Anda di halaman 1dari 13

Belajar Merancang Pabrik Kimia

Email
Dipublikasikan: Minggu, 15 Desember 2013 07:08
Hits: 1848

Kata pabrik bukan hanya milik para insinyur atau


buruh semata. Bukan pula selalu mewakili sebuah sistem yang rumit, canggih dan sulit dipahami.
Pabrik adalah sarana untuk memproduksi barang kebutuhan manusia. Tujuan pendirian pabrik
adalah untuk bisa mendapatkan nilai tambah, biasanya nilai tambah secara ekonomi, dari bahan
baku yang diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Pabrik bisa
digolongkan dalam dua kelompok besar berdasarkan sejauh mana sebuah reaksi kimia terlibat
dalam proses produksi, yaitu pabrik manufaktur atau pabrik perakitan dan pabrik sintesis atau
pabrik kimia.
Pabrik perakitan tidak mengubah bahan baku menjadi produk dengan reaksi kimia sebagai proses
utama. Perubahan bahan baku menjadi produk bukan sebuah reaksi kimia. Pabrik perakitan
mobil, pabrik konveksi dan pabrik rokok adalah beberapa contoh pabrik yang termasuk dalam
kelompok ini. Pabrik kimia atau pabrik sintesis menyelenggarakan sebuah atau serangkaian
reaksi kimia untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Beberapa anggota kelompok ini
misalnya pabrik sabun, pabrik alat-alat kosmetik dan pabrik gula. Pabrik-pabrik yang kerja
utamanya membuat formulasi, hanya mencampurkan bahan-bahan kimia menjadi satu larutan
atau campuran juga digolongkan sebagai pabrik kimia.
Tulisan ini ditujukan untuk menjadi gambaran umum mengenai alur pikir secara umum dalam
merancang sebuah pabrik kimia. Namun demikian beberapa nilai yang perlu diperhatikan dalam
merancang pabrik kimia seperti yang akan dibahas lebih lanjut bisa juga diterapkan dalam
merancang pabrik perakitan.
Tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan memberikan panduan tentang apa
saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan teknologi proses produksi dan penentuan
lokasi pabrik yang kemudian dilanjutkan dengan panduan menghitung laba kotor dan kebutuhan
bahan baku per satuan kilogram produk. Panduan memilih dan merancang alat-alat yang akan
digunakan pabrik akan dituangkan pada tulisan bagian kedua. Tulisan ini akan ditutup dengan

panduan merencanakan tata letak pabrik serta perhitungan kelayakan ekonomi yang
memperhitungkan seluruh pengeluaran yang akan dan mungkin, pada bagian ketiga.
1. Pemilihan Pabrik Yang Akan Dibangun Serta Teknologi Yang Akan Digunakan
Pemilihan pabrik yang akan dibangun secara umum digolongkan menjadi tiga motivasi. Karena
permintaan pasar, karena ketersediaan bahan baku yang berlimpah serta karena tersedianya
teknologi baru. Bisa jadi motivasi untuk dibangunnya sebuah pabrik merupakan kombinasi dua
jenis motivasi di atas atau bahkan kombinasi ketiga-tiganya sekaligus.
Pembangunan pabrik karena permintaan pasar yang meningkat merupakan motivasi yang sangat
lazim dan sesuai dengan hukum ekonomi. Hal yang perlu diselidiki lebih lanjut adalah apakah
lonjakan permintaan pasar tersebut akan stabil terus meningkat di masa datang, atau ada alasanalasan khusus yang mempengaruhi pasar, seperti alasan tidak stabilnya politik negara, embargo
ekonomi, atau kecelakaan-kecelakaan yang dialami produsen lain, calon saingan, yang
menyebabkan produsen tersebut menurunkan produksi. Perlu data akurat dan analisis pasar yang
jeli dari orang-orang yang berpengalaman untuk memastikan kestabilan peningkatan permintaan
pasar. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kapasitas produksi calon-calon saingan dari pabrik
yang akan dibangun. Bisa jadi saingan tersebut sudah mengantisipasi lebih dahulu dan sudah
mulai meningkatkan kapasitas produksi sebagai usaha mencuri start.
Motivasi membangun pabrik karena ketersediaan bahan baku merupakan motivasi yang sangat
diharapkan dan didukung oleh pemerintah Indonesia. Fakta bahwa negara Indonesia punya
sumber daya alam yang beraneka ragam dan berlimpah tidak perlu dipertanyakan lagi.
Penggunaan bahan baku yang hanya ada di Indonesia akan meningkatkan daya saing pabrik
tersebut. Bahan baku dari bidang pertanian menjanjikan keunggulan tersebut karena ada banyak
jenis tumbuhan yang hanya bisa tumbuh alami di Indonesia. Hanya saja motivasi seperti ini
memerlukan pemikiran yang kreatif, pemahaman terhadap teknologi kimia yang handal serta
orang-orang yang memiliki visi tangguh. Tantangan lain adalah teknologi yang akan digunakan
bisa jadi teknologi yang benar-benar baru atau teknologi lama yang perlu banyak modifikasi.
Literatur juga terbatas disebabkan negara-negara maju jarang menyelenggarakan penelitian
pengembangan teknologi untuk mengolah bahan baku yang tidak ada di dalam negerinya.
Karena itu motivasi jenis ini memerlukan serangkaian penelitian dan pengkajian teknologi
sebelum pabrik yang dicita-citakan akan didirikan.
Negara-negara maju saat ini berlomba-lomba membangun pabrik karena motivasi tersedianya
suatu teknologi baru. Ketersediaan teknologi baru tidak hanya sekadar menyuguhkan suatu
teknologi proses yang lebih hemat tapi bisa juga suatu produk baru. Hal ini bisa meningkatkan
prestise negara tersebut di mata dunia. Pembangunan pabrik Compact Disc (CD) misalnya,
adalah sebuah contoh pabrik yang dibangun karena ketersediaan suatu teknologi dan
pengetahuan yang menyeluruh mengenai sinar laser dan apa yang mampu sinar laser akibatkan
pada struktur kristal. Tapi tetap saja motivasi jenis ini butuh ide-ide yang cemerlang dan inovatif,
yang percaya kalau fenomena sinar laser bisa digunakan sebagai sarana penyimpanan dan
pembacaan data digital. Tidak semua teknologi baru bisa dikembangkan menjadi pabrik dengan
produk baru.

