Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

KOLIK ABDOMEN

Diajukan untuk memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Dokter SMF Bedah
Pembimbing :
Dr. Winoto Hardjolukito. Sp.B. FINAC

Disusun Oleh :
Sakina J.H.Saleh
Richky Nurhakim

KEPANITERAAN KLINIK SMF BEDAH


RS ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah, Puji syukur penyusun panjatkan kehadiran ALLAH SWT atas
terselesaikannya laporan mengenai Kolik Abdomen.
Laporan ini disusun dalam rangka untuk dapat lebih mendalami dan memahami
tentang kolik abdomen. Tujuan khususnya adalah sebagai pemenuhan tugas kepaniteraan
SMF Bedah. Pada kesempatan ini, penyusun ingin mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada Dr. Winoto Hardjolukito. Sp.B.FINAC selaku pembimbing dalam laporan
ini.
Semoga dengan adanya laporan kasus ini dapat menambah khasanah ilmu
pengetahuan dan berguna bagi penyusun maupun peserta didik lainnya.
Penyusun menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penyusun sangat membutuhkan saran dan kritik untuk membangun laporan
kasus yang lebih baik di masa yang akan datang.
Terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb
Jakarta, Januari 2015

Penyusun

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Kolik abdomen merupakan suatu gawat perut adalah suatu keadaan klinis akibat
kegawatan di rongga perut, timbul mendadak, dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan
ini memerlukan penanggulangan segera berupa tindakan bedah.
Banyak penyakit menimbulkan gejala nyeri , namun belum membutuhkan tindakan
pembedahan. Hal ini memerlukan evaluasi dengan methode dan pemeriksaan yang sangat
berhati-hati
Abdomen akut berkisar antara 5 10 % dari semua kasus emergency dari 5 10.000
pasien di United States. Penelitian lain mendapatkan sekitar 25 %.
Keterlambatan melakukan tindakan pembedahan berakibat meningkatnya morbiditas
dan mortalitas.untuk itu evaluasi riwayat penyakit pasien, pemeriksaan fisik yang didapat,
data laboratorium, dan test imaging sangat menentukan keputusan seorang ahli bedah.
Dalam menanganan nyeri abdomen akut diperlukan kemampuan menelusuri penyakit
dasar dan riwayat klinis yang nantinya dikonfirmasi dengan penemuan saat pemeriksaan
fisik, pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi cavum peritoneum dan proses patologi
dalam cavum abdomen.
Untuk mempermudah dalam penanganan pasien dengan abdomen akut dibawah ini
disajikan bagan Assessment of Acut Abdominal Pain Lihat bagan I.

Bagan 1.Assessment of Acute Abdominal Pain

A. ETIOLOGI
Banyak kondisi yang dapat menimbulkan akut abdomen, apapun penyebabnya gejala
utama yang menonjol adalah nyeri akut pada daerah abdomen. Secara garis besar, akut
abdomen dapat disebabkan oleh infeksi atau inflamasi, oklusi obstruksi, dan perdarahan.
Keadaan infeksi atau peradangaan misalnya pada kasus apendisitis, kolesistitis, atau
penyakit Crohn. Keadaan oklusi obstruksi misalnya pada kasus hernia inkaserata atau

volvulus. Sedangkan keadaan perdarahan misalnya pada kasus trauma organ abdominal,
kehamilan ektopik terganggu, atau rupture tumor (Sinha, 2010).

B. PATOFISIOLOGI
Setiap stimulus yang dapat merangsang ujung serabut nyeri yang terdapat didaerah
visera yang luas dapat menimbulkan rasa nyeri visera. Pada dasarnya , semua nyeri visera
yang murni dalam rongga abdomen dijalarkan melalui serabut saraf sensorik yang
berjalan dalam saraf otonom, terutama saraf simpatis. Serabut serabut ini adalah serabut
kecil tipe C.
Bila nyeri viseral dialihkan kepermukaan tubuh, biasanya nyeri itu akan
dilokalisasikan sesuai segmen dermatom dari mana organ visera itu berasal pada weaktu
embrio, dan tidak memperhatikan dimana organ itu sekarang berada.
Misalnya, semasa embrio lambung kira-kira berasal darisegmen torakal ketujuh
sampai kesembilan.Karena itu nyeri lambung dialihkan ke epigastrium anterior diatas
umbilikus, yaitu daerah permukaan tubuh yang diinervasi oleh segmen torasika ke tujuh
sampai kesembilan. Nyeri dari visera seringkali secara bersamaan dilokalisasi di dua
daerah permukaan tubuh karena nyeri dijalarkan melalui jaras alih viseral dan
parietal.Misalnya pada apendisitis yang meradang, impuls nyeri yang berasal dari apendik
akan melewati sertabut-serabut nyeri viseral saraf simpatis dan selanjutnya akan masuk
ke medula spinalis kira-kira setinggi T-10 atau T-11; nyeri ini akan dialihkan ke daerah
sekeliling umbilikius .Sebaliknya impuls nyeri seringkali juga dimulai di peritoneum
parietale tempat apendiks yang meradang menyentuh atau melekat pada dinding
abdomen.hal ini menyebabkan nyeri tajam disekitar periotoneum yang teriritasi di
kuadran kanan bawah abdomen.

