Anda di halaman 1dari 64

LAPORAN TUTORIAL

BLOK PEDIATRI
BAYIKU..

KELOMPOK 4
AJENG APSARI UTAMI

G0013013

CLARISSA ADELIA GUNAWAN

G0013067

I WAYAN RENDI AWENDIKA

G0013115

IVANDER KENT KURNIAWAN

G0013123

LISANA SHIDQI

G0013137

NADIA IZZATI S

G0013165

NAURA DHIA FADYLA

G0013173

NURUL FADILAH

G0013183

RIVAN FAETHEDA

G0013203

SAFIRAH NURULLITA

G0013209

ULFA PUSPITA RACHMA

G0013227

YUSAK ADITYA SETYAWAN

G0013241

TUTOR: Jarot Subandono,dr,M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2016
BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO
Bayiku..

Seorang Ibu G3P1A0 berusia 26 tahun dengan usia kehamilan 39 minggu,


melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat 3,2 kg, panjang 47 cm secara
spontan, warna ketuban jernih, tidak ada mekoneum.
Saat bayi lahir didapatkan bayi tidak bernafas, tonus otot kurang baik.
Setelah dilakukan resusitasi sampai dengan pemberian ventilasi tekanan positif
didapatkan bayi bernafas spontan, tidak ada retraksi, denyut jantung 100x/menit.
Skor APGAR 5-7-0.
Dari anamnesis riwayat kehamilan didapatkan ANC tidak teratur, ketuban
pecah 24 jam, tidak ada demam sebelum melahirkan. Catatan kesehatan Ibu
menunjukkan bahwa tanda vital Ibu normal, pemeriksaan TORCH negatif, HbsAg
negatif, gula darah normal. Selanjutnya bayi dan ibunya dibawa ke ruang
perawatan untuk dirawat gabung dan diberi ASI oleh ibu.

BAB II
DISKUSI DAN TINJAUAN PUSTAKA
A. Langkah 1 : Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa
istilah dalam scenario
1. Skor APGAR: adalah skor untuk menilai kondissi kesehatan bayi terutama
untuk menilai apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak. Meliputi
penilaian kulit, pernapasan, frekuensi jantung, tonus otot, dan respon
refleks.
2. Mekoneum: merupakan tinja pertama yang dikeluarkan oleh bayi setelah
lahir, warnanya hitam kehijauan, kental, dan lengket. Terdiri dari bahanbahan yang terkumpul di saluran pencernaan janin selama di dalam rahim
seperti sel epitel usus, lanugo, mucus, cairan empedu, cairan amnion, dan
air. Berbeda dengan feses, mekonium tidak mengandung bakteri dan tidak
berbau.
3. HbsAg: merupakan indikator pemeriksaan untuk mendeteksi adanya
infeksi hepatitis B.
4. TORCH: adalah singkatan dari Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus
dan Herpes.
5. Bayi lahir secara spontan: adalah kelahiran dari tenaga mengejan dari ibu
tanpa bantuan alat apapun dan tanpa pemberian obat apapun.
6. Ketuban: merupakan selaput yang berisi cairan amnion dan chorion
dengan komposisi 98% air dan sisanya bahan organik maupun anorganik.
Volume ketuban biasanya 1-1,5 liter.
7. Resusitasi neonatus: adalah prosedur yang diaplikasikan untuk neonatus
yang gagal bernafas secara spontan.

8. Tonus otot adalah kontraksi otot yang selalu dipertahankan keberadaannya


oleh otot itu sendiri.
9. ANC (Ante Natal Care): adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan fisik dan mental ibu hamil, sehingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberian ASI dan
kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar.
10. Ventilasi tekanan positif: adalah bagian dari proses resusitasi bayi dimana
memasukkan gas bertekanan positid sehingga alveoli paru bayi terbuka.
B. Langkah 2: Menetapkan/mendefinisikan permasalahan
1. Adakah hubungan usia kehamilan Ibu dengan kondisi bayi yang
dilahirkan?
2. Bagaimana interpretasi pemeriksaan pada neonatus :
- BB,
- TB,
- Denyut Jantung Bayi dan
- APGAR score?
3. Apa indikasi untuk tindakan resusitasi?
Bagaimana algoritma tindakan resusitasi pada neonatus?
4. Mengapa pada saat lahir, bayi :
- Tidak bernafas spontan
- Tonus otot kurang baik?
Adakah hubungannya dengan kejadian ketuban pecah 24 jam?
5. Apa saja kriteria bayi lahir normal dan sehat?
6. Mengapa tidak ditemukannya mekoneum di cairan ketuban?
Apa penyebabnya? Bagaimana tata laksananya?
7. Bagaimana alur pecah ketuban? Interpretasinya?
8. Bagaimana proses embriologi manusia?
9. Mengapa pada kasus skenario dilakukan rawat gabung (rooming in)?
Apa saja indikasi dan kontra indikasi dilakukannya rawat gabung?
10. Bagaimana interpretasi catatan kesehatan Ibu pada skenario?
11. Mengapa bayi setelah lahir langsung diberikan pada Ibu?
Apa manfaat dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI?
12. Mengapa ANC itu penting bagi Ibu hamil?
13. Apa saja perawatan yang dilakukan segera setelah bayi lahir?
14. Bagaimana interpretasi tidak ditemukan demam sebelum proses
melahirkan?

15. Bagaimana interpretasi status obstetri pasien pada skenario?


16. Bagaimana fisiologi organ fetus dan neonatus? Apakah berbeda dengan
dewasa?
17. Apa yang dimaksud dengan jaundice pada bayi?
18. Apa saja Differential Diagnosis pada kasus skenario?
19. Apakah yang dimaksud dengan surfaktan dan kegunaannya pada
neonatus?

C. Langkah 3 : Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan


sementara mengenai permasalahan (Brainstorming)

1. Adakah hubungan usia kehamilan Ibu dengan kondisi bayi yang


dilahirkan?
Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester pertama berlangsung
12 minggu, trimester kedua (minggu ke-13

hingga minggu ke-27), dan

trimester ketiga (minggu ke-28 hingga ke-40). Dan bila dihitung dari saat
fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam
waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender
internasional (Prawirohardjo, 2008).
Klasifikasi berdasarkan masa gestasi :
a. Preterm

: Bayi kurang bulan yang dilahirkan dengan masa gestasi

<37 minggu.
b. Aterm
: Bayi cukup bulan yang dilahirkan dengan masa gestasi
37-42 minggu.
c. Posterm
: Bayi lebih bulan yang dilahirkan dengan masa gestasi >42
minggu.
Masa gestasi juga merupakan indikasi kesejahteraan bayi baru lahir,
karena semakin cukup usia gestasi semakin baik kesejahteraan bayi. Konsep
BBLR tidak sama dengan prematuritas karena tidak semua BBLR lahir dengan

kurang bulan. Oleh karena itu, masa kehamilan pada Ibu sangat berpengaruh
terhadap kondisi bayi yang baru dilahirkan seperti pada skenario.
Klasifikasi berat lahir bayi :
a. BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah)
Yaitu berat lahir <2500 gram
b. Bayi Berat Lahir Normal
Yaitu berat lahir 2500-4000 gram
c. Bayi Berat Lahir Berlebih
Yaitu berat lahir >4000 gram
2. Bagaimana interpretasi pemeriksaan pada neonatus :
-

BB,

TB,

Denyut Jantung Bayi dan

APGAR score?

Adalah skor untuk menilai kondisi kesehatan bayi terutama untuk menilai
apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak. Meliputi penilaian Appearance (warna
kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (tangisan), Activity (tonus otot),
Respiratory (pernafasan). Dilakukan pada menit pertama, kelima, dan kesepuluh
setelah bayi lahir. Skor pada menit pertama menunjukkan respon bayi terhadap
proses kelahiran dan menentukan tindakan lebih lanjut yang dilakukan terhadap
bayi baru lahir. Skor menit selanjutnya menunjukkan respon bayi terhadap
lingkungan dan respon terhadap tindakan perawat.

Penilaian skor APGAR


Tanda

Appearance

Seluruh kulit biru

Warna kulit pada

Semuanya merah

ekstremitas biru,

muda/tidak ada warna

lainnya normal

kulit biru

Pulse

Tidak teraba

< 100 kali/menit

> 100 kali/menit

Grimace

Tidak ada respon

Ada respon meringis

Menarik/batuk/bersin

menangis saat

saat dirangsang

saat dirangsang

dirangsang
Lemah atau tidak ada

Gerakan sedikit/fleksi

Aktif/fleksi tungkai

gerakan

tungkai

baik/reaksi melawan

Tidak ada

Lemah, tidak teratur,

Menangis kuat dan

merintih-rintih

pernafasan baik serta

Activity

Respiratory

teratur
Interpretasi skor APGAR:
Skor 7-10: vigorous baby (bayi dianggap sehat dan tidak perlu tindakan
istimewa)
Skor 4-6: mild moderate asphyxia/asfiksia sedang, butuh pembersihan
jalan nafas dan oksigen tambahan.
Skor 0-3: asfiksia berat, butuh resusitasi segera dan oksigen secara
terkendali.
Adalah skor untuk menilai kondisi kesehatan bayi terutama untuk menilai
apakah bayi mengalami asfiksia atau tidak. Meliputi penilaian
Appearance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace
(tangisan), Activity (tonus otot), Respiratory (pernafasan).
Dilakukan pada menit pertama, kelima, dan kesepuluh setelah
bayi lahir. Skor pada menit pertama menunjukkan respon bayi
terhadap proses kelahiran dan menentukan tindakan lebih lanjut
yang dilakukan terhadap bayi baru lahir. Skor menit selanjutnya
menunjukkan respon bayi terhadap lingkungan dan respon
terhadap tindakan perawat.
Penilaian skor APGAR

Tanda
Apearance

Seluruh kulit biru

Warna kulit pada

Semuanya merah

ekstremitas biru,

muda / tidak ada


warna kulit biru
> 100 kali/menit

Pulse

Tidak teraba

lainnya normal
< 100 kali/menit

Grimace

Tidak ada respon

Ada respon

Menarik / batuk /

menangis saat

meringis saat

bersin saat

dirangsang
Lemah atau tidak

dirangsang
Gerakan sedikit /

dirangsang
Aktif / fleksi

ada gerakan

fleksi tungkai

tungkai baik /

Activity

reaksi melawan
Respiratory

Tidak ada

Lemah,

Menangis kuat

tidakteratur,

dan pernafasan

merintih-rintih

baik serta teratur

Interpretasi skor APGAR:


Skor 7-10: vigorous baby (bayi dianggap sehat dan tidak perlu tindakan
istimewa)
Skor 4-6: mild moderate asphyxia/asfiksia sedang, butuh pembersihan
jalan nafas dan oksigen tambahan.
Skor 0-3: asfiksia berat, butuh resusitasi segera dan oksigen secara
terkendali.
Skor APGAR 5-7-10 berarti skor APGAR pada 1 menit setelah kelahiran
bernilai 5, pada 5 menit setelah kelahiran bernilai 7, dan pada menit ke-10
bernilai 10.
6. Mengapa tidak ditemukannya mekoneum di cairan ketuban? Apa
penyebabnya? Bagaimana tata laksananya?

Mekonium dalam air ketuban biasanya ditemukan pada janin post-term atau jika
janin hipoksia. Pada janin post-term, mekonium dapat ditemukan pada air ketuban
karena semakin maturnya kolon, sehingga secara fisiologis janin mengeluarkan
mekonium.
Sedangkan pada janin yang mengalami hipoksia, kekurangan O2 menyebabkan
jaringan tidak mendapatkan nutrisi. Hal ini dikompensasi dengan meningkatkan
denyut jantung. Namun, kelamaan akan terjadi penurunan denyut jantung. Saat
hipoksia berlangsung lama, otak tidak mendapatkan nutrisi, sehingga tidak dapat
bekerja, sehingga janin akan masuk ke fase seperti pingsan. Saat inilah
parasimpatis akan mulai aktif untuk menjaga janin tetap hidup. Persyarafan
parasimpatis ini akan mempengaruhi gastrointestinal dan kolon, membuka
spinchter ani sehingga mekonium keluar.

