Anda di halaman 1dari 23

KONSEP

NIFAS, EKLAMSI, FORCEPS

NIFAS
Pengertian
1.Masa nifas dimulai
setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari,2000:122).
2.Masa nifas merupakan
masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi
minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke
keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac
Donald,1995:281).
3.Masa nifas adalah
masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk
memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12
minggu. ( Ibrahim C, 1998: ).
Tujuan Perawatan Masa Nifas
Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama
ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah sakit.
Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:
7Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.
7Melaksanakan skrining yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk
bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
7Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga
berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan
bayi sehat.
7Untuk mendapatkan kesehatan emosi. (Bari Abdul,2000:121)
2.2.1.3 Perubahan Masa Nifas
Selama menjalani masa nifas, ibu mengalami perubahan yang bersifat fisiologis yang meliputi
perubahan fisik dan psikologik, yaitu:
1. Perubahan fisik
Involusi

Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau
uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum
hamil.
Proses involusi terjadi karena adanya:
Autolysis yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena
adanya hiperplasi, dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih
panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu
masa hamil akan susut kembali mencapai keadaan semula. Penghancuran
jaringan tersebut akan diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh
ginjal yang menyebabkan ibu mengalami beser kencing setelah
melahirkan.
Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah
anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah
karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi
uterus yang tidak berguna. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan
terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot
kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi
lebih kecil.
Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi pada
jaringan otot uterus.
Involusi pada alat kandungan meliputi: Uterus
Setelah plasenta lahir uterus merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi ototototnya. Perubahan uterus setelah melahirkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

i.Tabel 2.1 Tabel Perubahan


Uterus Setelah melahirkan

Involusi

Setelah
plasenta lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu

TFU

Berat
Uterus

Diameter
Bekas Melekat
Plasenta

Keadaan Cervix

Sepusat

1000 gr

12,5

Lembik

Pertengahan pusat
symphisis

500 gr

7,5 cm

Dapat dilalui 2
jari

350 gr

5 cm

50 gr

2,5 cm

Tak teraba
Sebesar hamil 2

Dapat dimasuki
1 jari

8 minggu

minggu

30 gr

Normal

Sumber: Rustam
muchtar, 1998
Involusi tempat plasenta
Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar
yang tersumbat oleh trombus. Luka bekas implantasi plasenta tidak
meninggalkan parut karena dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan
endometrium baru dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari
pinggir luka dan juga sisa-sisa kelenjar pada dasar luka. (Sulaiman
S, 1983l: 121 )
Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak pembuluh darah yang besar, tetapi
karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang
banyak maka arteri harus mengecil lagi dalam masa nifas.
Perubahan pada cervix dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari,
pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh 1 jari saja. Karena
hiperplasi ini dan karena karena retraksi dari cervix, robekan cervix
jadi sembuh. Vagina yang sangat diregang waktu persalinan, lambat
laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke 3 post partum ruggae
mulai nampak kembali.
Rasa sakit yang disebut after pains (meriang atau mules-mules) disebabkan koktraksi
rahim biasanya berlangsung 3 4 hari pasca persalinan. Perlu diberikan pengertian pada
ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu analgesik.(Cunningham, 430)
1.Lochia
Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa
nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah menstruasi. Lochia ini
berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak busuk.
Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya yaitu lokia
rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, rambut
lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai hari pertama sampai hari ketiga.
Lochia sanginolenta berwarna putih bercampur merah , mulai hari ketiga
sampai hari ketujuh.
Lochia serosa berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari keempat
belas.

Lochia alba berwarna putih setelah hari keempat belas.( Manuaba, 1998: 193)
Dinding perut dan peritonium
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama,
biasanya akan pulih dalam 6 minggu. Ligamen fascia dan diafragma
pelvis yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur
angsur mengecil dan pulih kembali.Tidak jarang uterus jatuh ke
belakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum jadi kendor.
Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca
persalinan.( Rustam M, 1998: 130)
Sistim Kardiovasculer
Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi
penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh
darah uterus. Penurunan dari estrogen mengakibatkan diuresis yang
menyebabkan volume plasma menurun secara cepat pada kondisi normal.
Keadaan ini terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran.
Selama ini klien mengalami sering kencing. Penurunan progesteron
membantu mengurangi retensi cairan sehubungan dengan penambahan
vaskularisasi jaringan selama kehamilan. ( V Ruth B, 1996: 230)
Ginjal
Aktifitas ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume darah dan
ekskresi produk sampah dari autolysis. Puncak dari aktifitas ini
terjadi pada hari pertama post partum.( V Ruth B, 1996: 230)
Sistim Hormonal
Oxytoxin
Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan bereaksi pada otot
uterus dan jaringan payudara. Selama kala tiga persalinan aksi
oxytoxin menyebabkan pelepasan plasenta. Setelah itu oxytoxin beraksi
untuk kestabilan kontraksi uterus, memperkecil bekas tempat
perlekatan plasenta dan mencegah perdarahan. Pada wanita yang memilih
untuk menyusui bayinya, isapan bayi menstimulasi ekskresi oxytoxin
diamna keadaan ini membantu kelanjutan involusi uterus dan
pengeluaran susu. Setelah placenta lahir, sirkulasi HCG, estrogen,
progesteron dan hormon laktogen placenta menurun cepat, keadaan ini
menyebabkan perubahan fisiologis pada ibu nifas.
Prolaktin
Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang disekresi oleh glandula hipofise
anterior bereaksi pada alveolus payudara dan merangsang produksi
susu. Pada wanita yang menyusui kadar prolaktin terus tinggi dan

