Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 5

Penyusun :
KELOMPOK VI
Jerry Daniel

(131610101018)

Hesti Rasdi Setiawati

(131610101020)

Vita Lukita Sari

(131610101024)

Duati Mayangsari

(131610101039)

Arini Al Haq
Pungky Anggraini
Rachel P.L Warinussy
Fatimatuz Zahroh
Cholida Rachmatia

(131610101040)
(131610101042)
(131610101049)
(131610101051)
(131610101056)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015
DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: drg. Depi Praharani, M.Kes.

Ketua

: Rachel P.L Warinussy

(131610101049)

Scriber Meja : Vita Lukita Sari

(131610101024)

Scriber Papan : Hesti Rasdi Setiawati

(131610101020)

Anggota :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Jerry Daniel
Duati Mayangsari
Arini Al Haq
Pungky Anggraini
Fatimatuz Zahroh
Cholida Rachmatia

(131610101018)
(131610101039)
(131610101040)
(131610101042)
(131610101051)
(131610101056)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan skenario 5.
Penulisan laporan ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. drg. Depi Praharani, M.Kes., selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember dan memberi masukan yang membantu bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan demi perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang demi
kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita
semua.

Jember, 6 November 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
Daftar Anggota Kelompok ................................................................................... 2
Kata Pengantar ...................................................................................................... 3
Daftar Isi ............................................................................................................... 4
Skenario ................................................................................................................ 5
BAB I Pendahuluan............................................................................................... 6
BAB II Tinjauan Pustaka..................................................................................... 8
BAB III Diskusi................................................................................................... 17
BAB IV Kesimpulan............................................................................................ 25
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 26
Lampiran.............................................................................................................. 27

SKENARIO 5
Ekstraksi Seri
Seorang ibu datang ke RSGM Universitas Jember ingin memeriksakan gigi
anaknya yang berumur 9 tahun. Ibu mengeluhkan gigi depan atas anaknya yang
tidak rata.
Hasil pemeriksaan intra oral :
-

memiliki gejala DDM dengan keempat insisif permanen RA berdesakan

dan keempat insisif permanen RB sesuai dengan inklinasi yang normal,


gigi 12 dan 22 rotasi sentris
tanggal prematur pada gigi 53 dan 63
gigi 54, 55, 64, 65, 73. 74, 75. 83, 84, dan 85 dalam kondisi baik.

Hasil pemeriksaan RO :
-

benih gigi 13, 14, 15, 23, 24, 25, 33, 34, 35, 43, 44, dan 45 lengkap dengan
pola erupsi normal.

Hasil analisa model :


-

klasifikasi maloklusi klas 1 Angle


relasi molar permanen neutroklusi
diskrepansi/kekurangan tempat RA = 11 mm dan RB = 10 mm.

Diagnosis : klas I Angle dengan berdesakan anterior.


Macam perawatan : ekstraksi seri.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Banyak masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya menjaga
kerapian susunan gigi geligi. Kerapian susunan gigi geligi merupakan faktor
penting yang berpengaruh dalam fungsi mastikasi, estetis, fungsi fonetik dan
kepercayaan diri orang tersebut. Banyak orang tua yang sadar akan pentingnya
menjaga kerapian susunan gigi geligi anak-anaknya. Sehingga perlu dilakukan
perawatan pada masa pergantian gigi geligi untuk mencegah kasus maloklusi
pada fase gigi permanen. Pada fase geligi pergantian yang mengalami
kekurangan tempat untuk erupsi gigi permanen, maka perlu dilakukan
ekstraksi seri.
Ekstraksi seri adalah prosedur pengambilan gigi desidui dan permanen
yang telah ditentukan secara berurutan. Prosedur ini diindikasikan hanya
ketika struktur arkus dentalis tidak cukup ruang untuk mengakomodas gigi
yang sedang berkembang dan tidak dapat dicapainya ukuran dan proporsi
yang normal antara gigi dan rahang. Indikasi utama ektraksi seri adalah pada
maloklusi parah klas I pada anak periode gigi bercampur yang memiliki
lengkung rahang yang tidak mencukupi untuk gigi geliginya. Cukupnya ruang
untuk mengakomodasi seluruh gigi permanen tidak selalu dapat diprediksi
pada usia awal karena pertumbuhan seringkali tidak dapat diperkirakan.
Banyak anak yang lengkung rahangnya tidak memenuhi ruang tumbuh gigi
namun ternyata mengalami pertumbuhan yang pesat dan ketersediaan ruang
dapat teratasi dengan sendirinya tanpa dilakukan pengambilan gigi permanen.
Selain itu salah satu etiologi untuk dilakukan ekstraksi seri adalah
adanya

