Anda di halaman 1dari 11

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, munculya fenomena lesbi, gay, biseksual,

dan transgender (LGBT) menjadi pekerjaan Indonesia sebagai bangsa. Masyarakat hendaknya
tidak menyalahkan dan menyudutkan pelaku LGBT, mereka adalah korban yang perlu bantuan.
Persoalan ini perlu dilihat dari berbagai perspektif, baik dari sisi agama, sosial, medis, maupun
HAM. ujar dia dalam Rapat Komite III DPD, Senayan, Selasa (26/1).
Senada dengan Menteri Agama, Menristek Dikti Mohamad Nasir juga menyatakan; Pelarangan
saya terhadap LGBT masuk ke kampus harus difahami secara objektif. Kampus terbuka lebar
untuk segala kajian, edukasi yang bertujuan untuk membangun kerangka keilmuan. Bukan
berarti saya melarang segala kegiatan yang ada kaitannya dengan LGBT. Mau menjadi lesbian
atau gay itu menjadi hak masing-masing individu. Asal tidak menggangu kondusifitas akademik,
jelas Nasir dalam akun twitter @mensristekdikti, Senin (25/01/2016)..
Peryataan kedua menteri ini memiliki pijakan filosofi dan sudut pandang yang salah.
Secara genetik, Fenomena LGBT tidak terbukti secara ilmiah merupakan fenomena dari faktor
gen. Kode gen Xq28 yang selama ini ditengarai sebagai gen pembawa kecenderungan fenotepe
homoseksual, tidak terbukti mendasari sifat dari homoseksual.
Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset
Hamer dengan jumlah responden yang lebih banyak. Rice dan tim memeriksa 52 pasang kakak
beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom.
Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tidak memperlihatkan kesamaan penanda di gen Xq28
kecuali secara kebetulan.
Para peneliti tersebut menyatakan bahwa segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang
berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas dapat ditiadakan.
Sehingga hasil penelitian mereka tidak mendukung adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan
mendasari homoseksualitas pria.
Penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999.
Hasil riset juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Penelitian Rice
dan Sanders tersebut makin meruntuhkan teori Gen Gay.
Ruth Hubbard, seorang pengurus The Council for Responsible Genetics yang juga penulis buku
Exploding the Gene Myth mengatakan: Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha
pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku
manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita
lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat.

Secara sudut pandang hubugan sosial kemasyarakatan, justru persoalan LGBT ini muncul dari
sudut pandang yang salah dalam melihat naluri seksual.
Syekh Taqiyuddin an Nabhaniy rahimahullahdalam Kitab An Nizham al Ijtimai menguraikan,
bahwa Barat (Eropa dan Amerika) maupun Sosialis melihat aspek hubungan antara pria dan
wanita semata-mata dari sudut pandang jinsiyah (seksualitas), bukan pandangan dalam rangka
melestarikan keturunan. Nikah bagi pandangan seperti ini tidaklah penting. Yang penting
bagaimana dan dengan apa cara memenuhi naluri seksual tersebut.
Sehingga dengan sengaja pula di Barat diciptakan fakta-fakta yang terindera dan pemikiranpemikiran yang mendandung hasrat seksual di hadapan pria dan wanita dalam rangka
membangkitkan naluri seksual, semata-mata untuk mencari pemuasan.
Cara-cara pemuasan ini bebas dalam pandangan mereka. Tidak ada mengenal mana yang boleh
dan mana yang tidak. Tidak ada istilah halal dan haram. Sehingga fakta lesbian, gay, biseksual,
dan transgender adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Barat dan
Timur. Sebagai cara dalam memenuhi hasrat seksual mereka.
Sementara dalam pandangan Agama Islam, adanya naluri seksual yang ada pada manusia
merupakan pandangan untuk melestarikan keturunan manusia. Bukan pandangan yang bersifat
seksual semata. Sekalipun Islam mengakui bahwa pemuasan hasrat seksual perupakan perkara
yang pasti, tetapi bukan hasrat seksual itu sendiri yang mengendalikan pemuasannya.
Oleh karena itu, Islam memandang adanya pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual
pada suatu komunitas sebagai perkara yang dapat mendatangkan bahaya. Demikian pula Islam
memandang bahwa fakta-fakta yang dapat membangkitkan nafsu seksual, akan menyebabkan
kerusakan.
Sehingga dalam pandangan Islam, fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender adalah
merupakan penyakit masyarakat. Dan penyakit masyarakat ini menular.
Pernyataan Menristek bahwa Mau menjadi lesbian atau gay itu menjadi hak masing-masing
individu. Asal tidak menggangu kondusifitas akademik, adalah pernyataan yang bathil dan tidak
memiliki argumentasi ilmiah yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat.
Fenomena LGBT ini memang akan semakin hancur ketika kita fahami dari sudut pandang HAM
Barat. Dan HAM inilah yang menjadi pupuk segar menyeruaknya fenomena LGBT.
Pernyataan kedua Menteri di atas secara langsung maupun tidak langsung sebenarnya muncul
dari konsep Hak Asasi Manusia dalam pandangan Barat.

