Anda di halaman 1dari 14

KASUS PENGGUSURAN KAMPUNG PULO dan ISU

PELANGGARAN HAM

DISUSUN OLEH :
ARAFATULLAH A.S
POLTEKKES KEMENKES SURABAYA
BIODATA

NAMA
: ARAFATULLAH ANDANA SEPTIANDI
NIM
: P27834115031
PRODI
: D4 ANALIS KESEHATAN
SEMESTER
:I
KOTA ASAL
: SIDOARJO
HOBY
: MEMBACA, TRAVELLING
ALAMAT
: TAMBAK UTARA KRIAN, SIDOARJO
NO TELPON
: 081357397096
ASAL SEKOLAH : SMAN 14 SURABAYA

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28 H Tentang Hak
Asasi Manusia. Ayat 4 menegaskan bahwa Setiap orang berhak mempunyai hak milik
pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh
siapapun. Hal ini semata mata hanya untuk mengantisipasi apabila dalam suatu
perjalanan kehidupan setiap warga negara, terjadi hal yang dapat dikategorikan sebagai
pelanggaran hak milik pribadi dan apabila timbul kejadian serupa yang berkaitan dengan
pasal tersebut yang sama sekali tidak kita inginkan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pelanggaran Hak Asasi Manusia dapat terjadi?
2. Bagaimanakah penegakan hukum Indonesia pada kasus pelengseran Gus Dur?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia
2. Menjelaskan bagaimana hukum ditegakkan pada kasus pelengseran gusdur

BAB II
PENGERTIAN

a. Pengertian UUD 1945


Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, atau disingkat UUD
1945 atau UUD '45, adalah hukum dasar tertulis (basic law), konstitusi pemerintahan
negara Republik Indonesia saat ini.
UUD 1945 disahkan sebagai undang-undang dasar negara oleh PPKI pada tanggal 18
Agustus 1945. Sejak tanggal 27 Desember 1949, di Indonesia berlaku Konstitusi RIS,
dan sejak tanggal 17 Agustus 1950 di Indonesia berlaku UUDS 1950. Dekrit Presiden 5
Juli 1959 kembali memberlakukan UUD 1945, dengan dikukuhkan secara aklamasi oleh
DPR pada tanggal 22 Juli 1959.
Pada kurun waktu tahun 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan
(amendemen), yang mengubah susunan lembaga-lembaga dalam sistem ketatanegaraan
Republik Indonesia.
Salah satu tuntutan Reformasi 1998 adalah dilakukannya perubahan (amendemen)
terhadap UUD 1945. Latar belakang tuntutan perubahan UUD 1945 antara lain karena
pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya
bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal
yang terlalu "luwes" (sehingga dapat menimbulkan multitafsir), serta kenyataan rumusan
UUD 1945 tentang semangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung
ketentuan konstitusi.
Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti
tatanan negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara
demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan
aspirasi dan kebutuhan bangsa. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan di antaranya
tidak mengubah Pembukaan UUD 1945, tetap mempertahankan susunan kenegaraan
(staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), serta mempertegas sistem pemerintahan presidensial.
Dalam kurun waktu 1999-2002, UUD 1945 mengalami 4 kali perubahan
(amendemen) yang ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR:

Sidang Umum MPR 1999, tanggal 14-21 Oktober 1999 Perubahan Pertama UUD
1945

Sidang Tahunan MPR 2000, tanggal 7-18 Agustus 2000 Perubahan Kedua UUD 1945

Sidang Tahunan MPR 2001, tanggal 1-9 November 2001 Perubahan Ketiga UUD
1945

Sidang Tahunan MPR 2002, tanggal 1-11 Agustus 2002 Perubahan Keempat UUD
1945

b. Sejarah Awal
Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk
pada tanggal 29 April 1945 adalah badan yang menyusun rancangan UUD 1945. Pada
masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni 1945, Ir.
Soekarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar Negara" yang diberi nama Pancasila.
Pada tanggal 22 Juni 1945, 38 anggota BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang
terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi naskah
Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban
menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta
menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945
oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD 1945
dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada tanggal
29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang
Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Nama Badan ini
tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Di Sumatera
ada BPUPKI untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal 10-17 Juli 1945. Tanggal 18
Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia.