disharmoni dentomaksiler (DDM). Disharmoni dentomaksiler

merupakan disproporsi besar gigi dengan lengkung geligi. Faktor utama


penyebab DDM adalah faktor herediter atau keturunan, misalnya seorang anak
6

mewarisi ukuran gigi ibunya yang cenderung berukuran kecil dan anak
tersebut mewarisi ukuran lengkung geligi ayahnya yang berukuran relatif
besar. Sehingga terjadi diastema menyeluruh dikarenakan disproporsi ukuran
gigi dan lengkung geligi. Apabila DDM tidak dirawat pada anak - anak dalam
masa fase gigi pergantian maka dapat menyebabkan maloklusi, oleh karena itu
perlu dilakukan perawatan ekstraksi seri agar etiologi DDM tersebut dapat
dihilangkan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa saja gejala klinis DDM?
2. Apa saja pertimbangan yang perlu diperhatikan untuk perawatan ekstraksi
seri?
3. a. Apakah tanggal prematur gigi 53 dan 63 memengaruhi gigi 12 dan 22
yang rotasi sentris?
b. Adakah dampak tanggal gigi sulung dengan crowded?
4. Gigi apa saja yang dilakukan ekstraksi seri dan bagaimana urutannya?

1.3. Tujuan Pembelajaran


1.

Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan


definisi ekstraksi seri

1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan


indikasi dan kontraindikasi ekstraksi seri
2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
hal hal yang perlu diperhatikan saat melakukan ekstraksi seri
3. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui, memahami dan menjelaskan
prosedur ekstraksi seri

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Disharmoni Dentomaksiler (DDM)


2.1.1. Definisi Disharmoni Dentomaksiler (DDM)
Disharmoni Dentomaksiler (DDM) adalah disproporsi atau ketidak
sesuaian antara besar lengkung rahang dan besar gigi geligi. Etiologi atau
sebab terjadinya DDM adalah faktor herediter (keturunan). DDM bisa
terjadi hanya pada salah satu sisi ataupun pada salah satu rahang. Namun
pada umumnya DDM lebih sering terlihat pada rahang atas, karena
lengkung rahang untuk tempat erupsi gigi permanen pada rahang atas
hanya terbatas pada tuberositas maksila saja, sedangkan pada rahang
bawah sampai pada ramus ascenden. Keadaan yang sering dijumpai
karena DDM adalah gigi-geligi yang besar pada lengkung geligi yang
normal atau gigi yang normal pada lengkung geligi yang kecil sehingga
menyebabkan gigi berdesakan (Naragond dan Kenganal, 2012).
2.1.2. Gejala Disharmoni Dentomaksiler (DDM)
Disharmoni dentomaksiler dibagi menjadi tiga tipe, yaitu:
A. Tipe berdesakan, merupakan keadaan yang sering dijumpai yaitu
ukuran gigi-gigi yang berukuran besar pada lengkung geligi yang
normal, atau ukuran gigi normal pada lengkung geligi yang kecil
sehingga menyebabkan letak gigi berdesakan.
B. Diastema menyeluruh, tidak adanya harmoni antara besar gigi dan
lengkung gigi yaitu ukuran gigi kecil dengan lengkung geligi normal
ataupun ukuran gigi normal dengan lengkung geligi yang besar.
C. Tipe transitoir, ketidakharmonisan erupsi gigi dengan pertumbuhan
tulang yang menyebabkan gigi berdesakan. DDM tipe transitoir ini bisa
terkoreksi seiring bertambahnya usia karena pertumbuhan tulang rahang
dan ukuran gigi tetap, sehingga keterlambatan pertumbuhan maka tidak
8

dianjurkan melakukan pencabutan karena dapat menyebabkan diastema.


Untuk mendiagnosa DDM tipe transitoir bisa dilakukan perbandingan
antara gambaran normal gigi geligi saat itu dengan gambaran dari gigi
pasien (JADA, 2005).
DDM Transitoir terjadi karena keterlambatan pertumbuhan
skeletal namun gigi sudah mulai tumbuh. Bisa dilihat dengan
menggunakan foto rontgen metacarpal yang bertujuan untuk melihat
kondisi epifisis apakah sudah menutup atau belum (JADA, 2005).
Gejala DDM mulai dari fase geligi sulung sampai fase geligi
permanen dapat dilihat sebagai berikut :
a. Tidak terdapat monkey gaps atau diastema fisiologis di antara kedua
insisf pertama sulung.
b. Terkadang disertai dengan adanya rotasi dari gigi-gigi anterior
sulung.
c. Pada umur 7 tahun terjadi resopsi dari insisif sentral dan lateral oleh
insisif permanen sehingga insisif lateral sulung dikatakan tanggal
premature dan nantinnya gigi penggantinya yaitu insisif lateral
permanen tidak akan mendapatkan tempat. Insisif lateral permanen
dapat meresopsi caninus sulung sehingga caninus sulung dikatakan
tanggal premature dan nantinya gigi penggantinya yaitu caninus
permanen akan tumbuh di luar lengkung atau ekstostem.
d. Ankylosis dengan gejala kekakuan sendi sehingga gigi tidak dapat
oklusi dengan baik. Keadaan ini biasanya disertai dengan gigi yang
crowded sehingga dapat berpengaruh pada TMJ.
e. Asimetri midline yang dipengaruhi oleh profil wajah (Naragond dan
Kenganal, 2012).

