Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Katarak berasal dari bahasa Yunani (Katarrhakies), Inggris (Cataract), dan


Latin(Cataracta) yang berarti air terjun.Dalam bahasa Indonesia disebut bular
dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.Katarak ialah
setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan
lensa) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya (Ilyas, 2005).
Katarak kerap disebut-sebut sebagai penyebab kebutaan nomor satu di
Indonesia. Bahkan, mengacu pada data World Health Organization (WHO),
sebagaimana dipublikasikan dalam situs www.who.int, katarak menyumban sekitar
48% kasus kebutaan di dunia (Widyaningtyas, 2009).
Menurut WHO di negara berkembang 1-3% penduduk mengalamikebutaaan
dan 50% penyebabnya adalah katarak. Sedangakan untuk negara majusekitar 1,2%
penyebab kebutaan adalah katarak. Menurut survei Depkes RI tahun1982 pada 8
Propinsi, prevalensi kebutaan bilateral adalah 1,2% dari seluruhpenduduk, sedangkan
prevalensi kebutaan unilateral adalah 2,1% dari seluruhpenduduk (Ilham, 2009).

BAB II
LAPORAN KASUS

I.

II.

IDENTITAS
Nama
Jenis kelamin
Usia
Pekerjaan
Alamat
Tanggal masuk

: Ny K
: Perempuan
: 65 tahun
: Buruh
: Sudimara RT 05 RW 07 Bantarmanggu Cimanggu
: 17 Maret 2016

ANAMNESIS
Keluhan Utama
:
Penglihatan kedua mata buram sejak 5 bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluhkan ODS menjadi buram sejak 5 bulan SMRS.


Pandangan seperti berkabut, mata berair, mata pegel dan sering silau
kalau terkena cahaya. Pasien tidak mengeluhkan pandangan jadi dua,
tidak merasakan nyeri pada mata, sakit kepala, mual, muntah tidak di
rasakan pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan seperti ini sebelumnya, riwayat penggunaan


kacamata, riwayat diabetes melitus dan hipertensi disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
:
Tidak ada keluarga mengeluhkan hal yang sama seperti pasien.
Riwayat Pengobatan
:
Pasien belum melakukan pengobatan apapun.
Riwayat Alergi
:
Alergi obat, makanan, debu disangkal
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran

: composmentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: afebris
2

STATUS GENERALISATA

IV.

Kepala : Mata

: pada status ophthalmicus

Hidung

: tidak dijumpai kelainan

Leher

: tidak dijumpai kelainan

Thorax

: tidak dijumpai kelainan

Abdomen

: tidak dijumpai kelainan

Ekstremitas superior/inferior

: tidak dijumpai kelainan

STATUS OFTALMOLOGIKUS

OD

OS

1/300

VISUS

1/300

Ortoforia

KEDUDUKAN BOLA
MATA

Ortoforia

Baik ke segala arah

PERGERAKAN BOLA
MATA

Baik ke segala arah

Tidak ada kelainan

PALPEBRA

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

KONJUNGTIVA
TARSAL POSTERIOR

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

KONJUNGTIVA
TARSAL INFERIOR

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

KONJUNGTIVA
BULBI

Tidak ada kelainan

Jernih
Infiltrat (-)

KORNEA

Jernih
Infiltrat (-)

Edema (-)

Edema (-)

Ulkus (-)

Ulkus (-)
3

Hipopion (-)
Sedang
Hifema (-)
Hipopion (-)
Warna coklat, kripta jelas
Shadow test (-)
Bulat, diameter 3 mm,
Isokor

Hipopion (-)
Sedang

C.O.A

IRIS
PUPIL

Hifema (-)
Hipopion (-)
Warna coklat, kripta jelas
Shadow test (-)
Bulat, diameter 3 mm,

Refleks cahaya(+)
Keruh

V.

Refleks cahaya(+)
LENSA

RESUME
Seorang perempuan,

Isokor

Keruh

usia 65 tahun, datang ke Poliklinik Mata

RSUD Kota Banjar dengan keluhan penglihatan buram pada kedua mata
sejak 5 bulan yang lalu, seperti berksabut, sering berair dan silau. Riwayat
Hipertensi dan Diabeter Melitus tidak ada.
Pada pemeriksaan oftalmikus, ditemukan :
OD

OS

1/300

Visus

1/300

Keruh (+)

Lensa

Keruh (+)

VI.

DIAGNOSA KERJA
Katarak Senil Matur Okuli Dextra Sinistra

VII.

RENCANA PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Roboransia

Non Medika Mentosa


Operasi katarak (ekstraksi katarak ekstrakapsular), dengan
indikasi: pasien mengeluh gangguan penglihatan yang menganggu

kehidupan sehari-hari
Penggunaan kaca mata terus-menerus kecuali saat tidur dan

mandi.
Melindungi mata dari paparan sinar matahari dan debu dengan
menggunakan kaca mata hitam.
4

Pola makan sehat dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur


yang mengandung vit. C, vit A dan vit E.