pengeluaran FSH di ovarium ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui


kadar prolaktin turun pada hari ke 14 sampai 21 post partum dan
penurunan ini mengakibatkan FSH disekresi kelenjar hipofise anterior
untuk bereaksi pada ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen dan
progesteron dalam kadar normal, perkembangan normal folikel de graaf,
ovulasi dan menstruasi.( V Ruth B, 1996: 231)
Laktasi
Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Air
susu ibu ini merupakan makanan pokok , makanan yang terbaik dan
bersifat alamiah bagi bayi yang disediakan oleh ibu yamg baru saja
melahirkan bayi akan tersedia makanan bagi bayinya dan ibunya
sendiri.
Selama kehamilan hormon estrogen dan progestron merangsang pertumbuhan
kelenjar susu sedangkan progesteron merangsang pertumbuhan saluran
kelenjar , kedua hormon ini mengerem LTH. Setelah plasenta lahir maka
LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi.
Lobus prosterior hypofise mengeluarkan oxtoxin yang merangsang pengeluaran
air susu. Pengeluaran air susu adalah reflek yang ditimbulkan oleh
rangsangan penghisapan puting susu oleh bayi. Rangsang ini menuju ke
hypofise dan menghasilkan oxtocin yang menyebabkan buah dada
mengeluarkan air susunya.
Pada hari ke 3 postpartum, buah dada menjadi besar, keras dan nyeri. Ini
menandai permulaan sekresi air susu, dan kalau areola mammae dipijat,
keluarlah cairan puting dari puting susu.
Air susu ibu kurang lebih mengandung Protein 1-2 %, lemak 3-5 %, gula
6,5-8 %, garam 0,1 0,2 %.
Hal yang mempengaruhi susunan air susu adalah diit, gerak badan.
Benyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan serta
makanan yang dikonsumsi ibu.( Obstetri Fisiologi UNPAD, 1983: 318 )
Tanda-tanda vital
Perubahan tanda-tanda vital pada massa nifas meliputi:
Tabel 2.2 Tabel perubahan Tanda-tanda Vital
Parameter

Penemuan normal

Penemuan abnormal

Tanda-tanda
vital

Tekanan darah < 140 / 90


mmHg, mungkin bisa naik dari
tingkat disaat persalinan 1 3
hari post partum.

Tekanan darah > 140 / 90 mmHg


Suhu > 380 C
Denyut nadi: > 100 X / menit

Suhu tubuh < 38 0 C


Denyut nadi: 60-100 X / menit
2. Perubahan Psikologi
Perubahan psikologi masa nifas menurut Reva- Rubin terbagi menjadi dalam 3 tahap
yaitu:
Periode Taking In
Periode ini terjadi setelah 1-2 hari dari persalinan.Dalam masa ini terjadi
interaksi dan kontak yang lama antara ayah, ibu dan bayi. Hal ini
dapat dikatakan sebagai psikis honey moon yang tidak memerlukan
hal-hal yang romantis, masing-masing saling memperhatikan bayinya dan
menciptakan hubungan yang baru.
Periode Taking Hold
Berlangsung pada hari ke 3 sampai ke- 4 post partum. Ibu berusaha bertanggung
jawab terhadap bayinya dengan berusaha untuk menguasai ketrampilan perawatan bayi.
Pada periode ini ibu berkosentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, misalnya buang
air kecil atau buang air besar.
Periode Letting Go
Terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Pada masa ini ibu mengambil tanggung
jawab terhadap bayi.( Persis Mary H, 1995: )
Sedangkan stres emosional pada ibu nifas kadang-kadang dikarenakan kekecewaan
yang berkaitan dengan mudah tersinggung dan terluka sehingga nafsu makan dan pola
tidur terganggu. Manifestasi ini disebut dengan post
partum blues dimana terjadi pada hari ke 3-5 post partum.( Ibrahim C S, 1993: 50)
2.2.1.4 Perawatan Masa Nifas
Setelah melahirkan, ibu membutuhkan perawatan yang intensif untuk
pemulihan kondisinya setelah proses persalinan yang melelahkan.
Dimana perawatan post partum meliputi:
1. Mobilisasi Dini
Karena lelah sehabis melahirkan , ibu harus istirahat tidur
telentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring
kekanan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan trombo emboli.
Pada hari kedua diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan-jalan dan hari

keempat atau kelima sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas


memiliki variasi tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan
sembuhnya luka-luka.
Keuntungan dari mobilisasi dini adalah melancarkan
pengeluaran lochia, mengurangi infeksi purperium, mempercepat
involusi alat kandungan, melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan
alat perkemihan, meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga
mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.( Manuaba,
1998: 193)
2. Rawat Gabung
Perawatan ibu dan bayi dalan satu ruangan bersama-sama sehingga
ibulebih banyak memperhatikan bayinya, segera dapat memberikan ASI
sehingga kelancaran pengeluaran ASI lebih terjamin.( Manuaba, 1998:
193)
3. Pemeriksaan Umum
Pada ibu nifas pemeriksaan umum yang perlu dilakukan antara lain adalah kesadaran
penderita, keluhan yang terjadi setelah persalinan.
4. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan khusus pada ibu nifas meliputi:
Fisik : tekanan darah, nadi dan suhu
Fundus uteri : tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
Payudara : puting susu, pembengkakan, pengeluaran ASI
Patrun lochia : Locia rubra, lochia sanginolenta, lochia serosa, lochia alba
Lukajahitan episiotomi : Apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda-tanda
infeksi. ( Manuaba, 1998: 193)
5. Nasehat Yang Perlu diberikan saat pulang adalah:
Diit
Masalah diit perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh pada pemulihan
kesehatan ibu dan pengeluaran ASI. Makanan harus mengandung gizi
seimbang yaitu cukup kalori, protein, cairan, sayuran dan
buah-buahan.
Pakaian
Pakaian agak longgar terutama didaerah dada sehingga payudara tidak tertekan.
Daerah perut tidak perlu diikat terlalu kencang karena tidak akan
mempengaruhi involusi. Pakaian dalam sebaiknya yang menyerap,
sehingga lochia tidak menimbulkan iritasi pada daerah sekitarnya.
Kasa pembalut sebaiknya dibuang setiap saat terasa penuh dengan
lochia,saat buang air kecil ataupun setiap buang air besar.