2.2. Ekstraksi Seri


2.2.1. Definisi Ekstraksi Seri
9

Prinsip pencabutan seri dikenalkan oleh Rubert Bunon pada tahun


1473, tetapi istilah pencabutan seri dipopulerkan oleh Kjellgren tahun
1940-an. Pencabutan seri hanya dapat menghilangkan berdesakan di
region anterior tetapi tidak dapat memberikan hasil perawatan seperti yang
dihasilkan dari perawatan secara komperhensif (Rahardjo, 2009).
Untuk melakukan pencabutan seri diperlukan pemahaman yang
mendalam tentang pertumbuhkembangan, diagnosis dan perencanaan
perawatan agar didapat hasil yang memuaskan. Diperlukan pemahaman
tentang ukuran gigi, panjang lengkung gigi, pembentukan gigi dan
perkembangannya serta erupsi gigi permanen untuk perencanaan
pencabutan seri (Rahardjo, 2009).
Ekstraksi seri adalah suatu metode perawatan orthodonti dalam
periode gigi pergantian dan mencegah maloklusi pada gigi permanen
dengan jalan melakukan pencabutan pada gigi-gigi yang dipilih pada
interval waktu tertentu serta menurut cara-cara yang telah direncanakan
dengan observasi dan diagnosa yang tepat dan teliti. Ini merupakan suatu
prosedur yang memerlukan kesabaran dan ketelitian yang lama tanpa
memakai perawatan orthodonti. Pengertian lain ekstraksi seri yaitu suatu
metode perawatan orthodonti yang dilakukan pada masa gigi-geligi
bercampur dengan hubungan rahang klas I Angle, dengan pencabutan gigi
secara berturut-turut dan kronologis. Pencabutan dilakukan pada gigigeligi sulung dan diikuti dengan pencabutan gigi permanen (Amirudin,
2008).
Tindakan ini disebut pencabutan seri karena secara garis besar
dilakukan pencabutan gigi sulung dan kemudian dilakukan pencabutan
gigi permanen dan diakhiri dengan mekanoterapi. Dengan melakukan
pencabutan seri, maka perawatan komperhensif di kemudian hari akan
lebih mudah dan lebih cepat mencapai hasil akhir yang memuaskan.
Pencabutan seri sering dilakukan pada maloklusi kelas I karena pada
maloklusi kelas I terdapat keseimbangan neuromuskuler yang pada
perawatan pencabutan serial keseimbangan ini perlu dipertahankan.
10

Pencabutan seri tidak dianjurkan pada pasien yang mempunyai kelainan


relasi rahang atas dan bawah (Rahardjo, 2009).
2.2.2. Tujuan Ekstraksi Seri
Adapun tujuan dari ekstraksi seri yaitu menuntun dan mengontrol
erupsi gigi-gigi permanen dalam lengkung rahang dan untuk mencegah
agar tidak terjadi maloklusi pada gigi permanen. Hal ini dilakukan dengan
jalan mencabut baik gigi-gigi sulung maupun gigi permanen secara
berurutan dalam interval waktu tertentu (Naragond dan Kenganal, 2012).
2.2.3. Indikasi Ekstraksi Seri
Indikasi ekstraksi seri yaitu pada fase geligi pergantian, tidak ada
kelainan skeletal, overbite normal, terjadi diskrepansi atau kekurangan
tempat, yaitu lebih besar atau sama dengan 10 mm. hal ini dikarenakan
DDM (Disharmoni Dento Maxilar) merupakan ketidaksesuaian antara
volume rahang dan volume gigi. Gigi yang crowded (berdesakan) dapat
disebabkan oleh 2 hal, yaitu karena ukuran gigi besar tetapi ukuran rahang
normal atau karena ukuran gigi normal tetapi ukuran rahang kecil.
Sehingga dapat menyebabkan gigi berdesakan khususnya untuk gigi
anterior. Dengan kondisi tersebut maka pasien dapat diindikasikan untuk
dilakukan ekstraksi seri (Naragond dan Kenganal, 2012).
2.2.4. Kontraindikasi Ekstraksi Seri
Pasien dengan gigi diastema atau agenisi merupakan kontraindikasi
dilakukan ekstraksi seri, karena akan menyebabkan semakin parah. Selain
itu, maloklusi klas I Angle dengan crowded ringan, karena crowded ringan
dapat menjadi normal ketika pasien anak-anak yang masih mengalami
pertumbuhan rahang. Rahang yang bertambah lebar akan memberikan
ruang bagi gigi yang berdesakan (Naragond dan Kenganal, 2012).
2.3. Hal-hal yang Perlu diperhatikan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ekstraksi seri
disusun dalam suatu catatan dan dianalisa dengan lengkap sehingga diperoleh
11

