Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUTORIAL

BLOK PEDIATRI SKENARIO 3

KELOMPOK A-4
AJENG APSARI UTAMI

G0013013

CLARISSA ADELIA GUNAWAN

G0013067

I WAYAN RENDI AWENDIKA

G0013115

IVANDER KENT KURNIAWAN

G0013123

LISANA SHIDQI

G0013137

NADIA IZZATI S

G0013165

NAURA DHIA FADYLA

G0013173

NURUL FADILAH

G0013183

RIVAN FAETHEDA

G0013203

SAFIRAH NURULLITA

G0013209

ULFA PUSPITA RACHMA


YUSAK ADITYA SETYAWAN

TUTOR

G0013227
G0013241

: Briandani Subariyanti, dr.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN
SKENARIO 3
PANAS
Kasus 1:
Seorang anak perempuan berusia 3 tahun dibawa oleh ibunya ke IGD dikarenakan
demam tinggi. Saat ini anak tidak mau makan dan minum. Demam di dapatkan
sejak dua hari yang lalu. Selain itu ditemukan mata sedikit kemerahan, pilek tanpa
disertai batuk dan diare. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan nadi
110/menit, pernapasan 30/menit, temperatur: 40oC. Ditemukan rash.
Kasus 2:
Sudah sejak 3 hari Agus berusia 6 tahun mengalami demam tinggi terus menerus
sepanjang hari. Sudah diberi obat penurun panas oleh ibunya tetapi panas hanya
turun sebentar dan kemudian naik lagi. Ibu Agus cemas karena anak tetangganya
dirawat di rumah sakit dengan gejala mirip. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik
dokter meminta untuk dilakukan pemeriksaan penunjang dan sambal memberikan
penatalaksanaan dokter juga memberi penjelasan pada ibu mengenai tanda-tanda
perdarahan atau syok. Bila terdapat tanda-tanda tersebut supaya ibu segera
membawa

aryo

ke

rumah

sakit

untuk

mendapatkan

penatalaksanaan

kegawatdaruratan yang dialaminya. Selanjutnya dokter akan berkoordinasi dengan


Dinas Kesehatan setempat untuk memutus rantai penularan.

BAB II
SEVEN JUMPS

A. JUMP I : Klarifikasi istilah dan konsep.


Dalam skenario ini terdapat beberapa istilah yang belum di pahami,
yaitu :
1. Rash : erupsi sementara pada kulit, atau sering disebut juga eksantema
(Dorland).
2. Syok : gangguan metabolism dan hemodinamik yang ekstrim akibat
kegagalan mempertahankan perfusi yan adekuat (Dorland).
B. JUMP II: Menetapkan / Mendefinisikan masalah.
Dalam skenario ini telah di tetapkan suatu masalah, berikut akandi
jabarkan permasalahan yang di temukan dalam skenario ini yang di bagi
tiap kasus:
Kasus 1
1. Bagaimana kaitan onset demam 2 hari dengan keluhan yang
menyertai?
2. Adakah hubungan jenis kelamin dan usia dengan keluhan?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya demam, mata kemerahan, dan pilek?
4. Mengapa ditemukan rash dan apa makna klinisnya?
5. Apa differential diagnosis dan diagnosis kerja pada kasus ?
6. Bagaimana tatalaksana kasus ?
7. Apakah komplikasi yang bisa terjadi pada pasien?
8. Mengapa anak tidak mau makan?
9. Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik?
10. Apa saja yang perlu ditanyakan dalam anamnesis untuk mebantu
penegakan diagnosis?

Kasus 2
1. Mengapa panas pada anak hanya turun sementara saat diberi obat?

2. Bagaimana kerja obat penurun panas?


3. Apakah tanda perdarahan dan syok?
4. Apakah pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan?
5. Apakah tatalaksana awal yang diberikan?
6. Bagaimana algoritme penanganan syok?
7. Apahkah differential diagnosis dan diagnosis kerja pada kasus?
8. Bagaimana tatalaksana pasien?
9. Bagaimanakah pemutusan rantai penularan kasus?
10. Apakah jenis syok dan pathogenesis yang berkaitan?

