan pihak
luar.
5. Evaluasi program.Pemberdayaan masyarakat dapat berlangsung lambat dan lama, bahkan boleh
dikatakan tidak pernah berhenti dengan sempurna. Sering terjadi, hal-hal tertentu yang menjadi
bagian dari pemberdayaan baru tercapai beberapa tahun sesudah kegiatan selesai.Oleh
karenanya, akan lebih tepat jika dievaluasi diarahkan pada proses pemberdayaannya daripada
hasilnya.

2.5 Pemberdayaan Masyarakat Dan Partisipasi


Pemberdayaan dapat didefinisikan sebagai:
a.

To give power or authority (memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuatan, atau


mendelegasikan otoritas ke pihak lain).

b. To give ability to or enable (upaya untuk memberikan kemampuan atau keberdayaan).


Mendelegasikan wewenang pada hakikatnya adalah memberikan kepercayaan kepada orang/
pihak lain yang kita anggap cukup mempunyai kemampuan. Pendelegasian bukan suatu kegiatan
yang dapat dilakukan tanpa pemikiran yang matang. Orang diberikan wewenang ditetapkan
berdasarkan kriteria

tertentu yang ketat, sehingga pendelegasian tidak menyebabkan

terganggunya pekerjaan secara keseluruhan.


Pemberdayaan adalah suatu proses aktif, dimana masyarakat yang diberdayakan harus berperan
serta aktif (berpartisipasi) dalam berbagai kegiatan. Dengan demikian nantinya masyarakat akan
mempunyai pengalaman aktual, yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan program sejenis
dimasa mendatang.
Partisipasi adalah peran serta aktif anggota masyarakat dalam berbagai jenjang kegiatan. dilihat
dari konteks pembangunan kesehatan,partisipasi adalah keterlibatan masyarakat

yang

diwujudkan dalam bentuk menjalin kemitraan diantara masyarakat dan pemerintah dalam
perencanaan, implementasi dan berbagi aktifitas program kesehatan, mulai dari pendidikan
kesehatan, pengembangan program kemandirian dalam kesehatan, sampai dengan mengontrol
perilaku masyarakat dalam menanggapi teknologi dan infrastuktur kesehatan.

Studi Heller (1971) terhadap 260 orang eksekutif bisnis menunjukan bahwa partisipasi
memberikan beberapa manfaat , diantaranya:
1. Meningkatkan kualitas teknis dari pengambilan keputusan.
2. Meningkatkan kenyamanan.
3. Mengkatkan komuniksi.
4. Memberikan katihan kepada bawahan.
5. Memfasilitasi perubahan.
Dengan demikian dapat dirumuskan adanya tiga dimensi partisipasi,yaitu:
a.

Keterlibatan semua unsure atau keterwakilan kelompok [group representation] dalam proses
pengambilan

keputusan.

namun

mengingat

sulitnya

membuat

peta

pengelompokan

masyarakat ,maka cara paling mudah pada tahap ini adalah mengajak semua anggota masyarakat
untuk mengikuti tahap ini.
b.

Kontribusi massa sebagai pelaksana /implementor dari keputusan yang diambil, ada tiga
kemungkinan reaksi masyarakatyang muncul, yaitu: a.secara terbuka menerima keputusan dan
bersedia melsaksanakan, b. secara terbuka menolaknya, dan c. tidak secara terbuka menolak,
namun menunggu perkembangan yang terjadi.Meskipun demikian, mengambil keputusan harus
terus menerus mendorong agar semua pihak bersikap realistis,menerima keputusan secara
bertanggung jawab, serta secara bersama sama menanggung risiko dari keputusan tersebut.Hal
ini harus disadari,karena program program yang diputuskan adalah program yang ditujukan
untuk masyarakat, oleh karenanya pelaksanya juga masyarakat.

c.

Anggota

masyarakat

secara

bersma

sama

menikmati

hasil

dari

program

yang

dilaksanakan.bagian ini penting,sebab sering terjadi karena merasa berjasa, ada pihak tertentu
menuntut bagian manfaat yang paling besar.Oleh karenanya,pada tahap ini perlu ada keselarasan
antara asas pemerataan dan asas keadilan.
Cary (1970) mengatakan, bahwa partisipasi dapat tumbuh jika tiga kondisi berikut terpenuhi:
a.