diagnosa yang tepat dan rencana perawatan diperlukan. Sedangkan untuk


menentukan diagnosa yang tepat harus dilakukan pemeriksaan klinik,
pembuatan model sudi dan foto periapikal. Keadaan lain yang perlu
dipertimbangkan dalam melakukan ekstraksi seri yaitu:
- Adanya ketidaksetimbangan antara ukuran gigi dan struktur tulang
penyokong, apakah cukup ruangan untuk memperoleh susunan gigi yang
baik;
- Menetapkan apakah penderita dan orang tuanya mengerti bahwa
perawatan ekstraksi seri merupakan prosedur yang berlangsung terus
menerus lebih dari 4-5 tahun. Bila kerjasama yang baik antara pasien dan
operator tidak diharapkan, maka ekstraksi seri ini sebaiknya tidak
dilakukan. Program ekstraksi seri yang tidak teratur lebih buruk daripada
tidak dilakukan perawatan sama sekali;
- Seorang ahli orthodonti harus menyadari bahwa ekstraksi seri bukanlah
prosedur yang berurutan dengan pasti. Program perawatan dapat diubah
satu atau beberapa kali selama periode pengamatan tergantung pada
derajat perbaikan yang terjadi, munculnya akibat lain dari maloklusi dan
kecepatan erupsi gigi permanen (Amirudin, 2008).
2.4. Prosedur dalam melakukan Ekstraksi Seri
Perawatan ekstraksi seri berdasarkan beberapa metode berbeda satu
dengan lainnya. Adanya evaluasi masing-masing metode ini penting untuk
keberhasilan keperawatan. Beberapa metode diantaranya sebagai berikut :
a. Metode Dewel
Diindikasikan untuk mild crowding anterior dan tanggal prematur
unilateral atau bilateral caninus sulung
- Stage I: Sekitar umur 8 1/2 tahun gigi caninus sulung dilakukan
pencabutan untuk memperbaiki crowded anterior dan insisive lateral
-

erupsi sesuai lengkung


Stage II : Pada umur 9 1/2 tahun, ketika crowded insisiv sudah pada
lengkung yang benar dan premolar pertama akarnya sudah lebih dari
setengah secara radiografi, dilakukan ekstraksi molar pertama sulung
12

untuk mempercepat erupsi premolar pertama terlebih dahulu daripada


caninus permanen. Namun cara ini jarang berhasil jika dilakukan pada
rahang bawah karena urutan erupsi yang normal adalah caninus
permanen kemudian premolar pertama. Pada maloklusi klas I,
premolar pertama mungkin bisa impaksi sebagian di antara caninus
-

permanen dan mola kedua sulung.


Stage III : Ekstraksi premolar pertama untuk memberi tempat caninus
permanen yang sesuai pada lengkung seharusnya. Keadaan

ini

berfungsi untuk gigi rahang atas, dimana erupsi premolar pertama


lebih dahulu dibandingkan gigi caninus permanen. Sebelum premolar
pertama diekstraksi, semua kriteria diagnosa harus dievaluasi lagi
seperti status perkembangan molar ketiga. Jika molar ketiga tidak ada
secara konginetal, tidak perlu dilakukan ekstraksi premolar pertama
karena akan terdapat ruangan yang cukup (Naragond dan Kenganal,
2012).
Modifikasi metode Dewel pada rahang bawah di mana caninus
permanen dapat lebih dahulu atau hampir bersamaan erupsi
premolar pertama

bila dievaluasi radiograf.

dengan

Teknik enukleasi pada

premolar pertama ketika ekstraksi gigi molar pertama sulung dapat


dilakukan namun kurang dianjurkan. Modifikasi lain lebih dianjurkan
yaitu melakukan pencabutan molar kedua sulung sehingga memberikan
tempat erupsi gigi premolar pertama untuk erupsi lebih ke distal. Ketika
gigi caninus permanen erupsi, premolar satu dapat dilakukan pencabutan.
Selain itu, untuk menghindari enukleasi juga bisa dilakukan cara
lain yaitu mencabut molar pertama sulung. Setelah 6 bulan molar kedua
sulung dicabut, supaya premolar pertama erupsi agak ke distal diatas benih
premolar kedua, bila premolar pertama telah erupsi maka harus dicabut
kemudian perlu pemakaian space maintainer supaya molar pertama
permanen tidak bergerak ke mesial.
Premolar kedua biasanya erupsi secara normal menggantikan molar
kedua sulung. Ruangan bekas pencabutan premolar dipakai oleh kaninus
permanen yang bergeser ke distal, premolar kedua dan molar pertama