VIII. PROGNOSIS
- Quo ad Vitam
- Quo ad Functionam
- Quo ad Sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1

LATAR BELAKANG
Katarak berasal dari Yunani, Inggeris Cataract, Latin cataracta yang
berarti air terjun.Dalam bahasa Indonesia disebut bular dimana penglihatan
seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh.Katarak adalah setiap
kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan)
lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.Biasanya
kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak
mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak umumnya merupakan
penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital,
atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Selain itu, katarak dapat
disebabkan bahan toksik khusus juga kelainan sistemik atau metabolik seperti
diabetes melitus, galaktosemi, dan ditrofi miotonik.
Sekitar 16 juta orang di seluruh dunia terkena efek dari katarak,
dengan teknik bedah modern menghasilkan 100.000-200.000 kebutaan mata
5

irreversible. Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa 1,2% seluruh


populasi Afrika buta, dengan penyebab katarak 36% dari seluruh kebutaan
ini. Pada suatu survey yang dilakukan di 3 distrik di dataran Punjab, jumlah
seluruh insiden katarak senilis sekitar 15,3% dari 1269 orang yang diperiksa.
Lensa katarak memiliki ciri berupa edema lensa, perubahan protein,
peningkatan proliferasi, dan kerusakan kontinuitas normal serat-serat
lensa.Secara umum, edema lensa bervariasi sesuai stadium perkembangan

katarak.Katarak imatur hanya sedikit opak.Katarak matur yang keruh total,


emnaglami sedikit edema.Apabila kandaungan air maksumum dan kapsul
lenda teregang, katarak disebut mengalami intumesensi (membengkak).Pada
katarak hipermatur, air telah keluar dari lensa dan meninggalkan lensa yang
sangat keruh, relative mengalami dehidrasi, dengan kapsul berkeriput.
Berdasarkan usia katarak dapat diklasifikasikan dalam:
1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia dibawah 1
tahun
2. Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3. Katarak senil, katarak sesudah usia 50 tahun.
Katarak senil merupakan penyakit gangguan penglihatan yang
berbentuk perlahan-lahan, penebalan progresif dari lensa.Ini salah satu dari
penyebab kebutaan terbesar didunia saat ini.
2.2 ANATOMI LENSA MATA

Gambar. Anatomi Lensa Mata


6

Jaringan ini berasal dari ectoderm permukaan yang berbentuk lensa di


dalam mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang
iris yang terdiri dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat
menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik
mata belakang.Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serest
lensa di dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terusmenerus dehingga mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa
sehingga membentuk nucleus lensa.
Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu dibentuk
atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Didalam lensa dapat dibedakan
nucleus embrional, fetal dan dewasa.
Dibagian luar nucleus ini terdapat serat lensa yang lebih muda dan disebut
sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak disebelah depan nucleus disebut
sebagai korteks anterior, sedang di belakangnya korteks posterior. Nucleus lensa
mempunyai konsistensi lebih keras di banding korteks lensa yang lebih muda. Di
bagian perifer kapsul lensa terdapat zonula Zinn yang menggantung lensa di
seluruh ekuatornya pada bahan siliar.

2.3 EMBRIOLOGI LENSA


Setelah gelembung lensa mengambang bebas pada tepi cekungan optic
terjadi pemanjangan sel-sel pada dinding posterior mengisi rongga yang kosong
7

pada usia kehamilan minggu ke-VII serabut-serabut lensa memanjang dari daerah
ekuator dan tumbuh ke depan mencapai epitel subkapsular dan tumbuh ke
belakang di bawah kapsul lensa. Serabut-serabut lensa ini saling bertemu dan
membentuk sambungan lensa berbentuk huruf Y di depan dan Y terbalik di
belakang. Proses ini selesai pada minggu ke-28.
2.4 FISIOLOGI LENSA
Lensa mata merupakan struktur globular yang transparan, terletak di
belakang iris, di depan badan kaca. Bagian depan ditutupi kapsul anterior dan
belakang oleh kapsul posterior. Di bagian dalam kapsul terdapak korteks dan
nucleus.
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu :
Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi
untuk menjadi cembung
Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan
Terletak di tempatnya
Fungsi lensa adalah :
Refraksi
Sebagai bagian optic bola mata untuk memfokuskan sinar ke bintik
kuning, lensa menyumbang + 18,0-Dioptri.
Fungsi akomodasi
Dengan kontraksi otot-otot siliaris ketegangan zonula Zinn berkurang
sehingga lensa lebih cembung untuk melihat obyek dekat.
Keadaan patologik lensa ini dapat berupa :
Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia
Keruh atau apa yang disebut katarak
Tidak berada di tempat atau subluksasi dan dislokasi
2.5 KATARAK
A. Definisi Katarak
Katarak berasal dari Yunani Katarrhakies, Inggris Cataract, dan Latin
cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular
dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa keruh. Katarak
adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat keduaduanya.
Biasanya katarak mengenaik kedua mata dan berjalan progresif
ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama.
8

Katarak termasuk golongan kebutaan yang tidak dapat dicegah tetapi


dapat disembuhkan. Definisi katarak menurut WHO adalah kekeruhan yang
terjadi pada lensa mata, yang menghalangi sinar masuk ke dalam mata.
Katarak terjadi karena faktor usia, namun dapat juga terjadi pada anak-anak
yang lahir dalam kondisi tersebut. Katarak juga dapat terjadi setelah trauma,
inflamasi, atau penyakit lainnya. Katarak senilis adalah semua kekeruhan
lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun (Ilyas, 2007).