Nyeri viseral
Nyeri viseral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga
perut, misalnya cedera atau radang. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut
dipersarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak peka terhadap perabaan, atau pemotongan.
Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa rasa nyeri
pada pasien. Akan tetapi bila dilakukan penarikan atau peregangan organ atau terjadi
kontraksi yang berlebihan pada otot sehingga menimbulkan iskemik, misalnya pada kolik
atau radang pada appendisitis maka akan timbul nyeri. Pasien yang mengalami nyeri
viseral biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri sehingga biasanya ia
menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menunjuk daerah yang nyeri. Nyeri
viseral kadang disebut juga nyeri sentral (Sjamsuhidajat et all,2004).
Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan embrional organ
yang terlibat. Saluran cerna berasal dari foregut yaitu lambung, duodenum, sistem
hepatobilier dan pankreas yang menyebabkan nyeri di ulu hati atau epigastrium. Bagian
saluran cerna yang berasal dari midgut yaitu usus halus usus besar sampai pertengahan
kolon transversum yang menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian saluran cerna
yang lainnya adalah hindgut yaitu pertengahan kolon transversum sampai dengan kolon
sigmoid yang menimbulkan nyeri pada bagian perut bawah. Jika tidak disertai dengan
rangsangan peritoneum nyeri tidak dipengaruhi oleh gerakan sehingga penderita biasanya
dapat aktif bergerak(Sjamsuhidajat , dkk., 2004)

Nyeri somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi saraf tepi,
misalnya regangan pada peritoneum parietalis, dan luka pada dinding perut. Nyeri
dirasakan seperti disayat atau ditusuk, dan pasien dapat menunjuk dengan tepat dengan

jari lokasi nyeri. Rangsang yang menimbulkan nyeri dapat berupa tekanan, rangsang
kimiawi atau proses radang (Sjamsuhidajat dkk., 2004).
Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsang peritoneum dan
dapat menimbulkan nyeri. Perdangannya sendiri maupun gesekan antara kedua
peritoneum dapat menyebabkan perubahan intensitas nyeri. Gesekan inilah yang
menjelaskan nyeri kontralateral pada appendisitis akut. Setiap gerakan penderita, baik
gerakan tubuh maupun gerakan nafas yang dalam atau batuk, juga akan menambah
intensitas nyeri sehingga penderita pada akut abdomen berusaha untuk tidak bergerak,
bernafas dangkal dan menahan batuk (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).

Nyeri alih
Nyeri alih terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.
Misalnya diafragma yang berasal dari regio leher C3-C5 pindah ke bawah pada masa
embrional sehingga rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan
dirasakan di bahu. Demikian juga pada kolestitis akut, nyeri dirasakan pada daerah ujung
belikat. Abses dibawah diafragma atau rangsangan karena radang atau trauma pada
permukaan limpa atau hati juga dapat menyebabkan nyeri di bahu. Kolik ureter atau kolik
pielum ginjal, biasanya dirasakan sampai ke alat kelamin luar seperti labia mayora pada
wanita atau testis pada pria (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
Nyeri proyeksi
Nyeri proyeksi adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensoris akibat
cedera atau peradangan saraf. Contoh yang terkenal adalah nyeri phantom setelah
amputasi, atau nyeri perifer setempat akibat herpes zooster. Radang saraf pada herpes
zooster dapat menyebabkan nyeri yang hebat di dinding perut sebelum gejala tau tanda
herpes menjadi jelas (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).

Hiperestesia
Hiperestesia atau hiperalgesia sering ditemukan di kulit jika ada peradangan pada
rongga di bawahnya. Pada akut abdomen, tanda ini sering ditemukan pada peritonitis
setempat maupun peritonitis umum. Nyeri peritoneum parietalis dirasakan tepat pada
tempat terangsangnya peritoneum sehingga penderita dapat menunjuk dengan tepat lokasi
nyerinya, dan pada tempat itu terdapat nyeri tekan, nyeri gerak, nyeri batuk serta tanpa
rangsangan peritoneum lain dan defans muskuler yang sering disertai hipersetesi kulit
setempat. Nyeri yang timbul pada pasien akut abdomen dapat berupa nyeri kontinyu atau
nyeri kolik (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).

Nyeri kontinyu
Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietal akan dirasakan terus menerus
karena berlangsung terus menerus, misalnya pada reaksi radang. Pada saat pemeriksaan
penderita peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat. Otot dinding perut menunjukkan
defans muskuler secara refleks untuk melindungi bagian yang meraadang dan
menghindari gerakan atau tekanan setempat (Sjamsuhidaja, dkk., 2004)
Nyeri kolik
Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya
diakibatkan oleh hambatan pasase dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu ureter, batu
empedu, peningkatan tekanan intraluminer). Nyeri ini timbul karena hipoksia yang
dialami oleh jaringan dinding saluran. Karena kontraksi berbeda maka kolik dirasakan
hilang timbul (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).

