Anda di halaman 1dari 64

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psikogeriatri atau psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang
memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan
psikologis atau psikiatrik pada lanjut usia. Saat ini disiplin ini sudah
berkembang menjadi suatu cabang psikiatrik, analaog dengan psikiatrik anak
(Brocklehurts, Allen, 1987). Diagnosis dan terapi gangguan mental pada
lanjut usia memerlukan pengetahuan khusus, karenakemungkinan perbedaan
dalam manisfestasi klinis, pathogenesis dan patofisiologi gangguan mental
antara pathogenesis dewasa muda dan lanjut usia (Weinberg, 1995; KolbBrodie, 1982). Faktor penyulit pada pasien lanjut usia juga perlu
dipertimbangkan, antara lain sering adanya penyakit dan kecacatan medis
kronis penyerta, pemakaian banyak obat (polifarmasi) dan peningkatan
kerentanan terhadap gangguan kognitif (Weinberg, 1995; Gunadi, 1984).
Sehubungan dengan meningkatnya populasi usia lanjut, perlu mulai
dipertimbangkan adanya pelayanan psikogeriatrik di rumah sakit yang cukup
besar. Bangsal akut, kronis dan day hospital, merupakan tiga layanan yang
mungkin harus sudah mulai difikirkan (Brocklehurts, Allen, 1987). Tentang
bagaimana kerjasama antara bidang psikogeriatrik dan geriatrik dapat dilihat
pada bab mengenai pelayanan kesehatan pada usia lanjut.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan lansia yang mengalami gangguan
psikologi dan psikososial?
1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan lansia yang
mengalami gangguan psikologi dan psikososial.

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Mengetahui definisi lansia dan psikogeatri
2. Mengetahui tentang Konsep Teori Lansia
3. Mengetahui tentang Teori Kejiwaan Lansia
4. Mengetahui tentang Teori Psikologi dan Psikososial.
5. Mengetahui tentang Teori Psikososial Lansia
6. Mengetahui

tentang Macam-macam

Masalah

Keperawatan

Psikologi dan Psikososial


7. Mengetahui tentang Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
2.1.1 Pengertian Lanjut Usia (Lansia)
1.

Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari
(Azwar, 2006).

2.

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaaan yang terjadi


didalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses
sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi
dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan
proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupannya, yaitu anak, dewasa dan tua. Tiga tahap ini
berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia
tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik
yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih,
gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas, pengelihatan
semakin memburuk, gerakan lambat dan figur tubuh yang tidak
proporsional (Nugroho, 2006).

3.

Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu


kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan
proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

4.

WHO dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang


kesejahteraan

lanjut

usia

pada

Bab

Pasal

Ayat

menyebutkan bahwa usia 60 tahun adalah usia permulaan tua.


Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses yang
berangsur-angsur mengakibatkan perubahan kumulatif, merupakan
proses

menurunya

daya

tahan

tubuh

rangsangan dari dalam dan luar tubuh.

dalam

menghadapi

2.1.2 Pengertian Psikogeatri


Psikogeriatri atau psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran yang
memperhatikan pencegahan, diagnosis, dan terapi gangguan fisik dan
psikologis atau psikiatrik pada lanjut usia. Saat ini disiplin ini sudah
berkembang menjadi suatu cabang psikiatrik, analaog dengan
psikiatrik anak (Brocklehurts, Allen, 1987).
2.2. Konsep Teori Lansia
2.2.1. Batasan Lansia
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Lanjut Usia meliputi:
a.

Usia pertengahan (Middle Age) ialah kelompok usia 45 sampai 59


tahun.

b.

Lanjut usia (Elderly) ialah kelompok usia antara 60 dan 74 tahun.

c.

Lanjut usia tua (Old) ialah kelompok usia antara 75 dan 90 tahun.

d.

Usia sangat tua (Very Old) ialah kelompok di atas usia 90 tahun.

2.2.2. Proses Menua


Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti
seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa kanak-kanak,
masa dewasa dan masa tua (Nugroho, 1992). Tiga tahapan ini berbeda baik
secara biologis maupun secara psikologis. Memasuki masa tua berarti
mengalami kemunduran secara fisik maupun secara psikis. Kemunduran fisik
ditandai

dengan

kulit

yang

mengendor,

rambut

putih,

penurunan

pendengaran, penglihatan menurun, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi


organ vital, sensitivitas emosional meningkat.
2.3. Teori Kejiwaan Lansia
2.3.1. Aktifitas atau Kegiatan (Activity Theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara
langsung. Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka

yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola
hidup) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan
hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia
pertengahan ke lanjut usia.
2.3.2. Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori
ini merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi
oleh tipe personalitiyang dimiliki.
2.3.3 Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan
ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas
maupun kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss),
yakni:

Kehilangan Peran

Hambatan Kontak Sosial

Berkurangnya Kontak Komitmen

2.4. Teori Psikologi


2.4.1. Teori Tugas Perkembangan
Havigurst (1972) menyatakan bahwa tugas perkembangan pada masa tua
antara lain adalah:

Menyesuaikan diri dengan penurunan kekuatan fisik dan kesehatan

Menyesuaikan

diri

dengan

masa

pensiun

dan

penghasilan

Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup

berkurangnya

Membentuk hubungan dengan orang-orang yang sebaya

Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan

Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes

Selain tugas perkembangan diatas, terdapat pula tugas perkembangan yang


spesifik yang dapat muncul sebagai akibat tuntutan:

Kematangan fisik

Harapan dan kebudayaan masyarakat

Nilai-nilai pribadi individu dan aspirasi

Menurut teori ini, setiap individu memiliki hirarki dari dalam diri,
kebutuhan yang memotivasi seluruh perilaku manusia (Maslow 1954).
2.4.2. Teori Individual Jung
Carl Jung (1960) menyusun sebuah teori perkembangan kepribadian dari
seluruh fase kehidupan yaitu mulai dari masa kanak-kanak, masa muda dan
masa dewasa muda, usia pertengahan sampai lansia. Kepribadian individu
terdiri dari Ego, ketidaksadaran seorang dan ketidaksadaran bersama.
Menurut teori ini kepribadian digambarkan terhadap dunia luar atau
kearah subyektif. Pengalaman-pengalaman dari dalam diri (introvert).
Keseimbangan antara kekuatan ini dapat dilihat pada setiap individu dan
merupakan hal yang paling penting bagi kesehatan mental.
2.4.3. Teori Delapan Tingkat Kehidupan
Secara Psikologis, proses menua diperkirakan terjadi akibat adanya
kondisi dimana kondisi psikologis mencapai pada tahap-tahap kehidupan
tertentu. Ericson (1950) yang telah mengidentifikasi tahap perubahan
psikologis (delapan tingkat kehidupan) menyatakan bahwa pada usia tua,
tugas

perkembangan

yang

harus

dijalani

adalah

untuk

mencapai

keeseimbangan hidup atau timbulnya perasaan putus asa. Peck (1968)


menguraikan lebih lanjut tentang teori perkembangan Erikson dengan

mengidentifikasi tugas penyelarasan integritas diri dapat dipilih dalam tiga


tingkat yaitu : pada perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi,
perubahan tubuh terhadap pola preokupasi, dan perubahan ego terhadap ego
preokupasi.
Pada tahap perbedaan ego terhadap peran pekerjaan preokupasi, tugas
perkembangan yang harus dijalani oleh lansia adalah menerima identitas diri
sebagai orang tua dan mendapatkan dukungan yang adekuat dari lingkungan
untuk menghadapi adanya peran baru sebagai orang tua (preokupasi). Adanya
pensiun dan atau pelepasan pekerjaan merupakan hal yang dapat dirasakan
sebagai sesuatu yang menyakitkan dan dapat menyebabkan perasaan
penurunan harga diri dari orang tua tersebut.
2.5. Teori Psikososial Lansia
2.5.1. Definisi
Perkembangan psikososial lanjut usia adalah tercapainya integritas diri
yang utuh. Pemahaman terhadap makna hidup secara keseluruhan membuat
lansia berusaha menuntun generasi berikut (anak dan cucunya) berdasarkan
sudut pandangnya. Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa
putus asa dan menyesali masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya
bermakna (Anonim, 2006). Sedangkan menurut Erikson yang dikutip oleh
Arya (2010) perubahan psikososial lansia adalah perubahan yang meliputi
pencapaian keintiman, generatif dan integritas yang utuh.
2.5.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Psikososial Lansia
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan
psikososial lansia menurut Kuntjoro (2002), antara lain:
1.

Penurunan Kondisi Fisik


Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi
adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology),
misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi
makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik

seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara


berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan
fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang

selanjutnya

dapat

menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam


kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka
perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik
maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk
mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia
harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur,
istirahat dan bekerja secara seimbang.
2.

Penurunan Fungsi dan Potensial Seksual


Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali
berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti:
a.

Gangguan jantung

b.

Gangguan metabolisme, misal diabetes mellitus

c.

Vaginitis

d.

Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi

e.

Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu

makan sangat kurang


f.

Penggunaan obat-obat tertentu, seperti antihipertensi, golongan

steroid, tranquilizer
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain:
a.

Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual

pada lansia.
b.

Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta

diperkuat oleh tradisi dan budaya .


c.

Kelelahan

kehidupannya.

atau kebosanan

karena

kurang variasi

dalam

d.

Pasangan hidup telah meninggal

e.

Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah

kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun dsb.


3.

Perubahan Aspek Psikososial


Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami
penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga
menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara
fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan
dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat
bahwa lansia menjadi kurang cekatan.
Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga
mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan
kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan
berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1)

Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya

tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai
sangat tua.
2)

Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini

ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada


masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi
pada dirinya
3)

Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe

ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan


keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi
jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan
menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4)

Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini

setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya,

banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara


seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi moratmarit.
5)

Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy), pada lansia

tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit


dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.
4.

Perubahan Yang Berkaitan Dengan Pekerjaan


Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.
Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati
hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan
sebaliknya,

karena

pensiun

sering

diartikan

sebagai

kehilangan

penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri.


Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada point tiga di atas.
Bagaimana menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental
setelah lansia? Jawabannya sangat tergantung pada sikap mental individu
dalam menghadapi masa pensiun. Dalam kenyataan ada menerima, ada
yang takut kehilangan, ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua
dan ada juga yang seolah-olah acuh terhadap pensiun (pasrah). Masingmasing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masing-masing
individu,

baik

positif

maupun

negatif.

Dampak

positif

lebih

menenteramkan diri lansia dan dampak negatif akan mengganggu


kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif
sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan
kegiatan-kegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu
untuk masuk kerja atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan
tersebut dilakukan secara berencana, terorganisasi dan terarah bagi
masing-masing orang yang akan pensiun. Jika perlu dilakukan assessment
untuk menentukan arah minatnya agar tetap memiliki kegiatan yang jelas
dan positif. Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki
masa lansia dapat dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah

minatnya masing-masing. Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka


usaha sendiri yang sangat banyak jenis dan macamnya. Model pelatihan
hendaknya bersifat praktis dan langsung terlihat hasilnya sehingga
menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping pekerjaan yang
selama ini ditekuninya, masih ada alternatif lain yang cukup menjanjikan
dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membayangkan bahwa
setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan
berkurang dan sebagainya.
5.