Merdeka untuk berpartisipasi, berarti adanya kondisi yang memungkinkan anggota-anggota


masyarakat untuk berpartisipasi.

b.

Mampu untuk berpartisipasi,adanya kapasitas dan kompetensi anggota masyarakat sehingga


mampu untuk memberikan sumbang saran yang konstruktif untuk program.

c.

Mau berpartisipasi, kemauan atau kesediaan anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam
program.
Ketiga kondisi itu harus hadir secara bersama-sama.Apabila orang mau dan mampu tetapi tidak
merdeka untuk berpartisipasi,maka orang tidak akan berpartisipasi.
Menurut Ross (1960),terdapat tiga prakondisi tumbuhnya partisipasi,yaitu:

a.

Mempunyai pengetahuan yang luas dan latar belakang yang memadai sehingga dapat
mengidentifikasi masalah,prioritas masalah dan melihat permasalahan secara komprehensif.

b. Mempunyai kemampuan untuk belajar cepat tentang permasalahan,dan belajar untuk mengambil
keputusan.
c.

Kemampuan mengambil tindakan dan bertindak efektif.


Batasan Ross di atas sebenarnya menuntut prasyarat bahwa orang-orang yang akan berpartisipasi
harus memenuhi persyaratan tertentu,yaitu kompetensi kognisi tertentu.Pendapat ini mungkin
cocok diterapkan pada kelompok masyarakat yang cukup cerdas, namun mengandung banyak
kelemahan apabila diterapkan pada masyarakat yang agak terbelakang.
Menurut Chapin (1939), partisipasi dapat diukur dari yang rendah sampai yang tertinggi, yaitu:

a.

Kehadiran individu dalam pertemuan-pertemuan.

b. Memberikan bantuan dan sumbangan keuangan.


c.

Keanggotaan dalam kepanitiaan kegiatan.

d. Posisi kepemimpinan.
Berdasarkan teori Chapin, maka partisipasi yang tertinggi dilakukan oleh pemimpin.Meskipun
terlihat

agak

kontroversial,

kepemimpinan,walaupun

namun

jumlahnya

bisa

dapat
paling

dipahami,karena

dal;am

sedikit,pemimpin

konteks

menentukan

keberhasilanorganisasi.
Apabila dilihat dari subjek partisipasi, Sanders (1958) membedakannya menjadi:
a.

Pemimpin-pemimpin lokal,adalah tokoh masyarakat dan pemimpin formal dan non formal yang
mempunyai pengaruh besar dal;am mengambil keputusan dan mendorong anggota masyarakat
untuk melaksanakannya.

b.

Penduduk yang profesional, adalah penduduk setempat yang mempunyai kemampuan tertentu
yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan.

c.

Pihak luar yang profesional, adalah pihak-pihak diluar kelompok masyarakat, yang diminta
maupun tidak, memberikan bantuan untuk kelancaran kegiatan program.

d. Pekerja serbaguna pengembangan masyarakat yang mempunyai komitmen kuat atas kemajuan
masyarakat,serta senantiasa membantu dan melaksanakan berbagai program yang ada.
Keterbukaan (inclusive) akan sangat membantu terutama dalam konteks keterbatasan
diri,maupun implementasi kemitraan (partnership).
Selanjutnya Sutton dan Kolaja (1960), membagi peran-peran dalam partisipasi program menjadi
tiga, yaitu:
1. Pelaku, adalah pihak yang mengambil peran dan tindakan aktif dalam program.
2. Penerima, adalah pihak yang nantinya akan menerima manfaat dari program yang dijalankan.
3. Publik, adalah pihak yang tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan program,tetapi dapat
membantu pihak pelaku.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Empowerment yang dalam bahasa Indonesia berarti pemberdayaan, adalah sebuah
konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat kebudayaan Barat,
utamanya Eropa. Memahami konsep empowerment secara tepat harus memahami latar belakang
kontekstual yang melahirkannya. Konsep empowerment mulai nampak sekitar dekade 70-an dan
terus berkembang hingga 1990-an. (Pranarka & Vidhyandika,1996).
Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa proses pemberdayaan mengandung
dua kecenderungan. Pertama, proses pemberdayaan yang mene-kankan pada proses memberikan
atau mengalihkan sebagian kekuatan, kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat agar
individu lebih berdaya. Kecenderungan pertama tersebut dapat disebut sebagai kecenderungan
primer dari makna pemberdayaan. Sedangkan kecenderungan kedua atau kecenderungan
sekunder menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar
mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan
hidupnya melalui proses dialog.
Promosi kesehatan adalah suatu proses membantu individu dan masyarakat
meningkatkan kemampuan dan keterampilannya guna mengontrol berbagai faktor yang
berpengaruh pada kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya (WHO).
Promosi kesehatan adalah kombinasi pendekatan pendidikan kesehatan dan pendekatan
organisasi, ekonomi, lingkungan yang seluruhnya mendukung terciptanya perilaku yang kondusif
dengan kesehatan (Mee Lian,1998). Hubley (2002) mengatakan, bahwa pemberdayaan kesehatan
(health empowerment), melek (sadar) kesehatan (health literacy) dan promosi kesehatan (health
promotion)

