Anda di halaman 1dari 19

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.........................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................2
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................2
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................3
1.3 Tujuan..............................................................................................................................3
1.4 Manfaat............................................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................4
2.1 Trihexyphenidyl...............................................................................................................4
2.1.1 Definisi Trihexyphenidyl..............................................................................................4
2.1.2 Indikasi Pemakaian Trihexyphenidyl ..........................................................................4
2.1.3 Kontraindikasi Pemakaian Trihexyphenidyl ................................................................5
2.1.4 Efek Samping................................................................................................................6
2.1.5 Sediaan Obat.................................................................................................................7
2.1.6 Interaksi Obat................................................................................................................7
2.1.7 Adiksi dan Penyalahgunaan THD ................................................................................7
3.1 Gangguan Mental dan Perilaku akibat Dobel L.............................................................10
3.1.1 Definisi gangguan mental dan perilaku akibat Dobel L ...........................................10
3.1.2 Patofsiologi.................................................................................................................11
3.1.3 Gejala Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penyalahgunaan Zat (Double L) ......12
3.1.4 Kriteria Diagnosis ......................................................................................................14
3.1.5 Pemeriksaan ...............................................................................................................16
3.1.6 Tatalaksana ................................................................................................................17
BAB III KESIMPULAN....................................................................................................18
Daftar Pustaka...................................................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Jumlah penyalah guna narkoba dan zat semakin berkembang. Penyalahgunaan ini

mulai marak sejak tahun 1990-an dengan menggunakan amphetamine seperti ekstasi dan
shabu. Pada akhir 2003 mulai ditemukan penggunaan kokain. Pada mulanya zat yang
paling banyak digunakan adalah alcohol, psikotropika, ganja dan berkembang hingga
melalui suntikan. Ketergantungan dan penyalahgunaan zat ini merupakan penyakit mental
dan perilaku yang membawa kerugian pada kesehatannya, khususnya kejiwaan, dan pada
masalah lingkungan sosial. Ditinjau dari kasus, penyalahgunaan narkoba menunjukkan
kecenderungan semakin meningkat, bahkan jumlah yang diperkirakan seperti peristiwa
gunung es yang mana kasus yang ada sebenarnya jauh lebih besar bila dibandingkan
dengan kasus yang dilaporkan. Dalam tiga tahu terakhir provinsi Jawa Timur menempati
posisi pertama jumlah kasus narkoba terbanyak berdasarkan provinsi dan jumlah tersangka
narkoba. Jumlah tersangka narkoba di Jawa Timur mengalami peningkatan pada tahun
2010-2012 yaitu dari 6.395 tersangka menjadi 8.142 tersangka (Kementrian Kesehatan RI,
2014).
Gangguan mental dan perilaku akibat penyalahgunaan zat merupakan gangguan
bervariasi luas dan berbeda tingkat keparahannya. Penyalahgunaan double L yang mana
salah satunya adalah Trihexyphenidyl (THD) dikonsumsi hingga menimbulkan perasaan
mabuk. Trihexyphenidyl (THD) adalah obat yang biasa digunakan untuk Parkinson atau
tremor yang diakibatkan oleh penyakit lain ataupun merupakan efek samping dari obat
tertentu

(Wijono,

Nasrun,

Damping,

2013).

Namun

beberapa

orang

justru

menyalahgunakan obat penenang tersebut, karena efeknya yang memabukkan.


1.2

Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan obat double L Trihexyphenidyl (THD)?


2. Bagaimana obat double L Trihexyphenidyl (THD) dapat mengakibatkan adiksi?
3. Bagaimana obat double L Trihexyphenidyl (THD) dapat mengakibatkan gangguan

mental perilaku (GMP)?

1.3

Tujuan

1. Untuk mengidentifikasi indikasi, kontraindikasi, efek samping terkait obat double


L Trihexyphenidyl (THD).
2. Untuk mengetahui adiksi di masyarakat yang disebabkan oleh obat double L
Trihexyphenidyl (THD).
3. Untuk mengetahui gangguan mental dan perilaku (GMP) yang diakibatkan oleh obat
double L Trihexyphenidyl (THD).

