Anda di halaman 1dari 42

IM

O
N
U

G
LO

M
A
H
KE

IL

N
A

1.

E
P

H
A
D
N

N
A
U
L
U

Pada tahun
1953,
Medawar

Billingham
dan
Medawar

Konsep bagaimana janin di


dalam kandungan ibu dapat
hidup hingga usia kehamilan
cukup bulan tanpa mengalami
reaksi penolakan dari sistem
imun maternal

Hipotesis yang mencoba untuk menjelaskan


mengapa sistem imun maternal tidak
bereaksi terhadap janin yang bersifat semialogenik, sebagai berikut;
(1). Hipotesis mengenai pemisahan secara
anatomis antara maternal dan janin.
(2). Hipotesis mengenai imunogenisitas dari
janin yang rendah karena masih bersifat
imatur.
(3).Hipotesis mengenai sistem imun
maternal untuk bereaksi terhadap antigenantigen dari janin

Colbern dan
Main 1991

Mendefenisikan konsep dari reproduktif imunologi


sebagai toleransi maternal plasental yang berfokus
pada interaksi sistem imun maternal pada plasenta,
bukan pada fetus
Disimpulkan bahwa sistem imun maternal
menunjukkan toleransi terhadap antigen-antigen
yang terdapat pada jaringan janin

Apakah jaringan janin yang bersifat


semialogenik tersebut langsung mengadakan
kontak dengan sistem imun maternal karena
pada kenyataannya sirkulasi keduanya tetap
terpisah selama masa kehamilan?
Ini menimbulkan dugaan :
-Bahwa terdapat karakteristik-karakteristik tertentu yang
bersifat spesifik dari jaringan plasenta dan membran janin yang
dapat memicu toleransi sistem imun maternal pada jaringan
janin
-Bahwa terjadi perubahan pada sistem imun maternal selama
kehamilan sehingga akan memicu reaksi toleransi terhadap
jaringan janin

Kehamilan merupakan konsep imunologi yang unik

Tidak hanya ada satu mekanisme yang terlibat


dalam regulasi kekebalan kehamilan, tapi ada
berbagai mekanisme imunologi yang berperan
dalam kehamilan

Baik imunitas maternal, fetal, dan serum


mengatasi proses penolakan, tidak seperti yang
terjadi pada organ donor. Secara patologis bahkan,
gangguan imunologis dikaitkan dengan infertilitas,
abortus rekuren, persalinan preterm, dan
preeklampsia

N
A
U
A
J
N
I
T

A
K
A
T
S
U
P

2.1 IMUNOLOGI
2.1.1 Sistem Imun

Sistem imunitas dibentuk dari sistem hemopoetic stem


cell.
Dalam perkembangan dan deferensiasi stem cell akan
menjadi sel-sel limfoid dan atas pengaruh gut
associated lymphoid tissues (GALT) sel tersebut akan
menjadi sel-sel limfosit yang kompeten sebagai
mediator imunitas humoral
Sebaliknya bila dipengaruhi oleh kelenjar timus atau
cairan sekresinya, timosin, maka sel-sel limfoid akan
berkembang dan berdeferensiasi menjadi sel limfosit
yang kompeten sebagai mediator imunitas selular

Bila sistem imun terpapar pada zat yang


dianggap asing, maka ada dua jenis respons
imun yang mungkin terjadi, yaitu respons
imun non spesifik dan respons imun spesifik

Respons imun
spesifik

Sistem imunitas
humoral: sel B
dan produknya,
yaitu antibodi
dan berfungsi
dalam
pertahanan
terhadap
mikroba
ekstraseluler

Sistem imunitas
seluler: limfosit
T, berfungsi
untuk melawan
mikroorganisme
intraseluler

Interaksi antara
respons imun
selular dengan
respons imun
humoral yaitu
antibody
dependent cell
mediated
cytotoxicity
(ADCC).