diletakkan

dalam

kerangka

pendekatan

yang

komprehensif.Pemberdayaan

didiskusikan dalam kerangka bagaimana mengembangkan kemampuan penduduk untuk


menolong didrinya sendiri (self-eficacy) dari teori belajar sosial.

Pemberdayaan Masyarakat bidang Kesehatan

Pengertian Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk


menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi,
memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan
masyarakat bidang kesehatan adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran kemauan
dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Memampukan masyarakat, dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri.
Tujuan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah :
1. Tumbuhnya kesadaran, pengetahuan dan pemahaman akan kesehatan bagi individu, kelompok
atau masyarakat. Pengetahuan dan kesadaran tentang cara cara memelihra dan meningkatkan
kesehatan adalah awal dari keberdayaan kesehatan. Kesadaran dan pengetahuan merupakan
tahap awal timbulnya kemampuan, karena kemampuan merupakan hasil proses belajar. Belajar
itu sendiri merupakan suatu proses yang dimulai dengan adanya alih pengetahuan dari sumber
belajar kepada subyek belajar. Oleh sebab itu masyarakat yang mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatan juga melalui proses belajar kesehatan yang dimulai dengan
diperolehnya informasi kesehatan. Dengan informasi kesehatan menimbulkan kesadaran akan
kesehatan dan hasilnya adalah pengetahuan kesehatan.
2. Timbulnya kemauan atau kehendak ialah sebagai bentuk lanjutan dari kesadaran dan
pemahaman terhadap obyek, dalam hal ini kesehatan. Kemauan atau kehendak merupakan
kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan. Oleh sebab itu, teori lain kondisi semacam ini
disebut sikap atau niat sebagai indikasi akan timbulnya suatu tindakan. Kemauan ini
kemungkinan dapat dilanjutkan ke tindakan tetapi mungkin juga tidak atau berhenti pada
kemauan saja. Berlanjut atau tidaknya kemauan menjadi tindakan sangat tergantung dari
berbagai faktor. Faktor yang paling utama yang mendukung berlanjutnya kemauan adalah sarana
atau prasarana untuk mendukung tindakan tersebut.
3. Timbulnya kemampuan masyarakat di bidang kesehatan berarti masyarakat, baik seara individu
maupun kelompok, telah mampu mewujudkan kemauan atau niat kesehatan mereka dalam
bentuk tindakan atau perilaku sehat.
Kemampuan masyarakat dalam bidang kesehatan sesungguhnya mempunyai pengertian yang
sangat luas. Masyarakat yang mampu atau masyarakat yang mandiri di bidang kesehatan apabila
1.

Mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor faktor yang mempengaruhi masalah
masalah kesehatan, terutama di lingkungan atau masyarakat setempat. Agar masyarakat mampu

mengenali masalah kesehatan dan faktor faktor yang mempengaruhinya, masyarakat harus
mempunyai pengetahuan kesehatan yang baik (health litarasi). Pengetahuan kesehatan dan faktor
faktor yang mempengaruhinya yang harus dimiliki oleh masyarakat, sekurang kurangnya
sbb :
a. Pengetahuan tentang penyakit.
b. Pengetahuan tentang gizi dan makanan, yang harus dikonsumsi agar tetap sehat sebagai faktor
c.

penentu kesehatan seseorang.


