Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Masalah


1. Latar Belakang
Warisan budaya bangsa merupakan cermin tingginya peradaban suatu bangsa.
Naskah kuno merupakan artefak bangsa yang patut dijaga agar identitas suatu
bangsa tidak kabur karena pengaruh globalisasi. Begitu pula dengan cerita lisan
yang dapat dikatakan sebagai khazanah bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan
pula agar tidak punah. Kedua hal tersebut merupakan peninggalan nenek moyang
atau warisan budaya bangsa yang patut dijaga, karena salah satu ciri bangsa yang
besar dan maju adalah bangsa yang mampu menghargai dan melestarikan warisan
budayanya.
Kini, sebagai buah dari budaya tersebut, wilayah Nusantara mewarisi
khazanah naskah tulisan tangan yang tak terkira jumlahnya, dalam puluhan ragam
bahasa dan aksara, tidak hanya naskah yang berkaitan dengan agama, melainkan
juga budaya, adat istiadat, sastra, ekonomi, filsafat, dan perihal kehidupan remehtemeh lainnya. Alhasil, khazanah naskah Nusantara mengandung sebuah memori
kolektif bangsa ini sejak berabad-abad lalu. Selain kertas Eropa yang paling
kebanyakan digunakan, khazanah naskah Nusantara juga menggunakan alas
naskha lain seperti daluang, bambu, atau lontar.

Seiring dengan berjalannya waktu, sebagian dari naskah tersebut telah


musnah dengan berbagai cara, meski sebagiannya lagi masih terpelihara dengan
baik. Kini pun, di antara penyebab kerusakan naskah yang sering terjadi adalah
akibat gigitan serangga, ketajaman tinta, dan kelembaban cuaca. Sifat alam tropis
di Asia Tenggara telah mempercepat kerusakannya. Selain itu, posisi geografis
Indonesia khususnya, yang terletak di wilayah rawan bencana alama seperti
gempa, telah menambah ancaman terhadap kehilangan benda cagar budaya ini,
tanpa dapat dihindari.
Akan tetapi, potensi kerusakan naskah yang paling mengancam
sesungguhnya adalah ketidakpedulian kita sendiri sebagai masyarakat pemiliknya.
Manakala tidak tumbuh kesadaran akan nilai pentingnya naskah tersebut sebagai
warisan budaya, manakala revolusi industri dan teknologi berkembang
sedemikian cepat, yang mengakibatkan jejak-jejak sejarah dan budaya masyarakat
pra-industri dikesampingkan, saat itu juga sesungguhnya kemusnahan naskah
sebagai benda cagar budaya telah dimulai. Dan, sekali hilang, ia tak akan pernah
bisa tergantikan, sehingga akan musnah dari memori kita selamanya.
Berbagai upaya pemeliharaan (preservasi) naskah kuno tulisan tangan
telah dilakukan berbagai pihak, khususnya oleh perpustakaan dan lembaga arsip
penyimpanan naskah. Upaya tersebut mencakup restorasi, konservari, dan
pembuatan salinan (back up) naskah dalam bentuk media lain.
Seiring dengan perkembangan teknologi digital aktivitas alih media
naskah pun mengalami revolusi penting pada awal milenium kedua, yakni dengan

digunakan teknologi digital dalam pembuatan salinan naskah, baik melalui


kamera digital maupun mesin scanner. Alih media naskah ke dalam bentuk
microfilm pun mulai ditinggalkan, karena dianggap tidak efisien lagi, baik dalam
tahap pembuatan maupun penggunaannya oleh pembaca, meski sebetulnya daya
tahan sebuah microfilm akan jauh lebih baik ketimbang foto digital (Fathurahman,
2015: 147-151).
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut
a. Bagaimana situasi pernaskahan di Indonesia saat ini?
b. Apa solusi dari kelangkaan naskah kuno?
c. Apa yang di maksud digitalisasi naskah?
d. Bagaimana teknik dan prosedur digitalisasi?
e. Bagaimana pengalaman penulis dalam mendigitalkan naskah?
B. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut
a. Menjelaskan situasi pernaskahan di Indonesia saat ini.
b. Menganalisis solusi dari kelangkaan naskah kuno.
c. Menjelaskan pengertian digitalisasi naskah.
d. Mendeskripsikan teknik dan prosedur digitalisasi naskah.
e. Menginterpretasikan pengalaman penulis dalam mendigitalkan naskah.

2. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis artinya hasil penelitian bermanfaat dalam rangka membangun
ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menambah khazanah penelitian kebudayaan di Fakultas Ilmu
Budaya Universitas Diponegoro.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan menambah referensi dan wawasan
kepada pembaca.
C. Landasan Teori
1) Teori Filologi
Filologi adalah suatu ilmu yang objek penelitiannya naskah-naskah
lama (Djamaris, 2002: 3).
2) Konservasi Naskah
The

American

Heritage

Dictionary,

mendefinisikan

Conservation

sebagai: menjaga supaya tidak hilang, rusak, atau disia-siakan dan


selanjutnya

Preservation

didefinisikan

dengan

melindungi

dari

kerusakan, resiko dan bahaya lainnya, menjaga agar tetap utuh dan
menyiapkan sesuatu untuk melindungi dari kehancuran. Websters
Third New International Dictionary, mendefinisikan kata konservasi
sebagai kegiatan yang direncanakan untuk melestarikan, menjaga dan
melindungi (Purwono, 2010: 48-49).

D. Metode Penelitian
1) Metode Deskriptif
Metode deskriptif merupakan salah satu dari jenis jenis metode
penelitian.

Metode

penelitian

deskriptif

bertujuan

untuk

mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala


yang ada, mengindetifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan
praktek-praktek yang berlaku, membuat perbandingan atau evaluasi
dan menetukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi
masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk
menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang
(Hasan, 2002).
Dengan demikian metode penelitian deskriptif ini digunakan
untuk melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi
tertentu atau bidang tertentu, dalam hal ini bidang secara aktual dan
cermat. Metode deskriptif bukan saja menjabarkan (analitis), akan
tetapi juga memadukan. Bukan saja melakukan klasifikasi, tetapi juga
organisasi. Metode penelitian deskriptif pada hakikatnya adalah
mencari teori, bukan menguji teori. Metode ini menitikberatkan pada
observasi dan suasana alamiah.
2) Metode Kualitatif
Menurut Moleong (2006: 6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh
subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan

lain-lain secara holistik atau analisis keseluruhan dan dengan cara


deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks
khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Situasi Pernaskahan di Indonesia Saat Ini


Pada Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-2 tahun 2009 lalu,
Oman Fathurahman telah menguraikan secara cukup rinci pengalaman Indonesia
dalam hal digitalisasi naskah Nusantara, baik yang dilakukan oleh lembaga atau
perorangan di Indonesia maupun oleh pihak Asing. Dalam makalahnya tersebut
juga diulas bagaimana peran digitalisasi naskah dalam pengembangan tradisi
penelitian di Indonesia.1 Lebih lanjut, Alfida (2012) juga telah mengangkat tema
1*Disajikan dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia VI, Malang, 12-14
November 2013. Penulis adalah filolog di Perpustakaan Nasional RI dan
pengurus pusat Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Apa yang dipaparkan
dalam makalah ini sepenuhnya merupakan pendapat pribadi, tidak mewakili
lembaga atau organisasi. Segala kesalahan yang mungkin timbul menjadi
tanggung jawab penulis.
Lihat Fathurahman (2009) Upaya Pelestarian
Warisan Budaya dalam Format Digital. Makalah. Konferensi Perpustakaan
Digital Indonesia 2, Jakarta, 2009.