Perubahan Dalam Peran Sosial Di Masyarakat


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan,
gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan
kecacatan pada lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran
sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering
menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu
mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih
sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika
keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan
orang lain dan kdang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna
serta merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga
perilakunya seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya
lansia yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran)
masih sangat beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit,
sanak saudara bahkan kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care)
dengan penuh kesabaran dan pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak
punya keluarga atau sanak saudara karena hidup membujang, atau punya
pasangan hidup namun tidak punya anak dan pasangannya sudah
meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri, seringkali menjadi
terlantar. Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk
pemeliharaan dan perawatan bagi lansia di samping sebagai long stay

rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain


perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan
dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup
sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lansia
2.6. Macam-macam Masalah Keperawatan Psikologi dan Psikososia
2.6.1. Depresi
2.6.1.1. Pengertian
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu rnakan, psikomotor, konsentrasi,
keielahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kap'an
dan Sadock, 1998). Depresi adalah suatu perasaan sedih dan pesimis yang
berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Nugroho, 2000).
Menurut Hudak & Gallo (1996), gangguan depresi merupakan keluhan umum
pada lanjut usia dan merupakan penyebab tindakan bunuh diri.
Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh kesedihan,
harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa, perasaan kosong (Keliat, 1996).
Sedangkan menurut Hawaii (1996;, depresi adalah bentuk gangguan kejiwaan
pada alam perasaan (mood), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan,
ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguna, dan putus asa. Depresi adalah
suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan (Stuart dan
Sundeen, 1998).
2.6.1.2. Tanda Dan Gejala Depresi
Perilaku yang berhubungan dengan depresi menurut Kelliat (1996)
meliputi beberapa aspek seperti:
1.

Afektif

Kemarahan,

ansietas,

apatis,

kekesalan,

penyangkalan

perasaan,

kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian,


harga diri rendah, kesedihan.
2.

Fisiologik

Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing, keletihan,


gangguan pencernaan, insomnia, perubahan haid, makan berlebihan/kurang,
gangguan tidur, dan perubahan berat badan.
3.

Kognitif

Ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan


minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri sendiri, pikiran
yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis, ketidakpastian.
4.

Perilaku

Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan tingkat aktivitas, kecanduan obat,


intoleransi, mudah tersinggung, kurang spontanitas, sangat tergantung,
kebersihan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menangis, dan menarik
diri.
Menurut PPDGJ-III (Maslim,1997), tingkatan depresi ada 3 berdasarkan
gejala-gejalanya yaitu:
1.

Depresi Ringan

Gejala :

Kehilangan minat dan kegembiraan

Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah


lelah dan menurunnya aktivitas.

2.

Kosentrasi dan perhatian yang kurang

Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang


Depresi Sedang

Gejala :

Kehilangan minat dan kegembiraan

Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah


lelah dan menurunnya aktivitas.

Kosentrasi dan perhatian yang kurang

Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang

Pandangan masa depan yang suram dan pesimis

3.

Depresi Berat

Gejala :

Mood depresif

Kehilangan minat dan kegembiraan

Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah


lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan
menurunnya aktivitas.

Konsentrasi dan perhatian yang kurang

Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis

Perbuatan yang membahayakan dirinya sendiri atau bunuh diri

Tidur terganggu

Disertai waham, halusinasi

Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu


2.6.1.3. Karakteristik Depresi Pada Lanjut Usia

Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia,- depresi ini sering di


diagnosis salah atau diabaikan. Rata-rata 60-70% lanjut usia yang
mengunjungi praktik dokter umum adalah mereka dengan depresi, tetapi ;
acapkali tidak terdeteksi karena lansia lebih banyak memfokuskan pada
keluhan badaniah yang sebetulnya ; adalah penyerta darigangguan emosi
(Mahajudin, 2007).
Menurut Stanley & Beare (2007), sejumlah faktor yang menyebabkan
keadaan ini, mencakup fakta bahwa depresi pada lansia dapat disamrkan atau
tersamarkan oleh gangguan fisik lainnya (masked depression). Selain itu
isolasi sosial, sikap orang tua, penyangkalan pengabaian terhadap
proses penuaan normal menyebabkan tidak terdeteksi dan tidak tertanganinya
gangguan ini. Depresi pada orang lanjut usia dimanifestasikan dengan adanya
keluhan tidak merasa berharga, sedih yang berlebihan, murung, tidak
bersemangat, merasa kosong, tidak ada harapan, menuduh diri, ide-ide pikiran
bunuh diri dan pemilihan diri yang kurang bahkan penelantaran diri (Wash,
1997).
Samiun (2006) menggambarkan gejala-gejala depresi pada lansia :
1.

Kognitif
Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognif pada lansia yang

menunjukkan gejala depresi. Pertama, individu yang mengalami depresi


memiliki self-esteem yang sangat rendah. Mereka berpikir tidak adekuat,
tidak mampu, merasa dirinya tidak berarti, merasa rendah diri dan merasa
bersalah terhadap kegagalan yang dialami. Kedua, lansia selalu pesimis
dalam menghadapi masalah dan segala sesuatu yang dijalaninya menjadi
buruk dan kepercayaan terhadap dirinya (self-confident) yang tidak adekuat.
Ketiga, memiliki motivasi yang kurang dalam menjalani hidupnya, selalu
meminta bantuan dan melihat semuanya gagal dan sia-sia sehingga merasa
tidak ada gunanya berusaha. Keempat, membesar-besarkan masalah dan
selalu pesimistik menghadapi masalah. Kelima, proses berpikirnya menjadi
lambat, performance intelektualnya berkurang. Keenam, generalisasi dari
gejala depresi, harga diri rendah, pesimisme dan kurangnya motivasi.

2.

Afektif
Lansia yang mengalami depresi merasa tertekan , murung, sedih,

putus asa, kehilangan semangat dan muram. Sering merasa terisolasi,


ditolak dan tidak dicintai. Lansia yang mengalami depresi menggambarkan
dirinya berada dalam lubang gelap yang tidak dapat terjangkau dan tidak
dapat keluar dari sana.
3.

Somatik
Masalah somatik yang sering dialami lansia yang mengalami

depresi seperti pola tidur yang terganggu ( insomnia ), gangguan pola makan
dan dorongan seksual yang berkurang. Lansia lebih rentan terhadap
penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya melemah, selain karena aging
proces juga karena orang yang mengalami depresi menghasilkan sel darah
putih yang kurang (Schleifer et all, 1984 ; Samiun, 2006).
4.

Psikomotor
Gejala psikomotor pada lansia depresi yang dominan adalah

retardasi motor. Sering duduk dengan terkulai dan tatapan kosong tanpa
ekspresi, berbicara sedikit dengan kalimat datar dan sering menghentikan
pembicaraan karena tidak memiliki tenaga atau minat yang cukup untuk
menyelesaikan kalimat itu. Dalam pengkajian depresi pada lansia, menurut
Sadavoy et all (2004) gejala-gejala depresi dirangkum dalam
SIGECAPS yaitu gangguan pola tidur (sleep) pada lansia yang dapat berupa
keluhan susah tidur, mimpi buruk dan bangun dini dan tidak bisa tidur lagi,
penurunan minat dan aktifitas (interest), rasa bersalah dan menyalahkan diri
(guilty), merasa cepat lelah dan tidak mempunyai tenaga (energy),
penurunan konsentrasi dan proses pikir (concentration), nafsu makan
menurun

(appetite),

gerakan

lamban

dan

sering

duduk

(psychomotor) dan penelantaran diri serta ide bunuh diri (suicidaly)


2.6.1.4. Penyebab Depresi
Menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), faktor penyebab depresi ialah :

terkulai

A. Faktor Predisposisi
1.

Faktor genetik, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif

melalui riwayat keluarga dan keturunan.


2.

Teori agresi menyerang kedalam, menunjukkan bahwa depresi terjadi

karena perasaan marah yang ditunjukkan kepada diri sendiri.


3.

Teori kehilangan obyek, menunjuk kepada perpisahan traumatika

individu dengan benda atau yang sangat berarti.


4.

Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri

yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan
penilaian seseorang terhadap stressor.
5.

Model kognitif, menyatakan bahwa depresi merupakan masalah

kognitif yang di dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri


sesorang, dunia seseorang dan masa depan seseorang.
6.

Model ketidakberdayaan yang dipelajari ( learned helplessness ),

menunjukkkan bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi


keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang
penting dalam kehidupannya, oleh karena itu ia mengulang respon yang
tidak adaptif.
7.

Model perilaku, berkembang dari teori belajar sosial, yang

mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif


dalam berinteraksi dengan lingkungan.
8.

Model biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang

terjadi selama depresi, termasuk definisi katekolamin, disfungsi endokri,


hipersekresi kortisol, dan variasi periodik dalam irama biologis.
B.

Stresor Pencetus
Ada 4 sumber utama stresor yang dapat mencetuskan gangguan alam

perasaan ( depresi ) menurut Stuart dan Sundeen ( 1998 ), yaitu :

1.

Kehilangan keterikatan yang nyata atau dibayangkan, termasuk

kehilangan cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukan atau harga diri. Karena
elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi
seseorang merupakan hal sangat penting.
2.

Peristiwa besar dalam kehidupan, hal ini sering dilaporkan sebagai

pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalahmasalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3.

Peran dan ketegangan peran telah dilaporka mempengaruhi

perkembangan depresi, terutama pada wanita.


4.

Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau berbagai

penyakit fisik. Seperti infeski, neoplasma, dan gangguan keseimbangan


metabolik, dapat mencentuskan gangguan alam perasaan. Diantara obatobatan tersebut terdapat obat anti hipertensi dan penyalahgunaan zat yang
menyebabkan kecanduan. Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan
tubuh juga sering disertai depresi.
Menurut Townsed (1998), penyebab depresi adalah gabungan dari
faktor predisposisi (teori biologis terdiri dari genetik dan biokimia), dan
faktor pencetus (teori psikososial terdiri dari psikoanalisis, kognitif, teori
pembelajaran, teori kehilangan objek).
2.6.1.5. Penyebab Depresi Pada Lanjut Usia
Depresi pada lansia merupakan permasalahan kesehatan jiwa
(mental health) yang serius dan kompleks, tidak hanya dikarenakanaging
process tetapi juga faktor lain yang saling terkait. Sehingga dalam mencari
penyebab depresi pada lansia harus dengan multiple approach. Menurut
Samiun (2006) ada 5 pendekatan yang dapat menjelaskan terjadinya depresi
pada lansia yaitu :
1.

Pendekatan Psikodinamik
Salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan mencintai dan

dicintai, rasa aman dan terlindung, keinginan untuk dihargai, dihormati dan

lain-lain. Menurut Hawari (1996), seseorang yang kehilangan akan


kebutuhan afeksional tersebut (loss of love object) dapat jatuh dari
kesedihan yang dalam. Sebagai contoh seorang kehilangan orang yang
dicintai

(terhadap

suami

atau

istri

yang

meninggal),

kehilangan

pekerjaan/jabatan dan sejenisnya akan dan menyebabkan orang itu


mengalami kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang diikuti oleh rasa
sesal, bersalah dan seterusnya, yang pada gilirannya orang akan jatuh dalam
depresi.
Freud mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai reaksi
terhadap kehilangan. Perasaan sedih dan duka cita sesudah kehilangan objek
yang dicintai (loss of love object), tetapi seringkali mengalami perasaan
ambivalensi terhadap objek tersebut (mencintai tetapi marah dan benci
karena telah meninggalkan). Orang yang mengalami depresi percaya bahwa
intropeksi merupakan satu-satunya cara ego untuk melepaskan suatu objek,
sehingga sering mengritik, marah dan menyalahkan diri karena kehilangan
objek tadi (Kaplan et all, 1997). Depresi yang terjadi pada lanjut usia adalah
dampak negatif kejadian penurunan fungsi tubuh dan perubahan yang terjadi
terutama perubahan psikososial. Perubahan-perubahan tersebut diatas
seringkali menjadi stresor bagi lanjut usia yang membutuhkan adaptasi
biologis dan biologis. Menurut Maramis (1995), pada lanjut usia
permasalahan yang menarik adalah kurangnya kemampuan dalam
beradaptasi secara psikologis terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya.
Penurunan

kemampuan

beradaptasi

terhadap

perubahan

dan

stres

lingkungan sering menyebabkan depresi.