Perumahan sehat dan sanitasi dasar yang diperlukan untuk menunjang kesehatan keluarga

d.

atau masyarakat.
Pengetahuan tentang bahaya bahaya merokok, dan zat zat lain yang dapat menimbulkan

gangguan kesehatan atau kecanduan yakni narkoba.


2. Mampu mengatasi masalah masalah kesehatan mereka sendiri secara mandiri.
Masyarakat mampu menggali potensi potensi masyarakat setempat untuk mengatasi masalah
kesehatan mereka.
3. Mampu memelihara dan melindungi diri, baik individual, kelompok, atau masyarakat dari
macam macam ancaman kesehatan.
Pengetahuan masyarakat akan kesehatan yang tinggi, masyarakat mampu memelihara dan
melindunginya dari ancaman kesehatan, menganantisipasi dengan cara pencegahan.
4. Mampu meningkatkan kesehatan, baik individual, kelompok, maupun masyarakat.
Prinsip Pemberdayaan Masyarakat :
Prinsipnya pemberdayaan masyarakat adalah menumbuhkan kemampuan masyarakat dari dalam
masyarakat itu sendiri.
Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan :
1. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.
Didalam masyarakat terdapat berbagai potensi yang dapat mendukung keberhasilan
program program kesehatan. Potensi dalam masyarakat dapat dikelompokkan menjadi potensi
sumber daya manusia dan potensi dalam bentuk sumber daya alam / kondisi geografis.
Tinggi rendahnya potensi sumber daya manusia disuatu komunitas lebih ditentukan oleh
kualitas, bukan kuatitas sumber daya manusia. Sedangkan potensi sumber daya alam yang ada
di suatu masyarakat adalah given. Bagaimanapun melimpahnya potensi sumber daya alam,
apabila tidak didukung dengan potensi sumber daya manusia yang memadai, maka komunitas
tersebut tetap akan tertinggal, karena tidak mampu mengelola sumber alam yang melimpah
tersebut.
2. Mengembangkan gotong royong masyarakat.

Potensi masyarakat yang ada tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik tanpa
adanya gotong royong dari masyarakat itu sendiri. Peran petugas kesehatan atau provider dalam
gotong royong masyarakat adalah memotivasi dan memfasilitasinya, melalui pendekatan pada
para tokoh masyarakat sebagai penggerak kesehatan dalam masyarakatnya.
3. Menggali kontribusi masyarakat.
Menggali dan mengembangkan potensi masing masing anggota masyarakat agar dapat
berkontribusi sesuai dengan kemampuan terhadap program atau kegiatan yang direncanakan
bersama. Kontribusi masyarakat merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam bentuk tenaga,
pemikiran atau ide, dana, bahan bangunan, dan fasilitas fasilitas lain untuk menunjang usaha
kesehatan
4. Menjalin kemitraan
Jalinan kerja antara berbagai sektor pembangunan, baik pemerintah, swasta dan lembaga
swadaya masyarakat, serta individu dalam rangka untuk mencapai tujuan bersama yang
disepakati. Membangun kemandirian atau pemberdayaan masyarakat, kemitraan adalah sangat
penting peranannya.
5. Desentralisasi
Memberikan pada masyarakat lokal untuk mengembangkan potensi daerah atau
wilayahnya
Dalam proses pemberdayaan hendaknya meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Enabling (menciptakan suasana kondusif).


Empowering (penguatan kapasitas dan kapabilitas masyarakt)
Protecting (perlindungan dari ketidakadilan)
Suporting (bimbingan dan dukungan)
Foresting (memelihara kondisi yang kondusif tetap seimbang.
Strategi pokok :

1.
2.
3.
4.

Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat


Meningkatkan akes masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas
Meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
Meningkatkan pembiayaan kesehatan
Diambil dari berbagai sumber, diantaranya :