B. Etiologi
Katarak dapat disebabkan bahan toksik khusus (kimia dan fisik).
Keracunan beberapa jenis obat dapat menimbulkan katarak seperti : eserin
(0,25-0,5%), kortikosteroid, ergot, dan antikolinestrase topical.
Kelainan sistemik atau metabolic yang dapat menimbulakn katarak
adalah diabetes melitus, galktosemi dan distrofi miotonik. Katarak
disebebakan oleh beberapa faktor seperti :
- Fisik
- Kimia
- Penyakit predisposisi
- Genetic dan gangguan perkembangan
- Infeksi virus dimasa pertumbuhan janin
- Usia
Tak jarang katarak timbul pada saat lahir atau pada anak usia dini
sebagai akibat dari cacat keturunan, trauma parah pada mata, operasi mata,
atau peradangan intraokular. Faktor lain yang dapat menyebabkan
perkembangan katarak pada usia lebih dini meliputi paparan berlebihan
cahaya ultraviolet, diabetes, merokok, atau penggunaan obat-obatan tertentu,
seperti steroid oral, topikal, atau inhalasi.
Etiologi katarak kongenital yang paling umum termasuk infeksi
intrauterin, gangguan metabolisme, dan sindrom genetik ditransmisikan.
Sepertiga dari katarak pediatrik sporadis, mereka tidak berhubungan dengan
penyakit sistemik atau mata. Namun, mereka mungkin mutasi spontan dan
dapat menyebabkan pembentukan katarak pada keturunannya pasien.
Sebanyak 23% dari katarak kongenital adalah familial. Cara transmisi yang
paling sering adalah autosomal dominan dengan penetrasi yang lengkap.
Jenis katarak mungkin muncul sebagai katarak total, katarak polar, katarak
lamelar, atau opasitas nuklear. Semua anggota keluarga dekat harus diperiksa.
9

Infeksi penyebab katarak termasuk rubella (yang paling umum), rubeola,


cacar air, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis,
influenza, virus EpsteinBarr, sifilis, dan toksoplasmosis (Bashour, 2012).
Penyebab terjadinya katarak senilis hingga saat ini belum diketahui secara pasti.
Patofisiologi di balik terjadinya katarak senilis amat kompleks dan belum
sepenuhnya dimengerti. Namun ada beberapa kemungkinan di antaranya
terkait usia lensa mata yang membuat berat dan ketebalannya bertambah,
sementara kekuatannya menurun (Ocampo, 2013).
C. Klasifikasi
Katarak dapat diklasifikasikan menurut beberapa aspek, yaitu :
1.

Menurut usia :
i. Katarak kongenital ( terlihat pada usia dibawah 1 tahun )
ii. Katarak juvenil ( terlihat sesudah usia 1 tahun )

iii. Katarak senile ( setelah usia 50 tahun )


2. Menurut lokasi kekeruhan lensa :
a) Nuklear
b) Kortikal
c) Subkapsular (posterior/anterior) jarang
3.

Menurut derajat kekeruhan lensa :


a.
b.
c.
d.

4.

Insipien
Imatur
Matur
Hipermatur
Menurut etiologi :

a.Katarak primer
b.
1.

Katarak sekunder

Katarak Menurut Usia


a. Katarak Kongenital
Katarak Kongenital yaitu katarak yang mulai terjadi sebelum
atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun.
Kekeruhan sebagian pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir
umumnya tidak meluas dan jarang sekali mengakibatkan keruhnya
seluruh lensa.

Letak kekeruhan tergantung pada saat mana terjadi

gangguan pada kehidupan janin (Ilyas, 2003).


10

Gambar

b.

4.

Katarak kongenital

Katarak

Juvenil
Katarak

juvenil

adalah

katarak yang lunak

dan

terdapat

pada

orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan
kurang dari 50 tahun. Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak
sesudah lahir yaitu kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi
perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya
lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Biasanya
katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit keturunan
lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan
menimbulkan ambliopia (Ilyas, 2003).
Tindakan untuk memperbaiki

tajam

penglihatan

ialah

pembedahan. Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah


mengganggu pekerjaan sehari-hari. Hasil tindakan pembedahan sangat
bergantung pada usia penderita, bentuk katarak apakah mengenai
seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai kelainan lain pada saat
timbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media penglihatan
menambah kemungkinan ambliopia (Ilyas, 2003).
c. Katarak Senil
2.

Katarak Menurut Lokasi Kekeruhan


Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal,
a.

dan subkapsular posterior.


Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi
sklerotik. Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih
kekuningan menjadi cokelat dan kemudian menjadi kehitaman.
Keadaan ini disebut katarak brunesen atau nigra (Ilyas, 2003).

11

b.

Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa
menjadi cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks
refraksi lensa. Pada keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan
kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.

c.