2.2 Konsep Dasar Imunologi


Tubuh memiliki 3 garis pertahanan dalam
melawan invasi patogen eksternal

Sawar fisik,
garis
pertahanan
pertama.

Sistem imun
inate,
garis
pertahanan
kedua.

Sistem imun
adaptif,
garis
pertahanan
ketiga.

2.1.3 Imunitas Inate


Respon imun inate memberikan respon
segera tapi tidak spesifik dalam
pertahanan melawan patogen.

Fung
si
Utam
a

Perekrutan sistem imun yang


didapat dengan pemunculan
antigen, melalui sitokin.
Mengaktivasi kaskade
komplemen, membunuh patogen
oleh sel darah putih dan
mengarahkan keaktifasi sistem
imun yang didapat dengan
presentasi antigen

2.1.4 Imunitas Didapat

Sistem imun didapat sangat spesifik terhadap patogen


tertentu dan meningkat dengan memori.
Sel T dan sel B terlibat dalam imunitas didapat.

Sel B terlibat dalam respon imun homoral


Sel T terlibat dalam respon imun yang dimediasi sel.
Sel T mengenali antigen dalam kompleks dari MHC,
ditampilkan pada permukaan sel. Ketika sel T diaktivasi
mereka mereplikasi dan sel ini dapat berkembang
menjadi sel memori.
Sel memori dapat mengembangkan kemampuan untuk
mengenali antigen.
Jika patogen dapat dikenali kembali, maka dapat memberikan
respon imun yang lebih cepat dan lebih kuat

Perbedaan antara dua respon imun

Respon Imun
Inate

Respon Imun
Didapat

Diinisiasi hampir segera


setelah infeksi, dimana
imunitas adaptif
membutuhkan respon imun
yang lebih lama berkembang

Melibatkan pengenalan
spesifik dengan resptor yang
sangat spesifik pada limposit

Menggunakan mekanisme
yang general dan invarian
untuk mengenali patogen
Tidak dapat untuk
mengeradikasi patogen
secara komplit
Tidak memberikan imunitas
yang lebih kuat melawan reinfeksi

Cukup kuat untuk


mengeradikasi infeksi dan
menyediakan memori yang
imunolog

Kedua respon imun saling bekerja sama. Jika respon imun individu
tidak bekerja dengan baik, hal ini dapat membawa ke komplikasi
yang serius, seperti penyakit autoimun

2.1.5 Human Leukosit Antigen


Sistem MHC manusia disebut HLA. MHC regio dengan gen
polimorfik, berlokasi pada kromosom enam pada lengan pendeknya.
Berperan penting dalam pengenalan patogen yang membutuhkan
kemampuan untuk membedakan dirinya dengan yang bukan dirinya

Rute yang berbeda terhadap presentasi antigen oleh HLA kelas I


dan II.pada sisi kiri sel T CD8 dapat mengenali peptida yang
ditampilkan oleh HLA kelas I (HLA-A, -B dan C). Peptida dibawa dari
protein patogen yang diproses oleh retikulum endoplasmik dan
ditampilkan oleh molekul HLA kelas I. Sisi kanan menunjukkan
peptida yang ditampilkan oleh HLA kelas II (HLA-DP, -DR dan -DQ)

2.2 IMUNOLOGI PADA KONSEPSI


Fertilisasi ; Ag membran spermatozoa
masuk kedalam oosit membentuk
membran zygot

Respon sistem imun wanita hamil

Sel sistem imun non spesifik ibu seperti sel


natural killer(NK), sel lymphpkone
avtivated killer(LAK), dan makrofag dapat
mengenal jaringan emrbrio primitif dan sel
tumor lainnya sebagai Ag asing

Mmbawa dan
mengekspresikan HLA suami
di permukaan zygot dan
bersifat sebagai Ag asing
bagi ibunya

2.3 Imunologi Kehamilan

Janin memiliki genom yang berasal sebagian dari


ayah dan sebagian dari ibu sehingga janin akan
mempresentasikan antigen yang terdapat pada
ayah dan ibu (semi-alogenik)