Strategi adaptasi yang seringkali digunakan lansia yang mengalami
depresi adalah strategi pasif (defence mcanism) seperti menghindar,
menolak, impian, displacement dan lain-lain (Coyne ett all, 1981 ; Samiun,
2006). Hubungan stress dan kejadian depresi seringkali melibatkan
dukungan sosial (social support) yang tersedia dan digunakan lansia dalam
menghadapi stresor. Ada bukti bahwa individu yang memiliki teman akrab
dan dukungan emosional yang cukup, kurang mengalami depresi bila
berhadapan dengan stres (Billings, et all, 1983 ; Samiun , 2006).

2.

Pendekatan Perilaku Belajar


Salah satu hipotesis untuk menjelaskan depresi pada lansia adalah

individu yang kurang menerima hadiah (reward) atau penghargaan dan


hukuman (punishment) yang lebih banyak dibandingkan individu yang idak
depresi (Lewinsohn, 1974 ; Libet & Lewinsohn, 1997 ; Samiun, 2006).
Dampak dari kurangnya hadiah dan hukuman yang lebih banyak
ini

mengakibatkan

lansia

merasakan

kehidupan

yang

kurang

menyenangkan, kecenderungan memiliki self-esteem yang kurang dan


mengembangkan self-concept yang rendah. Hadiah dan hukuman bersumber
dari lingkungan (orang-orang dan peristiwa sekitar) dan dari diri sendiri.
Situasi akan bertambah buruk jika seseorang menilai hadiah yang diterima
terlalu rendah dan hukuman yang diterima terlalu tinggi terutama untuk
tingkah laku mereka sendiri, sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan
antara nilai reward dan punishment itu. Peran hadiah dan hukuman
terhadap diri sendiri yang tidak tepat dapat menimbulkan depresi (Rehm,
1997 ; Wicoxon, et all, 1997 ; Samiun 2006).
Faktor lain dari lingkungan yang berkenaan dari hadiah dan
hukuman adalah seseorang jika pindah ke tempat lain yang dapat
mengakibatkan kehilangan sumber-sumber hadiah dan perubahan dari
tingkah laku yang mendapat hadiah sehingga aktifitas yang sebelumnya
dihadiahi menjadi tidak berguna. Standar untuk hadiah dan hukuman yang
meningkat menyebabkan performansi yang diperlukan untuk mendapat
hadiah lebih tinggi. Kehilangan hadiah yang sebelumnya diterima dapat
menyebabkan depresi apabila sumber alternatif untuk mendapat hadiah
tidak ditemukan.
3.

Pendekatan Kognitif
Menurut Beck (1967 ; 1976), Samiun (2006), seseorang yang

mengalami depresikarena memiliki kemapanan kognitif yang negatif


(negative cognitive sets) untuk menginterpretasikan diri sendiri, dunia dan
masa depan mereka. Misalnya, seseorang yang berhasil mendapatkan
pekerjaan akan mengabaikan keberhasilan tersebut dan menginterpretasikan

sebagai suatu yang kebetulan dan tetap memikirkan kegagalannya. Akibat


dari persepsi yang negatif itu, individu akan memiliki self-concept sebagai
seorang yang gagal, menyalahkan diri, merasa masa depannya suram dan
penuh dengan kegagalan. Masalah utam pada lansia yang depresi adalah
kurangnya rasa percaya diri (self-confidence) akibat persepsi diri yang
negatif (Townsend, 1998).
Negative cognitive sets digunakan individu secara otomatis dan
tidak menyadari adanya distorsi pemikiran dan adanya interpretasi
alternative yang lebih positif, sehingga menyebabkan tingkat aktifitas
berkurang karena merasa tidak ada alasan berusaha. Individu menjadi tidak
dapat mengontrol aspek-aspek negative dari kehidupannya dan merasa tidak
berdaya (helplessness). Perasaan ketidakberdayaan ini yang menyebabkan
depresi (Abramson, 1978; Peterson, 1984; Samiun, 2006).
Menurut

Kaplan

et

all

(1997),

Interpretasi

yang

keliru (misinterpretation) kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi


negative pengalaman hidup, penilaian diri yang negative, pesimistis dan
keputusasaan. Pandangan

negative

dan

ketidakberdayaan

yang

dipelajari (learned helplessness)tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan


depresi. Pengalaman awal memberikan dasar pemikiran diri yang negative
dan ketidakberdayaan ini, sepertio pola asuh orang tua, kritik yang terus
menerus tanpa diimbangi dengan pujian, dan kegagalan-kegagalan yang
sering dialami individu (Beck, et al., 1979; Samiun, 2006).
4.

Pendekatan Humanistik Eksitensial


Teori humanistic dan eksistensial berpendapat bahwa depresi

terjadi karena adanya ketidakcocokan antarareality self dan ideal self.


Individu yang menyadari jurang yang dalam antara reality self dan ideal
self dan tidak dapat dijangkau, sehingga menyerah dalam kesedihan dan
tidak berusaha mencapai aktualisasi diri.
Menyerah merupakan factor yang penting terjadinya depresi.
Individu merasa tidak ada lagi pilihan dan berhenti hidup sebagai seeorang

yang real. Pada lansia yang gagal untuk bereksistensi diri menyadari bahwa
mereka tidak mau berada pada kondisinya sekarang yang mengalami
perubahan dan kurang mampu menyesuaikan diri, sehingga kehidupan fisik
mereka segera berakhir. Kegagalan bereksistensi ini merupakan suatu
kematian simbolis sebagai seseorang yang real.
5.

Pendekatan Fisiologis
Teori fisiologis menerangkan bahwa depresi terjadi karena aktivitas

neurologis yang rendah (neurotransmiter norepinefrin dan serotonin) pada


sinaps-sinaps otak yang berfungsi mengatur kesenangan. Neurotransmitter
ini memainkan peranan penting dalam fungsi hypothalamus, seperti
mengontrol tidur, selera makan, seks dan tingkah laku motor (Sachar, 1982;
Samiun, 2006), sehingga seringkali seseorang yang mengalami depresi
disertai dengan keluhan-keluhan tersebut.
Pendekatan genetic terhadap kejadian depresi dengan penelitian
saudara kembar. Monozogotik Twins (MZ) berisiko mengalami depresi 4,5
kali lebih besar (65%) daripada kembar bersaudara (Dizigotik Twins/DZ)
yang 14% (Nurberger & Gershon, 1982; Samiun, 2006). Secara keseluruhan
dapat dikatakan bahwa secara genetic depresi itu diturunkan.
Menurut Mangoenprasodjo (2004), depresi pada lansia merupakan
perpaduan interaksi yang unik dari berkurangnya interaksi social, kesepian,
masalah social ekonomi, perasaan rendah diri karena penurunan
kemampuan rendah diri, kemandirian, dan penurunan fungsi tubuh, serta
kesedihan ditinggal orang yang dicintai, factor kepribadian, genetic, dan
factor biologis penurunan neuron-neuron dan neurotransmitter di otak.
Perpaduan ini sebagai factor terjadinya depresi pada lansia.
Kompleksitasnya perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia, sehingga
depresi pada lansia dianggap sebagai hal yang wajar terjadi.
2.6.1.6. Depresi Lanjut Usia Pasca Kuasa (POST POWER SYNDROME)

Depresi pada pasca kuasa adalah perasaan sedih yang mendalam yang
dialami seseorang setelah mengalami pension. Salah satu factor penyebab
depresi pada pasca kuasa adalah karena adanya perubahan yang berkaitan
dengan pekerjaan atau kekuasaan ketika pension. Meskipun tujuan ideal
pension adalah agar para lansia dapat menikmati hati tua atau jaminan hari
tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pension
sering dirasakan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran,
kegiatan, status dan harga diri (Rini J, 2001). Menurut
Kuntioro (2002), reaksi setelah orang memasuki masa pension lebih
tergantung dari model kepribadiannya. Untuk mensiasati agar masa pension
tidak merupakan beban mental lansia, jawabannya adalah sangat tergantung
pada sikap dan mental individu dalam masa pensiun, dalam kenyataannya ada
yang menerima ada yang takut kehilangan ada yang merasa senang memiliki
jaminan hari tua da nada juga yang seolah-olah acuh terhadap pension
(pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi
masing-masing individu baik positif maupun negative. Dampak positif lebih
menentramkan driri lansia dan dampak negative akan mengganggu
kesejahteraan hidup.
Secara umum peristiwa kehidupan meliputi kehilangan harga diri,
gangguan interpersonal, peristiwa social yang tidak diinginkan dan gangguan
pola kehidupan yang besar. Kejadian yang tidak diinginkan juga sering
menjadi factor presipitasi depresi. Kejadian di masa lampau (perpisahan dan
segala macam kehilangan) lebih sering memperburuk gejal kejiwaan,
perubahan kesehatan fisik, gangguan penampilan peran social dan depresi
(Stuart dan Larairam, 1998).
Menurut Hawari (1996) orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang
mempunyai kekuasaan, wewenang, dan kekuatan (power). Orang yang
kehilangan jabatan berarti orang yang kehilangan kekuasaan dan kekuatan
(powerless), artinya sesuatu yang dimiliki dan dicintai kini telah tiada (loss of
love object). Dampak dari loss of love object ini adalah terganggunya
keseimbangan mental/emosional dengan manifestasi berbagai keluhn fisik,
kecemasan dan terlebih-lebih depresi. Keluhan-keluhan tersebut di atas

disertai dengan perubahan sikap dan perilaku, merupakan kumpulan gejala


yang disebut sindroma pasca kuasa (post power syndrome). Perubahan sikap
dan perilaku tersebut merupakan dampak atau keluhan psikososial dari orang
yang baru kehilangan jabatan atau kekuasaan.
Kehilangan jabatan atau kekuasaan berarti perubahan posisi, yang dahulu
kuat kini merasa lemah. Perubahan posisi ini mengakibatkan perubahan
dalam alam fikir (rasio) dan alam perasaan pada diri yang bersangkutan.
Kalau keluhan-keluhan yang bersifat fisik (somatik) dan kejiwaan
(kekecewaan atau depresi) itu sifatnya kedalam, tertutup dan tidak terbuka
maka keluhan psikososial inilah yang sering menampakan diri dalam bentuk
ucapan maupun sikap dan perilaku.
Keluhan-keluhan psikososial terjadi disebabkan karena perubahan posisi
yang mengakibatkan perubahan persepsi dari diri yang bersangkutan terhadap
kondisi psikososial di luar dirinya. Guna menghindari rasa kecewa dan tidak
senang itu, orang menggunakan mekanisme defensive antara lain berupa
makanisme proyeksi dan rasionalisasi itulah maka terjadi perubahan persepsi
seseorang terhadap kondisi psikososial sekelilingnya. Menurut Maramis
(1995), bahwa stress psikologis terutama pada jiwa, seperti kecemasan,
kekecewaan dan rasa bersalah yang menimbulkan mekanisme penyesuaian
psikologis. Mungkin pada sewaktu-waktu, hanya gejala badaniah atau gejala
psiokologik saja yang menonjol, tetapi kita harus mengingat bahwa manusia
itu senantiasa bereaksi secara holistic, yaitu bahwa seluruh manusia itu
terlibat dalam hal ini.
Karena manusia bereaksi secara holistic, maka depresi terdapat juga
komponen psikologik dan komponen somatic. Gejala-gejala psikologik ialah
menjadi pendiam, rasa sedih, pesimistis, putus asa, nafsu bekerja dan bergaul
kurang, tidak dapat mengambil keputusan lekas lupa timbul pikiran bunuh
diri. Sedangkan gejala badaniah ialah penderita kelihatan tidak senang, lelah
tak bersemangat atau apatis, bicara dan gerak-geriknya pelan dan kurang
hidup, terdapat anoreksia (kadang-kadang makan terlalu banyak sebagai
pelarian), insomnia (sukar untuk tertidur) dan konstipasi.

2.6.1.7. Faktor-faktor yang menyebabkan depresi pada lanjut usia yang tinggal
di Institusi
Terjadinya depresi pada lanjut usia yang tinggal dalam institusional seperti
tinggal di panti wreda (Endah dkk, 2003) :
a.