yang senada pada makalahnya pada Consal XV di Bali. Dari kedua penulis itu kita
dapat memperoleh gambaran bahwa dalam satu dasawarsa terakhir, digitalisasi
naskah cukup giat dilaksanakan di Indonesia.
Dinamika perkembangan ilmu pernaskahan di Indonesia dewasa ini juga
menunjukkan gejala yang cukup menggembirakan. Gejala ini sebetulnya sudah
disinyalir sebelumnya oleh van der Putten (2007). Perguruan-perguruan tinggi
Eropa yang dulunya mengembangkan bidang filologi dan menghasilkan sarjanasarjana, saat ini semakin sepi peminat, bahkan beberapa jurusan terkait ada yang
gulung tikar. Sebaliknya, dalam satu dekade terakhir, geliat atas bidang ilmu ini
ditunjukkan oleh masyarakat dari Asia Tenggara (van der Putten, 2007).
Mahasiswa peminat sastra daerah di perguruan tinggi semakin meningkat,
perguruan tinggi kian gencar melakukan kegiatan seminar dan penelitian tentang
naskah,organisasi profesi dalam bidang pernaskahan semisal Manassa semakin
aktif berbagai kegiatan preservasi, advokasi dan penelitian. 2 Departemen Agama
melalui Pusat Lektur Keagamaan dan Badan Penelitian dan Pengembangan
semakin aktif mengkaji naskahnaskah keagamaan.3 Lembaga penyimpan dan
2 Setiap dua tahun Manassa menyelenggarakan Simposium
Internasional Pernaskahan Nusantara (SIPN) dan tahun 2012 lalu
Simposium ke-12 diselenggarakan di Yogyakarta. telah menerbitkan
Jurnal Manuskripta.
3 Beberapa tahun belakangan ini Departemen Agama giat melakukan
inventarisasi, digitalisasi, dan kajian terhadap naskah-naskah klasik
keagamaan. Melalui kerjasama dengan Manassa dan PPIM UIN, telah
diluncurkan website Thesaurus Indonesian Islamic Manuscripts (T2IM),
yang mengandung data penelitian naskah keagamaan. Hasil kegiatan
tersebut dapat dilihat di http://tiim.ppim.or.id/.

pengelola naskah seperti Perpustakaan Nasional juga gencar melakukan kegiatan


yang berkaitan dengan penelitian dan pengelolaan naskah.4 Di daerah-daerah,
museum-museum dan kraton semakin memberikan kemudahan akses. Individuindividu kreatif pegiat naskah pun mulai menunjukkan eksistensi dan prestasi
yang membanggakan.5 Singkat kata, para peneliti naskah masa kini diberi lebih
banyak kemudahan dibanding guru-gurunya dari generasi sebelumnya (Gunawan,
2013:1-4).
B. Solusi Kelangkaan Naskah Kuno
1) Konservasi Naskah Kuno
Kehidupan manusia yang selalu mengalami pergantian generasi, menyebabkan
adanya peristiwa sejarah bagi kehidupan manusia itu sendiri, maka terjadilah
bentuk-bentuk dan rupa atas daya dan kreativitas manusia pada waktu itu. Mereka

4 Dalam konteks lembaga di Indonesia, kiranya Perpustakaan Nasional


adalah salah satu lembaga yang paling aktif dalam kegiatan
pengelolaan naskah Nusantara. Dalam hal akuisisi, misalnya,
Perpusnas sudah mendapatkan lebih dari 500 sejak tahun 1998, dan
beberapa tahun belakangan, ratusan naskah lain berhasil didapat dari
masyarakat. Sejak tahun 2003, sekitar 956 naskah juga sudah
didigitalisasi (Purwanto, 2012: 97). Perpusnas juga menerbitkan Jurnal
Manuskrip Nusantara (Jumantara) yang terbit dua kali dalam setahun,
menerbitkan hasil transliterasi dan terjemahan naskah Nusantara,
menyelenggarakan seminar naskah setiap tahun, dan
menyelenggarakan pameran dan sosialisasi naskah baik di Jakarta
maupun di daerah-daerah.
5 Sebut saja Sinta Ridwan, pegiat naskah yang membuka kelas Aksara,
yang mendapatkan penghargaan Kick Andy Hope Award pada tahun
2011; Tarmidzi A. Hamid di Aceh yang memiliki koleksi pribadi yang
cukup banyak.

meninggalkan hasil karya kepada generasi sesudahnya. Peninggalan tersebut dapat


disebut dengan peninggalan benda budaya. Untuk menghargai peninggalan benda
budaya tersebut, kita sebagai generasi penerus, harus melakukan upaya untuk
menyelamatkan dan mempertahankan agar tidak terjadi kerusakan atau hilang.
Untuk itu perlu dilakukan upaya konservasi yang secara garis besar berarti
pelestarian terhadap benda peninggalan budaya tersebut.
Pada hakikatnya kata konservasi dan preservasi memiliki arti yang sama
yakni pelestarian yang berasal dari bahasa Inggris yakni Conservation and
Preservation. Dalam kamus Inggris-Indonesia yang disusun oleh John M. Echols
dan Hasan Shadily, kedua kata ini mempunyai arti yang hampir sama. Konservasi
berarti Universitas perlindungan, pengawetan, sedangkan preservasi bererti
pemeliharaan, penjagaan dan pengawetan.
Akan tetapi menurut sumber lain yang menyangkut pelestarian bahan
pustaka dan arsip, kata konservasi memiliki arti yang lebih luas. Konservasi
dalam perpustakaan adalah perencanaan program secara sistematis yang dapat
dikembangkan untuk menangani koleksi perpustakaan agar tetap dalam keadaan
baik dan siap pakai.
Wendy Smith dari National Library of Australia membuat definisi yang
lebih sederhana tentang Preservation, Conservation, dan Restoration, yaitu:
1. Preservation: adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang
umur bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya.
2. Conservation: adalah kegiatan yang meliputi perawatan, pengawetan
dan perbaikan bahan pustaka oleh konservator yang profesional.