Billingham dan Medawar membuat beberapa


hipotesis yang mencoba untuk menjelaskan
mengapa sistem imun maternal tidak bereaksi
terhadap janin yang bersifat semi-alogenik, sebagai
berikut; (1). Hipotesis mengenai pemisahan secara
anatomis antara maternal dan janin; (2). Hipotesis
mengenai imunogenisitas dari janin yang rendah
karena masih bersifat imatur; (3).Hipotesis
mengenai sistem imun maternal untuk bereaksi
terhadap antigen-antigen dari janin

Mekanisme
dalam
toleransi
maternal
terhadap MHC
paternal
sambil
mempertahank
an kompetensi
imunitas
terhadap
infeksi

- Fetal trophoblastic evasion of


maternal immune detection (minimal
dengan kegagalan untuk
mengeluarkan molekul antigen
histocompatibilitas mayor kelas I
atau II)
- Pengeluaran ligand Fas trofoblast
- Pengeluaran complement
regulatory protein CD46, CD55, dan
CD59 (yang memiliki efek
perlindungan)
- sel sitotrofoblas ekstravilli yang
mengeluarkan gen
histokompatibilitas mayor non-klasik
yang mengkodekan HLA-G
(menurunkan fungsi sel natural
killer)
-Produksi sitokin desidua

2.4 Paradox Imunologi dalam Kehamilan

Imunitas terhadap sperma dan cairan seminal


Bagaimana preimplantasi embrio
mengevasi sistem imun maternal
Implantasi dan plasentasi : antarmuka
imunologi fetomaternal
Imunokompetensi maternal selama
kehamilan
Respons imun maternal terhadap antigen fetal

2.4.1 Imunitas terhadap Sperma da Cairan Seminal


Mekanisme yang mencegah antisperma autoimunitas
:
1. Kontak fisik antara sel imunokompeten dan
spermatozoa dicegah oleh tight junction antara
sel sertoli dan tubulus seminiferus.
2. Ketika sperma meninggalkan epididimis mereka
dilapisi dengan plasma seminal yang mengandung
lactoferin yang menurunkan imunogenitas ketika
mereka terdeposit di vagina wanita.
3. Plasma seminal juga memiliki efek melumpuhkan
aktifitas antibodi dan komplemen. Pada penelitian
in vitro, plasma seminal dapat menghambat
generasi sel T sitotoksik, efek sitotoksik sel NK,
aktifitas fagosit makrofag dan netrofil dan
aktifitas generasi antibodi.

2.4.2 Preimplantasi Embrio

Proteksi preimplantasi embrio


bergantung pada hal berikut
Antigen paternal tidak diekspresikan pada
stadium dua sel, tetapi diperlihatkan pada
permukaan pada stadium enam hingga
delapan sel.
Meskipun ekspresi antigen ini meningkatkan
divisi selular, antigen MHC diperkirakan tidak
hadir pada stadium ini pada kehamilan
manusia.

2.4.3 Plasentasi
Plasenta sebagai sawar imunologi
Pertumbuhan plasenta penting untuk
pertumbuhan fetus, perkembangan, dan
mempertahankan kehamilan.
Tropoblas merupakan sel fetal yang penting
dalam kontak dengan sel maternal.

Tiga jenis populasi trofoblas


Vilus trofoblas
Ini
membentuk
kumpulan sel
trofoblas yang
aktif membelah
yang tetap
berada di vili.

Sinsitiotrofobl
as Populasi
trofoblas yang
menyelubungi
vilus trofoblas ;
Sel ini
mengapung
dalam darah
maternal.

Sitotrofoblas
non vilus
Prekursor sel
trofoblas yang
berproliferasi
dan bermigrasi
ke desidua dan
myometrium.