Soekidjo Notoatmodjo, 2007,. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran
utama dari promosi kesehatan. Masyarakat atau komunitas merupakan
salah satu dari strategi global promosi kesehatan pemberdayaan
(empowerment) sehingga pemberdayaan masyarakat sangat penting
untuk dilakukan agar masyarakat sebagai primary target memiliki
kemauan dan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka. Berdasarkan hal tersebut maka penulis ingin mengetahui tentang
manajemen pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan
(Notoatmodjo, 2007).
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa
Indonesia sebagaimana tertulis di pembukaan Undang-Undang Dasar
1945. Untuk itu, upaya kesehatan harus selalu diusahakan
peningkatannya secara terus menerus agar masyarakat yang sehat

sebagai investasi dalam pembangunan dapat hidup produktif secara sosial


dan ekonomis (Nurbeti, M. 2009).
Pemberdayaan masyarakat terhadap usaha kesehatan agar menjadi sehat
sudah sesuai dengan Undang undang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang
kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup masyarakat
yang setinggi- tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber
daya masyarakat. Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
setinggi tingginya. Pemerintah bertanggungjawab memberdayakan dan
mendorong peran serta aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya
kesehatan (Nurbeti, M. 2009).
Dalam rangka pencapaian kemandirian kesehatan, pemberdayaan
masayrakat merupakan unsur penting yang tidak bisa diabaikan.
Pemberdayaan kesehatan di bidang kesehatan merupakan sasaran utama
dari promosi kesehatan. Masyarakat merupakan salah satu dari strategi
global promosi kesehatanpemberdayaan (empowerment) sehingga
pemberdayaan masyarakat sangat penting untuk dilakukan agar
masyarakat sebagai primary target memiliki kemauan dan kemampuan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan (Supardan, 2013).
Pengertian Pemberdayaan masyarakat adalah suatu upaya atau proses
untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat
dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan
kesejahteraan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat bidang
kesehatan adalah upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran
kemauan dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatan. Memampukan masyarakat, dari, oleh, dan untuk masyarakat
itu sendiri (Nurbeti, M. 2009).
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah Bagaimanakah
pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan?
C. Tujuan
a.Mengetahui ciri-ciri pemberdayaan masyarakat
b. Mengetahui prinsip pemberdayaan masyarakat
c. Mekanisme petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat.
d. Sasaran Pemberdayaan Masyarakat
e. Sanksi Pemberdayaan Kesehatan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Ciri Pemberdayaan Masyarakat
Suatu kegiatan atau program dapat dikategorikan ke dalam

pemberdayaan masyarakat apabila kegiatan tersebut tumbuh dari bawah


dan non-instruktif serta dapat memperkuat, meningkatkan atau
mengembangkan potensi masyarakat setempat guna mencapai tujuan
yang diharapkan. Bentuk-bentuk pengembangan potensi masyarakat
tersebut bermacam-macam, antara lain sebagai berikut :
1. Tokoh atau pimpinan masyarakat (Community leader)
Di sebuah mayarakat apapun baik pendesaan, perkotaan maupun
pemukiman elite atau pemukiman kumuh, secara alamiah aka terjadi
kristalisasi adanya pimpinan atau tokoh masyarakat. Pemimpin atau tokoh
masyarakat dapat bersifat format (camat, lurah, ketua RT/RW) maupun
bersifat informal (ustadz, pendeta, kepala adat). Pada tahap awal
pemberdayaan masyarakat, maka petugas atau provider kesehatan
terlebih dahulu melakukan pendekatan-pendekatan kepada para tokoh
masyarakat.
2. Organisasi masyarakat (community organization)
Dalam suatu masyarakat selalu ada organisasi-organisasi kemasyarakatan
baik formal maupun informal, misalnya PKK, karang taruna, majelis
taklim, koperasi-koperasi dan sebagainya.
3. Pendanaan masyarakat (Community Fund)
Sebagaimana uraian pada pokok bahasan dana sehat, maka secara
ringkas dapat digaris bawahi beberapa hal sebagai berikut: Bahwa dana
sehat telah berkembang di Indonesia sejak lama(tahun 1980-an) Pada
masa sesudahnya(1990-an) dana sehat ini semakin meluas
perkembangannya dan oleh Depkes diperluas dengan nama program JPKM
(Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).
4. Material masyarakat (community material)
Seperti telah diuraikan disebelumnya sumber daya alam adalah
merupakan salah satu potensi msyarakat. Masing-masing daerah
mempunyai sumber daya alam yang berbeda yang dapat dimanfaatkan
untuk pembangunan.
5. Pengetahuan masyarakat (community knowledge)
Semua bentuk penyuluhan kepada masyarakat adalah contoh
pemberdayaan masyarakat yang meningkatkan komponen pengetahuan
masyarakat.
6. Teknologi masyarakat (community technology)
Dibeberapa komunitas telah tersedia teknologi sederhana yang dapat
dimanfaatkan untuk pengembangan program kesehatan. Misalnya
penyaring air bersih menggunakan pasir atau arang, untuk pencahayaan
rumah sehat menggunakan genteng dari tanah yang ditengahnya ditaruh
kaca. Untuk pengawetan makanan dengan pengasapan dan sebagainya
(Nurbeti, M. 2009).
B. Mekenisme Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
Mekanisme petugas kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Memfasilitasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun

program-program pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan


pengorganisasian masyarakat.
2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam
melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau
berkontribusi terhadap program tersebut
3. Mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi kepada
masyarakat dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat
vokasional (Nurbeti, M. 2009).

C. Sasaran dalam Pemberdayaan Kesehatan


1. Individu berpengaruh
2. Keluarga dan perpuluhan keluarga
3. Kelompok masyarakat : generasi muda, kelompok wanita, angkatan
Kerja
4. Organisasi masyarakat: organisasi profesi, LSM, dll
5. Masyarakat umum: desa, kota, dan pemukiman khusus.
D. Penyelenggaraan Pemberdayaan Kesehatan
1. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Posyandu merupakan jenis UKBM yang paling memasyarakatkan saat ini.
Gerakan posyandu ini telah berkembang dengan pesat secara nasional
sejak tahun 1982. Saat ini telah populer di lingkungan desa dan RW
diseluruh Indonesia. Posyandu meliputi lima program prioritas yaitu: KB,
KIA, imunisasi, dan pennaggulangan diare yang terbukti mempunyai daya
ungkit besar terhadap penurunan angka kematian bayi. Sebagai salah
satu tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang langsung bersentuhan
dengan masyarakat level bawah, sebaiknya posyandu digiatkan kembali
seperti pada masa orde baru karena terbukti ampuh mendeteksi
permasalahan gizi dan kesehatan di berbagai daerah. Permasalahn gizi
buruk anak balita, kekurangan gizi, busung lapar dan masalah kesehatan
lainnya menyangkut kesehatan ibu dan anak akan mudah dihindarkan jika
posyandu kembali diprogramkan secara menyeluruh.
Kegiatan posyandu lebih dikenal dengan sistem lima meja yang meliputi:
1. Meja 1 : pendaftaran
2. Meja 2 : penimbangan
3. Meja 3 : pengisian kartu menuju sehat
4. Meja 4 : penyuluhan kesehatan, pemberian oralit, vitamin A dan
tablet besi
5. Meja 5
: pelayanan kesehatan yang meliputi imunisasi,
pemeriksaan kesehatan dan pengobatan serta pelayanan keluarga
berencana.
Salah satu penyebab menurunnya jumlah posyandu adalah tidak
sedikit jumlah posyandu diberbagai daerah yang semula ada sudah tidak
aktif lagi.

2. Pondok Bersalin Desa (Polindes)


Pondok bersalin desa (Polindes) merupakan salah satu peran serta
masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongan persalinan
pelayanan dan kesehatan ibu serta kesehatan anak lainnya. Kegiatan
pondok bersalin desa antara lain melakukan pemeriksaan (ibu hamil, ibu
nifas, ibu menyusui, bayi dan balita), memberikan imunisasi, penyuluhan
kesehatan masyarakat terutama kesehatan ibu dan anak, serta pelatihan
dan pembinaan kepada kader dan mayarakat.
3. Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD)
Pos obat desa (POD) merupakan perwujudan peran serta masyarakat
dalam pengobatan sederhana terutama penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat setempat (penyakit rakyat/penyakit endemik)
4. Dana Sehat
Dana telah dikembangkan pada 32 provinsi meliputi 209 kabupaten/kota.
Dalam implementasinya juga berkembang beberapa pola dana sehat,
antara lain sebagai berikut :
a. Dana sehat pola usaha kesehatan sekolah (UKS), dilaksanakan pada
34 kabupaten dan telah mencakup 12.366 sekolah.
b. Dana sehat pola pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD)
dilaksanakan pada 96 kabupaten.
c. Dana sehat pola pondok pesantren, dilaksanakan pada 39
kabupaten/kota.
d. Dana sehat pola koperasi unit desa (KUD), dilaksanakan pada lebih
dari 23 kabupaten, terutama pada KUD yang sudah tergolong mandiri.
e. Dana sehat yang dikembangkan lembaga swadaya masyarakat (LSM)
dilaksanakan pada 11 kabupaten/kota.
f.
Dana sehat organisasi/kelompok lainnya (seperti tukang becak, sopir
angkutan kota dan lain-lain), telah dilaksanakan pada 10 kabupaten/kota.
5. Lembaga Swadaya Masyarakat
Di tanah air kita ini terdapat 2.950 lembaga swadaya masyarakat (LSM),
namun sampai sekarang yang tercatat mempunyai kegiatan di bidang
kesehatan hanya 105 organisasi LSM. Ditinjau dari segi kesehatan, LSM ini
dapat digolongkan menjadi LSM yang aktivitasnya seluruhnya kesehatan
dan LSM khusus antara kain organisasi profesi kesehatan, organisasi
swadaya internasional.
Dalam hal ini kebijaksanaan yang ditempuh adalah sebagai berikut
a. Meningkatkan peran serta masyarakat termasuk swasta pada semua
tingkatan.
b. Membina kepemimpinan yang berorientasi kesehatan dalam setiap
organisasi kemasyarakatan.
c. Memberi kemampuan, kekuatan dan kesempatan yang lebih besar
kepada organisasi kemasyarakatan untuk berkiprah dalam pembangunan
kesehatan dengan kemampuan sendiri.
d. Meningkatkan kepedulian LSM terhadap upaya pemerataan pelayanan

