Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Sebagian besar bayi yang sehat mengalami infeksi saluran pernafasan sebanyak 6
kali atau lebih dalam 1 tahun, terutama jika tertular oleh anak lain. Sebaliknya, bayi
dengan gangguan sistem kekebalan, biasanya menderita infeksi bakteri berat yang
menetap, berulang atau menyebabkan komplikasi. Misalnya infeksi sinus, infeksi telinga
menahun dan bronkitis kronis yang biasanya terjadi setelah demam dan sakit
tenggorokan. Bronkitis bisa berkembang menjadi pneumonia Kulit dan selaput lendir
yang melapisi mulut, mata dan alat kelamin sangat peka terhadap infeksi.
Thrush (suatu infeksi jamur di mulut) disertai luka di mulut dan peradangan gusi,
bisa merupakan pertanda awal dari adanya gangguan sistem kekebalan. Peradangan mata
(konjungtivitis), rambut rontok, eksim yang berat dan pelebaran kapiler dibawah kulit
juga merupakan pertanda dari penyakit immunodefisiensi. Infeksi pada saluran
pencernaan bisa menyebabkan diare, pembentukan gas yang berlebihan dan penurunan
berat badan.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah gambaran umum sistem imun
2. Apa pengertian imunodefisiensi
3. Apa saja klasifikasi
4. Bagaimakakah etiologi secara umum
5. Bagaimana penanganan
6. Apa diagnosa keperawatan
7. Bagaiamana Intervensi
BAB II
PEMBAHSAN

A. Gambaran Umum Sistem Imun


Imunitas adalah kekebalan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi.Imun
sistem adalah semua hal yang berperan dalam proses imun seperti sel, protein, antibodi
dan sitokin/kemokin. Fungsi utama sistem imun adalah pertahanan terhadap infeksi
mikroba, walaupun substansi non infeksious juga dapat meningkatkan kerja sistem imun.
Respon imun adalah proses pertahanan tubuh terhadap semua bahan asing, yang terdiri
dari sistem imun non spesifik dan spesifik.
1) Imunitas Non Spesifik
Imunitas non spesifik merupakan respon awal terhadap mikroba untuk
mencegah,mengontrol dan mengeliminasi terjadinya infeksi pada host, merangsang
terjadinya imunitas spesifik untuk mengoptimalkan efektifitas kerja dan Hanya
bereaksi terhadap mikroba ,bahan bahan akibat kerusakan sel (heat shock protein) dan
memberikan respon yang sama untuk infeksi yang berulang.
2) Komponen-komponen yang Berperan dalam Sistem Imun
a. Komponen Sistem Imun Spesifik
1. Barier Sel Epitel
Sel epitel yang utuh merupakan barier fisik terhadap mikroba dari lingkungan
dan menghasilkan peptida yang berfungsi sebagai antibodi natural. Didalam
sel epitel barier juga terdapat sel limfosit T dan B, tetapi diversitasnya lebih
rendah daripada limfosit T dan B pada sistem imun spesifik. Sel T limfosit
intraepitel akan menghasilkan sitokin, mengaktifkan fagositosis dan
selanjutnya melisiskan mikroorganisme. Sedangkan sel B limfosit intraepitel
akan menghasilkan IG M.
2. Neutrofil dan Makrofag
Ketika terdapat mikroba dalam tubuh, komponen pertama yang bekerja adalah
neutrofil dan makrofag dengan cara ingesti dan penghancuran terhadap
mikroba tersebut. Hal ini di karenakan makrofag dan neutrofil mempunyai
reseptor di permukaannya yang bisa mengenali bahan intraselular (DNA),
endotoxin dan lipopolisakarida pada mikroba yang selanjutnya mengaktifkan
aktifitas antimikroba dan sekresi sitokin.
3. NK Sel
NK sel mampu mengenali virus dan komponel internal mikroba. NK sel di
aktifasi oleh adanya antibodi yang melingkupi sel yang terinfeksi virus, bahan
intrasel mikroba dan segala jenis sel yang tidak mempunyai MCH class I.
Selanjutnya NK sel akan menghasilkan porifrin dan granenzim untuk
merangsang tterjadinya apoptosis.

