Anda di halaman 1dari 18

INVESTASI PADA EFEK TERTENTU

AKUNTANSI PAJAK

Nama Kelompok :
1. Amelia Desyara (201310170311175)
2. Fitri Novalia
(201310170311189)
3. Resta Eka Putri
(201310170311178)
4. Geby Arneta Dewi (201310170311181)

POGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Idle cash atau dana kas menganggur adalah kelebihan kas yang tidak diperlukan
dalam waktu dekat.biasanya dana ini dimanfaatkan dengan membeli atau menanamkan
dalam bentuk investasi berharga seperti efek. Efek tersebut dapat terdiri dari surat
pengakuan hutang,saham,obligas,unit efek. Kualifikasi dari suatu efek adalah berbedabeda sesuai dengan aturan masing-masing negara.
Pengakuan dan pengukuran investasi dalam efek utang ada beberapa hal yang akan
kita pelajari yaitu dimiliki hingga jatuh tempo,diperdagangkan dan tersedia untuk
dijual.Perusahaan dapat menggunakan dananya untuk membeli investasi dalam bentuk
efek dengan tujuan memperoleh bunga ataupun keuntungan dari nilai jual,selain itu
investasi tersebut digunakan untuk menjaga likuiditas perusahaan.
Perusahaan juga dapat menentukan bahwa efek utang tertentu digolongkan dalam
kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan tak akan dijual untuk tujuan manajemen
resiko keuangan. Berdasarkan tujuan kepemilikan efek tersebut, perusahaan dapat
mengakui efek tersebut dengan metode biaya perolehan.
Efek (security) adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga
komersial, saham , obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi
kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.
Efek utang (debt security) adalah efek yang menunjukkan hubungan hutang piutang
antara kreditor dengan entitas yang menerbitkan efek.
Efek ekuitas (equity security) adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas
suatu ekuitas, atau hak untuk memperoleh (misalnya: waran, opsi beli) atau hak untuk
menjual (misalnya opsi jual) kepemilikan tersebut dengan harga yang telah atau akan
ditetapkan.
Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang dapat diperoleh dari pertukaran instrumen
keuangan dalam transaksi antarpihak-pihak yang bebas, bukan karena paksaan atau
likuidasi. Jika terdapat harga pasar untuk instrumen tersebut, nilai wajar yang harus
digunakan dalam penerapan Pernyataan ini dihitung dengan cara mengalikan volume
saham yang diperdagangkan dengan harga pasar per unit. Keuntungan atau kerugian
kepemilikan (holding gain or loss) adalah perubahan neto dalam nilai wajar efek, tidak
termasuk: (a) dividen atau pendapatan bunga yang telah diakui namun belum diterima
(basis akrual), dan (b) setiap penurunan nilai efek yang bersifat permanen.

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
1.1 DEFINISI EFEK TERTENTU
Efek atau dalam istilah bahasa Inggris disebut security adalah suatu surat berharga yang
bernilai serta dapat diperdagangkan . Efek dapat dikategorikan sebagai hutang dan ekuitas
seperti obligasi dan saham. Perusahaan atapun lembaga yang menerbitkan efek disebut
penerbit. Efek tesebut dapat terdiri dari surat pengakuan hutang, surat berharga komersial,
saham, obligasi, unit penyertaan kontrak investasi kolektif (seperti misalnya reksadana,
kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek). Kualifikasi dari suatu efek adalah
berbeda-beda sesuai dengan aturan di masing-masing negara.
Efek dapat berupa sertifikat atau dapat berupa pencatatan elektronis yang bersifat :

Sertifikat atas unjuk, artinya pemilik yang berhak atas efek tersebut adalah
sipembawa / pemegang efek.

Sertifikat atas nama artinya pemilik efek pemilik yang berhak atas efek tersebut
adalah yang namanya tercatat pada daftar yang dipegang oleh penerbit atau biro
pencatatan efek.