1.4

Manfaat

1. Meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dokter muda tentang gangguan


mental dan perilaku (GMP) terkait double L Trihexyphenidyl (THD).
2. Menambah kajian ilmiah mengenai gangguan mental dan perilaku (GMP) terkait
double L Trihexyphenidyl (THD).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Trihexyphenidyl
2.1.1

Definisi Trihexyphenidyl
Trihexyphenidyl adalah agen antikolinergik yang bekerja dengan cara

memblok reseptor kolinergik sentral, membantu menyeimbangkan transmisi


kolinergik dan dopamine di basal ganglia. Trihexyphenidyl juga dapat memblokir
dopamine reuptake dan penyimpanan dopamine di pusat, sehingga meningkatkan
aktivitas dopaminergik.
Trihexyphenidyl juga sering berguna sebagai terapi adjuvant untuk gejala
parkinsonisme dengan levodopa atau agen penyakit antiparkinson lebih kuat.
Trihexyphenidyl disetujui dan digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1949.
Trihexyphenidyl tersedia dalam tablet dari 2 dan 5 mg. Dosis yang dianjurkan
adalah 2 sampai 5 mg tiga kali sehari.

2.1.2

Indikasi Pemakaian Trihexyphenidyl


1. Terapi gejala parkinsonisme, seperti mengurangi kekakuan kejang otot,
tremor, dan hipersaliva.
2. Gangguan ekstrapiramidal karena obat neuroleptik (drug-induced
extrapyramidal reactions) misalnya akatisia yang bermanifestasi seperti

kegelisahan yang berlebihan dan diskinesia ditandai dengan kontraksi


spastik dan gerakan involunter.

2.1.3

Kontraindikasi Pemakaian Trihexyphenidyl


1. Hipersentivitas terhadap Trihexylphenidyl. Pasien yang sebelumnya
sudah pernah mengonsumsi trihexyphenidyl dan tampak gejala-gejala
hipersensitivitas dianjurkan tidak menggunakan trihexyphenidyl lagi.
2. Kehamilan: Penelitian pada hewan tidak cukup membuktikan efek pada
kehamilan, perkembangan embrio / janin, partus dan pengembangan
postnatal.

Potensi

risiko

untuk

manusia

belum

diketahui.

Trihexyphenidyl sebaiknya tidak digunakan selama kehamilan kecuali


jelas diperlukan.
3. Menyusui: Tidak diketahui apakah trihexyphenidyl diekskresikan dalam
ASI. Bayi mungkin sangat sensitif terhadap efek dari obat
antimuskarinik. Semua golongan psikotropika dihindari bagi ibu yang
menyusui karena diasumsikan dapat disekresi di ASI. Trihexyphenidyl
sebaiknya dihentikan selama menyusui atau menggunakan PASI apabila
harus tetap memakai trihexyphendyl.
4. Gangguan hipertensi, jantung, hati atau ginjal tidak kontraindikasi,
tetapi

pasien

tersebut

harus

dipantau.

Trihexyphenidyl

dapat

menimbulkan atau memperburuk tardive dyskinesia, tidak dianjurkan


untuk digunakan pada pasien dengan kondisi ini.

5. Trihexyphenidyl harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan


glaukoma, myasthenia gravis, penyakit obstruksi dari saluran gastrointestinal atau genitourinari, dan pada laki-laki tua dengan kemungkinan
hipertrofi prostat.
6. Lansia : Pasien lebih dari 65 tahun cenderung relatif lebih sensitif dan
memerlukan dosis yang lebih kecil. Anak-anak: Tidak dianjurkan.
2.1.4 Efek Samping
Antikolinergik trihexyphenidyl hydrochloride (Artane) mempunyai efek
samping utama yaitu sedasi. Selain itu juga didapatkan gejala yang berupa
pandangan kabur, mulut kering, serta retensi urin. Pada umumnya, trihexyphenidyl
ini digunakan dalam hal psikiatri untuk mengontrol ekstra pyramidal sindrom yang
didapat pasien oleh karena diantaranya penggunaan anti psikotik.
Selain efek samping somatis dan psikiatri tersebut, trihexyphenidyl juga
dilaporkan mempunyai efek euforia sehingga oleh kaum dewasa muda yang selalu
mencari sensasi dari obat-obatan, sering mempergunakan trihexyphenidyl
sebagai bahan halusinogenik dengan cara mengkonsumsinya secara per oral
maupun mencampur bubuk trihexyphenidyl dengan rokok. (Kaminer, et al. 1982)
Dapat dibilang trihexyphenidyl ini adalah obat untuk pencandu yang sedang
bermodal kurang. Dengan mengkonsumsi dosis rata-rata harian yaitu 30-40 mg,
pasien pecandu sempat mendeskripsikan efek dari trihexyphenidyl ini antara lain
anxiolitik, membuat perasaan menjadi euphoria dan juga gangguan tidur. Tidak
jarang juga pasien mengalami halusinasi auditorik dan bertingkah kasar dan agresif
jika keinginannya tidak didapat seperti misalnya berkeringat secara berlebihan