Katarak Subkapsular Posterior


Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang
lebih muda dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak ini terletak
di lapisan posterior kortikal dan biasanya axial. Indikasi awal adalah
terlihatnya gambaran halus seperti pelangi dibawah slit lamp pada
lapisan posterior kortikal. Pada stadium lanjut terlihat granul dan plak
pada korteks subkapsul posterior ini. Gejala yang dikeluhkan penderita
adalah penglihatan yang silau dan penurunan penglihatan di bawah
sinar terang. Dapat juga terjadi penurunan penglihatan pada jarak dekat
dan terkadang beberapa pasien juga mengalami diplopia monokular.

3.

Katarak Menurut
a. Katarak Primer
Katarak

Etiologi
primer

merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan atau degenerasi,


bukan karena penyebab yang lain, seperti penyakit sistemik atau
metabolik, traumatik, toksik, radiasi dan kelainan kongenital.
b. Katarak Sekunder
1) Katarak Metabolik
Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit
sistemik, terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik
berikut ini : diabetes melitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun),
12

defisiensi gizi, distrofi miotonik, dermatitis atopik, galaktosemia,


dan sindrom Lowe, Werner, serta Down.
2) Katarak Traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma
benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru
senapan angin dan petasan merupakan penyebab yang sering;
penyebab lain yang lebih jarang adalah anak panah, batu, kontusio,
pajanan berlebih terhadap panas (glassblowers cataract), dan
radiasi pengion. Di dunia industri, tindakan pengamanan terbaik
adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik.
Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing
karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan
kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien
sering kali adalah pekerja industri yang pekerjaannya memukulkan
baja ke baja lain. Sebagai contoh, potongan kecil palu baja dapat
menembus kornea dan lensa dengan kecepatan yang sangat tinggi
lalu tersangkut di vitreus atau retina.
3) Katarak Komplikata
Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain
dapat menimbulkan katarak komplikata. Penyakit intraokular yang
sering menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis,
glukoma, ablasi retina, miopia tinggi dan lain-lain. Katarak-katarak
ini biasanya unilateral.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat
gangguan metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga
dapat terjadi pada tempat iris melekat dengan lensa (sinekia
posterior) yang dapat berkembang mengenai seluruh lensa.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan
gangguan keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk
kekeruhan ini berupa titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan
katarak pungtata subkapsular diseminata anterior atau dapat disebut
menurut penemunya katarak Vogt. Katarak ini bersifat reversibel
dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah terkontrol.
Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak
komplikata. Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata
dilakukan tindakan bedah bila kekeruhannya sudah mengenai
13

seluruh bagian lensa atau bila penderita memerlukan penglihatan


binokular atau kosmetik.
Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi
lensa ekstrakapsular. Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada
iridektomi perifer.
Katarak yang

berhubungan dengan penyakit

umum

mengenai kedua mata, walaupun kadang-kadang tidak bersamaan.


Katrak ini biasanya btimbul pada usia yang lebih muda. Kelainan
umum yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes melitus,
hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan lain-lain.
Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan
gambaran khas yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran
kapas di dalam masa lensa.
Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai
pada dataran belakang lensa, sedang pada penyakit umum lain akan
terlihat tanda degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis
lensa.
d. Gejala Klinis
Menurut Butterwick (2012) Katarak biasanya terbentuk secara
perlahan sehingga terkadang gejala yang timbul tidak dirasakan oleh
penderitanya. Gejala yang sering dikeluhkan oleh penderita katarak antara
lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Penglihatan berawan, kabur atau berkabut


Lebih nyaman saat melihat jarak dekat
Perubahan persepsi warna
Fotosensitif baik pada malam hari maupun siang hari
Penglihatan ganda (double vision)
Perubahan ukuran kacamata yang signifikan
Menurut Ocampo (2013) penderita katarak adalah sebagai berikut:

1. Pemeriksaan visus berkisar antara 6/9 sampai hanya persepsi cahaya


2. Pemeriksaan iluminasi oblik
3. Shadow test
4. Oftalmoskopi direk
5. Pemeriksaan sit lamp
Derajat kekerasan nukleus dapat dilihat pada slit lamp sebagai berikut.

14

e.

PATOFISIOLOGI
Semakin bertambah usia lensa, maka akan semakin tebal dan berat
sementara daya akomodasinya semakin melemah. Ketika lapisan kortikal
bertambah dalam pola yang konsentris, nukleus sentral tertekan dan mengeras,
disebut nuklear sklerosis. Ada banyak mekanisme yang memberi kontribusi
dalam progresifitas kekeruhan lensa. Epitel lensa berubah seiring bertambahnya
usia, terutama dalam hal penurunan densitas (kepadatan) sel epitelial dan
penyimpangan diferensiasi sel serat lensa (lens fiber cells). Walaupun epitel
lensa yang mengalami katarak menunjukkan angka kematian apoptotik yang
rendah, akumulasi dari serpihan-serpihan kecil epitelial dapat menyebabkan
gangguan

pembentukan

mengakibatkan

hilangnya

serat

lensa

kejernihan

dan
lensa.