C. JUMP III : Analisis Masalah.


Dalam langkah ketiga ini, pertanyaan yang terdapat di Jump II
akan di diskusikan berdasarkan belajar mandiri yang telah di lakukan
sebelum pertemuan I diskusi tutorial skenario III blok Pediatri. Pertanyaan
yang belum terjawab akan di jawab di sesi selanjutnya pada jump VII.
Kasus 1
3. Bagaimana mekanisme terjadinya demam, mata sedikit kemerahan
dan pilek tanpa batuk?
Makrofag dan monosit

fagositosis

debris

dan

mengeluarkan

sitokinIL 1Thermoregulator di Hipothalamus anteriorPelepasan


asam arakhidonatPeningkatan sintesis PGE2Peningkatan set point
suhu tubuh
Vasokonstriksi hambat keluar panas
Peningkatan metabolisme panas
5. Apa diagnosis banding dan diagnosisnya?
Diagnosis banding
1. Campak (measles/rubeola/morbili)
Etiologi: Morbillivirus (famili Paramixoviridae)
Masa inkubasi: 14-21 hari
Masa penularan: 2 hari sebelum gejala predromal sampai 4 hari

timbulnya erupsi
Cara penularan melalui droplet
Manifestasi klinis:
o Masa prodromal antara 2-4 hari ditandai dengan demam 38,40C400C, koriza, batuk, konjungtivitis, bercak Koplik.
o Bercak Koplik timbul 2 hari sebelum dan sesudah erupsi kulit,
terletak pada mukosa bukal posterior berhadapan dengan geraham

bawah, berupa papul warna putih/abu-abu kebiruan di atas dasar


bergranulasi/eritematosa.
o Dapat disertai dengan adanya limfadenopati dan splenomegali.
o Eksantema timbul pada hari ke 3-4 masa prodromal, memudar
setelah 3 hari dan menghilang setelah 6-7 hari.
o Erupsi dimulai dari belakang telinga dan perbatasan rambut-kepala
kemudian menyebar secara sentrifugal sampai ke seluruh badan
pada hari ke 3 eksantema.
o Eksantema berupa papul eritematosa berbatas jelas dan kemudian
berkonfluensi menjak bercak yang lebih besar, tidak gatal, kadang
disertai purpura.
o Bercak menghilang disertai dengan hiperpigmentasi kecoklatan
dan deskuamasi ringan yang menghilang setelah 7-10 hari
(Hiperpigmentasi

yang

kemudian

menghilang

sendiri

ini

merupakan gejala patognomonik untuk morbili, pada penyakitpenyakit lain dengan eritema dan eksantema ruam kulit
menghilang tanpa hiperpigmentasi).
o Black measles merupakan keadaan yang berat dari campak,
terdapat demam dan delirium diikuti penekanan fungsi pernafasan

dan erupsi hemoragik yang luas.


Diagnosis:
o Manifestasi klinis, tanda patognomonik bercak Koplik.
o Isolasi virus dari darah, urin, atau sekret nasofaring
o Pemeriksaan serologis: titer antibodi 2 minggu setelah timbulnya

penyakit
Komplikasi: Otitis media, mastoiditis, pneumonia, ensefalomielitis,

subacute sclerosing panenchephalitis (SSPE).


Terapi: Suportif, pemberian vitamin A 2 x 200.000 IU dengan interval 24

jam.
2. Demam dengue
Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
a. Terapi simptomatik dengan analgetik antipiretik (Parasetamol 3 x 500- 1000
mg).
b. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi

c. Alur penanganan pasien dengan demam dengue/demam berdarah dengue,


yaitu:

9.