B. Pengertian Imunodefisiensi
Imunodefisiensi adalah keadaan dimana terjadi penurunan atau ketiadaan respon
imun normal. Keadaan ini dapat terjadi secara primer, yang pada umumnya disebabkan
oleh kelainan genetik yang diturunkan, serta secara sekunder akibat penyakit utama lain
seperti infeksi, pengobatan kemoterapi, sitostatika, radiasi, obat-obatan imunosupresan
(menekan sistem kekebalan tubuh) atau pada usia lanjut dan malnutrisi (Kekurangan
gizi).

C. Klasifikasi
1) Agammaglobulinemia X-Linked
Agammaglobulinemia X-linked (agammaglobulinemia Bruton) hanya
menyerang anak laki-laki dan merupakan akibat dari penurunan jumlah atau
tidak adanya limfosit B serta sangat rendahnya kadar antibodi karena terdapat
kelainan pada kromosom X.
Bayi akan menderita infeksi paru-paru, sinus dan tulang, biasanya
karena bakteri (misalnya Hemophilus dan Streptococcus) dan bisa terjadi
infeksi virus yang tidak biasa di otak. Tetapi infeksi biasanya baru terjadi
setelah usia 6 bulan karena sebelumnya bayi memiliki antibodi perlindungan
di dalam darahnya yang berasal dari ibunya. Jika tidak mendapatkan vaksinasi
polio, anak-anak bisa menderita polio. Mereka juga bisa menderita artritis.
Suntikan atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita
agar penderita memiliki antibodi sehingga bisa membantu mencegah infeksi.
Jika terjadi infeksi bakteri diberikan antibiotik. Anak laki-laki penderita
agammaglobulinemia X-linked banyak yang menderita infeksi sinus dan paru-
paru menahun dan cenderung menderita kanker.
2) Common variable imunodeficiency
Immunodefisiensi yang berubah-ubah terjadi pada pria dan wanita
pada usia berapapun, tetapi biasanya baru muncul pada usia 10-20 tahun.
Penyakit ini terjadi akibat sangat rendahnya kadar antibodi meskipun jumlah
limfosit Bnya normal. Pada beberapa penderita limfosit T berfungsi secara
normal, sedangkan pada penderita lainnya tidak.
Sering terjadi penyakit autoimun, seperti penyakit Addison, tiroiditis
dan artritis rematoid. Biasanya terjadi diare dan makanan pada saluran
pencernaan tidak diserap dengan baik. Suntikan atau infus immunoglobulin
diberikan selama hidup penderita. Jika terjadi infeksi diberikan antibiotik.
3) Kekurangan Anti Bodi Selektif
Pada penyakit ini, kadar antibodi total adalah normal, tetapi terdapat
kekurangan antibodi jenis tertentu. Yang paling sering terjadi adalah
kekurangan IgA. Kadang kekurangan IgA sifatnya diturunkan, tetapi penyakit
ini lebih sering terjadi tanpa penyebab yang jelas. Penyakit ini juga bisa
timbul akibat pemakaian fenitoin (obat anti kejang).
Sebagian besar penderita kekurangan IgA tidak mengalami gangguan
atau hanya mengalami gangguan ringan, tetapi penderita lainnya bisa
mengalami infeksi pernafasan menahun dan alergi. Jika diberikan transfusi
darah, plasma atau immunoglobulin yang mengandung IgA, beberapa
penderita menghasilkan antibodi anti-IgA, yang bisa menyebabkan reaksi
alergi yang hebat ketika mereka menerima plasma atau immunoglobulin
berikutnya. Biasanya tidak ada pengobatan untuk kekurangan IgA. Antibiotik
diberikan pada mereka yang mengalami infeksi berulang.
4) Penyakit Imunodesfisiensi yang berat
Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat merupakan penyakit
immunodefisiensi yang paling serius. Terjadi kekurangan limfosit B dan
antibodi, disertai kekurangan atau tidak berfungsinya limfosit T, sehingga
penderita tidak mampu melawan infeksi secara adekuat.
Sebagian besar bayi akan mengalami pneumonia dan thrush (infeksi jamur