Efek utang (debt security) adalah efek yang menunjukkan hubungan hutang piutang antara
kreditor dengan entitas yang menerbitkan efek.Efek ekuitas (equity security) adalah efek
yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas, atau hak untuk memperoleh
(misalnya: waran, opsi beli) atau hak untuk menjual (misalnya opsi jual) kepemilikan tersebut
dengan harga yang telah atau akan ditetapkan.
Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang dapat diperoleh dari pertukaran instrumen
keuangan dalam transaksi antarpihak-pihak yang bebas, bukan karena paksaan atau
likuidasi. Jika terdapat harga pasar untuk instrumen tersebut, nilai wajar yang harus
digunakan dalam penerapan Pernyataan ini dihitung dengan cara mengalikan volume
saham yang diperdagangkan dengan harga pasar per unit. Keuntungan atau kerugian
kepemilikan (holding gain or loss) adalah perubahan neto dalam nilai wajar efek, tidak
termasuk: (a) dividen atau pendapatan bunga yang telah diakui namun belum diterima
(basis akrual), dan (b) setiap penurunan nilai efek yang bersifat permanen.
Pada saat pemerolehan, perusahaan harus mengklasifikasikan efek utang dan efek ekuitas
ke dalam salah satu dari tiga kelompok berikut ini:
a) dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity),
b) diperdagangkan (trading),

c) tersedia untuk dijual (available for sale).


Pada setiap tanggal pelaporan, kelayakan pengelompokan tersebut harus dikaji kembali.
Efek yang Diklasifikasikan dalam Kelompok Dimiliki hingga Jatuh Tempo.
Jika perusahaan mempunyai maksud untuk memiliki efek utang hingga jatuh tempo, maka
investasi dalam efek utang tersebut harus diklasifikasikan dalam kelompok dimiliki hingga
jatuh tempo dan disajikan dalam neraca sebesar biaya perolehan setelah amortisasi premi
atau diskonto.
Perusahaan mungkin mengubah maksudnya untuk memiliki efek utang tertentu sampai
dengan saat jatuh tempo dengan menjual atau mentransfer efek utang tersebut. Penjualan
atau transfer efek utang tidak dianggap sebagai perubahan dalam tujuan dimiliki hingga
jatuh tempo jika perubahan maksud tersebut disebabkan oleh kondisi berikut ini:
a. terdapat bukti mengenai penurunan signifikan risiko kredit perusahaan penerbit efek.
b. terjadi perubahan peraturan perpajakan yang menghapuskan atau menaikkan tarif
pajak final yang berlaku atas bunga dari efek utang (tidak termasuk perubahan
peraturan perpajakan yang merevisi tarif pajak atas bunga secara umum).
c. terjadi penggabungan usaha atau penjualan dalam jumlah besar (seperti penjualan
segmen) yang mengakibatkan diperlukannya penjualan atau transfer efek dalam
kelompok dimiliki hingga jatuh tempo untuk mempertahankan risiko kredit
perusahaan dan posisi risiko suku bunga yang ada saat tersebut.
d. terjadi perubahan dalam persyaratan atau peraturan perundangan yang secara
signifikan mengubah definisi investasi yang diizinkan atau tingkat maksimum
investasi yang diizinkan dalam jenis efek tertentu, sehingga perusahaan harus
melepaskan efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.
e. terjadi perubahan peraturan pemerintah mengenai modal minimum industri tertentu
yang mengakibatkan perusahaan mengurangi aktivitas usahanya atau skala
f.

operasinya dan menjual efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo.
terjadi perubahan dalam peraturan pemerintah yang mengakibatkan bertambahnya
bobot risiko atas investasi efek utang dalam perhitungan rasio tertentu, misalnya
dalam perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi atau perhitungan rasio
kecukupan modal perbankan. Selain perubahan yang diuraikan di atas, kejadian lain
yang tidak berulang dan bersifat luar biasa yang tidak dapat diantisipasi, dapat
menyebabkan perusahaan menjual atau mentransfer efek tertentu dalam kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo, tanpa harus dipertanyakan tujuan awal pemilikan efek
dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo mempertimbangkan efek lain dalam
kelompok yang sama. Semua penjualan dan transfer efek dalam kelompok dimiliki
hingga jatuh tempo harus diungkapkan sesuai dengan persyaratan pada paragraf 23.

