Anda di halaman 1dari 6

SURAT PERJANJIAN PENGELOLAAN

KEBUN KELAPA SAWIT DENGAN POLA MANAJEMEN PEMBINAAN


ANTARA
PT. BINTANG ALAM RAYA
DENGAN KOPERASI MAHATO RIAU ABADI
NOMOR : ....... /SPP-PKS/KUD..../BAR//2016

___________________________________________________________________________
Pada hari ini Senin Tanggal Dua Puluh Satu Bulan Maret Tahun Dua Ribu Enam Belas (2103 2016) yang bertandatangan di bawah ini oleh dan antara :
1.

Nama
Jabatan
Tempat & Tgl Lahir
NIK
Alamat

: T. Rusli Ahmad
: Ketua Koperasi Mahato Riau Abadi
: Pasir Pangaraian, 14 Agustus 1972
: 1471091408720001
: Jl. Utama Sari RT. 002 RW 007 Tangkerang Selatan
Bukit Raya - Pekanbaru.

Bertindak untuk dan atas nama pengurus dan Anggota koperasi Mahato Riau Abadi
yang beralamat Jl. Utama Sari RT. 002 RW 007 Tangkerang Selatan Bukit Raya Pekanbaru
dan selanjutnya disebut sebagai PIHAK PERTAMA.
2.

Nama
Jabatan
Tempat & Tgl Lahir
NIK
Alamat

: H. SAID MUHAMMAD YAZID


: Direktur Pengembangan PT. Bintang Alam Raya
: Air Molek, 6 Januari 1964
: 1404040601640002
: Jln. Tanjung Priuk No 11 Tembilahan Indra giri Hilir Riau

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Perseroan Terbatas PT. Bintang Alam
Raya di Jl. Iswahyudi No. 07 Chandra Pasir Putih Jambi. Selanjutnya PT. Bintang
Alam Raya tersebut akan disebut juga sebagai PIHAK KEDUA.
Masing-masing pihak dengan ini menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :

PIHAK PERTAMA adalah pihak yang mempunyai lahan kebun kelapa sawit anggota
dibawah wilayah binaan/kerja Koperasi Mahato Riau Abadi seluas + 20.000 Hektar
yang terletak di Kabupaten Rokan Hulu

PIHAK KEDUA adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang agribisnis perkebunan
kelapa sawit yang akan menjadi mitra managemen koperasi.

Oleh karena itu kedua belah pihak telah mencapai kata sepakat dan setuju untuk membuat
Perjanjian dengan syarat-syarat dan ketentuan sebagai berikut :
PASAL 1
MAKSUD DAN TUJUAN
Bahwa PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA bermaksud mengadakan Perjanjian dan
Kesepakatan Bersama (Selanjutnya disebut Perjanjian) dalam pembangunan, pemeliharaan,
1