Intinya, ketiga motivasi itu bisa berbuah menjadi sebuah pabrik apabila motivasi itu terdapat
pada diri orang yang paham teknologi, punya visi tangguh, berani bersaing, memperhitungkan
resiko dan berani menerima resikonya serta mau bekerja keras.
Pemilihan Lokasi Pabrik
Pemilihan lokasi pabrik secara umum bisa dikelompokkan berdasarkan dua alasan pemilihan,
mendekati tempat bahan baku berada atau mendekati tempat pasar berada. Alasan pemilihan
tersebut perlu mempertimbangkan biaya pengiriman dan transportasi, sarana dan prasarana di
daerah sekitar serta kebijakan pemerintah daerah setempat.
Pabrik biasanya didirikan di sekitar tempat bahan baku berada karena alasan bahan baku
memiliki konsentrasi yang terlalu rendah. Freeport rela membangun pabriknya di tengah hutan
Papua walaupun perusahaan tersebut harus mengeluarkan biaya besar untuk melengkapi sarana
transportasi, pembebasan tanah, perumahan karyawan dan lain-lain karena biaya produksi akan
jauh lebih mahal jika tanah yang mengandung emas dan tembaga tersebut dibawa ke tanah Jawa
dan didulang di Jawa. Alasan lain adalah bahan baku berupa gas atau cair yang perlu penanganan
khusus dalam pemindahan dan transportasinya. Inilah sebabnya lokasi pengilangan gas alam dan
minyak bumi berada di tempat terpencil. Pabrik yang menggunakan hasil pertanian sebagai
bahan baku juga sering dibangun di dekat kawasan pertaniannya untuk menghindari kerusakan
bahan baku karena busuk. Pabrik pengalengan ikan juga biasanya di dekat dermaga. Malah ada
pabrik yang dibangun di atas kapal untuk menghindari ikan menjadi busuk dan menghemat biaya
transportasi untuk pasar ekspor.
Istilah mendekati pasar di sini bukan semata-mata berarti harus berjarak dekat dengan pasar,
tapi maksudnya adalah memiliki akses yang mudah, murah dan cepat ke konsumen karena
tersedianya sarana transportasi yang memadai. Pemilihan lokasi pabrik yang mendekati pasar
adalah alasan yang lebih lazim digunakan. Bagi pabrik yang memproduksi produk yang rentan
dan perlu penanganan khusus, seperti pabrik es krim, membangun pabrik di dekat pasar yang
ditargetkan menjadi sangat penting. Pabrik yang memiliki banyak saingan juga perlu berada di
daerah yang memiliki akses yang mudah dan cepat ke pasar. Pabrik-pabrik minuman ringan (soft
drink) membangun pabrik pengemasan dalam botol (bottling company) di berbagai tempat untuk
memperluas pasarnya dan untuk menjaga agar konsumennya tidak beralih ke produk lain yang
sejenis. Istilah pasar sendiri tidak semata-mata pasar domestik namun juga berarti pasar
mancanegara jika perusahaan berorientasi pada produk ekspor. Bagi pabrik seperti ini, lokasi di
dekat dermaga atau bandar udara menjadi contoh lokasi pabrik yang mendekati pasar. Bahkan
kadang-kadang ada pabrik yang membangun dermaganya sendiri untuk kebutuhan ekspor bila
dermaga umum tidak layak atau terlalu ramai.
Pemilihan lokasi mendekati pasar biasanya lebih disukai apabila pemerintah daerah setempat
memiliki dan mengatur tata kota dengan visi sebagai kota kawasan industri. Segala sarana
perhubungan seperti jalan raya dan jalan bebas hambatan, dermaga dan bandara serta sarana
utilitas seperti listrik dan air bersih adalah milik umum yang diusahakan oleh pemerintah. Sarana
perumahan untuk karyawan juga akan mudah terjangkau dari kawasan pabrik jika kota tersebut
memiliki tata kota yang baik sebagai kota industri. Sarana hiburan bagi karyawan tidak perlu