8. Bagaimana proses embriologi manusia?


Pertumbuhan dan perkembangan Janin
Perkembangan awal plasenta dan membran fetus terjadi jauh lebih cepat daripada
perkembangan fetus itu sendiri. Sesungguhnya, selama 2 sampai 3 minggu
pertama setelah implantasi blastokista, fetus masih tetap mikroskopik, tetapi
sesudah itu, seperti yang digambarkan pada Gambar, panjang fetus mendekati
10cm; pada minggu ke-20, 25cm; dan pada saat aterm (minggu ke-40) 53cm (21
inchi). Karena berat badan fetus kira-kira sebanding dengan volume panjang
badannya, maka berat badannya

meningkat hampir sebanding dengan

pertambahan usianya.
Perhatikan gambar 1 bahwa berat badan fetus kecil sekali selama 12 minggu
pertama dan hanya mencapai 1 pon pada kehamilan 23 minggu (5,5 bulan).
Kemudian, selama trimester terakhir kehamilan, berat badan fetus sangat
meningkat, sehingga 2 bulan sebelum lahir, berat badan rata-rata 3 pon, 1 bulan

sebelum lahir 4,5 pon, dan saat lahir 7 pon-berat badan akhir waktu lahir ini
bervariasi dari serendah 4,5 pon sampai seberat 11 pon pada fetus yang normal
dengan periode gestasi yang normal.

Gambar 1 Grafik pertumbuhan dan perkembangan fetus. (Dikutip dari Buku Ajar
Fisiologi Guyton Ed.11 hal.1097)
11. Mengapa bayi setelah lahir langsung diberikan pada Ibu? Apa manfaat
dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI?
ASI merupakan nutrisi terbaik untuk bayi. Nilai nutrisi ASI lebih lengkap
dibanding susu formula, karena kandungan lemak, karbohidrat, protein, dan air
ASI pas untuk pencernaan, perkembangan otak dan pertumbuhan bayi. Selain itu
ASI langsung keluar dari payudara sehingga selalu steril dan tidak tercemar air
maupun botol yang tercemar.
Perbandingan volume dan komposisi ASI disesuaikan dengan kebutuhan bayi
terlihat pada masa menyusui (Kolostrum, ASI transisi, ASI matang, ASI saat
penyapihan). Kolostrum berwarna kekuningan, keluar dari payudara beberapa jam
setelah persalinan sangat baik untuk bayi karena mengandung sekretori
Immunoglobulin A (IgA) yang berfungsi melapisi seluran cerna agar kuman tidak

bisa masuk ke aliran darah dan akan melindungi bayi hingga sistem imunnya
berfungsi dengan baik. Bayi yang mendapatkan ASI akan memiliki banyak
Bifidobacteria dan Latobacillus yang dapat mencegah pertumbuhan organism
yang merugikan dan dapat meningkatkan sistem imun.
Seperti halnya nutrisi pada umumnya, ASI mengandung komponen makro dan
mikro nutrien. Yang termasuk makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak
sedangkan mikronutrien adalah vitamin & mineral. Air susu ibu hampir 90%nya
terdiri dari air. Volume dan komposisi nutrien ASI berbeda untuk setiap ibu
bergantung dari kebutuhan bayi. Perbedaan volume dan komposisi di atas juga
terlihat pada masa menyusui (kolostrum, ASI transisi, ASI matang dan ASI pada
saat penyapihan). Kandungan zat gizi ASI awal dan akhir pada setiap ibu yang
menyusui juga berbeda. Kolostrum yang diproduksi antara hari 1-5 menyusui
kaya akan zat gizi terutama protein.
ASI transisi mengandung banyak lemak dan gula susu (laktosa). ASI yang berasal
dari ibu yang melahirkan bayi kurang bulan (prematur) mengandung tinggi lemak
dan protein, serta rendah laktosa dibanding ASI yang berasal dari ibu yang
melahirkan bayi cukup bulan. Pada saat penyapihan kadar lemak dan protein
meningkat seiring bertambah banyaknya kelenjar payudara. Walapun kadar
protein, laktosa, dan nutrien yang larut dalam air sama pada setiap kali periode
menyusui, tetapi kadar lemak meningkat.
Jumlah total produksi ASI dan asupan ke bayi bervariasi untuk setiap waktu
menyusui dengan jumlah berkisar antara 450 -1200 ml dengan rerata antara 750850 ml per hari. Banyaknya ASI yang berasal dari ibu yang mempunyai status gizi
buruk dapat menurun sampai jumlah hanya 100-200 ml per hari.
Komposisi
ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup
ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang
mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi,
sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat
menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula.

Karbohidrat
Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu
sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali
lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula. Namun
demikian angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna
laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI. Hal
ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibanding laktosa susu
sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi,
tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah
melahirkan). Sesudah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.
Protein
Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein
yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein
whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang
lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak
mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah
protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding susu sapi yang
mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping itu, beta
laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu
sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan jenis protein
yang potensial menyebabkan alergi.
Kualitas protein ASI juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari profil
asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino
yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah asam
amino taurin; asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam
susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena
asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang
sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena
kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah.

ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang
tersusun dari 3 jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding
dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Disamping
itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding susu sapi. Nukleotida ini
mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus,
merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan
besi dan daya tahan tubuh.
Lemak
Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu
formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan
otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil
lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega
3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan
dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai
panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA)
yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata.
Susu sapi tidak mengadung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terhadap
semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa
sumber DHA & ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tentunya tidak
sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih
sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai persentasi asam lemak rantai
panjang yang tinggi.
ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang dibanding susu
sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui
konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak baik untuk
kesehatan
Karnitin

jantung

dan

pembuluh

darah.

Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang


diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar
karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan di dalam
kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi yang
mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.
Vitamin
Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai faktor
pembekuan. Kadar vitamin K ASI hanya seperempatnya kadar dalam susu
formula. Bayi yang hanya mendapat ASI berisiko untuk terjadi perdarahan,
walapun angka kejadian perdarahan ini kecil. Oleh karena itu pada bayi baru lahir
perlu diberikan vitamin K yang umumnya dalam bentuk suntikan.
Vitamin D
Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal ini tidak
perlu dikuatirkan karena dengan menjemur bayi pada pagi hari maka bayi akan
mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar matahari. Sehingga
pemberian ASI eksklusif ditambah dengan membiarkan bayi terpapar pada sinar
matahari pagi akan mencegah bayi menderita penyakit tulang karena kekurangan
vitamin D.
Vitamin E
Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah
merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah
(anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya tinggi
terutama pada kolostrum dan ASI transisi awal.
Vitamin A

Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk


mendukung

pembelahan

sel,

kekebalan

tubuh, dan

pertumbuhan. ASI

mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin A dan tetapi juga bahan
bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan mengapa bayi
yang mendapat ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan tubuh yang
baik.
Vitamin yang larut dalam air
Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin
C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar
vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi
kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi
kurang. Karena vitamin B6 dibutuhkan pada tahap awal perkembangan sistim
syaraf maka pada ibu yang menyusui perlu ditambahkan vitamin ini. Sedangkan
untuk vitamin B12 cukup di dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu menyusui
yang vegetarian.
Mineral
Tidak seperti vitamin, kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh
makanan yang dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi oleh status gizi ibu.
Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih mudah
diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di dalam susu sapi.
Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang mempunyai
fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka, transmisi jaringan saraf dan
pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu sapi, tapi
tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar
fosfor, magnesium, vitamin D dan lemak. Perbedaan kadar mineral dan jenis
lemak diatas yang menyebabkan perbedaan tingkat penyerapan. Kekurangan
kadar kalsium darah dan kejang otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang
mendapat susu formula dibandingkan bayi yang mendapat ASI.

Kandungan zat besi baik di dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah
serta bervariasi. Namun bayi yang mendapat ASI mempunyai risiko yang lebih
kecil utnuk mengalami kekurangan zat besi dibanding dengan bayi yang mendapat
susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih
mudah diserap, yaitu 20-50% dibandingkan hanya 4 -7% pada susu formula.
Keadaan ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan pemberian makanan padat
yang mengandung zat besi mulai usia 6 bulan masalah kekurangan zat besi ini
dapat diatasi.
Mineral zinc dibutuhkan oleh tubuh karena merupakan mineral yang banyak
membantu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Salah satu penyakit yang
disebabkan oleh kekurangan mineral ini adalah acrodermatitis enterophatica
dengan gejala kemerahan di kulit, diare kronis, gelisah dan gagal tumbuh. Kadar
zinc ASI menurun cepat dalam waktu 3 bulan menyusui. Seperti halnya zat besi
kandungan mineral zink ASI juga lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat
penyerapan lebih baik. Penyerapan zinc terdapat di dalam ASI, susu sapi dan susu
formula berturut-turut 60%, 43-50% dan 27-32%. Mineral yang juga tinggi
kadarnya dalam ASI dibandingkan susu formula adalah selenium, yang sangat
dibutuhkan untuk pertumbuhan cepat.

12. Mengapa ANC itu penting bagi Ibu hamil?


Ante Natal Care
Sasaran pokok dari Ante Natal Care adalah untuk menurunkan angka
kematian ibu dan bayi. Kematian ibu kebanyakan disebabkan oleh perdarahan,
infeksi dan toksemia. 50% kematian bayi terjadi pada saat periode perinatal.
Penyebab kematian dapat dicegah dengan melakukan pemeliharaan dan
pengawasan antenatal sedini mungkin dan secara teratur ke unit pelayanan.
Tujuan ANC adalah memelihara dan meningkatkan keadaan fisik dan mental ibu
hamil sehingga dapat menyelsaikan kehamilannya dengan baik dan dapat
melahirkan bayi dengan sehat.
Standar Pelayanan ANC

Kunjungan pertama anamnesa, pemeriksaan fisik,


pemeriksaan lab dan pemeriksaan tambahan lainnya
Anamnesa :
- Identitas : nama, umur, alamat, pendidikan, pekerjaan ibu
- Riwayat :
riwayat kontrasepsi terakhir, riwayat persalinan yang lalu, riwayat
penyakit yang dulu (DM, hipertensi, jantung, ginjal, operasi, dsb),

riwayat kehamilan sekarang, riwayat kesehatan keluarga


Pemeriksaan fisik :
- Umum : kesadaran, gizi, tinggi badan, berat badan, tensi, nadi, respirasi,
temperatur
- Fisik : conjungtiva anemis/tdk, gigi, jantung, paru, payudara, hati,

abdomen, tungkai
- Khusus kebidanan :
> Luar : TFU, letak janin, perabaan, gerak janin,
DJJ
> Dalam : pelvi metri klinik bila ada indikasi
(UPD, Dx.kehamilan, peny. infeksi)

Pemeriksaan Laboratorium
- Darah (Hb, hematokrit, gol.drh, faktor rhesus)
- Urin (untuk melihat adanya gula, protein)

Kunjungan ulang
1 28 mg
: 4 mg sekali
28 36 mg : 2 mg sekali
36 40 mg : tiap minggu
atau
TM I : 1 kali
TM II : 1 kali
TM III : 2 kali
Hal-hal yg hrs diperhatikan dlm kunjungan ulang :

Ibu
: keluhan utama, pemeriksaan (kesadaran, gizi, BB, tensi,
nadi, respirasi, temperatur, pucat atau tidak, TFU, keadaan serviks, ukuran
pelvis), gejala/tanda-tanda seperti sakit kepala, perubahan visus, muntah, air

ketuban merembes.
Janin
: DJJ, TBJ, letak & presentasi, engagement, aktivitas,

kembar/tunggal.
Lab
: Hb, hmt, protein dlm urine
Bila pada primigravida (mg ke-36) menilai ukuran panggul dalam

Aktivitas dalam kehamilan :


Olah raga seperti jalan2 + 15 menit, senam ringan + 15 menit

Bekerja ringan seperti memasak, menyapu


Perlu waktu istirahat yg cukup + 8 jam malam hari dan 1 jam siang hari
Membersihkan badan untuk mengurangi infeksi
Pemeliharaan payudara (membersihkan puting susu)
Memakai pakaian yang enak dipakai (tidak menekan badan) karena dapat

menyebabkan bendungan vena dan mempercepat timbulnya varices.


Dianjurkan memakai alas kaki yg berhak rendah untuk mengurangi nyeri
pinggang dan mempertahankan keseimbangan
Faktor lingkungan prenatal berpengaruh sejak konsepsi sampai lahir,
diantaranya :

1. Gizi ibu pada waktu hamil


Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang
hamil, lebih sering mengakibatkan abortus, BBLR, hambatan pertumbuhan
otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi lahir mudah terkena infeksi,
lahir mati, dan jarang menyebabkan cacat bawaan.

2. Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan
pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula dengan posisi janin pada uterus
dapat mengakibatkan antara lain talipes, dislokasi panggul, tortikois
kongenital, palsi fasialis.