Perawatan vulva
Pada tiap klien masa nifas dilakukan perawatan vulva dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya inveksi di daerah vulva, perineum maupun didalam
uterus. Perawatan vulva dilakukan pada pagi dan sore hari sebelum
mandi, sesudah buang air kemih atau buang air besar dan bila klien
merasa tidak nyaman karena lochia berbau atau ada keluhan rasa nyeri.
Cara perawatan vulva adalah cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
perawatan luka, setelah BAK cebok ke arah depan dan setelah BAB cebok
kearah belakang, ganti pembalut stiap kali basah atau setelah BAB
atau BAK , setiap kali cebok memakai sabun dan luka bisa diberi
betadin.Untuk cara merawat luka dapat dilihat pada lampiran 1
Miksi
Kencing secara spontan sudah harus dapat dilakukan dalam 8 jam post partum.
Kadang kadang wanita sulit kencing, karena spincter uretra mengalami
tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musculus spincter
ani selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dan wanita sulit
kencing sebaiknya dilakukan kateterisasi.( Persis H, 1995: 288)
Defekasi
Buang air besar harus terjadi pada 2-3 hari post partum. Bila belum terjadi
dapat mengakibatkan obstipasi maka dapat diberikan obat laksans per
oral atau perektal atau bila belum berhasil lakukan klisma.( Persis
H,1995: 288)
Perawatan Payudara
Perawatan payudara telah mulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas,
tidak keras dan kering, sebagai persiapan untuk menyusui bayinya.
Dianjurkan sekali supaya ibu mau menyusui bayinya karena sangat
berguna untuk kesehatan bayi.Dan segera setelah lahir ibu sebaiknya
menyusui bayinya karena dapat membantu proses involusi serta
colostrum mengandung zat antibody yang berguna untuk kekebalan tubuh
bayi. Cara perawatan payudara ada pada lampiran no.2 ( Mac. Donald, 1991: 430)
Kembalinya Datang Bulan atau Menstruasi
Dengan memberi ASI kembalinya menstruasi sulit diperhitungkan dan bersifat
indifidu. Sebagian besar kembalinya menstruasi setelah 4-6 bulan.
Cuti Hamil dan Bersalin
Bagi wanita pekerja menurut undang-undang berhak mengambil cuti hamil dan
bersalin selama 3 bulan yaitu 1 bulan sebelum bersalin dan 2 bulan
setelah melahirkan.

Mempersiapkan untuk Metode KB


Pemeriksaan
post partum merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan metode KB
untuk menjarangkan atau menghentikan kehamilan. Oleh karena itu
penggunaan metode KB dibutuhkan sebelum haid pertama kembali untuk
mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode KB dapat dimulai 2
minggu setelah melahirkan.(Bari Abdul,2000:129)
EKLAMSI
1. Batasan
1. Eklamsi adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil
tua, persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau
koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklamsi
(hipertensi, edems, proteinuri) . (Wirjoatmodjo, 1994: 49).
2. Eklamsi merupakan kasus akut, pada penderita dengan
gambaran klinik pre eklamsi yang disertai dengan kejang dan koma yang
timbul pada ante, intra dan post partum. (Angsar MD, 1995: 41)
2Patofisiologi
Penyebabnya sampai sekarang belum jelas. Penyakit ini dianggap
sebagai suatu Maldaptation Syndrom dengan akibat suatu vaso
spasme general dengan akibat yang lebih serius pada organ hati,
ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni tejadi nekrosis dan
perdarahan pada organ-organ tersebut. (Pedoman Diagnosis dan Terapi,
1994: 49)
3Pembagian Eklamsi
Berdasarkan waktu terjadinya eklamsi dapat dibagi menjadi:
1. Eklamsi gravidarum
Kejadian 50-60 % serangan terjadi dalam keadaan hamil
2. Eklamsi Parturientum
Kejadian sekitar 30-35 %, terjadi saat inpartu dimana batas dengan eklamsi
gravidarum sukar dibedakan terutama saat mulai inpartu.
3. Eklamsi Puerperium
Kejadian jarang sekitar 10 %, terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir.
( Manuaba, 1998: 245)
4Gejala Klinis Eklamsi
Gejala klinis Eklamsi adalah sebagai berikut:
1. Terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih

2. Terdapat tanda-tanda pre eklamsi ( hipertensi, edema, proteinuri, sakit kepala yang
berat, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, kegelisahan atu hiperefleksi)
Kejang-kejang atau koma
Kejang dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi:
Tingkat awal atau aura (invasi)
Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat
(pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar
kekanan dan kekiri.
Stadium kejang tonik
Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam dan kaki
membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai kelihatan
sianosis, lodah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
Stadium kejang klonik
Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut
terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit.
Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah
berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita
tidak sadar, menarik mafas seperti mendengkur.
Stadium koma
Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara
kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam
keadaan koma. (Muchtar Rustam, 1998: 275)
2.Kadang kadang disertai dengan gangguan fungsi organ.
(Wirjoatmodjo, 1994: 49)
5. Pemeriksaan dan Diagnosis
Diagnosis eklamsi dapat ditegakkan apabila terdapat tanda-tanda sebagai
berikut:
1. Berdasarkan gejala klinis diatas
2. Pemeriksaan laboratorium meliputi adanya protein dalam air seni, fungsi organ hepar, ginjal
dan jantung, fungsi hematologi atau hemostasis
Konsultasi dengan displin lain kalau dipandang perlu
1. Kardiologi
2. Optalmologi

3. Anestesiologi
4. Neonatologi dan lain-lain
(Wirjoatmodjo, 1994: 49)
6Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari kehamilan yang disertai kejang-kejang adalah:
1. Febrile convulsion ( panas +)
2. Epilepsi ( anamnesa epilepsi + )
3. Tetanus ( kejang tonik atau kaku kuduk)
4. Meningitis atau encefalitis ( pungsi lumbal)
7Komplikasi Serangan
Komplikasi yang dapat timbul saat terjadi serangan kejang adalah:
1. Lidah tergigit
2. Terjadi perlukaan dan fraktur
3. Gangguan pernafasan
4. Perdarahan otak
5. Solutio plasenta dan merangsang persalinan
( Muchtar Rustam, 1995:226)
8. Bahaya Eklamsi
1. Bahaya eklamsi pada ibu
Menimbulkan sianosis, aspirasi air ludah menambah
gangguan fungsi paru, tekanan darah meningkat menimbulkan perdarahan
otak dan kegagalan jantung mendadak, lidah dapat tergigit, jatuh dari
tempat tidur menyebabkan fraktura dan luka-luka, gangguan fungsi
ginjal: oligo sampai anuria, pendarahan atau ablasio retina, gangguan
fungsi hati dan menimbulkan ikterus.
2. Bahaya eklamsi pada janin
Asfiksia mendadak, solutio plasenta, persalinan prematuritas, IUGR (Intra
Uterine Growth Retardation), kematian janin dalam rahim.
( Pedoman Diagnosis dan Terapi, 1994: 43)
9 Prognosa
Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya, maka prognosa
kurang baik untuk ibu maupun anak. Prognosa dipengaruhi oleh paritas,

usia dan keadaan saat masuk rumah sakit. Gejala-gejala yang


memberatkan prognosa dikemukakan oleh Eden adalah:
1. Koma yang lama
2. Nadi diatas 120 per menit
3. Suhu diatas 39C.
4. Tensi diatas 200 mmHg
5. Lebih dari sepuluh serangan
6. Priteinuria 10 gr sehari atau lebih
7. Tidak adanya oedema. ( M Dikman A, 1995: 45)
10. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan eklamsia pada ibu nifas adalah
menghentikan kejang kejang yang terjadi dan mencegah kejang ulang.
1. Konsep pengobatan
Menghindari tejadinya kejang berulang, mengurangi koma, meningkatkan jumlah
diuresis.
2.Obat untuk anti kejang
MgSO4 ( Magnesium Sulfat)
Dosis awal: 4gr 20 % I.V. pelen-pelan selama 3 menit atau lebih
disusul 10gr 40% I.M. terbagi pada bokong kanan dan kiri.
Dosis ulangan : tiap 6 jam diberikan 5 gr 50 % I.M. diteruskan sampai 6
jam pasca persalinan atau 6 jam bebas kejang.
Syarat : reflek patela harus positif, tidak ada tanda-tanda depresi
pernafasan ( respirasi >16 kali /menit), produksi urine tidak kurang dari
25 cc/jam atau 150 cc per 6 jam atau 600 cc per hari.
Apabila ada kejang lagi, diberikan Mg SO 4
20 %, 2gr I.V. pelan-pelan. Pemberian I.V. ulangan ini hanya sekali
saja, apabila masih timbul kejang lagi maka diberikan pentotal 5 mg /
kg BB / I.V. pelan-pelan.
Bila ada tanda-tanda keracunan Mg SO 4 diberikan antidotum glukonas
kalsikus 10 gr % 10 cc / I.V pelan-pelan selama 3 menit atau lebih.
Apabila diluar sudah diberi pengobatan diazepam, maka dilanjutkan pengobatan
dengan MgSO 4 .