2.5 Imunologi pada hubungan Fetal dan


Maternal

Panel kiri mengilustrasikan sel yang muncul pada perhubungan


fetal-maternal. Vili terdiri dari tipe sel yang berbeda dan pembuluh
darah. Mikropartikel dicurahkan dari lapisan sinsitiotrofoblas dan
memasuki darah maternal yang mengelilingi vili pada rongga
intervilus. Desidua basalis diinvasi oleh sel imun yang berbeda dan
arteri spiralis. Desidua berdekatan dengan myometrium. Panel

2.5.1.1 Ekspresi MHC oleh Tropoblas

Beberapa peneliti
menyimpulkan
bahwa sel tropoblas
tidak
mengekspresikan
antigen MHC Ia pada
populasi tropoblas

Beberapa peneliti
menunjukkan
ekspresi HLA-C, yang
berada pada molekul
MHC Ia oleh
sitotropoblas non
vilus

Ekspresi MHC Ib oleh tropoblas : HLA-G

HLA-G

Fungsi

sHLA-G

Molekul MHC yang berada pada MHC Ib


dan diekspresikan pada sitotropoblas
non vilus

Berperan dalam pertahanan sel


tropoblas non vilus terhadap lisis
oleh uNK dan HLA-G menghambat
migrasi sel uNK melewati plasenta
Menekan proliferasi limposit T dan
juga mempengaruhi limposit Tc dan
sel uNK dengan mengubah sekresi
sitokin,
Menggeser respon imun dari tipe 1
ke tipe 2
Lawan dari HLA-G
berperan penting dalam kestabilan
imunologi kehamilan dengan
mempengaruhi sel imun perifer dan
memodulasi fungsi mereka demi

Ekspresi MH oleh Tropoblas : HLA-E

HLA-E

Fungsi

MHC kelas Ib yang juga


diekspresikan oleh tropoblas
non vilus

Fungsi pasti HLA-E tidak


diketahui
Inhibitor sel uNK pada antar
muka fetal maternal.
Ko-ekspresi HLA-E dan HLA-G
diperlukan untuk inhibisi sel
uNK.

2.5.1.2 MEKANISME INDUKSI APOPTOSIS OLEH


TROPOBLAS

Induksi Apoptosis oleh Tropoblas


Fas Ligand (FasL) menginvasi limposit beraksi
sebagai mekainsme imun dan penting untuk
penolakan graf
Pengikatan ligan induksi apoptosis berkaitan
TNF(TRAI) ke reseptornya (TRAIL-R) juga berperan
dalam perlindungan imun pada plasenta, seperti
trail diekspresikan pada tropoblas (khususnya
sinsitiotropoblas)
Induksi apoptosis Fas-FasL dan TRAILTRAIL-R pada
sel imun maternal pada desidua dapat merupakan
imunotoleran maternal dari alograf fetal selama
kehamilan

Mekanisme
sel
tropoblas
untuk lolos
dari
serangan
imun
maternal

Kurangnya ekspresi dari


molekul MHC Ia,
menempatkan tropoblas non
vilus dalam resiko lisis oleh sel
uNK yang mendominasi desidua.
Sel sitotropoblas
mengekspresikan molekul MHC
Ib antara lain HLA-G dan HLA-E ;
HLA-G dan lawannya sHLA-G
juga menekan aktivitas sel imun
lain baik pada desidua maupun
pada sirkulasi perifer
Dengan ekspresi ligand induksi
apoptosis. Dengan ligan ini sel
tropoblas dapat menginduksi
apoptosis untuk mengaktivasi
sel imun

Ekspresi HLA

Trofoblas vilus (sinsitiotrofoblas) tidak


mengekspresikan antigen HLA pada permukaannya

Trofoblas ekstra vilus mengekspresikan paket


tertentu untuk HLA (HLA-C, HLA-E, HLA-F dan HLA G)

Mengurangi respon imun dengan interaksi dengan


reseptor inhibitor leukosit (LIR) pada sel NK uterus,
makrofag dan dengan reseptor T sel pada sel CD8+.

Interaksi ini memblokade sititoksisitas dari sel.