3. Toksin/zat kimia
Masa organogenesis (2-8 minggu pertama kehamilan) adalah masa yang
sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misal obat-obatan seperti thalidomide,
phenytoin, methadion dan obat-obat antikanker, yang dapat menyebabkan
kelainan bawaan. Demikian pula dengan ibu hamil perokok berat atau
peminum alcohol kronis sering melahirkan bayi BBLR, lahir mati, cacat, atau
retardasi mental. Pada ibu yang peminum alcohol dapat melahirkan bayi
dengan gejala-gejala FAS (Fetal Alcohol Syndrome), yang ditandai dengan
BBLR, kelianan neurologis dan perkembangan lambat serta dismorfik fasial.

Keracunan logam berat pada ibu hamil, missal karena makan ikan atau hasil
laut lain yang terkontaminasi merkuri dapat menyebabkan mikrosefali dan
palsi serebral, seperti di Jepang yang dikenal dengan penyakit Minamata.

4. Endokrin
Sistem endokrin mempengaruhi setiap aspek dari kehamilan, termasuk
implantasi, plasentasi, adaptasi maternal, pertumbuhan embrio, pertumbuhan
janin dan diferensiasi sel, proses persalinan, serta transisi janin ke kehidupan
di luar kandungan. Hormon-hormon tersebut berasal dari ibu, plasenta
maupun janin itu sendiri.

5. Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan
kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya
Sedangkan efek radiasi pada laki-laki dewasa, dapat mengakibatkan
abnormalitas pada spermatozoa dan dapat menebabkan cacat bawaan pada
anaknya.

6. Infeksi
Infeksi intrauteri yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH.
Infeksi lainnya juga dapat menyebabkan penyakit atau kelainan pada janin
adalah varisela, coxsackie Echovirus, malaria, sifilis, HIV, polio, campak,
listeriosis, leptospira, mikroplasma, virus influenza dan virus hepatitis.
Diduga setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat merusak janin.

7. Stres
Stres yang dialami ibu pada waktu hamil dapat memengaruhi tumbuh
kembang janinm antara lain kejiwaan, bayi BBLR.

8. Imunitas

Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis,


kern icterus atau lahir mati.

9. Anoksia embrio
Menurunnya oksigenasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat,
menyebabkan bayi BBLR.
13. Apa saja perawatan yang dilakukan segera setelah bayi lahir?
Pelayanan kesehatan yang komprehensif bagi bayi baru lahir diselenggrakan
dengan mengikuti hal-hal sebagai berikut :
A. Selama kehamilan Ibu hamil harus memeriksakan kehamilan minimal empat
kali di fasilitas pelayanan kesehatan, agar pertumbuhan dan perkembangan janin
dapat terpantau dan bayi lahir selamat dan sehat.
Tanda-tanda bayi lahir sehat:
Berat badan bayi 2500-4000 gram;
Umur kehamilan 37 40 mg;
Bayi segera menangis ,
Bergerak aktif, kulit kemerahan,
Mengisap ASI dengan baik,
Tidak ada cacat bawaan

B. TATALAKSANA BAYI BARU LAHIR


Tatalaksana bayi baru lahir meliputi:
1. Asuhan bayi baru lahir pada 0 6 jam:

Asuhan bayi baru lahir normal, dilaksanakan segera setelah lahir, dan
diletakkan di dekat ibunya dalam ruangan yang sama.

Asuhan bayi baru lahir dengan komplikasi dilaksanakan satu ruangan


dengan ibunya atau di ruangan khusus.

Pada proses persalinan, ibu dapat didampingi suami.

2. Asuhan bayi baru lahir pada 6 jam sampai 28 hari:

Pemeriksaan neonatus pada periode ini dapat dilaksanakan di puskesmas/


pustu/ polindes/ poskesdes dan/atau melalui kunjungan rumah oleh tenaga
kesehatan.

Pemeriksaan neonatus dilaksanakan di dekat ibu, bayi didampingi ibu atau


keluarga pada saat diperiksa ataudiberikan pelayanan kesehatan.

C. JENIS PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR


1. Asuhan bayi baru lahir
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir mengacu pada pedoman Asuhan Persalinan
Normal yang tersedia di puskesmas, pemberi layanan asuhan bayi baru lahir dapat
dilaksanakan oleh dokter, bidan atau perawat. Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir
dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya atau rawat gabung (ibu
dan bayi dirawat dalam satu kamar, bayi berada dalam jangkauan ibu selama 24
jam).
Asuhan bayi baru lahir meliputi:
Pencegahan infeksi (PI)
Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Pemotongan dan perawatan tali pusat

Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit
bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi.
Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha
kiri
Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal
Pemeriksaan bayi baru lahir
Pemberian ASI eksklusif

Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Setelah bayi lahir dan tali pusat dipotong, segera letakkan bayi tengkurap di dada
ibu, kulit bayi kontak dengan kulit ibu untuk melaksanakan proses IMD.Langkah
IMD pada persalinan normal (partus spontan):
1. Suami atau keluarga dianjurkan mendampingi ibu di kamar bersalin
2. Bayi lahir segera dikeringkan kecuali tangannya, tanpa menghilangkan vernix,
kemudian tali pusat diikat.
3. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan
KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu dan mata bayi setinggi puting susu ibu.
Keduanya diselimuti dan bayi diberi topi.
4. Ibu dianjurkan merangsang bayi dengan sentuhan, dan biarkan bayi sendiri
mencari puting susu ibu.
5. Ibu didukung dan dibantu tenaga kesehatan mengenali perilaku bayi

sebelum menyusu.
6. Biarkan KULIT bayi bersentuhan dengan KULIT ibu minimal selama SATU
JAM;
bila menyusu awal terjadi sebelum 1 jam, biarkan bayi tetap di dada ibu sampai 1
jam
7. Jika bayi belum mendapatkan putting susu ibu dalam 1 jam posisikan bayi lebih
dekat dengan puting susu ibu, dan biarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu
selama 30 MENIT atau 1 JAM berikutnya.
NICU (Neonate Intensive Care Unit)
Definisi NICU
Merupakan unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir (neonatus) yang
memerlukan perawatan khusus misalnya berat badan rendah, fungsi pernafasan
kurang sempurna, prematur, mengalami kesulitan dalam persalinan, menunjukkan
tanda tanda mengkuatirkan dalam beberapa hari pertama kehidupan.
Definisi Ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) adalah ruang
perawatan intensif untuk bayi yang memerlukan pengobatan dan perawatan
khusus, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan organ-organ vital.
Level Perawatan Bayi Baru Lahir
1. Level I
Adalah untuk bayi risiko rendah, dengan kata lain bayi normal yang sering
digunakan istilah rawat gabung (perawatan bersama ibu). Perawatan Level 1
mencakup bayi lahir sehat yang segera dilakukan rawat gabungdengan
ibunya, sehingga dapat menunjang penggunaan ASI eksklusif.
2. Level II
Adalah untuk bayi risiko tinggi tetapi pengawasan belum perlu intensif. Pada
level ini bayi diawasi oleh perawat 24 jam, akan tetapi perbandingan perawat
dan bayi tidak perlu Perawatan Level II meliputi perawatan bayi bermasalah
yang memerlukan perawatan khusus yang terbagi menjadi dalam ruangan
infeksi dan non infeksi. Adapun bayi yang dapat dirawat di level ini antara

lain bayi dengan hiperbilirubinemia yang memerlukan terapi sinar maupun


transfusi tukar; bayi berat badan lahi rrendah (BB 1500-kurang dari 2500
gram) atau sangat rendah (BB kurang dari 1500 gram), bayi kurang bulan
(umur kehamilan di bawah 34-36 minggu) yang memerlukan perawatan
dalam inkubator; bayi yang tidak dapat atau tidak boleh diberikan minum
peroral, sehingga harus diberikaninfus intravena, bayi yang membutuhkan
terapi oksigen, tetapi belum memerlukan alat bantu nafas mekanis, misalnya
bayi dengan distres atau gangguan nafas, riwayat lahir tidak langsung
menangis; bayi dengan gejala hipo glikemia (kadar gula darah rendah) atau
ibu dengan riwayat diabetesmelitus; bayi dengan riwayat tindakan persalinan
yang menyebabkan traumabayi lahir, misalnya dengan forcep atau vacum
ekstraksi; bayi sakittersangka infeksi sedang-berat yang memerlukan
pemberian antibiotikasecara intravena dan nutrisi intravena.
3. Level III
Adalah untuk bayi risiko tinggi dengan pengawasan yang benar-benar ekstra
ketat. Satu orang perawat yang bertugas hanya boleh menangani satu pasien
selama 24 jam penuh.Perawatan level III (NICU)meliputi perawatan bayi
sakit kritis atau belum stabil yang memerlukansupport alat bantu nafas
mekanik ( Bubble Nasal CPAP atau Ventilatormekanik), tindakan operatif
maupun pemberian obat-obatan atau tindakan intervensi khusus. Adapun bayi
yang harus dirawat di NICU antara lain bayi dengan sindroma gawat nafas
derajat 3 dan 4 yang memerlukan support alat bantu nafas mekanik ( Bubble
Nasal CPAP atau Ventilator mekanik),Aspirasi air ketuban (

Meconeum

Aspiration Syndrome ); Bayi berat badan lahir amat atau sangat rendah
(kurang dari 1200 gram), atau bayi dengan umur kehamilan kurang dari 34
minggu yang belum mendapatkan obat kematangan paru; Bayi dengan
kelainan kongenital yang membutuhkan tindakan operatif, misalnya bayi
dengan obstruksi saluran pencernaan hernia diafragmatika, omfalokel,
penyakit jantung bawaan, perforasi usus,atresia ani, dll; serta perawatan bayi
pasca operasi besar yang membutuhkansupport ventilator mekanik; Bayi yang
membutuhkan intervensi invasif,misalnya pemberian surfaktan, transfusi

tukar, pemasangan akses umbilikal,pemasangan akses vena dalam dan akses


arteri, ventilator mekanik.

16. Bagaimana fisiologi organ fetus dan neonatus? Apakah berbeda


dengan dewasa?
Penyesuaian Bayi Terhadap Kehidupan Ekstrauterin (sistem respirasi)
Awal Pernapasan
Pengaruh paling nyata dari kelahiran pada bayi adalah hilangnya hubungan
plasenta dengan ibu. Oleh karena itu, kehilangan ini berarti hilangnya dukungan
terhadap metabolism. Salah satu penyesuaian segera yang paling penting dari bayi
adalah untuk mulai bernapas.
Penyebab bernapas saat lahir.
Setelah persalinan normal dari seorang ibu yang tidak mengalami depresi karena
anastesi, biasanya anak akan mulai bernapas dalam waktu beberapa menit dan
memiliki irama pernapasan yang normal kurang dari 1 menit setelah lahir.
Ketepatan waktu bagi fetus untuk mulai bernapas menandakan bahwa pernapasan
diawali oleh pemaparan tiba-tiba terhadap junia luar, mungkin disebabkan oleh (1)
keadaan asfiksia ringan pada proses kelahiran, tetapi juga (2) impuls oleh sensoris
yang timbul karena pendinginan kulit yang tiba-tiba. Bayi yang tidak bernapas
dengan segera, tubuhnya secara progresif menjadi lebih hipoksik dan hiperkapnik,
yang memberikan stimulus tambahan terhadap pusat pernapasan dalam waktu
beberapa menit selanjutnya setelah lahir.
Pernapasan yang terlambat atau abnormal saat lahir-bahaya hipoksia.
Bila ibu mengalami depresi karena anastesi umum selama persalinan, yang
sedikitnya juga akan menganestesi fetus, mulainya pernapasan cenderung
terlambat beberapa menit, sehingga menggambarkan pentingnya penggunaan
anestesi dalam jumlah sesedikit mungkin. Selain itu, banyak bayi yang mengalami

trauma kepala selama persalinan atau mengalami persalnan yang lama, lambat
bernapas atau terkadang tidak bernapas sama sekali. Hal ini dapat terjadi akibat
dua efek kemungkinan: Pertama, pada beberapa bayi, perdarahan intracranial atau
kontusio otak menyebabkan sindrom geger otak disertai pusat pernapasan yang
sangat tertekan. Kedua, dan yang mungkin lebih penting, hipoksia fetus yang lama
selama persalinan dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan yang serius.
Hipoksia sering terjadi selama persalinan akibat (1) kompresi tali pusat; (2)
pemisahan plasenta prematur; (3) kontraksi uterus yang berlebihan, yang dapat
memutus aliran darah ibu ke plasenta; atau (4) anestesi yang berlebihan pada ibu,
yang menekan oksigenasi bahkan pada darahnya sendiri.
Derajat hipoksia yang dapat ditoleransi oleh bayi.
Pada orang dewasa, kegagalan untuk bernapas hanya 4 menit saja sering
menyebabkan kematian, tetapi neonates sering kali bertahan selama 10 menit
akibat gagal bernapas setelah lahir. Kerusakan otak yang permanen dan serius
sering terjadi bila pernapasan terlambat lebih dari 8 sampai 10 menit. Ternyata,
lesi yang nyata berkembang terutama di talamus, di dalam kolikulus inferior, dan
di area batang otak lainnya, sehingga mempengaruhi banyak fungsi motoric tubuh
secara permanen.
Ekspansi paru saat lahir.
Saat lahir, dinding alveoli pertama kali tetap kolaps oleh karena tekanan
permukaan cairan kental yang memenuhi alveoili. Tekanan negative inspiratorik
di dalam paru lebih dari 25 mm Hg biasanya dibutuhkan untuk melawan pengaruh
tekanan permukaan ini dan untuk membuka alveoli pertama kali. Tetapi sekali
alveoli terbuka, pernapasan selanjutnya dapat dipengaruhi oleh gerakan
pernapasan yang relative lemah. Untungnya, inspirasi neonates normal yang
pertama biasanya sangat kuat, mampu membuat tekanan negatif sebesar 60 mHg
dalam ruang intrapleura.