HAM Barat sendiri secara filosofi memiliki kerusakan. HAM yang dijajakan ke masyarakat
muslim, seringkali sekedar legitimasi atas ide kebabasan agar dapat melakukan apa saja tanpa
aturan. Dengan argumentasi HAM orang bisa melakukan hubungan seksual dengan siapa pun,
kapan pun dan dengan apa pun.
Dengan alasan HAM seseorang bisa bisa melakukan hubungan seksual dengan binatang.
Sehingga secara jelas, bahwa HAM inilah yang pada hakikatnya menghantarkan dunia Barat
pada peradaban yang lebih rendah daripada binatang. Firman Allah SWT.

(



)
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayatayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah
orang-orang yang lalai. (Al Araf 179)
Sehingga apa pun alasannya, derasnya arus opini LGBT ini adalah merupakan perang terhadap
peradaban Islam yang mulia. Kaum muslimin harus menghadapi peperangan ini dengan
segenap kemampuan pemikiran, kecerdasan, dan bashirah yang cemerlang. []

esbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) merupakan penyimpangan orientasi seksual yang
bertentangan dengan fitrah manusia, agama dan adat masyarakat Indonesia. Menurut
wikipedia, lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya
kepada sesama perempuan. Istilah ini juga merujuk kepada perempuan yang mencintai
perempuan baik secara fisik, seksual, emosional, atau secara spiritual. Sedangkan Gay adalah
sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk merujuk orang homoseksual atau sifat-sifat
homoseksual. Sedikit berbeda dengan bisexual, biseksual (bisexual) adalah individu yang dapat
menikmati hubungan emosional dan seksual dengan orang dari kedua jenis kelamin baik pria
ataupun wanita (kamuskesehatan.com). Lalu bagaimana dengan Transgender? Masih menurut
wikipedia, transgender merupakan ketidaksamaan identitas gender seseorang terhadap jenis
kelamin yang ditunjuk kepada dirinya. Seseorang yang transgender dapat mengidentifikasi
dirinya sebagai seorang heteroseksual, homoseksual, biseksual maupun aseksual. Dari semua
definisi diatas walaupun berbeda dari sisi pemenuhan seksualnya, akan tetapi kesamaanya