Faktor Psikologis
Motivasi masuk panti wreda sangat penting bagi lanjut usia untuk

menentukan tujuan hidup dan apa yang ingin dicapainya dalam kehidupan di
panti. Tempat dan situasi yang baru, orang0orang yang belum dikenal, aturan
dan nilai-nilai yang berbeda, dan keterasingan merupakan stressor bagi lansia
yang membutuhkan penyesuaian diri. Adanya keinginan dan motivasi lansia
untuk tinggal dipanti akan membuatnya bersemangat meningkatkan toleransi
dan kemampuan adaptasi terhadap situasi baru.
Menurut Maramis (1995), pada lanjut usia permasalah yang menarik
adalah kekurangan kemampuan dalam beradaptasi secara psikologis terhadap
perubahan yang terjadi pada dirinya. Penurunan kemampuan beradaptasi
terhadap perubahan dan stress lingkungan sering menyebabkan depresi.
Hubungan stress dan kejadian depresi seringkali melibatkan dukungan
social(social support) yang tersedia dan digunakan lansia dalam menghadapi
stressor. Ada bukti bahwa individu yang memiliki teman akrab dan dukungan
emosional yang cukup, kurang mengalami depresi bila berhadapan dengan
stress (Billings, et all, 1983; Samiun, 2006).
Rasa kurang percaya diri atau tidak berdaya dan selalu menganggap bahwa
hidupnya telah gagal karena harus menghabiskan sisa hidupnya jauh dari
orang-orang yang dicintai mengakibatkan lansia memandang masa depan
suram dan selalu menyesali diri, sehingga mempengaruhi kemampuan lansia
dalam beradaptasi terhadap situasi baru tinggal di institusi.
b.

Faktor Psikososial

Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi social dan


dukungan social mengakibatkan penyesuaian diri yang negative pada lansia.
Menurunnya kepasitas hubungan keakraban dengan keluarga dan
berkurangnnya interaksi dengan keluarga yang dicintai dapat menimbulkan
perasaan tidak berguana, merasa disingkirkan, tidak dibutuhkan lagi dan
kondisi ini dapat berperan dalam terjadinya depresi. Tinggal di institusi
membuat konflik bagi lansia antara integritas, pemuasan hidup dan
keputusasaan karena kehilangan dukungan social yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk memelihara dan mempertahankan kepuasan hidup
dan self-esteemnya sehingga mudah terjadi depresi pada lansia (Stoudemire,
1994).
Kemampuan adaptasi dan lamanya tinggal dipanti mempengaruhi
terjadinya depresi. Sulit bagi lansia meninggalkan tempat tinggal lamanya.
Pada lansia yang harus meninggalkan rumah tempat tinggal lamanya
(relokasi) oleh karena masalah kesehatan atau social ekonomi merupakan
pengalaman yang traumatic karena berpisah dengan kenangan lama dan
pertalian persahabatan yang telah memberikan perasaan aman dan stabilitas
sehingga sering mengakibatkan lansia merasa kesepian dan kesendirian
bahkan kemeorosotan kesehatan dan depresi (Friedman, 1995).
Pekerjaan di waktu muda dulu yang berkaitan dengan peran social dan
pekerjaannya yang hilang setelah memasuki masa lanjut usia dan tinggal di
institusi mengakibatkan hilangnya gairah hidup, kepuasaan dan penghargaan
diri. Lansia yang dulunya aktif bekerja dan memiliki peran penting dalam
pekerjaannya kemudian berhenti bekerja mengalami penyesuaian diri dengan
peran barunya sehingga seringkali menjadi tidak percaya dan rendah diri
(Rini, 2001).
c.

Faktor Budaya
Perubahan social ekonomi dan nilai social masyarakat, mengakibatkan

kecenderungan lansia tersisihkan dan terbengkalai tidak mendapatkan


perawatan dan banyak yang memilih untuk menaruhnya di panti lansia
(Darmojo

&

Martono,

2004).

Pergeseran

system

keluarga (family

system)dari extendend family ke nuclear family akibat industrialisasi dan


urbanisasi mengakibatkan lansia terpinggirkan. Budaya industrialisasi dengan
sifat mandiri dan individualis menggangap lansia sebagaitrouble maker dan
menjadi beban sehingga langkah penyelesainnya dengan menitipkan di panti.
Akibatnya bagi lansia memperburuk psikologisnya dan mempengaruhi
kesehatannya.
Tinggal di panti wreda harusnya merupakan alternative yang terakhir bagi
lansia, karena tinggal dalam keluarga adalah yang terbaik bagi lansia sesuai
dengan tugas perkembangan keluarga yang memiliki lansia untuk
mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan dan mempertahankan
ikatan keluarga antargenerasi (Duvall, 1985 yang dikutip oleh Friedman,
1998).
2.6.1.8. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia
Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang terhadap
lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai
dengan gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi depresi, harus
dilakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat
dipercayai serta valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada lansia.
Salah satu yang paling mudah digunakan untuk diinterprestasikan di
berbagai tempat, baik oleh peneliti maupun praktisi klinis adalah Geriatric
Depression Scale (GDS). Alat ini diperkenalkan oleh Yesavage pada tahun
1983 dengan indikasi utama pada lanjut usia, dan memiliki keunggulan
mudah digunakan dan tidak memerlukan keterampilan khusus dari pengguna.
Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84 % dan specificity 95 %. Tes
reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85 (Burns, 1999). Alat ini
terdiri dari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat penapisan depresi pada
lansia. GDS menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendiri
dengan menjawab ya atau tidak setiap pertanyaan, yang memrlukan
waktu sekitar 5-10 menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan alat
psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal somatic yang tidak berhubungan
dengan pengukuran mood lainnya. Skor 0-10 menunjukkan tidak ada depresi,

nilai 11-20 menunjukkan depresi ringan dan skor 21-30 termasuk depresi
sedang/berat yang membutuhkan rujukan guna mendapatkan evaluasi
psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci, karena GDS hanya merupakan
alat

penapisan.

Spesifikasi

rancangan

pernyataan

perasaan

(mood)

depresi seperti tabel berikut:


Table 6.1 Spesifikasi rancangan kuesioner GDS
Butir Soal
Parameter
Minat aktivitas
Perasaan sedih
Perasaan sepi dan bosan
Perasaan tidak berdaya
Perasaan bersalah
Perhatian/konsentrasi
Semangat atau harapan terhadap masa

Favorable
2, 12, 20, 28
16, 25
3, 4
10, 17, 24
6, 8, 11, 18, 23
14, 26, 30
13, 22

Unfavorable
27
9, 15, 19

1
29
5, 7, 21

depan

Skoring nilai 1 diberikan pada pernyataan Favorable untuk jawaban ya


dan nilai 0 untuk jawaban tidak sedangkan pernyataan Unfavorable,
jawaban tidak diberi nilai 1 dan jawaban ya diberi nilai 0.
Assasment Tool geriatric depressions scale (GDS) untuk mengkaji depresi
pada lansia sebagai berikut:
No. Pernyataan
1. Apakah bapak/ibu sekarang ini merasa puas dengan
2.

kehidupannya?
Apakah bapak/ibu telah meninggalkan banyak kegiatan atau

3.

kesenangan akhir-akhir ini?


Apakah bapak/ibu sering merasa hampa/kosong di dalam

4.
5.

hidup ini?
Apakah bapak/ibu sering merasa bosan?
Apakah bapak/ibu merasa mempunyai harapan yang baik di

6.

masa depan?
Apakah bapak/ibu merasa mempunyai pikiran jelek yang
menganggu terus menerus?

Ya

Tidak

7.
8.

Apakah bapak/ibu memiliki semangat yang baik setiap saat?


Apakah bapak/ibu takut bahwa sesuatu yang buruk akan

terjadi pada anda?


9. Apakah bapak/ibu merasa bahagia sebagian besar waktu?
10 Apakah bapak/ibu sering merasa tidak mampu berbuat apaapa?
11. Apakah bapak/ibu sering merasa resah dan gelisah?
12. Apakah bapak/ibu lebih senang tinggal dirumah daripada
keluar dan mengerjakan sesuatu?
13. Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa
depan?
14. Apakah bapak/ibu akhir0akhir ini sering pelupa?
15. Apakah bapak/ibu piker bahwa hidup bapak/ibu sekarang ini
16.
17.
18.
19.
20

menyenangkan?
Apakah bapak/ibu sering merasa sedih dan putus asa?
Apakah bapak/ibu merasa tidak berharga akhir-akhir ini?
Apakah bapak/ibu sering merasa khawatir tentang masa lalu?
Apakah bapak/ibu merasa hidup ini menggembirakan?
Apakah sulit bagi bapak/ibu untuk memulai kegiatan yang

baru?
21. Apakah bapak/ibu merasa penuh semangat?
22. Apakah bapak/ibu merasa situasi sekarang ini tidak ada
harapan?
23. Apakah bapak/ibu berpikir bahwa orang lain lebih baik
24.
25.
26.
27.

keadaannya daripada bapak/ibu?


Apakah bapak/ibu sering marah karena hal-hal yang sepele?
Apakah bapak/ibu sering merasa ingin menangis?
Apakah bapak/ibu sulit berkonsentrasi?
Apakah bapak/ibu merasa senang waktu bangun tidur dipagi

hari?
28. Apakah bapak/ibu tidak suka berkumpul di pertemuan social?
29. Apakah mudah bagi bapak/ibu membuat sesuatu keputusan?
30. Apakah pikiran bapak/ibu masih tetap mudah dalam
memikirkan sesuatu seperti dulu?

2.6.1.9. Upaya Penanggulangan Depresi Pada Lansia


Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat
perlu ditekannkan pendekatan yang mencakup fisik, psikologis, spiritual dan

sosial. Hal tersebut karena pendekatan daru satu aspek saja tidak akan
menunjang pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu
pelayanan yang komprehensif. Pendekatan inilah yang dalam bidang
kesehatan jiwa(mental health) disebut pendekatan eclectic holistik, yaitu
suatu pendekatan yang tidak tertuju pada kondisi fisik saja, akan tetapi juga
mencakup aspek psychological, psikososial, spiritual dan lingkungan yang
menyertainya. Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang menggunakan
semua upaya untuk meningkatan derajat kesehatan lanjut usia, secara utuh
dan menyeluruh (Hawari, 1996).
Ada beberapa upaya penanggulangan depresi denganeclectic holistic
approach, diantaranya:
1)

Pendekatan Psikodinamik
Focus pendekatan psikodinamik adalah penanganan terhadap konflik-

konflik yang berhubungan dengan kehilangan dan stress. Upaya penanganan


depresi dengan mengidentifikasi kehilangan dan stress yang menyebabkan
depresi, mengatasi, dan mengembangkan cara-cara menghadapi kehilangan
dan stressor dengan psikoterapi yang bertujuan untuk memulihkan
kepercayaan diri (self confidence) dan memperkuat ego. Menurut Kaplan et
all (1887), pendekatan ini tidak hanya untuk menghilangkan gejala, tetapi
juga untuk mendapatkan perubahan struktur dan karakter kepribadian yang
bertujuan untuk perbaikan kepercayaan pribadi, keintiman, mekanisme
mengatasi stressor, dan kemampuan untuk mengalami berbagai macam
emosi.
Pendekatan keagaman (spiritual) dan budaya sangat dianjurkan pada
lansia. Pemikiran-pemikiran dari ajaran agama apapun mengandung tuntunan
bagaimana dalam kehidupan di dunia ini manusia tidak terbebas dari rasa
cemas, tegang, depresi, dan sebagainya. Demikian pula dapat ditemukan
dalam doa-doa yang paada intinya memohon kepada Tuhan agar dalam
kehidupan ini manusia diberi ketenangan, kesejahteraan dan keselamatan baik
di dunia dan di akhirat (Hawari, 1996).