2.2.3 KONSEP EKSTRAKSI FORCEPS


2.2.3.1. Definisi
Ekstraksi forceps adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan dengan suatu tarikan cunam yang dipasang pada
kepalanya. (Hanifa W,1991: 88)
Cunam atau forceps adalah suatu alat obstetrik terbuat dari logam
yang digunakan untuk melahirkan anak dengan tarikan
kepala.(Phantom, 178)
Ekstraksi cunam adalah tindakan obstetrik yang bertujuan untuk
mempercepat kala pengeluaran dengan jalan menarik bagian bawah janin
( kepala ) dengan alat cunam. ( Bari Abdul, 2001: 501)
2.2.3.2. Tujuan
Menurut Rustam Mochtar 1998, persalinan dengan ekstraksi
forceps bertujuan:
1. Traksi yaitu menarik anak yang tidak dapat lahir spontan
2. Koreksi yaitu merubah letak kepala dimana ubun-ubun kecil dikiri atau dikanan depan
atau sekali-kali UUK melintang kiri dan kanan atau UUK ki /ka belakang menjadi UUK
depan ( dibawah symphisis pubis)
3. Kompresor yaitu untuk menambah moulage kepala
2.2.3.3. Jenis Tindakan Forceps
Berdasarkan pada jauhnya turun kepala, dapat dibedakan beberapa
macam tindakan ekstraksi forceps, antara lain:
1. Forceps rendah
Dilakukan setelah kepala bayi mencapai H IV, kepala bayi mendorong perineum,
forceps dilakukan dengan ringan disebut outlet forceps.
2. Forceps tengah
Pada kedudukan kepala antara H II atau H III, salah satu bentuk forceps
tengah adalah forceps percobaan untuk membuktikan disproporsi panggul
dan kepala. Bila aplikasi dan tarikan forceps berat membuktikan
terdapat disproporsi kepala panggul . Forceps percobaan dapat diganti
dengan ekstraksi vaccum.
3. Forceps tinggi
Dilakukan pada kedudukan kepala diantara H I atau H II, forceps
tinggi sudah diganti dengan seksio cesaria.
( Manuaba,1998: 348)

2.2.3.4 Indikasi
Indikasi pertolongan ekstraksi forceps adalah
1. Indikasi ibu
Ruptura uteri mengancam, artinya lingkaran retraksi patologik band sudah
setinggi 3 jari dibawah pusat, sedang kepala sudah turun sampai H
III- H IV.
Adanya oedema pada vagina atau vulva. Adanya oedema pada jalan lahir artinya
partus sudah berlangsung lama.
Adanya tanda-tanda infeksi, seperti suhu badan meninggi, lochia berbau.
Eklamsi yang mengancam
Indikasi pinard, yaitu kepala sudah di H IV, pembukaan cervix lengkap,
ketuban sudah pecah atau 2jam mengedan janin belum lahir juga
Pada ibu-ibu yang tidak boleh mengedan lama, misal Ibu dengan
decompensasi kordis , ibu dengan Koch pulmonum berat, ibu dengan
anemi berat (Hb 6 gr % atau kurang), pre eklamsi berat, ibu dengan
asma broncial.
Partus tidak maju-maju
Ibu-ibu yang sudah kehabisan tenaga.
1.Indikasi janin
Gawat janin
Tanda-tanda gawat janin antara lain :
Cortonen menjadi cepat takhikardi 160 kali per menit dan
tidak teratur, DJJ menjadi lambat bradhikardi 160 kali per menit dan
tidak teratur, adanya mekonium (pada janin letak kepala) Prolapsus funikulli, walaupun
keadaan anak masih baik (Rustam Muchtar,1995: 84-85)
2.2.3.5 Syarat
Syarat-syarat untuk dapat melakukan ekstrasksi forceps antara lain:
1.Pembukaan lengkap
2.Selaput ketuban telah pecah atau dipecahkan
3.Presentasi kepala dan ukuran kepala cukup cunam
4.Tidak ada kesempitan panggul
5.Anak hidup termasuk keadaan gawat janin
6.Penurunan H III atau H III- H IV ( puskesmas H IV atau dasar panggul)
7.Kontraksi baik
8.Ibu tidak gelisah atau kooperatif

( Bari Abdul, 2001: 502)


2.2.3.6 Kontra Indikasi
Kontra indikasi dariekstraksi forceps meliputi
1.Janin sudah lama mati sehingga sudah tidak bulat dan keras lagi sehingga kepala sulit
dipegang oleh forceps
2.Anencephalus
3.Adanya disproporsi cepalo pelvik
4.Kepala masih tinggi
5.Pembukaan belum lengkap
6.Pasien bekas operasi vesiko vagina fistel
7.Jika lingkaran kontraksi patologi bandl sudah setinggi pusat atau lebih
(Muchtar Rustam, 1995: 85)
2.2.3.7 Komplikasi
Komplikasi atau penyulit ekstraksi forceps adalah sebagai berikut
1. Komplikasi langsung akibat aplikasi forceps dibagi menjadi
Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dapat berupa:
Perdarahan yang dapat disebabkan karena atonia uteri, retensio plasenta serta
trauma jalan lahir yang meliputi ruptura uteri, ruptura cervix,
robekan forniks, kolpoforeksis, robekan vagina, hematoma luas,
robekan perineum.
Infeksi yang terjadi karena sudah terdapat sebelumnya, aplikasi alat
menimbulkan infeksi, plasenta rest atau membran bersifat asing yang
dapat memudahkan infeksi dan menyebabkan sub involusi uteri serta
saat melakukan pemeriksaan dalam
Komplikasi segera pada bayi
Asfiksia karena terlalu lama di dasar panggul sehingga terjadi rangsangan
pernafasan menyebabkan aspirasi lendir dan air ketuban. Dan jepitan
langsung forceps yang menimbulkan perdarahan intra kranial, edema
intra kranial, kerusakan pusat vital di medula oblongata atau trauma
langsung jaringan otak.
Infeksi oleh karena infeksi pada ibu menjalar ke bayi
Trauma langsung forceps yaitu fraktura tulang kepala dislokasi sutura tulang
kepala; kerusakan pusat vital di medula oblongata; trauma langsung
pada mata, telinga dan hidung; trauma langsung pada persendian tulang