adalah mereka memiliki kesenangan baik secara psikis ataupun biologis dan orientasi seksual
bukan saja dengan lawan jenis akan tetapi bisa juga dengan sesama jenis.
Walaupun kelompok LGBT mengklaim keberadaannya karena faktor genetis dengan teori Gay
Gene yang diusung oleh Dean Hamer pada tahun 1993. Akan tetapi, Dean sebagai seorang gay
kemudian meruntuhkan sendiri hasil risetnya. Dean mengakui risetnya itu tak mendukung
bahwa gen adalah faktor utama/yang menentukan yang melahirkan homoseksualitas.
Perbuatan LGBT sendiri ditolak oleh semua agama bahkan dianggap sebagai perbuatan yang
menjijikan, tindakan bejat, dan keji (republika.co.id, 26/01/2016).
Pandangan Islam
Dalam Islam LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay)
adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dengan cara memasukan dzakar (penis)nya
kedalam dubur laki-laki lain. Liwath adalah suatu kata (penamaan) yang dinisbatkan kepada
kaumnya LuthAlaihis salam, karena kaum Nabi Luth Alaihis salam adalah kaum yang pertama
kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq, hal. 1). Allah SWT menamakan
perbuatan ini dengan perbuatan yang keji (fahisy) dan melampui batas (musrifun). Sebagaimana
Allah terangkan dalam al Quran:
) ( ) (

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada
mereka: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh
seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan
nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui
batas. (TQS. Al Araf: 80 81)
Sedangkan Sihaaq (lesbian) adalah hubungan cinta birahi antara sesama wanita
dengan image dua orang wanita saling menggesek-gesekkan anggota tubuh (farji)nya antara
satu dengan yang lainnya, hingga keduanya merasakan kelezatan dalam berhubungan tersebut
(Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah,Juz 4/hal. 51).
Hukum Sihaaq (lesbian) sebagaimana dijelaskan oleh Abul Ahmad Muhammad Al-Khidir bin
Nursalim Al-Limboriy Al-Mulky (Hukmu al liwath wa al Sihaaq, hal. 13) adalah haram
berdasarkan dalil hadits Abu Said Al-Khudriy yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim (no. 338),
At-Tirmidzi (no. 2793) dan Abu Dawud (no. 4018) bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam berkata:

Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat
aurat wanita lain. Dan janganlah seorang laki-laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain, dan
jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain
Terhadap pelaku homoseks, Allah swt dan Rasulullah saw benar-benar melaknat perbuatan
tersebut. Al-Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -Rahimahullah- dalam Kitabnya Al-Kabair [hal.40]
telah memasukan homoseks sebagai dosa yang besar dan beliau berkata: Sungguh Allah telah
menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al-Quran Al-Aziz, Allah
telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka. Kaum muslimin dan selain mereka
dari kalangan pemeluk agama yang ada, bersepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar.
Hal ini ditunjukkan bagaimana Allah swt menghukum kaum Nabi Luth yang melakukan
penyimpangan dengan azab yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal
mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana dijelaskan
dalam surat Al-Hijr ayat 74:

Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari
tanah yang keras
Sebenarnya secara fitrah, manusia diciptakan oleh Allah swt berikut dengan dorongan jasmani
dan nalurinya. Salah satu dorongan naluri adalah naluri melestarikan keturunan (gharizatu al
nau) yang diantara manifestasinya adalah rasa cinta dan dorongan seksual antara lawan jenis
(pria dan wanita). Pandangan pria terhadap wanita begitupun wanita terhadap pria adalah
pandangan untuk melestarikan keturunan bukan pandangan seksual semata. Tujuan diciptakan
naluri ini adalah untuk melestarikan keturunan dan hanya bisa dilakukan diantara pasangan
suami istri. Bagaimana jadinya jika naluri melestarikan keturunan ini akan terwujud dengan
hubungan sesama jenis? Dari sini jelas sekali bahwa homoseks bertentangan dengan fitrah
manusia.