10

3. Restoration: termasuk dalam kegiatan konservasi yang memperbaiki


bahan pustaka yang rusak agar kondisinya seperti aslinya.
The American Heritage Dictionary, mendefinisikan Conservation sebagai:
menjaga supaya tidak hilang, rusak, atau disia-siakan dan selanjutnya
Preservation didefinisikan dengan melindungi dari kerusakan, resiko dan
bahaya lainnya, menjaga agar tetap utuh dan menyiapkan sesuatu untuk
melindungi dari kehancuran. Websters Third New International
Dictionary, mendefinisikan kata konservasi sebagai kegiatan yang
direncanakan untuk melestarikan, menjaga dan melindungi (Purwono,
2010: 48-49).
Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kata konservasi mempunyai arti
pelestarian, yang selanjutnya pelestarian ini mencakup kegiatan pemeliharaan,
perawatan, pengawetan, perbaikan dan reproduksi (Saputra, 2015: 4-6).
C. Digitalisasi Naskah
1) Pengertian Digitalisasi Naskah
Digitalisasi ialah bagian dari pelestarian yang berupaya untuk menyelamatkan
naskah-naskah kuno dengan memanfaatkan teknologi digital seperti soft file, foto
digital, mikrofilm, serta mengupayakan baik naskah asli atau naskah duplikatnya
agar dapat bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama. Digitalisasi manuskrip
merupakan proses pengalihan manuskrip dari bentuk aslinya ke dalam bentuk
digital atau menyalinnya dengan melakukan scanning (scanner) atau memfotonya
dengan kamera digital. Digitalisasi naskah dilakukan agar isi kandungan dari
naskah tetap terjaga jika sewaktu-waktu fisik naskah tersebut sudah tidak dapat
dipertahankan lagi. Digitalisasi memiliki manfaat antara lain:
a. Mengamankan isi naskah dari kepunahan agar generasi seterusnya tetap
mendapatkan informasi dari ilmu-ilmu yang terkandung dari naskah
tersebut.

11

b. Mudah digandakan berkali-kali untuk dijadikan cadangan (back up data).


c. Mudah untuk digali informasinya oleh para peneliti jika di-upload ke
sebuah alamat web.
d. Dapat dijadikan sebagi obyek promosi terhadap kekayaan bangsa (Sari,
2015: 15-16).

2) Kelebihan dan Kekurangan Digitalisasi


Gardjito (2002, 13) mengatakan bahwa kelebihan bentuk digital dibandingkan
dengan bentuk media lain adalah bahwa informasi digital ikut membentuk
sebagian besar peningkatan budaya dan warisan intelektual bangsa serta
memberikan manfaat yang penting bagi penggunanya. Kemampuan untuk
menghasillkan, menghapus dan mengkopi informasi dalam bentuk digital,
menelusuri teks dan pangkalan data, serta mengirim informasi secara cepat
melalui sistem jaringan telah menciptakan suatu pengembangan yang luar biasa
dalam teknologi digital. Salah satu contoh dari kelebihan produk digital ialah yang
dikemas dalam bentuk CD-ROM dimana cara penelusuran informasinya berbeda
dari cara pengaksesan informasi melalui jaringan internet. Pada umumnya pada
CD-ROM 18 telah dilengkapi dengan perangkat lunak untuk pengoperasian
penelusuran dan penganalisaannya (Sari, 2015: 16-18).
Usaha penyelamatan nilai informasi agar informasi dapat dimanfaatkan
dalam waktu yang relatif lebih lama lagi dan terhindar dari kerusakan terhadap
koleksi digital atau elektronik. Refreshing, migrasi, dan emulasi adalah beberapa
cara preservasi digital yang bisa menjadi pilihan bagi perpustakaan untuk
melestarikan materi digital (Daryono, 2011).