B7
secara selektif diekspresikan pada sel trofoblas pada plasenta
manusia. Aktifasi limfosit pada darah maternal direpresi dengan
ekspresi B7H1 yang diekspresikan dengan unik pada
sinsitiotrofoblas.
IDO
Indoleamine 2,3-diogygenase (IDO) adalah protein enzimatik yang
mengkatabolik triptopan. Sel T secara unik sensitif terhadap
fluktuasi triptopan dan oleh destruksi dari triptopan oleh IDO, sel T
menjadi inaktif

Keseimbangan Th/1 Th 2

Sel Th 1
Reaksi Th-1
pada plasenta
menghasilkan
terutama
sebagai respon
inflamasi dan
berkorelasi
dengan
keguguran
Sel Th 1
menghasilkan
IL-2 dan IFN-

Sel Th 2
diproduksi pada
perhubungan
fetal maternal
dan dapat
menghambat
respons Th 1
sel Th 2
mensintesis IL4, IL-5, IL-6, IL9, IL-10 dan IL13

Sistem Komplemen

Pada plasenta sistem komplemen membantu


untuk melindungi ibu dan fetus dari Invasi
patogen.
Sel trofoblas mengekspresikan komplemen
protein regulator yang penting untuk sel
fetal karena aktifasi komplemen mengarah
ke destruksi target imun
Aktifasi komplemen yang tidak terkontrol
dicegah dengan decay accelerating factor
(DAF), membrane cofactor protein (MCP), dan
CD59

Sel Maternal
Terdapat banyak populasi variasi leukosit pada
desidua selama kehamilan

Selama implantasi leukosit umumnya terdiri dari


sel NK.
Populasi leukosit desidua selama kehamilan
muda (20%-30%). Sebaliknya jumlah sel NK
menurun selama kehamilan dan tidak ada ketika
aterm
Hal ini menyatakan bahwa sistem imunitas inate
memainkan peranan penting dalam penyesuaian
imun fetal-maternal.

Antigen presenting sel (APC)


Tiga jenis APC adalah: limfosit B, makrofag dan sel dendritik

Sel B

Makrofag

Sel
Dendritik

Dapat dideteksi dalam endometrium dan


desidua. Jumlah mereka bervariasi selama
kehamilan. Sel-sel B uterus mampu merespon
tantangan antigenik dalam misalnya kehamilan
dengan komplikasi infeksi intrauterin.
Dua tipe makrofag yang berpopulasi di desidua,
makrofag proinflamasi CD163 tipe 1 dan
makrofag modulator imun CD163 tipe 2.
Makrofag tipe 1 menghasilkan IL-12 tingkat
tinggi dan memiliki potensi menstimulasi sel T.
Makrofag tipe 2 tidak memilki potensi
menstimulasi sel T, tetapi memiliki potensi
pagositosis dan menghasilkan IL-10 tingkat
tinggi.
Memainkan peran induksi toleransi sistem imun
dengan meregulasi respon imun yang dimediasi
sel T. Sel T meliputi 1-2% leukosit desidua.
Terdapat dua tipe sel dendritik. Sel dendritk
myeloid adalah mayoritas subpopulasi dari sel
dendritik manusia dan mengekspresikan antigen
BDCA1 (CD1c).

Sel T
Jumlah sel T desidua meningkat selama kehamilan, dimulai dengan 520% dari semua CD45+ LIimfosit desidua dalam awal kehamilan,
hingga 40-80% pada kehamilan aterm.
Sel desidua T mencakup sel T subset yang sangat heterogen yang
mencakup CD4+ teraktivasi dan sel T memory efektor tipe CD8+.
Sel CD4+ merespon langsung ataupun tak langsung dalam antigen
dari alograf semi alogenik.
Sel T regulator CD4+CD25 ditampilkan pada desidua manusia dalam
jumlah besar dibandingkan pada darah maternal, menampilkan
peranan penting pada persambungan fetal-maternal. Hal ini telah
ditunjukkan pada sel T CD4+CD25 spesifik fetus yang direkrut
pada desidua maternal dimana mereka mampu untuk menekan
respon imun lokal. Mekanisme pasti bagaimana sel T regulator
diaktivasi dan menginduksi toleransi selama kehamilan tetap
belum jelas.

