Anda di halaman 1dari 13

No.

ID dan Nama Peserta :


/ dr. Rika Yulizah Gobel
No. ID dan Nama Wahana:
/Pr. Bedah RSUD Ajjappange Soppeng
Topik: Gangguan Anxietas Menyeluruh (F41.1)
Tanggal (kasus) : 04 April 2013
Nama Pasien : Ny. S
No. RM : 10 56 88
Tanggal presentasi : 11 April 2013
Pendamping: dr. Misdawaty
Tempat presentasi: Ruang Pertemuan RSUD Ajjappange Soppeng
Obyek presentasi : Anggota Komite Medik & Dokter Intersip RSUD Ajjappange Soppeng
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
1. Subyektif:
Deskripsi: Seorang wanita umur 35 tahun datang ke poliklinik dengan sering merasa
jantungnya berdebar-debar dan berkeringat berlebih yang dialami sejak 6 bulan terakhir
dan memberat 2 bulan ini. Pasien juga mengeluh sering merasa gelisah dan disertai nyeri
di bagian ulu hati dan kadang merasa sesak. Pasien merasa gelisah akan nasib bisnis
suaminya yang sudah hampir bangkrut. Pada mulanya pasien merasa sangat terpukul atas
kematian anak bungsunya yang meninggal akibat kecelakaann kendaraan bermotor, tetapi
perasaan terpukul tersebut dapat dia redam dan kembali beraktivitas seperti biasa. Saat ini
pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membuat toko-toko kecil-kecilan di depan
rumahnya. Akan tetapi 2 bulan terakhir ini pasien sering merasa gusar dan gelisah. Pasien
awalnya merasa gelisah akan nasib ekonomi keluarganya, dan kadang kala memikirkan
anaknya yang telah meninggal. Pasien masih memiliki 2 orang anak laki-laki yang sedang
kuliah di Makassar. Hal inilah juga yang membebani pikirannya pasien untuk uang kuliah
anaknya. Pasien sering terbangun tengah malam dan sulit tidur lagi. BAK: lancar, BAB:
konsistensi biasa.
Tujuan: Untuk menegakkan diagnosis gangguan anxietas menyeluruh dan pengobatannya.
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
bahasan:
Cara

pustaka
Diskusi

Presentasi dan

E-mail

Pos

membahas:
diskusi
Nama Klinik : RSUD Ajjappange Soppeng
Data Pasien: Nama: Ny. M
No.Registrasi: 10 43 11
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/gambaran klinis: Seorang wanita umur 35 tahun datang ke poliklinik dengan
sering merasa jantungnya berdebar-debar dan berkeringat berlebih yang dialami sejak 6
bulan terakhir dan memberat 2 bulan ini. Pasien juga mengeluh sering merasa gelisah dan
1

disertai nyeri di bagian ulu hati dan kadang merasa sesak. Pasien merasa gelisah akan
nasib bisnis suaminya yang sudah hampir bangkrut. Pada mulanya pasien merasa sangat
terpukul atas kematian anak bungsunya yang meninggal akibat kecelakaann kendaraan
bermotor, tetapi perasaan terpukul tersebut dapat dia redam dan kembali beraktivitas
seperti biasa. Saat ini pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membuat toko-toko
kecil-kecilan di depan rumahnya. Akan tetapi 2 bulan terakhir ini pasien sering merasa
gusar dan gelisah. Pasien awalnya merasa gelisah akan nasib ekonomi keluarganya, dan
kadang kala memikirkan anaknya yang telah meninggal. Pasien masih memiliki 2 orang
anak laki-laki yang sedang kuliah di Makassar. Hal inilah juga yang membebani
pikirannya pasien untuk uang kuliah anaknya. Pasien sering terbangun tengah malam dan
sulit tidur lagi. BAK: lancar, BAB: konsistensi biasa.
Pemeriksaan fisis: TD: 120/70 mmHg, N: 84 x/mnt, P:22 x/mnt, S: 36.5 C.
2. Riwayat pengobatan: pasien belum pernah memeriksakan ke dokter sebelumnya
3. Riwayat kesehatan/penyakit: pasien tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
Riwayat penyakit otak dan saraf tidak ada. Riwayat gangguan jiwa sebelumnya tidak ada.
Riwayat penyakit jantung dan gastritis tidak ada.
4. Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita gangguan jiwa sebelumnya dan
tidak ada keluhan yang serupa dengan pasien.
5. Riwayat pekerjaan: Ibu rumah tangga dan wiraswasta
6. Lain-lain:
Daftar Pustaka:
1. Mansjoer, A., dkk. Gangguan kecemasan. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran, Edisi
Ketiga. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2000 : 207-9.
2. Panggabean, L. Pengembangan kesehatan perkotaan ditinjau dari aspek psikososial.
(makalah). Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Departemen Kesehatan RI. 2003.
Hasil pembelajaran:
1. Untuk mengetahui kriteria Diagnosis Gangguan Anxietas Menyeluruh
2. Untuk mengetahui penanganan Gangguan Anxietas Menyeluruh

