Anda di halaman 1dari 13

Lembaran Pengesahan

KINETIKA ADSORBSI

OLEH:
KELOMPOK II

Darussalam, 03 Desember 2015


Mengetahui Asisten

(Asisten)

ABSTRAK

Telah dilakukan percobaan dengan judul Kinetika Adsorbsi yang bertujuan


untuk mempelajari kinetika adsorbsi zat warna pada beberapa adsorben dan
menentukan persaman kinetika adsorbsi yang dapat mewakili data kinetika
percobaan adsorbsi zat warna pada beberapa jenis adsorban. Prinsip yang
digunakan dalam percobaan ini berdasarlan pada variasi waktu adsorbsi terhadap
jumlah zat yang diserap oleh adsorben pada waktu tertentu menggunakan
spektrofotometer. Hasil yang diperoleh yaitu 2,834, 0,429, 0,626 dan 0,183 nm.
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu semakin lama waktu kontak adsorben
dengan adsorbat, maka semakin banyak zat yang teradsorbsi sehingga absorbansi
semakin kecil.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Limbah kimia kini terus dihasilkan dari produksi skala industri besar

maupun kecil. Salah satu penenganan limbah adalah adsorbsi. Adsorbsi


merupakan proses pengolahan limbah secara fisika. Sebelum dibuang ke alam
atau digunakan kembali, limbah kimia harus terlebih dahulu diolah.
Model kinetik yang sering digunakan untuk reaksi adsorbsi adalah model
pseuodo-orde pertama, kedua, dan model intrapartikel. Model pseuodo-orde
pertama adalah penyerapan molekul dari fasa cair ke fasa padat. Penyerapan ini
dapat dianggap sebagai proses reversible. Proses reversible ini menghasilkan
kesetimbangan yang dibentuk dari fasa cair ke fasa padat.
Adsorbsi merupakan suatu penyerapan zat pada bagian permukaan zatnya.
Adsorbsi terbagi atas dua macam yaitu adsorbsi fisik dan adsorbsi kimia. Adsorbsi
fisik dipengaruhi oleh sifat kimia suatu bahan. Adsorbsi digunakan untuk
menyatakan bahwa ada zat lain yang terserap pada zat tersebut. Kinetika adsorbsi
dipengaruhi oleh jenis adsorben, jenis adsorbat, konsentrasi adsorben dan zat, luas
permukaan, dan temperatur. Oleh karenanya, dirasa penting dilakukan percobaan
ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kinetika adsorbsi.

1.2

Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini ialah mempelajari kinetika adsorbsi zat warna