disediakan oleh perusahaan karena pihak swasta akan berlomba-lomba untuk membangunnya di
kota tersebut.
Akan lain halnya jika lokasi pabrik mendekati bahan baku dan harus didirikan di lokasi terpencil.
Segala sarana perhubungan, sarana utilitas, perumahan karyawan berikut sarana hiburan dan
peribadatannya perlu menjadi perhatian perusahaan pemilik pabrik. Hal ini akan berarti
tambahan biaya investasi. Tetapi perusahaan yang didirikan di lokasi mendekati bahan baku
biasanya memiliki keuntungan biaya operasional yang lebih ringan serta dukungan pemerintah
daerah setempat. Bahkan kadang-kadang perusahaan bisa mendesak pemerintah daerah untuk
mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan perusahaan misalnya kelonggaran peraturan
mengenai lingkungan hidup dan ketenagakerjaan. Kebijakan pemerintah menjadi faktor yang
sangat mempengaruhi perolehan profit dan benefit bagi perusahaan. Pemerintah daerah kawasan
industri akan menetapkan upah minimum regional yang tinggi serta peraturan lingkungan yang
ketat. Kebijakan ini berani dilakukan karena pemerintah daerah tersebut sadar akan nilai tawar
dari kawasannya. Oleh sebab itu perusahaan yang akan membangun pabrik di kawasan industri
harus menghadapi biaya operasional yang lebih besar untuk pengeluaran sosial (social cost).
Pada akhirnya pemilihan lokasi mendekati bahan baku atau mendekati pasar juga berdasarkan
keuntungan ekonomi (profit) dan keuntungan sosial kemasyarakatan (benefit) dari akibat
pemilihan lokasi. Dalam rangkaian tulisan ini hanya dibahas analisis keuntungan ekonomi
(profit). Untuk keperluan tersebut perlu perhitungan yang cermat dalam neraca massa dan energi
pabrik produksi serta pemilihan sistem proses dan sistem pemroses yang paling efisien.
2. Menghitung Kapasitas Produksi serta Memilih Sistem Proses dan Sistem Pemroses
Tujuan utama usaha merancang dan membangun pabrik kimia adalah mendapatkan nilai tambah
dari segi ekonomi dari suatu bahan baku. Peningkatan nilai ekonomi dilakukan dengan cara
mengolah bahan baku menjadi suatu produk yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi sehingga
perusahaan pengolah memperoleh laba (profit). Pada pabrik yang memproduksi barang kimia
dasar seperti pupuk urea, asam sulfat, etanol dan sejenisnya, patokan mutunya semata-mata
hanyalah komposisi dan kemurnian. Harga jual produk dan bahan baku untuk masing-masing
kemurnian tertentu dan tetap. Bagi pabrik-pabrik seperti ini, pilihan untuk mendapatkan laba
lebih banyak bukan dengan meningkatkan mutu melainkan dengan cara menghemat ongkos
produksi dan memperbanyak jumlah produk yang dihasilkan per tahunnya. Jumlah produk yang
dihasilkan per satuan waktu tertentu inilah yang dinamakan kapasitas produksi.
Perhitungan kapasitas produksi yang cermat menjadi aspek yang sangat penting dalam usaha
memperoleh laba lebih banyak. Tentu saja perhitungan ini harus didukung dengan analisa
kebutuhan pasar yang cermat pula sebagaimana yang telah disinggung pada bagian 1.
Meningkatkan kapasitas produksi dapat dilakukan dengan cara menambah dan atau modifikasi
peralatan yang ada agar bisa beroperasi lebih optimal dan efisien. Usaha modifikasi ini
membutuhkan pemahaman tentang sistem proses dan sistem pemroses.
Andaikan Anda ingin mengawetkan ikan bandeng. Anda memiliki beberapa pilihan cara
pengawetan: dikeringkan, diasinkan atau diasapkan. Cara-cara pengawetan ini dinamakan sistem
proses. Jika Anda memilih sistem proses pengasapan untuk mengawetkan bandeng, untuk