Gambar 2 perbandingan gambaran spirometry napas pertama, kedua, dan


beberapa menit hingga seterusnya pada neonates (Dikutip dari Buku Ajar
Fisiologi Guyton Ed.11 hal.1099)
Gambar tersebut menunjukkan tekanan negatif intrapleura yang sangat besar,
yang dibutuhkan untuk membuka paru pada awal pernapasan. Di bagian atas
diperlihatkan kurva tekanan-volume (kurva komplians) saat bernapas pertama

kali setelah lahir. Perhatikan, pertama, bagian kurva yang lebih rendah, mulai
pada titik tekanan nol dan bergerak ke kanan. Kurva menunjukkan bahwa volume
udara di dalam paru hampir tetap nol sampai tekanan negatif dicapai -40cm air (30 mmHg). Kemudian, ketika tekanan negative meningkat sampai -60cm air,
sekitar 40 mmHg udara masuk ke paru. Untuk mengempiskan paru, sangat
dibutuhkan tekanan positif, kira-kira +40cm air, karena adanya resistensi
viskositas yang diberikan oleh cairan dalam bronkioli.
Perhatikan bahwa napas yang kedua kali jauh lebih mudah, dan tekanan negatif
dan positif yang dibutuhkan jauh lebih kecil. Pernapasan tidak seluruhnya menjadi
normal sampai kira-kira 40 menit setelah lahir, seperti yang diperlihatkan oleh
kurva komplians ketiga, yang bentuknya sangat menyerupai bentuk pada orang
dewasa.
Penyesuaian Bayi Terhadap Kehidupan Ekstrauterin (sistem sirkulasi)
Yang sama pentingnya dengan mula timbulnya pernapasan pada saat lahir adalah
penyesuaian segera sirkulasi yang memungkinkan aliran darah yang adekuat
melalui paru. Selain itu, penyesuaian sirkulasi selama beberapa jam pertama
kehidupan menyebabkan lebih banyak darah mengalir ke hati bayi, yang sampai
pada titik ini memiliki aliran darah sangat sedikit. Karena paru pada dasarnya
tidak berfungsi selama kehidupan fetus dan karena hati hanya berfungsi sebagian,
maka jantung fetus tidak perlu memompa darah dalam jumlah yang besar melalui
paru atau hati. Namun, jantung fetus harus memompa sejumlah besar darah
melalui plasenta. Oleh karena itu, susunan anatomi khusus menyebabkan kerja
sirkulasi fetus banyak berbeda dengan orang dewasa.
Pertama, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3, darah yang kembali dari
plasenta melalui vena umbilikalis melewati ductus venosus, terutama memintas
hati. Kemudian, sebagian besar darah yang memasuki atrium kanan dari vena
kava inferior diarahkan dalam suatu jalur yang langsung melewati bagian
posterior atrium kanan dan melalui foramen ovale langsung masuk ke atrium kiri.
Jadi, darah yang mengandung cukup oksigen dari plasenta tersebut terutama

hanya memasuki sisi jantung kiri, dan bukan sisi kanan, dan dipompa oleh
ventrikel kiri terutama ke dalam arteri di kepala dan tubuh bagian atas.

Gambar 3 sistem sirkulasi darah fetus (Dikutip dari Buku Ajar Fisiologi Guyton
Ed.11 hal.1100)

Darah yang memasuki atrium kanan dari vena kava superior dialirkan langsung ke
bawah melalui katub trikuspidalis ke dalam ventrikel kanan. Darah ini terutama
adalah darah deoksigenasi dari region kepala fetus, dan dipompa oleh ventrikel
kanan ke dalam arteri pulmonalis, dan kemudian terutama melalui ductus
arteriosus masuk ke dalam aorta desenden, lalu melalui kedua arteri umbilikalis
masuk ke dalam plasenta, tempat darah yang deoksigenasi tersebut mengalami
oksigenasi.
Terdapat 4 peristiwa yang mendasari terjadinya adaptasi sirkulasi neonatus
menuju ke sirkulasi orang dewasa. (1) Tidak adanya arteri dan vena umbilikalis
menyebabkan terjadinya resistensi vaskular sistemik yang menyebabkan
meningkatkan tekanan aorta dan tekanan pada ventrikel kiri dan atrium kiri. (2)
Penutupan foramen ovale, adalah hasil adaptasi karena terjadi perbedaan tekanan
yang signifikan antara atrium kiri yang jauh lebih besar dari tekanan atrium
kanan, sehingga menyebabkan terjadi aliran balik dari atrium kiri ke atrium
kanan, sehingga penutupan ini sangat penting. (3) Penutupan duktus arteriosus,
menyebabkan tidak terjadinya aliran balik dari arkus aorta ke arteri pulmonalis
dan kemudian ke ventrikel kanan. Penutupan ini disebabkan atas dasar
peningkatan tekanan oksigen yang sangat signifikan (PO2 fetus 15-20 mmHg,
PO2 neonatus 100mmHg) menyebabkan kontraksi berlebihan pada otot polos
duktus arteriosus, sehingga lumen menutup, yang kemudian disusul dengan
pembentukan jaringan ikat. (4) Penutupan duktus venosus, terjadi dalam waktu 1
sampai 3 jam, dinding otot duktus venosus berkontraksi dengan kuat dan menutup
aliran ini, sehingga tekanan vena porta meningkat dari 0 menjadi 6 kemudian
10mmHg yang cukup mendorong aliran darah vena porta melalui sinus-sinus hati.
Penyebab menutupnya duktus venosus masih belum diketahui.
17. Apa yang dimaksud dengan jaundice pada bayi?
Bilirubin yang dibentuk dalam fetus dapat menyeberangi plasenta dan masuk ke
ibu dan diekskresi melalui hati ibu, tetapi segera setelah lahir, satu-satunya cara
menghilangkan bilirubin neonatus adalah melalui hati neonatus sendiri, yang

selama minggu pertama kehidupan atau lebih berfungsi sangat sedikit dan tidak
mampu untuk mengonjugasikan jumlah bilirubin yang bermakna dengan asam
glukoronat untuk diekskresikan ke dalam empedu. Akibatnya, konsentrasi
bilirubin plasma meningkat dari nilai normal kurang dari 1 mg/dl menjadi ratarata 5 mg/dl selama 3 hari pertama kehidupan, dan kemudian secara bertahap
turun kembali ke nilai normal sewaktu hati mulai berfungsi. Efek ini, disebut
hiperbilirubinemia fisiologis, seperti yang ditunjukkan pada gambar 4, dan
keadaan ini berhubungan dengan ikterik ringan (kekuningan) pada kulit bayi dan
terutama pada sklera mata selama satu atau dua minggu.

Gambar 4 Konsentrasi Bilirubin dengan Jumlah sel darah merah 16 minggu


pertama pada neonates (Dikutip dari Buku Ajar Fisiologi Guyton Ed.11 hal.1102)

19. Apakah yang dimaksud dengan surfaktan dan kegunaannya pada


neonatus?

Sejumlah kecil bayi, terutama bayi prematur dan bayi yang dilahirkan dari ibu
diabetes, mengalami gawt napas yang berat pada jam-jam pertama kelahiran
sampai beberapa hari pertama setelah kelahiran, dan beberapa meninggal pada
hari-hari berikutnya. Alveoli dari bayi-bayi ini pada saat meninggal mengandung
sejumlah besar cairan yang mirip protein, hamper seperti plasma murni yang
bocor dari kapiler masuk ke dalam alveoli. Cairan ini juga mengandung sel epitel
alveolus yang berdeskuamasi. Keadaan ini juga disebut penyakit membrane hialin
karena preparat mikroskopik paru memperlihatkan alveoli diisi oleh bahan seperti
membran hialin.
Salah satu penemuan yang paling khas pada sindrom gawat napas adalah
kegagalan epitel pernapasan untuk menyekresikan surfaktan dalam jumlah
adekuat, suatu substansi yang normalnya disekresi ke dalam alveoli yang
menurunkan tegangan permukaan cairan alveoli, sehingga memungkinkan alveoli
untuk terbuka dengan mudah selama inspirasi. Sel-sel penyekresi-surfaktan (selsel epitel alveolus tipe II) belum mulai menyekresi surfaktan sampai akhir bulan
ke-1 sampai ke-3 masa gestasi. Oleh karena itu, banyak bayi prematur dan sedikit
bayi cukup bulan dilahirkan tanpa kemampuan menyekresikan cukup surfaktan,
yang menyebabkan kecenderungan kolapsnya alveoli dan perkembangan edema
paru.

Wanita G3P1A0

ANC

Persalinan

Adaptasi fisiologi

Neonatus
D. Langkah 4: Menginventarisasi
permasalahan secara sistematis dan

pernyataan sementara mengenai permasalahan pada langkah 3


Normal

Tidak normal

Perawatan sesuai kasus

Rooming in dan IMD

E. Langkah 5: Merumuskan tujuan pembelajaran


1. Indikasi dan algoritma resusitasi pada neonatus
2. Penyebab tonus otot kurang baik
3. Penyebab tidak terdapat mekonium pada air ketuban janin
4. Alur pecah ketuban
5. Proses embriologi
6. Interpretasi riwayat kesehatan Ibu
7. Alasan ibu dan bayi dirawat gabung
8. Interpretasi riwayat kehamilan
9. Fisiologi organ neonatus
10. Jaundice pada neonatus
11. Penyebab KPD (Ketuban Pecah Dini)
12. Surfaktan terkait paru-paru neonatus

F. Langkah 6: Mengumpulkan informasi baru (belajar mandiri)

Dalam langkah keenam ini kami mencari informasi terkait permasalahan


yang belum terjawab dengan cara belajar mandiri dalam selang waktu antara
tutorial sesi pertama dan kedua. Adapun informasi yang kami cari dari
berbagai sumber seperti jurnal, buku dan e-book kedokteran serta literatur
ilmiah yang terpercaya.
G. Langkah 7: Melaporkan, membahas dan menata kembali informasi
baru yang diperoleh
1. Indikasi dan algoritma resusitasi

Perlu atau tidaknya bayi baru lahir mendapatkan resusitasi dinilai dari tiga
kriteria , yaitu :
1. Apakah usia kehamilan sudah cukup?

