Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemeriksaan rheumatoid

factor (RF)

adalah

suatu

pemeriksaan

laboratorium untuk mengukur jumlah antibodi RF di dalam darah. Sedangkan


rheumatoid factor adalah protein yang diproduksi oleh sistem imun tubuh
yang dapat menyerang jaringan sehat di dalam tubuh (bagian dari sistem
kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri, dan bukan jaringan
asing). Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien-pasien yang dicurigai adanya
penyakit autoimun seperti RA dan sindrom Sjogren
Tes RF merupakan serangkaian kelompok tes darah, yang termasuk
diantaranya adalah Antinuclear antibody (ANA), Anti-cyclic citrullinated
peptide (anti-CCP) antibodies, pemeriksaan darah lengkap, C-reactive protein
(CRP), Laju endap darah (LED). Pemeriksaan dilakukan dengan cara
mengambil sejumlah darah dari pembuluh vena di lengan Anda dan kemudian
sampel darah tersebut akan diperiksakan di laboratorium. Untuk batasan hasil
yang normal adalah kurang dari 40-6 u/mL atau kurang dari 1:80 titer.
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk membantu dokter memberikan
diagnosis yang tepat terhadap penyakit RA dan menentukan terapi sesuai
dengan kondisi RF

B. Tujuan
Untuk mengetahui adanya Faktor Rheumatoid di dalam serum
penderita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
Radang sendi atau artritis reumatoid (Rheumatoid Arthritis, RA)
merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang
oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan
dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya
mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial
dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang. Penderita
RA selalu menunjukkan simtoma ritme sirkadia dari sistem kekebalan
neuroindokrin. Meskipun biasanya terbatas pada sendi, pada sebagian kasus
juga dapat mempengaruhi sistem lain seperti paru-paru, jantung dan sistem
saraf. Penyebab Rheumatoid Arthritis belum diketahui secara pasti namun ada
kecenderungan genetik yang kuat. Sekarang telah dipahami bahwa ada reaksi
sistem kekebalan tubuh terhadap jaringan sinovial tubuh sendiri, yang disebut
reaksi autoimun.
RA umumnya ditandai dengan adanya beberapa gejala yang berlangsung
selama minimal 6 minggu, yaitu :
1. Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di
pagi hari
2. Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan
3. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan
4. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri
pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang
sendi pergelangan tangan.
RA lebih sering terjadi pada wanita dengan dua sampai tiga kali lebih
sering dibandingkan pria. Penyakit ini dapat menjangkiti seseorang pada usia
berapa saja dan sering menyerang usia muda. Puncak onsetnya berada pada
usia 40 sampai 50 tahun, dengan 80 persen dari orang yang memiliki RA
berusia antara usia 35 sampai 50 tahun. Pada tahap yang lebih lanjut, RA
dapat dikarakterisasi juga dengan adanya nodul-nodul rheumatoid,
konsentrasi rheumatoid factor (RF) yang abnormal dan perubahan radiografi
yang meliputi erosi tulang.
BAB III
METODOLOGI

A. Pra Analitik
1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan RF adalah glass slide
RF berwarna hitam, pipet ukur 0,1 ml, pushball, pengaduk disposible,
timer dan tabung serologi.
2. Bahan dan Reagen
Bahan dan reagen yang digunakan dalam pemeriksaan RF adalah
reagen latex, buffer saline dan serum.
3. Probandus
Nama
:Mr/Mrs X
Umur
:X
Jenis kelamin
:X
B. Analitik
1. Prinsip
Reaksi aglutinasi antara RF yang terdapat dalam serum dengan anti RF
yang diletakkan pada latex.
2. Prosedur Kerja
Prosedur Kerja
1. Kualitatif
-

0,05 ml serum dipipet, ditambah 1

tetes reagen latex RF,


Diaduk dan dibaca adanya aglutinasi
tepat setelah 1-2 menit.

2. Semi Kuantitatif
Pengenceran

1/4

1/8

Glycin (ml)

0,05

0,05

0,05

Serum (ml)

0,05

0,05

0,05

Vol.Sampel (ml)

0,05

0,05

0,05

16 IU/ml

32 IU/ml

64 IU/ml

Hg/N/ml

BAB IV
HASIL

0,5 dibuang

A.
1.

Pasca Analitik
Interpretasi Hasil
Kualitatif
1. Positif (+) adanya aglutinasi
2. Negatif (-) tidak terjadi aglutinasi.
Semikuantitatif
1. Positif (+) kadar RF dalam sampel >8 IU/ml.
2. Negatif (-) kadar RF dalam sampel <8 IU/ml

2.

Hasil
Dari pemeriksaan RF yang telah dilakukan didapatkan hasil
negatif sehingga tidak perlu diakukan tes semikuantitatif.

3.

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan RF,
pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adanya Faktor
Rheumatoid pada serum. Cara kerja metode ini adalah jika ada RF
dalam serum maka penambahan anti RF yang diletakkan pada latex
akan terjadi aglutinasi. Pada pemeriksaan kali ini diperoleh hasil
negatif (-) dengan ditandai dengan tidak adanya aglutinasi. Hasil ini
menunjukkan bahwa tidak terdapat Faktor Rheumatoid pada serum
penderita. Sehingga dapat diketahui bahwa penderita tidak mengalami
penyakit Rheumatoid Atritis (RA) karena pada penderita RA terdapat
Faktor Rheumatoid pada serumnya. Hasil negatif bisa juga
dikarenakan kesalahan dalam melakukan pemeriksaan maupun reagen
yang telah kedaluarsa.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi , dari pemeriksaan RF yang telah dilakukan didapatkan hasil
negatif (-) yang berarti tidak ditemukan Faktor Rheumatoid pada serum
penderita.
B. Saran
1. Para praktikan disarankan menggunkan APD yang lengkap dan sesuai.
2. Diharuskan melakukan praktikum sesuai prosdur.

DAFTAR PUSTAKA
Sacher, R. A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Laboratorium. Jakarta: EGC.
Watts, H. D.1984. Terapi Medik. Jakarta: EGC.
Widmann, F. K.1995. Tinjauan Klinis Atas Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta:
EGC.
Anonim, 2006, Rheumatoid (http://www.medicastore.com/
Gordon, N. F. 2002. Radang Sendi. Jakarta: PT Raja Grafindo.