Perusahaan tidak boleh mengklasifikasikan efek utang ke dalam kelompok dimiliki


hingga jatuh tempo jika perusahaan mempunyai maksud untuk memiliki efek tersebut untuk
periode yang tidak ditentukan.Oleh karena itu, efek utang tidak boleh diklasifikasikan dalam
kelompok ini jika perusahaan bermaksud menjual efek tersebut, misalnya, untuk
menghadapi:
-

perubahan tingkat bunga pasar dan perubahan yang berhubungan dengan risiko sejenis,
kebutuhan likuiditas,
perubahan dalam ketersediaan dan tingkat imbal hasil investasi alternatif,
perubahan dalam sumber pendanaan perusahaan dan persyaratannya,
perubahan dalam risiko mata uang asing.
Dalam manajemen aset dan kewajiban suatu entitas, manajemen dapat menentukan
bahwa keseimbangan manajemen risiko keuangan perusahaan dapat dicapai tanpa harus
menyediakan seluruh investasinya dalam efek untuk dijual pada saat diperlukan. Dalam hal
ini, perusahaan dapat menentukan bahwa efek utang tertentu digolongkan dalam kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo dan tak akan dijual untuk tujuan manajemen risiko keuangan.
Berdasarkan tujuan kepemilikan efek utang tersebut, perusahaan dapat mengakui efek
utang tersebut dengan metode biaya perolehan (termasuk amortisasi diskonto atau
premium).

Penjualan efek utang yang memenuhi salah satu dari dua kondisi berikut ini dapat dianggap
telah jatuh tempo untuk tujuan klasifikasi efek sebagaimana diuraikan pada paragraf 8 dan

13, dan untuk tujuan pengungkapan sebagaimana diuraikan pada paragraf 23.
Penjualan efek terjadi pada tanggal yang cukup dekat dengan saat jatuh tempo, sehingga
risiko tingkat bunga tidak lagi menjadi factor penentu harga jual. Tanggal penjualan tersebut
begitu dekatnya dengan saat jatuh tempo sehingga perubahan suku bunga pasar tidak

memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai wajar efek.


Penjualan efek terjadi setelah perusahaan memperoleh sebagian besar pembayaran
(sedikitnya 85 persen) dari nilai tercatat investasi dalam efek utang. Pembayaran tersebut
dapat terjadi karena pembayaran di muka efek utang atau pembayaran efek utang sesuai
dengan jadwal angsuran pembayaran efek utang tersebut (yang meliputi pokok pinjaman
dan bunga). Untuk efek dengan tingkat bunga variabel, pembayaran cicilan tersebut tidak
akan sama jumlahnya, tergantung kepada tingkat bunga yang berlaku. Efek yang
Diklasifikasikan dalam Kelompok Diperdagangkan dan Tersedia untuk Dijual
Investasi efek utang yang tidak diklasifikasikan ke dalam dimiliki hingga jatuh tempo
dan efek ekuitas yang nilai wajarnya telah tersedia, harus diklasifikasikan ke dalam salah
satu kelompok berikut ini dan diukur sebesar nilai wajarnya dalam neraca:
Diperdagangkan. Efek yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali dalam waktu
dekat harus diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. Efek dalam
kelompok diperdagangkan biasanya menunjukkan frekuensi pembelian dan

penjualan yang sangat sering dilakukan. Efek ini dimiliki dengan tujuan untuk

menghasilkan laba dari perbedaan harga jangka pendek.


Tersedia untuk dijual. Efek yang tidak diklasifikasikan

dalam

kelompok

diperdagangkan dan dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo, harus


diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual.
Pelaporan Perubahan Nilai Wajar
Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam nkelompok diperdagangkan
harus diakui sebagai penghasilan. Laba atau rugi yang belum direalisasi atas efek dalam
kelompok tersedia untuk dijual (termasuk efek yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar)
harus dimasukkan sebagai komponen ekuitas yang disajikan secara terpisah, dan tidak
boleh

diakui

sebagai

penghasilan

sampai

saat

laba

atau

rugi

tersebut

dapat

direalisasi.Untuk ketiga kelompok efek tersebut, dividen dan pendapatan bunga, termasuk
amortisasi premi dan diskonto yang timbul saat perolehan, selalu diakui sebagai
penghasilan. Pernyataan ini tidak berdampak terhadap metode yang digunakan untuk
mengakui dan mengukur jumlah dividen dan pendapatan bunga. Laba atau rugi yang telah
direalisasi untuk efek yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia untuk dijual atau dimiliki
hingga jatuh tempo juga tetap harus dilaporkan sebagai penghasilan.
Perubahan Kelompok Investasi
Pemindahan efek antarkelompok dicatat sebesar nilai wajarnya. Pada tanggal
perubahan kelompok, laba atau rugi yang belum direalisasi harus dicatat sebagai berikut:

untuk efek yang dipindahkan dari kelompok diperdagangkan, laba atau rugi yang
belum direalisasi pada tanggal transfer telah tercatat sebagai penghasilan dan oleh

karena itu tidak boleh dihapus.