2. Apakah bayi menangis atau bernafas?


3. Apakah tonus otot bayi baik?
Bila ketiga poin diatas jawabannya ya maka tidak perlu dilakukan
resusitasi. Namun, bila salah satu diantara ketiga poin diatas jawabannya tidak
maka dipertimbangkan untuk pemberian resusitasi.
Poin pertama yang dilakukan setelah penilaian ketiga poin tadi terdapat
jawaban tidak adalah menstabilkan kondisi bayi dengan cara dihangatkan
karena perubahan suhu diluar rahim lebih dingin daripada saat bayi masih berada
dalam rahim. Bila perlu bersihkan jalan nafas dan berikan stimulasi pada bayi.
Poin kedua , bila denyut jantung berada dibawah 100 kali per menit, nafas
terengah engah, atau apnea, lanjutkan dengan pemberian ventilasi tekanan
positif. Bila didapatkan denyut jantung masih dibawah 100 kali per menit, koreksi
lagi pemberian ventilasinya. Bila denyut jantung didapatkan dibawah 60 kali per
menit maka,
Poin ketiga, lakukan kompresi dada dengan cara menekan dengan dua ibu
jari pada sepertiga bagian bawah sternum masih disertai dengan pemberian
ventilasi tekanan positif menggunakan ambulatory bag, serta dipertimbangkan
pemasangan alat bantu nafas. Bila tetap didapatkan denyut jantung dibawah 60
kali per menit berikan suntikan epinefrin intravena dengan dosis 0,01 0,03
mg/kg berat badan. Hal yang perlu diperhatikan adalah dari mulai bayi lahir
sampai mulai pemberian ventilasi tekanan positif harus dilakukan dalam waktu 60
detik. (ichrc.org, 2012)
2. Sebab tonus otot kurang baik
Otot

memperoleh

energi

melalui

metabolisme

zat-zat

makanan.

Metabolism yang biasa digunakan adalah metabolism aerob. Karena bayi pada
kasus mengalami hipoksia, sehingga kemungkinan otot tidak memperoleh suplai
energi adekuat yang mengakibatkan tonus otot menjadi kurnag baik.
3. Sebab tidak terbentuknya mekonium

Feses mekonium pertama biasanya keluar dalam 24 jam setelah lahir. Jika
tidak keluar dalam 36 48 jam, bayi harus diperiksa patensi anus, bising usus dan
distensi abdomen dan dicurigai kemungkinan obstruksi. Namun dalam keadaan
hipoksia atau distress, sphingter anal dapat mengalami relaksasi dan mekonium
terlepas ke dalam cairan amnion mengindikasikan fetal distress.
4. Fisiologi pecahnya ketuban :
Persalinan kala 1 dimulai pada waktu serviks membuka karena his :
kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa
nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah
haid. Persalinan kala 1 berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap
(pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban
biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Bahaya ketuban pecah dini:
Pada janin, kemungkinan infeksi intra uterin yang lebih dulu terjadi
(amnionitis, vaskulitis) cukup meninggikan morbiditas dan mortalitas perinatal.
Selain itu apabila dikaitkan dengan kelahiran prematur, tentu saja dapat
menghasilkan bayi dengan nilai apgar yang rendah bahkan bisa sampai
mengalami asfiksia neonaturum serta berat badan lahir yang rendah. Sumber lain
menyatakan bahwa KPD merupakan faktor resiko tambahan yang cukup penting
pada kejadian sepsis streptococcal Group B pada infant. Sedangkan pada ibu,
karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intra partal, apalagi bila
terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapatdijumpai infeksi puerpuralis
(nifas), peritonitis, dan septikemia, serta partus kering. Ibu akan merasa lelah
karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik,
nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi. Hal-hal tersebut tentu saja
5.

meninggikan angka kematian dan angka morbiditas pada ibu (Sinseng, 2008).
Proses embriologi
Perkembangan Fetus
Hasil

konsepsi terpendam dalam

endometrium

uterus,

mendapat

makanan dari darah ibu, selama 10 minggu organ-organ terbentuk. Embrio

terbungkus dalam dua membran sebelah dalam amnion dan sebelah luar
korion.

Selama

perkembangan

minggu

pertama,

terbentuk

plasenta

sehingga fetusakan terikat oleh tali pusar.


Perkembangan embrio merupakan pertumbuhan dan perkembangan
makhluk hidup selama masa embrio yang diawali fertilisasi sampai dengan
terbentuknya janin di dalam rahim ibu. Terdapat tiga tahapan fase embrionik yaitu
morula, blastula, dan gastrula.
Morula adalah suatu bentukan sel seperti bola akibat dari pembelahan sel
secara terus menerus. Pada fase ini keberadaan sel satu dengan yang lain sangat
rapat. Blastula adalah bentukan lanjutan dari morula yang terus mengalami
pembelahan yang ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan
mengadakan pelekukan yang tidak beraturan. Di dalam blastula terdapat cairan
blastosol yang berfungsi meberikan ruang gerak ketika pembelahan terjadi.
Gastrula merupakan bentukan lanjuatan dari blastula yang pelekukan tubuhnya
sudah semakin nyata dan mempunyai lapisan dinding tubuh embrio serta rongga
tubuh (Sadler, 2000).
Organ yang dibentuk berasal dari masing-masing lapisan dinding tubuh
embrio pada fase gastrula, yaitu lapisan ektoderm yang akan berdeferensiasi
menjadi kluit, rambut, alat indera, dan sistem saraf; lapisan mesoderm yang akan
berdiferensiasi menjadi otot, rangka, alat reproduksi, alat peredaran darah, dan
alat ekskresi; dan lapisan endoderm yang akan berdiferensiasi menjadi alat
pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi (Sadler, 2000).
Permulaan periode embrional sebagai mulainya Minggu ke-3 setelah
ovulasi. Akhir periode embrional dan mulainya periode janin ditetapkan oleh
sebagian ahli embriologi, terjadi 8 minggu setelah fertilisasi, atau 10
minggu setelah mulainya periode menstruasi terakhir. Pada akhir Minggu ke-8
ini, tubuh bayi mulai terbentuk, dan kini disebut fetus (berasal dari bahasa latin
yang berarti keturunan) atau janin. Pada usia ini, fetus berukuran kira-kira 3,5
cm dan terus tumbuh cepat hingga Minggu ke-20, baru kemudian laju
pertumbuhannya melambat. Kepalanya tampak besar jika

dibandingkan

dengan tubuhnya tapi wajahnya mulai terbentuk. Matanya lebih besar dan
kini terletak di bagian depan muka untuk mempersiapkan kemampuan
melihatnya. Pembuluh air mata juga telah terbentuk pada Minggu ke delapan dan
telinganya yang terletak di leher berlahan-lahan jari-jari tangan dan kaki tampak
jelas meskipun masih diliputi selaput tipis.
Walaupun jenis kelamin bayi telah ditentukan sejak konsepsi, namun
belum dapat diketahui hingga Minggu ke-9 setelah alat kelaminnya muncul, dan
jenis kelaminnya dapat dibedakan sejak fetus berusia 12 minggu. Pada
Minggu ke-12 fetus sudah terbentuk sempurna, kini panjangnya sekitar 8,5
cm. Kantong amniotik berisi 100 ml cairan amniotik. Kepala fetus kini
tampak membulat, leher dan wajahnya telah terbentuk, dan telinganya sudah
berada di tempat yang tepat. Bila dahi fetus disentuh, maka kepalanya akan
berpaling

dan

keningnya

berkerut.

Fetus

telah

mampu

menelan

dan

menggerakkan bibir atasnya. Kini bagian luar alat kelamin fetus sudah
cukup

berkembang

sehingga

sudah

bisa

dilihat dan ditetapkan jenis

kelaminnya.
Pertumbuhan tangan janin pada Minggu ke-12 yakni mula-mula
berupa kuncup di ujung lengan lalu diakhir Minggu ke-4 pada Minggu ke-6
tampak seperti dayung beralur-alur yang kelak akan berbentuk jari, Lalu
jaringan alur-alur tadi memecah dan membentuk jari-jari dan pada Minggu ke-7,
jari-jari telah terbentuk Ujungnya tampak bengkak , karena pembentukan lapisan
peraba. Kuku jari berbentuk, mulai Minggu ke-10; mula-mula dilapisi
selaput kulit tipis, tapi kukunya belum sempurna hingga usia janin
mencapai Minggu ke-32. Pada Minggu ke-12 jari-jari janin telah berbentuk
seluruhnya.
Pada usia 16 minggu panjang janin sekitar 14 cm, beratnya sekitar 130g,
tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang disebut lanugo (latin : lana, wol).
Fungsi lanugo belum diketahui. Mula-mula lanugo tumbuh pada alis mata
dan bibir bagian atas tapi pada minggu ke 20 mulai menutupi seluruh tubuh. Pada

Minggu ke 16, vernix caseosa, sal licin berwarna putih mulai terbentuk.
Dapat terlihat jelas di wajah dan kulit kepala pada Minggu ke 18. mulamula muncul di punggung, rambut dan lipatan sendi, namun kemudian
menutupi seluruh tubuh. Lapisan luar yang terbentuk pada bagian kulit
tapak kaki dan jari-jarinya, juga tangan dan jari-jarinya memiliki pola
khusus pada setiap manusia. Pada Minggu ke 28, panjang fetus menjadi
kira-kira 1,1 kg.
Antara Minggu ke 26 dan 29, kelopak matanya sudah tumbuh, sementara
rambut di kepalanya sudah panjang, lanugo mulai menghilang dan warna
kulitnya berubah dari merah menjadi warna kulit manusia umumnya. Pada
Minggu ke 28, testis bayi lelaki yang mulanya di perut mulai turun ke
bawah, dan mencapai scrotum pada Minggu ke 32, testis pada bayi.
Usia :
Bulan ke 3
a. panjangnya 40 mm
b. Janin sudah mempunyai sistem organ seperti yang dipunyai oleh
orang dewasa.
c. genitalnya belum dapat dibedakan antara jantan dan betina dan
tampak seperti betina serta denyut jantung sudah dapat didengar
Bulan ke 4
a. panjang 56 mm
b. Kepala masih dominan dibandingkan bagian badan
c. genitalia eksternal nampak berbeda.
d. minggu ke 16 semua organ vital sudah terbentuk. Pembesaran
uterus sudah dapat dirasakan oleh ibu.

Bulan ke 5
a. panjang112 mm
b. akhir bulan ke 5 ukuran fetus mencapai 160 mm.
c. Muka nampak seperti manusia dan rambut mulai nampak diseluruh
tubuh (lanugo).
d. Pada yang jantan testis mulai menempati tempat dimana ia akan turun
ke dalam skrotum
e. Gerakan janin sudah dapat dirasakan oleh ibu
f. Paru-paru sudah selesai dibentuk tapi belum berfungsi.
Bulan ke 6
a. ukuran tubuh sudah lebih proporsional tapi nampak kurus
b. organ internal sudah pada posisi normal
Bulan ke 7
a. janin nampak kurus, keriput dan berwarna merah
b. Skrotum berkembang dan testis mulai turun untuk masuk ke skrotum,
hal ini selesai pada bulan ke 9.
c. Sistem

saraf

berkembang

sehingga

cukup

untuk

mengatur

pergerakan fetus, jika dilahirkan 10% dapat bertahan hidup.


Bulan ke 8
a. Testis ada dalam skrotum dan tubuh mulai ditumbuhi lemak
sehingga terlihat halus dan berisi
b. Berat badan mulai naik jika dilahirkan 70% dapat bertahan hidup.
Bulan ke 9

a. Janin lebih banyak tertutup lemak (vernix caseosa)


b. Kuku mulai nampak pada ujung jari tangan dan kaki.
Bulan ke 10
a. Tubuh janin semakin besar maka ruang gerak menjadi berkurang
dan lanugo mulai menghilang
b. Percabangn paru lengkap tapi tidak berfungsi sampai lahir.Induk
mensuplai

antibodi

plasenta mulai

regresi

dan

pembuluh

darah

palsenta juga mulai regresi.


Perkembangan Sistem Organ
1. Susunan Saraf Pusat
Neurulasi adalah pembentukan lempeng neural (neural plate) dan
lipatan neural (neural folds) serta penutupan lipatan ini untuk membuat
neural tube, yang terbenam ke dalam dinding tubuh dan berdiferensiasi
menjadi otak dan korda spinalis. Neural tube terbentuk sempurna pada akhir
Minggu ke 4. notokord yang sedang terbentuk memicu ektoderm di atasnya
untuk menebal dan membentuk lempeng neural, yaitu lempeng sel neuroepitel
yang mirip sandal dan meninggi. Lempeng ini menghasilkan susunan saraf
pusat.
Pada pertengahan Minggu ke 3, timbul neural groove (arul neural) di
bagian tengah lempeng meural. Di kedua sisi alur terdapat lipatan neural yang
membesar di ujung kranial sebagai awal pembentukan otak.
Mesoderm paraksial berdiferensiasi untuk membentuk pasangan blok
jaringan / somit. Somit berdiferensiasi menjadi sklerotom, miotom dan
dermtom, yang masing-masing menghasilkan tulang rangka sumbu, otak
rangka dan dermis kulit. Jumlah somit menunjukkan usta mudtgah. Organ
sensorik untuk janin berkembang sekitar pertengahan masa gestasi.