13

permanen bergeser ke mesial. Bila ekstraksi seri tidak diikuti oleh


perawatan komperhensif dengan piranti cekat maka tidak akan didapatkan
susunan gigi yang ideal, letak akar gigi yang tidak sejajar dan penutupan
diastema tidak berhasil dengan baik.
Apabila terjadi agenisi premolar pertama, cabut molar pertama
sulung kemudian kaninus permanen akan menempati tempat tersebut.
Agenisi premolar kedua bila kaninus permanen erupsi lebih dulu dari
premolar pertama maka cabut molar pertama sulung dan molar kedua
sulung bersama-sama agar kaninus sulung dan premolar pertama dapat
erupsi agak ke distal dan perlu dipasang space maintainer agar molar
pertama permanen tidak bergeser ke mesial (Pambudi, 2009).
b. Metode Tweeds
Digunakan jika terdapat diskrepansi antara gigi dan struktur rulang
basal dan pasien berumur 7,5-8,5 tahun. Mendekati umur 8 tahun,
dilakukan ekstraksi gigi molar pertama sulung sehingga memungkinkan
mempertahankan caninus sulung dan memperlambat erupsi caninus
permanen. 4-6 bulan setelah diekstraksi, premolar pertama akan erupsi
sampai gingiva. Saat mahkota premolar sudah berada di bawah tulang
alveolar secara radiografi, dilakukan ekstraksi premolar pertama dan
caninus sulung untuk memandu erupsi caninus permanen. Ketika caninus
permanen erupsi, ia akan migrasi ke posterior pada posisi yang bagus
(Naragond dan Kenganal, 2012).
c. Metode Moyers
Diindikasikan untuk crowded pada gigi insisive central sedangkan
erupsi yang sesuai dari insisive lateral sulung
- Stage I : Ekstraksi insisive lateral sulung sehingga dapat membantu
-

kesejajaran insisive sentral


Stage II : Ekstraksi caninus sulung setelah 7-8 bulan sehingga dapat

membantu menyediakan tempat dan kesejajaran insisive lateral


Stage III : Ekstraksi molar pertama sulung sehingga menstimulasi
erupsi premolar 1

14

Stage IV : Ekstraksi premolar pertama setelah 7-8 bulan untuk


menyediakan ruang gigi caninus dan menstimulasi erupsi caninus
(Naragond dan Kenganal, 2012).

2.5. Hubungan tanggal prematur gigi 53 dan 63 dengan gigi 12 dan 22 yang
rotasi sentris
Rotasi sentris bisa terjadi karena tidak tersedianya ruang atau letak
salah benih. Benih gigi 12 dan 22 erupsi rotasi sentris yang diakibatkan
tanggal prematurnya gigi 52 dan 62 yang diakibatkan ikut teresorbsinya gigi
52 dan 62 saat gigi 11 dan 21 erupsi. Saat gigi 12 dan 22 erupsi gigi 53 dan
63 tidak teresorbsi sehingga masih terdapat dalam lengkung rahang. Rotasi
sentris juga bisa diakibatkan letak salah benih dari gigi penggantinya
(Naragond dan Kenganal, 2012).

15

2.6. Dampak tanggal gigi sulung dengan crowded


Apabila pertumbuhan rahang kurang maksimal maka dapat
menyebabkan crowded gigi anterior, pergeseran garis median, kehilangan
ruang untuk gigi permanen, miringnya gigi insisivus ke bawah kearah lingual,
dapat mengakibatkan bertambahnya overbite dan dapat menghalangi
pertumpuhan lengkung rahang (Naragond dan Kenganal, 2012).
2.7. Gigi yang dilakukan ekstraksi seri dengan urutannya sesuai kasus di
skenario
Ekstraksi seri rahang atas
a. Dilakukan ekstraksi pada gigi 54 dan 64 untuk tempat Premolar
pertama erupsi. Setelah gigi P1 erupsi, dilakukan ektraksi terhadap gigi
P1 untuk menyediakan tempat bagi caninus, sehingga bagian anterior
yang crowded dapat dikoreksi. Gigi 55 dan 65 diekstraksi untuk tempat
tumbuhnya gigi Premolar kedua (Naragond dan Kenganal, 2012).
Ekstraksi seri rahang bawah
a. Gigi 74 dan 84 diektraksi untuk menyediakan tempat erupsinya gigi
caninus.
b. Gigi 75 dan 85 diektraksi untuk menyediakan tempat bagi premolar
kedua.
c. Dilakukan ekstraksi M1 dan M2 sebagai tempat P1 setelah P1 erupsi
space M diberi space maintainer
d. M1 sulung yang teresorbsi dibiarkan tanggal sendiri
e. Gigi 73 dan 83 diekstraksi dengan cara enukleasi tapi enukleasi juga
mempunyai kekurangan yaitu apabila sebelum tumbuh sudah diambil
maka tulang alveolar tidak tumbuh dengan baik (Naragond dan
Kenganal, 2012).

16

BAB III
DISKUSI
Klas 1 Angle

Berdesakan

DDM

Ekstraksi Seri

Indikasi dan
Kontraindikasi

Prosedur

Hal hal yang


perlu
diperhatikan

1. Definisi Ekstraksi Seri


Ekstraksi seri adalah suatu metode perawatan orthodontic dalam
periode gigi pergantian dan mencegah maloklusi pada gigi permanen
dengan jalan melakukan pencabutan pada gigi-gigi yang dipilih pada
interval waktu tertentu serta menurut cara-cara yang telah direncanakan
dengan observasi dan diagnosa yang tepat dan teliti.
Ekstraksi seri atau guidance eruption adalah suatu metode ortodonsia
untuk mengoreksi lengkung yang berjejal yang masih digunakan
dipraktik di Kedokteran Gigi melibatkan penghilangan gigi sulung yang
telah dipilih dan gigi permanen dalam waktu yang telah ditentukan
untuk membantu mengoreksi crowding dan membimbing gigi
17

permanen erupsi ke posisi yang lebih menguntungkan selama


perubahan dari gigi susu ke gigi permanen.
Tweed mendefinisikan sebagai pencabutan gigi primer dan permanen
yang direncanakan dan sekuensial untuk mencegah dan mengurangi
masalah crowding gigi.
Tandon mendefinisikan sebagai pencabutan gigi desidui dan permanen
tertentu pada kasus gigi campuran dengan disproporsi dentoalveolar.

