Anda di halaman 1dari 24

TUGAS BIOTEKNOLOGI

IMMUNOSENSOR
DAN PENGGUNAANNYA PADA DETEKSI KANKER

PROGRAM MAGISTER ILMU BIOMEDIK


UNIVERSITAS INDONESIA
2015

Penulis :
KELOMPOK 6
Andreas Adi Susilo
(NPM. 150669 )
Dedy Arnold Simorangkir
(NPM. 150669 )
Ervan Budiawan
(NPM. 150669)
RM. Agung Pranata Kusuma Atmaja
(NPM. 1506692560)

Pendahuluan

Immunosensor adalah alat yang bersifat ringkas, dengan


kemampuan analitis terhadap keadaan yang memungkinkan
terbentuknya kompleks antigen-antibodi, mendeteksi dan
mengkonversi kompleks tersebut melalui transduser, menjadi
sinyal-sinyal elektris yang dapat di proses, direkam, atau
ditampilkan secara visual.

Terdapat beragam mekanisme untuk melakukan tranduksi yang


dipakai dalam biosensor imunologis, yaitu berdasarkan
pembentukan sinyalnya ( misalnya sinyal elektrokimia atau sinyal
optis) ataupun berdasarkan perubahan-perubahan yang terukur
(misalnya perubahan massa) yang mengikuti terbentuknya
kompleks antigen-antibody.

Pendahuluan

Immunosensor bertujuan mendeteksi adanya antibody atau antigen


tertentu pada cairan tubuh, terutama serum.

Namun dewasa ini juga berkembang penggunannya untuk


mendeteksi senyawa maupun derivate senyawa kimia tertentu:

pengukuran kuantitatif TNT pada air tanah dengan menggunakan


antibody anti-TNT.

Pengukuran kuantitatif bisphenol A (BPA) pada sampel larutan, dengan


menggunakan teknik Evanescent Wave Immunosensor.

Immunosensor dapat di design untuk mendeteksi antigen atau


antibody, atau keduanya, namun demikian, deteksi antibodi lebih
disukai karena penggunaan antibody sebagai elemen biologis
sensitive dapat menyebabkan berkurangnya afinitas antibodi
tersebut sebagai konsekuensi dari penempelan antibodi ke suatu
permukaan(transduser).

Contoh Diagram Immunosensor

Pendahuluan

Kelebihan immunosensor :

Sangat spesifik; yaitu antbody hanya akan terikat pada antigen tertentu
saja

Antibodi spesifik memiliki afinitas yang tinggi terhadap antigennya,


yang artinya ikatan tersebut amat kuat

Kekurangan biosensor :

Karena di dasarkan pada reaksi antigen antibody yang spesifik, maka


kekuatan sinyal yang di teruskan pada transduser sangat tergantung
pada akumulasi produk, yang biasanya sedikit dan tidak dapat
diamplifikasi.

Hanya single use; sangat sulit untuk mereverse reaksi pembentukan


kompleks antigrn-antibody tersebut.

Pendahuluan

Jenis-jenis antibodi yang digunakan pad biosensors :

Antibodi Poliklonal; yaitu antibodi yang dimurnikan dari serum hewan.\

Antibodi Monoklonal; yaitu antibody yang diproduksi dari proses kultur


sel hewan (teknik hybridoma) secara ekstra seluler.

Spesifisitas antibodi monoclonal lebih tinggi dari antibodi poliklonal,


dan affinitas antibodi juga dapat dipengaruhi dari jenis sel yang
memproduksinya.

Biasanya yang dipakai dalam system sensor adalah Ig G, atau


bagian aktif dari fragmennya (bagian Fc)

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan penggunaan


biosensor berbasis immunologi, baik dalam praktek medis maupun
dalam riset, semakin meningkat.

Trending Riset dan Kajian berbasis


Immunosensor

Lab Testing vs POC (Point of Care)

Kehadiran biosensor yang ringkas,


mudah digunakan, mudah
dipindah-pindahkan, dan bahkan
dewasa ini dapat dipakai (wearable
device) memunculkan paradigm
baru, yaitu apakah kita memilih tes
laboratorium yang lebih rumit
dengan metode Point of Care
(POC), yang memberikan hasil
yang lebih cepat.

Alur proses immunosensors

Jenis-jenis Transduser dalam


Imunosensors
Berdasarkan

jenis transduser dalam system


imunosensor, dewasa ini dikenal 3 jenis
transduser sebagai berikut :
Electrochemical
Optical

immunosensor

immunosensor

Piezoelectric

immunosensor

Electrochemical
Immunosensor

Pada electrochemical immunosensors,


proses pembentukan kompleks antigenantibodi ini dikonversikan menjadi sinyal/
gelombang listrik.

Sinyal elektris ini kemudian dapat berupa


beberapa bentuk :

Arus listrik searah (amperometric


immunosensors),

Perbedaan tegangan potensial


(potentiometric immunosensors), atau

Perubahan hambatan (conductimetric


immunosensors).

Metode terbaru dan efisien : FET

FET (Field Effect Transistor)

Optical Immunosensor

Pada transduser optical biosensors, terdapat


suatu elemen peka zat biologis ditempelkan
pada permukaan transduser dan merespon
interaksi dengan target analite baik melalui
produksi sinyal optic, seperti fluorescence,
ataupun penghasilkan perubahan sifat optis
seperti : absorbs, pemantulan dan
pembiasan, emisi, perubahan indeks refraksi,
maupun jalur optis.