c. Hak Asasi Manusia dalam Pasal 28 ayat 4


Hak-hak asasi manusia sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan pandangan filosofis
tentang manusia yang melatarbelakanginya. Menurut Pancasila sebagai dasar dari bangsa
Indonesia hakikat manusia adalah tersusun atas jiwa dan raga, kedudukan kodrat sebagai
makhluk Tuhan dan makhluk pribadi, adapun sifat kodratnya sebagai mahluk individu dan
makhluk sosial. Dalam pengertian inilah maka hak-hak asasi manusia tidak dapat dipisahkan
dengan hakikat kodrat manusia tersebut. Konseksuensinya dalam realisasinya maka hak asasi
manusia senantiasa memilik hubungan yang korelatif dengan wajib asasi manusia karena sifat
kodrat manusia sebaga individu dan mahluk sosial.
Dalam rentangan berdirinya bangsa dan negara Indonesia telah lebih dulu dirumuskan dari
Deklarasi Universal hak-hak asasi manusia PBB , karena Pembukaan UUD 1945 dan pasaslpasalnya diundangkan pada tanggal 18 Agustus 1945 , adapun Deklarasi PBB pada tahun
1948. Hal itu merupakan fakta pada dunia bahwa bangsa Indonesia sebelum tercapainya
pernyataan hak-hak asasi manusia sedunia oleh PBB, telah mengangkat hak-hak asasi
manusia dan melindunginya dalam kehidupan bernegara yang tertuang dalam UUD 1945. Hal
ini juga telah ditekankan oleh para pendiri negara, misalnya pernyataan Moh. Hatta dalam
sidang BPUPKI sebagai berikut :
Walaupun yang dibentuk itu Negara kekeluargaan, tetapi masih perlu ditetapkan beberapa
hak dari warga Negara agar jangan sampai timbul negara kekuasaan (Machsstaat atau negara
penindas).
Deklarasi bangsa Indonesia pada prinsipnya termuat dalam naskah Pembukaan UUD 1945,
dan Pembukaan UUD 1945 inilah yang merupakan sumber normativ bagi hukum positif
Indonesia terutama penjabaran dalam pasal pasal UUD 1945.

Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kesatu dinyatakan bahwa Kemerdekaan ialah hak
segala bangsa. Dalam pernyataan tersebut terkandung pengakuan secara yuridis hak asasi
manusia tentang kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak
Asasi Manusia PBB pasal I.
Dasar filosofi hak-hak asasi manusia tersebut bukanlah kebebasan individualis, malainkan
menempatkan manusia dalam hubungannya dengan bangsa (makhluk sosial) sehingga hak
asasi manusia tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban asasi manusia .Kata-kata berikutnya
adalah pada alinea ketiga Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut :
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan yang
luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan
dengan ini kemerdekaannya.
Penyataan tentang atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa mengandung arti bahwa
dalam deklarasi bangsa Indonesia terkandung pengakuan manusia yang berketuhanan Yang
Maha Esa, dan diteruskan dengan kata supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas
dalam pengertian bangsa maka bangsa Indonesia mengakui hak-hak asasi manusia untuk
memeluk agama sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia
PBB pasal 18, dan dalam pasal UUD 1945 dijabarkan dalam pasal 29 ayat (2) yaitu negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan
untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Melalui Pembukaan UUD 1945 dinyatakan dalam alinea empat bahwa Negara Indonesia
sebagai suatu persekutuan bersama bertujuan untuk melindungi warganya terutama dalam
kaitannya dengan perlindungan hak-hak asasinya. Adapun tujuan negara yang merupakan
tujuan yang tidak pernah berakhir (never ending goal) adalah sebagai berikut :

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Untuk memajukan kesejahteraan umum.

Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi dan keadilan sosial.