2. Sistem Pencernaan
Antara Minggu ke 6 dan 8 perkembangan proliferasi sel epitel yang
melapisi bagian dalam lumen menyebabkan obliterasi yang kemudian secara
bertahap mengalami regionalisasi. Pertumbuhan awal usus sangat cepat
sehingga usus keluar ke dalam rongga amnion. Enzim pencernaan terdapat
di sekitar Minggu ke 24 28, dengan pengecualian laktasi. Koordinasi
peristaltik usus janin mulai jelas pada Minggu ke 14. Pada Minggu ke 34
sudah terjadi koordinasi mengisap, menelan, dan peristalsis. Usus

mulai

menghasilkan mukus yang akhirnya akan diperlukan untuk melancarkan


lewatnya makanan dan fases selama transit. Mukus menumpuk di usus janin
sebagai mekonium.
3. Wajah
Wajah terbentuk antara Minggu ke 5 dan 12 dari arkus brakialis.
Hidung tumbuh sebagai pilar jaringan mata terbentuk dari kombinasi
jaringan saraf dan ektoderm khusus. Telinga mula-mula terletak rendah. Di bawah
hidung tonjolan maksilaris meluas untuk membentuk dasar hidung dan atap
mulut. Bibir atas terbentuk dari tonjolan yang meluas untuk bertemu di
bagian tengah. Fusi prosesus maksilaris yang tidak memadai menyebabkan
malformasi kongenital mulut fusi palatuom sempurna pada Minggu ke 11.
4. Tengkorak
Tengkorak
Tengkorak

di

terbentuk

bentuk

dari

dari

jaringan

neurokranium

mesenkim
yang

di

sekitar

melindungi

otak

otak.
dan

viserokranium yang membentuk kerangka wajah. Tiap-tiap elemen tengkorak


ini memiliki komponen dan kartilaginosa pada janin. Tulang datar pada
kavaria disatukan untuk sutura fibrosa lunak yang berbuat dari jaringan ikat
padat yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Di tempat sutura-sutura bertemu
terbentuk enam fontanel (ubun-ubun) membranosa besar. Fontanel posterior

menutup sekitar 3 bulan setelah lahir dan fontanel posterior menutup saat bayi
berusia sekitar 18 bulan.
5. Sistem Kardiovaskular
Merupakan sistem yang pertama terbentuk beberapa sel di mosederm
yolk sac kehilangan perlekan dan mulai bergerak membentuk kelompok yang
disebut

pulau

darah.

Pulau-pulau

darah

menyatu, membentuk

saluran

pembuluh darah yang saling berhubungan untuk membentuk rute yang jelas.
Organisasi rute melintas yolk sac serupa dengan organisasi geografis delta
sungai tempat arus lemah berkonvolusi dan bergabung. Jantung primitif
berkembang
lempeng

dari

tapal

prokrodal

dan

kuda

mesoderm embrionik.

membentuk

Sebelah

anterior

dua saluran di tiap sisi usus depan

membentuk sebuah tabung jantung tunggal. Atrium primitif terbentuk saat


aliran dari vena umbilikus dan plasenta menyatu dengan pembuluh darah dari
kepala hingga menghasilkan volume darah terbesar. Bentuk khas jantung
dihasilkan

oleh

menyebabkan

aliran

tabung

sel
jantung

darah

di dalam

saluran

pembuluh

yang

mengambil bentuk lengkung huruf S yang

akhirnya berbentuk jantung. Pada hari ke-21 sel yang mengelilingi jantung
berdiferensi menjadi sel miokardium yang mampu menghasilkan respons
hingga jantung yang terdiri atas 4 rongga berurutan mulai berdenyut.
Susunan matang rongga jantung tercapai oleh pertumbuhan ke dalam septum
ke arah bantalan atrioventrikel sentral di bagian tengah. Pertumbuhan jantung
janin sebagian bergantung pada after load yang meningkat oleh faktor yang
menyebabkan peningkatkan impedansi plasenta.
6. Sistem Pernafasan
Trakea dan bronkus utama tumbuh sebagai kantung keluar pada
saluran pencernaan, perkembangannya bergantung pada interaksi antara
tonjolan endoderm dari usus depan yang sedang tumbuh dan mesoderm
splantik yang diinvasinya sekitar hari ke-22 dan mengalami percabangan
antara hari ke-26 dan 28. Pada Minggu ke-5 perkembangan terbentuk

tonjolan sekunder di cabang kanan x 2 di cabang kiri, yaitu lobus primitif paru. 4
tahapan dalam perkembangan sistem pernafasan ; fase mudigah (dari Minggu
ke 3-ke 37), fase pseu dokanalikularis (Minggu ke-7 ke-16), fase
kanalikularis (mg 16 ke 24) dan kantung terminal (mg ke 24 sampai
lahir).
7. Sistem Perkemihan
Berkembang dari mesoderm intermeitat dan saling berkaitan erat
dengan kelamin selama perkembangan masa janin terbentuk 3 pasang ginjal ;
pronetroi, mesonefroi dan metanefroi.

Pronetroi
merupakan struktur transien nonfungsional yang muncul hanya
selama beberapa minggu

Mesonefroi
muncul pada Minggu ke-4 berfungsi sebagai ginjal antara
sampai akhir periode mudigah

Metanefro
terbentuk mulai Minggu ke-5 dan mulai berfungsi sekitar 4 minggu
kemudian Janin menghasilkan sampai sampai 600 ml urine perhari.
Urine

menjadi

dihasilkan oleh

sumber
membran

utama

cairan

amnion

dan

amnion
paru

dan

janin.

juga
Janin

menelan sebagian besar cairan amnion


8. Otot dan Tungkai
Otot yang pertama terbentuk : otot punggung dari pasangan somit.
Pembentukan tulang berkaitan erat dengan pertumbuhan otot dan sambungan
saraf dari korda spinalis. Anggota badan mulai tampai sebagai tonjolan yang
berkaitan dengan somit tertentu pada Minggu ke-4 perkembangan. Tonjolan

anggota badan dibentuk dari migrasi sel otot dari miotom. Osifikasi perubahan
ke struktur tulang dimulai sejak usia 8 minggu tapi tetap belum sempurna
saat lahir. Menonjolnya jumlah tulang rawan di kerangka, mempermudah
pengeluaran janin saat melahirkan. Pada Minggu ke-9 kerangka tubuh
hampir sempurna walaupun tulang tengkorak masih terus dibentuk. Proses
Terbentuknya janin laki-laki dan perempuan.
Proses terbentuknya janin laki-laki dan perempuan dimulai dari
deferensiasai gonad. Awalnya sel sperma yang berkromosom Y akan
berdeferensiasi awal menjadi organ jantan dan yang X menjadi organ
betina. Deferensiasi

lanjut

kromosom

membentuk

testis

sedangkan

kromosom X membentuk ovarium. Proses deferensiasi menjadi testis dimulai


dari degenerasi cortex dari gonad dan medulla gonad membentuk tubulus
semineferus. Di celah tubulus sel mesenkim membentuk jaringan intertistial
bersama sel leydig. Sel leydig bersama dengan sel sertoli membentuk
testosteron dan duktus muller tp duktus muller berdegenerasi akibat adanya
faktor anti duktus muller, testosteron berdeferensiasi menjadi epididimis, vas
deferent,

vesikula

seminlis

dan

duktus mesonefros. Karena ada enzim 5

alfareduktase testosteron berdeferensiasi menjadi dihidrotestosteron

yang

kemudian pada epitel uretra terbentuk prostat dan bulbouretra. Selanjutnya


mengalami pembengkakan dan terbentuk skrotum.
Kemudian testis turun ke pelvis terus menuju ke skrotum. Mula-mula
testis berada di cekukan bakal skrotum saat skrotum makin lama makin
besar testis terpisah dari rongga pelvis.Sedangkan kromosom X yang telah
mengalami deferensiasi lanjut kemudian pit primer berdegenerasi membentuk
medula yang terisi mesenkim dan pembuluh darah, epitel germinal menebal
membentuk sel folikel yang berkembang menjadi folikel telur. Deferensiasi
gonad jadi ovarium terjadi setelah beberapa hari defrensiasi testis. Di sini
cortex

tumbuh

membina

ovarium sedangkan medula menciut. PGH dari

placenta mendorong pertumbuhan sel induk menjadi oogonia, lalu berplorifrasi


menjadi oosit primer. Pada perempuan duktus mesonefros degenerasi. Saat

gonad yang berdeferensiasi menjadi ovarium turun sampai rongga pelvis


kemudian berpusing sekitar 450 letaknya menjadi melintang.
Penis dan klitoris awalnya pertumbuhannya sama yaitu berupa invagina
ectoderm. Klitoris sebenarnya merupakan sebuh penis yang tidak berkembang
secara sempurna.

Pada laki-laki

evagina

ectoderm berkembang bersama

terbawanya sinus urogenitalis dari cloaca. (Depkes RI)


6. Interpretasi riwayat kesehatan Ibu
Catatan kesehatan Ibu menunjukkan bahwa tanda vital Ibu normal
menandakan tidak adanya demam/kenaikan suhu, tekanan darah yang meningkat
yang mungkin dapat menunjukkan tanda-tanda preeclampsia maupun eklampsia.
Pemeriksaan TORCH negatif menunjukan tidak adanya infeksi pada ibu
tersebut. Infeksi TORCH dijelaskan lebih lanjut di nomor LO yang bersangkutan.
HbsAg negatif menunjukkan ibu tidak sakit hepatitis B yang dapat berpengaruh
pada kondisi bayi.Gula darah normal dapat digunakan untuk menyingkirkan
diabetes melitus pada ibu yang dapat menyebabkan bayi dengan berat badan
melebihi normal/bayi besar.
7. Mengapa dirawat gabung ?
Rawat gabung merupakan sistem perawatan bayi yang disatukan dengan
ibu, sehingga ibu dapat melakukan semua perawatan dasar bagi bayinya. Bayi
bisa tinggal bersamaibunya dalam satu kamar sepanjang siang maupun malam
hari sampai keduanya keluar dari rumah sakit atau bayinya dapat dipindahkan ke
bangsal neonatus atau ke ruang observasi pada saat-saat tertentu seperti pada
malam hari atau pada jam-jam kunjungan atau besuk.
Keuntungan Rawat Gabung
a. Meningkatkan kemampuan perawatan mandiri pada bayinya.
b. Dapat memberikan ASI setiap saat.
c. Dapat meningkatkan kasih sayang pada bayi.

d. Mengurangi terjadinya infeksi, terutama diare.


e. Mengurangi kehilangan panas badan bayi sehingga meningkatkan daya
tahan tubuh.
f. Pemberian ASI bertindak sebagai metode KB dalam waktu 4 6 bulan
pertama.
g. Menurunkan morbiditas dan mortalitas neonatus.
Syarat Rawat Gabung
Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin dikamar bersalin dan
dibangsal perawatan pasca persalinan. Meskipun demikian penyuluhan
tentang manfaat dan pentingnya rawat gabung sudah dimulai sejak ibu
pertama kali memeriksakan kehamilannya di poliklinik asuhan antenatal.
Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung. Bayi dan ibu yang
dapat dirawat gabung harus memenuhi syarat/kriteria berikut :
a. Lahir spontan, baik presentasi kepala maupun bokong.
b. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dilakukan setelah bayi
cukup sehat, refleks menghisap baik, tidak ada infeksi dan sebagainya.
c. Bayi yang dilahirkan denga sectio secaria dengan anestesi umum, rawat
gabung dilakukan segera setelah ibu dan bayinya sadar penuh (bayi tidak
ngantuk) misalnya empat sampai enam jam setelah operasi selesai. Bayi
tetap disusukan meskipun mungkin ibu masih mendapat infus.
d. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit pertama (nilai APGAR minimal
7).
e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
f. Berat lahir 2000 2500 gram atau lebih.
g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum.
h. Bayi dan ibu sehat.
Kontra Indikasi Rawat Gabung
Pihak Ibu
a. Fungsi kardiorespiratorik yang tidak baik

Pasien penyakit jantung kelas II dianjurkan untuk sementara tidak


menyusui sampai keadaan jantung cukup baik. Bagi pasien jantung
klasifikasi III tidak dibenarkan menyusui.
b. Eklampsia dan preeklampsia berat
Keadaan ibu biasanya tidak baik dan pengaruh obat-obatan untuk
mengatasi penyakit biasanya menyebabkan kesadaran menurun sehigga
ibu belum sadar betul. Tidak diperbolehkan ASI dipompa dan diberikan
pada bayi.
c. Penyakit infeksi akut dan aktif
Bahaya penularan pada bayi yang dikhawatirkan. Tuberkulosis paru yang
aktif dan terbuka merupakan kontra indikasi mutlak. Pada sepsis keadan
ibu biasanya buruk dan tidak akan mampu menyusui.
d. Karsinoma payudara
Pasien dengan karsinoma harus dicegah jangan sampai ASInya keluar
karena mempersulit penilaian penyakitnya. Apabila menyusui ditakutkan
adanya sel sel karsinoma yang terminum si bayi.
e. Psikosis
Tidak dapat dikontrol keadaan jiwa si ibu bila menderita psikosis.
Meskipun pada dasarnya ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada
kemungkinan penderita psikosis membuat cedera pada bayi.
Pihak Bayi
a. Bayi kejang
Kejang-kejang pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak
memungkinkan untuk menyusui. Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul
saat bayi menyusui. Kesadaran bayi yang menurun juga tidak
memungkinkan bayi untuk menyusui.
b. Bayi yang sakit berat
Bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau penyakit lain yang
memerlukan perawatan intensif tentu tidak mungkin menyusu dan dirawat
gabung.
c. Bayi yang memerlukan observasi atau terapi khusus.