homeostasis
Lebih

jauh

dan
lagi,

akhirnya
dengan

bertambahnya usia lensa, penurunan rasio air dan mungkin metabolit larut air
dengan berat molekul rendah dapat memasuki sel pada nukleus lensa melalui
epitelium dan korteks yang terjadi dengan penurunan transport air, nutrien dan
antioksidan. Kemudian, kerusakan oksidatif pada lensa akibat pertambahan usia
mengarahkan pada terjadinya katarak senilis (Berson, 1993).
Mekanisme lainnya yang terlibat adalah konversi sitoplasmik lensa
dengan berat molekul rendah yang larut air menjadi agregat berat molekul tinggi
larut air, fase tak larut air dan matriks protein membran tak larut air. Hasil
perubahan protein menyebabkan fluktuasi yang tiba-tiba pada indeks refraksi
lensa, menyebarkan jaras-jaras cahaya dan menurunkan kejernihan. Area lain
yang sedang diteliti meliputi peran dari nutrisi pada perkembangan katarak
secara khusus keterlibatan dari glukosa dan mineral serta vitamin (Gerhard,
2000).
Selain dari itu, terdapat juga teori free radical, dimana free radical
terbentuk jika terjadi reaksi intermediate reaktif kuat.

Free radical

mengakibatkan degenerasi molekul normal, dan dapat dinetralisir oleh vitamin E


dan antioksidan. Teori Across-Link dari para ahli biokimia mengatakan terjadi

15

pengikatan asam nukleat dan molekul protein sehingga terjadi gangguan fungsi
(Johns, 2011).

Faktor resiko katarak:


Fisik
Kimia
Penyakit
predisposisi
Genetic dan gg.
perkembangan
Infeksi virus dimasa
pertumbuhan janin
Usia

Perubahan
struktur korteks

Kerusakan selsel korteks

Hidrasi sel-sel
lensa

Kepadatan
lensa
berkurang

Gambar 14. Pathway katarak

f.

Sinar sejajar
masuk

Lensa menjadi
keruh

DIAGNOSIS
Diagnosa katarak dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium
preoperasi
dilakukan untuk mendeteksi adanya
Tidak
bisa

penyakit-penyakit yang difokuskan


menyertai. Penyakit seperti Diabetes Mellitus dapat
menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini dan
Penurunan
bisa dikontrol sebelum operasi
(Ocampo, 2013).
visus

Pada pasien katarak


sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk
penglihatan
mengetahui kemampuan melihat pasien. Pemeriksaan adneksa okuler dan
struktur intraokuler dapat memberikan petunjuk terhadap penyakit pasien dan
prognosis penglihatannya (Ocampo, 2013).
16

Pemeriksaan slit lamp tidak hanya difokuskan untuk evaluasi opasitas


lensa tetapi dapat juga struktur okuler lain, misalnya konjungtiva, kornea, iris,
bilik mata depan. Ketebalan kornea harus diperiksa dengan hati-hati, gambaran
lensa harus dicatat dengan teliti sebelum dan sesudah pemberian dilator pupil,
posisi lensa dan intergritas dari serat zonular juga dapat diperiksa sebab
subluksasi lensa dapat mengidentifikasi adanya trauma mata sebelumnya,
kelainan metabolik, atau katarak hipermatur. Kemudian lakukan pemeriksaan
shadow test untuk menentukan stadium pada katarak senilis. Selain itu,
pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek dalam evaluasi dari integritas
bagian belakang harus dinilai. Masalah pada saraf optik dan retina dapat menilai
gangguan penglihatan (Ocampo, 2013).
KATARAK SENIL
a. Definisi
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu diatas 50 tahun.
b. Epidemiologi
Di Amerika, paling tidak tiap tahunnya terjadi 300000-400000 gangguan
penglihatan akibat katarak, dengan minimal 7000 menjadi buta yang
irreversible akibat komplikasi pembedahan modern. Katarak senilis masih
menjadi penyebab kebutaan utama di seluruh dunia.
Sekitar 16 juta orang di seluruh dunia terkena efek dari katarak, dengan
teknik bedah modern menghasilkan 100.000-200.000 kebutaan mata
irreversible. Data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa 1,2% seluruh
populasi Afrika buta, dengan penyebab katarak 36% dari seluruh kebutaan
ini. Pada suatu survey yang dilakukan di 3 distrik di dataran Punjab, jumlah
seluruh insiden katarak senilis sekitar 15,3% dari 1269 orang yang diperiksa
yang berumur 30 tahun atau lebih. Ini meningkat dengan mencolok ada usia
70 tahun atau lebih menjadi 67%. Suatu analisa dari bentuk kebutaan di
Skotlandia Barat menunjukan katarak senilis adalah salah satu dari 4
penyebab utama kebutaan.
Indonesia memiliki angka penderita katarak tertinggi di Asia Tenggara.
Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5% atau lebih dari 3juta orang menderita
17

katarak. Sebagian besar penderita belum mampu melakukan operasi yang


membutuhkan biaya sekitar Rp. 4-5 juta.
c. Etiologi
Penyebab katarak senilis sampai saat ini masih belum diketahui secara
pasti dan diduga multifaktorial. Beberapa penyebab katarak diantaranya
adalah:
Konsep penuaan:
-