hingga sampai mengancam untuk mencelakakan entah diri sendiri maupun orang
lain. (Chou, K. 2004).
2.1.5 Sediaan Obat
Bentuk sediaan trihexyphenidyl adalah tablet 2 mg, 5 mg dan injeksi 2 mg/
5 mL. Sebaiknya diberikan bersama makanan atau sebelum jika timbul gejala
mulut kering, atau sesudah jika muncul gejala mual atau air liur berlebihan. Artane
harus diberikan pada jam yang sama setiap harinya. Kandungan dari Artane ini
adalah trihexyphenidyl, yang termasuk dalam kelas tertiary amines anti kolinergik.
Pada umumnya digunakan untuk terapi penyakit Parkinsons. (MIMS, 2016)
Namun pada kenyataannya para pencandu menggunakannya dengan
menggunakan dosis yang kira-kira hampir mencapai empat kali dosis yang
direkomendasikan. (Kaminer, et al., 1982)
2.1.6 Interaksi Obat
1. Penggunaan THD bersama amantadine akan meningkatkan efek samping
2. THD dan semua golongan antikolinergik akan meningkatkan kadar digoxin
di dalam darah.
3. Dapat menurunkan konsentrasi haloperidol dan golongan phenothiazines,
menyebabkan gejala skizofrenia memburuk.
4. Dapat menurunkan motilitas lambung, menyebabkan deaktivasi levodopa di
lambung bertambah sehingga efikasinya berkurang.
2.1.7 Adiksi dan Penyalahgunaan THD
THD adalah obat anti-parkinson dan antikolinergik yang secara luas

digunakan pada pasien psikiatrik, yang diindikasikan untuk terapi penyakit


parkinson, gerakan yang tidak normal, dan parkinsonisme yang disebabkan oleh
obat neuroleptik. Dibandingkan dengan obat golongan antikolinergik yang lain,
THD paling sering disalahgunakan karena efeknya yang mempengaruhi dopamin
dalam otak.
Penyalahgunaan THD ditemukan meningkat jumlahnya pada tahun-tahun
terakhir, terutama pada anak muda. Dilaporkan bahwa THD dipakai karena
motivasi akan efek halusinasi dan euforia yang dimiliki THD, yang dapat
memuaskan keinginan para pencari kesenangan. Akibat efek halusinasi dan euforia
yang ditimbulkan, THD banyak disalahgunakan. Hal ini juga didorong oleh
mudahnya peresepan THD dan mudahnya akses untuk mendapatkan THD. Selain
pada orang muda dan sehat, penyalahgunaan THD ini juga terjadi pada para
mantan pasien psikotik yang berobat ke psikiater dan merasakan efek euforia dari
trihexyphenidyl. Oleh sebab itu, tidak dianjurkan untuk memberikan obat
antikolinergik, termasuk THD untuk terapi profilaksis, kecuali jika pasien
mengalami EPS dan hanya digunakan untuk terapi awal. Pasien yang sering
meminta diresepkan THD, harus dicurigai sebagai penyalahgunaan obat, terutama
jika mereka mempunyai riwayat penyalahgunaan obat di masa lampau.
Penggunaan dalam jangka panjang THD dapat menimbulkan adiksi,
walaupun durasi penyalahgunaan untuk mencapai keadaan ini masih belum dapat
didefinisikan oleh para ahli. Gejala yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan THD
dapat terjadi segera maupun lambat, diantaranya rasa gembira, insomnia, kurang
istirahat, emosi yang labil (irritabel), amnesia, konfabulasi, halusinasi auditorik dan
visual, bahkan delusi paranoid. Episode tersebut biasanya berhenti jika penggunaan
THD dihentikan. Supresi kortikal mungkin menyebabkan terganggunya time sense,