Selama observasi rawat gabung tidak dapat dilaksanakan. Setelah keadaan


membaik tentu dapat dirawat gabung. Ini yang disebut rawat gabung tidak
langsung.
d. Berat badan bayi sangat rendah
Refleks menghisap dan refleks lain pada BBLR belum baik sehingga tidak
mungkin menyusu dan dirawat gabung.
e. Cacat Bawaan
Diperlukan persiapan mental si ibu untuk menerima keadaan bahwa
bayinya cacat. Cacat bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan
kontra indikasi mutlak. Cacat ringan seperti labioskisis, palatoskhisis
bahkan labiognatopalatoskhisis masih memungkinkan untuk menyusui.
f. Kelainan metabolik dimana bayi tidak dapat menerima ASI.
(Prawirohardjo, 2005)
8. Interpretasi riwayat kehamilan
Ibu berusia 26 tahun, menandakan usia ibu masih dalam batas aman untuk
hamil. Usia yang disarankan adalah 20-35 tahun. Usia kehamilan 39 minggu
menandakan kehamilan aterm, tidak preterm maupun postterm. Ibu G3P1A0
menunjukan ibu tersebut pernah hamil 3x,melahirkan 1x, dan tidak pernah
abortus.Namun, kami menduga terdapat kesalahan pengetikan karena riwayat
G3P1A0 tidak mungkin terjadi.
9. Fisiologi organ neonatus
A. Fisiologi Sistem Respirasi
1). Awal Pernapasan
Pengaruh paling nyata dari kelahiran pada bayi adalah hilangnya
hubungan plasenta dengan ibu. Oleh karena itu, kehilangan ini berarti hilangnya
dukungan terhadap metabolism. Salah satu penyesuaian segera yang paling
penting dari bayi adalah untuk mulai bernapas.
2). Penyebab bernapas saat lahir.

Setelah persalinan normal dari seorang ibu yang tidak mengalami depresi
karena anastesi, biasanya anak akan mulai bernapas dalam waktu beberapa menit
dan memiliki irama pernapasan yang normal kurang dari 1 menit setelah lahir.
Ketepatan waktu bagi fetus untuk mulai bernapas menandakan bahwa pernapasan
diawali oleh pemaparan tiba-tiba terhadap junia luar, mungkin disebabkan oleh (1)
keadaan asfiksia ringan pada proses kelahiran, tetapi juga (2) impuls oleh sensoris
yang timbul karena pendinginan kulit yang tiba-tiba. Bayi yang tidak bernapas
dengan segera, tubuhnya secara progresif menjadi lebih hipoksik dan hiperkapnik,
yang memberikan stimulus tambahan terhadap pusat pernapasan dalam waktu
beberapa menit selanjutnya setelah lahir.
3). Pernapasan yang terlambat atau abnormal saat lahir-bahaya hipoksia.
Bila ibu mengalami depresi karena anastesi umum selama persalinan, yang
sedikitnya juga akan menganestesi fetus, mulainya pernapasan cenderung
terlambat beberapa menit, sehingga menggambarkan pentingnya penggunaan
anestesi dalam jumlah sesedikit mungkin. Selain itu, banyak bayi yang mengalami
trauma kepala selama persalinan atau mengalami persalnan yang lama, lambat
bernapas atau terkadang tidak bernapas sama sekali. Hal ini dapat terjadi akibat
dua efek kemungkinan: Pertama, pada beberapa bayi, perdarahan intracranial atau
kontusio otak menyebabkan sindrom geger otak disertai pusat pernapasan yang
sangat tertekan. Kedua, dan yang mungkin lebih penting, hipoksia fetus yang lama
selama persalinan dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan yang serius.
Hipoksia sering terjadi selama persalinan akibat (1) kompresi tali pusat;
(2) pemisahan plasenta prematur; (3) kontraksi uterus yang berlebihan, yang dapat
memutus aliran darah ibu ke plasenta; atau (4) anestesi yang berlebihan pada ibu,
yang menekan oksigenasi bahkan pada darahnya sendiri.
4). Derajat hipoksia yang dapat ditoleransi oleh bayi.
Pada orang dewasa, kegagalan untuk bernapas hanya 4 menit saja sering
menyebabkan kematian, tetapi neonates sering kali bertahan selama 10 menit

akibat gagal bernapas setelah lahir. Kerusakan otak yang permanen dan serius
sering terjadi bila pernapasan terlambat lebih dari 8 sampai 10 menit. Ternyata,
lesi yang nyata berkembang terutama di talamus, di dalam kolikulus inferior, dan
di area batang otak lainnya, sehingga mempengaruhi banyak fungsi motoric tubuh
secara permanen.
5). Ekspansi paru saat lahir.
Saat lahir, dinding alveoli pertama kali tetap kolaps oleh karena tekanan
permukaan cairan kental yang memenuhi alveoili. Tekanan negative inspiratorik
di dalam paru lebih dari 25 mm Hg biasanya dibutuhkan untuk melawan pengaruh
tekanan permukaan ini dan untuk membuka alveoli pertama kali. Tetapi sekali
alveoli terbuka, pernapasan selanjutnya dapat dipengaruhi oleh gerakan
pernapasan yang relative lemah. Untungnya, inspirasi neonates normal yang
pertama biasanya sangat kuat, mampu membuat tekanan negatif sebesar 60 mHg
dalam ruang intrapleura.

Gambar 2. Perbandingan gambaran spirometry napas pertama, kedua, dan


beberapa menit hingga seterusnya pada neonates (Dikutip dari Buku Ajar
Fisiologi Guyton Ed.11 hal.1099)
Gambar tersebut menunjukkan tekanan negatif intrapleura yang sangat
besar, yang dibutuhkan untuk membuka paru pada awal pernapasan. Di bagian
atas diperlihatkan kurva tekanan-volume (kurva komplians) saat bernapas
pertama kali setelah lahir. Perhatikan, pertama, bagian kurva yang lebih rendah,
mulai pada titik tekanan nol dan bergerak ke kanan. Kurva menunjukkan bahwa
volume udara di dalam paru hampir tetap nol sampai tekanan negatif dicapai
-40cm air (-30 mmHg). Kemudian, ketika tekanan negative meningkat sampai
-60cm air, sekitar 40 mmHg udara masuk ke paru. Untuk mengempiskan paru,
sangat dibutuhkan tekanan positif, kira-kira +40cm air, karena adanya resistensi
viskositas yang diberikan oleh cairan dalam bronkioli.
Perhatikan bahwa napas yang kedua kali jauh lebih mudah, dan tekanan
negatif dan positif yang dibutuhkan jauh lebih kecil. Pernapasan tidak seluruhnya
menjadi normal sampai kira-kira 40 menit setelah lahir, seperti yang diperlihatkan
oleh kurva komplians ketiga, yang bentuknya sangat menyerupai bentuk pada
orang dewasa.
B. Fisiologi Sistem Sirkulasi
Yang sama pentingnya dengan mula timbulnya pernapasan pada saat lahir
adalah penyesuaian segera sirkulasi yang memungkinkan aliran darah yang
adekuat melalui paru. Selain itu, penyesuaian sirkulasi selama beberapa jam
pertama kehidupan menyebabkan lebih banyak darah mengalir ke hati bayi, yang
sampai pada titik ini memiliki aliran darah sangat sedikit. Karena paru pada
dasarnya tidak berfungsi selama kehidupan fetus dan karena hati hanya berfungsi
sebagian, maka jantung fetus tidak perlu memompa darah dalam jumlah yang
besar melalui paru atau hati. Namun, jantung fetus harus memompa sejumlah
besar darah melalui plasenta. Oleh karena itu, susunan anatomi khusus
menyebabkan kerja sirkulasi fetus banyak berbeda dengan orang dewasa.

Pertama, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3, darah yang kembali


dari plasenta melalui vena umbilikalis melewati ductus venosus, terutama
memintas hati. Kemudian, sebagian besar darah yang memasuki atrium kanan dari
vena kava inferior diarahkan dalam suatu jalur yang langsung melewati bagian
posterior atrium kanan dan melalui foramen ovale langsung masuk ke atrium kiri.
Jadi, darah yang mengandung cukup oksigen dari plasenta tersebut terutama
hanya memasuki sisi jantung kiri, dan bukan sisi kanan, dan dipompa oleh
ventrikel kiri terutama ke dalam arteri di kepala dan tubuh bagian atas.

Gambar 3. Sistem sirkulasi darah fetus (Dikutip dari Buku Ajar Fisiologi
Guyton Ed.11 hal.1100)
Darah yang memasuki atrium kanan dari vena kava superior dialirkan
langsung ke bawah melalui katub trikuspidalis ke dalam ventrikel kanan. Darah
ini terutama adalah darah deoksigenasi dari region kepala fetus, dan dipompa oleh

ventrikel kanan ke dalam arteri pulmonalis, dan kemudian terutama melalui


ductus arteriosus masuk ke dalam aorta desenden, lalu melalui kedua arteri
umbilikalis masuk ke dalam plasenta, tempat darah yang deoksigenasi tersebut
mengalami oksigenasi.
Terdapat 4 peristiwa yang mendasari terjadinya adaptasi sirkulasi neonatus
menuju ke sirkulasi orang dewasa. (1) Tidak adanya arteri dan vena umbilikalis
menyebabkan terjadinya resistensi vaskular sistemik yang menyebabkan
meningkatkan tekanan aorta dan tekanan pada ventrikel kiri dan atrium kiri. (2)
Penutupan foramen ovale, adalah hasil adaptasi karena terjadi perbedaan tekanan
yang signifikan antara atrium kiri yang jauh lebih besar dari tekanan atrium
kanan, sehingga menyebabkan terjadi aliran balik dari atrium kiri ke atrium
kanan, sehingga penutupan ini sangat penting. (3) Penutupan duktus arteriosus,
menyebabkan tidak terjadinya aliran balik dari arkus aorta ke arteri pulmonalis
dan kemudian ke ventrikel kanan. Penutupan ini disebabkan atas dasar
peningkatan tekanan oksigen yang sangat signifikan (PO2 fetus 15-20 mmHg,
PO2 neonatus 100mmHg) menyebabkan kontraksi berlebihan pada otot polos
duktus arteriosus, sehingga lumen menutup, yang kemudian disusul dengan
pembentukan jaringan ikat. (4) Penutupan duktus venosus, terjadi dalam waktu 1
sampai 3 jam, dinding otot duktus venosus berkontraksi dengan kuat dan menutup
aliran ini, sehingga tekanan vena porta meningkat dari 0 menjadi 6 kemudian
10mmHg yang cukup mendorong aliran darah vena porta melalui sinus-sinus hati.
Penyebab menutupnya duktus venosus masih belum diketahui.
C. Fisiologi Sistem Saraf
Refleks kulit terbentuk pada bulan ke 3 sampai ke 4. Fungsi SSP belum
berkembang, bahkan saat lahirMielinisasi akan sempurna saat usia 1 tahun
postnatal.
D. Fisiologi Traktus Gastrointestinal

Mulai pertengahan kehidupan fetus, mulai mencerna dan absorbsi amnion.