untuk efek yang dipindahkan ke kelompok diperdagangkan, laba atau rugi yang
belum direalisasi pada tanggal pemindahan diakui sebagai penghasilan pada saat

tersebut.
untuk efek utang yang dipindahkan ke kelompok tersedia untuk dijual dari kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo, laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam

kelompok ekuitas secara terpisah pada tanggal pemindahan kelompok.


untuk efek utang yang ditransfer ke kelompok tersedia untuk dijual dari kelompok
dimiliki hingga jatuh tempo, laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal
transfer harus tetap dilaporkan dalam komponen ekuitas secara terpisah, namun
harus diamortisasi selama masa manfaat efek dengan cara yang konsisten dengan
amortisasi premi atau diskonto. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi
tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap
pendapatan bunga

Penurunan Nilai Efek

Untuk efek individual dalam kelompok tersedia untuk dijual atau dimiliki hingga jatuh
tempo, perusahaan harus menentukan apakah penurunan nilai wajar di bawah biaya
perolehan (termasuk amortisasi premi dan diskonto) merupakan penurunan yang
bersifatnpermanen atau tidak. Jika ada kemungkinan investor tidak dapat memperoleh
kembali seluruh jumlah biaya perolehan yang seharusnya diterima sehubungan dengan
persyaratan perjanjian efek utang, maka penurunan yang bersifat permanen dianggap telah
terjadi. Jika penurunan nilai wajar dinilai sebagai penurunan permanen, biaya perolehan
efek individual harus diturunkan hingga sebesar nilai wajarnya, dan jumlah penurunan nilai
tersebut harus diakui dalam laporan laba rugi sebagai rugi yang telah direalisasi. Biaya
perolehan yang baru tidak boleh diubah kembali. Kenaikan selanjutnya dalam nilai wajar
efek dalam kelompok tersedia untuk dijual harus dimasukkan ke dalam komponen ekuitas
secara terpisah, sebagaimana dinyatakan dalam paragraf 14. Penurunan selanjutnya dari
nilai wajar, jika bukan merupakan penurunan nilai sementara, juga harus dimasukkan ke
dalam komponen ekuitas secara terpisah.
PENYAJIAN PENGUNGKAPAN INESTASI PADA EFEK TERTENTU
Menurut IAI dalam SAK-ETAP (2009:49-51) Perusahaan dengan neraca yang aktiva
dikelompokkan menjadi aktiva lancar, aktiva tetap dan aktiva lain-lain kewajibannya
dikelompokkan manjadi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang (classified balance
sheet) harus melaporkan semua efek yang diperdagangkan sebagai aktiva lancar.
Efek dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan efek dalam kelompok tersedia
untuk dijual disajikan sebagai aktiva lancar atau aktiva tidak lancar berdasarkan keputusan
manajemen. Khusus untuk efek utang dalam kelompok dimiliki hingga jatuh tempo dan
kelompok tersedia untuk dijual yang jatuh tempo pada tahun berikutnya harus
dikelompokkan sebagai aktiva lancar.
Dalam laporan arus kas, arus kas yang digunakan untuk atau berasal dari
pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok tersedia untuk dijual dan
dimiliki hingga jatuh tempo, harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktivitas investasi, dan
dilaporkan sebesar nilai bruto untuk setiap kelompok efek di dalam laporan arus kas. Arus
kas untuk atau dari pembelian, penjualan, dan jatuh tempo efek dalam kelompok
diperdagangkan harus diklasifikasikan sebagai arus kas aktivitas operasi.
PENGUNGKAPAN
Sementara itu, pengungkapan untuk Efek dalam eklompok AFS dan kelompok HTM,
INformai berikut ini harus diungkapkan dalam catata ata laporan keunganuntuk setiap
kelompok utama Efek, yaitu :

k
1.

nilai wajar agregat

2.

laba yang belum direalisasi dari pemilikan efek

3.

rugi belum direalisasi dari pemilikan efek

4.