replinting dan pengelolaan hasil perkebunan kelapa sawit sampai kepada pendirian Pabrik
Minyak Kelapa Sawit (PMKS) di Kabupaten Rokan Hulu (selanjutnya disebut Kebun).
PIHAK PERTAMA sebagai Pihak yang memiliki lahan atau kebun dibawah binaan koperasi
Mahato Riau Abadi, akan diserahkan pekerjaan pengelolaan perawatan dalam arti luas dan
pemasaran hasil kebun tersebut kepada PIHAK KEDUA sebagai Pihak yang mempunyai
pengalaman dalam pekerjaan pengelolaan areal perkebunan kelapa sawit. PIHAK KEDUA
dengan ini menerima pekerjaan pengelolaan yang diberikan oleh PIHAK PERTAMA tersebut.
PASAL 2
DOKUMEN-DOKUMEN PENDUKUNG
PIHAK PERTAMA selaku pengurus koperasi akan mendata dokumen pendukung anggota
berupa (KTP), Kartu Keluarga (KK), serta Surat Kepemilikan Lahan anggota yang menjadi
binaan koperasi yang akan dimitrakan dengan PIHAK KEDUA .
Menandatangani segala dokumen yang diperlukan, perjanjian-perjanjian, surat-surat, aktaakta yang diperlukan dalam rangka pembangunan Kebun PIHAK PERTAMA yang
bekerjasama dengan PIHAK KEDUA.
PASAL 3
LINGKUP PEKERJAAN
Pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang meliputi :
1. Melakukan pembersihan areal perkebunan kelapa sawit.
2. Melakukan penanaman baru atau replenting untuk kebun tua
3. Membuat piringan dan melakukan pemupukan.
4. Melakukan perawatan tanaman dan meningkatkan produksi Tandan Buah Segar (TBS).
5. Membuat satu manajemen yang baik dan solid.
6. Melakukan pemasaran yang lebih baik.
7. Menyiapkan tenaga kerja yang profesional.
8. Membuat infrastruktur dan trio tata air yang lebih layak.
9. Membangun pabrik (PMKS) apabila kesiapan dan ketersediaan lahan mencukupi.
PASAL 4
PENYERAHAN LAHAN
Pola pengaturan lahan dari PIHAK PERTAMA yang diserahkan kepada PIHAK KEDUA
untuk dikelola dengan ketentuan :
1. PIHAK PERTAMA akan menyerahkan sejumlah lahan atau kebun yang telah terdata dan
terverifikasi kepada PIHAK KEDUA untuk dikelola dengan sistem bagi hasil atas
produksi Tandan Buah Segar (TBS).
2. Lokasi lahan yang diserahkan harus dalam satu hamparan tanpa enclave lengkap
dokumen pendukungnya.
3. Jika anggota PIHAK PERTAMA berkeinginan untuk menjual/melepaskan haknya, maka
PIHAK PERTAMA berkewajiban berkoordinasi dan memprioritaskan PIHAK KEDUA
untuk membeli lahan tersebut sesuai dengan harga pasar dan kesepakatan bersama.
4. Apabila PIHAK KEDUA menyampaikan kepada PIHAK PERTAMA bahwa PIHAK
KEDUA tidak berminat membeli lahan tersebut maka PIHAK PERTAMA dapat
menawarkan atau menjual kepada pihak lain.
PASAL 5
2

DASAR PELAKSANAAN PENGELOLAAN


Pelaksanaan pengelolaan kebun kelapa sawit tersebut akan dilaksanakan dengan berpedoman
kepada dasar pengelolaan sebagai berikut :
Lampiran 1 :
Spesifikasi Teknis Pengelolaan
Lampiran 2 :
Peta Lokasi Kerja
Lampiran 3 :
Rencana Kerja
Lampiran 4 :
Tenaga Teknisi yang telah Berpengalaman untuk Pengelolaan
Kebun
Seluruh lampiran dasar pelaksanaan pengelolaan tersebut diatas merupakan satu-kesatuan
yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini.
PASAL 6
JANGKA WAKTU PENGELOLAAN KEBUN
Jangka waktu pengelolaan dan penyelesaian perawatan adalah PIHAK KEDUA akan
mengelola kebun kelapa sawit tersebut sesuai usia produktifitas tanaman berdasarkan
perhitungan ekonomisan tanaman dan dapat diperpanjang sesuai dengan kesepakatan kedua
belah pihak.
PASAL 7
TATA CARA PEMBAYARAN
Perhitungan data pembayaran hasil produksi TBS dilaksanakan 1 (satu) bulan 1 (satu) kali
oleh kedua belah pihak berdasarkan realita pekerjaan dilapangan setelah dipotong biaya
perawatan, biaya panen dan biaya-biaya lainnya sebesar (Daftar terlampir) dari hasil produksi
perbulan dalam kondisi produksi TBS sudah memenuhi standar.
Sistem pembayaran hasil penjualan TBS untuk PIHAK PERTAMA, wajib dibayarkan oleh
PIHAK KEDUA melalui sistem transfer rekening dan atau langsung tunai setiap awal bulan
berjalan.
PASAL 8
PENYEDIAAN SARANA DAN TENAGA KERJA
Untuk menyediakan sarana pengelolaan dan pengadaan tenga kerja ditetapkan sebagai berikut
:
a. PIHAK PERTAMA dapat menyerahkan tenaga kerja langsung yang direkrut dari anggota
koperasi sendiri dan atau dari luar yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan
baik dan memenuhi syarat-syarat pelaksanaan pekerjaan. Dan peralatan yang dibutuhkan
PIHAK PERTAMA disiapkan atau difasilitasi oleh PIHAK KEDUA.
b. Dan Apabila dalam penyediaan tenaga ketja dari PIHAK PERTAMA tidak tersedia maka
PIHAK KEDUA dapat mengadakannya sendiri.
c. PIHAK KEDUA harus menyediakan kendaraan dan alat-alat berat yang akan digunakan
untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut.
d. Selama masa waktu pengelolaan dan pelaksanan pekerjaan tersebut PIHAK KEDUA
akan menunjuk dan menugaskan tenaga ahli yang berpengalaman dalam pekerjaan
tersebut; site manager atau kepala pelaksana yang bekerja sepanjang waktu dan
bertanggung jawab penuh terhdap kelancaran dan ketertiban pelaksanan pengelolaan
tersebut.
3