selanjutnya hanya dinamakan sistem pengasapan. Produk Anda adalah bandeng asap. Untuk
membuat bandeng asap, sekali lagi Anda menjumpai pilihan sistem proses, menggunakan asap
dalam bentuk gas atau asap cair. Jika Anda memilih menggunakan asap gas, Anda membutuhkan
tungku untuk menghasilkan asap dan ruang pengasapan. Jika Anda memilih menggunakan asap
cair, Anda membutuhkan wadah, ember misalnya, untuk merendam bandeng dalam asap cair.
Tungku penghasil asap, ruang pengasapan dan ember adalah sistem pemroses. Ilustrasi mengenai
bandeng asap ini diharapkan dapat memantapkan pemahaman terhadap sistem proses dan sistem
pemroses.
Usaha produksi dalam pabrik kimia membutuhkan berbagai sistem proses dan sistem pemroses
yang dirangkai dalam suatu sistem proses produksi yang terkendali. Untuk lebih mudah,
rangkaian sistem proses produksi ini dinamakan teknologi proses. Selain permintaan pasar dan
ketersediaan bahan baku serta utilitas, sebagaimana telah disinggung pada bagian 1, kinerja
teknologi proses juga menjadi patokan dalam menetapkan kapasitas produksi karena bisa jadi
suatu teknologi proses memiliki batas kapasitas minimum agar perusahaan tetap mendapat laba.
Teknologi proses yang dijual dalam bentuk lisensi biasanya ditampilkan dalam bentuk rangkaian
sistem proses yang dinamakan diagram alir atau block diagram. Diagram alir yang lebih rinci
menampilkan rangkaian sistem pemroses dan dinamakan flow chart. Segala lisensi yang
dipatenkan dan diperdagangkan merupakan lisensi atau paten untuk rancangan teknologi proses.
Anda mungkin sering mendengar proses Kraft untuk teknologi proses produksi keju, proses
Richard untuk pemurnian garam dapur, proses Kelloggs untuk teknologi proses produksi susu
bubuk, proses Faurchild untuk proses produksi kaca jendela. Ibarat penghargaan Nobel untuk
ilmuwan, penghargaan Pulitzer untuk jurnalis, maka Kirkpatrick Award adalah penghargaan
bertaraf internasional bagi para perancang teknologi proses produksi pabrik kimia yang dianggap
memberikan kontribusi atau terobosan baru yang paling kreatif di dunia perancangan teknologi
proses. Diagram Alir dan Neraca Massa & Energi
Usaha membuat block diagram menjadi flow chart memerlukan perhitungan neraca massa dan
energi. Neraca massa adalah kajian jumlah material yang masuk, keluar dan yang terakumulasi
dari tiap-tiap sistem proses. Neraca energi adalah rangkaian proses keseluruhan serta kajian
tentang jumlah energi (panas) yang harus dipasok atau dikeluarkan dari tiap-tiap sistem proses
dan rangkaian proses secara keseluruhan. Perkembangan teknologi komputasi telah banyak
membantu dalam penyediaan berbagai software untuk perhitungan neraca massa dan energi, di
antaranya Hisys dan ChemCad.
Data yang paling menarik dari neraca massa dan energi adalah jumlah masing-masing bahan
baku, serta bahan bakar yang dibutuhkan untuk memproduksi produk per satuan jualnya,
misalnya per kilo atau per liter. Perhitungan perolehan produk dapat ditentukan dari data
tersebut. Perolehan bermakna, berapa persen bahan baku yang diumpankan berubah menjadi
produk. Perhitungan laba per satuan jual juga dapat ditentukan dari data ini. Jika Anda ingin
modal investasi untuk membangun pabrik didapat kembali setelah pabrik beroperasi dalam kurun
waktu tertentu, Anda bisa memperkirakan seberapa banyak produk yang harus dibuat dalam
kurun waktu tersebut dengan data ini. Dengan kata lain, Anda telah menetapkan kapasitas
produksi Anda.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung neraca massa dan energi adalah penggunaan
dasar perhitungan dalam kaitannya dengan teknologi proses. Pabrik yang menyelenggarakan
proses produksi secara sinambung (continuous) 24 jam sehari 300 hari setahun seperti pabrik
pupuk dan pabrik pengilangan minyak bumi menggunakan dasar perhitungan laju produksi, laju
material yang masuk dan keluar sistem proses per satuan waktu yang singkat, misalnya per jam
atau per menit.
Penggunaan dasar perhitungan ini tidak cocok digunakan pada sistem proses yang beroperasi
partaian (batch) atau proses yang membutuhkan waktu lama dalam beroperasi, misalnya proses
fermentasi. Misalnya Anda mampu membuat tape (peuyeum) 480 kg dalam sekali proses dengan
lama proses fermentasi 2 hari. Perhitungan Anda akan lebih akurat jika mengunakan dasar
perhitungan 1440 kg per minggu daripada 10 kg per jam, dengan anggapan seminggu 6 hari
kerja.
Penggunaan dasar perhitungan juga perlu memperhatikan rentang waktu antar pengiriman bahan
baku dan penjualan produk. Apakah bahan baku dikirim dalam jumlah tertentu seminggu sekali,
sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Pertimbangan ini juga mempengaruhi besar gudang yang
dibutuhkan. Sistem Pereaksian dan Sistem Pemisahan & Pemurnian
Pemilihan sistem pemroses yang menjadi unit-unit teknologi proses sangat bergantung pada
beban kerja sistem pemroses yang diketahui dari perhitungan neraca massa dan energi. Secara
garis besar, sistem proses utama dari sebuah pabrik kimia adalah sistem proses pereaksian, yang
untuk kemudian dinamakan sistem pereaksian, dan sistem proses pemisahan & pemurnian, yang
untuk kemudian dinamakan sistem pemisahaan & pemurnian. Walaupun ada pabrik yang sistem
proses utamanya hanya terdiri dari sistem pemisahan & pemurnian saja seperti pabrik gula dan
pabrik garam, atau hanya sistem pereaksian saja seperti pabrik sabun.
Sistem pereaksian merupakan ciri khas pabrik kimia. Proses perubahan bahan baku menjadi
produk terjadi dalam sistem ini. Pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab sebelum merancang
sistem pereaksian adalah bagaimana persamaan reaksi dan stoikiometrinya, pada suhu dan
tekanan berapa reaksi akan diselenggarakan, apakah bahan yang akan direaksikan pada fasa
padat, cair atau gas, apakah reaksi tersebut memerlukan katalis, apakah fasa katalis yang
digunakan padat atau cair, apakah reaksi tersebut menghasilkan panas atau membutuhkan
pemanasan dan berapa lama reaksi itu berlangsung.
Sistem pemroses bagi sistem proses pereaksian adalah reaktor. Ada dua model teoritis paling
populer yang digunakan dalam merancang reaktor yang beroperasi dalam keadaan tunak, yaitu
Continous Stirred Tank Reactor (CSTR) dan Plug Flow Reactor (PFR). Perbedaannya adalah
pada dasar asumsi konsentrasi komponen-komponen yang terlibat dalam reaksi. CSTR adalah
reaktor model berupa tangki berpengaduk dan diasumsikan pengaduk yang bekerja dalam tanki
sangat sempurna sehingga konsentrasi tiap komponen dalam reaktor seragam sebesar konsentrasi
aliran yang keluar dari reaktor. Model ini biasanya digunakan pada reaksi homogen di mana
semua bahan baku dan katalisnya berfasa cair, atau reaksi antara cair dan gas dengan katalis cair.
Untuk reaksi heterogen, misalnya antara bahan baku gas dengan katalis padat menggunakan
model PFR. PFR mirip saringan air dari pasir. Katalis diletakkan pada suatu pipa lalu dari selasela katalis dilewatkan bahan baku seperti air melewati sela-sela pasir pada saringan. Asumsi