leher; gangguan fleksus brachialis atau paralisis Erb, kerusakan


saraf trigeminus dan fasialis serta hematoma pada daerah tertekan.
2. Komplikasi kemudian atau terlambat
Komplikasi pada ibu
Perdarahan yang disebabkan oleh plasenta rest, atonia uteri sekunder serta
jahitan robekan jalan lahir yang terlepas.
Infeksi
Penyebaran infeksi makin luas
Trauma jalan lahir yaitu terjadinya fistula vesiko vaginal, terjadinya fistula rekto vaginal
dan terjadinya fistula utero vaginal.
Komplikasi
terlambat pada bayi dalam bentuk:
Trauma ekstraksi forceps dapat menyebabkan cacat karena aplikasi forceps
Infeksi yang berkembang menjadi sepsis yang dapat menyebabkan kematian serta
encefalitis sampai meningitis.
Gangguan susunan saraf pusat
Trauma langsung pada saraf pusat dapat menimbulkan gangguan intelektual.
Gangguan pendengaran dan keseimbangan.
2.2.3.8 Perawatan Setelah Ekstraksi Forceps
Pada prinsipnya tidak berbeda dengan perawatan post partum biasa, hanya
memerlukan perhatian dan observasi yang lebih ketat, karena kemungkinan terjadi trias
komplikasi lebih besar yaitu perdarahan robekan jalan lahir dan infeksi.Oleh karena itu
perawatan setelah ekstraksi forceps memerlukan profilaksis pemberian infus sampai
tercapai keadaan stabil, pemberian uterotonika sehingga kontraksi
rahim menjadi kuat dan pemberian anti biotika untuk menghindari infeksi.
( Manuaba, 1998: 253)
2.3 KONSEP ASUHAN KEBIDANAN PADA KLIEN POST FORCEPS
EKSTRAKSI INDIKASI EKLAMSI
Pada klien post forceps ekstraksi indikasi eklamsi perlu dilakukan
perawatan kebidanan secara intensif dengan menggunakan pendekatan
menejemen kebidanan secara terpadu dan berkesinambungan.
Untuk itu pada kesempatan ini, menejemen kebidanan yang kami terapkan
berdasarkan teori Helen Varney yang menggunakan 7 langkah,meliputi
pengkajian, analisa data, diagnosa, masalah, diagnosa potensial,
tindakan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

2.3.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal proses asuhan kebidanan yang
terdiri dari 3 kegiatan yaitu: pengumpulan data yang diperoleh dari
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya.
2.3.1.1 Data subyektif
1.Biodata, mencakup
identitas klien serta suami yang terdiri dari:
Nama yang jelas dan lengkap, bila perlu ditanyakan nama panggilan sehari-hari.
Umur dicatat dalam tahun, sebaiknya juga tanggal lahir klien, umur berguna
mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan.
Alamat perlu dicatat untuk mempermudah hubungan bila keadaan mendesak,
misalnya ibu yang dirawat memerluan bantuan keluarga. Dengan adanya
alamat tersebut keluarga klien dapat segera dihubungi. Demikian juga
alamat dapat memberikan petunjuk tentang keadaan lingkungan tempat
tinggal klien.
Pekerjaan dicatat untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pekerjaan dengan
permasalahan kesehatan klien dan juga pembiayaan.
Agama perlu dicatat karena hal ini sangat berpengaruh dalam kehidupan
termasuk kesehatan. Dengan diketahuinya agama klien, akan memudahkan
bidan melakukan pendekatan dalam melakukan asuhan kebidanan.
Pendidikan klien ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat
pendidikan dan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang.
Status perkawinan ditanyakan pada klien untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh status perkawinan terhadap masalah kesehatan.
2.Keluhan utama
Keluhan yang mungkin dapat terjadi dan dirasakan oleh ibu nifas post
ekstraksi forceps adalah:
Ibu merasa mules-mules pada perut atau, ibu merasa sakit pada luka
jahitan perineum, adanya pengeluaran lochia rubra, merah, jumlah
lebih banyak dari keadaan fisiologis, ibu merasa pusing kepala, nyeri
ulu hati dan penglihatan kabur.
3.Riwayat Obstetri
Riwayat obstetri yang perlu dikaji adalah
Riwayat Haid
Riwayat menstruasi yang perlu ditanyakan adalah menarche, siklus teratur atau
tidak, lamanya menstruasi, banyaknya darah yang keluar, menstruasi
terakhir, dismenorrhoe. Hal ini perlu ditanyakan terutama untuk mengetahui usia
kehamilan.
Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu

Yang perlu ditanyakan pada klien yang pernah hamil adalah untuk menentukan
faktor risiko. Riwayat kehamilan yang lalu dengan pre eklamsi atau tidak. Pada klien
yang pernah melahirkan yaitu tempat melahirkan, cara melahirkan BB anak saat lahir,
PB anak saat lahir, usia saat ini, kelainan saat nifas dan riwayat meneteki.
Riwayat kehamilan sekarang
Yang perlu ditanyakan adalah para, abortus, umur kehamilan, tempat pemeriksaan
kehamilan, frekwensi pemeriksaan kehamilan, kelainan yang
dialami waktu hamil, penggunaan obat dan jamu. Sewaktu usia kehamilan
20 minggu atau lebih apakah mengalami kenaikan tekanan darah, bengkak
pada wajah, tungkai, tangan, pusing, nyeri ulu hati dan penglihatan kabur serta apakah
ibu pernah kejang selama hamil.
Riwayat keluarga berencana
Perlu dicatat bagi ibu yang pernah mengikuti program keluarga berencana.
Hal ini penting diketahui untuk mngetahui apakah kehamilan yang sekarang memang
direncanakan atau tidak. Jenis kontrasepsi yang digunakan, lamanya menggunakan alat
kontrasepsi dan rencana setelah melahirkan.
4.Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan yang perlu dikaji meliputi:
Riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami
Data yang perlu dikaji meliputi apakah klien punya penyakit menular, menahun serta
menurun.
Perilaku kesehatan
Data yang dukaji meliputi tanggapan klien terhadap minum-minuman keras,
merokok, personal hygiene, obat-obatan yang sering diminum.
Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit
keluarga terhadap gangguan kesehatan klien maupun bayinya, antara
lain penyakit jantung, hipertensi, diabetes militus, keturunan kembar
dan koch pulmonum.
5.Keadaan psikososial
Yang perlu dikaji dari pasien adalah bagaimana sikap klien terhadap interaksi yang
diadakan bidan, bagaimana rencana meneteki bayinya, rencana perawatan bayi, dirawat
sendiri atau dirawat oleh keluarga. Juga perlui ditanyakan pengetahuan ibu tentang
kesehatan setelah melahirkan meliputi mobilisasi dini, perawatan payudara, kebersihan
diri khususnya daerah genitalia. Fungsi psikososial khususnya peran suami dalam
mendukung kesembuhan klien.
6.Riwayat adat kebiasaan
Yang perlu dikaji adalah adat kebiasaan keluarga dalam pertolongan persalinan dan pasca
persalinan, demikian juga adanya kebiasaan lain yang ada hubungannya dengan
kesehatan klien dan janinnya.

7.Pola pemenuhan kebutuhan


Nutrisi
Perlu ditanyakan pemenuhan nutrisi selama dirumah sakit apakah klien menghabiskan
porsi yang dikonsumsi, kalau tidak apakah klien dibawakan makanan dari rumah.
Tanyakan juga kebiasaan makan dirumah selama hamil biasanya berapa kali dalam satu
hari, berapa piring dalam satu kali makan, jenis makanan dan
adakah makanan yang berpantang selama hamil. Hal ini perlu ditanyakan
karena kebiasaan makan mempengaruhi proses pemulihan kesehatan klien.
Untuk klien dengan post eklamsi nutrisi yang diperlukan adalah diit rendah
garam.Contoh diit rendah garam ada pada lampiran 2.
Aktifitas
Ditanyakan kemampuan aktifitas klien selama dirumah sakit apakah mengalami
hambatan atau tidak, karena pada ibu nifas post eklamsi mobilisasi dini dapat mulai
dilakukan saat keadaan klien berangsur membaik kira- kira 12 24 jam post
partum.Mobilisasi dini dapat dimulai dengan tidur telentang, lalu miring kanan kiri, serta
belajar duduk pada hari ke dua, hari ke tiga belajar berjalan dan hari ke empat atau
kelima sudah boleh pulang.
Istirahat dan tidur
Selama dirumah sakit apakah klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat dan
tidurnya yaitu kira-kira 7 8 jam sehari. Berapa jam klien tidur dalam sehari, bila tidak
dapat tidur ditanyakan apakah sebabnya, apakah menimbulkan gangguan atau tidak.
Kebersihan diri
Selama melahirkan apakah dapat melakukan atau mandi sendiri di kamar mandi
atau masih diseka. Tanyakan kapan ganti pembalut, berapa kali dan jumlah perdarahan.
Eleminasi alvi dan uri
Apakah selama dirumah sakit klien sudah buang air kecil, kalau belum mengapa. Karena
pada klien dengan post operatif vaginam selama proses persalinan kandung kemih
mendapat tekanan sehingga dapat mengakibatkan gangguan eleminasi uri, kalau sudah
apakah disertai rasa nyeri atu tidak, dan buang air kecil sudah harus terjadi secara
spontan pada 8 jam post partum. Apakah sudah buang air besar atau belum, karena pada
post partum BAB sudah harus terjadi pada hari ke 2- 3 post partum, kalau belum
mengapa, kalau sudah bagaimana konsistensi dan warnanya, tanyakan juga kebiasaan
buang air besar dirumah, karena kebiasaan buang air besar yang tidak tiap hari kadang
tidak menimbulkan gangguan.
8.Pola persepsi
Bagaimana penerimaan klien tehadap tindakan yang dilakukan terhadap proses
persalinan.
2.3.1.2 Data obyektif
Merupakan data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik meliputi inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi.

Data obyektif yang dapat ditemukan pada ibu nifas adalah:


1.Riwayat persalinan
Yang perlu ditanyakan adalah tempat, tanggal, jam persalinan, penolong,
jenis persalinan serta masalah- masalah yang timbul selama persalinan.
2.Keadaan umum,
kesadaran yang diperoleh dari pengamatan dan pemeriksaan umum pada
klien saat pengkajian .Apakah klien terlihat pucat atau segar, apakah klien sadar penuh
dan dapat beradaptasi dengan keadaan disekitarnya.
3.Tanda-tanda vital
Hal- hal yang diperiksa adalah tekanan darah, suhu rektal atau axiler,
denyut nadi dan pernafasan.
4.Tinggi badan dan berat badan
Dapat diperiksa apabila keadaan memungkinkan, apabila klien masih tiduran
tidak perlu dicantumkan atau diukur.
5.Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang perlu diperhatikan adalah
Muka : Pucat, terdapat chloasma gravidarum atau tidak, ekspresi
wajah serta ada oedema atau tidak
Mata : Conjungtiva warna pucat atu tidak, terdapat ikterus atau
tidak pada gigi terdapat caries atau tidak serta kebersihannya.
Mulut : Terdapat stomatitis atau tidak, pada gigi terdapat caries
atau tidak ssrta kebersihannya.
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid ada atau tudak, pembesaran
vena jugularis ada atau tidak.
Dada : Bentuk dada simetris atau tidak, pembesaran payudara,
keras, lembek, bentuk putting susu, serta colostrum keluar atau
belum.
Perut : Inspeksi : apa ada luka bekas SC, striae, linea
Palpasi : TFU secara normal pada hari pertama post partum
setinggi pusat serta kontraksi uterus untuk mengetahui proses
involusi.
Genitalia : Inspeksi : Kebersihan, lochia rubra,warna merah, bau
serta banyaknya.
Perineum : Terdapat bekas episiotomi, banyaknya jahitan, oedema
atau tidak, ada tanda infeksi atau tidak serta luka tampak kering
atau basah.
Anus : Adakah haemorrhoid
ekstremitas : atas: adakah oedema, terpasang infus atau tidak

bawah: adakah oedema, ada farices atau tidak serta reflek


patela.
6.Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium meliputi Hb, asam urat, fungsi ginjal,
Urine
Pemeriksaan laboratorium bisa diulang sesuai keperluan.
7.Pemeriksaan fisik Program pengobatan dokter
Sesuai dengan terapi di konsep dasar eklamsi.
2.3.2 Analisa Data Diagnosa Dan Masalah
Diagnosa kebidanan adalah hasil dari perumusan masalah yang diputuskan oleh
bidan. Diagnosa kebidanan sebagai dasar dalam menanggulangi ancaman
kehidupan klien.
Diagnosa kebidanan dan masalah kebidanan yang muncul pada klien post forceps
ekstraksi indikasi eklamsi adalah:
1.P.(APIAH) post forceps ekstraksi indikasi eklamsi hari ke..
Dasar:
Ibu melahirkan dengan forceps ekstraksi pada tanggal jam..
Ibu mengatakan perutnya terasa mules
TFU pada hari pertama post partum setinggi pusat
Pengeluaran lochia rubra, warna merah bau anyir, jumlah
Kejang saat hamil atau inpartu
Kesadaran composmentis, tanda-tanda vital.
2.Nyeri luka perineum
Dasar:
Ibu kesakitan bila berubah posisi
Ibu mengatakan nyeri pada luka jahitan perineum
Terdapat jahitan pada perineum
( Persis H, 1995: 286)
3.Nyeri rahim karena involusi
Dasar:
Ibu mengatakan perutnya terasa mules, keras dan sakit
Terdapat kontraksi uterus
Tinggi fundus uteri pada hari pertama post partum setinggi pusat
Pengeluaran lochia, bau, anyir
( Persis H, 1995: 282 )

4.Cemas karena terpisah dengan bayinya


Dasar:
Ibu dirawat terpisah dengan bayinya
Ibu menanyakan keadaan anaknya
( Persis H, 1995: 282 )
5.Gangguan penglihatan
Dasar :
dengan jarak tertentu ibu tidak dapat melihat dengan jelas mata berkunang- kunang
Diagnosa potensial adalah masalah yang timbul dan bila tidak segera
diatasi akan mengancam keselamatan ibu.( Depkes RI, 1996: 6)
1.Risiko terjadinya kejang berulang post partum
Dasar:
Ibu mekahirkan dengan forcps ekstraksi indikasi eklamsi hari ke.
Desakan darah sistole >160 mmHg dan diastole > 110 mmHg
Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial: pusing, penglihatan
kabur dan mual
(Persis H, 1995: 107)
2.Risiko terjadinya perdarahan post partum
Dasar:
Post partum 24 jam debgan tindakan forceps ekstraksi
Kontraksi uterus lembek, TFU tidak sesuai dengan proses involusi pada hari
ke..
(Persis H, 1995: 282)
3.Risiko terjadinya infeksi nifas
Dasar:
Post partum dengan tindakan forceps ekstraksi
Ibu tidak melakukan mobilisasi dini
Pembalut terlihat penuh oleh darah
Suhu tubuh > 37,5 0 C
Terdapat jahitan pada perineum dengan tanda-tanda infeksi yaitu kolor rubor
dolor dan fungisiolase
( Persis H,1995: 286)
4.Risiko terjadinya bendungan ASI
Dasar:
Bayi dirawat terpisah dengan ibunya

Ibu belum meneteki bayinya


Putting susu terlihat kotor
Payudara teraba keras dan tegang
(Persis H, 1995:286)
5.Risiko terjadinya retensio urine sehubungan dengan trauman persalinan
Dasar:
Post partum dengan tindakan forc
eps ekstraksi
Ibu tidak kencing spontan
Kandung kencing penuh
( Persis H, 1995:282)
Tindakan segera merupakan tindakan berdasarkan beberapa data yang
mengidentifikasikan keadaan gawat darurat, dimana bidan harus
bertindak segera untuk keselamatan jiwa ibu dan janin. Tindakan
segera untuk perawatan kebidanan pada klien masa nifas dengan post
forceps ekstraksi indikasi eklamsi untuk mencegah terjadinya
komplikasi selama masa nifas adalah kolaborasi dengan tim medis untuk
melanjutkan terapi eklamsi.