Tujuan Negara Indonesia sebagai negara hukum yang bersifat formal maupun material
tersebut mengandung konsekuensi bahwa negara berkewajiban untuk melindungi seluruh
warganya dengan suatu undang-undang terutama untuk melindungi hak-hak asasi manusia
demi untuk kesejahteraan hidup bersama.

d. Judul
Kasus Penggusuran Kampung Pulo dan Isu Pelanggaran HAM

BAB III
PEMBAHASAN
D. Kasus
Relokasi warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, yang mendiami
bantaran Sungai Ciliwung bukan hal yang terjadi secara tiba-tiba. Wacana relokasi
atau penggusuran ini sudah dimulai saat zaman Joko Widodo menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarta. Kala itu Jokowi memastikan relokasi warga Kampung Pulo
akan dimulai tahun 2014. Proses relokasi pun akan dilakukan secara bertahap. Selain
untuk normalisasi sungai, relokasi warga Kampung Pulo juga dimaksudkan untuk
menyelamatkan warga dari banjir yang selalu menerjang hampir setiap kali hujan
deras mengguyur Jakarta. Bahkan permukiman warga di sana bisa terendam 1,5 meter
hingga dua meter setiap musim penghujan tiba. Akibatnya warga pun harus
mengungsi. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, saat itu
warga menolak untuk dipindahkan. Katanya mereka tidak bisa jauh-jauh dari lokasi
yang mereka tempati sekarang. Kalaupun harus pindah, mereka mau dipindahkan di
lokasi sekitar tempat tinggal mereka semula. Apalagi jika ada rumah susun (rusun) di
daerah tersebut, mereka mau dipindahkan.
Pemprov DKI menimbang-nimbang usulan warga hingga akhirnya permintaan
mereka dikabulkan. Rusun yang telah disediakan Pemprov DKI untuk warga
Kampung Pulo yang direlokasi sebenarnya sudah memiliki kualitas yang sangat baik.
Sudah seperti apartemen. Bahkan dia memerkirakan harga jualnya bisa sampai Rp
400 juta.
Rusun Jatinegara Baru terdiri dari dua tower dengan 16 lantai berjumlah 527 unit
hunian. Satu unit hunian dilengkapi dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan sebuah
ruangan yang bisa digunakan sebagai dapur dan ruang tamu. Fasilitasnya pun
terbilang lengkap. Ada posko kesehatan, ruang administrasi, Pusat Jajanan Serba Ada
(Pujasera) atau Food court, dan dilengkapi dengan 54 CCTV. Rusun ini juga
dilengkapi dengan empat lift orang dan satu lift barang. Syarat untuk tinggal terbilang
mudah. Bagi warga yang memiliki sertifikat tanah resmi, Pemprov DKI akan
mengganti dengan kompensasi 1,5 kali luas lahan. Jika di sertifikat tanah tertera luas
kepemilikan tanah 100 meter persegi, Pemprov DKI akan menggantinya dengan unit
hunian seluas 150 meter persegi. Artinya jika satu unit hunian memiliki luas 30 meter
persegi, warga pemilik sertifikat pun akan mendapatkan lima unit rusun
sekaligus. Bagi warga yang tidak memiliki sertifikat tanah tapi punya Kartu Tanda
Penduduk (KTP) DKI, Pemprov akan mengizinkan warga tersebut tinggal di rusun.
Bagi warga yang tidak memiliki KTP DKI, mereka bisa diizinkan tinggal namun
dengan persyaratan. Semua bisa didapatkan secara cuma-cuma. Namun ketika tinggal
di sana, warga tetap diminta untuk membayarkan biaya perawatan, keamanan, dan
kebersihan sebesar Rp 10 ribu per hari. Ahok menegaskan, perkara uang kerohiman

sebenarnya tidak diatur dalam undang-undang. Jadi tidak ada keharusan bagi
Pemprov DKI untuk membayarkan.
Warga Merasa Dirugikan
Ahok menegaskan, sebenarnya sudah 80 persen dari warga di Kampung Pulo
setuju untuk direlokasi. Hanya oknum-oknum tertentu saja yang tidak setuju karena
merasa dirugikan. Oknum tersebut, adalah oknum yang menyewakan lahan kepada
warga lain. Mereka merasa dirugikan karena memunyai petak lebih dari satu tapi
hanya mendapatkan jatah satu rusun. Ahok mengaku tidak mau melihat ke belakang
dan tidak akan menagih apapun. Yang sia inginkan adalah semua warga mau
direlokasi ke rusun yang telah tersedia. Sehingga niat Pemprov DKI untuk
merevitalisasi sungai dan membuat tata kota Jakarta menjadi baik bisa terealisasi.