di mulut); diare biasanya baru muncul pada usia 3 bulan. Bisa juga terjadi
infeksi yang lebih serius, seperti pneumonia pneumokistik. Jika tidak diobati,
biasanya anak akan meninggal pada usia 2 tahun. Antibiotik dan
immunoglobulin bisa membantu, tetapi tidak menyembuhkan. Pengobatan
terbaik adalah pencangkokan sumsum tulang atau darah dari tali pusar.
5) Sindroma Wiskot-Aldrich
Sindroma Wiskott-Aldrich hanya menyerang anak laki-laki dan
menyebabkan eksim, penurunan jumlah trombosit serta kekurangan limfosit T
dan limfosit B yang menyebabkan terjadinya infeksi berulang. Akibat
rendahnya jumlah trombosit, maka gejala pertamanya bisa berupa kelainan
perdarahan (misalnya diare berdarah).
Kekurangan limfosit T dan limfosit B menyebabkan anak rentan terhadap
infeksi bakteri, virus dan jamur. Sering terjadi infeksi saluran pernafasan.
Anak yang bertahan sampai usia 10 tahun, kemungkinan akan menderita
kanker (misalnya limfoma dan leukemia). Pengangkatan limpa seringkali bisa
mengatasi masalah perdarahan, karena penderita memiliki jumlah trombosit
yang sedikit dan trombosit dihancurkan di dalam limpa. Antibiotik dan infus
immunoglobulin bisa membantu penderita, tetapi pengobatan terbaik adalah
dengan pencangkokan sumsum tulang.
6) Ataksia Telangiektasia
Ataksia-telangiektasia adalah suatu penyakit keturunan yang menyerang
sistem kekebalan dan sistem saraf. Kelainan pada serebelum (bagian otak
yang mengendalikan koordinasi) menyebabkan pergerakan yang tidak
terkoordinasi (ataksia). Kelainan pergerakan biasanya timbul ketika anak
sudah mulai berjalan, tetapi bisa juga baru muncul pada usia 4 tahun. Anak
tidak dapat berbicara dengan jelas, otot-ototnya lemah dan kadang terjadi
keterbelakangan mental.
Telangiektasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pelebaran kapiler
(pembuluh darah yang sangat kecil) di kulit dan mata. Telangiektasi terjadi
pada usia 1-6 tahun, biasanya paling jelas terlihat di mata, telinga, bagian
pinggir hidung dan lengan. Sering terjadi pneumonia, infeksi bronkus dan
infeksi sinus yang bisa menyebakan kelainan paru-paru menahun. Kelainan
pada sistem endokrin bisa menyebabkan ukuran buah zakar yang kecil,
kemandulan dan diabetes. Banyak anak-anak yang menderita kanker, terutama
leukemia, kanker otak dan kanker lambung.
Antibiotik dan suntikan atau infus immunoglobulin bisa membantu
mencegah infeksi tetapi tidak dapat mengatasi kelaianan saraf. Ataksia-
telangiektasia biasanya berkembang menjadi kelemahan otot yang semakin
memburuk, kelumpuhan, demensia dan kematian.
7) Sindroma Hiper-IgE
Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-Buckley) adalah suatu penyakit
immunodefisiensi yang ditandai dengan sangat tingginya kadar antibodi IgE
dan infeksi bakteri stafilokokus berulang. Infeksi bisa menyerang kulit, paru-
paru, sendi atau organ lainnya. Banyak penderita yang memiliki tulang yang
lemah sehingga sering mengalami patah tulang. Beberapa penderita
menunjukkan gejala-gejala alergi, seperti eksim, hidung tersumbat dan asma.
Antibiotik diberikan secara terus menerus atau ketika terjadi infeksi
stafilokokus. Sebagai tindakan pencegahan diberikan antibiotik trimetoprim-
sulfametoksazol.
8) Penyakit Granulomatosa Kronis
Penyakit granulomatosa kronis kebanyakan menyerang anak laki-laki dan
terjadi akibat kelainan pada sel-sel darah putih yang menyebabkan
terganggunya kemampuan mereka untuk membunuh bakteri dan jamur
tertentu. Sel darah putih tidak menghasilkan hidrogen peroksida, superoksida
dan zat kimia lainnya yang membantu melawan infeksi.