memory, dan insight. Juga menyebabkan kehilangan kontrol emosi dan persepsi
yang abnormal. Tidak dapat tidur, rasa gembira, dan perubahan afek mungkin
karena eksitasi dari hipotalamus dan Reticular Activating System (RAS). Gejalagejala tersebut biasanya tampak pada orang-orang usia 60 tahun, pasien dengan
riwayat kebingungan akibat sedatif, pasien dengan arteriosklerotik parkinsonisme,
dan pada penyalahguna narkoba.
Banyak efek samping somatik dan psikiatrik yang disebabkan oleh
penyalahgunaan obat ini, salah satunya adalah efek toksik psikosis pada
penggunaan dosis tinggi, dan juga pada dosis terapeutik pada orang-orang dengan
hipersenstivitas idiosinkratik.
Berbagai laporan tentang penyalahgunaan THD akibat adiksi yang
ditimbulkan. Bolin menggambarkan seorang wanita usia 32 tahun dengan psikosis
paranoid yang mengkonsumsi THD untuk mendapatkan efek euforia. Kemudian
The British Natonal Press pada 1964 melaporkan penyalahgunaan THD pada anak
muda yang mengkonsumsi obat tersebut untuk mendapatkan efek euforia dan
halusinasi. 20 kasus akibat penyalahgunaan THD dilaporkan dari Polandia.
Macvicar melaporkan seorang pria 30 tahun dengan skizofrenia paranoid yang
menggunakan THD dosis tinggi untuk mendapatkan efek euforia dan halusinasi
yang mana kemudian mengalami psikosis toksik. Lowry menyatakan bahwa para
penghuni Penjara San Quentin menyalahgunakan THD dengan luar biasa. Adiksi
dan ketergantungan terhadap THD juga dilaporkan di Brasil oleh Nappo dkk, yang
mana pada 37 orang sampel didapatkan 29 orang yang memiliki adiksi terhadap
obat tersebut.

3.1 Gangguan Mental dan Perilaku akibat Dobel L


3.1.1 Definisi gangguan mental dan perilaku akibat Dobel L
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif adalah
suatu gangguan jiwa berupa penyimpangan perilaku yang diakibatkan oleh
pemakaian zat yang dapat mempengaruhi sususan saraf pusat sehingga
menimbulkan gangguan fisik atau mental. Gangguan ini bervariasi luas dan
keparahannya berbeda pada masing-masing individu (Maramis, 2009).
Klasifikasi gangguan penggunaan zat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat. Penyalahgunaan zat merupakan suatu
pola penggunaan zat yang bersifat patologik, paling sedikit satu bulan lamanya,
sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial atau okupasional. Pola penggunaan
zat yang bersifat patologik dapat berupa intoksikasi sepanjang hari, terus
menggunakan zat tersebut walaupun penderita mengetahui dirinya sedang menderita
sakit fisik berat akibat zat tersebut, atau adanya kenyataan bahwa ia tidak dapat
berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut. Gangguan yang dapat
terjadi adalah gangguaan fungsi sosial yang berupa ketidakmampuan memenuhi
kewajiban terhadap keluarga atau kawan-kawannya karena perilakunya yang tidak
wajar, impulsif, atau karena ekspresi perasaan agresif yang tidak wajar. Dapat pula
berupa pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas akibat intoksikasi, serta
perbuatan kriminal lainnya karena motivasi memperoleh uang. Ketergantungan zat,
merupakan suatu bentuk gangguan penggunaan zat yang pada umunya lebih berat.
Terdapat ketergantungan fisik yang ditandai dengan adanya toleransi atau sindroma
putus zat. Toleransi adalah peningkatan dosis zat yang diperlukan guna memperoleh
efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah.