Teori putaran biologic (A biologic clock)


Jaringan embrio manusia dapat mebelah dari 50 kali mati
Imunologis: dengan bertambahnya usia akan bertambah caat imunologik
yang mengakibatkan kerusakan sel.
Teori mutasi spontan
Teori a free redical
o Free radikal terbentuk bila terjadi reaksi intermediate reaktif kuat
o Free radikal dengan moleku normal mengakibatkan degenerasi
o Free radikal dapat dinetralisasi oleh antioksidan dan vit. E
Teori a cross-link
Ahli biokimia mengatakan terjadinya pengikatan bersilang asam
nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi

Perubahan lensa pada usia lanjut:


-

Kapsul
Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak)
Mulai presbyopia
Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur
Terlihat bahan granular
Epitel semakin tipis
Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat.
Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata
Serat lensa
Lebih ireguler
Pada korteks jelas kerusakan serat sel
Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah
protein nucleus lensa, sedang warna coklat protein lensa nucleus

mengandung histidin dan tritofan disbanding normal.


Korteks tidak berwarna karena:
Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi
Sinar tidak banyak mengubah protei pada serat muda.

18

d. Patofisiologi
Kekeruhan lensa dapat terjadi akibat hidrasi dan denaturasi protein lensa.
Dengan bertambahnya usia, ketebalan dan berat lensa akan meningkat
sementara daya akomodasinya akan menurun. Dengan terbentuknya lapisan
konsentris baru dari kortek, inti nucleus akan mengalami penekanan dan
pengerasan. Proses ini dikenal sebagai sklerosis nuclear. Selain itu terjadi
pula proses kristalisasi pada lensa yang terjadi akibat modifikasi kimia dan
agregasi protein menjadi high-molecular-weight-protein. Hasil dari agregasi
protein secara tiba tiba ini mengalami fluktuasi refraktif index pada lensa
sehingga menyebabkan cahaya menyebar dan penurunan pandangan.
Modifiaksi kimia dari protein nukleus lensa juga menghasilkan pigmentasi
progresif yang akan menyebabkan warna lensa menjadi keruh. Perubahan lain
pada katarak terkait usia juga menggambarkan penurunan konsentrasi glutatin
dan potassium serta meningkatnya konsentrasi sodium dan calcium.
Terdapat berbagai faktor yang ikut berperan dalam hilangnya transparasi
lensa. Sel epithelium lensa akan mengalami proses degeneratif sehingga
densitasnya akan berkurang dan terjadi penyimpangan diferensiasi dari selsel fiber. Akumulasi dari sel-sel epitel yang hilang akan meningkatkan
pembentukan serat-serat lensa yang akan menyebabkan penurunan transparasi
lensa. Selain itu, proses degeneratif pada epithelium lensa akan menurunkan
permeabilitas lensa terhadap air dan molekul-molekul larut air sehingga
transportasi air, nutrisi dan antioksidan kedalam lensa menjadi berkurang.
Peningkatan produk oksidasi dan penurunan antioksidan seperti vitamin dan
enzim-enzim superoxide memiliki peran penting pada proses pembentukan
katarak.
e. Klasifikasi
Katarak Senil dapat dibagai atas 4 Stadium, yaitu :

1. Katarak Insipien
Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeruju menuju korteks
anterior dan posterior (katarak kortikal), vakuol mulai terlihat di dalam
korteks. Katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior
19

subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi
jaringan degeneratif (benda morgagni). Kekeruhan ini dapat menimbulkan
poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian
lensa, bila dilakukan uji bayangan iris akan positif, pada permulaan hanya
tampak bilapupil dilebarkan.

2. Katarak Imatur

Katarak belum seluruh lapis lensa,hanya sebagian lensa yang keruh,


akan bertambah volume lensanya akibat meningkatnya tekanan osmotik
bahan lensa yang degeratif. Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang
mengakibatkan lensa menjadi cembung sehingga memberikan perubahan
indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopi. Kecembungan ini akan
mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan
semakin sempit dan dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi
glaukoma sekunder. Uji bayangan iris pada keadaan ini positif.
3. Katarak Matur

20

Kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa, kekeruhan ini dapat


terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila proses degenerasi
berjalan terus menerus akan terjadi pengeluaran air bersama sama
hasil desintegrasi melalui kapsul, didalam stadium ini lensa akan
berukuran normal, iris tidak terdorong kedepan dan bilik mata depan akan
mempunyai kedalaman normal kembali. Lensa berwarna putih keruh
akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium.Bila dilakukan uji
bayangan iris akan terlihat negatif.
4. Katarak Hipermatur

Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut , lensa menjadi cair


dan dapat keluar melalui kapsul lensa. Masa lensa yang berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna
kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan
kapsul lensa, kadang kadang pengerutan berlanjut sehingga hubungan
dengan zonula Zinn menjadi kendor. Bila proses berjalan terus disertai
dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak
dapat keluar sehingga korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai
sekantong susu disertai nukleus yang terbenam didalam korteks lensa
karena lebih berat (keadaan ini disebut Katarak Morgagni). Uji bayangan
iris memberikan gambaran pseudopositif.
Tabel. Perbedaan Stadium Katarak Senilis
Kekeruhan

Insipien
Ringan

Imatur
Sebagian

Matur
Seluruh

Hipermatur
Masif
21

Cairan Lensa Normal


Iris
Normal
Bilik
Mata Normal

Bertambah
Terdorong
Dangkal

Normal
Normal
Normal

Berkurang
Tremulans
Dalam

Depan
Sudut Bilik Normal

Sempit

Normal

Terbuka

Mata
Shadow Test
Penyulit

Positif
Glaukoma

Negatif
-

Pseudopositif
Uveitis
+

Negatif
-

Glaukoma

Bentuk katarak senilis :


a. Katarak nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama kelamaan inti sel yang mulanya putih kekuning kuningan
menjadi coklat dan kemudian kehitam hitaman (Katarak brunesen atau
nigra)
b. Katarak kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi
cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi cahaya.
Pada keadaan ini penderita seakan akan mendapatkan kekuatan baru
untuk melihat dekat pada usia yang bertambah.
c. Katarak Kupuliform
Katarak kupuliform dapat terlihat pada stadium dini katarak kortikal atau
nuklear. Kekeruhan terletak dilapis korteks posterior dan dapat
memberikan gambaran piring. Makin dekat letaknya terhadap kapsul
makin cepat bertambahnya katarak, Katarak ini sering sukar dibedakan
dengan katarak komplikata.
Stadium katarak juga bias berdasarkan beratnya gangguan penglihatan
pada pasien. Pasien yang tidak bias membaca lebih dari baris 20/200
disebut memiliki katarak matur. Bila pasien bias membaca lebih baik dari
20/200, disebut katarak imatur. Katarak insipient adalah pada pasien yang
masih bias membaca 20/20 tetapi dengan pemeriksaan slitlamp dipastikan
telah terjadi opasitas lensa.
f. Gambaran Klinis
22

Gejala subjektif:
-

Tajam penglihaatan yang menurun sacara progresif dan penglihatan

seperti kabut.
Gangguan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis dari katarak

ketika pasien datang.


Silau, Keluhan ini termasuk seluruh spektrum dari penurunan sensitivitas
kontras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang hari

hingga silau ketika mendekat ke lampu pada malam hari.


Perubahan miopik, Progesifitas katarak sering meningkatkan kekuatan
dioptrik lensa yang menimbulkan myopia derajat sedang hingga berat.
Sebagai akibatnya, pasien presbiopi melaporkan peningkatan penglihatan
dekat mereka dan kurang membutuhkan kaca mata baca, keadaan ini
disebut dengan second sight. Secara khas, perubahan miopik dan second
sight tidak terlihat pada katarak subkortikal posterior atau anterior.

Diplopia

monocular.

Kadang-kadang,

perubahan

nuclear

yang

terkonsentrasi pada bagian dalam lapisan lensa, menghasilkan area


refraktil pada bagian tengah dari lensa, yang sering memberikan
gambaran

terbaik

pada

reflek

merah

dengan

retinoskopi

atau

ophtalmoskopi langsung. Fenomena seperti ini menimbulkan diplopia


monocular yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, prisma, atau
lensa kontak.
g. Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dapat diperoleh dari gejala-gejala klinis yang
dialami serta pemeriksaan oftalmologi. Pemeriksaan oftalmologi dapat
dilakukan dengan menggunakan senter, slit lamp dan funduskopi. Berikut
merupakan hasil temuan pemeriksaan oftalmologi pada katarak senilis dan
katarak stadium lainnya.

Kekeruhan lensa
Cairan Lensa
Iris
Bilik

Insipien
Ringan
Normal

Normal
Mata Normal

Imatur
Matur
Sebagian
Komplit
Bertambah (air Normal

Hipermatur
Masif
Berkurang (air+masa

masuk)
Terdorong
Dangkal

lensa keluar)
Tremulans
Dalam

Normal
Normal

Depan
23

Sudut

Bilik Normal

Mata
Shadow Test
Visus
Penyulit

Negatif
(+)
-

Sempit

Normal

Terbuka

Positif
<
Glaukoma

Negatif
<<
-

Pseudopositif
<<<
Uveitis+glaucoma

h. Penatalaksanaan
Katarak hanya bisa diatasi melalui prosedur operasi. Operasi dilakukan
apabila tajam penglihatan sudah menurun dan mengganggu pekerjaan seharihari atau bila katarak ini menimbulkan penyulit seperti glukoma dan
uveitis.Kadang cukup dengan menganti kacamata.
Indikasi dilakukan pembedahan:
- Indikasi optic: pasien mengeluh tajam penglihatan sudah menurun dan
-

mengganggu pekerjaan sehari-hari


Indikasi medis: kondisi katarak dioperasi diantaranya katarak hipermatur,
glukoma, uveitis, dislokasi/subluksasi lensa, benda asing intraretikuler,

retino diabetic, ablsio retina atau patologi segmen posterior lainya.