Kolik biasanya disertai dengan gejala mual sampai muntah. Dalam serangan, penderita
sangat gelisah. Yang khas ialah trias kolik yang terdiri dari serangan nyeri perut yang
hilang timbul mual atau muntah dan gerak paksa.

Nyeri iskemik
Nyeri perut juga dapat berupa nyeri iskemik yang sangat hebat, menetap, dan tidak
mereda. Nyeri merupakan tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis. Lebih lanjut
akan tampak tanda intoksikasi umum seperti takikardia, keadaan umum yang jelek dan
syok karena resorbsi toksin dari jaringan nekrosis.

Innervasi sensoris organ


viseral
Lamanya rasa nyeri memang penting tetapi didalam menentukan diagnosa pasien
,lokasi nyeri,saat mulai, dan karakter dari nyeri sangat menolong. Nyeri abdomen selama 6
jam atau lebih menunjukkan beratnya derajat nyeri dan penanganan bedah harus
difikirkan.Nyeri viseral yang disebabkan oleh karena distensi, inflamasi atau iskemik
seringkali dirasakan tidak enak,rasa penuh pada daerah pertengahan abdomen.Lihat gbr.2
Dalam melakukan evaluasi dari nyeri abdomen, penjalaran nyeri menjadi sangat
penting.Kelainan

diregio

subdiafragma

menyebabkan

penjalaran

nyeri

ke

daerah
7

bahu.Penyakit biliar menyebabkan penjalaran nyeri ke bahu kanan atau kebelakang.Nyeri


abdomen bagian atas oleh karena ulkus peptikum, kolekistitis akut dan pankreatitis. Nyeri
abdomen bagian bawah sering disebabkan oleh karena di bidang obstetri dan gynecology
seperti cyste ovarium, divertikulitis, dan ruptur tubo-ovarial abses.Obstruksi pada usus halus
menyebabkan nyeri pertengahan abdomen dengan penjalaran nyeri ke bagian belakang.

Nyeri dari organ viseral abdomen

Penyebab tersering nyeri abdomen

Penyebaran nyeri pada akut abdomen

C. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan keadaan umum, wajah, denyut nadi,
pernafasan, suhu badan dan sikap berbaring. Gejala dan tanda dehidrasi, perdarahan, syok
dan infeksi atau sepsis juga perlu diperhatikan.
8

Inspeksi
Pada ileus obstruksi terlihat distensi abdomen bila obstruksinya letak rendah, dan bila
orangnya kurus kadang-kadang terlihat peristalik usus (Darm-steifung). Tanda-tanda khusus
pada trauma daerah abdomen. Keadaan nutrisi penderita. Cullens sign (daerah kebiruan pada
periumbilical) dan grey turners sign (daerah kebiruan pada bagian flank) merupakan tanda
pancreatitis
Bekas-bekas trauma pada dinding abdomen, memar, luka, prolaps omentum atau usus.
Kadang-kadang pada trauma tumpul abdomen sukar ditemukan tanda-tanda khusus, maka
harus dilakukan pemeriksaan berulang oleh dokter yang sama untuk mendeteksi
kemungkinan terjadinya perubahan pada pemeriksaan fisik. Pada ileus obstruksi terlihat
distensi abdomen bila obstruksinya letak rendah, dan bila orangnya kurus kadang-kadang
terlihat peristalsis usus (Darm-steifung).

Palpasi
Palpasi akan menunjukkan 2 gejala yaitu nyeri dan muscular rigidity/ defense
musculaire. Nyeri yang memang sudah dan akan bertambah saat palpasi sehingga dikenal
gejala nyeri tekan dan nyeri lepas. Pada peitonitis lokal akan timbul rasa nyeri di daerah
peradangan dan daerah penekanan dinding abdomen. defense musculaire/ muscular rigidity
ditimbulkan karena rasa nyeri peritonitis diffusa dan rangsangan palpasi bertambah sehingga
terjadi defense musculaire.
Kebanyakan kasus nyeri epigastrik atau nyeri perut atas akan didapatkan nyeri tekan.
Ada beberapa teknik palpasi khusus murphy sign (palpasi dalam di perut bagian kanan atas
menyebabkan nyeri hebat dan berhentinya nafas sesaat) untuk cholecystitis, rovsing sign
(nyeri di perut kanan bawah saat palpasi di daerah kiri bawah/samping kiri) pada
appendicitis. Nyeri lepas di perut kanan bawah pada appendicitis dan nyeri lepas di hampir