2. Indikasi dan Kontraindikasi Ekstraksi Seri


A. Indikasi

Lengkung rahang yang kurang sehingga diskrepansi besar


Linguoversi Insisive lateral
Kaninus decidui yang hilang pada satu sisi
Kaninus ekstostem
Gigi M1 decidui yang tumbuh tidak pada lengkung rahang
Crowded berat
Kehilangan prematur gigi sulung
Kehilangan gigi kaninus unilateral dan bergeser ke sisi yang sama
Pergeseran mesial dari segmen bukal
Arah erupsi dan urutan erupsi yang abnormal
Erupsi ektopik molar pertama sulung rahang bawah
Resorbsi abnormal molar kedua sulung
Ankylosis
Labial stripping, biasanya pada insisivus rahang bawah
Kekurangan lengkung rahang, dapat unilateral atau bilateral
Pergeseran midline pada gigi insisivus karena adanya salah posisi

insisivus lateral.
Tanggal prematur caninus sulung.
Resorbsi abnormal pada caninus.
Caninus tumbuh pada sisi labial.
Protrusi bimaksiler.
Resesi gingiva pada aspek labial dari anterior mandibula.
Karies proksimal yang luas
Tanggal prematur gigi desidui dan kurang adanya perawatan space

setelahnya.
Kebiasan oral yang merusak
18

Restorasi proksimal yang kurang baik


Profil pasien lurus
B. Kontraindikasi
Diskrepansi kurang dari 5mm per regio gigi
Kelas II yang parah (retrusi mandibula, prognasi maksila) dan klas

III dental atau skeletal yang parah


Deep bites atau open bites
Anodonsia atau oligodonsia
Diastema central
Dilaserasi
Karies yang luas dan parah
Kehilangan gigi kongenital sehingga
Crowded sedang hingga ringan
Cleft lip
Cleft palate
Diastema pada lengkung Gigi
Agenisi
Tidak adanya gigi bawaan yang menyediakan ruang
Gigitan terbuka atau gigitan dalam
Gigi berjarak
Disporsi panjang lengkung rahang dan gigi untuk dapat dilakukan
ekstraksi seri

3. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam Ekstraksi Seri


Hubungan antara diameter mesiodistal gigi desidui dengan gigi
permanen
Direction of growth: indikasi pada maloklusi kelas I angle, karena pada
maloklusi kelas I angle, terdapat keseimbangan neuromuskuler yang
pada

perawatan

pencabutan

serial

keseimbangan

ini

perlu

dipertahankan
Ukuran dari lengkung rahang
Ukuran dari gigi
Hubungan antara mahkota gigi dengan puncak alveolar dan dengan gigi
yang berdekatan harus dievaluasi
19

Diagnosa dini pada masa gigi campuran


Menetapkan apakah pasien dan orang tuanya mengerti, bahwa
perawatan ekstraksi seri merupakan prosedur yang berlangsung terus
menerus lebih dari 4-5 tahun. Bila kerjasama yang baik dari pasien dan
operator tidak dapat diharapkan, maka program seri ini sebaiknya tidak
dapat dilakukan. Program ekstraksi seri yang tidak teratur lebih buruk
daripada tidak dilakukan sama sekali.
Seorang ortodonti harus menyadari bahwa ekstraksi seri ini bukanlah
prosedur yang berurutan dengan pasti. Program perawatan dapat diubah
satu atau beberapa kali selama beberapa kali pengamatan tergantung
pada derajad perbaikan yang terjadi, munculnya akibat lain dari
maloklusi dan kecepatan erupsi dari gigi permanen. Di samping itu
kasus seri ekstraksi pada usia 7-8 tahun tidak sama dengan 10-10,5
tahun, sebagai hasil dari perkembangan yang tidak diperkirakan
sebelumnya.
Adanya ketidakseimbangan antara ukuran gigi dan tulang penyokong,
perlu diperhatikan apakah cukup ruangan untuk memperoleh susunan
gigi yang baik.
Kondisi

gigi-gigi

harus

dipertimbangkan

dalam

merencanakan

pencabutan. Gigi-gigi yang fraktur, gigi hipoplastik, gigi dengan karies


yang besar dan gigi dengan restorasi yang besar, semuana bias dicabut
daripada gigi-gigi yang sehat. Dalam menilai suatu keadaan, factor
pertimbangan utama yang perlu dimiliki adalah prognosis jangka
panjang dari gigi, dengan penampilan dari gigi sebagai factor
pertimbangan penting yang kedua. Biasanya, kondisi gigi perlu
diseimbangkan dengan faktor posisi gigi dalam memutuskan pecabutan,
dan seringkali kondisi gigi merupakan factor penentu, meskipun
perawatan akan menjadi lebih sulit atau lebih lama akibat faktor
tersebut.