Indikasi kosmetik

Penatalaksanaan

definitif

untuk

katarak

senilis

adalah

ekstraksi

lensa.Terdapat 2 tipe ekstraksi lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi


(ICCE)

dan

ekstra

capsuler

cataract

ekstraksi

(ECCE).ECCE

dan

Phakoemulsifikasi.
-

Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)


Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama
kapsulnya.Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya

dengan

cryophake dan depindahkan dari mata melalui incisi korneal superior


yang lebar.Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan
lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi katarak
sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.
ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia
kurang dari 40 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea
kapsular.Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme,
glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.
-

Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)


24

Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran


isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga
massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan. Pembedahan
ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel,
bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior,
perencanaan implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan
dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya
prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami prolap badan kaca,
sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid macular
edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan
pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat
timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder.
-

Phakoemulsifikasi
Phakoemulsifikasi merupakan suatu teknik ekstraksi lensa dengan
memecah dan memindahkan kristal lensa. Pada tehnik ini diperlukan
irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Getaran ultrasonik
akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phako
akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah
lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut.
Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan dan irisan akan
pulih dengan sendirinya sehingga memungkinkan pasien dapat dengan
cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Tehnik ini bermanfaat
pada

katarak

kongenital,

traumatik,

dan

kebanyakan

katarak

senilis.Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat.


Persiapan preoperasi:
- Uji anel positif, dimana tidak terjadi obstruksi fungsi ekskresi saluran
-

lakrimal sehingga tidak ada dakriosititis


Tidak ada infeksi disekitar mata sepeti keratitis, konjungtiva, blefaritis,

hordeolum, dan kalazion


Tekanan bola mata normal dan tidak ada glukoma
Tekanan darah normal, sistolik > 140mmHg dan diastolic >90 mmHg
Gula darah telah terkontrol

i. Komplikasi

25

Glukoma dikatakan sebagai komplikasi katarak.Glukoma ini dapat


timbul akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa.Jika katarak ini
muncul dengan komplikasi glukoma maka diindikasikan ekstraksi lensa
secara bedah.Selain itu uveitis kronik yang terjadi setelah adanya opersi
katarak telah banyak dilaporkan.
-

Komplikasi Intra Operatif


Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior, pendarahan
atau efusi suprakoroid, pendarahan suprakoroid ekspulsif, disrupsi vitreus,
incacerata kedalam luka serta retinal light toxicity.1,6,7

Komplikasi dini pasca operatif

COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara


cairan yang keluar dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil
dan siliar, edema stroma dan epitel, hipotonus, brown-McLean
syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sentral yang bersih
paling sering)

Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus

Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi yang


tidak

adekuat

yang

dapat

menimbulkan

komplikasi

seperti

penyembuhan luka yang tidak sempurna, astigmatismus, uveitis


anterior kronik dan endoftalmitis.

Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan insisi

Komplikasi lambat pasca operatif

Ablasio retina

Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan virulensi


rendah yang terperangkap dalam kantong kapsuler

Post kapsul capacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah


Malformasi lensa intraokuler, jarang terjadi.

j. Pencegahan
Umumnya katarak terjadi bersamaan bertambahnya umur yang tidak
dapat dicegah.Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui
adanya katarak secara dini.Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya periksa
26

setiap tahun. Pada saat ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya katarak
dengan:
Tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatnya
radikal bebas dalam tubuh, sehingga risiko katarak akan bertambaha
Pola makan sehat dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang
mengandung vit. C, vit A dan vit E.
Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan
katarak pada mata.
Menjaga kesehatan tubuh seperti diabetes mielitus, hipertensi, dan
penyakit lainnya.
k. Prognosis
Penderita penyakit katarak memiliki prognosis untuk menjadi lebih baik
setelah dilakukan pembedahan dan disiplin dalam mematuhi penatalaksanan.
Dengan tehnik bedah yang mutakhir, komplikasi atau penyulit menjadi
sangat jarang.Hasil pembedahan yang baik dapat mencapai 95%.Pada bedah
katarak resiko ini kecil dan jarang terjadi. Keberhasilan tanpa komplikasi
pada pembedahan dengan ECCE atau fakoemulsifikasi menjanjikan
prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada
pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.

27

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata. 3 rd ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Ilyas, Sidarta, Muzakkir Tanzil, dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata.Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008.
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Sagung
Seto. 2002
Vaughan, Daniel G; Asbury, Taylor and Eva, Paul Riordan. 2000. Oftalmologi
Umum. 14th ed. Jakarta : Widya Medika.
Riordan-Eva, P, Whitcher, J P : Vaughan & Asburys General Ophthalmology,
Sixteenth edition, Mc Graw Hill Companies, Inc, Boston, Singapore,
International Edition 2004.
Khalilullah, Said Alvin. 2010. Patologi dan Penatalaksanaan pada Katarak Senilis.
Victor, Vicente. 2012. Senile Cataract. Available from :www.medscape.com.

28