seluruh bagian perut pada kasus peritonitis. Palpasi pada kasus akut abdomen memberikan
rangsangan peritoneum melalui peradangan atau iritasi peritoneum secara lokal atau umum
tergantung dari luasnya daerah yang terkena iritasi.
Hepatomegali menandakan hepatitis dan abses hepar jika hebar teraba lunak, atau ca
liver jika teraba keras dan berbenjol-benjol. Benjolan di daerah epigastrik dapat berupa
kanker lambung atau pancreas.
Perkusi
Perkusi pada akut abdomen dapat menunjukkan 2 hal yaitu perasaan nyeri oleh
ketokan jari yang disebut sebagai nyeri ketok dan bunyi timpani karena meteorismus
disebabkan distensi usus yang berisikan gas karena ileus obstruksi letak rendah. Pekak hati
yang menghilang merupakan tanda khas terjadinya perforasi (tanda pneumoperitoneum,
udara menutupi pekak hati).

Auskultasi
Auskultasi dapat memberikan informasi yang berguna tentang saluran pencernaan dan
sistem vaskular. Suara usus biasanya dievaluasi kuantitas dan kualitasnya.
Data ini kemudian dapat dibandingkan dengan temuan selama palpasi dan dievaluasi untuk
konsistensi. Meskipun beberapa pasien sengaja mencoba untuk menipu dokter mereka,
beberapa mungkin melebih-lebihkan keluhan rasa sakit mereka sehingga tidak dapat
diabaikan atau dianggap enteng.
Cruveilhier-Baumgarten sign, adanya murmur pada auskultasi caput medusa pasien
dengan hipertensi portal, akibat rekanalisasi dari vena umbilical dengan aliran balik dari vena
porta.

Rectal Toucher

10

Pemeriksaan rectal toucher atau perabaan rektum dengan jari telunjuk juga merupakan
pemeriksaan rutin untuk mendeteksi adanya trauma rektum atau keadaan ampulla recti
apakah berisi faeces atau teraba tumor.
Colok dubur dapat membedakan antara obstruksi usus dengan paralisis usus karena
pada paralisis dijumpai ampula rekti yang melebar, sedangkan pada obstruksi usus
ampulanya kolaps. Pemeriksaan vagina menambah informasi kemungkinan kelainan di organ
ginekologis (Sjamsuhidajat, dkk., 2004).
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
-

Pemeriksaan darah rutin


Pemeriksaan Hb diperlukan untuk memantau kemungkinan terjadinya
perdarahan terus menerus. Demikian pula dengan pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm tanpa terdapatnya infeksi
menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak terutama pada kemungkinan ruptura
lienalis.
Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanya trauma
pankreas

atau

perforasi

usus

halus.

Kenaikan

transaminase

menunjukkan

kemungkinan trauma pada hepar.


-

Pemeriksaan urine rutin


Menunjukkan adanya trauma pada saluran kemih bila dijumpai hematuri.
Urine yang jernih belum dapat menyingkirkan adanya trauma pada saluran urogenital.

Pemeriksaan radiologi
-

Foto thoraks
Selalu harus diusahakan pembuatan foto thoraks dalam posisi tegak untuk
menyingkirkan adanya kelainan pada thoraks atau trauma pada thoraks. Harus juga
11

diperhatikan adanya udara bebas di bawah diafragma atau adanya gambaran usus
-

dalam rongga thoraks pada hernia diafragmatika.


Plain abdomen foto tegak
Akan memperlihatkan udara bebas dalam rongga peritoneum, udara bebas
retroperitoneal dekat duodenum, corpus alienum, perubahan gambaran usus.
IVP (Intravenous Pyelogram)
Karena alasan biaya biasanya hanya dimintakan bila ada persangkaan trauma pada
ginjal.

Pemeriksaan Ultrasonografi dan CT-scan


Berguna sebagai pemeriksaan tambahan pada penderita yang belum dioperasi dan
disangsikan adanya trauma pada hepar dan retroperitoneum.

E. PEMERIKSAAN KHUSUS
-

Abdominal paracentesis
Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangat berguna untuk menentukan
adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari 100.000 eritrosit/mm dalam
larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneum setelah dimasukkan 100--200 ml
larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakan indikasi untuk laparotomi.

Pemeriksaan laparoskopi
Dilaksanakan bila ada akut abdomen untuk mengetahui langsung sumber
penyebabnya.

Rektosigmoidoskopi
Bila dijumpai perdarahan dan anus perlu dilakukan rektosigmoidoskopi.

F. PENATALAKSANAAN
Tujuan dari penatalaksanaan Akut abdomen antara lain, adalah :
1) Penyelamatan jiwa penderita
2) Meminimalisasi kemungkinan terjadinya cacat dalam fungsi fisiologis alat pencemaan
penderita.

12

Biasanya langkah-langkah itu terdiri dari :


1) Tindakan penanggulangan darurat
a) Berupa

tindakan

resusitasi

untuk

memperbaiki

sistim

pernafasan

dan

kardiovaskuler yang merupakan tindakan penyelamatan jiwa penderita. Bila sistim


vital penderita sudah stabil dilakukan tindakan lanjutan.
b) Restorasi keseimbangan cairan dan elektrolit.
c) Pencegahan infeksi dengan pemberian antibiotika.

