Anda di halaman 1dari 4

Pada praktikum kali ini dibuat sabun padat transparan dengan menggunakan coklat.

Sabun merupakan produk pembersih yang memegang peranan penting dalam kehidupan karena
dapat menghilangkan kotoran, mikroorganisme, dan kontaminan lainnya sehingga membuat
hidup tetap sehat. Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air itu
membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif, bertindak sebagai suatu zat pengemulsi
untuk mendispersikan minyak dan lemak serta sabun teradsorpsi pada butiran kotoran (Keenan,
1980). Sabun transparan merupakan salah satu inovasi baru produk kecantikan, dapat berupa
sediaan emulsi maupun padat yang difungsikan sebagai pembersih dan menjaga kesehatan kulit.
Sabun transparan mempunyai busa yang lebih halus dibandingkan dengan sabun opaque (sabun
yang tidak transparan) (Qisti, 2009). Cokelat dapat mencegah sel kulit mengalami penuaan dini,
disamping itu cokelat dapat berfungsi mengangkat sel kulit mati. Hal ini dikarenakan kandungan
flavonoid pada coklat

yang memberikan efek antioksidan pada kulit (Scapagnini, 2014).

Penambahan bahan coklat pada pembuatan kosmetika adalah aman karena merupakan bahan
alami.
Lemak dan minyak merupakan bahan dasar dalam pemuatan sabun. Asam lemak akan
beraksi dengan basa yang akan menghasilkan gliserin dan sabun. Perbedaan mendasar pada
lemak dan minyak adalah pada bentuk fisiknya, lemak berbentuk padatan sedangkan minyak
berbentuk cairan (Barel, et al., 2009). Asam stearat seringkali digunakan sebagai bahan dasar
pembuatan krim dan sabun (Poucher, 1974). Asam stearat berperan dalam memberikan
konsistensi dan kekerasan pada sabun (Mitsui, 1997) serta dapat menstabilkan busa (Swern,
1982). Dalam pembuatan sabun ini digunakan asam stearat sebanyak 7%.Minyak yang
digunakan dalam pembuatan sabun ini adalah VCO (Virgin coconut oil) dengan konsentrasi 10%
dan minyak zaitun. VCO merupakan minyak yang diproses dari buah kelapa tanpa mengalami
pemanasan. VCO mempunyai kenampakan bening serta mengandung banyak asam laurat. VCO
digunakan sebagai bahan dasar sabun karena sabun VCO menghasilkan busa yang cukup baik.
Riset dan uji klinis telah membuktikan keampuhan VCO dalam mendukung keseimbangan
kimiawi kulit secara alami, melembutkan kulit dan mengencangkan kulit dan lapisan lemak
dibawahnya, serta mencegah keriput, kulit kendor dan bercak-bercak penuaan (Timoti, 2005).
Peran dari basa adalah sebagai agen pereaksi dengan fase minyak sehingga akan terjadi
proses saponifikasi. Sabun yang dihasilkan dalam proses saponifikasi berupa garam Natrium dan