biaya perolehan, termasuk jumlah premi dan diskonto yang belum diamortisasi.
Lembaga keuangan (bank, koperasi kredit, lembaga pembiayaan dan asuransi) perusahaan
harus mengungkapkan setiap jenis efek utama yang dimilikinya yaitu efek ekuitas,efek utang
yang dikeluarkan oleh pemerintah,efek utang perusahaan, efek utang yang dijamin hipotik,
dan efek utang lainnya.
Untuk efek utang dalam kelompok tersedia untuk dijual dan kelompok dimiliki hingga
jatuh tempo, informasi mengenai tanggal jatuh tempo efek utang tersebut harus
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan tahun terakhir yang disajikan. Informasi
tentang tanggal jatuh tempo dapat dikelompokkan menurut jangka waktunya sejak tanggal
neraca. Lembaga keuangan harus mengungkapkan nilai wajar dan biaya perolehan efek
utang, termasuk diskonto dan premium yang belum diamortisasi berdasarkan, sedikitnya, 4
kelompok tanggal jatuh tempo berikut ini:
a) jatuh tempo dalam waktu kurang dari 1 tahun,
b) jatuh tempo dalam waktu antara 1 sampai 5 tahun,
c) jatuh tempo dalam waktu antara 5 sampai 10 tahun,
d) jatuh tempo dalam waktu lebih dari 10 tahun.
Efek yang tidak jatuh tempo pada tanggal tertentu, seperti

efek yang pembayarannya

dijamin hipotik, dapat diungkapkan secara terpisahj (tidak dialokasikan kedalam beberapa
kelompok jatuh tempo tersebut). Jika penggolongan jatuh temponya dialokasikan , maka
dasar alokasinya harus diungkapkan.
Untuk setiap periode akuntansi , entitas harus mengungkapkan :
a) Penerimaan dari penjualan efek dalam kelompok AFS, laba rugi yang direalisasi dari
penjualan tersebut.
b) Dasar penentuan biaya perolehan dalam menghitung laba/rugi yang direalisasi.
c) Perubahan laba/rugi yang dimasukkan sebagai penghasilan dari pemindahan
pengelompokkan efek dari kelompok AFS ke kelompok trading
d) Perubahan laba/rugi pemilikkan yang belumdirealisasi untuk efek dalam kelompok
AFS yang telah dimasukkan ke dalam komponen ekuitas secara terpisah Selma
periode yang bersangkutan.
e) Perubahan dalam laba/rugi pemilikan efek yang belum direalisasi dari efek untuk
tujuan trading yang telah diakui sebagai penghasilan dalam periode pelaporan.

PERPAJAKAN
Obligasi

merupakan

surat

utang

jangka

menengah-panjang

yang

dapat

dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan
berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah
ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Umumnya obligasi memberikan
penghasilan Bungan dengan jumlah tetap kepada investor. Ada kalanya obligasi juga
mempunyai ha katas pembagian keuntungan, Penjelasan Pasal 4 ayat (1) bagian (g) UU
PPh menganggap bagian keuntungan tersebut sebagai penghasilan.
Pada UU PPh nomer 36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) menyebutkan bahwa Yang menjadi
objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemamouan ekonomis yang
diterima/diperolah WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau mwnambah kekayaan WP yang bersangkutan dengan
nama dan dalam bentuk apa pun. Hal ini mencakup penghasilan yang diterima /diperoleh
dari transaksi investasi utang1
Jenis Obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia :
1. Corporate Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk
badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
2. Government Bonds : obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.
3. Retail Bonds : obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil,
baik corporate bonds maupun government bonds.
Surat Utang Negara
SUN merupakan surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang
rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara
Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya. Bentuk dari SUN antara lain :
1. Warkat diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder
2. tanpa warkat (scriptless),diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder
Jenis SUN :
1. Surat Berharga Negara(Treasury Bill); tenor s.d. 12 bulan, pembayaran bunga secara
diskonto(discounted paper)