Sinyal-sinyal optikal tersebut ditangkap oleh


photodetector dan dikonversi menjadi sinyal
elektris, yang kemudian di proses lebih lanjut
secara elektronik.

Diagram mekanisme kerja


immunosensor flouresence

Optical Immunosensor

Teknik transduksi sinyal optic pada optical immunosensor :

Piezoelectric Immunosensor

Perubahan kerapatan massa yang terjadi paska terbentuknya


kompleks antigen antibodi dapat diukur dengan menggunakan
transduser piezoelectric, sebagai contoh : quartz crystal
microbalances atau menggunakan microcantilever, yang akan
bergetar pada frekuensi tertentu saja.

Antigen atau antibodies dapat ditempelkan pada permukaan


piezoelectric dan pembentukan kompleks antigen-antibody dapat
dideteksi dengan terjadinya perubahan frekuensi dari vibrasi
transduser tersebut.

Sensitifitas tranduser piezoelectric ini sangat tinggi.

Prinsip Kerja Immunosensors

Bagaimana cara nya kita dapat mendeteksi adanya kompleks


antigen-antibodi ?

Dalam system ELISA (Enzyme Linked Immunoassorbent Assays)


yang kita kenal, adanya kompleks antigen-antibodi dapat kita nilai
secara kualitatif dengan perubahan visual dari produk yang kita
peroleh, serta secara kuantitatif dengan mengukur konsentrasi
produk tersebut.

Namun kompleks Ag-Ab ini hanya berupa perubahan kecil dalam


bentuk perubahan konformasi, yang secara nyata sulit dinilai
dengan sensor elektrokimia.

Dewasa ini, kompleks antigen antibodi ini dapat diukur dengan


lebih baik menggunakan transduser immunosensor : evanescent
wavedan surface plasmon resonance.

Penggunaan
Immunosensor
dewasa ini :

Cancer Detection

Adanya kemajuan deteksi dini dan monitoring pada keganasan


menyebabkan perubahan paradigma dari treatment-based
medicine ke preventive medicine.

Meningkatnya angka kejadian keganasan selama beberapa


dekade terakhir terutama di negara maju, dan menjadi penyebab
kematian utama hamper pada semua kelompok usia.

Deteksi dini dan diagnosis dari beberapa jenis keganasan, dapat


dilakukan dengan mendeteksi biomarker tertentu, misalnya
CA125, dan dengan bantuan biosensor yang akurat.

Dulu : biosensor hanya untuk deteksi glukosa, laktat dan


cholesterol, Dewasa ini : biosensor digunakan untuk mendeteksi
biomarker, misalnya : tumor marker atau hormon.

Biomarker

adalah molekul relevan biologis, yang dihasilkan/berhubungan dengan


suatu keadaan/penyakit spesifik yang dapat diukur secara kuantitatif
menggunakan instrument maupun teknik laboratorium yang sesuai.

Bdapat berperan sebagai indikator dari keadaan sekarang atau yang


akan datang dari suatu penyakit.

Dapat berupa proteins, fragmen protein, molecule signal, marker DNA


dan sel.

Terdapat 3 kelompok :

(1) diagnostic biomarkers : untuk early detection

(2) prognostic biomarkers, untuk menilai potensi malignant (ganas)

(3) predictive biomarkers, untuk membedakan rencana terapi yang sesuai.

Perkembangan biosensors untuk


deteksi cancer

Dewasa ini beberapa penelitian telah mampu memunculkan


banyak metode dan penggunaan biosensor mutakhir
(nanotechnology dan penggunaan graphene) guna mendeteksi
biomarker untuk tumor.

Beberapa diantaranya menggunakan prinsip immunosensors

Adanya beragam analyte menyebabkan spesifisitas dan


sensitifitas dari suatu biosensor menjadi fokus dari penelitianpenelitian lanjutan.

Re-useable, kompaksitas, dan nilai cost effectiveness menjadi


pertimbangan dalam pengembangan biosensor baru.

Contoh Penggunaan
Immunosensor pada deteksi
Kanker
Spesific
Transducing
Tumor/canc
Analyte
Antibody

Prostate-specific
antigen (PSA)

er

Amperometric

Prostat

PSA, C-reactive
protein

Cantilevers

Prostat

PSA, PSA-1antichymotrypsin
,
CEA, mucin-1

Field-effect

Prostat

Chemiluminescence

Ovarium,
Uterine,Breas
t

Functional Graphene
Sheet (FGS)

Hepatobillier

CA 125, CA 153,
CA 199, CEA
AFP

Anti PSA

technique

antibody OC 125,
anti-CA153 Abs,

Reference

Biosensors and Molecular Technologies for Cancer Diagnostics,


edited by Keith E. Herold and Avraham Rasooly, CRC Press, 2012

Nanomaterial-Based Electrochemical Immunosensors for


Clinically Significant Biomarkers, a review by Niina J. Ronkainen
and Stanley L. Okon, www.mdpi.com/journal/materials, 2014

The Immunoassay Handbook. Third Edition, David Wild. Published


by Elsevier Ltd. 2005

Advances in Immunoassay Technology : Fundamentals and


Applications of Immunosensors, Carlos Moina and Gabriel Ybarra,
InTech Pub : www.intechopen.com, 2012