2) Tindakan penanggulangan definitive, tujuannya adalah :


a) Penyelamatan jiwa penderita dengan menghentikan sumber perdarahan.
b) Meminimalisasi cacad yang mungkin terjadi dengan cara :
o Menghilangkan sumber kontaminasi.
o Meminimalisasi kontaminasi yang telah terjadi dengan membersihkan rongga
peritoneum.
o Mengembalikan

kontinuitaspassage

usus

dan

menyelamatkan

sebanyak

mungkin usus yang sehat untuk meminimalisasi cacat fisiologis.


Tindakan untuk mencapai tujuan ini berupa operasi dengan membuka rongga
abdomen yang dinamakan laparotomi.
Dibawah ini digambarkan ilustrasi singkat penanganan pasien dengan abdomen akut.

penanganan pasien pankreatitis, pankreatitis akut


sebaiknya suportif terapi,bila dengan komplikasi sebaiknya dipilih tindakan
pembedahan

13

Banyak pasien dengan gambaran udara bebas di


cavum peritoneum, sebaiknya dipilih tindakan laparascopy atau laparatomy yang
diikuti dengan tindakan resusitasi dan persiapan yang baik.

Pada pasien obesitas, pemeriksaan ditemukan


kemungkinan akut abdomen , CT scan dapat membantu dalam menentukan diagnosa.

Pasien dengan nyeri abdomen dan ditemukan


abdomen akut dengan pemeriksaan USG

14

1. Appendisitis
A. Definisi
Appendicitis adalah suatu peradangan pada appendix. Peradangan ini pada
umumnya disebabkan oleh infeksi yang akan menyumbat appendix.

B. Etiologi
Appendicitis pada umumnya disebabkan oleh obstruksi dan infeksi pada appendix
sehingga terjadi kongestivaskular, iskemik dan akibatnya terjadi infeksi. Penyebab
obstruksi lainnya:
-

Fekolit

Hiperplasia folikel limfoid

Carcinoid atau tumor lainnya


15

Benda asing (biji-bijian)

Kadang parasit

C. Patofisiologi
Beberapa keadaan dapat berperan sebagai faktor pencetus antara lain sumbatan
lumen appendix oleh mukus yang terbentuk terus menerus atau akibat feses yang masuk
ke appendix yang berasal dari secum. Feses ini mengeras seperti batu dan disebut
fecalith.
Adanya obstruksi berakibat mukus yang diproduksi tidak dapat keluar dan
tertimbun di dalam lumen appendix. Obstruksi lumen appendix disebabkan oleh
penyempitan lumen akibat hiperplasia jaringan limfoid submukosa. Proses selanjutnya
invasi kuman ke dinding appendix sehingga terjadi proses infeksi. Tubuh melakukan
perlawanan dengan meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kuman-kuman tersebut.
Proses ini dinamakan inflamasi. Jika proses infeksi dan inflamasi ini menyebar sampai
dinding appendix, appendix dapat ruptur. Dengan ruptur, infeksi kuman tersebut akan
menyebar mengenai abdomen, sehingga akan terjadi peritonitis. Pada wanita bila invasi
kuman sampai ke organ pelvis, maka tuba fallopi dan ovarium dapat ikut terinfeksi dan
mengakibatkan obstruksi pada salurannya sehingga dapat terjadi infertilitas. Bila terjadi
invasi kuman, tubuh akan membatasi proses tersebut dengan menutup appendix dengan
omentum, usus halus atau adnexsa, sehingga terbentuk massa peri-appendicular. Di
dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi.
Appendix yang ruptur juga dapat menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah sehingga
terjadi septicemia.
terus meningkat terjadi perforasi dengan ditandai kenaikan suhu tubuh meningkat

16

E. Gejala Klinis
Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita, antara lain.
1. Nyeri abdominal.
Nyeri ini merupakan gejala klasik appendicitis. Mula-mula nyeri dirasakan samarsamar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar
umbilicus. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan
bawah (titik Mc. Burney). Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga berupa nyeri somatik setempat. Bila terjadi perangsangan peritoneum
biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk.
2. Mual-muntah biasanya pada fase awal.
3. Nafsu makan menurun.
4. Obstipasi dan diare pada anak-anak.
5. Demam, terjadi bila sudah ada komplikasi, bila belum ada komplikasi biasanya
tubuh belum panas. Suhu biasanya berkisar 37,7-38,3 C.

F. Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang
perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran
spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi.
Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendiculer.
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal
yaitu:

17

- Nyeri tekan di Mc. Burney.