pada beberapa jenis adsorben, menentukan persamaan kinetika adsorbsi yang


dapat mewakili data kinetika percobaan adsorbsi zat warna pada beberapa jenis
adsorben.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Banyak industri, seperti industri kertas, plastik, makanan, kosmetik, tekstis
dan sebagainya, menggunakan zat warna untuk mewarnai produknya. Hal itu
menyebabkan limbah-limbah industri di atas mengandung zat warna dengan
konsentrasi yang tinggi. Limbah zat warna yang dibuang ke sungai akan
mengganggu aktivitas biologi yang ada. Kualitas air tanah juga akan tepengaruh
karna adanya proses leaching zat warna dari tanah. Zat warna terutama yang
sintesis bersifat non-degradabel, beracun, dan stabil. Zat warna yang dibuang ke
sungai akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam air sungai sehingga
akan menghambat proses fotosintesis tumbuhan air. Selain itu, zat warna juga
dapat dermatisis alergika, iritasi kulit, kanker, dan mutasi gen. Metode untuk
mengelola limbah zat warna yaitu koagulasi dan flokulasi, reverse osmosi, dan
adsorbsi. Metode yang banyak digunakan saat ini adalah adsorbsi. Pada umumnya
proses adsorbsi menggunakan karbon aktif sebagai adsorben. Akan tetapi proses
adsorbsi dengan karbon aktif menggukan biaya yang sangat mahal. Oleh karna itu
dicari alternatif adsorben lain dengan harga yang lebih murah, tongkol jagung,
kulit jeruk, kulit ari gandum, limbah biogas dan sebagainya (Widjanarko, 2008).
Kinetika adsorbsi juga merupakan salah satu faktor yang turut
mempengaruhi rancangan suatu proses adsorbsi dalam industri pengolahan
limbah. Adsorben yang baik adalah adsorben yang mampu menyerap zat warna
dengan cepat sehingga waktu kontak dengan larutan dengan biosorben cukup
singkat. Kinetika menggambarkan laju penyerapan solut yang selanjutnya akan
mengontrol waktu penyerapan adsorbat. Penentuan kinetika adsorbsi memiliki
peranan yang penting dalam menetukan laju penyerapan polutan (zat warna) dari
larutan untuk proses adsorbsi di industri. Kinetika adsorbsi pada pengelolahan
limbah juga berguna untuk mengetahui reaksi kimia dan mekanisme adsorbsi
yang terjadi. Untuk menetukan mekanisme adsorbsi yang terjadi digunakan
beberapa model kinetika, yaitu persamaan orde satu, persamaan orde dua, dan
persamaan Ritchie yang dimodifikasi (Srivastava, 2013).

Adsorbsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan
maupun gas terikat pada suatu padatan atau cairan (adsorben) dan akhirnya
membentuk suatu lapisan tipis atau film adsorbat pada permukaannya. Proses
adsorbsi dalam larutan, jumlah zat teradsorbsi tergantung pada beberapa faktor,
seperti jenis adsorben, jenis adsorbat, luas permukaan adsorben, konsentrasi zat
terlarut dan temperatur. Bagi suatu sistem adsorbsi tertentu, hubungan antara
banyaknya zat yang teradsorbsi persatuan waktu atau persatuan berat adsorben
dengan konsentrasi yang teradsorpsi pada suatu waktu tertentu disebut kinetika
adsorbsi. Kinetika adsorbsi menyatakan adanya proses penyerapan suatu zat oleh
adsorben dalam fungsi waktu. Adsorben dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
adsorbsi fisika (disebabakan oleh gaya Van der walls penyebab terjadinya
kondensasi gas untuk membentuk cairan yang ada pada permukaan adsorben) dan
adsorbsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan adsorben banyaknya
zat yang teroksidasi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang merupakan
fungsi tekanan dan suhu) (Sukardjo, 1990).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, labu ukur 100 mL,

erlenmeyer 250 mL, gelas beaker, batang pengaduk, kertas saring, dan shaking
water bath.
Bahan yang digunakan adalah karbon aktif, methylen orange, methylen
biru dan aquades.

3.2

Konstanta Fisik dan Tinjauan Keamanan

Tabel 3.1 Konstanta Fisik dan Tinjauan Keamanan


Berat Molekul
Titik
Titik
No
Bahan
o
(g/mol)
Didih ( C) Leleh (oC)
Methylen
1
327,34
300
orange

Tinjauan
Keamanan
Iritatisi

Methylen biru

319,85

105

Iritatisi

Karbon aktif

12,01

1440

372

Iritatif

Aquades

18

100

Aman

3.3

Cost Unit

Tabel 3.2 Cost Unit


No

Bahan

Methylen orange

Harga
Bahan/Satuan
Rp 1.071.000/25 g

0,5 g

Harga
Pemakaian
Rp 21.420

Methylen biru

Rp 900.000/ 25 g

0,5 g

Rp

18.000

Karbon aktif

Rp 720.000/20 kg

20 g

Rp

720

Aquades

Rp 5.000 / L

250 mL

Rp

1.250

Listrik

Rp

10.000

Total Harga

Pemakaian

1 kali

Rp 10.000
Rp 51.390

3.4

Prosedur Percobaan
Dibuat kurva standar yang menggambarkan hubungan antara konsentrasi