yang digunakan adalah tidak ada perbedaan konsentrasi tiap komponen yang terlibat di
sepanjang arah jari-jari pipa.
Sistem pemisahan dan pemurnian bertujuan agar hasil dari sistem pereaksian sesuai dengan
permintaan pasar sehingga layak dijual. Sistem pemisahan kadang juga diperlukan untuk
menyiapkan bahan baku agar konsentrasi atau keadaannya sesuai dengan katalis yang membantu
penyelenggaraan reaksi.
Pemilihan sistem pemisahan dan pemurnian tergantung pada perbedaan sifat fisik dan sifat kimia
dari masing-masing komponen yang ingin dipisahkan. Perbedaan sifat fisik yang bisa
dimanfaatkan untuk memisahkan komponen-komponen dari satu campuran adalah perbedaan
fasa (padat, cair atau gas), perbedaan ukuran partikel, perbedaan muatan listrik statik, perbedaan
tekanan uap atau titik didih dan perbedaan titik bekunya. Perbedaan sifat kimia yang bisa
dimanfaatkan untuk memisahkan komponen-komponen suatu campuran adalah kelarutan dan
tingkat kereaktifan.
Sistem pemroses yang dibangun tergantung pada jenis perbedaan apa yang ingin dimanfaatkan
untuk memisahkan komponen tersebut. Sistem pemroses alat penyaring dan ruang pengendapan
bisa digunakan untuk menyelenggarakan sistem proses pemisahan padatan dari cairan atau gas,
sementara untuk memisahkan dua fasa cair tak larut hanya bisa menggunakan ruang
pengendapan. Sistem pemroses alat penyaring juga bisa digunakan untuk memisahkan bahan
padat dengan ukuran partikel yang berbeda. Sistem pemroses pemisahan dan pemurnian yang
paling lazim di pabrik kimia adalah distilasi dan ekstraksi. Distilasi memanfaatkan perbedaan
perbedaan tekanan uap masing-masing komponen sedangkan ekstraksi memanfaatkan perbedaan
derajat kelarutan komponen terhadap satu jenis atau satu campuran pelarut.
Sistem Penukar Panas dan Sistem Utilitas
Kedua sistem proses utama di atas, baik sistem pereaksian maupun sistem proses pemisahan &
pemurnian membutuhkan kondisi operasi pada suhu dan tekanan tertentu. Menaikkan atau
menurunkan tekanan biasanya dilakukan dengan cara menaikkan suhu pada suatu ruang yang
volum dan isinya dijaga tetap. Suatu sistem penukar panas dibutuhkan agar sistem proses utama
bisa berlangsung.
Sistem pemroses untuk sistem penukar panas adalah alat pemindah panas ataau dikenal dengan
heat exchanger. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang dan memilih heat exchanger
adalah suhu dan tekanan saat proses pemindahan panas terjadi, fasa fluida yang memberi dan
menerima panas serta apakah terjadi perubahan fasa pada fluida pemanas atau yang dipanaskan,
dan sifat fisik masing-masing fluida. Sifat fisik fluida meliputi kapasitas panas (Cp), kalor
penguapan, dan besaran kecepatan pindah panas. Hal-hal di atas dipertimbangkan untuk
menentukan luas permukaan sentuh antara fluida pemanas dan yang dipanaskan agar proses
pemindahan panas sempurna.
Dalam pabrik, panas biasanya disimpan dalam fluida yang dijaga pada suhu dan tekanan
tertentu. Fluida yang paling umum digunakan adalah air panas dan uap air karena alasan murah
dan memiliki kapasitas panas tinggi. Fluida lain biasanya digunakan untuk kondisi pertukaran