2. Obligasi Negara (Treasury Bonds), tenor di atas 12 bulan dengan kupon atau
pembayaran bunga secara diskonto (zero coupon bonds)
Tujuan penerbitan SUN :
1. Membiayai defisit APBN
2. Menutupi kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian antara arus kas
penerimaan dan pengeluaran dari rekening kas Negara dalam satu tahun anggaran(cashmismatch)
3. Mengelola portfolio hutang Negara
Strategi pengelolaan SUN :
1. Menurunkan refinancing risk
2. Memperpanjang rata-rata jangka waktu jatuh tempo (average maturity) SUN
3. Menyeimbangkan struktur jatuh tempo portfolio SUN sehingga selaras dengan
perkembangan anggaran Negara dan daya serap pasar melalui program penerbitan,
penukaran, pembelian kembali dan pelunasan pokok SUN
Sun merupakan surat berharga yang beripa surat pengakuan utang baik dalalm mata uang
rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara RI
sesuai dengan massa berlakunya, yang terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN)
dan Obligasi Negara
1) Penghasilan berupa diskoto SPN sesuai dengan PP 27 Tahun 2008 jo. PMK63/PMK.03/2008 yang mulai berlaku 4 april 2008. SPN berjangka waktu paling lama
12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Diskonto SPN merupakan
selisih lebih antara :
a) Nilai nominal pada saat jatuh tempo dengan harga perolehan di Pasae
Perdana / dipasar sekunder
b) Harga jual di Pasar SEkunder dnegan harga perolehan di Pasar Perdana/Pasar
SEkunder

Besarnya PPhadalah 20% dari diskonto SPN bagi WP dalam negeri dan BUT
atau sesuai tariff ketentuan P3B yang berlaku bagi WP luar negri. Pemotongan
PPh tersebut dilakukan oleh:

Penerbit SPN (Emiten) atau custodian yang ditunjuk selaku agen pembayar
atas diskonto SPN yang diterima premegang SPN saat jatuh tempo

Perusahaan Efek (broker) atau Bank selaku pedagang perantra maupun


selaku pembeli , atas diskonto SPN yang diterima pasar sekunder
Tetapi apanila diskonto SPN diterima/diperoleh WP:

Bank didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia

Dana pension yang pendirian/pembentukkannya telah disahkan oleh menteri


keuangan

Reksadana yang terdaftar pada Bapepam selama 5 tahun pertama sejak


pendirian

perusahaan

atau

pemberian

izin

usaha

tidak

dilakukan

pemotongan final.
2) Penghasilan dari transaksi bunga obligasi sesuai dengan PP 16 Tahun 2009 jo.
PMK-85/PMK.03/2011 tentang PPh atas penghasilan berupa bunga obligasi yang
mulai berlaku 1 Januari 2009
Besarnya PPh adalah sebagai berikut :
a. Bunga dari obligasi dengan kupon (interest bearing debt securities) sebesar :
15% bagi WP dalam negeri dan BUT
20% atas sesuai tariff P3B bagi WP luar negeri salain BUT. Dari jumlah bruto
bunga sesuai dengan masa kepemilikan (holding period) obligasi.
b. Diskonto dari obligasi dengan kupon (interest bearing debt securities) sebesar :
15% bagi WP dalam negri dan BUT
20% atau sesuai tariff P3B bagi WP luar negeri selain BUT

Dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi
tidak termasuk bunga berjalan (accrued interest)
c. Diskonto obligasi tanpa bunga (non-interest bearing debt securities) sebesar :
-

15% bagi WP dalam negeri dan BUT

20% atau sesuai P3B bagi WP luar negeri selain BUT

BAB III
ANALISIS
PT. INDOFOOD CBP SUKSES MAKMUR Tbk DAN ENTITAS ANAKNYA LAPORAN
POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN Tanggal 31 Desember 2014 (Disajikan dalam
Jutaan Rupiah. Kecuali Dinyatakan Lain)
31 Desember 2014
ASET
ASET LANCAR
Kas dan setara kas

7.342.986

Investasi jangka pendek

59.520

Piutang
Usaha
Pihak ketiga neto

977.421

Pihak berelasi

1.718.119

Bukan usaha
Pihak ketiga

85.715

Pihak berelasi

120.947

Persediaan neto

2.821.618

Uang muka dan jaminan

179.271

Pajak dibayar di muka

118.348

Beban dibayar di muka dan asset lancar lainnya

179.582

Total Aset lancar

13.603.527

Dari Laporan Posisi Keuangan perusahaan tersebut, tercatat investasi jangka


pendek sebesar 59.520, didalam keterangan Catatan Atas Laporan keuangan Konsolidasian
(CALK) pada halaman 10 poin b menjelaskan bahwa perusahaan mencatatkan seluruh
saham yang telah