e. Dalam mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pengerahan tenaga kerja dan
tenaga pelaksana, PIHAK KEDUA wajib memenuhi semua ketentuan yang berlaku,
seperti upah minimum sector regional (UMSR) yang berlaku di Propinsi Riau dan harus
mengikuti jaminan social tenaga kerja kesehatan dan keselamatan para pekerja.
f. Segala resiko yang timbul akibat penggunaan tenaga kerja oleh PIHAK KEDUA dan
hubungan kerja anatara PIHAK KEDUA dengan tenaga kerjanya akan menjadi tanggung
jawab PIHAK KEDUA sepenuhnya.
PASAL 9
HAK DAN KEWAJIBAN
HAK dan Kewajiban PIHAK PERTAMA:
1. PIHAK PERTAMA berkewajiban menyediakan areal lahan perkebunan yang
diperuntukkan bagi pengelolaan dan pelaksanaan pola kemitraan.
2. PIHAK PERTAMA wajib menyerahkan fotocopy dokumen kepemilikan dan
pendukunng lainnya setiap lahan anggota yang diajukan untuk dimitrakan kepada
PIHAK KEDUA dengan menunjukkan keasliannya yang berkaitan surat perjanjian ini.
3. PIHAK PERTAMA mengawasi dan memberikan jaminan keamanan kepada PIHAK
KEDUA selama masa pengelolaan dan pelaksanaan kemitraan ini.
4. PIHAK PERTAMA berkewajiban memberikan dukungan penuh kepada PIHAK KEDUA
pada saat pelaksanaan dan pengelolaan kelapa sawit.
5. PIHAK PERTAMA menyetujui program perawatan kebun tersebut oleh PIHAK KEDUA
pada tujuannya meningkatkan penghasilan jumlah volume tanda buah segar (TBS).
6. PIHAK PERTAMA selama kebun dikelola oleh PIHAK KEDUA tidak boleh dipindah
tangankan atau dialihkan dalam ke Pihak ketiga tanpa persetujuan dari PIHAK KEDUA.
7. PIHAK PERTAMA memberikan izin sepenuhnya kepada PIHAK KEDUA untuk
menumbang atau memotong tanaman-tanaman atau pohon-pohon yang menghambat
proses perawatan kebun kelapa sawit dalam rangka meningkatkan hasil produksi.
8. PIHAK PERTAMA berhak untuk mendapatkan hasil produksi tanda buah segar (TBS),
setiap bulannya dari PIHAK KEDUA sesuai dengan kapasitas hasil produksi yang telah
dihasilkan oleh PIHAK KEDUA.
Hak dan Kewajiban PIHAK KEDUA
1. Selama pengelolaan masih berlangsung PIHAK KEDUA bertanggung jawab penuh atas
seluruh areal lahan perkebunan yang telah diserahkan PIHAK PERTAMA atas
pelaksanaan pengelolaannya sesuai standar prosedur perkebunan kelapa sawit.
2. PIHAK KEDUA berkewajiban memberikan laporan setiap tiga bulan sekali kepada
PIHAK PERTAMA mengenai aktifitas pekerjaan dilapangan baik mengenai kemajuan
fisik maupun dalam rapat triwulan.
3. PIHAK KEDUA berkewajiban menjaga nama baik PIHAK PERTAMA dan PIHAK
KEDUA dilarang menggunakan nama PIHAK PERTAMA untuk melakukan transaksi
apapun diluar dari surat kesepakatan kerjasama ini.
4. Dalam hal terjadi kebakaran atau bencana lainnya maka dalam waktu 2 x 24 jam setelah
kejadian tersebut PIHAK KEDUA berkewajiban untuk menyampaikan laporan
kronologis yang lengkap atas kejadian tersebut kepada PIHAK PERTAMA.
5. PIHAK KEDUA berhak mengatur dan mengolah managemen dari perkebunan tersebut.
6. PIHAK KEDUA berhak mengatur sistem pemasaran penyaluran hasil produksi tandan
buah segar (TBS).
4