panas pada suhu di atas 100 C pada tekanan atmosfer. Air atau uap air bertekanan (dinamakan
kukus) mendapatkan panas dari tungku pembakaran atau boiler.
Sistem pemindahan panas tidak hanya bertugas memberikan panas tetapi juga menyerap panas.
Misalnya, menyerap panas dari sistem proses yang menghasilkan energi misalnya sistem proses
yang melibatkan reaksi eksotermik atau menyerap panas agar kondisi sistem di bawah suhu
ruang atau suhu sekitar. Untuk penyerap panas agar suhu di bawah suhu ruang biasanya pabrik
menggunakan refrigerant, bahan yang sama dengan yang bekerja pada lemari es Anda.
Penggunaan air sebagai media pendingin juga dibatasi sifat fisiknya yaitu titik didih dan titik
beku. Suhu air pendingin perlu dikembalikan ke suhu sekitar atau suhu ruang agar bisa
difungsikan kembali sebagi pendingin. Sistem pemroses yang melakukan ini adalah cooling
tower.
Cooling tower, boiler dan tungku pembakaran merupakan sistem-sistem pemroses untuk sistem
penyedia panas dan sistem pembuang panas. Kedua sistem proses ini bersama-sama dengan
sistem penyedia udara bertekanan, sistem penyedia listrik dan air bersih untuk kebutuhan
produksi merupakan sistem penunjang berlangsungnya sistem proses utama yang dinamakan
sistem utilitas. Kebutuhan sistem utilitas dan kinerjanya tergantung pada seberapa baik sistem
utilitas tersebut mampu melayani kebutuhan sistem proses utama dan tergantung pada efisiensi
penggunaan bahan baku dan bahan bakar.
Pabrik tidak harus mempunyai sistem pemroses utilitas sendiri. Listrik misalnya, pabrik bisa
membelinya dari PLN jika kapasitas PLN setempat mencukupi atau membeli dari pabrik
tetangga. Demikian pula untuk unit pengolahan limbah, unit penyedia kukus & air pendingin dan
unit penyedia udara bertekanan. Pada suatu kawasan industri, misalnya di Singapura, beberapa
unit utilitas untuk seluruh kawasan dikelola oleh negara. Layaknya PLN & PDAM di Indonesia,
Singapura memiliki perusahaan pengolahan limbah, perusahaan penyedia gas bahan bakar &
udara bertekanan. Pada beberapa kawasan yang masih belum terjangkau jaringan perusahaan
tersebut, ada perusahaan swasta yang ditunjuk pemerintah untuk menjual kebutuhan utilitas. Ini
menjadi salah satu keunggulan yang lebih memikat para investor untuk menanamkan modalnya
di Singapura.
Jika suatu pabrik ingin menyediakan sistem utilitasnya sendiri, sistem pemroses untuk sistem
utilitas mudah didapat di pasar. Banyak perusahaan yang menjual boiler atau tungku pembakaran
dalam berbagai kapasitas panas. Sama seperti generator listrik dan alat penjernihan air. Anda
tinggal menentukan berapa banyak panas yang dibutuhkan pabrik per jam atau per harinya, sama
seperti menentukan berapa kWh listrik yang Anda butuhkan. Pihak penjual akan
merekomendasikan boiler atau generator listrik yang sesuai kebutuhan Anda bahkan
memasangkannya pada pabrik Anda.
Memang merancang sistem pemroses untuk utilitas tidak serumit merancang sistem proses dan
sistem pemroses utama. Kedua sistem ini membutuhkan pengetahuan kimia dan teknik kimia
yang mendalam terhadap teknologi proses yang akan dibangun. Jika Anda membeli lisensi
teknologi proses, Anda bisa mempercayakan perancangan dan pembangunan pabrik pada pihak
penjual lisensi, tentunya dengan harga beli yang lebih tinggi. Anda bisa menggunakan jasa
perusahaan konsultan dalam merancang dan membangun sistem proses dan sistem pemroses

utama jika ingin merancang teknologi proses sendiri. Perusahaan yang bergerak di jasa
perancangan pabrik kimia yang ada di Indonesia diantaranya adalah PT Rekayasa Industri
(ReKin) dan PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT).
Setelah proses perancangan dan pembangunan pabrik selesai, pabrik tersebut harus dioperasikan
dalam keadaan yang terkendali dan menghasilkan produk dengan mutu yang terkendali pula.
Untuk itu, pabrik perlu dilengkapi dengan sistem pengendalian dan sistem management sumber
daya manusia yang terlibat, yang akan mengatur dan mengendalikan proses produksi.
3. Sistem Pengendalian dan Sistem Manajemen Pabrik serta Kajian Kelayakan Ekonomi
Suatu pabrik dirancang dan dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan nilai guna barang.
Bahan baku yang awalnya memiliki nilai guna rendah jika diolah dalam pabrik akan
menghasilkan suatu produk, baik produk akhir maupun produk intermediate, yang nilai gunanya
lebih tinggi. Dengan mengubah nilai guna suatu bahan maka nilai jualnya juga berubah. Nilai
jual yang tinggi tentu saja sangat diharapkan oleh semua pabrik karena dari situ perusahaan
pengolah mendapatkan laba (profit).
Sistem Pengendalian
Untuk mendapatkan laba yang banyak maka barang yang dihasilkan tentulah harus mempunyai
kualitas yang bagus. Kondisi selama proses produksi sangat mempengaruhi kualitas produk.
Suatu proses akan berjalan dengan baik jika dioperasikan pada kondisi optimumnya. Oleh karena
itu dibutuhkan suatu alat pengendali (controller).
Tugas controller adalah mereduksi signal kesalahan yaitu perbedaan antara signal setting dengan
signal aktual. Hal ini sesuai dengan tujuan sistem pengendalian adalah mendapatkan signal
aktual (yang diinginkan) sama dengan signal setting. Semakin cepat reaksi sistem mengikuti
signal aktual dan semakin kecil kesalahan yang terjadi maka semakin baik kinerja sistem
pengendali yang diterapkan.
Jika perbedaan antara nilai setting dengan nilai keluaran relatif besar maka controller yang baik
seharusnya mampu mengamati perbedaan ini untuk segera menghasilkan signal keluaran untuk
mempengaruhi proses. Dengan demikian sistem secara cepat mengubah keluaran proses sampai
diperoleh selisih antara setting dengan keluaran yang diatur sekecil mungkin.
Jenis controller ada beberapa macam. Pertama proportional controller (P) yang memiliki
keluaran yang sebanding dengan besarnya kesalahan signal (selisih antara besaran yang
diinginkan dengan harga aktualnya). Keluaran proportional controller merupakan perkalian
antara konstanta-konstanta proporsional dengan masukannya. Perubahan pada signal masukan
akan segera menyebabkan sistem secara langsung mengubah keluarannya sebesar konstanta
pengalinya. Apabila nilai konstanta proporsionalnya kecil, proportional controller hanya mampu
melakukan koreksi kesalahan yang kecil sehingga akan menghasilkan respon sistem yang
lambat. Jika nilai konstanta proporsional dinaikkan, respon sistem menunjukkan semakin cepat
mencapai keadaan tunaknya. Akan tetapi jika nilai tersebut diperbesar sehingga mencapai harga
yang berlebihan, akan mengakibatkan sistem bekerja tidak stabil atau respon sistem akan