2)

Pendekatan Perilaku Belajar


Penghargaan atas diri yang kurang akibat dari kurangnya hadiah dan

berlebihannya hukuman atas diri dapat di atasi dengan pendekatan perilaku


belajar. Caranya dengan identifikasi aspek-aspek leingkungan yang
merupakan sumber hadiah dan hukuman. Kemudian diajarkan keterampilan
dan strategi baru untuk mengatasi, menghindari, atau mengurangi
pengalaman yang menghukum, seperti assertive training, latihan keterampilan
social, latihan relaksasi, dan latihan manajemen waktu. Usaha berkutnya
adalah peningkatan hadiah dalam hidup dengan self-reinforcement, yang
diberikan segera setelah tugas dapat diselesaikan.
Menurut Samiun (2006), ada tiga hal yang p[erlu diperhatikan dalam
pemberian hadiah dan hukuman, yaitu tugas dan teknik yang diberikan
terperinci dan spesifik untuk aspek hadiah dan hukuman dari kehidupan
tertentu dari individu. Teknik ini dapat untuk mengubah tingkah laku supaya
meningkatkan hadiah dan mengurangi hukuman, serta individu harus
diajarkan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan hadiah dan
mengurangi hukuman.

3)

Pendekatan Kognitif
Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah pandangan dan pola pikit

tentang keberhasilan masa lalu dan sekarang dengan cara mengidentifikasi


pemikiran negative yang mempengaruhi suasana hati dan tingkah laku,
menguji individu untuk menentukan apakah pemikirannya benar dan
menggantikan pikiran yang tidak tepat dengan yang lebih baik (Beck, et al,
1979;

Samiun,

2006).

Dasar

dari

pendekatan

ini

adalah

kepercayaaan (belief)individu yang terbentuk dari rangkaian verbalisasi


diri (self-talk) terhadap peristiwa/pengalaman yang dialami yang menentukan
emosi dan tingkah laku diri.

Menurut Kaplan et all (1997), upaya pendekatan ini adalah menghilangkan


episode depresi dan mencegah rekuren dengan membantu mengidentifikasi
dan uji kognisi negative, mengembangkan cara berpikir alternative, fleksibel
dan positif, serta melatih respon kognitif dan perilaku yang baru dan
penguatan perilaku dan pemikiran yang positif.
4)

Pendekatan Humanistik Eksistensial


Tugas utama pendekatan ini adalah membantu individu menyadari

kebaradaannya didunia ini dengan memperluas kesadaran diri, menemukan


dirinya kembali dan bertanggung jawab terhadap arah hidupnya. Dalam
pendekatan ini, individu yang harus berusaha membuka pintu menuju dirinya
sendiri, melonggarkan belengu deterministic yang menyebabkan terpenjara
secara psikologis (Corey, 1993; Samiun, 2006). Dengan mengeksplorasi
alternative ini membuat pandangan menjadi real, individu menjadi sadar siapa
dia sebelumnya, sekarang dan lebih mempu menetapkan masa depan.
5)

Pendekatan Farmakologis
Dari berbagai jenis upaya untuk gangguan depresi ini, maka terapi

psikofarmaka (farmakoterapi) dengan obat anti depresan merupakan pilihan


alternative. Hasil terapi dengan obat anti depresan adalah baik dengan
dikombinasikan dengan upaya psikoterapi.

2.6.4. Dementia
2.6.4.1. Pengertian
Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang
dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Grayson (2004) menyebutkan
bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan
gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga
terjadi perubahan kepribadian dan tingkahlaku.
Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan
kemampuan daya ingat dan daya pikir, dan penurunan kemampuan tersebut

menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan sehari-hari. Kumpulan


gejala yang ditandai dengan penurunan kognitif, perubahan mood dan tingkah
laku sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderita.
2.6.4.2. Etiologi
Penyebab demensia yang reversible sangat penting diketahui karena
pengobatan yang baik pada penderita dapat kembali menjalankan kehidupan
sehari-hari yang normal. Untuk mengingat berbagai keadaan tersebut telah
dibuat suatu jembatan keledai sebagai berikut:
D

Drugs (obat)

Obat sedative

Obat penenang minor atau mayor

Obat anti konvulsan

Obat anti hipertensi

Obat anti aritmia

emotional (gangguan emosi, ex: depresi)

metabolic dan endokrin

Seperti: DM

Hipoglikemia

Gangguan ginjal

Gangguan hepar

Gangguan tiroid

Gangguan elektrolit

Eye & Ear (disfungsi mata dan telinga)

Nutritional

Kekurangan vit B6 (pellagra)

Kekurangan vit B1 (sindrom wernicke)

Kekurangan vut B12 (anemia pernisiosa)

Kekurangan asam folat

Tumor dan Trauma

Infeksi

Ensefalitis oleh virus, contoh: herpes simplek

Bakteri, contoh: pnemokok

TBC

Parasit

Fungus

Abses otak

Neurosifilis

Arterosklerosis (komplikasi peyakit aterosklerosis, missal: infark

miokard, gagal jantung, dan alkohol).

Keadaan yang secara potensial reversible atau yang bias dihentikan seperti:

Intoksikasi (obat, termasuk alkohol)

Infeksi susunan saraf pusat

Gangguan metabolic

Gangguan vaskuler (demensia multi-infark)

Lesi desak ruang:

Hematoma subdural akut/kronis

Metastase neoplasma

Hidrosefalus yang bertekanan normal

Depresi (pseudo-demensia depresif)

Penyebab dari Demensia Non Reversible :


1.

2.

Penyakit Degenerative

Penyakit Alzhemeir

Demensia yang berhubungan dengan badan Lewy

Penyakit pick

Penyakit Huntingon

Kelumpuhan supranuklear progresif

Penyakit Parkinson

Penyakit Vaskuler

Penyakit serebrovaskuler oklusif (demensia multiinfark)

Penyakit Binswanger

Embolisme serebral

Arteritis

Anoksia sekunder akibat henti jantung, gagal jantung


akibat intiksikasi karbon monoksida

3.

Demensia Traumatic

Perlukaan kranio-serebral

4.

Demensia pugilistika

Sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS)

Infeksi opportunistic

Penyakit creutzfeld-jacob progresif

Kokeonsefalopati multi fokal progresif

Demensia pasca ensefalitis

Infeksi

Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari
gejala demensia adalah penyakit Alzhemeir, penyakit vaskuler (pembuluh
darah), demensia leury body, demensia frontotemporer dan 10% diantaranya
disebabkan oleh penyakit lain. Penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya
gejala demensia ada 7S, sebagian dapat disembuhkan dan sebagian besar
tidak dapat disembuhkan. 50%-60% penyebab demensia adalah penyakit
Alzhemeir. Alzhemeir adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mati
sehingga membuat signal dari otak tidak dapat ditransmisikan sebagaimana
mestinya.
2.6.4.3. Karakteristik Demensia
Menurut John (1994) bahwa lansia yang mengalami demensia juga akan
mengalami keadaan yang sama seperti orang depresi yaitu akan mengalami
deficit aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS), gejala yang sering menyertai
demensia adalah :
A. Gejala Awal

Kinerja mental menurun

Fatique

Mudah lupa

Gagal dalam tugas

B.

C.

Gejala Lanjut

Gangguan kognitif

Gangguan afektif

Gangguan perilaku

Gejala Umum

Mudah lupa

Aktivitas sehari-hari terganggu

Disorientasi

Cepat marah

Kurang konsentrasi

Resti jatuh

2.6.4.4. Klasifikasi Demensia


A.

Dementia Senilis
Kekurangan peredaran darah ke otak serta pengurangan metabolism dan

O2 yang menyertainya merupakan penyebab kelainan anatomis di otak. Pada


banyak orang terdapat kelainan aterosklerosis seperti juga yang terdapat pada
demensia senifilis, tetapi tidak diketemukan gejal-gejal demensia. Otak
mengecil terdapat suatu atrofi umum, terutama pada daerah frontal. Yang
penting ialah jumlah sel berkurang. Kadang-kadang ada kelainan otak yang
jelas, tetapi orang itu tidak psikotik, sebaliknya pada orang yang sudah jelas
demensia kadang-kadang ada sedikit kelaianan pada otak, jadi tidak selalu
ada korelasi antara besarnya kelainan histology dan beratnya gangguan
intelegensi.
1)

Gejala

Biasanya sesudah umur 60 tahun baru timbul gejala-gejala yang jelas

untuk membuat diagnose demensia senilis. Penyakit jasmaniah atau gangguan


emosi yang hebat dapat mempercepat munduran mental.

Gangguan ingatan jangka pendek, lupa tentang hal-hal yang baru

terjadi, merupakan gejala dini, juga kekurangan ide-ide dan gaya pemikiran
abstrak. Yang menjadi egosentrik dan egoistic, lekas tersinggung dan marahmarah. Kadang-kadang timbul aktivitas seksual yang berlebihan atau yang
tidak pantas, sesuatu tanda control berkurang atau usaha untuk kompensasi
psikologis.

Penderita menjadi acuh tak acuh terhadap pakaian dan rupanya. Ia

menyimpan barang-barang yang tidak berguna, mungkin timbul waham


bahwa ia akan dirampok, akan dirasuni atau ai miskin sekali atau tidak disuka
orang.

Orientasi terganggu dan ia mungkin pergi dari rumah dan tidak

mengetahui jalan pulang.

Penilaiannya

berkurang

sehingga

ia

dapat

menyukarkan

dan

menbahayakan lalu lintas dijalan.

Ia mungkin jadi korban penjahat karena ia mudah diajak, umpamanya

dalam hal penipuan dan sex.

Banyak menjadi gelisah waktu malam, mereka berjalan-jalan tak

bertujuan dan menjadi dekstruktif. Mungkin timbul delirium waktu malam,


ini karena penglihatan yang terbatas diwaktu gelap bila penderita dengan
demensia senilis ditaruh dalam kamar yang gelap, maka akan timbul
disorientasi.

Ingatan jangka pendek makin lama makin keras terganggu, maka makin

lama makin banyak ia lupa, sehingga penderita hidup dalam alam pikiran
sewaktu ia masih muda atau masih kecil.

Gejala jasmani: kulit menjadi tipis, keriput, dan atrofis, BB mengurang,

atrofi pada otot-otot, jalannya menjadi tidak stabil, suara kasar, dan bicaranya
jadi pelan, dan tremor pada tangan dan kepala.

Gejala psikologis: sering hanya terdapat tanda kemunduran mental

umum (demensia simplek). Tetapi tidak jarang juga terjadi kebingungan dan
delirium, atau depresi atau serta agitasi. Ada yang menjadi paranoid. Pada
presbiofrenia terutama dapat gangguan ingatan serta konvabulasi dan dapat
dianggap sebagai salah satu jenis demensia senilis dan beberapa gejala yang
menonjol dan sedikit lebih cepat.
2)

Prognosa
Tidak baik, jalannya progresif, demensia makin lama makin berat sehingga

akhirnya penderita hidup secara vegetative saja, walaupun demikian penderita


dapat hidup selama 10 tahun atau lebih setelah gejala-gejala menjadi nyata.
3)

Diagnosa
Perlu dibedakan dari arteroskelorosa otak, tapi kedua hal ini tidak jarang

terjadi bersama-sama. Pada melankolia involusi tidak didapat tanda-tanda


demensia. Kadang-kadang sindroma otak organis sebab uremia, anemia,
payah jantung atau penyakit paru-paru dapat serupa dengan psikosa senilis.
4)

Pengobatan

Pertahankan perasaan aman dan harga diri, perhatikanlah dan cobalah

memuaskan kebutuhan rasa kasih saying, rasa masuk hitungan, tercapainya


sesuatu dan rasa penuh dibenarkan serta dihargai.

Kamarnya jangan gelap gulita dan taruhlah barang-barang yang sudah

ia kenal sejak dulu untuk mempermudah orientasinya.

B.

Dementia Presenilis
Seperti namanya, maka gangguan ini gejala utamanya ialah seperti

sebelum masa senile akan dibicarakan 2 macam demensia presenilis yaitu:

1.