20

Posisi susunan berjejal. Jelas bahwa jika susunan yang berjejal terletak
di salah satu lengkung gigi, susunan ini akan bias diperbaiki dengan
lebih mudah jika dilakukan pencabutan pada bagian lengkung tersebut,
daripada dibagian lain yang jauh letaknya dari tempat gigi yang
berjejal. Meskiun demikian, prinsip ini bukanlah sesuatu yang absolut.
Susunan insisivus yang berjejal biasanya diperbaiki dengan mencabut
gigi premolar, sehingga bisa diperoleh penamapilan akhir yang lebih
memuaskan dan keseimbangan oklusal daripada jika gigi insisivus yang
dicabut. Premolar pertama adalah gigi yang paling sering dicabut untuk
memperbaiki susunan berjejal. Karena letaknya di tengah pada setiap
kuadran rahang, gigi premolar pertama biasanya teretak cukup dekat
denan daerah berjejal, baik di segmen anterior maupun bukal.
Posisi gigi-gigi. Gigi-gigi yang sangat malposisi dan sulit diperbaiki
susunannya adalah gigi yang paling sering dipilih untuk dicabut.
Khususnya, posisi apeks gigi harus dipertimbangkan, karena biasanya
lebih sulit menggerakkan apeks daripada menggerakkan mahkota.
Dokter gigi harus selalu memeriksa apakah gigi permanen penggantinya
ada atau tidak. Dan juga harus diperiksa apakah benihnya dalam
keadaan baik, morfologinya adekuat (ukuran dan bentuk), dan dalam
posisi yang benar.
Bagaimanapun juga, terlepas dari berbagai macam metode urutan
pencabutan oleh beberapa pakar untuk usaha guidance of occlusion,
akan lebih bijaksana jika dokter gigi dapat memformulasikan sendiri
urutan pencabutan secara individual tergantung pada rekaman diagnosa
dari pasien sendiri.
4. Prosedur dalam melakukan Ekstraksi Seri
Grewes Method
Grewe menjelaskna rencana ekstraksi sesuai dengan keadaan
klinis:

21

a. Klas I maloklusi dengan kehilangan prematur kaninus bawah dimana


diskrepansi 5-10mm. Molar pertama sulung diekstraksi ketika akar
premolar permanen sudah tumbuh setidaknya setengah. Setelah
premolar pertama permanen erupsi, maka dicabut
b. Klas I maloklusi dengan anterior crowding yang parah: ekstraksi
kaninus sulung dilanjutkan dengan ektraksi molar sulung ketika akar
premolar permanen sudah tumbuh setidaknya setengah. Lalu
ekstraksi premolar pertama permanen ketika sudah erupsi.
c. Klas I maloklusi dengan anterior crowding minimal: Harus
dilakukan observasi adanya protrusi bimaksiler pada daerah kaninuspremolar. Ekstraksi molar pertama sulung ketika akar premolar
permanen sudah tumbuh setidaknya setengah, selanjutnya ketika
premolar permanen pertama sudah erupsi diekstraksi yang
dilanjutkan dengan ekstraksi kaninus sulung. Apabila ditemukan
kaninus permanen erupsi sebelum premolar pertama, maka kaninus
sulung diekstraksi terlebih dahulu, diikuti dengan ekstraksi molar
pertama sulung dan enukleasi premolar pertama.
Grewe juga menyarankan tehnik serial ekstraksi untuk maloklusi
kelas II, seperti:
a. Klas II maloklusi dengan overjet normal: apabila tidak terdapat
crowding pada mandibula akan tetapi terdapat crowding pada
maksila , maka bisa diekstraksi. Kaninus sulung diekstraksi diikuti
dengan molar pertama sulung, lalu melakukan ekstraksi premolar
pertama saat telah erupsi. Molar kedua sulung dijaga yang nantinya
akan diekstraksi mengikuti interdigitasi bukal.
b. Klas II maloklusi dengan overjet minimal: jika ada crowding pada
mandibula dan maksila ekstraksi seri bisa dilakukan. Ekstraksi molar
pertama sulung rahang atas dan molar kedua sulung rahang bawah
diikuti dengan enukleasi dari premolar kedua rahang bawah.
Premolar pertama dan kaninus rahang atas diekstraksi ketika
premolar pertama rahang atas telah erupsi.