berosilasi. Jenis proportional controller biasanya digunakan untuk mengendalikan ketinggian


cairan dalam tangki.
Kedua adalah integral controller yang berfungsi menghasilkan respon sistem yang memiliki
kesalahan keadaan tunak . Kalau sebuah pabrik tidak memiliki unsur integrator (1/s),
proportional controller tidak akan mampu menjamin keluaran sistem dengan kesalahan kondisi
tunaknya nol. Integral controller memiliki karakteristik seperti halnya sebuah integral. Keluaran
controller sangat dipengaruhi oleh perubahan yang sebanding dengan nilai signal kesalahan.
Keluaran controller ini merupakan jumlahan yang terus menerus dari perubahan, keluaran akan
menjaga keadaan seperti sebelumnya terjadi perubahan masukan. Dalam pemakaiannya biasanya
proportional controller digabungkan dengan integral controller menjadi proportional integral
controller (PI). Hasilnya berupa kurva berbentuk gelombang. Controller jenis ini biasanya
digunakan untuk mengendalikan tekanan.
Ketiga adalah differential controller yang memiliki sifat seperti halnya suatu operasi derivatif.
Perubahan yang mendadak pada masukan controller akan mengakibatkan perubahan yang sangat
besar dan cepat. Ketika masukannya tidak mengalami perubahan, keluaran controller juga tidak
mengalami perubahan. Differential controller umumnya dipakai untuk mempercepat respon awal
suatu sistem, tetapi tidak memperkecil kesalahan pada kondisi tunak. Kerja differential controller
hanya efektif pada lingkup yang sempit yaitu pada periode peralihan. Oleh karena itu differential
controller tidak pernah digunakan tanpa ada controller lain dalam sebuah sistem.
Setiap kekurangan dan kelebihan dari masing-masing proportional controller, integral dan
diferensial dapat saling menutupi dengan menggabungkan ketiganya secara paralel menjadi
proportional integral differential controller (controller PID). Elemen-elemen proportional
controller, integral dan diferensial masing-masing secara keseluruhan bertujuan untuk
mempercepat reaksi sebuah sistem, menghilangkan offset dan menghasilkan perubahan awal
yang besar. Controller jenis ini biasanya digunakan untuk mengendalikan suhu dan laju alir
dalam sebuah reaktor.
Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia
Guna menjalankan suatu proses di pabrik tidak hanya dibutuhkan teknologi yang canggih dan
instrumentasi yang terkendali. Tetapi juga sumber daya manusia sebagai perancang, pelaksana
dan pengendali proses. Secara fungsional suatu perusahaan dipimpin oleh seorang direktur utama
yang bertugas menjalankan kepemimpinan perusahaan, menetapkan sistem dan tata kerja
perusahaan dan menentukan kebijaksanaan perusahaan. Direktur utama memegang kekuasaan
tertinggi di perusahaan.
Seorang direktur utama dibantu oleh beberapa direktur, kepala bagian, kepala seksi dan
koordinator shift. Jumlah karyawan dari tingkat operator ke tingkatan lebih tinggi akan
membentuk sebuah piramida. Artinya semakin ke atas jumlahnya semakin kecil.
Untuk pabrik-pabrik yang menggunakan sistem Continue (24 jam sehari dan 330 hari dalam
setahun), karyawannya dibedakan menjadi 2 macam. Pertama karyawan regular yang
mempunyai jam kerja tetap. Mereka bekerja setiap hari kerja dan libur pada hari Sabtu, Minggu

dan hari besar. Kedua adalah karyawan shift yang terbagi dalam 4 regu dan dalam sehari terdapat
3 regu shift sedangkan 1 regu shift libur. Pembagian shift diatur sedemikian rupa sehingga
sehabis shift malam, karyawan mendapat libur 2 hari. Biasanya dalam 1 kelompok shift terdapat
seksi proses, utilitas, logistik, listrik dan instrumentasi, bengkel, safety dan keselamatan kerja. Ini
biasanya berlaku pada pabrik-pabrik besar, seperti pabrik pembuatan keramik, atau pabrik-pabrik
kimia lainnya.
Sedangkan untuk pabrik yang menggunakan sistem Batch, seperti pabrik-pabrik pembuatan
makanan (tempe, tahu), tidak diberlakukan karyawan shift, artinya karyawan bekerja secara
regular setiap hari.
Uji Kelayakan Ekonomi
Suatu pabrik layak didirikan jika telah memenuhi beberapa syarat antara lain safety-nya terjamin
dan tentu saja dapat mendatangkan profit. Dalam hal ini kita akan memfokuskan pada kelayakan
secara ekonomi saja. Untuk mendirikan suatu pabrik diperlukan modal yang cukup besar. Modal
ini bisa berasal dari investor maupun dari pinjaman bank. Modal yang digunakan ada 2 macam
yaitu modal tetap dan modal kerja. Modal tetap meliputi pembelian alat-alat, instalasi, pemipaan,
instrumentasi, isolasi (jika perlu), listrik, utilitas, bangunan, tanah, engineering and construction,
contractors fee dan contingency. Modal kerja besarnya tergantung pada jenis pabrik dan
kapasitasnya. Modal kerja ini meliputi raw material inventory, in process inventory, product
inventory, extended credit dan available cash.
Kedua modal di atas digunakan untuk biaya produksi yang terbagi menjadi 3 macam yaitu biaya
produksi langsung, biaya produksi tidak langsung dan biaya tetap. Biaya produksi langsung
adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan langsung suatu proses, seperti bahan
baku, buruh dan supervisor, perawatan, plant supplies, paten dan royalty dan utilitas. Biaya
produksi tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendanai hal-hal yang secara tidak
langsung membantu proses produksi, antara lain payroll overhead (seperti rekreasi karyawan),
laboratorium, plant overhead, packing dan pengapalan. Biaya tetap adalah biaya yang tetap
dikeluarkan baik pada saat pabrik berproduksi maupun tidak. Biaya ini mencakup depresiasi,
pajak dan asuransi. Selain itu ada juga biaya umum yang meliputi administrasi, sales expenses,
penelitian dan finance. Laba atau profit diperoleh dari hasil pengurangan harga jual dengan biaya
produksi.
Selain berorientasi pada perolehan profit, perusahaan juga harus bisa mengembalikan modal
apalagi jika modal itu berasal dari pinjaman. Waktu untuk pengembalian modal dinyatakan
dengan persentase Return On Investment (ROI) yang dirumuskan sebagai perbandingan laba
dengan modal tetap. Bisa juga dinyatakan dalan Pay Out Time (POT). Besarnya Return On
Investment dan Pay Out Time berbeda untuk tiap jenis pabrik tergantung dari resiko yang
ditimbulkan oleh proses dalam pabrik .
Uji kelayakan ekonomi juga dinyatakan dalam bentuk grafik hubungan kapasitas produksi dan
biaya yang harus dikeluarkan. Akan terbentuk 2 buah titik yaitu Shut Down Point dan Break
Even Point. Shut Down Point adalah suatu titik di mana pada kondisi itu jika proses dijalankan
maka perusahaan tidak akan mendapatkan laba tetapi juga tidak menimbulkan kerugian. Jika