Oleh karena itu, sudah dipastikan akar masalah munculnya penyimpangan kaum LGBT saat ini
adalah karena ideologi sekularisme yang dianut kebanyakan masyarakat Indonesia. Sekularisme
adalah ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan (fash al ddin an al hayah).
Masyarakat sekular memandang pria ataupun wanita hanya sebatas hubungan seksual semata.
Oleh karena itu, mereka dengan sengaja menciptakan fakta-fakta yang terindera dan pikiranpikiran yang mengundang hasrat seksual di hadapan pria dan wanita dalam rangka
membangkitkan naluri seksual, semata-mata mencari pemuasan. Mereka menganggap tiadanya
pemuasan naluri ini akan mengakibatkan bahaya pada manusia, baik secara fisik, psikis,
maupun akalnya. Tindakan tersebut merupakan suatu keharusan karena sudah menjadi bagian
dari sistem dan gaya hidup mereka (al Nizham al Ijtimai fi al Islam, hal. 22). Tidak puas dengan
lawan jenis, akhirnya pikiran liarnya berusaha mencari pemuasan melalui sesama jenis bahkan
dengan hewan sekalipun, dan hal ini merupakan kebebasan bagi mereka. Benarlah Allah swt
berfirman:


Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orangorang yang lalai. (TQS Al Araf : 179)
Hukuman Bagi Para Pelaku LGBT
Pemberlakuan hukuman dalam Islam bertujuan untuk menjadikan manusia selayaknya manusia
dan menjaga kelestarian masyarakat. Syariat Islam telah menetapkan tujuan-tujuan luhur yang
dilekatkan pada hukum-hukumnya. Tujuan luhur tersebut mencakup; pemeliharaan atas
keturunan (al muhafazhatu ala an nasl), pemeliharaan atas akal (al muhafazhatu ala al aql),
pemeliharaan atas kemuliaan (al muhafazhatu ala al karamah), pemeliharaan atas jiwa (al
muhafazhatu ala an nafs), pemeliharaan atas harta (al muhafazhatu ala an al maal),
pemeliharaan atas agama (al muhafazhatu ala al diin), pemeliharaan atas
ketentraman/keamanan (al muhafazhatu ala al amn), pemeliharaan atas negara (al muhafazhatu
ala al daulah) (Muhammad Husain Abdullah, hal. 100).
Dalam rangka memelihara keturunan manusia dan nasabnya, Islam telah mengharamkan zina,
gay, lesbian dan penyimpangan seks lainnya serta Islam mengharuskan dijatuhkannya sanksi

bagi pelakunya. Hal ini bertujuan untuk menjaga lestarinya kesucian dari sebuah keturunan.
Berkaitan dengan hukuman pagi para pelaku LGBT, beberapa ulama berbeda pendapat. Akan
tetapi, kesimpulannya para pelaku tetap ahrus diberikan hukuman. Tinggal nanti bagaimana
khalifah menetapkan hukum mana yang dipilih sebagai konstitusi negara (al Khilafah).Ulama
berselisih pendapat tentang hukuman bagi orang yang berbuat liwath. Diantara beberapa
pendapat tentang hukuman bagi pelaku liwath diantaranya:
Pertama, Hukumannya adalah dengan dibunuh, baik pelaku (fail) maupun obyek (maful bih)
bila keduanya telah baligh. Berkata Al-Imam Asy-Syaukani Rahimahullah dalam Ad-Darariy AlMudhiyah (hal. 371-372): Adapun keberadaannya orang yang mengerjakan
perbuatan liwathdengan dzakar (penis)nya hukumannya adalah dibunuh, meskipun yang
melakukannya belum menikah, sama saja baik itu fail (pelaku) maupun maful bih. Telah
mengkabarkan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad, dari Amr ibnu Abi Amr,dari Ikrimah,
dari Ibu Abbas, berkata Rasulullah SAW:

Barangsiapa yang kalian mendapati melakukan perbuatan kaum Luth (liwath), maka bunuhlah fail
(pelaku) dan maful bih (partner)nya
Kedua, Hukumannya dirajam, hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dari Ali bahwa
dia pernah merajam orang yang berbuatliwath. Imam Syafiy mengatakan: Berdasarkan dalil ini,
maka kita menggunakan rajam untuk menghukum orang yang berbuat liwath, baik
itu muhshon (sudah menikah) atau selain muhshon. Hal ini senada dengan Al-Baghawi, kemudian
Abu Dawud [dalam Al-Hudud Bab 28] dari Said bin Jubair dan Mujahid dari Ibnu Abbas: Yang
belum menikah apabila didapati melakukan liwathmaka dirajam (Lihat Ad-Darariy AlMudhiyah, hal. 371).
Ketiga, hukumannya sama dengan hukuman berzina. Pendapat ini seperti ini disampaikan oleh
Said bin Musayyab, Atha bin Abi Rabbah, Hasan, Qatadah, Nakhai, Tsauri, Auzai, Imam Yahya
dan Imam Syafii (dalam pendapat yang lain), mengatakan bahwa hukuman bagi yang
melakukan liwath sebagaimana hukuman zina. Jika pelaku liwath muhshon maka dirajam, dan jika
bukan muhson dijilid (dicambuk) dan diasingkan. [Ad-Darariy Al-Mudhiyah, (hal. 371)].
Keempat, hukumannya dengan tazir, sebagaimana telah berkata Abu Hanifah: Hukuman bagi
yang melakukan liwath adalah di-tazir, bukan dijilid (cambuk) dan bukan pula dirajam [AdDarariy Al-Mudhiyah, (hal. 372)]. Abu Hanifah memandang perilaku homoseksual cukup
dengan tazir. Hukuman jenis ini tidak harus dilakukan secara fisik, tetapi bisa melalui
penyuluhan atau terapi psikologis agar bisa pulih kembali. Bahkan, Abu Hanifah menganggap
perilaku homoseksual bukan masuk pada definisi zina, karena zina hanya dilakukan

pada vagina (qubul), tidak pada dubur (sodomi) sebagaimana dilakukan oleh kaum homoseksual.
(Ahkam As-Syariyyah, Darul Ifaq Al-Jadidah).
Sedangkan bagi para pelaku lesbian, hukumannya adalah tazir. Al-Imam
Malik Rahimahullahberpendapat bahwa wanita yang melakukan sihaq, hukumannya dicambuk
seratus kali. Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita yang melakukan sihaq tidak
ada hadd baginya, hanya saja ia di-tazir, karena hanya melakukan hubungan yang memang tidak
bisa dengan dukhul (menjimai pada farji), dia tidak akan di-hadd sebagaimana laki-laki yang
melakukan hubungan dengan wanita tanpa adanya dukhul pada farji, maka tidak
ada had baginya. Dan ini adalah pendapat yang rojih (yang benar) [Lihat Shohih Fiqhus
Sunnah Juz 4/Hal. 51)].
Sebenarnya sanksi yang dijatuhkan di dunia ini bagi si pendosa akan mengakibatkan gugurnya
siksa di akhirat. Tentu saja hukuman di akhirat akan lebih dahsyat dan kekal dibandingkan
sanksi yang dilakukan di dunia. Itulah alasan mengapa sanksi sanksi dalam Islam berfungsi
sebagai pencegah (jawazir) dan penebus (jawabir). Disebut pencegah karena akan mencegah
orang lain melakukan tindakan dosa semisal, sedangkan dikatakan penebus karena sanksi yang
dijatuhkan akan menggugurkan sanksi di akhirat (Muhammad Husain Abdullah, hal. 159).
Kesimpulan
Perlu menjadi kesadaran bagi umat Islam di Indonesia, bahwa LGBT merupakan penyimpangan
orientasi seksual yang dilarang oleh semua agama terlebih lagi Islam. Selain karena perbuatan
keji ini akan merusak kelestarian manusia, yang lebih penting Allah swt dan Rasulullah melaknat
perbuatan kaum Nabi Luth ini. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk
melawan segala jenis opini yang seolah atas nama HAM membela kaum LGBT akan tetapi
sesungguhnya mereka membawa manusia menuju kerusakan yang lebih parah.
Disinilah urgensitas penerapan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Islam dengan seperangkat
aturan dan konsep dalam mengatur hubungan diantara pria dan wanita. Aturan Islam akan
senantiasa membentuk ketaqwaan individu, memberi dorongan kepada masyarakat untuk
saling menasihati dan menciptakan lingkungan Islami serta negara yang menindak tegas para
pelaku LGBT sebagai fungsi pencegah dan penebus dosa. [AJ]
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengaku khawatir atas adanya upaya rekayasa sosial
melalui perilaku lesbian, gay, biseksual, transgender dan interseks (LGBTI). Saya khawatir ini
kemudian jadi bagian rekayasa sosial di dalamnya. Ada yang sepertinya ingin menyasar keluarga
kurang mampu yang sebetulnya mereka tidak ada indikasi seperti itu (LGBT) sama sekali, kata
Khofifah di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (16/2). Ia menjelaskan temuannya sekitar satu bulan lalu
di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yakni adanya pemberian hadiah ke satu keluarga kurang