Penyakit Alzheimer
Penyakit Alzheimeir ini biasanya timbul antara usia 50-60 tahun. Yang

disebabkan oleh karena adanya degenerasi kortek yang difus pada otak
dilapisan luar, terutama di daerah frontal dan temporal. Atrofi otak ini dapat
dilihat pada pneumoensefalogam, system ventrikel membesar serta banyak
hawa diruang subarachnoid. Penyakit ini dimulai pelan sekali, tidak ada ciri
yang khas pada gangguan intelegensi atau pada kelainan perilaku. Terdapat
disorientasi, gangguan ingatan, emosi yang lebih, kekeliruan dalam berhitung,
dam pembicaraan sehari-hari dapat terjadi afasi, perseverasi (mengulangngulang perkataan; perbuatan tanpa guna), pembicaraan logoklonia
(pengulangan tiap suku kata akhir secara tidak teratur), dan bila sudah berat
maka penderita tidak dapat dimengerti lagi. Ada yang jadi gelisah dan
hiperaktif.
Kadang-kadang sepintas lalu timbul aproksia (kehilangan kecakapan yang
diperoleh sebelumnya untuk melakukan pekerjaan atau gerakan yang
memerlukan keterampilan), hemiplegia tau pra plegi, parese pada muka dan
spasme pada ekstremitas juga sering terjadi sehingga pada stadium akhir
timbul kontraktur. Pada fase ini sudah sangant dement dan tidak diadakan
kotak dengannya lagi. Biasanya penyakit ini berlangsung selama 5-10 tahun.
2.

Penyakit Pick
Secara patologis penyakit ini ialah atrofi dan gliosis di daerah-daerah

asosiatif. Daerah motoric, sensorik, dan daerah proyeksi secara relative dan
banyak berubah. Yang terganggu ialah daerah kortek yang secara filogenptik
lebih mudah dan yang penting buat fungsi asosiasi yang lebih tinggi. Sebab
itu yang terutama terganggu ialah pembicaraan dan proses berpikir.
Penyakit ini mungkin herediter, diperkirakan terdapat factor menjadi
pencetus dari sel-sel ganglion yang tertentu yaitu: yang genetic paling muda.
Lobus frontalis menjadi demikian atrofis sehingga kadang kelihatan seperti
ditekan oleh suatu lingkaran. Biasanya terjadi pada umut 45-60 tahun, yang
termuda yang pernah diberitakan ialah 31 tahun.

Penyakit Pick terdapat 2x lebih banyak pada kaum wanita dari pad kaum
pria. Gejala permulaan: ingatan berkurang, kesukaran dalam pemikiran dan
konsentrasi, kurang spontanitas, emosi menjadi tumpul. Penderita menjadi
acuh tak acuh, kadang-kadang tidak dapat menyesuaikan diri serta
menyelesaikan masalah dalam situasi yang baru.
Dalam waktu 1 tahun sudah terjadi demensia yang jelas. Ada yang efor,
ada yang jadi susah dan curiga. Sering terdapat gejala fokal seperti afasia,
aproksia, aleksia, tetapi gejala ini sering diselubungi oleh demensia umum.
Ciri afasia yang penting pada penyakit ini ialah terjadinya secara pelan-pelan
(tidak mendadak seperti pada gangguan pembuluh darah otak), terdapatnya
logorrhea yang spontan (yang tidak terdapat pada afasia sebab gangguan
pembuluh darah). Tidak jarang ada echolalia dan reaksi stereotip.
Pada fase lanjut demensia menjadi hebat, terdapat inkontinensia,
kemampuan buat berbicara hilang dan kekeksia yang berat. Biasanya
penderita meninggal dalam waktu 4-6 tahun karena suatu penyakit infeksi
tambahan.
Smapai sekarang tidak ada pengobatan terhadap kasus demensia presenilis.
Dapat direncanakan bantuan yang simptomatik dalam lingkungan yang
memadai. Biar gelisah dapat dipertimbangkan pemberian obat psikotropik.
2.6.4.5. Pemeriksaan Demensia
Pemeriksaan penting yang harus dilakukan untuk penderita, mulai dari
pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian status
mental dan sebagai penunjang juga diperlukan tes laboratorium.

1.

Berikut ini untuk menguji aspek-aspek Kognitif dan Fungsi Mental


Nilai

Score

Pertanyaan

Maksimum
Orientasi
5

(tahun) (musim) (tanggal) (hari) (bulan apa

sekarang)
Dimana kita: (negara bagian)(wilayah)(kota)
(rumah sakit)(lantai)

Registrasi
3

Nama 3 objek: 1 detik untuk mangatakan


masing-masing. Kemudian tanyakan klien
ketiga objek setelah anda mengatakannya.
Beri 1 poin untuk setiap jawaban yang benar.
Kemudian ulangi sampai ia mempelajari
ketiganya. Jumlahkan percobaan dan catat.

Perhatian dan
Kalkulasi
5

Seri 7s. 1 poin untuk setiap kebenaran


Berhenti setelah 5 jawaban. Bergantian eja
kata ke belakang.

Meminta
3

Minta untuk mengulang ketiga objek di atas.


Berikan 1 poin untuk setiap kebenaran.

Bahasa
9

Nama pensil dan melihat (2poin)


Mengulangi hal berikut: task ada jika, dan
atau tetapi(1 poin)

Nilai Total
Compos mentis Apatis Somnolen Soporus Koma
Keterangan:
Nilai maksimal 30, nilai 21 atau kurang biasanya indikasi adanya kerusakan
kognitif yang memerlukan penyelidikan lanjut. Kriteria demensia:

Ringan : 21 - 30

Sedang : 11 20

Berat : < 10

2.

Pemeriksaan Portabel untuk Status Mental (PPMS = MMSE = mini

mental state examination)


Daftar pertanyaan
1.
Tanggal berapakah hari ini?
(bulan, tahun)

Penilaian
0-2 kesalahan = baik
3-4 kesalahan = gangguan intelek

2.

Hari apakah ini?

ringan

3.

Apakah nama tempat ini?

5-7 kesalahan = gangguan intelek

4.

Berapa nomor telepon bapak/ibu? sedang


(bila tidak ada telepon, dijalan

8-10 kesalahan = gangguan intelek

apakah rumah bapak/ibu?)

berat

5.

Berapakah umur Bapak/Ibu?

6.

Kapan Bapak/Ibu lahir? (tanggal,


bulan, tahun)

7.

Siapakah nama gubernur kita?

Bila penderita tak pernah


sekolah, nilai kesalahan
diperbolehkan +1 dari nilai di atas.

(walikota/lurah/camat)

Bila penderita sekolah lebih dari

8.

Siapakah nama gadis ibu anda?

SMA, kesalahan yang

9.

Hitung mundur 3-3, mulai dari

diperbolehkan -1 dari nilai diatas.

20!

2.6.4.6. Penanganan Pasien Demensia


Tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi pasien
demensia aialah sebagai berikut:
a.

Terapi obat dengan pengawasan dokter

b.

Intervensi non obat :

1.

Intervensi Lingkungan

Penyesuaian fisik (bentuk ruangan, warna, alat yang tersedia).

Penyesuaian waktu (membuat jadual rutin).

Penyesuaian lingkungan malam hari (mandi air hangat, tidur teratur).

Penyesuaian indra (mata, telinga).

Penyesuaian nutrisi (makan makanan dengan gizi seimbang).

2.

Intervensi Perilaku

Wandering

Yakinkan dimana keberadaan pasien.

Berikan keleluasaan bergerak di dalam dan di luar rumah.

Gelang pengenal hendaya memory.

Agitasi dan Agresifitas

Hindari situasi yang memprovokasi

Hindari argumentasi

Sikap kita tenang dan mantap

Alihkan perhatian kenal lain

Sikap dan pertanyaan yang berulang

Tenang, dengarkan dengan baik, jawab dengan penuh pengertian. Bila

masih berulang, acuhkan dan usahankan aluhkan ke hal yang menarik.

Perilaku seksual yang tidak wajar/ sesuai

Tenang dan bombing pasien keruang pribadinya

Alihkan ke hal yang menarik perhatiannya

Bila didapatkan dalam keadaan telanjang, berilah pakaian atau selimut

untuk menutupi badannya. Bantu mengenakan baju kembali.


3.

Intervensi Psikologis

Psiko terapi individual

Psiko terapi kelompok

Psiko terapi keluarga

4.

Intervensi untuk care giver (pengasuh) diperlukan :

Dukungan mental

Pengembangan kemampuan adaptasi danpeningkatan kemandirian

Kemampuan menerima kenyataan

5.

Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi mudah lupa :

Lakukan latihan terus-menerus, berulang-ulang

Tingkatkan perhatian

Asosiasikan hal yang diingat dengan hal yang sudah ada dalam otak

6.

Aktivitas Keagamaan

7.

Mengembangkan hobi yang ada seperti melukis, memasak, main

music, berkebun, fotografi.

2.6.5. SELF-ESTEEM Lanjut Usia


2.6.5.1. Pengertian
Branden (2001) mendefinisikan self-esteem sebagai cara pandang individu
terhadap dirinya, bagaimana seseorang menerima dirinya dan menghargainya
sebagai individu yang utuh. Nilai yang kita taruh atas diri kita sendiri
berdasar penilaian kita sejauhmana memenuhi harapan diri. Harga diri yang
tinggi merupakan nilai positif yang kita lekatkan pada diri yang berakar dari
penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalah, kekalahan
dan kegagaln, tetapi tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga
(Dariuszky, 2004).

Self-esteem adalah semua ide, pikiran, kepercayaan, dan pendirian yang


diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sundeen, 1998). Termasuk
persepsi individu akan sifat dan kemampuan, interaksi dengan orang lain dan
lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan obyek, tujuan
serta keinginan (Tarwoto & Wartonah, 2003). Self-esteem dipelajari melalui
kontak social dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandagan
individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan
pandangan orang lain tentang dirinya (Stuart dan Sunden, 1993; Kelliat,
1994).
Ideal self adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku
sesuai dengan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan cita-cita,
apa yang diinginkan dan nilai yang ingin dicapai. Ideal self akan
mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma social,
keluarga dan budaya (Stuart dan Sunden, 1998).
2.6.5.2. Self-Esteem Pada Lanjut Usia
Pada usia lanjut umumnya dorongan dan kemauan masih kuat, akan tetapi
kadang-kadang

realisasinya

tidak

dapat

dilaksanakan,

karena

kelemahan (impairment), keterbatasan fungsional (functional limitations),


ketidakmampuan (disability), dan keterhambatan (handicap)akibat dari aging
process. Keinginan yang tidak dapat dilaksanakan akibat keterbatasan ini
seringkali menimbulkan keraguan dan ketidakpercayaan diri lanjut usia (lack
of self-confidence).
Menurut Dariuszky (2004), unsur penting dalam pertumbuhan perasaan
berguna dan selg-esteem seseorang adalah pengakuan (approval). Pengakuan
oleh anak-anaknya dan orang lain sangat oenting bagi lansia, yang berarti ada
penerimaan dari orang lain tentang kondisi dan perubahan pada dirinya
sebagai individu. Penerimaan orang lain menimbulkan rasa aman, penerimaan
diri (self-acceptance) dan peneguhan diri (self-affirmation) lansia sebagai
pribadi yang unik dan tetap terjaga eksistensinya. Apabila pengakuan dari
orang lain tidak didapatkan, maka lansia merasa tidak aman dan tidak dapat

menerima diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Lansia menjadi


tidak percaya diri (self-confident), selalu menanyakan eksistensi dirinya,
cenderung untuk menyalahkan diri dan memiliki self-esteem yang rendah.
Hilangnya harga diri (lack of self-esteem) timbul akibat kehilangan
symbol-simbol self-esteem yang

mempengaruhi

cara

memandang

dan

menjalani kehidupan. Pada lansia symbol-simbol self-esteem yang hilang


seperti status social, kekuasaan, peran dalam kehidupan, pekerjaan dan nilainilai yang dianut (Dariuszky, 2004). Hilangnya symbol self-esteem ini
mengakibatkan lansia merasa tidak berguna, tidak berdaya, putus asa,
kekecewaan, rasa sesal, bersalah, dan mudah jatuh dalam depresi.
Menurut Maslow (Maramis, 2004), self-esteemmerupakan salah satu
kebutuhan dari setiap individu yang harus dipenuhi untuk mencapai
aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan individu. Tetapi kebutuhan itu baru
akan dicapai apabila kebutuhan yang lebih dasar sudah terpenuhi, seperti
kebutuhan biologis, kebutuhan sandang, pangan dan papan, kebutuhan rasa
aman dan nyaman, kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan akan selfesteem berpengaruh terhadap motivasi seseorang untuk beraktifitas dan
kreatifitas untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain untuk pencapaian
kebutuhan yang paling tinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri.