- Nyeri lepas.
- Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietal .
Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada
nyeri pinggang.
3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada
peritonitis generalisata akibat appendicitis perforata.
Hubungan Patofisiologi dengan Manifestasi Klinik
Kelainan patologi
Peradangan awal
Appendicitis mukosa

Gejala dan tanda


Kurang enak ulu hati, mungkin kolik
Nyeri tekan kanan bawah (rangsangan

Radang di seluruh ketebalan dinding

otonomik)
Nyeri sentral pindah ke kanan bawah,

Appendicitis

komplit

peritoneum parietal appendiks

mual, dan muntah


radang Rangsangan
peritoneum

lokal

(somatik), nyeri pada gerak aktif dan

pasif, defans muskular lokal


Radang jaringan yang menempel pada Genitalia interna, ureter, m. Psoas,
appendiks
Appendicitis gangrenosa
Perforasi

vesica urinaria, rectum


Demam, takikardi, leukositosis
Nyeri dan defans muskular seluruh
perut

Pendindingan :
Tidak berhasil

Sda + demam tinggi, dehidrasi, syok,


toksik

Berhasil

Massa perut kanan bawah, keadaan


umum berangsur membaik
18

Abses

Demam remiten, KU toksik, keluhan


dan tanda setempat

Pemeriksaan Colok Dubur


Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan
didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
Tanda-Tanda Khusus
1. Psoas Sign
Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi
terlentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi
atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di abdomen kanan bawah.
2. Rovsing Sign
Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan bawah.
3. Obturator Sign
Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi
dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan
bawah.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus
appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular
infiltrat, LED akan meningkat.
- Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam
urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis
19

banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala
klinis yang hampir sama dengan appendicitis.
2. Abdominal X-Ray
Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis.
Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak.
3. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG,
terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai
untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan
sebagainya.
4. Barium enema
yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada
jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
5. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat
menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
6. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan
dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini
dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini
didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung
dilakukan pengangkatan appendix.
Kemungkinan apendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan skor
Alvrado. Sistem skor dibuat untuk menignatkan cara mendiagnosis apendisitis.

20

Tabel Skor Alvarado


Gejala Klinis

Skor

Nyeri abdominal pindah ke fossa iliaka kanan

Nafsu makan menurun

Mual dan atau muntah


Tanda Klinis

Nyeri lepas

Nyeri tekan fossa iliaka kanan

Demam (suhu > 37,2 C)


Pemeriksaan Laboratoris
Leukositosis (leukosit > 10.000/ml)
Shift to the left (neutrofil > 75%)
TOTAL

1
2
1
10

Interpretasi:
Skor7-10 = Apendisitis akut
Skor 5-6 = Curiga apendisitis akut
Skor 1-4 = Bukan apendisitis akut

I. Penatalaksanaan
Indikasi Operasi
Apabila diagnosis apendisitis telah ditegakkan dengan berbagai pemeriksaan
yang mendukung, hal tersebut sudah merupakan suatu indikasi operasi (apendektomi),
kecuali pada kasus-kasus tertentu seperti halnya pada keadaan dimana masa akut telah
dilewati namun muncul komplikasi dengan terbentuknya abses. Pada beberapa kasus
dapat digunakan antibiotik sebagai terapi tunggal untuk mengurangi massa abses
tersebut. Bila massa abses telah terbentuk di ekitar apendiks maka basis dari sekum

21

akan sulit untuk ditemukan, selain itu tindakan operatif secara aman akan sulit untuk
dikerjakan.

2. Pankreatitis
Pankreatitis akut adalah suatu reaksi peradangan akut pada pankreas, yang menurut
Scientific American Inc 1994 , 60-80% pankreatitis akut berhubungan dengan pemakaian
alkohol yang berlebihan dan batu saluran empedu.
Dalam keadaan normal, pankreas terlindung dari efek enzimatik dari enzimnya sendiri.
Semua enzim pankreas terdapat dalam bentuk inaktif . Aktifitas normal terjadi oleh
enterokinase di duodenum yang mengaktivasi tripsin dan selanjutnya mengaktivasi enzim
pankreas lainnya. Pada pankreatitis akut terjadi aktivasi prematur enzim pankreas tidak di
dalam duodenum melainkan di dalam pankreas, selanjutnya terjadi autodigesti pankreas.
Adapun mekanisme yang memulai aktivasi enzim antara lain adalah refluks cairan
empedu, aktivasi sistem komplemen, dan stimulasi yang berlebihan sekresi enzim. Isi
duodenum merupakan campuran dari enzim pankreas yang aktif, asam empedu, lisolesitin,
dan asam lemak yang talah mengalami emulsifikasi, dan semuanya ini dapat menginduksi
terjadinya pankreatitis akut. Pelepasan enzim aktif intraseluler ini menyebabkan kerusakan
sel. Kerusakan sel asiner ini akan menyebabkan aktivasi tripsin dan menyebabkan
pelepasan lipase. Lipase akan menyebabkan nekrosis lemak lokal maupun sistemik.

