Anda di halaman 1dari 2

Ekualisasi Omzet menurut PPh dan PPN

Analisis equalisasi digunakan untuk memastikan dalam satu tahun pajak apakah
omzet di SPT Tahunan PPh Badan atau Orang Pribadi sama dengan penyerahan
BKP/JKP di SPT Masa PPN. Analisis Ekualisasi Omzet SPT Tahunan PPh dengan
Penyerahan SPT Masa PPN biasanya dilakukan dalam kondisi omzet atau peredaran
bruto yang dilaporkan di SPT Tahunan PPh berbeda dengan total nilai penyerahan
kumulatif yang dilaporkan di SPT Masa PPN selama 1 tahun buku.
Sebelum

melaporkan

pajak

penghasilan

badan

tahunan,

sebaikn ya

perusahaan membandingkan peredaran usaha di SPT Masa PPN selama satu tahun
(mulai masa Januari sampai dengan masa Desember) dengan peredaran usaha di
laporan laba rugi akuntansi atau Pajak. Memang peredaran usaha di SPT Tahunan
dengan penyerahan BKP/JKP di SPT Masa PPN tersebut pasti terjadi
perbedaan, di mana perbedaan tersebut bisa diketahui dengan melakuka n
analisis equalisasi. Sebab-sebab perbedaan omzet di SPT Tahunan PPh
Badan/Orang Pribadi dengan Penyerahan BKP/JKP di SPT Masa PPN adalah:

1. Penghasilan di SPT Tahunan PPh sudah diakui tetapi di SPT PPN, di mana PPNnya belum dipungut dan dilaporkan. Karena SPT Tahunan PPh mengacu pada
metode pembukuan accrual basis dan sedangkan SPT Masa PPN, Pemungutan
PPN yang ditandai dengan penerbitan faktur pajak standar dilaku kan
paling lambat pada akhir bulan berikutnya setelah terjadi penyerahan
BKP/JKP atau pada saat pembayaran dilaku kan.
2. Adanya penerimaan uang muka (down payment) yang sudah dikenakan PPN
tetapi belum diakui sebagai penghasilan di SPT PPh karena masih tercatat
sebagai pos utang. Misalnya pendapatan yang diterima di muka atas
penyerahan BKP/JKP.
3. Adanya penghasilan/penjualan yang merupakan objek PPh tetapi bukan
merupakan objek PPN atau fasilitas PPN. Fasilitas PPN seperti dibebaskan atau
tidak dipungut, misalnya ekspor dikenai PPN tarif 0%, penjualan makanan dan
minuman disajikan di hotel yang merupakan objek PPh akan tetapi bukan
merupakan objek PPN tetapi objek pajak daerah.
4. Adanya penghasilan yang dikenakan PPh final tetapi dipungut PPN dan
dilaporkan di SPT Masa PPN. Misalnya pendapatan sewa tanah dan atau
bangunan merupakan objek PPh Final sehingga tidak diperhitungkan dalam SPT
PPh Badan. Padahal penyerahannya adalah objek PPN.

5. Bukan penghasilan di SPT PPh tetapi objek pemungutan PPN yang bukan
merupakan penjualan, misalnya: adanya pemakaian sendiri atau pemberian
cuma-cuma di SPT PPN. Pemakaian sendiri atau pemberian cuma-cuma
dikenakan PPN dan diperhitungkan sebagai penyerahan yang terutang PPN.
Sedangkan di PPh tidak akan ada pengakuan penghasilan.
6. Penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan sebaliknya. Transaksi ini bukan
penjualan ditinjau dari sisi akuntansi dan PPh, tetapi merupakan penyerahan
BKP menurut Undang Undang PPN.
7. Penyerahan BKP secara konsinyasi. Dari sisi akuntansi dan PPh belum diakui
penjualan, tetapi dari sisi Undang-Undang PPN sudah merupakan penyerahan
BKP dan wajib menerbitkan faktur pajak.
8. Adanya transaksi yang tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang
dipungut PPN dan dilaporkan SPT Masa PPN. Sering penghasilan tersebut di
luar usaha (other income); tidak masuk dalam omzet SPT Tahunan PPh
melainkan masuk other income, tetapi di SPT Masa PPN merupakan objek PPN.
9. Adanya penyerahan kepada pemungut PPN. Penyerahan kepada pemungut PPN
menganut prinsip cash basis, PPN baru dipungut pada saat pemungut melakukan
pembayaran. Maka wajib pajak rekanan pemungut melaporkan faktur pajaknya
pada masa pajak dilakukan pembayaran, tetapi transaksi penjualan di SPT
Tahunan PPh diakui jauh hari sebelum terjadi pembayaran.
10.Terjadi di awal tahun di mana terdapat faktur pajak di SPT Masa PPN atas
penjualan BKP/JKP, tetapi penghasilan sudah diakui pada periode sebelumnya
(tahun pajak sebelumnya) di SPT Tahunan PPh.
http://sulistnugroho.blogspot.co.id/2010/09/ekualisasi-omzet-menurut-pph-danppn.html