Alur penanganan pasien dengan demam dengue/demam berdarah dengue


Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik pasien?
Pada skenario ditemukan berbagai kelainan:
a. Kasus 1
Demam
Pasien mengalami demam tinggi 40oC sejak dua hari yang lalu.
Demam dengan onset akut dan pola demam kontinyu menandakan
demam lebih disebabkan karena infeksi sebagai respon tubuh
terhadap pirogen endogen yang dihasilkan oleh agen penyebab.
Banyak penyakit yang menyebabkan munculnya gejala tersebut
(dengan mengabaikan gejala yang lain), diantaranya adalah morbili
(measless), bronchopneumonia, leptospirosis, dll. Onset demam, pola
demam, yang derajat demam mutlak diperlukan dalam melakukan
anamnesis untuk menyingkirkan berbagai diferensial diagnosis.
Tidak mau makan dan minum
Tidak mau makan dan minum adalah salah satu dari gejala malaise, di
mana hampir semua penyakit pada anak akan timbul gejala tersebut.
Khusus pada kasus infeksi, di mana seharusnya membutuhkan asupan
nutrisi yang lebih oleh karena naiknya metabolisme tubuh tetapi

karena malas makan dan minum membuat pasien menjadi lemas


(malaise). Gejala tersebut kurang memberikan makna klinis, tetapi
biasanya gejala tersebut sangat membantu pada orang tua anak untuk
mengenali gejala dini anak tersebut sedang sakit.
mata sedikit kemerahan
Mata merah disebabkan karena vaskularisasi pada occuli anterior
mengalami vasodilatasi (injeksi conjunctiva atau injeksi ciliar).
Etiologi dari mata merah dapat berasal dari agen infeksi (bakterial,
viral, fungal, atau parasit), atau karena benda asing. Perlu ditanyakan
onset terjadinya mata merah tersebut, kronologis terjadinya mata
merah, serta apakah ada gejala lain yang menyertai mata merah
tersebut.
pilek tanpa disertai batuk dan diare
pilek disebabkan karena vasodilatasi kemudian terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler pada concha di cavum nasi. Dalam hal ini pilek
diartikan sebagai peningkatan jumlah cairan yang keluar dari cavum
nasi ke dunia luar. Perlu untuk mengetahui jenis dari cairan tersebut,
apakah serous atau mucous. Pilek dengan jenis serous kemungkinan
adalah produksi cairan yang berlebihan yang disebabkan karena
peningkatan permeabilitas, atau produksi cairan yang berlebihan
struktur sel permukaan daerah setempat (sel goblet). Sedangkan pilek
dengan jenis mucous menandakan cairan sudah bercampur dengan
sel-sel imun seperti neutrofil, basofil, eusinofil, bahkan makrofag
dengan debris dari agen penyebab terjadinya pilek.
Ditemukan rash
10. Apa saja yang perlu ditanyakan dalam anamnesis untuk menegakkan
diagnosis?
- Lama dan sifat demam
- Ruam kemerahan pada kulit: UKK nya seperi apa, onset munculnya dari
mana, apakah terdapat lesi pada mukosa mulut
- Kaku kuduk atau nyeri leher
- Nyeri kepala (hebat)
- Nyeri saat buang air kecil atau gangguan berkemih lainnya
- Nyeri telinga
- Tempat tinggal atau riwayat bepergian dalam 2 minggu terakhir ke
daerah emdemis malaria
- Riwayat imunisasi: kapan, apa saja, dan apakah ada kejadian ikutan
pasca imunisasi
Diagnosis
Anamnesis