22

3. Kolik Bilier
Batu empedu merupakan kegagalan dalam mempertahankan zat terlarut empedu
tertentu, terutama kolesterol dan garam kalsium, dalam keadaan dilarutkan. Batu empedu
diklasifikasikan dari kandungan kolesterol baik sebagai batu kolesterol atau batu pigmen.
Batu pigmen lebih lanjut diklasifikasikan sebagai batu hitam dan batu coklat. Batu empedu
murni kolesterol jarang terjadi (sekitar 10%), dengan batu kolesterol terbanyak
mengandung garam kalsium di tengahnya, atau pada nidus. Pada populasi Amerika , 70%
sampai
80% dari batu empedu adalah batu kolesterol, dan batu pigmen hitam sekita 20% sampai
30%.
Sebuah presipitat (endapan) empedu yang penting dalam patogenesis batu empedu disebut
"lumpur, yang berarti campuran kristal kolesterol, granul (butiran) kalsium bilirubinat,
dan gel musin matriks. Lumpur bilier telah diamati secara klinis di negara-negara puasa
yang berkepanjangan atau dengan penggunaan jangka panjang total parenteral
gizi.
23

1. Batu Kolesterol
Batu kolesterol jarang terjadi hanya <10% dari semua jenis batu empedu. Biasanya
berupa batu-batu besar tunggal dengan permukaan yang halus. Kebanyakan batu kolesterol
lainnya mengandung jumlah yang bervariasi dari pigmen empedu dan kalsium, namun
selalu >70% kolesterol dari beratnya. Batu-batu ini biasanya banyak, ukuran bervariasi,
keras, tidak beraturan berbentuk seperti buah murbei. (Gambar 32-11). Warna berkisar dari
kuning keputihan dan hijau kehitaman. Sebagian besar batu kolesterol tampak radiolusen
dan <10% terlihat radiopak. Terjadinya supersaturasi dari empedu dengan kolesterol
memungkinkan terbentuknya formasi batu kolesterol. Oleh karena itu, kadar kolesterol
tinggi pada empedu dan adanya

batu kolesterol, dianggap sebagai satu penyakit.

Kolesterol bersifat sangat nonpolar dan tidak larut dalam air dan empedu. Kelarutan
kolesterol tergantung pada konsentrasi relatif dari kolesterol, garam empedu, dan lesitin
(fosfolipid utama dalam empedu).

2. Batu Pigmen
Batu pigmen mengandung <20% kolesterol dan berwarna gelap karena adanya
kalsium bilirubinat. Batu pigmen dibagi menjadi dua jenis, yaitu batu pigmen hitam dan
batu pigmen cokelat. Batu pigmen hitam dan batu pigmen coklat memiliki sedikit
kesamaan dan karena itu harus dianggap sebagai entitas yang terpisah.
Batu pigmen hitam berwarna hitam, kecil, rapuh. Dibentuk oleh supersaturasi dari
kalsium bilirubinat, karbonat, dan fosfat, yang sebab sekunder karena gangguan hemolitik
seperti sferositosis herediter dan sickle cell anemia, dan pada sirosis. Seperti batu
kolesterol, hampir selalu terbentuk di kandung empedu. Bilirubin tak terkonjugasi jauh
lebih sedikit larut dari bilirubin terkonjugasi dalam empedu. Dekonjugasi bilirubin dalam
empedu biasanya terjadi pada tingkat lambat. Tingkat berlebihan bilirubin terkonjugasi,

24

menyebabkan peningkatan produksi bilirubin tak terkonjugasi. Sirosis dapat menyebabkan


peningkatan sekresi bilirubin tak terkonjugasi. Ketika kondisi berubah menyebabkan
peningkatan kadar bilirubin dalam empedu deconjugated, presipitasi dengan kalsium
terjadi. Di negara-negara Asia seperti Jepang, batu hitam memiliki persentase yang lebih
tinggi dibandingkan di belahan bumi Barat.
Batu cokelat biasanya <1 cm, kuning kecoklatan, lembut, dan lunak. Bisa
terbentuk baik dalam kandung empedu atau di saluran empedu, penyebab sekunder
misalnya karena infeksi bakteri yang disebabkan oleh stasis empedu. Endapan kalsium
bilirubinat dan badan sel bakteri membentuk bagian utama dari batu. Bakteri seperti
Escherichia coli yang mensekresikan enzim glucuronidase memotong bilirubin
glukuronida untuk menghasilkan bilirubin tak terkonjugasi tak larut. Ini terpresipitasi
dengan kalsium, dan bersama dengan bada sel bakteri yang telah mati,. Batu coklat
biasanya ditemukan di traktus biliaris pada populasi Asia berhubungan dengan stasis
sekunder sampai infeksi parasit. Pada populasi Barat, batu coklat terjadi batu saluran
empedu primer pada pasien dengan striktur bilier atau batu duktus biliaris komunis
akibat stasis menyebabkan kontaminasi dan kontaminasi bakteri.