dikeluarkan perusahaan pada Bursa Efek Indonesia. Hal ini berarti

bahwa nilai investasi jangka pendek tersebut secara otomatis telah dipotong pajak oleh
penyelenggara bursa efek pada saat transaksi jual beli saham. Pihak penyelenggara bursa
efek yang akan membayar atau menyetor PP pasal 4 ayat (2) tersebut ke kas Negara
menggunakan SSP dan melaporkannya ke KPP menggunakan SPT masa PPh Pasal 4 ayat
(2).
Capital gain adalah keuntungan transkasi saham yang dikenakan pajak penghasilan.
Hal ini sesuai dengan UU No. 7 tahun 1983 jo. UU No. 10 tahun 1994 Pasal 4 ayat 1 : yang
menjadi obyek pajak adalah penghasilan,yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh WP,baik yang berasal dari Indonesia, yang dapat dipakai atau
menambah atau menambah kekayaan WP ybs, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Besarnya PPh yang akan dipungut dari transaksi penjualan saham di bursa efek dipungut
bersifat final sebesar 0,1% dari bruto nilai transaksi penjualan. Sedangkan untuk saham
pendiri pemilik dikenakan tambahan sebesar 0,5% dari nilai saham perusahaan.
Dalam praktiknya atau penerapan pencatatannya dapat dilihat di CALK perusahaan
pada halaman 11. di halaman tersebut ada penjelasan mengenai penawaran umum efek
perusahaan poin a,b, yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Pada tanggal 28 30 September 2010, perusahaan melakukan penawaran umum
perdana saham (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.166.191.000 saham baru atau
sebesar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengam
harga penawaran sebesar Rp. 5.395 (angka penuh) per saham (atau nilai
keseluruhan sebesar Rp. 6.291.600). Pada tanggal 7 Oktober 2010 Perusahaan
mencatatkan seluruh saham yang telah dikeluarkan Perusahaan pada Bursa Efek
Indonesia.
b. Pada bulan Desember 2010, Februari 2011 dan September 2011, ISM membeli
sebagian saham perusahaan sebanyak 33.576.000 saham dari public, sehingga
kepemilikan ISM terhadap perusahaan meningkat dari 80,00% menjadi 80,58%.
Pada bulan Januari 2012, ISM menjual kepemilikan saham di Perusahaan sebanyak
2.500.000 saham. Dengan demikian kepemilikan ISM terhadap perusahaan menurun
dari 80,58% menjadi 80,53%.
Untuk pencatatan jurnalnya dalam Investasi pada saham, ada 2 metode yang
digunakan, yaitu:
1. Metode Biaya (Nilai Perolehan)
Apabila suatu perusahaan hanya memiliki sebagian kecil saja dari saham yang beredar
dan tida ada pentunjuk-petunjuk lain bahwa control ini memang ada,maka investasi ini
dicatat menggunakan metode biaya (cost method). Perusahaan yang memiliki saham
kurang dari 20% di anggap tidak memiliki pengaruh yang signifikan dan dengan

demikian tidak dapat melakukan control. Dalam metode biaya investasi dicatat sebesar
harga perolehannya. Pendapatan dari perusahaan anak diakui dan dicatat pada
deviden telah diputuskan akan dikeluarkan.
2. Metode Ekuitas (Nilai Terendah antara Nilai Perolehan dengan Harga Pasar)
Apabila investasi dari perusahaan lain tidak cukup besar untuk melakukan control
secara penuh, tetapi pada tingkatan tertentu control atau pengaruh yang cukup berarti
dapat dilakukan maka investasi jangka panjang yang bersangkutan dilaporkan dengan
metode ekuitas (Equity Method). Berbeda dengan metode biaya, didalam metode
ekuitas laba yang dihasilkan perusahaan anak diakui dan dicatat sebagai penambahan
investasi. Apabila deviden yang dikeluarkan maka bagian yang diterima dicatat sebagai
pengurang, dengan demikian saldo akun investasi akan bertambah dengan bagian laba
yang dihasilkan kurang dengan deviden yang dibayarakan perusahaan anak.
Didalam penerapan pada PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk,

tidak dijelaskan

perusahaan menggunakan metode yang mana, namun dilihat dari transaksi investasi saham
yang dilakukan menurut perpajakan, perusahaan menggunakan metode biaya berdasarkan
harga perolehan. Karena metode ekuitas tidak diperkenankan untuk keperluan perpajakan,
sebab bertentangan dengan historisnya yang dianut dalam perpajakan. Penilaian investasi
jangka pendek menurut perpajakan didasarkan pada nilai perolehannya.
Jurnal penjualan bukan saham pendiri:
Kas

xxx

PPh Pasal 4 ayat (2)

xxx

Investasi dalam saham PT. ISM

xxx

Jurnal penjualan saham pendiri:


Kas

xxx

PPh Pasal 4 ayat (2)

xxx

Saham biasa

xxx

BAB IV
KESIMPULAN

Laporan Posisi Keuangan perusahaan Indofood investasi jangka pendek sebesar


59.520, perusahaan mencatatkan seluruh saham yang dikeluarkan pada keterangan CALK.
Dapat ditarik kesimpulan nilai investasi jangka pendek secara otomatis telah dipotong pajak
penyelenggara bursa efek pada saat transaksi jual beli saham. Pihak penyelenggara bursa
efek yang akan membayar atau menyetor PP pasal 4 ayat (2) tersebut ke kas Negara
menggunakan SSP dan melaporkannya ke KPP menggunakan SPT masa PPh Pasal 4 ayat
(2).
Besarnya PPh yang akan dipungut dari transaksi penjualan saham di bursa efek
dipungut bersifat final sebesar 0,1% dari bruto nilai transaksi penjualan. Sedangkan untuk
saham pendiri pemilik dikenakan tambahan sebesar 0,5% dari nilai saham perusahaan.
Penerpan pencatatannya dapat dilihat di CALK perusahaan terdapat penjelasan
mengenai penawaran umum efek perusahaan yang dijelaskan sebagai berikut:
c. Pada tanggal 28 30 September 2010, perusahaan melakukan penawaran umum
perdana saham (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.166.191.000 saham baru atau
sebesar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengam
harga penawaran sebesar Rp. 5.395 (angka penuh) per saham (atau nilai
keseluruhan sebesar Rp. 6.291.600). Pada tanggal 7 Oktober 2010 Perusahaan
mencatatkan seluruh saham yang telah dikeluarkan Perusahaan pada Bursa Efek
Indonesia.
d. Pada bulan Desember 2010, Februari 2011 dan September 2011, ISM membeli
sebagian saham perusahaan sebanyak 33.576.000 saham dari public, sehingga
kepemilikan ISM terhadap perusahaan meningkat dari 80,00% menjadi 80,58%.
Pada bulan Januari 2012, ISM menjual kepemilikan saham di Perusahaan sebanyak
2.500.000 saham. Dengan demikian kepemilikan ISM terhadap perusahaan menurun
dari 80,58% menjadi 80,53%.
Untuk pencatatan jurnalnya dalam Investasi pada saham, ada 2 metode yang
digunakan, yaitu:
3. Metode Biaya (Nilai Perolehan)
Apabila suatu perusahaan hanya memiliki sebagian kecil saja dari saham yang beredar
dan tida ada pentunjuk-petunjuk lain bahwa control ini memang ada,maka investasi ini
dicatat menggunakan metode biaya (cost method).
4. Metode Ekuitas (Nilai Terendah antara Nilai Perolehan dengan Harga Pasar)
Apabila investasi dari perusahaan lain tidak cukup besar untuk melakukan control
secara penuh, tetapi pada tingkatan tertentu control atau pengaruh yang cukup berarti
dapat dilakukan maka investasi jangka panjang yang bersangkutan dilaporkan dengan
metode ekuitas (Equity Method)..

Dalam CALK PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, penerpannya tidak dijelaskan
dengan spesifik metode apa yang digunakan, namun dalam transaksi investasi saham
dilakukan menurut aturan perpajakan, perusaah ini menggunakan metode biaya
berdasarkan harga perolehan. Karena metode ekuitas tidak diperkenankan untuk
keperluan perpajakan, sebab bertentangan dengan historisnya yang dianut dalam
perpajakan. Penilaian investasi jangka pendek menurut perpajakan didasarkan pada
nilai perolehannya.

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno dan Estralita Trisnawati. 2014. Akuntansi Pajak.Jakarta : Salemba Empat.
http://rinaldy-tuhumury.blogspot.co.id/2012/10/akuntansi-investasi-efek-tertentu.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Efek_%28keuangan%29
http://www.infovesta.com/infovesta/learning/learning.jsp?id=63

https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Utang_Negara

Anda mungkin juga menyukai