mampu di wilayah itu. Tak beberapa lama kemudian, anak laki-laki di rumah tersebut diketahui
perilakunya telah berbeda (Republika.co.id, 26/2)
Sebab Orang Menjadi LGBT
LGBT bukan bawaan, bukan karena faktor genetik dan bukan pula sesuatu yang kodrati. Klaim
homoseksual tidak bisa diubah secara psikologis juga keliru besar. Faktanya, penyakit ini bisa
diobati secara psikologis.
Dari hasil penelitian Paul Cameron Ph.D dari Family Research Institute disimpulkan, di antara
penyebab munculnya dorongan untuk berperilaku homoseksual adalah pernah disodomi waktu
kecil. Penyebab lainnya adalah pengaruh lingkungan, di antaranya: pendidikan yang prohomoseksual, toleransi sosial dan hukum terhadap perilaku homoseksual, adanya figur yang
secara terbuka berperilaku homoseksual serta penggambaran bahwa homoseksualitas adalah
perilaku yang normal dan bisa diterima.
Perilaku LGBT itu bisa menular kepada orang lain. Aksi, propaganda dan gerakan LGBT jelas
akan memunculkan semua penyebab orang menjadi LGBT itu. Jika aksi, propaganda dan
gerakan LGBT dibiarkan maka perilaku menyimpang itu bisa menjalar ke masyarakat.
Gerakan LGBT
Propaganda dan penyebaran LGBT telah menjadi gerakan yang melibatkan berbagai kelompok
dan organisasi lokal dan internasional. Organisasi-organisasi LGBT saling terhubung satu sama
lain. Langkah-langkah, aktivitas, aksi dan gerakan mereka dilakukan secara terkoordinasi
berdasarkan strategi yang sudah mereka susun dan sepakati.
Dalam skala nasional, hingga tahun 2013 terdapat 119 organisasi atau komunitas LGBT di 28
dari 34 provinsi di Indonesia. Itu belum termasuk organisasi-organisasi HAM yang
memperjuangkan hak-hak LGBT.
Secara nasional ada dua jaringan organisasi nasional LGBT yaitu Jaringan Gay, Waria dan Lakilaki yang Berhubungan Seksual dengan Laki-laki/LSL Indonesia (GWL-INA) dan Forum Lesbian,
Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, dan Queer (LGBTIQ).
Di tingkat regional atau internasional, jaringan organisasi LGBT di antaranya The Global Alliance
for LGBT Education (GALE), International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA),
danIsland of South East Asia Network of Male and Transgender Sexual Health (ISEAN).
Melalui jaringan nasional dan regional tersebut, kelompok dan organisasi LGBT berusaha
mengorganisasikan usaha agar orientasi seksual dan ekspresi jender mereka diterima. Caranya