D. MANIFESTASI KLINIS
a. Asimptomatik Gallstone
b. Simtomatik Gallstone
c. Cholelithiasis dengan komplikasi

Simtomatik gallstone
Nyeri kolik bilier
Nyeri terlokalisasi ke kuadran kanan atas atau epigastrium dan bisa terasa sampai
25

ke ujung skapula kanan


Nyeri biasanya post-prandial, biasanya 1 jam setelah makan makanan berlemak
Awal onset nyeri meningkat terus selama 10-20 menit lalu bertahap berkurang
Gejala tambahan :
Mual muntah
Dispepsia
Intoleransi lemak
Kembung, bersendawa

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin
Liver Function Test : SGOT, SGPT
Pemeriksaan USG
Cholecystografi
Percutaneus Transhepatik Cholangiografi (PTC)
Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatiography (ERCP)
CT Scan
MRI

F. PENATALAKSANAAN
Pasien dengan batu empedu simtomatik harus disarankan untuk dilakukan
kolesistektomi laparoskopi elektif. Sambil menunggu operasi, atau jika operasi harus
ditunda, pasien harus disarankan untuk menghindari makan besar dan makanan yang
berlemak.

Pasien

diabetes

dengan

batu

empedu

simtomatik

harus

dilkukan
26

kolesistektomi segera, karena mereka lebih rentan untuk berkembang menjadi kolesistitis
akut yang sering parah. Kolesistektomi laparoskopi aman dan efektif pada anak-anak
serta

pada

dewasa.

Kolesistektomi,

terbuka

atau

laparoskopi,

untuk

pasien dengan batu empedu simtomatik memberikan hasil yang baik. Sekitar 90% dari
pasien dengan gejala yang khas empedu dan batu yang diberikan bebas dari gejala setelah
kolesistektomi. Untuk pasien dengan gejala khas atau dispepsia (perut kembung,
sendawa, kembung, dan intoleransi lemak makanan) hasilnya tidak menguntungkan.
Bedah :
1. Kolesistektomi terbuka
2. Kolesistektomi minilaparotomi
3. Kolesistektomi laparoskopi
4. Kolesistostomi
5. Kolangiografi Intraoperatif

G. KOMPLIKASI
- Cholesistitis akut
- Cholesistitis kronis
- Cholangitis
4. Kolik renal
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti
batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan ureter)
dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal
(batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ini terbentuk
dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.

27

BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu yang
berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar bersama
dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih atas (ginjal dan ureter)
menimbulkan kolik dan jika batu berada di saluran kemih bagian bawah (kandung kemih
dan uretra) dapat menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis
maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik
yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke perut juga
daerah kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon ureter
terhadap batu tersebut, dimana ureter akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa
nyeri kram yang hebat.
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil yaitu dengan
diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar tanpa intervensi medis.
Dengan cara mempertahankan keenceran urine dan diet makanan tertentu yang dapat
merupakan bahan utama pembentuk batu ( misalnya kalsium) yang efektif mencegah
pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien
BSK harus minum paling sedikit 8 gelas air sehari.
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu dapat
keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin
hidroklorida atau obat anti inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat
diberikan tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat digunakan untuk mengatasi
spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi saluran kemih atau pada
pengangkatan batu untuk mencegah infeksi sekunder.

28

KESIMPULAN

Akut abdomen merupakan sebuah terminologi yang menunjukkan adanya


keadaan darurat dalam abdomen yang dapat berakhir dengan kematian bila tidak
ditanggulangi dengan pembedahan. Keadaan darurat dalam abdomen dapat
disebabkan karena perdarahan, peradangan, perforasi atau obstruksi pada alat
pencemaan. Peradangan bisa primer karena peradangan alat pencernaan ataupun
perforasi akibat trauma.

29

Manajemen pasien dengan akut abdomen memerlukan keputusan yang tepat


dalam rentang waktu yang singkat, untuk melakukan operasi pembedahan. Keputusan
ini membutuhkan evaluasi dari riwayat pasien dan pemeriksaan

fisik, data

laboratorium, dan tes pencitraan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdominal Pain in the ED Setting (GAPEDS) phase I study. Am J Emerg Med.


2005;23(6):709717.

Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2004.Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta : EGC

Gerhardt RT, Nelson BK, Keenan S, Kernan L, MacKersie A, Lane MS. Derivation of
a clinical guideline for the assessment of nonspecific abdominal pain: the Guideline
for

30

Jones RS, Claridge JA. Acute abdomen. In: Townsend. Sabiston Textbook of Surgery.
17th ed. Philadelphia, Pa.: Saunders; 2004:12191240.

Stead. Latha G. et al., First Aid For the Surgery Clerkship. 2003. New York : McGraw Hill

http://generalsurgery-fkui.blogspot.com/2011/05/penatalaksanaan-apendisitis.html
( diakses pada tangggal 18 Januari 2015)

http://www.hvil.sld.cu/bvs/archivos/574_10sabiston%20textbook%20of%20surgery
%20acute%20abdomen.pdf diakses pada tanggal 18 Januari 2015

31