pabrik beroperasi pada kapasitas di bawah titik Shut Down Point maka pabrik akan mendapatkan
rugi. Titik Break Even Point adalah keadaan yang timbul jika pabrik beroperasi pada kapasitas
penuh. Nilai Break Even Point yang baik untuk pabrik kimia biasanya berkisar antara 40%
60%.
Dengan memperhatikan semua unsur, dari pemilihan lokasi, pemilihan teknologi, kapasitas,
teknologi proses dan pemroses serta ditunjang dengan pengendalian proses dan sistem
manajemen sumber daya manusia yang baik, maka dapat diperoleh laba yang optimum.
Penulis: Teuku Beuna Bardan (Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI) melaui www.chem-istry.org
Bahan bacaan:
*Turton,Bailie, Whiting& Shaelwitz Analysis Synthesis and Design of Chemical Processes
*Smith

Chemical
Process
Design
*Bowman Applied Economic Analysis for Technologiest, Engineers and Managers
*Martyn.S.Ray & Martin.G.Sneesby Chemical Engineering Design Project
*Tarek.M.
Khalil

Management
of
Technology

*Dutta & Manzoni Process Reengineering, Change&Performance Improvement


*Kunto
Mangkusubroto
&
Listiarini
Trisnadi

Analisa
Keputusan
*Soesilo
&
Wilson

Site
Remediation,
planning
&
management
* Turton, Bailie, Whiting & Shaelwitz Analysis Synthesis and Design of Chemical Processes
*
Smith
Chemical
Process
Design
* Bowman Applied Economic Analysis for Technologists, Engineers and Managers
* Martyn.S.Ray & Martin.G.Sneesby Chemical Engineering Design Project
*
Tarek.M.
Khalil
Management
of
Technology
* Dutta & Manzoni Process Reengineering, Change & Performance Improvement
*
Kunto
Mangkusubroto
&
Listiarini
Trisnadi
Analisa
Keputusan
*
Soesilo
&
Wilson
Site
Remediation,
planning
&
management
* Himmelblau Basic Principles and Calculation in Chemical Engineering 5th edition. Prentice
Hall
*
Treybal
Mass
Transfer
Operation
3rd
edition
Mc
Graw
Hill
* Klaus Sattler & H.J.Feindt Thermal Separation Process Willey International Edition
* Humprey & Keller Separation Process Technology Mc Graw Hill
* Froust, Menzel, Clump, Andersen Principles of Unit Operation Jhon Willey & sons
* Cheremisinoff Handbook of Chemical Process Equipment Butterworth * Heinennman
* Perry Green Perrys Chemical Engineering Handbook 5th edition. Mc Graw Hill
*
Branan
Rules
of
Thumb
for
Chemical
Engineers
* Austin Shreve Shreves Chemical Process Industries 5th edition. Mc Graw Hill
*
Mc
Ketta
Unit
Operations
Handbook;
Vol
1
&
2
Dekker
* Aries, R.S. and Newton,R.D.,"Chemical Engineering Cost Estimation"
* Peters,M.S. and Timmerhous,K.D., "Plant design and Economic for Chemical Engineers"
* Ulrich,G.D, "Guide to Chemical Engineering Process Design and Economics"
* Rusli, Muhammad, "Sistem Kontrol" Johnson, Curtis, "Process Control Instrumentation
Technology"

Artikel Sesudahnya

Disain Blower dan Cerobong untuk Membuang Limbah - 13/05/2014 05:42

Artikel Sebelumnya

Mengenal Baterai Litium-ion - 09/05/2013 14:30

Fenomena Brain Drain bagi Negara Berkembang - 22/07/2012 06:02

Rekayasa Perangkat Lunak (Software Engineering) - 15/03/2012 11:44

Mengenal Energi Biomassa - 26/02/2012 18:26

Penggunaan Kaporit pada Pengolahan Air Bersih sebagai Pemicu Penyebab Kanker 31/01/2012 11:03