Gejala biasanya muncul pada masa kanak-kanak awal, tetapi bisa juga
baru timbul pada usia belasan tahun. Infeksi kronis terjadi pada kulit, paru-
paru, kelenjar getah bening, mulut, hidung dan usus. Di sekitar anus, di dalam
tulang dan otak bisa terjadi abses. Kelenjar getah bening cenderung membesar
dan mengering. Hati dan limpa membesar. Pertumbuhan anak menjadi lambat.
Antibiotik bisa membantu mencegah terjadinya infeksi. Suntikan gamma
interferon setiap minggu bisa menurunkan kejadian infeksi. Pada beberapa
kasus, pencangkokan sumsum tulang berhasi menyembuhkan penyakit ini.
9) Hipogammaglobulib sementara pada bayi
Pada penyakit ini, bayi memiliki kadar antibodi yang rendah, yang mulai
terjadi pada usia 3-6 bulan. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada bayi-bayi
yang lahir prematur karena selama dalam kandungan, mereka menerima
antibodi ibunya dalam jumlah yang lebih sedikit.
Penyakit ini tidak diturunkan, dan menyerang anak laki-laki dan anak
perempuan. Biasanya hanya berlangsung selama 6-18 bulan. Sebagian bayi
mampu membuat antibodi dan tidak memiliki masalah dengan infeksi,
sehingga tidak diperlukan pengobatan. Beberapa bayi (terutama bayi
prematur) sering mengalami infeksi. Pemberian immunoglobulin sangat
efektif untuk mencegah dan membantu mengobati infeksi. Biasanya diberikan
selama 3-6 bulan. Jika perlu, bisa diberikan antibiotik.
10) Anomali DiGeorge
Anomali DiGeorge terjadi akibat adanya kelainan pada perkembangan
janin. Keadaan ini tidak diturunkan dan bisa menyerang anak laki-laki
maupun anak perempuan. Anak-anak tidak memiliki kelenjar thymus, yang
merupakan kelenjar yang penting untuk perkembangan limfosit T yang
normal. Tanpa limfosit T, penderita tidak dapat melawan infeksi dengan baik.
Segera setelah lahir, akan terjadi infeksi berulang. Beratnya gangguan
kekebalan sangat bervariasi. Kadang kelainannya bersifat parsial dan fungsi
limfosit T akan membaik dengan sendirinya.
Anak-anak memiliki kelainan jantung dan gambaran wajah yang tidak
biasa (telinganya lebih renadh, tulang rahangnya kecil dan menonjol serta
jarak antara kedua matanya lebih lebar). Penderita juga tidak memiliki
kelenjar paratiroid, sehingga kadar kalium darahnya rendah dan segera
setelah lahir seringkali mengalami kejang. Jika keadaannya sangat berat,
dilakukan pencangkokan sumsum tulang.
Bisa juga dilakukan pencangkokan kelenjar thymus dari janin atau bayi
baru lahir (janin yang mengalami keguguran). Kadang kelainan jantungnya
lebih berat daripada kelainan kekebalan sehingga perlu dilakukan pembedahan
jantung untuk mencegah gagal jantung yang berat dan kematian. Juga
dilakukan tindakan untuk mengatasi rendahnya kadar kalsium dalam darah.
11) Kandidiasis Mukokantaneus Kronis
Kandidiasi mukokutaneus kronis terjadi akibat buruknya fungsi sel darah
putih, yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur Candida yang menetap
pada bayi atau dewasa muda. Jamur bisa menyebabkan infeksi mulut (thrush),
infeksi pada kulit kepala, kulit dan kuku.
Penyakit ini agak lebih sering ditemukan pada anak perempuan dan
beratnya bervariasi. Beberapa penderita mengalami hepatitis dan penyakit
paru-paru menahun. Penderita lainnya memiliki kelainan endokrin (seperti
hipoparatiroidisme).
Infeksi internal oleh Candida jarang terjadi. Biasanya infeksi bisa diobati
dengan obat anti-jamur nistatin atau klotrimazol. Infeksi yang lebih berat
memerlukan obat anti-jamur yang lebih kuat (misalnya ketokonazol per-oral
atau amfoterisin B intravena). Kadang dilakukan pencangkokan sumsum
tulang.

