Anda di halaman 1dari 13

Kristalisasi

Kristalisasi merupakan proses pemisahan padat-cair dimana terjadi perpindahan


massa dari solut (zat yang terlarut) menuju padatan dari fasa yang homogen atau
dengan kata lain peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu
fasa homogen.

Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri,


campuran dua fasa cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran yang
mengisi crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil atau disebut dengan magma.

Tujuan dari kristalisasi yang utama ialah mendapatkan perolehan atau hasil yang
memuaskan terutama kemurnian yang tinggi, oleh karena terdapat pertimbangan ;

1. Jika kristal yang dihasilkan akan diproses lebih lanjut, maka ukuran yang wajar
dan cukup seragam diperlukan untuk kemudahan filtrasi, pencucian, pelaksanaan
reaksi dengan bahan kimia lain, pengangkutan, serta penyimpanan kristal

2. Jika kristal tersebut akn dipasarkan secara langsung, untuk dapat

diterima oleh konsumen, maka kristal tersebut harus kuat, tidak

mengumpal, ukurannya seragam, dan tidak melekat dalam

kemasan

Untuk mencapai tersebut, maka distribusi ukuran kristal (crystal size distiribusion)
atau CSD, harus dikendalikan dengan benar dan itulah yang menjadi tujuan utama
dalam perancangan dan operasi pada crystallizer.

Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, umumnya hampir murni, namun masih
mengandung cairan induk bila dikeluarkan dari magma akhir dan jika hasil tersebut
masih mengandung agregat kristal, massa zat padat itu mungkin mengandung
cairan induk bersama kristal.

Jenis-Jenis Crystallizer

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan dari kristalisasi
tersebut diperlukan operasi crystallizer yang baik dan teknik perancangan
crystallizer yang benar. Oleh karena itu, pada industri banyak digunakan
bermacam-macam crystallizer untuk mencapai tujuan akhir, umumnya memiliki
ukuran padatan yang seragam. Jenis-jenis crystallizer didasarkan pada prosesnya,
apakah umpan segar bercampur dengan hasil proses kristalisasi (umpan bercampur
dengan magma) atau tidak? Perbedaan operasi yang dilakukan pada crystallizer
akan menghasilkan produk yang berbeda-beda.

A. Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma

Forced Circulating Liquid Evaporator Cyrstallizer


Cyrstallizer jenis ini menggabungkan proses antara proses pendinginan dan
penguapan (evaporasi). Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai keadaan yang
supersaturasi (supersaturated) atau keadaan dimana larutan lewat jenuh.

Gambar 1. Forced Circulating Liquid Evaporator

Pada gambar diatas terlihat bahwa umpan berupa larutan induk terlebih dahulu
dilewatkan melalui sebuah Heat Exchangers untuk dipanaskan. Heat exchangers
tersebut berada didalam evaporator. Didalam evaporator terjadi flash evaporation
yaitu, terjadi pengurangan jumlah atau kandungan pelarut dan terjadi peningkatan
kosentrasi zat terlarut. Dimana pada saat itu juga, keadaan zat terlarut sudah lewat
jenuh atau supersaturasi. Larutan yang sudah berada pada keadaan lewat jenuh
tersebut dialirkan menuju badan crystallizer untuk diperoleh padatan berupa
kristal. Dimana pada badan crystallizer terdapat mekanisme kristalisasi yaitu
nukleasi dan pertumbuhan kristal. Produk kristal dapat diambil sebagai hasil pada
bagian bawah crystallizer, namun tidak semua proses berjalan sempurna atau
dengan kata lain tidak semua cairan induk berubah menjadi padatan kristal. Karena
itu ada proses pengembalian kembali hasil pipa sirkulasi (circulating pipe) atau
proses recycle hasil kristaliasi.

Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan hasil yang masih belum
padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta adanya Heat
Exchangers dapat membuat kenaikan titik didih yang sempurna. Kenaikan titik
didih pada Heat Exchangers pada Evaporator untuk dapat membuat larutan
menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 100F untuk sekali lewat. Bila kenaikan
titid didih yang diharapkan untuk mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai,
maka dapat digunakan beberapa evaporator untuk menaikan titik didih, dimana
kosentrasi zat terlarut akan meningkat juga. Karena mengalir secara paksa
menggunakan pompa, maka kecepatan aliran cukup tinggi, sehingga akan
mengakibatkan ketinggian permukaan larutan pada crystallizer tidak tetap atau
naik turun. Umumnya crystallizer jenis ini dibangun dengan diameter 2 feet atau
pada skala industri sekitar 4 feet atau lebih

Draft Tube Baffle (DTB) Cyrstallizer


Pada crystallizer jenis ini, terdapat keunggulan dimana pada badan crytallizer
terdapat pola atau sirkulasi untuk mekanisme kristalisasi. Diantaranya ialah draft
tube, draft tube akan memisahkan antara cairan induk dengan kristal yang akan
terbentuk, yang dilengakapi dengan pengaduk yang bergerak lambat. Pengaduk
tersebut ada dimaksudkan untuk membuat cairan induk dapat bernukleasi dengan
cepat, karena dengan pengadukan reaksi akan berjalan cepat.