10

Pil double L atau yang dikenal dengan pil lele, pil anjing, pil LL ini
mengandung salah satu obat anti kolinergik yaitu trihexyphenidyl. Trihexyphenidyl
umum digunakan pada dunia medis untuk mengatasi gejala parkinsonism.
Penyalahgunaan zat ini kadang kurang diwaspadai oleh petugas kesehatan
(Martinez, 2012) karena sampai sekarang obat ini masih dijual bebas meskipun
obat ini termasuk psikotropika golongan 4 yang semestinya harus menggunakan
resep dokter.
3.1.2 Patofisiologi
DSM 5 menyatakan bahwa zat adiktif mengaktifkan sistem reward di otak.
Perasaan mendapatkan kesenangan sebagai umpan balik penggunaan demikian
dirasakan, sehingga keinginan mengulang penggunaan menjadi besar, membesar
dan kemudian sulit dikendalikan. Kesulitan mengendalikan penggunaan, membuat
penggunanya

menggunakan

hampir

seluruh

waktunya

untuk

mencari,

menggunakan dan mengatasi rasa tak nyaman jika tidak menggunakan. Dengan
demikian waktu untuk beraktivitas, bersosialisasi dan hampir semua kewajiban
dalam hidupnya terabaikan. Pengaktifan pusat sistem reward, membuat
penggunanya euforia, dan biasa disebut high (American Psychiatric Association,
2013).
Efek euforia dari penyalahgunaan THD melibatkan sistem dopamin
mesolimbik sebagai target utama utamanya. Sistem ini berasal dari daerah
tegmental ventral (VTA), struktur kecil di ujung batang otak, yang memiliki
proyeksi ke nucleus accumbens, amygdala, dan korteks prefrontal. Sebagian besar
neuron proyeksi VTA adalah neuron penghasil dopamin. Efek langsung suatu zat
adiktif ke VTA menyebabkan pelepasan dopamine berlebihan. Zat adiktif dapat

11

mengeluarkan dopamine 2 hingga 10 kali lipat lebih banyak daripada kondisi


fisiologisnya sehingga muncul efek reward dan euforia pada pemakai. Proses
pembentukan perilaku di hippocampus dan amygdala juga berperan dalam
menyebabkan adiksi.
Pada orang yang telah teradiksi oleh suatu zat, otak beradaptasi dengan cara
mengurangi produksi dopamine atau membuat reseptor dopamine menjadi tidak
sensitif. Adaptasi ini menyebabkan dopamine kehilangan efek di nukleus
accumbens (reward system) sehingga tidak didapatkan efek yang sama seperti pada
awal pemakaian. Hal ini menyebabkan pemakai menambah dosis zat yang
digunakan agar mendapatkan efek yang sama seperti pada dosis rendah. Apabila
pemakaian obat terus-menerus dilakukan maka otak akan menyesuaikan
kondisinya dimana keadaan equilibrium tercapai apabila obat tersebut sedang
digunakan. Gejala putus zat (withdrawal) akan muncul ketika obat tersebut tidak
dikonsumsi.
3.1.3 Gejala Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penyalahgunaan Zat
(Double L)
a.

Gejala Intoksikasi
Suatu kondisi peralihan yang timbul akibat penggunaan zat sehingga dapat

terjadi gangguan kesadaran, fungsi kognitif, persepsi, afek atau perilaku, atau
fungsi dan respons psikofisiologis lainnya. Intensitas intoksikasi akan berkurang
dengan berlalunya waktu dan pada akhirnya efeknya akan menghilang bila tidak
terjadi penggunaan zat (Maslim,2003). Gejala intoksikasi pada pasien yang
menggunakan THD (Stahl, 2014) antara lain:

Cardiac arrest

12

Depresi nafas

Psikosis

Syok

Koma

Kejang

Ataksia

Hipertermia

Disfagia

Penurunan bising usus

Anhidrosis

b. Gejala Putus Zat


Penghentian penggunaan THD pada pemakai yang telah mengonsumsi THD
dalam jangka panjang dapat menimbulkan gejala putus zat dan cholinergic
rebound. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh FDA sejak tahun 1977
melibatkan 2.340 pasien dengan gejala putus zat THD ditemukan beberapa
gejala yang muncul pada penderita:

Myalgia

Kram otot

Diaforesis

Gastrointestinal distress

Letargi

13

Depresi

Cemas berlebihan

Takikardi

Hipotensi ortostatik

Halusinasi

Relaps / eksaserbasi EPS

3.1.4 Kriteria Diagnosis


Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahgunaan THD mirip dengan
penegakan diagnosis pada pemakai NAPZA. Penegakan diagnosisnya sering kali
tidak mudah dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap
penyalahgunaan obat. Hal ini membuat pasien bersifat tertutup dan menghindar
untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Pasien umumnya mengaku setelah
muncul intoksikasi atau gejala putus zat. Beberapa teknik khusu yang digunakan
untuk membuat pasien percaya dan mau berterus terang antara lain:
1.