Kalium (Barel, et al., 2009). Basa yang digunakan dalam formula ini adalah NaOH 30%
sebanyak 18%. Bahan tambahan lain yang digunakan adalah alkohol yang digunakan sebagai
pelarut pada proses pembuatan sabun transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan
lemak. Jumlah alkohol yang digunakan dalam formulasi sabun batang ini adalah 15%.
Penggunaan surfaktan sintetik sering digunakan untuk meningkatkan penampilan dari
sabun padat, meningkatkan penampilan dari sabun padat, meningkatkan kenyamanan pada kulit,
iritasi rendah dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pembusaan (Barel, et al., 2009). Selain
itu, surfaktan diperlukan untuk meningkatkan kualitas busa pada sabun (Wijana et al., 2005).
Salah satu surfaktan yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas busa sabun adalah
Cocoamide DEA dengan konsentrasi 1,0%. Pada formula ini akan digunakan Cocoamide DEA
konsentrasi 1% sebagai agen penstabil busa. Penambahan NaCl juga bertujuan untuk
meningkatkan pembusaan sabun dan untuk meningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai
dengan penurunan jumlah alkali pada akhir reaksi sehingga bahan-bahan pembuat sabun tetap
seimbang selama proses pemanasan (Hambali et al., 2005).
Gliserin merupakan humektan sehingga berfungsi untuk melembabkan kulit. Gliserin
yang digunakan dalam formulai ini sebanyak 13%. Penggunaan gula pada sabun transparan
berfungsi untuk membantu terbentuknnya transparansi pasa sabun. Walaupun belum diketahui
penelitian mengapa struktur gula dapat mempengaruhi transparansi sabun, namun dapat
dijelaskan bahwa penggunaan gula dapat membantu perkembangan Kristal ketika masa
pendiaman sehingga dapat meningkatkan transparansi sabun. Gula yang digunakan untuk
membentuk sabun transparan ini sebanyak 16%.
Fragrance merupakan bahan aditif yang penting pada produk sabun yang umumnya
berfungsi untuk menutupi karakteristik bau dari asam lemak atau fase minyak, dimana fragrance
yang digunakan tidak boleh menyebabkan perubahan stabilitas atau perubahan produk akhir
(Barel, et al., 2009). Jumlah fragrance yang digunakan dalam dalam sabun ini adalah coklat
yang mampu memberikan aroma coklat pada sabun. Pengawet atau preservative berfungsi untuk
mencegah terjadinya oksidasi selama penyimpanan. Oksidasi terjadi karena adanya penggunaan
asam lemak tak tersaturasi dan adanya bahan tambahan seperti fragrance. Pengawet yang
digunakan dalam formulasi sabun batang ini adalah metil paraben dan propil paraben, dengan

konsentrasi masing-masing adalah 0,02% dan 0,01%. Penggunaan kombinasi propil dan metil
paraben dapat meningkatkan efektivitas kerja pengawet pada sediaan (Rowe, et al., 2009).

Keenan, C. W. 1980. Ilmu Kimia untuk Universitas Edisi Keenam Jilid 2. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Scapagnini, Giovanni et al.. 2014. Cocoa Bioactive Compounds: Significance and Potential for
the Maintenance of Skin Health. Nutrients. (6) : 3202-3213
Mitsui, T. (1997). New Cosmetic Science. Edisi Kesatu. Amsterdam: Elsevier Science B.V.Hal.
13,19-21.
Swern, Daniel. 1982. Baileys Industrial oil and Fat Products. 4th edition vol- 2. New York : John
Willey and Sons Ltd
Poucher, J., 2000, Pouchers Perfumes, Cosmetics and Soaps, Edisi Kesepuluh, 206,210, Kluwer
Academic Publisher, London
Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I., 2009. Handbook of Cosmetic Science and Technology,
3rd edition. Informa Healthcare USA, Inc: New York.
Girgis, A.Y. 2003. Production of High Quality Castile Soap from High Rancid Olive Oil. Gracas
y Aceites. 54(3):226-233.
Qisti, Rachmiati.. 2009. Sifat Kimia Sabun Transparan dengan Penambahan Madu pada
Konsentrasi yang Berbeda, Skripsi, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Timoti, H., 2005. Aplikasi Teknologi Membran pada Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO), 1-3.
PT. Nawapanca Adhi Cipta.

Wijana, S., Mustaniroh, S.A., dan Wahyuningrum, I., 2005, Pemanfaatan Minyak Goreng Bekas
untuk Pembuatan Sabun: Kajian Lama Penyabunan dan Konsentrasi Dekstrin, Jur. Tek.
Per, 6 (3), 193-202.
Rowe,

C.R.,

Sheskey,

J.P.,

and Weller,

J.P.,

2009, Handbook of Pharmaceutical

Excipients, 6thedition, American PharmaceuticalAssociation, London, Chicago.