draft tube

Terlihat pada gambar diatas bahwa umpan masuk melalui Heat Exchangers untuk
proses pemanasan, karena terdapat pengaduk yang diletakkan pada poros badan
atau tangki crystallizer maka cairan induk akan tertarik menuju daerah pengaduk
yang menuju kearah atas, lalu bersikulasi turun kebawah bila hasilnya sudah
berupa kristal. Namun bila tidak akan dikembalikan menuju Heat Exchangers
kembali melalui pipa sirkulasi. Karena masuk ke HE maka akan terjadi kenaikan
titik didih sekitar 1- 20F. Terjadi pemisahan antara cairan induk dan kristal pada
draft tube ialah karena adanya perbedaan massa jenis, dimana massa jenis kristal
akan lebih besar dila dibandingkan dengan cairan induk, oleh karena itu adanya
gaya gravitasi mengakibatkan kristal tersebut akan turun kebawah dan diambil
sebagai produk. Produk kristal memiliki ukuran sekitar 6 20 mesh untuk padatan
KCl, (NH4)2SO4, dan (NH4)H2PO4

Draft Tube Crystallizer


Jenis Crystallizer ini tidak jauh berbeda dengan DTB Crystallizer, hanya saja pada
jenis ini tidak ada baffle atau penyekat antara draft tube dengan badan crystallizer.
Namun kelemahan dari Crystallizer jenis ini kenaikan titik didih atau untuk dapat
membuat larutan menjadi lewat jenuh agak sulit, karena jenis ini beroperasi dengan
lambat dan panjang, namun akan didapatkan hasil atau magma yang cukup banyak.

2.

Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Crystallizer jenis ini menggunkan prinsip sirkulasi cairan atau larutan induk,
dimana umpan maupun hasil kristaliasi akan masuk kedalam Sheell and Tube Heat
Exchangers untuk didinginkan. Perbedaan dengan jenis crystallizer lainnya ialah
karena pada saat dibadan crystallizer terbentuk campuran kristal dan cairan induk,
maka akan terjadi tumbukan antara cairan dengan kristal sehingga suhu campuran
akan meningkat, untuk mendinginkannya diperlukan medium pendingin.
Crystallizer ini mneggunakan prinsip pendinginan, karena kristalisasi dapat terjadi
melalui pembekuan (solidification).

baffle surface

Gambar 3. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Terlihat pada gambar diatas, umpan dan recylce kristalisasi bersama-sama masuk
kedalam medium pendingin. Namun ada kelemahannya yaitu, panjang untuk
pertukaran panas pada HE dan kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di
perhitungkan, sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu untuk dapat melakukan
kristalisasi pada proses pendinginan tidak berlangsung secara optimal.

Oleh karena itu, pompa untuk sirkuasi sangat dikontrol dengan baik, karena pompa
itulah yang menciptakan laju alir disamping bukaan valve. Adanya pompa
menyebabkan cairan induk akan mengalir secara turbulen baik didalam HE
maupun didalam badan Crystalizer, maka akan terjadi sering tumbukan untuk
menghasilkan kristal, dimana terdapat sekat antara saluran Head HE dengan ujung
keluaran cairan induk. Bila kristal sudah terbentuk pada cairan induk yang sudah

lewat jenuh, maka kristal akan turun karena adanya gaya gravitasi dan perbedaan
massa jenis. Kristal dari Crystallizer jenis ini berukuran besar antara 30 100
mesh.

1.

OSLO Evaporative Crystallizer

Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang mulai


terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat HE eksternal yang
bertujuan untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu supersaturasinya.

oslo

Gambar 4. OSLO Evaporative Crystallizer

Terlihat pada gambar, bahwa umpan masuk pada G, karena dipompa umpan akan
bergerak secara paksa, masuk kedalam evaporator yang terdapat HE, cairan umpan
tersebut masuk kedalam B. Sebelum masuk ke B, pada bagian A cairan induk yang
panas akan bercampur dengan panas penguapan pada bagian B. Laju penguapan

tersebut harus dikontrol antara kerja pompa untuk mengalirkan cairan induk
dengan perubahan panas campuran tersebut.

Pada bagian B terjadi proses pencampuran antara keadaan supersaturasi dengan


kedaan penguapan, maka sering timbul scale atau kerak garam, sehingga akan
mengganggu proses sirkulasi dari aliran tersebut. Sering kali diberikan bibit kristal
pada bibit kristal untuk mempercepat pembentukan kristal-kristal yang kita
harapkan.

1.

OSLO Surface Cooled Crystallizer

Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja cairan
induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam crystallizer. Lainnya
sama dengan jenis crystallizer OSLO EC. oslo cool

Gambar 5. OSLO Surface Cooled Crystallizer

1.

Vacuum Pan Crystallizer

Jenis crystallizer ini banyak digunakan pada industri gula. Proses kristalisasi gula
terjadi didalam suatu pan masak yang prosesnya kerjanya dilakukan pasa keadaan
vakum (hampa udara). Disamping itu proses kristalisasi dapat dilakukan baik
dengan single effect maupun multiple effect. Kondisi vakum dimaksudkan agar
nira yang diperoleh tidak rusak. Nira yang digunakan ialah nira yang kental yang
merupakan bahan baku proses kristalisasi. Dalam kristalisasi kadar kotoran dan air
pada nira kental akan dihilangkan.vaccum

Gambar 6. Vacuum Pan Crystallizer

Pada nira kental masih terkandung kotoran sekitar 15-20% zat terlarut, sedangka
kadar airnya sekitar 35-40% (dengan Brix 60-65). Sebelum dilakukan kristalisasi
dalam pan masak, nira pekat terlebih dahulu dialirkan gas SO2 untuk proses
bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan nira. Langkah pertama dari
proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan airnya
sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus-menerus
koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan
terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit yaitu
dengan memasukkan bibit gula kedalam gula kedalam pan masak kemudian
melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal harus
dijaga jangan sampai larut kembali ataupun tidak beraturan.