zat warna dan adsorbansi (adsorbansi 0,2-0,8). Dibuat larutan zat warna dengan
konsentrasi tertentu sebanyak 1 liter. Ditentukan konsentrasi awal zat warna
dengan menggunakan spektrofotometer. Diambil 8 buah erlenmeyer dan kedalam
erlenmeyer tersebut dimasukkan masing-masing 25 mL zat warna. Ditambahkan
adsorben dengan massa yang sama kedalam masing-masing erlenmeyer yang
berisi larutan zat warna.
Diatur suhu pada water bath sesuai dengan petunjuk asisten praktikum.
Dimasukkan erlenmeyer yang telah berisi campuran adsorben dan larutan zat
warna kedalam shaking water bath. Setiap selang waktu tertentu, dikeluarkan
erlenmeyer dari water bath, dan dipisahkan filtrat dari padatan dengan
menggunakan kertas saring. Dianalisa konsentrasi zat warna dalam filtrat dengan
menggunakan spektrofotometer.

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Data hasil pengamatan


Absorbansi

Konsentrasi

Kontrol

2.959

2.9591

2 menit

0.735

0.7352

4 menit

0.680

0.6796

6 menit

0.601

0.6011

8 menit

0.535

0.5358

4.2

Pembahasan
Kinetika adsorbsi merupakan proses penyerapan suatu zat oleh adsorben

dalam fungsi waktu. Adsorbsi terjadi pada permukaan zat padat karena adanya
gaya tarik atom atau molekul pada permukaan zat padat. Adsorbsi dibedakan
menjadi dua jenis yaitu adsorpsi kimia dan adsorpsi fisika. Adsorbsi kimia
melibatkan reaksi kimia sehingga proses yang diperlukan lebih besar dari adsorpsi
fisika. Adsorben pada proses ini bekerja secara spesifik. Oleh karena terlibatnya
reaksi kimia maka aka nada lapisan yang terbentuk yang menghalangi proses
adsorpsi. Akibatnya adsorpsi akan lambat. Sedangkan adsorpsi fisika melibatkan
gaya Van der Waals untuk mengadsorpsi adsorbat. Oleh karena hanya gaya fisika
yang telibat, proses adsorpsi ini tidak memerlukan energi besar. Proses ini
memerlukan sisi aktif dari zat padat untuk digunakan sebagai adsorben. Faktorfaktor yang mempengaruhi kinetika adsorbsi yaitu jenis adsorben, jenis adsorbat,
luas permukaan adsorbat, konsentrasi adsorbat, suhu dan waktu pengadukan.
Adsorben yang digunakan dalam percobaan ini yaitu arang aktif. Arang
aktif memiliki pori-pori aktif pada permukaan. Berkisar antara 300-3500 cm2/g
yang tergolong ukuran mikro. Oleh sebab itu, arang aktif dapat digunakan sebagai
adsorben karena mampu mengadsorpsi adsorbat. Adapun adsorbat yang
digunakan yaitu metal orange. Metil orange dilarutkan dalam etanol dikarenakan
kesamaan sifat antara keduanya sebagai senyawa semi polar. Larutan tersebut

kemudian ditambahakan arang aktif dan diaduk pada waktu. Percobaan ini
dilakukan pada suhu dan tekanan konstan sesuai dengan keadaan ruangan. Setelah
itu masing-masing sampel diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer.
Hasil pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer pada variasi waktu
2, 4, 6 dan 8 menit masing-masing absorbansinya adalah 2,959 nm, 0,735 nm,
0,680 nm, 0,601 nm dan 0,535 nm. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat
hubungan antara daya adsorbsi dan lama waktu pengadukan. Semakin lama waktu
maka adsorbansi semakin kecil. Hal ini disebabkan karena semakin lama waktu
kontak adsorbat dengan adsorben maka semakin banyak adsorbat yang terserap
sehingga semakin absorbansi yang terukur semakin kecil.
Berdasarkan data di atas, maka dapat dihitung nilai zat yang diserap pada
waktu tertentu. Hasil perhitungan diperoleh nilai konsentrasi pada waktu 2, 4, 6
dan 8 sebesar 88,956, 91,18, 94,32