E. Analisa Kasus
Pemerintah Sebut Kampung Pulo adalah Tanah Milik Negara
Pemukiman warga Kampung Pulo Jakarta digusur paksa. Alasannya, warga tinggal di atas
tanah negara, tanah bukan milik warga, sehingga dianggap ilegal. Penggusuran tersebut demi
normalisasi sungai Ciliwung. Warga menyadari tidak mempunyai sertifikat hak atas tanah.
Tapi mereka tidak mau dianggap pemukim illegal, sebab selama ini mereka membayar pajak
bumi dan bangunan / PBB (Warga Kampung Pulo Menolak Disebut Pemukim Liar,
Kompas.com, 20-8-2015). Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetio Edi Marsudi, menilai, adanya
temuan bahwa warga Kampung Pulo membayar PBB itu menjadi pelajaran, nantinya tidak
boleh lagi memberikan fasilitas kepada warga yang tinggal di atas negara. Fasilitas yang
dimaksudkan adalah KTP, listrik dan air. (Warga Kampung Pulo Dianggap Pemukim Liar tapi
Bayar PBB, Apa Kata Wagub?, Kompas.com, 22-8-2015).
Pemukim Ilegal? Apakah benar bahwa penduduk yang mempunyai pemukiman di atas
tanah negara adalah pemukim ilegal, sehingga mereka tidak boleh diberikan KTP, aliran
listrik dan air? Apakah benar warga Kampung Pulo merupakan pemukim illegal? Guna
menjawab pertanyaan yang bersifat yuridis tersebut, penting untuk diteliti aspek historisnya,
Jawaban yuridis dalam hal tertentu juga harus melihat konteks historis-sosiologis. Apalagi
urusannya menyangkut hak atas tanah dan pemukiman penduduk. Mengapa? Untuk
menemukan data fisik dan yuridis suatu hak atas tanah terkadang harus menelusuri riwayat
tanahnya, terutama tanah-tanah hak lama. Menurut sistem hukum admnistrasi pertanahan
yang dianut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (PP No.
24 Tahun 1997), ketiadaan alat bukti hak (pembuktian hak lama) dalam bentuk tertulis, dapat
digantikan dengan keterangan saksi minimal dua orang terpercaya di bawah sumpah tentang
penguasaan tanah (lihat Pasal 24 PP No. 24 Tahun 1997). Jadi, mengetahui sejarah atau
riwayat tanah tersebut sangat penting untuk menentukan aspek legalitas penghuni tanah
tersebut. Menurut riwayatnya, Kampung Pulo merupakan perkampungan yang sudah ada
sejak tahun 1930-an. I. Sadyawan Sumardi, Direktur Ciliwung Merdeka yang mendampingi
warga Kampung Pulo dalam siaran persnya tanggal 10 Agustus 2015 menjelaskan sejarah
Kampung Pulo.