a. Riwayat imunisasi
b. Adanya paparan terhadap infeksi
c. Adanya gejala:
1) nyeri menelan
2) nyeri telinga
3) batuk, sesak napas
4) muntah, diare
5) nyeri/menangis waktu buang air kecil
Pemeriksaan fisik
a. Ukur suhu tubuh
b. Tentukan derajat sakitnya
c. Subjektif (lihat tabel YOS)
1) Kualitas tangis
2) Reaksi terhadap orangtua
3) Tingkat kesadaran
4) Warna kulit/selaput lender
5) Derajat hidrasi
6) Interaksi
d. Objektif
1) Tidak tampak sakit
2) Tampak sakit
3) Sakit berat/toksik
Petunjuk lainnya untuk membawa anak ke dokter tergambar dalam
pedoman yang diajukan oleh RS Anak di Cincinnati, tampilan anak
demam dibagi atas:
b. Tampilan baik
Anak bisa senyum, tidak gelisah, sadar, makan baik, menangis kuat
namun dapat dibujuk.
b. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
Perfusi perifer baik, ekstremitas kemerahan dan hangat. Tidak ada
kesulitan bernapas.Tampilan sakit, mulai dipertimbangkan untuk ke
dokter:
Masih bisa tersenyum, gelisah dan menangis, kurang aktif bermain,
nafsu makan kurang.
c. Dehidrasi ringan atau sedang.
Perfusi perifer masih baik.
Tampilan toksik (sesuai Baraff dkk) merupakan gambaran klinis yang
sejalan dengan kriteria sindrom sepsis (antara lain letargi, tanda
penurunan perfusi jaringan, atau adanya hipo/hiperventilasi, atau
sianosis), harus segera dibawa ke dokter.

D. JUMP IV : Menginventarisasi secara sistematik berbagai penjelasan


yang didapatkan pada langkah 3.
Dalam skenario 1 ini, anggota tutorial diharapkan dapat
mempelajari blokPediatri dengan trigger yang telah disediakan dari KBK
dalam bentuk skenario terkait secara superfisial. Adapun trigger tersebut
dapat diinventarisasikan menjadi bagan sebagai berikut:

Demam

Kasus 1

Kasus 2

Jenis Demam

Jenis Demam
Riwayat Sumber
Penluaran (+)

Dengan Rash

Makulop
apuler

Vesikopa
puler

Tanpa Rash

Eritroder
ma

Demam Tinggi
Terus Menerus

Lainnya

Pemeriksaan
Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Pemeriksaan
Fisik

Diagnosis
Banding

Diagnosis
Banding

Pemutusan Rantai
Penularan

Diagnosis Kerja

Diagnosis Kerja

Terapi

Terapi

Komplikasi

Komplikasi

Syok

Perdarahan

JUMP V : Merumuskan tujuan pembelajaran / Learning Object (LO)


Berdasarkan skema rumusan masalah yang disertai dengan pernyataan
sementara maka rumusan tujuan pembelajaran pada skenario ini yaitu
sebagai berikut :
Kasus Pertama
1. Bagaimana kaitan onset demam 2 hari dengan keluhan yang
2.
3.
4.
5.
6.

menyertai?
Mengapa ditemukan rash? Apa makna klinisnya?
Apa diagnosis banding dan diagnosis kerja pada kasus petama?
Bagaimana tatalaksana kasus pertama?
Apa komplikasi yang bisa terjadi?
Mengapa anak tidak mau makan dan minum? Adakah hubungan

dengan keluhan?
Kasus Kedua
1. Mengapa panas hanya turun sebentar, kembali naik kembali?
2. Bagaimana mekanisme penurunan demam?
3. Bagaimana mekanisme kerja obat penurun panas?
4. Apakah tanda-tanda perdarahan dan syok?
5. Apakah pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan?
6. Bagaimana tatalaksana awal yang diberikan?
7. Bagaimana algoritma penanganan syok?
8. Apakah diagnosis banding dan diagnosis kerja pada kasus kedua?
9. Bagaimana tatalaksana pasien pada kasus kedua?
10. Mengapa dokter berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan? Apakah
program yang dilakukan untuk memutuskan rantai?
11. Apa saja macam-macam syok dan bagaimana patogenesis syok yang
berkaitan dengan kasus 2?

E. JUMP VI : Belajar mandiri


Dalam jump enam ini mahasiswa mencari informasi terkait
learning object (LO) yang telah di tentukan dalam skenario 3 dengan cara
belajar mandiri dalam selang waktu antara tutorial sesi pertama dan kedua.
Adapun informasi diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal, buku dan
e-book kedokteran serta literatur ilmiah yang terpercaya.