12

Pelestarian

teknologi

merupakan

tindakan

pemeliharaan

terhadap

hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) yang mendukung


sumber daya (koleksi) digital. Perkembangan teknologi yang cukup pesat adalah
alasan utama dilakukan pelestarian teknologi ini, yang akan mengakibatkan
informasi yang terdapat di dalamnya tidak bisa terbaca. Pelestarian teknologi
mempunyai tujuan untuk menyimpan objek digital dalam bentuk format asli,
dengan fungsi dan presentasi yang sama, dan juga dengan perangkat keras dan
lunak yang digunakan masih dengan keasliannya.
Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari cara ini. Kelebihan yang
didapatkan diantaranya pertama, dengan meyimpan perangkat keras dan
perangkat lunak aslinya, maka tampilannya akan sama dengan dokumen
aslinya. Kedua, pelestarian teknologi merupakan solusi pelestarian yang praktis
dalam jangka pendek. Ketiga, dengan pelestarian teknologi, kebutuhan untuk
mengimplementasikan strategi pelestarian lainnya dapat ditunda. Selain
kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan, strategi ini juga memiliki kelemahan.
Karena merupakan strategi dalam jangka pendek maka diperlukan tindak yang
berkelanjutan (Sari, 2008:22).
D. Teknik dan Prosedur Digitalisasi
1) Teknik atau Proses Digitalisasi
Menurut Pendit (2007, 103) proses digitalisasi adalah proses mengubah dokumen
tercetak menjadi dokumen digital. Proses digitalisasi dapat dilakukan terhadap
berbagai bentuk bahan pustaka seperti peta, naskah kuno, foto, karya seni patung,

13

lukisan dan sebagainya. Proses digitalisasi untuk naskah kuno atau buku yang
sudah sangat tua dapat dilakukan dengan kamera khusus beresolusi tinggi yang
mampu memotret setiap detail dari naskah tersebut. Untuk naskah yang sudah
sangat rapuh dibutuhkan proses laminating dengan plastik khusus sebelum
dokumen tersebut di scan atau difoto.
Saleh (2010, 13) berpendapat bahwa proses pembuatan dokumen digital
secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Seleksi dan pengumpulan bahan yang akan dibuat koleksi digital,
bahanbahan yang akan dikonversi dari tercetak menjadi digital perlu
diseleksi untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan
digitalisasi koleksi perpustakaan.
2. Pembongkaran jilid koleksi agar bisa dibaca alat pemindaian (scanner),
proses ini perlu dilakukan untuk memudahkan operator pemindai
melakukan proses pemindaian lembar demi lembar dari bahan
tersebut.
3. Pembacaan halaman demi halaman dokumen menggunakan alat
pemindai yang kemudian disimpan dalam format file PDF. Hasil
proses ini adalah dokumen dalam bentuk elektronik atau file
komputer.
4. Pengeditan, hasil pemindaian tadi masih perlu diedit, terutama jika
ukuran kertas yang ditentukan pada saat scanning tidak tepat. Oleh
karena itu perlu dilakukan editing seperti pemotongan pinggiran
halaman, pembalikan halaman dan lain-lain. Selain itu juga perlu
dilakukan penggabungan halaman jika pemindaian dilakukan secara
sepotong-sepotong.
5. Pembuatan serta pengelolaan metadata (basis data) agar dokumen
tersebut dapat diakses dengan cepat. Pembuatan basis data ini dapat
menggunakan perangkat lunak apa saja yang dapat dikenal dan biasa
digunakan oleh manajer sistem.
6. Melengkapi basis data dokumen dengan abstrak jika diperlukan.
Terutama untuk dokumen-dokumen yang berisi informasi ilmiah serta
monograf lainnya. Sedangkan untuk dokumen yang berisi informasi
singkat dan semacamnya, cukup ditambahkan keterangan atau anotasi.