PASAL 10
FORCE MAJEURE
1. Setiap kegagalan baik dari PIHAK PERTAMA maupun dari PIHAK KEDUA dalam
melaksanakan ketentuan dalam perjanjian ini tidak dianggap sebagai pelanggaran atau
kegagalan apabila kejadian tersebut disebabkan oleh suatu keadaan yang memaksa yang
berada diluar kemampuan kedua belah pihak.
2. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan atau kewajiban tertunda, terlambat atau terhalang
oleh sebab tersebut dalam ayat 1 diatas, maka jangka waktu yang terpengaruh terhadap
kewajiban-kewajiban akan disesuaikan kemudian secara musyawarah.
3. Force majeure (keadaaan memaksa) yang berlaku dalam perjanjian ini adalah perang,
pemberontakan, kerusuhan, huru hara, blockade, gempa bumi, angin topan, banjir, cuaca
buruk, ledakan, kebakaran atau bencana lainnya dimana peristiwa tersebut berada diluar
kemampuan untuk mengatasinya, yang akan mengakibatkan tertunda, terhambat,
terhalang, untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban tepat waktunya berdasarkan
perjanjian ini.
4. Pihak yang terkena force majeure harus memberitahukan kepada pihak yang
berkompeten secara tertulis mengenai sebab-sebabnya selambat-lambatnya 2 x 24 jam
segera setelah terjadinya force majeure tersebut, kemudian kedua belah pihak akan
berusaha dalam batas-batas kemampuannya untuk mengatasi sebab-sebab tersebut.
PASAL 11
KETENTUAN-KETENTUAN LAIN
1. Hal-hal yang belum diatur atau belum cukup dalam perjanjian ini akan diputuskan secara
musyawarah dan mufakat, selanjutnya harus dinyatakan secara tertulis didalam perjanjian
tanbahan (addendum) yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak atau kuasa-kuasa yang
sah.
2. Mengenai pembatalan/pengakhiran perjanjian ini, kedua belah pihak melepaskan
ketentuan yang termaktub dalam pasal 1266 dari kitab undang-undang hokum perdata,
sepanjang mengenai diisyaratkan keputusan badan peradilan untuk pengakhiran suatu
perjanjian yang mengatur tentang tata cara menghentikan/mengakhirir suatu perjanjian.
3. Semua surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan yang perlu dikirim oleh
masing-masing pihak kepada pihak lain mengenai atau sehubungan dengan perjanjian ini
harus dilakukan dengan surat tercatat atau melalui ekspedisi, facximaile, email, kepada
alamat masing-masing pihak dibawah ini :
PIHAK PERTAMA
PIHAK KEDUA

: T. Rusli Ahmad
: Jl. Taman sari No 40 Tengkareng Selatan Kec. Bukit Raya
PEKAN BARU

4. Masing-masing pihak dapat mengganti atau menambah alamat surat menyuratnya dengan
memberitahukan secara tertulis kepada pihak yang terkait.

PASAL 12
PENYELESAIAN PERSELISIHAN DAN DOMISILI HUKUM
5

1. Segala perselisihan yang timbul akibat dari perjanjian ini akan diselesaikan secara
musyawarah dan mufakat antara kedua belah pihak.
2. Apabila perselisihan tidak dapat diselesaikan dengan cara sebagaimana diatur pada ayat
(1) pasal ini, maka kedua belah pihak sepakat mnyelesaikannya melalui pengadilan
negeri setempat.
PASAL 13
PENUTUP
1. Surat Perjanjian ini berlaku sejak ditandatangani di atas materai Rp.6000,- (Enam Ribu
Rupiah) oleh kedua Belah Pihak.
2. Surat Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh Kedua Belah Pihak dalam rangkap 2
(dua) serta dibubuhi materai secukupnya yang masing-masing mempunyai kemampuan
dan kekuatan hukum yang sama.
PIHAK KEDUA,
PT. BINTANG ALAM RAYA

PIHAK PERTAMA,
PENGURUS KOPERASI

H. SAID MUHAMMAD YAZID


Direktur Pengembangan

_________________________
Ketua

Saksi Pihak Kedua :

Saksi Pihak Pertama :

_________________________

_________________________

_________________________

_________________________
Mengetahui :
PT. BINTANG ALAM RAYA

H. RIDWAN H.K
Direktur Utama