Teknik Wawancara

Wawancara dapat dilakukan secara alloanamnesis maupun autoanamnesis. Urutan


pelaksanaannya dapat dilakukan alloanamnesis terlebih dahulu atau sebaliknya
dan dapat juga bersamaan tergantung situasi dan kondisi.
A. Alloanamnesis dilakukan sebelum Autoanamnesis

Petugas

telah

memperoleh

informasi

tentang

pasien,

sehingga

autoanamnesis lebih terarah

Kemungkinan pasien lebih terbuka dan tidak menyangkal lagi

Pasien menyatakan sudah berhenti menggunakan

14

Petugas terpengaruh orang tua/guru yang terlalu kuatir, pada hal pasien
tidak menggunakan

Pasien mencurigai petugas sudah terpengaruh dengan orang tua/guru yang


mengantar, sehingga tidak kooperatif

B. Alloanamnesis dilakukan sesudah Autoanamnesis

Petugas belum dipengaruhi oleh keterangan yang diberikan orang


tua/pengantar lain.

Pasien tidak berprasangka bahwa petugas telah dipengaruhi orang tua/guru


atau berpihak pada orang tua/guru yang menyalahkan pasien

Kemungkinan pasien membohongi atau tidak terbuka pada petugas

C. Autoanamnesis dan Alloanamnesis dilakukan bersamaan

Pasien

tidak

dapat

berbohong

mengenai

hal-hal

yang

diketahui

orangtua/guru

Pasien dapat bersikap tertutup

Apabila pasien sudah bersikap terbuka, anamnesis mengenai penggunaan obat


psikotropika yang dipakai harus digali lebih dalam meliputi:
a. Keluhan pasien dan riwayat perjalanan penyakit terdahulu yang pernah
diderita
Riwayat penyalahgunaan THD
1) Kapan pertama kali menggunakan THD
2) Lamanya pemakaian
3) Dosis,Frekuensi dan cara pemakaian
4) Cara mendapatkan THD
5) Riwayat/gejala intoksikasi/gejala putus zat

15

6) Alasan penggunaan
Taraf Fungsi sosial
1) Riwayat pendidikan
2) Latar belakang kriminal
3) Status keluarga
4) Kegiatan sosial lain
Evaluasi keadaan psikologi
1) Keadaan emosi
2) Kemampuan pengendalian impuls
3) Kemungkinan tindak kekerasan,bunuh diri
4) Riwayat perawatan terdahulu

3.1.5

Pemeriksaan

A. Fisik
Pemeriksaan

fisik

terutama

difokuskan

untuk

menemukan

gejala

intoksikasi/ioverdosis/putus zat dan komplikasi medik lainnya.


Perhatikan terutama : kesadaran, pernafasan, tensi, nadi, tanda-tanda kejang, nyeri
pada otot, keringat, penurunan bising usus.
B. Psikiatrik

derajat kesadaran

daya nilai realitas

gangguan pada alam perasaan (misal cemas, gelisah, marah, emosi labil,
sedih,depresi, euforia)

gangguan pada proses pikir (misalnya waham, curiga, paranoid,


halusinasi)

16

gangguan pada psikomotor (hipperaktif/ hipoaktif, agresif gangguan


pola tidur, sikap manipulatif dan lain-lain)