Fungsinya mendekati normal selama trimester 3. Mekonium dibentuk oleh GIT
disekresi ke dalam amnion.
E. Fisiologi Sistem Urogenital
Mampu mengekskresi urin pada akhir pertengahan kehamilan. Belum
mampu sebagai kontrol keseimbangan cairan elektrolit ekstraseluler dan asambasa, belum mencapai sempurna setelah beberapa bulan setelah lahir.
F. Fisiologi Metabolisme Fetus
Fetus menggunakan glukosa untuk Energi, menyimpan lemak dan protein.
Metabolisme Kalsium, fosfat dan besi. Penggunaan dan penyimpanan vitamin (B,
C, D, E, K).
10. Jaundice pada neonatus
Hiperbilirubinemia didefinisikan sebagai kadar bilirubin serum total 5
mg/dL (86 mol/L). Ikterus atau jaundice adalah warna kuning pada kulit,
konjungtiva, dan mukosa akibat penumpukan bilirubin tak terkonjugasi pada
jaringan. Ikterus pada neonatus akan terlihat bila kadar bilirubin serum >5 mg/dL.
Istilah hiperbilirubinemia sering disalahartikan sebagai ikterus berat yang
membutuhkan

terapi

segera.

Sesungguhnya,

hiperbilirubinemia

dan

ikterus/jaundice merupakan terminologi yang merujuk pada keadaan yang sama.


Hiperbilirubinemia adalah keadaan transien yang sering ditemukan baik
pada bayi cukup bulan (50-70%) maupun bayi prematur (80-90%).Sebagian besar
hiperbilirubinemia adalah fisiologis dan tidak membutuhkan terapi khusus, tetapi
karena potensi toksik dari bilirubin maka semua neonatus harus dipantau untuk
mendeteksi kemungkinan terjadinya hiperbilirubinemia berat.
Hiperbilirubinemia seringkali dianggap menakutkan, baik oleh dokter
maupun keluarga sehingga dibutuhkan panduan yang jelas agar tidak terjadi
overtreatment

maupun

underdiagnosis.Pemahaman

yang

baik

mengenai

patofisiologi dan tata laksana hiperbilirubinemia dapat meminimalisir hal-hal


yang tidak diharapkan, seperti kecemasan, penghentian menyusui, terapi yang
tidak perlu, dan biaya yang berlebihan.
Penyebab hiperbilirubinemia:
A. Hiperbilirubinemia fisiologis
Kadar bilirubin tidak terkonjugasi (unconjugated bilirubin, UCB) pada
neonatus cukup bulan dapat mencapai 6-8 mg/dL pada usia 3 hari, setelah itu
berangsur turun. Pada bayi prematur, awitan ikterus terjadi lebih dini, kadar
bilirubin naik perlahan tetapi dengan kadar puncak lebih tinggi, serta memerlukan
waktu lebih lama untuk menghilang, mencapai 2 minggu. Kadar bilirubin pada
neonatus prematur dapat mencapai 10-12 mg/dL pada hari ke-5 dan masih dapat
naik menjadi >15 mg/dL tanpa adanya kelainan tertentu. Kadar bilirubin akan
mencapai <2 mg/dL setelah usia 1 bulan, baik pada bayi cukup bulan maupun
prematur. Hiperbilirubinemia fisiologis dapat disebabkan beberapa mekanisme:
1) Peningkatan produksi bilirubin,
2) Peningkatan sirkulasi enterohepatik
3) Defek uptake bilirubin oleh hati
4) Defek konjugasi karena aktivitas uridin difosfat glukuronil transferase
(UDPG-T) yang rendah
5) Penurunan ekskresi hepatik
B. Hiperbilirubinemia nonfisiologis
Keadaan di bawah ini menandakan kemungkinan hiperbilirubinemia
nonfisiologis dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut:
1) Awitan ikterus sebelum usia 24 jam
2) Peningkatan bilirubin serum yang membutuhkan fototerapi
3) Peningkatan bilirubin serum >5 mg/dL/24 jam

4) Kadar bilirubin terkonjugasi >2 mg/dL


5) Bayi menunjukkan tanda sakit (muntah, letargi, kesulitan minum, penurunan berat
badan, apne, takipnu, instablilitas suhu)
6) Ikterus yang menetap >2 minggu
Diagnosis
A. Anamnesis
1) Riwayat keluarga ikterus, anemia, splenektomi, sferositosis, defisiensi glukosa 6fosfat dehidrogenase (G6PD)
2) Riwayat keluarga dengan penyakit hati, menandakan kemungkinan galaktosemia,
deifisiensi alfa-1-antiripsin, tirosinosis, hipermetioninemia, penyakit Gilbert,
sindrom Crigler-Najjar tipe 1 dan II, atau fibrosis kistik
3) Riwayat saudara dengan ikterus atau anemia, mengarahkan pada kemungkinan
inkompatibilitas golongan darah atau breast-milk jaundice
4) Riwayat sakit selama kehamilan, menandakan kemungkinan infeksi virus atau
toksoplasma
5) Riwayat obat-obatan yang dikonsumsi ibu, yang berpotensi menggeser ikatan
bilirubin dengan albumin (sulfonamida) atau mengakibatkan hemolisis pada bayi
dengan defisiensi G6PD (sulfonamida, nitrofurantoin, antimalaria)
6) Riwayat persalinan traumatik yang berpotensi menyebabkan perdarahan atau
hemolisis.Bayi asfiksia dapat mengalami hiperbilirubinemia yang disebabkan
ketidakmampuan

hati

memetabolisme

bilirubin

atau

akibat

perdarahan

intrakranial.Keterlambatan klem tali pusat dapat menyebabkan polisitemia


neonatal dan peningkatan bilirubin.
7) Pemnberian nutrisi parenteral total dapat menyebabkan hiperbilirubinemia direk
berkepanjangan

B. Pemeriksaan fisik

Ikterus dapat dideteksi secara klinis dengan cara mengobservasi warna


kulit setelah dilakukan penekanan menggunakan jari. Pemeriksaan terbaik
dilakukan menggunakan cahaya matahari.Ikterus dimulai dari kepala dan meluas
secara sefalokaudal. Walaupun demikian inspeksi visual tidak dapat dijadikan
indikator yang andal untuk memprediksi kadar bilirubin serum.
Hal-hal yang harus dicari pada pemeriksaan fisis:
A. Prematuritas
Kecil masa kehamilan, kemungkinan berhubungan dengan polisitemia.
B. Tanda infeksi intrauterin, misalnya mikrosefali, kecil masa kehamilan
C. Perdarahan ekstravaskular, misalnya memar, sefalhematom
D. Pucat,

berhubungan

dengan

anemia

hemolitik

atau

kehilangan

darah

ekstravaskular
E. Petekie, berkaitan dengan infeksi kongenital, sepsis, atau eritroblastosis
F. Hepatosplenomegali, berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, atau
penyakit hati.

11. Penyebab ketuban pecah dini (KPD)


Sebab-sebab ketuban pecah dini:
A. Infeksi (amnionitis/korionamnionitis)
B. Infeksi Menular Seksual (Chlamydia/ sifilis)
C. Serviks inkompeten
Biasanya diakibatkan trauma bedah, dilatasi berlebihan saat terminasi
kelahiran sebelumnya.
D. Trauma
Bisa diakibatkan oleh goncangan, koitus, aktivitas berat
E. Paritas
Bisa terjadi akibat primipara yang terlalu stress ataupun multipara yang
terlalu dekat jarak kelahirannya.

F. Riwayat KPD sebelumnya.


Wanita yang pada kehamilan sebelumnya mengalami KPD akan
berpotensi mengalami KPD pada kehamilan berikutnya.
G. Tekanan intra uterin yang terlalu tinggi
Biasa terjadi pada penderita hidroamnion/gemeli.
12. Peran surfaktan pada paru neonatus
Sejumlah kecil bayi, terutama bayi prematur dan bayi yang dilahirkan dari
ibu diabetes, mengalami gawt napas yang berat pada jam-jam pertama kelahiran
sampai beberapa hari pertama setelah kelahiran, dan beberapa meninggal pada
hari-hari berikutnya. Alveoli dari bayi-bayi ini pada saat meninggal mengandung
sejumlah besar cairan yang mirip protein, hamper seperti plasma murni yang
bocor dari kapiler masuk ke dalam alveoli. Cairan ini juga mengandung sel epitel
alveolus yang berdeskuamasi. Keadaan ini juga disebut penyakit membrane hialin
karena preparat mikroskopik paru memperlihatkan alveoli diisi oleh bahan seperti
membran hialin.
Salah satu penemuan yang paling khas pada sindrom gawat napas adalah
kegagalan epitel pernapasan untuk menyekresikan surfaktan dalam jumlah
adekuat, suatu substansi yang normalnya disekresi ke dalam alveoli yang
menurunkan tegangan permukaan cairan alveoli, sehingga memungkinkan alveoli
untuk terbuka dengan mudah selama inspirasi. Sel-sel penyekresi-surfaktan (selsel epitel alveolus tipe II) belum mulai menyekresi surfaktan sampai akhir bulan
ke-1 sampai ke-3 masa gestasi. Oleh karena itu, banyak bayi prematur dan sedikit
bayi cukup bulan dilahirkan tanpa kemampuan menyekresikan cukup surfaktan,
yang menyebabkan kecenderungan kolapsnya alveoli dan perkembangan edema
paru.

BAB III
SIMPULAN
Dari hasil diskusi tutorial pada skenario 1 blok Pediatri, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
Seorang bayi perempuan yang lahir secara spontan dengan berat dan tinggi badan
dalam batas normal. Namun, saat lahir bayi tidak bernafas secara spontan dan
tonus otot berkurang dengan pemantauan nilai APGRA 5-7-10. Bayi mendpatkan
penangan segera resusitasi hingga ventilasi tekanan positif dan bayi bernfas
spontan tanpa ditemukan adanya retraksi.
Keadaan yang terjadi padi bayi kemungkinan disebabkan kurangnya deteksi dini
keadaan bayi melalui ANC. Meskipun pemeriksaan TORCH, HbsAg, dan gula
darah masih dalam batas normal faktor risiko lain yang menyebabkan keadaan
asfiksia pada bayi belum bisa terdeteksi dini terkait kurangnya ANC yang
dilakukan ibu.

BAB IV
SARAN
Secara umum diskusi tutorial skenario 1 blok Pediatri berjalan dengan baik
dan lancar. Semua anggota sudah berpartisipasi aktif dengan mengungkapkan
pendapat masing-masing mengenai skenario yang dibahas. Namun masih ada
beberapa hal yang perlu diperbaiki agar dalam diskusi tutorial selanjutnya dapat
dilaksanakan diskusi tutorial yang ideal. Hambatan yang dialami oleh kelompok
adalah

bentroknya jadwal tutor dengan jadwal

memberi kuliah sehingga

menyebabkan kurang efektifnya pertemuan kedua tutorial.


Saran untuk tutorial berikutnya agar kami dapat menggunakan waktu
secara efisien agar waktu yang dialokasikan untuk diskusi dapat dimanfaatkan
dengan sebaik-baiknya sehingga materi diskusi dapat dipahami dengan baik dan
tujuan pembelajaran dapat tercapai. Selain itu, kami mengharapkan agar
pengaturan jadwal tutor lebih diperhatikan lagi kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer (2001).Ilmu Kebidanan Dan Kandungan. Kapital Selekta
Kedokteran FK UI. Edisi 3. Jilid 1. Hal. 291. Penerbit. Media Aesculapius
FKUI 2001.
Cunningham Gary F. 2006. Obstetri Williams Edisi 21. EGC, Jakarta.
Guyton and Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Guyton Ed.11. EGC: Jakarta.
International Children Health Review Collaboration. Ichrc.org. diakses tanggal 17
Februari 2016.
Manuaba IBG. 2008. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin obstetri, Ginekologi,
dan KB. EGC, Jakarta.
Prawiroharjdo, Sarwono. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas (Maternity
Nursing). Jakarta : EGC.
Sadler, T.W. 2000. Embriologi Kedokteran Langman. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Simpson R.K. & Creehan A.P. 2001. Perinatologi Nursing. Lippincott,
Philadelphia.
Suwiyoga IK, Budayasa AA, Soetjiningsih. Peranan Faktor Risiko Ketuban Pecah
Dini terhadap Insidens Sepsis Neonatorum Dini pada Kehamilan Aterm.
Cermin Dunia Kedokteran, No 151. 2006.
Trisno Nugroho Didi , 2010. Hubungan Antara Lama Ketuban Pecah Dini
Terhadap Nilai Apgar Pada Kehamilan Aterm Di Badan Rumah Sakit
Cepu.Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Varney Helen, dkk. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2. EGC, Jakarta