Sel NK
Sel NK mengekspresikan variasi reseptor yang
bisa mengenali molekul HLA kelas I.
Sel NK desidua mengekspresikan perforin,
granzyme A dan B, dan tidak seperti sel NK
perifer, mereka memilki penurunan aktivitas
sitolitik terhadap target negatif HLA kelas I,
protein sekret dengan potensi imunomodulasi
dan mengasilkan faktor angiogenik seperti
VEGF dan PLGF.
Sel NK desidua dapat mengenali HLA-C1 dan
HLA-C2 fetus dengan ekspresi dari Killer
Imunoglobin like Reseptor (KIR)..

Monosit dan Granulosit


Fungsi monosit dan granulosit dapat diperiksa pada darah. Pada
penelitian menunjukkan peningkatan aktifitas yang berkaitan
dengan adhesi molekul. Sel imun inate juga secara fungsional
diaktivasi pada wanita hamil dan telah didemonstrasikan
mengukur produksi oksigen radikal bebas atau dari sitokin. Hal
tersebut mengubah monosit perifer dan granulosit dan
dibandingkan dengan perubahan yang terlihat pada pasien
dengan sepsis, adalah situasi yang biasa pada aktifasi respon
imun inate. Untuk itu saat ini diterima bahwa sistem imun inate
diaktifasi selama kehamilan.
Mekanisme sistem imun dapat dihitung terhadap aktifasi sistem imun
inate selama kehamilan. Jelasnya, pada limposit, hormon
kehamilan dipercaya sebagai faktor yang berpengaruh terhadap
aktivasi sel sistem imun inate. Tidak ada penelitian menunjukkan
untuk menginvestigasi pengaruh hormon kehamilan pada
ekspresi molekul adhesi atau radikal bebas oksigen pada sel imun
inate sementara estrogen dan progesteron dapat meningkatkan
produksi sitokin oleh monosit. Anjuran lain pada asal muasal sel
fetal atau sel trofoblas seperti mikrofragmen sinsitiotrofoblas
dapat dideteksi pada sel darah maternal. Sel tertentu atau
partikel tertentu dapat dieliminasi oleh fagosit (monosit dan
granulosit), hasil dari aktivasinya.

Kontak Fetal dan Maternal


Karena tidak adanya persambungan vaskular antara maternal dan
fetal, plasenta memainkan peran penting dalam penerimaan fetus.

Sel trofoblas adalah sel fetal yang paling penting dalam


kontak dengan sel maternal dan tiga populasi trofoblas
yang berbeda yang terekspos dengan elemen maternal
yang berbeda dapat dibedakan.
Populasi yang

Populasi ketiga
pertama adalah
Populasi kedua
adalah
trofoblas vilus,
trofoblas
sitotrofoblas, ini
hal ini
disebut
adalah sel
membentuk
sinsitiotrofoblas
trofoblas
cekungan sel
ini mengapung prekursor yang
trofoblas yang
di darah
bermigrasi ke
aktif membelah
maternal.
desidua dan
yang tetap
myomterium
didalam vilus.
Bahwa respon imun diadaptasi terhadap adanya sel
sinsitiotrofoblas semialogenik. Salah satu yang pertama kali
dikenali perubahannya selama kehamilan peningkatan sel darah
putih perifer. Bukti klinis untuk perubahan respon imun selama
kehamilan terlihat dalam artritis reumatoid dan lupus eritematosus
yang muncul selama kehamilan.