3.1.6

Tatalaksana
Dosis THD pada manusia dapat mencapai 300 mg (5mg/kg) tanpa didapatkan

tanda-tanda overdosis akibat THD, namun beberapa kasus pasien yang meninggal
berhubungan dengan pemakaian THD merupakan pasien yang memiliki gangguan
dengan sistem respirasi. Kadar THD dalam darah yang dapat menyebabkan fatal
diperkirakan dari 0,03-0,80 mg/l. Overdosis THD membuat gejala-gejala yang
serupa dengan intoksikasi atropine.
Pada pemakai yang masih menggunakan THD dan ingin berhenti dapat kita
tawarkan untuk tapering down, namun pada beberapa pemakai yang sudah
overdosis, kita harus mampu mengatasi overdosis akut THD dengan terapi
simptomatik dan terapi supportive, seperti kumbah lambung yang dapat
mengurangi absorpsi dari THD yang berlebihan, dan jika didapatkan eksitasi CNS
dapat diberikan dosis rendah diazepam atau barbiturat short-acting. Terapi
supportive diberikan dengan melihat klinis pasien, seperti alat bantu nafas atau obat
vasopressor dapat membantu jika terdapat tanda-tanda distress nafas. Suhu tubuh
dan keseimbangan asam basa pada tubuh pasien harus diobservasi secara rutin, dan
jika terdapat hiperpirexia dapat dilakukan pemasangan infus dan observasi
produksi urin.

17

BAB III
KESIMPULAN

1. Trihexyphenidyl merupakan salah satu obat anti kolinergik yang umum dipakai
untuk mengatasi gejala parkinsonism, memblokir dopamine reuptake dan
penyimpanan dopamine di pusat, sehingga meningkatkan aktivitas dopaminergik..
2.

Trihexyphenidyl merupakan obat yang banyak disalahgunakan di Indonesia, dan


sebagian besar dokter-dokter belum banyak mengetahui bahwa obat ini banyak
disalahgunakan.

3. Trihexyphenidyl atau THD memberi efek halusinasi dan euforia yang dapat
memuaskan keinginan para pencari kesenangan.
4. Banyaknya kasus penyalahgunaan juga didorong oleh mudahnya peresepan THD
dan mudahnya akses untuk mendapatkan THD.
5. Gejala yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan THD dapat terjadi segera maupun
lambat, gejala intoksikasi THD diantaranya Cardiac arrest, depresi nafas, psikosis,
syok, koma, kejang, ataksia, hipertermia, disfagia, penurunan bising usus,
anhidrosis
6. Tatalaksana bagi pemakai THD yang masih belum berhenti memakai obat adalah
tapering down dan bagi pemakai yang overdosis atau sedang mengalami gejala
putus zat adalah terapi suportif dan terapi simptomatik.

18

Daftar Pustaka
Kementrian Kesehatan RI, 2014. Pengguna Narkoba dapat Dicegah dan dapat
Direhabilitasi. Buletin Jendela dan Data dan Informasi Kesehatan.
Wijono R, Nasrun MW, Damping CE. 2013. Gambaran dan Karakteristik Penggunaan
Triheksifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik. Journal Indoenesan
Medical Association. Vol. 63, No.1.
Kaminer, Y., Munitz, H., dan Wijsenbeek, H. Trihexyphenidyl (Artane) Abuse: Euphoriant
and Anxiolytic. Brit. J. Psychiat. (1982), 140, 473-474. Diakses dari:
http://bjp.rcpsych.org/content/bjprcpsych/140/5/473.full.pdf
Chou, K. Diagnosis and Management of the Patient with Tremor. Medicine and Health
Rhode
Island
vol.
87
No.
5
May
2004.
Diakses
dari:
http://med.brown.edu/neurology/articles/kc13504.pdf
Espi Martinez F, Espi Forcen F, Shapov A, Martinez Moya A. Biperiden dependence: case
report and literature review. Case reports in psychiatry. 2012;2012:949256.
American Psychiatric Association. Diagnostic and statistical manual of mental
disorders (5th ed.). Arlington, 2013.VA: American Psychiatric Publishing.
Goggin,D.A & Solomon,G.F.1991. Trihexyphenidyl Abuse for Euphorigenic Effect.
American Journal of Psychiatry,136.459
Hawari,D.2009.

Penyalahgunaan

dan

Ketergantungan

Napza.Balai

Penerbitan

FKUI,Jakarta
Stahl, S. M., & Grady, M. M. (2014). Stahl's essential psychopharmacology: The
prescriber's guide (5th ed.). Cambridge, UK ; New York: Cambridge University Press.

19