D. Etiologi Secara Umum


1. Lain-lain. Contohnya : Sirosis karena
alcohol, Hepatitis kronis, Penuaan yang normal, Sarkoidosis dan Lupus eritematosus
sistemik.
2. Pembedahan dan trauma, seperti :
Luka baker dan Pengangkatan limpa
3. Penyakit darah dan kanker, msalnya :
Agranulositosis, Semua jenis kanker, Anemia aplastik, Histiositosis, Leukemia,
Limfoma, Mielofibrosis, Mieloma
4. Infeksi, contohnya : Cacar air,
Infeksi sitomegalovirus, Campak Jerman (rubella kongenital), Infeksi HIV (AIDS),
Mononukleosis infeksiosa, Campak, Infeksi bakteri yang berat, Infeksi jamur yang
berat, Tuberkulosis yang berat
5. Bahan kimia dan pengobatan yang
menekan sistem kekebalan, seperti : Kemoterapi kanker, Kortikosteroid, Obat
immunosupresan, Terapi penyinaran
6. Penyakit keturunan dan kelainan
metabolisme. Misalnya : Diabetes, Sindroma Down, Gagal ginjal, Malnutrisi,
Penyakit sel sabit

E. Penanganan
Penangananya bisa dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan laboratorium
untuk mengetahui: - jumlah sel darah putih, - kadar antibodi/immunoglobulin, - jumlah
limfosit T, - kadar komplemen. Jika ditemukan pertanda awal infeksi, segera diberikan
antibiotik.
Jika ditemukan kelainan genetik, maka terapi genetik memberikan hasil yang
menjanjikan. Pencangkokan sumsum tulan gkadang bisa mengatasi kelainan sistem
kekebalan kongenital yang berat. Prosedur ini biasanya hanya dilakukan pada penyakit
yang paling berat, seperti penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat. Kepada
penderita yang memiliki kelainan sel darah putih tidak dilakukan transfusi darah kecuali
jika darah donor sebelumnya telah disinar, karena sel darah putih di dalam darah donor
bisa menyerang darah penderita sehingga terjadi penyakit serius yang bisa berakibat fatal
(penyakit graft-versus-host).

F. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi
b. Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
output yang berlebih

G. Intervensi
a. Resiko infeksi b.d imunodefisiensi
o Tujuan : – Mengurangi resiko terjadinya infeksi
o Mempertahankan daya tahan tubuh
o Kriteria hasil: – Infeksi berkurang
Daya tahan tubuh meningkat
Intervensi Rasional
Mandiri • Deteksi dini terhadap infeksi penting

untuk melakukan tindakan segera.


• Pantau adanya infeksi : demam,
Infeksi lama dan berulang
mengigil, diaforesis, batuk, nafas
memperberat kelemahan pasien.
pendek, nyeri oral atau nyeri
• Berikan deteksi dini terhadap infeksi.
menelan.
• Ajarkan pasien atau pemberi • Peningkatan SDP dikaitkan dengan
perawatan tentang perlunya infeksi
melaporkan kemungkinan infeksi. • Memberikan informasi data dasar,
• Pantau jumlah sel darah putih dan peningkatan suhu secara berulang-
diferensial ulang dari demam yang terjadi untuk
• Pantau tanda-tanda vital termasuk menunjukkan bahwa tubuh bereaksi
suhu. pada proses infeksi ang baru dimana
obat tidak lagi dapat secara efektif
• Awasi pembuangan jarum suntik dan
mengontrol infeksi yang tidak dapat
mata pisau secara ketat dengan
disembuhkan.
menggunakan wadah tersendiri.
• Mencegah inokulasi yang tak
disengaja dari pemberi perawatan.
Kolaborasi

• Menghambat proses infeksi. Beberapa


• Beriakan antibiotik atau agen
obat-obatan ditargetkan untuk
antimikroba, misal : trimetroprim
organisme tertentu, obat-obatan lainya
(bactrim atau septra), nistasin, ditargetkan untuk meningkatkan
pentamidin atau retrovir. fungsi imun

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebih


o Tujuan : – mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan oleh
normalnya kadar elektrolit
o Kriteria hasil : – Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat
Defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari

Intervensi Rasional
Mandiri • Indikator tidak langsung dari status

cairan.
• Kaji turgor kulit,membran mukosa,
• Mempertahankan keseimbangan
dan rasa haus
cairan, mengurangi rasa haus,
• Pantau masukan oral dan
melembabkan mukosa.
memasukkan cairan sedikitnya 2500
• Mungkin dapat mengurangi diare.
ml/hari
• Hilangkan makanan yang potensial • Meningkatkan asupan nutrisi secara
menyebabkan diare, yakni yang adekuat.
pedas/ makanan berkadar lemak
• Mengurangi insiden muntah,
tinggi, kacang, kubis, susu.
menurunkan jumlah keenceran feses
• Berikan makanan yang membuat
mengurangi kejang usus dan
pasien berselera.
peristaltik.
Kolaborasi • Mewaspadai adanya gangguan
elektrolit dan menentukan kebutuhan
• Berikan obat-obatan sesuai indikasi :
elektrolit.
antiemetikum, antidiare atau
antispasmodik. • Diperlukan untuk mendukung volume
sirkulasi, terutama jika pemasukan
• Pantau hasil pemeriksaan
oral tidak adekuat.
laboratorium.

• Berikan cairan/elektrolit melalui


selang makanan atau IV.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Imunitas adalah kekebalan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi.Imun
sistem adalah semua hal yang berperan dalam proses imun seperti sel, protein, antibodi
dan sitokin/kemokin. Fungsi utama sistem imun adalah pertahanan terhadap infeksi
mikroba, walaupun substansi non infeksious juga dapat meningkatkan kerja sistem imun.
Sedangkan Imunodefisiensi adalah keadaan dimana terjadi penurunan atau ketiadaan
respon imun normal. Keadaan ini dapat terjadi secara primer, yang pada umumnya
disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan, serta secara sekunder akibat penyakit
utama lain seperti infeksi, pengobatan kemoterapi, sitostatika, radiasi, obat-obatan
imunosupresan (menekan sistem kekebalan tubuh) atau pada usia lanjut dan malnutrisi
(Kekurangan gizi).

B. Saran
Setelah kami menyelesaikan makalah dengan judul Imunodefisiensi, kami merasa
masih banyak sekali kekurangan karena keterbatasan referensi baik itu dari etiologi,
patofisiiologi, lebih khususnya lagi yaitu manajemen keperawatannya dari pengkajian
sampai dengan evaluasi. Untuk itu kami dari kelompok I mengharap masukan kritik saran
dan sanggahan untuk kelompok kami.
KATA PENGANTAR

Segala puji atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Imunodefisiensi ” tepat pada waktunya .Penulis menyampaikan banyak terima kasi
kepada dosen pembimbing yang mengarahkan kami dalam membuat makalah ini.
Mengingat pembahasan pada mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II sangat
kurang tentang masalah imunodefisiensi, maka penulis mencoba membuat makalah
seperti yang tertera pada judul di atas untik dijadikan referensi mata kuliah dan untuk
menambah wawasan kita semua khususnya kami yang nantinya sangat bermanfaat ketika
kami memberikan asuhan keperawatan.
Mungkin makalah ini jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah untuk
kedepannya .
wassalam.

Mataram, 04-05-2010
Penulis
Kelompok I

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................


DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................
B. Rumusan masalah........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum ........................................................................................
B. Pengertian.....................................................................................................
C. Klasifikasi .....................................................................................................
D. Diagnosa Keperawatan ...............................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................
B. Saran .............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA

Martini, Frederic .H.(2001). Fundamental of Anatomy & Phisiology. 5th Ed. New
Jersey: Prentice- Hall
Sloane, Etho.(2004). Anatomi Fisiologi Bagi Pemula. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Thibodeau, G.A., Patton, Kevin.T. (2007). Anatomy and Phisiology. Missouri:
Mosby
MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II


”IMUNODEFISIENSI”

Oleh kelompok IV:

1. Novian arfiandinata

2. Siti Putrini Dara P

3. Robby satriadi
4. Bq. Nani sriastuti

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN


(STIKES) MATARAM
2010/2011

Anda mungkin juga menyukai