kesehatan.
e. Masih merupakan tugas berat untuk melibatkan semua LSM untuk
berkiprah dalam bidang kesehatan.
6. Upaya Kesehatan Tradisional
Tanaman obat keluarga (TOGA) adalah sebidang tanah di halaman atau
ladang yang dimanfaatkan untuk menanam yang berkhasiat sebagai obat.
Dikaitkan dengan peran serta masyarakat, TOGA merupakan wujud
partisipasi mereka dalam bidnag peningkatan kesehatan dan pengobatan
sederhana dengan memanfaatkan obat tradisional. Fungsi utama dari
TOGA adalah menghasilkan tanaman yang dapat dipergunakan antara lain
untuk menjaga meningkatkan kesehatan dan mengobati gejala (keluhan)
dari beberapa penyakit yang ringan. Selain itu, TOGA juga berfungsi
ganda mengingat dapat dipergunakan untuk memperbaiki gizi
masyarakat, upaya pelestarian alam dan memperindah tanam dan
pemandangan.
7. Pos Gizi (Pos Timbangan)
8. Pos KB Desa (RW)
9.
Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren)
10. Saka Bhakti Husada (SBH)
11. Pos Upaya Kesehatan Kerja (pos UKK)
12. Kelompok Masyarakat Pemakai Air (Pokmair)
13. Karang Taruna Husada
14. Pelayanan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu
Wujud peran serta masyarakat
Dari pengamatan pada masyarakat selama ini beberapa wujud peran serta
masyarakat dalam pembangunan kesehatan pada khususnya dan
pembangunan nasional pada umumnya. Bentuk-bentuk tersebut adalah
sebagai berikut :
1.
Sumber daya manusia
Setiap insan dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat.
Wujud insan yang menunjukkan peran serta masyarakat dibidang
kesehatan antara lain sebagai berikut :
a. Pemimpin masyarakat yang berwawasan kesehatan
b. Tokoh masyarakat yang berwawasan kesehatan, baik tokoh agama,
politisi, cendikiawan, artis/seniman, budayaan, pelawak, dan lain-lain
c. Kader kesehatan, yang sekarang banyak sekali ragamnya misalnya:
kader posyandu, kader lansia, kader kesehatan lingkungan, kader
kesehatan gigi, kader KB, dokter kecil, saka bakti husada, santri husada,
taruna husada, dan lain-lain.
2. Institusi/lembaga/organisasi masyarakat
Bentuk lain peran serta masyarakat adalah semua jenis institusi, lembaga
atau kelompok kegiatan masyarakat yang mempunyai aktivitas dibidang
kesehatan.