adalah melalui kampanye-kampanye HAM dengan beragam media, baik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Pertemuan-pertemuan di level nasional dan regional digagas
untuk mendesak Pemerintah menerima LGBT sebagai kelompok sosial dan memberikan hak-hak
kaum LGBT sebagai warga negara.
Organisasi LGBT di antaranya melakukan strategi: memperkuat jejaring dan kerjasama dengan
lembaga-lembaga non-pemerintah bidang Hukum dan HAM, media massa, lembaga
pengetahuan dan swasta; memperkuat jejaring Advokasi HAM untuk LGBT; aktif mendorong
dialog-dialog terkait penegakan HAM LGBT di Indonesia, dsb.
Strategi gerakan LGBT di negeri ini di antaranya terlihat dalam rekomendasi yang dihasilkan
dalam Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia pada 13-14 Juni 2013 di Bali yang berisi 11
rekomendasi untuk Pemerintah dan lembaga Pemerintah, 4 rekomendasi untuk lembaga
internasional serta 7 rekomendasi untuk komunitas dan organisasi LGBT di Indonesia.
Globalisasi LGBT dan Serangan Budaya
Keberadaan dan perkembangan kelompok LGBT tidak terlepas dari perkembangan globalisasi.
Globalisasi telah berkontribusi secara nyata dalam mengembangbiakkan budaya dan identitas
kelompok homoseksual. Globalisasi melahirkan bentuk baru budaya lokal yang sejalan dengan
budaya global (Barat).
Penyebaran LGBT di negeri ini juga banyak dipengaruhi oleh serangan budaya Barat. Pergerakan
organisasi dan komunitas LGBT di negeri ini banyak disokong oleh dana dari lembaga asing.
Diungkap di halaman 64 Laporan Hidup Sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia,
hasil dokumentasi Dialog Komunitas LGBT Nasional Indonesia pada 13-14 Juni 2013 di Bali
sebagai bagian dari prakarsa Being LGBT in Asia oleh UNDP dan USAID. Diungkap bahwa
sebagian besar organisasi mendapat pendanaan dari lembaga donor internasional seperti
USAID. Pendanaan juga diperoleh dari AusAID, UNAIDS dan UNFPA. Ada sejumlah negara Uni
Eropa yang pernah mendanai program jangka pendek, terutama dalam kaitan dengan HAM
LGBT. Pendanaan paling luas dan sistematis disediakan oleh Hivos, sebuah organsiasi Belanda,
kadang-kadang bersumber dari pemerintah negeri Belanda. Kemudian Ford Foundation
bergabung dengan Hivos dalam menyediakan sumber pendanaan bagi organisasi-organisasi
LGBT.
UNDP dan USAID meluncurkan prakarsa Being LGBT in Asia pada 10 Desember 2012. Di antara
negara yang menjadi fokus adalah China, Indonesia Philipina dan Thailand
(https://www.usaid.gov/asia-regional/being-lgbt-asia).

10

Berdasarkan dokumen UNDP, program Being LGBT in Asia fase 2 dijalankan dari Desember
2014 hingga September 2017 dengan anggaran US$ 8 juta (http://www.asiapacific.undp.org/content/rbap/en/home/operations/projects/overview/being-lgbt-in-asia.html)
Pada Oktober 2015, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon mengaku akan
menggencarkan perjuangan persamaan hak-hak LGBT. LGBT juga menjadi sala satu agenda
penting Amerika Serikat (Lihat: Dokumen USAID: Being LBGT in Asia Report Build Understanding).
Alhasil, jelas sekali, penyebaran LGBT menjadi salah satu agenda Barat khususnya AS dan Eropa.
Harus Dilawan!
Gerakan dan propanda LGBT jelas akan membawa bahaya besar bagi negeri ini dan
peduduknya. Jika perilaku menyimpang LGBT berkembang apalagi marak di negeri ini, bukan
tidak mungkin bencana dan malapetaka bisa menimpa negeri ini.
Di Dunia Islam, gerakan dan propaganda LGBT dan serangan budaya itu merupakan bagian dari
upaya sistematis untuk memadamkan Islam. Namun, upaya mereka itu niscaya gagal.


Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka,
sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang
yang kafir tidak menyukai (TQS at-Taubah [9]: 32)
Gerakan dan propaganda LGBT akan menjauhkan manusia dari jalan Allah. Namun, dana besar
yang mereka kucurkan hanya akan menjadi sesalan bagi mereka.


Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan
Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka
akan dikalahkan. Ke dalam Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (TQS al-Anfal [8]:
36).

11