14

7. Proses selanjutnya adalah pemindaian dokumen PDF serta basis data


ke CDROM atau DVD. Setelah dokumen digital selesai, maka tahap
berikutnya adalah mengumpulkan dokumen tersebut, menata serta
mengkopinya ke dalam CD-ROM atau DVD.
8. Penjilidan kembali dokumen yang sudah dibongkar dan dokumen
tersebut dapat dikembalikan ke tempat penyimpanannya.
Selain itu Pendit (2007, 106) mengatakan bahwa proses digitalisasi
dibedakan menjadi 3 (tiga) kegiatan utama, yaitu:
(1) scanning, yaitu proses memindai (menscan) dokumen dalam bentuk
cetak dan mengubahnya ke dalam bentuk berkas digital;
(2) editing, adalah proses mengolah berkas PDF di dalam komputer
dengan cara memberi password, watermark, catatan kaki, daftar isi, hyperlink, dan
sebagainya. Kebijakan mengenai hal-hal apa saja yang perlu diedit dan dilindungi
di dalam berkas tersebut disesuaikan dengan kebijakan yang telah ditetapkan
perpustakaan; (3) uploading, adalah proses pengisian (input) metadata dan
mengupload berkas dokumen tersebut ke digital library.
Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa proses digitalisasi antara lain
adalah seleksi koleksi yang akan didigitalisasikan, mengumpulkan koleksi yang
akan didigitalisasikan, melakukan scan, membuat back up, memberi nama-nama
khusus agar mudah ditemu kembalikan dan dihubungkan ke dalam website
apabila diperlukan (Sari, 2015:25).

2) Prosedur Digitalisasi

15

Melakukan digitalisasi/proses digital. Pengalihmediaan informasi dari berbagai


jenis media dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat perekam,
poses yang paling sederhana adalah dengan memakai bantuan alat perekam
(scanner) atau kamera digital untuk menghasilkan gambar elektronik (bitmap
images). Kualitas gambar sangat tergantung dari jumlah titik yang terekam oleh
scanner. Faktor lain dalam menentukan kualitas gambar dalam bentuk digital
adalah jenis alat perekam yang digunakan yang mampu merekam secara optimal
seluruh detail gambar dari fisik aslinya (Gardjito 2002, 17).
Adapun prosedur yang diperlukan pada saat pengalihmediaan meliputi:
a. Pengecekan kelengkapan sumber informasi apakah telah memenuhi
syarat sebagai dokumen.
b. Pemilihan perangkat rekam dan perangkat lunak yang sesuai untuk
proses pengalihmediaan. Beberapa pertimbangan dalam memilih
perangkat perekam ditentukan oleh:
1) Kategori dokumen yang akan direkam
2) Kelengkapan dokumen
3) Resolusi yang diperlukan
4) Jumlah dokumen yang akan direkam
5) Kualitas, keadaan fisik dokumen
6) Kemampuan perangkat lunak yang digunakan
c. Pembuatan kopi untuk pengganti apabila terjadi kerusakan pada media.
E. Pengalaman Penulis dalam Mendigitalkan Naskah

16

Sebagai mahasiswa semester tujuh jurusan Sastra Indonesia yang berkonsentrasi


di bidang Filologi, saya memiliki pengalaman dalam mendigitalkan naskah kuno
dengan dua alat, yaitu kamera SLR dan scanner. Berikut pengalaman penulis:
1) Mendapatkan naskah tulisan tangan maupun cetak yang akan didigitalkan.
2) Ketika mendigitalkan, penulis memiliki beberapa kendala, yaitu
a. Kondisi naskah yang kurang baik, misalnya tintanya sudah mulai pudar,
kertasnya berlubang, kulit kayu sudah mulai mengelupas, kertas mulai
rapuh membuat proses pendigitalan susah karena harus membuka
naskah scara hati-hati dan membutuhkan kamera yang beresolusi tinggi.
b. Penggunaan kamera untuk mendigitalkan naskah memang lebih rumit
dibandingkan dengan menggunakan scanner, karena kamera harus
dapat fokus pada naskah tersebut dengan menggunakan tripod.
c. Penggunaan scanner , terutama memakai scanner biasa yang terdapat
dalam mesin printer dalam mendigitalkan naskah hanya dapat dilakukan
pada naskah yang masih baik, belum rapuh, dan naskah yang tidak
memiliki banyak halaman (tidak tebal).
d. Jika naskah tersebut memiliki watermark, sering watermark tersebut tidak
terlihat setelah didigitalkan.
Berikut hasil dari pendigitalan naskah kuno penulis

17

Dedongengan Jilid
II

Naskah Ramuan
Batak

Paririmbon
Kahuripan
BAB III

(tulisan tangan)

(tulisan tangan)