Beberapa contohnya adalah sebagai berikut :


a. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yaitu segala
bentuk kegiatan kesehatan yang bersifat dari, oleh dan untuk masyarakat,
yaitu :
1. Pos pelayanan terpadu (posyandu)
2. Pos obat desa (POD)
3. Pos upaya kesehatan kerja (Pos UKK)
4. Pos kesehatan di Pondok Pesantren (poskestren)
5. Pemberantasan penyakit menular dengan pendekatan PKMD (P2MPKMD)
6. Penyehatan lingkungan pemungkitan dengan pendekatan PKMD (PLpPKMD) sering disebut dengan desa percontohan kesehatan lingkungan
(DPKL)
7. Suka Bakti Husada (SBH)
8. Tanaman obat keluarga (TOGA)
E. Sanksi Pemberdayaan Kesehatan
Sebagai memberikan rasa sehat atau adanya penyembuhan bagi si pasien.
Dalam hal ini antara hubungan hukum yang terjadi antara pelayan
kesehatan didalamnya ada dokter dan tenaga Kesehatan lainnya yang
berkompoten, sehingga terciptanya hubungan hukum yang akan saling
menguntungkan atau terjadi kerugian. Pelayanan kesehatan masyarakat
dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam
pasal 52 ayat (1) mengatakan bahwa Pelayanan Kesehatan terdiri atas :
Pelayanan kesehatan perseorangan ; dan Pelayanan kesehatan
masyarakat. Sangat jelas dalam undang-undang mengatur hal tersebut
merujuk dari pasal tersebut dalam pasal selanjutnya yaitu dalam pasal 53
ayat (2) lebih tegas juga mengatakan bahwa pelayanan kesehatan
masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat, hal ini sangat
jelas bahwa dalam keadaan bagaimanapun tenaga kesehatan harus
mendahulukan pertolongan dan keselamatan jiwa pasien. Pelayanan
kesehatan menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Seperti dalam
penjelasan diatas bahwa dalam memberikan pelayanan kesehatan baik itu
perseorangan maupun masyarakat sangat dijamin dalam Undang-Undang
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dalam beberapa pasal sangat jelas
ditegaskan bahwa untuk menjamin kesehatan masyarakat maka
pemerintah mengupayakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat
dalam upaya mencapai Indonesia yang sehat pada tahun 2010 ini.
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah baik itu berupa
penyediaan fasilitas pelayanan kasehatan, penyediaan obat, serta
pelayanan kesehatan itu sendiri. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang
diberikan oleh pemerintah dalam upaya menjamin kesehatan masyarakat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pemberdayaan masyarakat peran masyarakat sangat vital, karena
masyarakat yang menjadi pemeran utamanya, namun peran petugas
kesehatan juga tidak bisa dihilangkan. Dalam pemberdayaan masyarakat,
petugas kesehatan memiliki peran penting juga, yaitu memfasilitasi
masyarakat melalui kegiatan-kegiatan maupun program-program
pemberdayaan masyarakat meliputi pertemuan dan pengorganisasian
masyarakat, memberikan motivasi kepada masyarakat untuk bekerja sama
dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan agar masyarakat mau
berkontribusi terhadap program tersebut, mengalihkan melakukan
pelatihan-pelatihan yang bersifat vokasional.
Jenis-jenis pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan adalah
posyandu, pos obat desa (POD), Pondok bersalin desa (polindes), dana
sehat, lembaga swadaya masyarakat, upaya kesehatan tradisional,pos
gizi, pos KB desa,Pos kesehatan pesantren, Saka Bhakti Husada, Pos
Upaya kesehatan kerja, kelompok pemakai air (pokmair), karang taruna
husada, pelayanan puskesmas, dan puskesmas pembantu (Pustu) dan lain
sebagainya.
B. Saran
1 Bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam mendukung
program-program kesehatan dalam sistem pemberdayaan masyarakat
2. Bagi pmbaca, diharapkan agar makalah ini dapat menambah
wawasan tentang pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Hikmat, 2001. Masyarakat dalam Kesehatan.Agung Sentosa. Jakarta.
Nurbeti, M. 2009.Pemberdayaan masyarakat dalam konsep
kepemimpinan yang mampu menjembatani. Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2007, Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Rineka Cipta,
Jakarta.
http://makalahpemberdayaan14.blogspot.co.id/
http://doktergigi-semarang.blogspot.co.id/2013/06/pemberdayaanmasyarakat-bidang-kesehatan.html
http://kesmas-ode.blogspot.co.id/2012/10/makalah-pemberdayaanmasyarakat.html