Luas Kampung Pulo sekitar 8.571 hektar dihuni sekitar 3.809 orang penduduk. Pada
zaman Belanda, Kampung Pulo merupakan bagian kawasan Meester Cornelis. Kampung Pulo
dikelilingi sungai Ciliwung sekitar 1,9 KM. Warga Kampung Pulo hanya memiliki bukti
kepemilikan adat atas tanah pemukiman mereka, seperti girik, petuk pajak bumi, surat jualbeli di bawah tangan dan verponding Indonesia. (Siaran Pers Ciliwung Merdeka dan Mitra,
ciliwungmerdeka.org, 10-8-2015). Secara hukum peradilan, bukti-bukti pembayaran pajak
tanah memang tidak dapat dijadikan alat bukti kepemilikan hak atas tanah. Namun, perlu
ditelusuri, bagaimana riwayat pajak tanah tersebut dapat dibebankan kepada subyek
pajaknya? Alat bukti berupa surat-surat seperti girik, petuk pajak bumi, kekitir, pipil (atau
pepel) dan verponding Indonesia itu diakui dalam hukum administrasi pendaftaran hak atas
tanah berdasarkan Pasal 60 ayat (2) huruf f Peraturan Menteri Agraria / Kepala BPN Nomor 3
Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24 tahun 1997. Tanah verponding
Indonesia contohnya adalah tanah hak milik adat yang di atasnya dikenakan pajak verponding
Indonesia tersebut (lihat Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan
Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid I, Cet. VIII, Djambatan,
Jakarta, 1999, hal 27). Apakah dengan belum adanya sertifikat hak atas tanah yang dimiliki
warga Kampung Pulo maka mereka dianggap tidak mempunyai hak atas tanah? Itu tidak
benar. Mereka tetap mempunyai hak atas tanah mereka. Hanya saja hak mereka tersebut
belum didaftarkan ke Kantor Pertanahan setempat. Apakah pendaftaran hak tersebut wajib?
Tidak. Di negara ini justru sebagian besar tanah-tanah hak milik adat belum disertifikatkan
(belum didaftarkan) dan hal itu tidak menyebabkan hak mereka hilang. Jika ternyata terbit
sertifikat atas nama orang lain yang bukan pemegang haknya, maka pihak yang menerbitkan
sertifikat dan orang yang memiliki sertifikat hak atas tanah yang bukan haknya itu dapat
dipidana melakukan kejahatan pemalsuan dan penggunaan surat/akta otentik (Pasal 266
KUHP), sebab seharusnya sertifikat itu dimiliki dan atas nama pemilik yang sesungguhnya.
Kita telah memperoleh penjelasan bahwa warga Kampung Pulo mempunyai hak adat atas
tanah pemukiman mereka, meskipun belum terbit sertifikat hak atas tanah. Mereka bukanlah
pemukim illegal. Soal belum terbitnya sertifikat itu, seandainya pernah diajukan pendaftaran
hak tapi belum diberikan, itu dapat terkait dengan perubahan tata ruang dan wilayah,
biasanya pemerintah pusat atau daerah bekerjasama dengan BPN (Badan Pertanahan
Nasional) sehingga terhadap tanah-tanah yang terkena perubahan tata ruang dan wilayah
tidak akan mudah diterbitkan sertifikat.
Tetapi dengan perubahan tata ruang bukan berarti pemilik hak atas tanah kehilangan
haknya. Jika pemerintah bermaksud untuk mempergunakan tanah warga untuk pembangunan
demi kepentingan umum maka harus dilakukan prosedur hukum pengadaan tanah dengan
penawaran ganti-rugi. Lagipula informasi tata ruang haruslah transparan, tidak boleh slintutan
(sembunyi-sembunyi). Sekarang, saya mengandaikan dalam alternatif lain seandainya
memang tanah tempat perkampungan warga Kampung Pulo tersebut adalah tanah negara,
apakah mereka disebut pemukim ilegal?
Dengan melihat sejarah terjadinya perkampungan tersebut yang sudah ada sejak tahun
1930 (sebelum Indonesia merdeka), dan jika setelah Indonesia merdeka tanah tersebut
dianggap tanah negara, lalu siapa pihak yang oleh negara telah diberikan hak? Apakah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau instansi pemerintah/negara lainnya, telah diberikan
sesuatu hak atas tanah negara tersebut oleh negara? Setelah berlakunya UUPA (UndangUndang Nomor 5 Tahun 1960), dengan menggunakan pendekatan Pasal 1 dan 2 Peraturan
Menteri Agraria No. 9 Tahun 1965 tentang Pelaksanaan Konversi Hak Penguasaan Atas
Tanah Negara dan Ketentuan-Ketentuan Tentang Kebijaksanaan Selanjutnya, maka instansi
pemerintah yang menguasai tanah negara diberikan Hak Pakai. Atau jika tanah negara