F. JUMP VII : Melakukan sintesis dan pengujian informasi yang telah


terkumpul
Dalam jump VII mahasiswa dituntut untuk mengemukakan LO yang
diperoleh pada tutorial sesi pertama. Adapun LO yang telah terjawab
diantaranya:

BAB III
KESIMPULAN
Pada skenario 3 blok Pediatri, dipaparkan dua kasus. Untuk kasus pertama,
keluhan utama yang dirasakan oleh pasien dan Ibu dari pasien adalah demam
tinggi. Kasus demam tinggi pada anak bisa mengacu pada berbagai diagnosis
banding, oleh karena itu dibutuhkan pemeriksaan fisik untuk menghindari
missdiagnosis. Sehingga diperoleh hasil pada pasien ditemukan adanya rash,
konjungtivitis dan batuk pilek. Adanya rash ini merupakan tanda patognomonik
kasus morbili dan rubella. Maka dari itu perlu dilakukan pemeriksaan pada bagian
mukosa buccal pasien, apabila ditemukan Kopliks spot maka diagnosis kerjanya
adalah morbili.
Sedangkan untuk kasus kedua, keluhan utama yang dirasakan pasien adalah
demam tinggi terus-menerus sepanjang hari. Selain itu ditemukan clue pada saat
anamnesis bahwa di lingkungannya juga ditemukan tetangga yang mengalami hal
serupa dan sampai mondok di rumah sakit. Sebagai petugas kesehatan, harus
mencurigai terhadap demam yang disebabkan malaria atau demam berdarah
dengue. Untuk lebih memastikan, harus dilakukan pemeriksaan penunjang
sehingga berdasarkan hasil diksusi, diperoleh hasil bahwa untuk kasus kedua
demam yang timbul disebabkan oleh demam berdarah dengue.

BAB IV
SARAN

Secara umum diskusi tutorial skenario 3 Blok Pediatri berjalan dengan


baik dan lancar. Semua anggota sudah berpartisipasi aktif dengan mengungkapkan
pendapat masing-masing mengenai skenario yang dibahas, walaupun ada yang
lebih aktif maupun yang kurang aktif. Namun masih ada beberapa hal yang perlu
diperbaiki agar dalam diskusi tutorial selanjutnya dapat dilaksanakan diskusi
tutorial yang ideal. Berdasarkan diskusi kelompok kami pada skenario ini, kami
kurang aktif dalam mengkritisi setiap pendapat yang dikemukakan, sehingga
diskusi kurang tajam.
Saran untuk tutorial berikutnya agar kami dapat menggunakan waktu
secara efisien agar waktu yang dialokasikan untuk diskusi dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya sehingga materi diskusi dapat dipahami dengan baik dan
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Adanya tutor yang memahami skenario dengan baik dapat mengarahkan
jalannya

tutorial

sehingga

dapat

pembelajaran pada diskusi kali ini.

menemukan

serta

memahami

tujuan

DAFTAR PUSTAKA
Dorland, W A Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.
Jakarta: EGC.
Eroschenko, Victor P. 2013. Atlas Histologi di Fiore Edisi II. Jakarta: EGC
Houghton Mifflin Company. 2007. The American Heritage Medical Dictionary.
Published by Houghton Mifflin Company.
Pearce, Evelyn C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Price S A & Wilson L M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Volume 1. Jakarta: EGC.
Sudoyo, Aru W, et al. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi 5.
Jakarta: InternaPublishing.
Tim Pengajar Universitas Brawijaya. 2012. Praktium Patologi Anatomi Umum
Revisi 2012. http://anatomi.lecture.ub.ac.id
Vinay Kumar, et al. 2014. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 1. Jakarta: EGC
Walter L, Dennis K, Travis G. 2008. The Big Picture: Pathology. New York: The
McGraw-Hill Companies. pp: 35-37.