2.6.5.3. Karakteristik Self-Esteem


Self-esteem berpengaruh besar terhadap kualitas dan kebahagian hidup
seseorang (Dariuszky, 2004). Seseorang yang memiliki Self-esteem yang
tinggi akan merasa tenang, mantap, optimistis, mampu mengendalikan situasi
dirinya dan lebih mampu mengatasi masalah-masalah dan kesulitan hidup.
Sedangkan Self-esteem yang rendah sering menimbulkan pesimistis dan
mudah menyerah terhadap permasalahan yang dihadapi.
Seseorang yang mempunyai harga diri tinggi akan memandang dirinya
sebagai seseorang yang berarti dan bermanfaat. Ia memandang dirinya sama
dengan apa yang ia inginkan. Harga diri yang rendah berhubungan dengan

hubungan interpersonal yang buruk dan menonjol pada klien skozofrenia dan
depresi (Stuart dan Sundeen, 1998).
Dariuszky (2004) memberikan karakteristik individu yang memiliki Selfesteem tinggi sebagai berikut:

Mempunyai harapan yang positif dan realitis atas usahanya mapupun


hasil dari usahanya.

Bersedia mempertanggungjawabkan kegagalan maupun kesalahannya.

Memandang dirinya sama dan sederajat dengan orang lain.

Cenderung melakukan aktivitas-aktivitas yang bertujuan untuk


memperbaiki atau menyempurnakan dirinya.

Tidak kuatir akan keselamatan hidupnya dan lebih berani mengambil


resiko.

Mempunyai bukti atau alas an yang kuat untuk menghargai dirinya


sendiri atas keberhasilan yang telah diraihnya.

Relative puas dan bahagia dengan hidupnya dan kemampuannya


cukup bagus dalam hal penyesuaian diri.

Sedangkan ciri-ciri orang yang memiliki Self-esteem yang rendah menurut


Dariuszky (2004) adalah:

Sulit menemukan hal-hal yang positif dalam tindakan yang mereka


lakukan.

Cenderung cemas mengenai hidupnya dan kurang berani mengambil


resiko.

Kurang menghargai keberhasilan yang mereka raih.

Mereka terlalu peduli akan tanggungjawab atas kegagalan yang


mereka perbuat dan mencari alasan untuk membuktikan bahwa
mereka salah.

Merasa rendah diri ketika berhadapan dengan orang lain.

Tidak termotivasi untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri.

Merasa kurang puas dan tidak bahagia dengan hidupnya, dan tidak
mampu meyesuaikan diri.

Pikiran cenderung mudah terserang perasaan putus asa, depresi dan


niat bunuh diri.

Tanda dan gejala gangguan Self-esteem menurut Carpenito (2001) sebagai


berikut:

Pengungkapan diri negative

Rasa bersalah atau malu

Evaluasi diri tidak mampu menangani kejadian

Menghindari diskusi tentang topic dirinya

Merasionalisasi

penolakan/menolak

umpan

balik

positif

dan

membesarkan umpan balik negative tentang diri

Ketidakmampuan untuk menentukan tujuan

Ragu-ragu untuk mencoba sesuatu yang baru

Hipersensitif terhadap kritik ringan

Tanda

dari

keresahan

keputusasaan, dan menangis

Mengingkari masalah nyata

seperti

marah,

mudah

tersinggung,

Perilaku penyalahgunaan diri (pengerusakaan, usaha bunuh diri,


penyalahgunaan zat, dan menjadi korban)

Penampilan tubuh buruk (postur, kontak mata, gerakan)

Merasionalisasi kegagalan pribadi

Stuart dan Sudeen (1993); Keliat (1994), mengemukakan 10 cara individu


mengekspresikan secara langsung harga diri rendah yaitu:

Mengejek dn mengkritik pandagan negative tentang dirinya. Sering


mengatakan dirinya bodoh, tidak tahu apa-apa dan sikap negative
terhadap dirinya.

Merendahkan/mengurangi martabat diri

Menghindari, mengabaikan atau menolak kemampuan yang nyata


dimiliki dan merasa tidak mampu melakukan apapun.

Rasa bersalah dan khawatir

Individu menolak diri dan menghukum diri sendiri, iritabel dan


pesimis terhadap kehidupan. Kadang timbul perasaan dirinya penting
yang berlebih-lebihan. Dapat juga ditemukan gejala fobia dan obsesi.

Manifestasi fisik

Keluhan tidak punya tenaga, cepat lelah, gejala psikosomatis, tekanan


darah tinggi, dan penyalahgunaan zat.

Menunda keputusan

Sangat ragu-ragu dalam mengambil keputusan, rasa aman terancam


dan ketegangan peran.

Masalah dalam berhubungan dengan orang lain

Menarik diri dan isolasi social karena perasaan tidak berharga.


Kadang menjadi kejam dan mengeksploitasi orang lain.

Menarik diri dari realitas

Kecemasan karena penolakan diri mencapai tingkat berat atau panic,


individu mungkin mengalami gangguan asosiasi, halusinasi, curiga,
cemburu dan paranoid.

Merusak diri

Harga diri yang rendah mendorong klien untuk mengakhiri kehidupan


karena merasa tidak berguna dan tidak ada harapan untuk hidup.

Merusak/melukai orang lain

Kebencian dan penolakan pada diri dapat dilampiaskan ke orang lain.

Kecemasan dan takut

Kekhawatiran menghadapi masa depan yang tidak jelas karena merasa


tidak mampu menjalani kehidupan. Pandangan hidup seiring
terpolarisasi.

2.5.5.4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Self-Esteem


Harga diri (Self-esteem) bukanlah suatu sifat bawaan ang tidak dapat
diubah. Ia diengaruhi oleh berbagai factor seperti suasana hati, kondisi
kesehatan, kehilangan sesuatu yang dicintai, kehilangan pekerjaan. Pension
dan lain-lain. Banyak orang yang tidak mampu mengatasi kondisi seprti itu
dan jatuh dalam kekalutan emosional dan tidak memiliki persepsi yang sehat
mengenai dirinya mauoun lingkungan eksternalnya, sehingga orang itu
memiliki Self-esteem yang rendah (Dariuszky, 2004).
Menurut Stuart dan Sudeen (1993); Keliat (1994), stressor yang
mempengaruhi Self-esteem adalah penolakan dan kurangnya penghargaan
dari orang lain, persaingan, kesalahan dan kegagalan yang berulang, cita-cita
yang tidak dapat dicapai, ideal self yang tidak realistic dan gagal
bertanggungjawab terhadap diri.
Factor-faktor yang mempengaruhi Self-esteem menurut Carpenito (2001):

1)

Patofisiologi
Berhubungan dengan perubahan penampilan, sekunder akibat dari

kehilngan citra tubuh, kehilangan fungsi tubuh dan bentuk badan berubah
akibat dari trauma, pembedahan, dan cacat lahir.
2)

Situasional (personal, lingkungan)


Berhubungan dengan tidak terpenuhinya kebutuhan, umpan balik,

perasaan diabaikan sekunder akibat kemaitian orang terdekat. Perasaan


kegagalan/penurunan

berat

badan.

Kegagalan

disekolah,

riwayat

ketidakefektifan hubungan dengan orang tua, riwayat penyalahgunaan zat,


penolakan orang tua, harapan yang tidak realistis dari orang tua, hukuman
yang tidak konsisten. Perasaan tidak berdaya dan/atau kegagalan sekunder
akibat dari institusional seperti penjara, rumah sakit jiwa, panti asuhan, dan
rumah penitipan.
3)

Maturasional
Pada usia bayi dan usia bermain berhubungan dengan kurangnya

stimulasi dan kedekatan dengan orang tuanya, perpisahan dari orang


tua/orang terdekat, evaluasi negative yang terus menerus oleh orang tua,
ketidakadekuatan dukungan orang tua, dan ketidakmampuan untuk
mempercayai orang terdekat.
4)

Sumber eksternal dan internal


Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh

terhadap Self-esteem. Pada sumber internal, misalnya orang yang humoris


koping individunya lebih efektif. Sumber eksternal misalnya adanya
dukungan dari masyarakat, dan ekonomi yang kuat.
5)

Pengalaman sukses dan gagal


Ada

kecenderungan

bahwa

riwayat

sukses

akan

meningkatkan Self-esteem seseorang, dan frekuensi gagal yang sering


mengakibatkan rendahnya Self-esteem.

2.7. Tahap-tahap Asuhan Keperawatan Lansia


2.7.1. Pengkajian
Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi massalah keperawatan
meliputi aspek
a.

b.

Fisik

Wawancara

Pemeriksaan fisik: Head to Toe dan system tubuh

Psikologis
Pemeriksaan psikologis dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan

Status Mental.
Pemeriksaan status mental meliputi bagaimana penderita berpikir
(proses pikir), merasakan dan bertingkah laku selama pemeriksaan. Keadaan
umum penderita adalah termasuk penampilan, aktivitas psikomotorik, sikap
terhadap pemeriksa dan aktifitas bicara.
Gangguan motorik, antara lain gaya berjalan menyeret, posisi tubuh
membungkuk, gerakan jari seperti memilin pil, tremor dan asimetri tubuh
perlu dicatat (Kaplan et al, 1997). Banyak penderita depresi mungkin lambat
dalam bicara dan gerakannya. Wajah seperti topeng terdapat pada penderita
penyakit Parkinson (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985).
Bicara penderita dalam keadaan teragitasi dan cemas mungkin tertekan.
Keluar air mata dan menangis ditemukan pada gangguan depresi dan
gangguan kognitif, terutama jika penderita merasa frustasi karena tidak
mampu menjawab pertanyaan pemeriksa (Weinberg, 1995; Kaplan et al,
1997; Hamilton, 1985). Adanya alat bantu dengar atau indikasi lain bahwa
penderita menderita gangguan pendegaran, misalnya selalu minta pertanyaan
diulang, harus dicatat (Gunadi, 1984).
Sikap penderita pada pemeriksa untuk bekerjasama, curigaa, bertahan
dan tak berterima kasih dapat memberi petunjuk tentang kemungkinan adanya

reaksi transferensi. Penderita lanjut usia dapat bereaksi pada dokter muda
seolah-olah dokter adalah seorang tokoh yang lebih tua, tidak peduli, terhadap
adanya perbedaan usia (Weinberg, 1995; Laitman, 1990).

Gangguan Persepsi. Halusinasi dan ilusi pada lanjut usia merupakan


fenomena yang disebabkan oleh penurunan ketajaman sensorik.
Pemeriksa harus mencatat apakah penderita mengalami kebingungan
terhadap waktu atau tempat selama periode halusinasi. Adanya
kebingungan menyatakan suatu kindisi organic. Halusinasi dapat
disebabkan oleh tumor otak dan patologi fokal yang lain. Pemeriksaan
yang lebih lanjut siperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti
(Hamilton, 1985).

Fungsi Visuospasial. Suatu penurunan kapasitas visuospasial adalah


normal dengan lanjutnya usia. Meminta penderita untuk mencontoh
gambar atau menggambar mungkin membantu dalam penilaian.
Pemeriksaan

neuropsikologis

harus

dilaksanakan

jika

fungsi visuospasial sangat terganggu (Kaplan et al, 1997; Hamilton,


1985).