Sel Imun pada Desidua

Sel desidua memainkan peran penting dalan penerimaan


fetus dan kontrolivasi trofoblas.
Desidua memiliki populasi yang bervariasi, termasuk
sel stroma yang yang terdesidualisasi, limposit, sel
NK uterus (sel uNK ), monosit dan sel epitel.
Ada variasi yang signifikan pada jumlah leukosit
pada jaringan endometrial. kurang dari 10% sel
desidua adalah leukosit pada fase proliferatif tetapi
peningkat hingga 20%, pada fase sekretori dan
hingga > 40% kehamilan awal.
Penelitian menunjukkan bahwa pada lapisan fetusmaternal, produksi seimbang sitokin oleh berbagai sel
imun (limfosit T, sel UNK, makrofag) diperlukan untuk
kehamilan yang sukses dalam pengaruh hormon
kehamilan20

Sel uNK
Jumlah sel uNK ditemukan meningkat endometrium nyata selama awal
kehamilan.

Adanya sel uNK di desidua


dapat dijelaskan oleh dua
mekanisme
Mekanisme pertama adalah bahwa sel-sel uNK darah
perifer kembali ke asalnya yaitu mukosa uterus, untuk
mendukung pembentukan dan invasi pembuluh darah
tropoblas dan desidua.

Mekanisme kedua adalah sitokin lain dan hormon


kehamilan memicu proliferasi sel uNK.

Meskipun sel-sel uNK yang hadir dalam desidua dalam jumlah besar,
mereka tidak menyerang sitotrofoblas non-vili semi-alogenik. Hal
ini disebabkan fakta bahwa sel-sel uNK mengekspresikan supresor
reseptor. Reseptor ini mengikat MHC Ia dan b (HLA-C, HLA-E dan
HLA-G) pada trofoblas dengan mengikat antigen MHC I ini, reseptor
menghambat menghambat aktivitas litik sel uNK.

Limfosit T
Sel T ini dalam desidua berada dalam kontak dengan trofoblas, mereka
tidak menyerang sitotrofoblas non-vili, karena mereka tidak mengenali
trofoblas MHC Ia negatif sebagai benda asing.
Jumlah sel T dalam desidua dan endometrium plasenta menurun selama
kehamilan dibandingkan dengan kondisi tidak hamil.
Adanya produksi sitokin, limfosit T ini dapat mempengaruhi reseptivitas
fetus. Limfosit T di desidua dapat menghasilkan berbagai sitokin.
Dalam desidua, mereka memicu keguguran dengan menghambat invasi
trofoblas; TNFa merangsang apoptosis sel trofoblas manusia dan IFN-g
meningkatkan apoptosis dimediasi TNF-a.
Sitokin ini juga menghambat pertumbuhan sel trofoblas manusia in vitro
dan merangsang aktivitas makrofag di desidua. Selain itu, TNF-a dan
IFN-g juga bisa menganggu pertumbuhan fetus dengan cara lain, karena
mereka dapat mengaktifkan protrombinase yang menghasilkan trombin.
Aktivasi trombin menyebabkan pembekuan dan produksi IL-8, yang
merangsang granulosit dan sel endotel untuk mengakhiri suplai darah
ke plasenta.
Sitokin Th2 pada umumnya merangsang perkembangan dan invasi
trofoblas. Yang paling diterima saat ini adalah bahwa dalam desidua,
seperti dalam darah perifer selama kehamilan, sel Th2 mendominasi.
Pentingnya ini dominasi relatif tipe 2 sitokin tipe 1 lebih sitokin dapat
ditekankan oleh fakta kurang stikoin Th2 dapat menyebabkan abortus

Makrofag
Tersebar di uterus, termasuk desidua dan
sel-sel trofoblas plasenta, dan membran
ekstraplasenta. Jumlah makrofag dalam
endometrium meningkat pada kehamilan,
sementara di desidua makrofag mencakup
sekitar 20 30% dari semua leukosit atas
rangsang estrogen. Selain itu,
sitotrofoblas dapat menarik makrofag ke
desidua dengan memproduksi MIP-1 alfa.
Karena tidak adanya relatif sistem
pertahanan kekebalan tubuh lainnya
dalam jaringan.