22

Metode Tweed
Pencabutan gigi sulung molar pertama pada umur 8 tahun. Gigi
sulung caninus dipertahankan untuk memperlambat erupsi dari caninus
permanen. Setelah pertumbuhan premolar pertama berada pada fase
erupsi, dimana mahkota sudah berada dibawah tulang alveolar secara
radiografi, gigi sulung caninus dilakukan pencabutan kemudian
premolar satu juga demikian untuk memberikan tempat bagi caninus
permanen.
Metode Dewel
a. Tahap 1
Sekitar umur 8 1/2 tahun gigi caninus sulung dilakukan pencabutan
untuk memberikan

ruang untuk memperbaiki crowded anterior

dengan begitu insisif lateral erupsi sesuai lengkung rahang dan ada
penambahan posisi insisif central agar dapat tumbuh sesuai dengan
lengkung yang benar.
b. Tahap 2
Gigi molar pertama

sulung

dilakukan

pencabutan

untuk

memberikan tempat premolar pertama erupsi ke dalam rongga


mulut sebelum gigi caninus erupsi terlebih dahulu. Metode ini jarang
berhasil pada rahang bawah karena urutan erupsi yang normal
caninus permanen terlebih dahulu kemudian premolar 1, pada
maloklusi kelas 1 khususnya P1 mungkin bias impaksi sebagian
diantara caninus dan molar 2 sulung.
c. Tahap 3
Gigi premolar pertama ini dicabut untuk memberi tempat caninus
permanen yang sesuai pada lengkung seharusnya. Sebelum P1
diekstraksi, semua kriteria diagnosa harus dievaluasi lagi misalnya
seperti status perkembangan M3 harus dievaluasi. Jika M3 tidak ada
secara kongenital maka ekstraksi P1 tidak perlu dilakukan karena
akan ada ruangan yang cukup.
Metode Nance.

23

Pada dasarnya merupakan modifikasi dari metode Tweed.


Melibatkan pencabutan dari molar pertama sulung pada usia sekitar 8
tahun, yang diikuti dengan pencabutan premolar pertama dan caninus
sulung.
Metode Moyers
Ketika terlihat adanya berdesakan pada insisivus sentral. Gigi
insisivus lateral erupsi dengan baik.
Tahap I: Ekstraksi semua gigi insisivus lateral sulung. Dapat membantu
menyejajarkan insisivus sentral.
Tahap II: Ekstraksi seluruh gigi kaninus sulung setelah 7-8 bulan. Dapat
membantu menyejajarkan gigi insisivus lateral dan menyediakan tempat
untuk insisivus lateral.
Tahap III: Ekstraksi seluruh gigi molar pertama sulung. Dapat
menstimulasi erupsi seluruh gigi premolar pertama.
Tahap IV: Ekstraksi seluruh gigi premolar pertama setelah 7-8 bulan.
Dapat menyediakan tempat untuk gigi kaninus dan menstimulasi erupsi
gigi kaninus.

24

KESIMPULAN
Ekstraksi seri adalah suatu metode perawatan orthodontic dalam periode
gigi pergantian atau guidance eruption dan mencegah maloklusi pada gigi
permanen dengan jalan melakukan pencabutan pada gigi-gigi yang dipilih pada
interval waktu tertentu serta menurut cara-cara yang telah direncanakan dengan
observasi dan diagnosa yang tepat dan teliti. Etiologi ekstraksi seri biasanya
adalah DDM, sebab adanya DDM bisa terjadi karena fakor herediter. Indikasi
ekstraksi seri adalah pada fase geligi pergantian, tidak ada kelainan skeletal,
crowded berat, pasien kooperatif. Adapun kontraindikasinya yaitu pasien dengan
gigi diastema atau agenisi, crowded ringan, mempunyai kelainan skeletal, dll.
Prosedur ekstraksi seri berdasarkan beberapa metode berbeda satu dengan lainnya,
beberapa metode itu antara lain metode grewe, tweed, dewel, nance, moyers.

25

DAFTAR PUSTAKA

Naragond, Appasaheb and Smitha Kenganal. 2012. Serial Extraction. India:


Journal of Dental and Medical Sciences (JDMS)
Premkumar. 2008. Prep Manual for Undergraduates: Orthodontics. Elsevier:
Mosby Saunders
Singh, Gurkeerat. 2015. Textbook of Orthodontics third edition. India: Jaypee
Brothers Medical Publishers
Rahardjo, Pambudi. 2009. Ortodonti Dasar. Surabaya: Airlangga University Press
JADA. 2005. Tooth Eruption Primary Teeth. Journal American Dental Asosiation.
Chopra Radika. 2010. Serial extraction : Is it panacea for crowded arches. Senior
lecturer Karnavati School of Dentistry Ghandinagar.
Amirudin. 2008. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan Perawatan
Seri Ekstraksi pada Gigi Berjejal Anterior. Medan: USU Press

LAMPIRAN
26

1. Inklinasi
Sudut kemiringan gigi.
Sudut antara bidang yang menjadi acuan bidang yang diukur kemiringannya.
2. Ekstraksi Seri

Metode ortodonsia yang dilakukan pada fase pergantian yangh dibutuhkan


observasi dan diagnosa yang tepat.

Dilakukan secara berurutan dari gigi sulung ke gigi permanen untuk mencegah
maloklusi.

Dilihat dari radiologi untuk melihat gigi permanen agar tidak mengganggu
lengkung yang normal.

3. DDM

Ketidaksesuain antara besar lengkung rahang dan besar gigi geligi.

Biasanya terjadi karena faktor keturunan, dan sering terjadi pada salah satu
sisi atau salah satu rahang.

27