tersebut juga diberikan sesuatu hak kepada pihak ketiga oleh instansi yang menguasainya
(misalnya Hak Sewa atau izin pemakaian), maka tanah negara tersebut dikonversi menjadi
tanah Hak Pengelolaan (HPL).
Bukti adanya konversi tersebut tentunya adalah adanya Keputusan Pemberian Hak Pakai
atau HPL atas tanah tersebut. Pertanyaannya: Apakah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah
mengantongi Surat Keputusan Pemberian Hak Pakai atau HPL dari negara (Menteri Agraria
pada waktu dulu atau pejabat yang ditunjuk) atas tanah yang menjadi pemukiman Kampung
Pulo tersebut? Hal itu yang tidak pernah disampaikan Pemprov DKI Jakarta. Seandainya
Pemprov DKI Jakarta atau instansi pemerintah lainnya telah diberikan Hak Pakai atau HPL
atas tanah Kampung Pulo tersebut oleh negara, maka warga Kampung Pulo juga mempunyai
hak untuk memperkarakan itu di Pengadilan, sebab warga Kampung Pulo juga diberikan
prioritas hukum untuk mengajukan permohonan hak atas tanah Kampung Pulo kepada
negara. Guna mendapatkan hak atas tanah (Milik, HGB, HGU, Hak Pakai, HPL) atas tanah
negara, Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999
menentukan bahwa sebelum mengajukan permohonan hak, pemohon harus menguasai tanah
yang dimohon dibuktikan dengan data yuridis dan data fisik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Warga Kampung Pulo mempunyai syarat
sebagai pemohon hak milik atau hak guna bangunan (HGB) atas tanah pada pemukiman
mereka, sebab mereka nyata-nyata sebagai penghuni atas tanah tersebut. Hal itu pula dapat
dimaklumi mengapa terdapat warga Kampung Pulo yang sudah memiliki serifikat hak atas
tanah, yang dimungkinkan itu diperoleh dari pemberian hak yang selanjutnya didaftarkan
(disertifikatkan).
Berkaitan dengan status kepemilikan rumahnya, berdasarkan asas pemisahan horizontal
dalam hukum tanah maka rumah-rumah yang didirikan warga adalah milik mereka sendiri.
Asas tersebut menyatakan bahwa benda-benda di atas tanah tidak dengan sendirinya terkait
dengan tanahnya. Lalu bagaimana mau menuduh bahwa rumah warga tersebut ilegal jika tak
dapat membuktikan bukti ilegalitasnya? Tentunya jika terdapat sengketa legalitas tersebut
hanya Hakim yang berwenang memutuskannya. Setiap orang yang menuduh bahwa orang
lain melanggar hukum, maka si penuduh harus membuktikan. Jadi, hukum tidak membebani
si tertuduh untuk membuktikan dirinya tidak melanggar hukum, kecuali dalam bidang hukum
khusus, misalnya terdakwa korupsi dan pelaku usaha dalam hukum perlindungan konsumen.
Dengan telah diberikan beban pajak atas tanah dan rumah warga Kampung Pulo tersebut,
maka hal itu juga membuktikan bahwa tak dapat dikatakan warga Kampung Pulo sebagai
pemukim ilegal. Mana ada hubungan illegal antara obyek tanah dan bangunan dengan
penghuninya kok ditarik pajak oleh negara? Setelah saya selesai berhayal bahwa tanah
tersebut adalah tanah negara, sama dengan hayalan Ahok dan Ketua DPRD DKI Jakarta, tiba
pada kenyataan bahwa warga Kampung Pulo dapat membuktikan bahwa mereka mempunyai
hak atas tanah tersebut dengan bukti-bukti hak lama yang memang diakui dalam hukum
administrasi pendaftaran hak atas tanah.
Selanjutnya, tiba pada pengulangan pertanyaan yang belum terjawab di depan, yaitu:
Apakah Pemprov DKI Jakarta mengantongi Surat Keputusan Hak Pakai atau HPL atas tanah
Kampung Pulo tersebut? Ini penting untuk dijawab sebab Pasal 33 Peraturan Pemerintah
Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Negara/Daerah, mewajibkan instansi
pemerintah, barang milik negara/daerah berupa tanah harus disertifikatkan. Apakah sudah ada
instansi negara yang mempunyai sertifikat hak atas tanah Kampung Pulo, atau minimal Surat
Keputusan Pemberian Hak Pakai atau HPL? Jika tidak ada, penggusuran kepada warga
Kampung Pulo itu adalah pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 9 huruf d UndangUndang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, yang menurut Pasal 37 diancam

dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun. Kepentingan Umum
Normalisasi Sungai Ciliwung Rencana normalisasi sungai Ciliwung adalah dalam rangka
mengatasi banjir Jakarta, diperkirakan akan adanya relokasi 70 ribu keluarga yang mendiami
bantaran sungai Ciliwung. Rencananya, sungai Ciliwung akan dilebarkan menjadi 35 50
meter ditambah dengan jalan inspeksi 7,5 meter di kedua sisinya. Kampung Pulo, Kampung
Melayu merupakan kawasan paling parah tiap banjir tiba (Relokasi Warga, Syarat
Normalisasi Sungai, Kompas.com, 3-2-2015).
Meskipun soal solusi itu juga masih ada yang memperdebatkan. Sebenarnya warga
Kampung Pulo tidak menolak relokasi, tetapi mereka tidak mau disebut pemukim ilegal.
Sebagai pemukim yang mempunyai hak atas rumah dan tanah mereka, tentu saja mereka
tidak dapat diusir begitu saja tanpa diberikan ganti rugi. Relokasi warga dari Kampung Pulo
dapat diartikan sebagai tindakan dalam rangka pengadaan tanah untuk pembangunan dalam
kerangka kepentingan umum, sehingga dapat ditempuh dengan menggunakan hukum
pengadaan tanah. Memang bahwa pembangunan pelebaran sungai tidak disebutkan secara
khusus dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah (UU No. 2
Tahun 2012), namun dapat ditafsirkan dari ketentuan Pasal 10 huruf c yakni: tanah untuk
kepentingan umum yang digunakan dalam pembangunan tersebut adalah termasuk bangunan
pengairan lainnya. Jika didekati dengan Pasal 10 huruf j UU No. 2 Tahun 2012 maka
penjelasannya menjelaskan: Yang dimaksud fasilitas keselamatan umum adalah semua
fasilitas yang diperlukan untuk menanggulangi akibat suatu bencana, antara lain rumah sakit
darurat, rumah penampungan darurat, serta tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar, dan
longsor.
Proses pengadaan tanah tersebut dilaksanakan dengan cara pelepasan hak atas tanah dan
bangunan dengan ganti rugi. Untuk menentukan memang adanya hak atas tanah tersebut, jika
instansi pemerintah yang membutuhkan tanah ragu-ragu maka dapat meminta pengadilan
untuk menetapkan status hak atas tanah tersebut dengan cara bersengketa singkat berdasarkan
tatacara yang ada di dalam UU No. 2 Tahun 2012 tersebut setelah misalnya musyawarah
dianggap tidak memperoleh kesepakatan. Artinya, cara-cara damai dalam negara hukum
demokratis ditempuh lebih dulu. Itu merupakan konsekuensi bahwa negara kita merupakan
negara hukum demokratis. Cara-cara paksa hendaknya merupakan alternatif terakhir setelah
memperoleh izin pengadilan untuk melakukan upaya paksa itu. Apalagi status hukum warga
Kampung Pulo tidak dapat dipersamakan dengan Tenaga Kerja Asing gelap atau gubukgubuk liar yang bahkan untuk itu dibutuhkan kebijaksanaan hukum dengan melihat posisi
sosialnya, apakah memang orang miskin yang harus mendapatkan perlindungan. Celakanya
kaum kelas menengah memandang masalah itu dengan stigma kaum miskin pemalas,
kumuh, tak tahu diuntung dan sebagainya. Sebagai orang yang tumbuh dari kalangan miskin
dan melakukan perjalanan di banyak tempat miskin dan kumuh, saya melihat tuduhantuduhan tentang kemalasan kaum miskin itu sebagai sinisme saja. Kami orang miskin bangun
pagi sebelum subuh, lalu berangkat bekerja pulang sore. Kalau soal kemalasan itu, ada
beberapa orang malas di semua lapisan stratifikasi sosial. Direktur malas, manajer malas,
juragan malas, birokrat malas, gubernur malas, bupati malas, polisi malas, jaksa malas, dan
lain-lainnya. Kaum kelas menengah juga tidak mengalami bagaimana orang-orang yang
terusir itu hidup di tempat baru. Mereka yang biasa berjualan di rumah menjadi tidak dapat
berjualan di tempat yang baru.
Warga Kampung Pulo tidak menentang proyek pelebaran sungai Ciliwung. Mereka hanya
meminta haknya. Jika hak-haknya dicabut, maka ganti ruginya? Penyediaan rusunawa