PENUTUP

A. Simpulan
Digitalisasi naskah Nusantara dan publikasi online dengan status hak akses yang
jelas merupakan bagian kecil dari upaya membangun sistem pelestarian dan
pendayagunaan naskah Nusantara yang lebih luas.
Usaha digitalisasi naskah terpadu kiranya sangat relevan diterapkan di
sebuah negara kepulauan seperti Indonesia. Usaha awal tentu akan menghabiskan
banyak tenaga dan biaya, tetapi hal ini dapat menghemat anggaran di masa depan
(Gunawan, 2013: 13).
B. Saran

18

Sistem ini (digitalisasi) harus terintegrasi dengan sistem penunjang lain yang
jangkauannya luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi seluruh perpustakaan dan
museum di seluruh dunia yang diketahui menyimpan karya leluhur bangsa kita
ini. Sudah saatnya kita membuat standardisasi metadata naskah, membangun
Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara (Kinara),6 membangun pangkalan data
penelitian naskah-naskah Nusantara, yang semuanya saling terhubung (Gunawan,
2013:13).

DAFTAR PUSTAKA
Daryono. 2011. Preservasi Perpustakaan Digital (Kelebihan Dan Kekurangan
Cara
Preseravasi
Digital).
http://daryono.staff.uns.ac.id/2011/12/08/preservasi-perpustakaan-digital6 lihat makalah Dina Isyanti Membangun Katalog Induk Naskah
Nusantara berbasis IndoMARC dalam konferensi ini.

19

kelebihan-dan-kekurangan-cara-preseravasi-digital-4/ (diakses 1 Januari


2016).
Djamaris, Edwar. 2002. Metode Penelitian Filologi. Jakarta: CV. Manasco.
Fathurahman, Oman. 2009. Upaya Pelestarian Warisan Budaya dalam Format
Digital. Makalah. Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia 2, Jakarta,
2009.
___________. 2015. Filologi
Prenadamedia Group.

Indonesia:

Teori

dan

Metode.

Jakarta:

Gardjito. 2002. Identifikasi, Penilaian, Pemilihan, Penghimpunan, Pemrosesan


dan Pengelolaan serta Pendistribusian Kandungan Informasi Lokal. Jurnal
Visi Pustaka Vol. 4, no. 1 (Juni)
http://perpusnas.go.id/iFileDownload.aspx?ID...Artikel_1_Gardjito.pdf
(diakses 1 Januari 2016).
Gunawan, Aditya. 2013. Digitalisasi Naskah dan Creative Commons.
https://www.academia.edu/12292261/_2013_Digitalisasi_Naskah_Nusantar
a_dan_Creative_Commons_Proyeksi_Penerapannya_di_Indonesia (diakses
1 Januari 2016)
Hasan, M. Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan
Aplikasinya. Penerbit Ghalia Indonesia : Jakarta.
Lazinger, Susan S. 2001. Digital Preservation and Metadata: History, Theory,
and Practice. Englewood, Colorado: Libraries Unlimited.
Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Pendit, Putu Laxman et all. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan
Perguruan Tinggi. Jakarta: Sagung Seto.
Purwono. 2010. Dokumentasi. Yogyakarta: Penerbit Garaha Ilmu.
Saleh, Abdul Rahman. 2010. Membangun Perpustakaan Digital: Step by Step.
Jakarta: Sagung Seto.
Saputra, Dedi. 2015. Konservasi Naskah-Naskah Kuno pada Museum Negeri
Provinsi Sumatera Utara. Jurnal Universitas Sumatera Utara Institutional
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/46193 (diakses 1 Januari
2016).
Sari, Delaya. 2008. Pelestarian Koleksi Digital di Perpustakaan Universitas
Indonesia. Skripsi Sarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Jurusan
Ilmu Perpustakaan.

20

Sari, Evi Novita. 2015. Transformasi Digital Sebagai Proses Pelestarian Naskah
Kuno Minangkabau di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi
Sumatera Barat. Jurnal Universitas Sumatera Utara Institutional
Repository.http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/51190 (diakses 1
Januari 2016)
Stielow, Frederick. 2004. A How to Do It Manual for Archivist and Librarian:
Building Digital Archives, Description and Display. New York: NealSchuman Publisher.
Van der Putten. 2007. Beberapa renungan terhadap sastra lama Nusantara.
http://horisononline.or.id/id/esai/239-beberaparenungan-terhadap-sastralama-nusantara (diakses 25 Oktober 2015).