Proses Berpikir. Gangguan pada progesi pikiran adalah neologisme,


gado-gado kata, sirkumstansialitas, asosiasi longgar, asosiasi bunyi,
flight of ideas, dan retardasi. Hilangnya kemampuan untuk dapat
mengerti pikiran abstrak mungkin merupakan tanda awal dementia.

Isi pikiran harus diperiksa adanya obsesi, preokupasi somatic,


kompulsi atau waham.Gagasan tentang bunuh diri atau pembunuhan
harus dicari. Pemeriksa harus menetukan apakah terdapat waham dan
bagaimana waham tersebut mempengaruhi kehidupan penderita.
Waham mungkin merupakan alas an untuk dirawat. Pasien yang sulit
mendengar mungkin secara keliru diklasifikasikan sebagai paranoid
atau pencuriga (Weinberg, 1995; Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985;
Laitman, 1990).

Sensorium dan Kognisi. Sensorium mempermasalahkan fungsi dari


indra tertentu, sedangkan kognisi mempermasalahkan informasi dan
intelektual (Hamilton, 1985; Weinberg, 1995).

Kesadaran. Indicator yang peka terhadap disfungsi otak adalah adanya


perubahan kesadaran , adanya fluktuasi tingkat kesadaran atau tampak
letargik. Pada keadaan yang berat penderita dalam keadaan somnolen
atau stupor (Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985).

Orientasi. Gangguan orientasi terhadap waktu, tempat dan orang


berhubungan dengan gangguan kognisi. Gangguan orientasi sering
ditemukan pada gangguan kognitif, gangguan kecemasan,. Gangguan
buatan, gangguan konversi dan gangguan kepribadian, terutama
selama periode stress fisik atau lingkungan yang tidak mendukung
(Kaplan et al, 1997; Hamilton, 1985). Pemeriksa harus menguji
orientasi terhadap tempat dengan meminta penderita menggambar
lokasi saat ini. Orientasi terhadap orang mungkin dinilai dengan dua
cara: apakah penderita, mengenali namanya sendiri, dan apakah juga
mengenali perawat dan dokter. Orientasi waktu diuji dengan
menanyakan tanggal, tahun, bulan dan hari.

Daya Ingat. Daya ingat dinilai dalam hal daya ingat jangka panjang,
pendek dan segera. Tes yang siberikan pada penderita dengan
memberikan angka enam digit dan penderita diminta untuk
mengulangi maju dan mundur. Penderita dengan daya ingat yang tak
terganggu biasanya dapat mengingat enam angka maju dan lima angka
mundur. Daya ingat jangka panjang diuji dengan menanyakan tempat
dan tanggal lahir, nama dan hari ulang tahun anak-anak penderita.
Daya ingat jangka pendek dapat diperiksa dengan beberapa cara,
misalnya menyebut tiga benda pada awal wawancara dan meminta
penderita mengingat kembali benda tersebut diakhir wawancara. Atau
dengan mengulangi cerita tadi secara tepat/persis (Hamilton, 1985).

Fungsi Intelektual, Konsentrasi, Informasi dan Kecerdasan. Sejumlah


fungsi intelektual mungkin diajukan untuk menilai pengetahuan
umum dan fungsi intelektual. Menghitung dapat diujikan dengan
meminta penderita untuk mengurangi 7 angka dari 100 dan
mengurangi 7 lagi dari hasil akhir dan seterusnya samapi dicapai
angka 2. Pemeriksa mencatat respons sebagai dasar untuk pengujian
selanjutnya.

Pemeriksa juga dapat meminta penderita

untuk

menghitung mundur dari 20 ke 1, dan mencatat waktu yang


diperlukan untuk menyelesaikan pemeriksaan tersebut (Kaplan et al,
1997; Hamilton, 1985).

Pengetahuan

umum

adalah

yang

berhubungan

dengan

kecerdasan. Penderita ditanya nama presiden Indonesia, nama kota


besar di Indonesia. Pemeriksa harus memperhitungkan tingkat
pendidikan penderitam status social ekonomi dan pengalaman hidup
penderita dalam menilai hasil dari beberapa pengujian tersebut.

Membaca dan Menulis. Penting bagi klinisi untuk memeriksa


kemampuan membaca dan menulis dan menetukan apakah penderita
mempunyai deficit bicara khusus. Pemeriksa dapat meminta penderita
membaca kisah singkat dengan suara keras atau menulis pada
penderita. Apakah menulis dengan tangan kiri atau kanan juga perlu
dicatat. (Hamilton, 1985).

Pertimbangan. Pertimbangan (judgement) adalah


bertindak

sesuai

dengan

berbagai

kapasitas

situasi. Apakah

untuk

penderita

menunjukkan gangguan pertimbangan, apa yang akan dilakukan oleh


penderita, misalnya jika ia menemukan surat tertutup, berperangko
dan ada alamatnya di jalan anu? Apa yang akan dilakukan oleh
penderita bila ia mencium bau asap di sebuah gedung bioskop?
Apakah penderita mampu mengadakan pembedaan? Apakah penderita
mampu membedakan antara seorang kerdil dan seorang anak?
Mengapa seorang memerlukan KTP atau surat kawin? Dan
seterusnya.

c.

Spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya

(Maslow, 1970) Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya , hal ini
terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari-hari (Murray dan Zentner,
1970). Perawat harus bias memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutinya dalam keadaan sakit
atau mendeteksi kematian. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi
klien lanjut usia yang menghadapi kematian, DR. Tony Styobuhi
mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Rasa
semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor, seperti ketidakpastian akan
pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan kegelisahan ngumpul lagi
dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian
setiap klien lanjut usia akan memberika reaksi yang berbeda, tergantung dari
kepribadian dan cara menghadapi hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul
diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat harus dapat menyakinkan lanjut
usia bahwa kalaupun keluarga tadi di tinggalkan, masih ada orang lain yang
mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut
usia. Umumny pada waktu kematian akan dating agama atau kepercayaan
seseorang merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran
seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. Dengan
demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap
fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut
usia melalui agama mereka.

2.7.2. Diagnosa Keperawatan


1.

Kesepian berhubungan dengan menarik diri

Tujuan :

1.

Pasien mampu mengekspresikan perasaannya

2.

Pasien mampu kembali bersosialisasi dengan lingkungan

Intervensi

Bina hubungan saling percaya

Bantu klien menguraikan kelebihan dan kekurangan interpersonal.

Bantu klien membina kembali hubungan interpersonal yang positf /

adaptif dan memberikan kepuasan timbal balik :

Beri penguatan dan kritikan yang positif

Dengarkan semua kata-kata klien dan jangan menyela saat klien


bertanya.

Berikan penghargaan saat klien dapat berprilaku yang positif

Hindari ketergantungan klien

Libatkan dalam kegiatan ruangan.

Ciptakan lingkungan terapeutik

Libatkan keluarga/system pendukung untuk membantu mengatasi


masalah klien.

2.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan konsep

diri dan depresi


Tujuan :
1)

Pasien mampu berpartisipasi dalam memutuskan perawatan

dirinya
2)

Pasien mampu melakukan kegiatan dalam menyelesaikan

masalahnya

Intervensi
1. Bicara secara langsung dengan klien, hargai individu dan ruang
pribadinya jika tepat
2. Beri kesempatan terstruktur bagi klien untuk membuat pilihan
perawatan
3. Beri

kesempatan bagi pasien untuk bertanggung jawab

terhadap perawatan dirinya


4. Beri kesempatan menetapkan tujuan perawatan dirinya. Contoh
: minta pasien memilih apakah mau mandi, sikat gigi atau
gunting kuku.
5. Beri kesempatan untuk menetapkan aktifitas perawatan diri
untuk mencapai tujuan. Contoh : Jika pasien memilih mandi,
bantu pasien untuk menetapkan aktifitas untuk mandi (bawa
sabun, handuk, pakaian bersih)
6. Berikan pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya.
7. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya.
8. Sepakati jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut secara teratur.
9. Bersama keluarga memilih kemampuan yang bisa dilakukan
pasien saat ini
10. Anjurkan

keluarga

untuk

memberikan

pujian

terhadap

kemampuan yang masih dimiliki pasien.


11. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan
kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
12. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan
kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat.
3.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan ansietas

Tujuan :

1) Pasien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur


2) Pasien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Intervensi
1. Identifikasi gangguan dan variasi tidur yang dialami dari pola
yang biasanya
2. Anjurkan latihan relaksasi, seperti musik lembut sebelum tidur
3. Diskusikan cara-cara utuk memenuhi kebutuhan tidur
4. Kurangi tidur pada siang hari
5. Minum air hangat/susu hangat sebelum tidur
6. Hindarkan minum yang mengandung kafein dan coca cola
7. Mandi air hangat sebelum tidur
8. Dengarkan musik yang lembut sebelum tidur
9. Anjurkan pasien untuk memilih cara yang sesuai dengan
kebutuhannya)
10. Berikan pujian jika pasien memilih cara yang tepat untuk
memenuhi kebutuhan tidurnya
11. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang
untuk memfasilitasi agar pasien dapat tidur.
4.

Resiko membahayakan

diri berhubungan

dengan perasaan

tidak

berharga dan putusasa


Tujuan :
1) Pasien tidak membahayakan dirinya sendiri
2) Pasien mampu memilih alternatif penyelesaian masalah yang
konstruktif
Intervensi

1. Identifikasi derajat resiko / potensi untuk bunuh diri


2. Bantu pasien mengenali perasaan yang menjadi penyebab
timbulnya ide bunuh diri.
3. Ajarkan beberapa alternatif cara penyelesaian masalah yang
konstruktif.
4. Bantu pasien untuk memilih cara yang palin tepat untuk
menyelesaikan masalah secara konstruktif.
5. Beri pujian terhadap pilihan yang telah dibuat pasien dengan
tepat.
6. Anjurkan pasien mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang ada
di lingkungannya
7. Lakukan tindakan pencegahan bunuh diri
8. Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah
dimiliki klien dalam menyelesaikan masalah
5.

Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif

sekunder terhadap respon kehilangan pasangan.


Tujuan :
1) Klien merasa harga dirinya naik.
2) Klien mengunakan koping yang adaptif.
3) Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.
Intervensi
a. Bina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
b. Maksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
c. Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
d. Bantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya
dengan orang lain melalui keterbukaan.

e. Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan


untuk berubah ada pada klien.
f. Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif
terhadap masalahnya.
g. Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
h. Bantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk
merubah respon maladaptif dan mempertahankan respon
koping yang adaptif.
i. Identifikasi dukungan yang positif dengan mengaitkan
terhadap kenyataan.
j. Berikan kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan
perasaannya.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Bahwa pelayanan geriatrik di Indonesia sudah saatnya diupayakan di


seluruh jenjang pelayanan kesehatan di Indonesia. Untuk itu pengetahuan
mengenai geriatric harus sudah merupakan pengetahuan yang diajarkan pada
semua tenaga kesehatan. Dalam hal ini pengetahuan mengenai psikogeriatri
atau kesehatan jiwa pada usia lanjut merupakan salah satu di antara berbagai
pengetahuan yang perlu diketahui. Tatacara pemeriksaan dasar psikogeriatri
oleh karena itu sering disertakan dalam pemeriksaan/assesmen geriatric,
antara lain mengenai pemeriksaan gangguan mental. Kognitif, depresi dan
beberapa pemeriksaan lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. Martono Hadi dan Kris Pranaka. 2010. Buku Ajar Boedhi-Darmojo


GERIATRI. Jakarta:

Fakultas

Kedokteran

UNIVERSITAS

INDONESIA
2. Depkes R.I. 1999. Kesehatan keluarga, Bahagia di Usia Senja.
Jakarta: Medi Media
3. Nugroho Wahyudi. 1995. Perawatan Usia Lanjut. Jakarta: EGC