bukanlah ganti rugi. Hukumnya tidak mengatur dan tidak memberikan kewenangan
otoritariansme bentuk ganti rugi. Bahkan jika tak ada kesepakatan, undang-undang memberi
jalan melalui pengadilan dengan acara yang singkat dalam hukum pengadaan tanah.
Kekuasaan sangat gampang menuduh warga masyarakat adalah pemukim ilegal. Tapi rezim
sendiri telah malah menempuh cara-cara yang ilegal dalam memerintah.
Diduga Terjadi Pelanggaran HAM
Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menyebutkan lembaganya menemukan beberapa
pelanggaran yang dilakukan Pemerintah provinsi DKI Jakarta pada insiden pembongkaran
paksa Kampung Pulo yang terjadi pada Kamis, 20 Agustus 2015. Pelanggaran tersebut berupa
kekerasan yang dilakukan Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Terdapat tiga pelanggaran yang ditemukan pada tiga hari pembongkaran, pertama,
pelanggaran tersebut berupa pergerakan Satpol PP yang merangsek masuk ke pemukiman
warga tanpa melakukan upaya musyawarah.
Kedua, pemerintah melakukan penggusuran tanpa memberikan surat perintah
pembongkaran secara tertulis. Pemberitahuan pembongkaran hanya disampaikan kepada
Lurah dan disebarkan melalui pesan pendek.
Ketiga, adanya tindakan pengamanan berlebihan dengan menurunkan 4 kompi anggota
kepolisian, ribuan Satuan Polisi Pamong Praja dan TNI angkatan darat.
Adanya keterlibatan TNI dalam penggusuran. Seharusnya TNI dan Polri sana sekali
tidak memiliki kewenangan akan kasus tersebut. Tidak adanya standar operasi prosedur
dalam penggusuran dan tidak dilakukannya upaya musyawarah dalam melakukan
penggusuran. LBH Jakarta berharap adanya tindakan hukum terhadap pelanggaran yang
dilakukan. Pemerintah juga sebaiknya membentuk peraturan daerah yang mengatur
penggusuran yang mengadopsi standar hak asasi manusia. LBH Jakarta juga menuntut agar
pemerintah melakukan penggantian ganti rugi kepada warga atas tindakan penggusuran
paksa. LBH Jakarta juga berharap pemerintah mencari solusi-solusi alternatif pembangunan
kota tanpa penggusuran.

F. Kesimpulan
Kasus Penggusuran Kampung Pulo ini dapat diartikan sebagai salah satu kasus
penggusuran paling tidak kondusif yang dilakukan oleh pemerintah secara langsung.
Terjadinya bentrok antar kedua belah pihak yang sama sama bersikukuh sebagai pihak
yang berhak atas 3 hektar tanah yang berada di bantaran Kali Ciliwung itu dinilai karena
kurangnya pendekatan pendekatan antar kedua belah pihak. Pemerintah yang
mengklaim sebagai pihak yang memiliki tanah tersebut dinilai secara terang terangan
merampas hak milik warga Kampung Pulo dengan cara yang kurang dibenarkan dan
terkesan arogan dengan penuh kekerasan. Warga yang bersikukuh ingin mempertahankan
wilayahnya hanya bisa memerangi pemerintah sekedarnya, akhirnya bentrokan pun
terjadi. Disitulah pelanggaran HAM terjadi. Komnas HAM juga menyayangkan cara
pemerintah yang kurang benar dan terkesan melakukan pelanggaran HAM dalam proses
Penggusuran Kampung Pulo. Seharusnya, pemerintah lebih menggunakan cara yang
tepat dalam proses tersebut. Sehingga, kami menilai kasus Penggusuran Kampung Pulo
termasuk sebagai kasus pelanggaran UUD Pasal 28 H ayat 4.

G.Daftar Pustaka
https://quizlet.com/115660774/pkn-hak-kewajibanwarga-negara-flash-cards/
https://wonkdermayu.wordpress.com/artikel/penjabara
n-hak-azasi-manusia-dalam-uud-1945/
http://www.cnnindonesia.com/nasional/2015082019503
4-20-73479/cerita-ahok-di-balik-penggusurankampung-pulo/
http://www.kompasiana.com/sbg/penggusuran-ilegaldi-kampung-pulo_55d8305f5b7b61a212f6ebae
https://m.tempo.co/read/news/2015/08/26/083695301/lb
h-jakarta-temukan-3-pelanggaran-penggusurankampung-pulo