dan 96,932 nm ml/gr. Data diatas

menunjukkan hubungan antara zat yang diserap dengan konsentrasi akhir dari
sampel yang telah diabsorbsi. Semakin banyak zat yang diserap maka konsentrasi
zat yang tertinggal di dalam sampel semakin kecil. Hal ini sesuai dengan teori
kinetika adsorpsi. Lamanya pengadukan akan meningkatkan gaya kinetik antara
adsorben dengan adsorbat. Oleh karenanya lama waktu pengadukan berbanding
lurus dengan daya adsorben, tetapi konsentrasi akhir berbanding terbalik dengan
jumlah zat warna yang terserap.

BAB V
KESIMPULAN

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat

disimpulkan bahwa:
1. Hasil absorbansi sampel dengan variasi waktu 2, 4, 6, 8 menit masingmasing

adalah

2,959,

0,735,

0,680,

0,601,

0,535

nm

dan

konsentrasinya masing-masing adalah 2.9591, 0.7352, 0.6796, 0.6011,


0.5358 nm,
2. Jumlah zat warna yang terserap adalah 88.956, 91.18, 94.32

dan

96.932 nm ml/gram .
3. Lama waktu pengadukan berbanding lurus dengan adsorbansi dan
konsentrasi.
4. Konsentrasi akhir berbanding terbalik dengan jumlah zat warna yang
terserap.

DAFTAR PUSTAKA

Widjanarko, Pamela Iryanti, dkk. 2014. Kinetika Adsorpsi Zat Warna Congo Red
dan Rhodemine B dengan Menggunakan Serabut Kelapa Dan Ampas
Tebu. Jurnal Teknik Kimia Indonesia. 5 (3) : 461-468.
Srivastava, V. C, dkk. 2013. Characterization Of Mesoporous Rice Husk Ash
(RHA) nd Adsorpsion Kinetics Of Metal Ion from Aqueous Solution Onto
RHA. Jurnal Hazard Mater. 134 (3) : 257-267.
Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Rineka Cipta, Jakarta.

LAMPIRAN

Diketahui : Co

= 2.9591 nm

= 20 ml

= 0.5 gram

Ct (1)

= 0.7352 nm

Ct (2)

= 0.6796 nm

Ct (3)

= 0.6011 nm

Ct (4)

= 0.5358 nm

Ditanya : qt?
Jawab

:
qt(1) = (Co-Ct) V/m
= (2.9591 nm - 0.7352 nm) 20 ml/0.5 gram
= (2.2239 nm) 40 ml/gr
= 88.956 nm ml/gr

qt(2) = (Co-Ct) V/m


= (2.9591 nm - 0.6796 nm) 20 ml/0.5 gram
= (2.2795 nm) 40 ml/gr
= 91.18 nm ml/gr
`
qt(3) = (Co-Ct) V/m
= (2.9591 nm - 0.6011 nm) 20 ml/0.5 gram
= (2.358 nm) 40 ml/gr
= 94.32 nm ml/gr

qt(4) = (Co-Ct) V/m


= (2.9591 nm - 0.5358 nm) 20 ml/0.5 gram
= (2.4233 nm) 40 ml/gr
= 96.932 nm ml/gr

qt

Hubungan Ct dengan qt
98
97
96
95
94
93
92
91
90
89
88

Qt
Linear (Qt)
y = -40x + 118,36
R = 1
0

0,2

0,4

0,6

0,8

Ct

Grafik 1. Hubungan antara Ct dengan qt