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
Seorang wanita umur 35 tahun datang ke poliklinik dengan sering merasa jantungnya
berdebar-debar dan berkeringat berlebih yang dialami sejak 6 bulan terakhir dan
memberat 2 bulan ini. Pasien juga mengeluh sering merasa gelisah dan disertai nyeri di
bagian ulu hati dan kadang merasa sesak. Pasien merasa gelisah akan nasib bisnis
suaminya yang sudah hampir bangkrut. Pada mulanya pasien merasa sangat terpukul atas
kematian anak bungsunya yang meninggal akibat kecelakaann kendaraan bermotor,
tetapi perasaan terpukul tersebut dapat dia redam dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Saat ini pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membuat toko-toko kecil-kecilan di
depan rumahnya. Akan tetapi 2 bulan terakhir ini pasien sering merasa gusar dan gelisah.
Pasien awalnya merasa gelisah akan nasib ekonomi keluarganya, dan kadang kala
memikirkan anaknya yang telah meninggal. Pasien masih memiliki 2 orang anak lakilaki yang sedang kuliah di Makassar. Hal inilah juga yang membebani pikirannya pasien
untuk uang kuliah anaknya. Pasien sering terbangun tengah malam dan sulit tidur lagi.
BAK: lancar, BAB: konsistensi biasa.
2. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh:
Status Vitalis: TD: 120/70 mmHg, N: 84 x/mnt, P:22 x/mnt, S: 36.5 C.
Status Mentalis:
Penampilan
: tampak seorang wanita memakai baju kain polos berwarna abu abu dan
rok berwarna hitam, memakai jilbab bermotif bunga abu abu, tampak
Kontak
Psikomotor
Verbalisasi
Afek
Ggn. Persepsi
Ggn. Isi Pikir

sesuai umur, cukup rapi.


: (+) mata, verbal.
: cukup tenang.
: menjawab bila ditanya, intonasi biasa.
: wajar
: tidak ada
: observasi.

Status Lokalis:
Kepala
: dalam batas normal
Leher
: dalam batas normal
Dada
: dalam batas normal
Jantung
: dalam Batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
3

Genitalia
: dalam batas normal
3. Assesment:
Diagnosis:
Gangguan Anxietas/Kecemasan Menyeluruh.
DEFENISI GANGGUAN CEMAS
Menurut Sadock dan Virginia (2007) gangguan cemas adalah keadaan seseorang
menalami perasaan gelisah atau cemas dengan aktivitas sistem syaraf otonom dalam berespon
terhadap suatu ancaman tertentu.
Selain itu menurut Miraz, L (2010) gangguan cemas merupakan keadaan yang ditandai
dengan perasaan ketakutan yang disertai dengan keluhan somatik yang diperlihatkan dengan
hiperaktivitas sistem syaraf otonom. Kecemasan adalah gejala yang tidak spesifik yang
sering ditemukan dan seringkali merupakan suatu emosi yang normal.
Gangguan cemas dan ketakutan sering disalahartikan. Ketakutan biasanya timbul akibat
adanya ancaman yang spesifik, sedangkan gangguan cemas timbul akibat adanya ancaman
yang belum jelas. Perasaan tidak berdaya dan tidak adekuat dapat terjadi, disertai perasaan
terasing dan tidak aman. Intensitas perasaan ini dapat ringan atau berat dan kadang bisa
menimbulkan kepanikan (Sadock dan Virginia, 2007).
TEORI
Teori gangguan cemas dibedakan menjadi dua ( Sadock dan Virginia) yaitu :
a. Teori Psikoanalitik
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal , yang mwnadarkan ego
untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri misal dengan
menggunakan

mekanisme

represi,

bila

berhasil

maka

terjadi

pemulihan

keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala cemas. Jika represi tidak berhasil
sebagai suatu pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain, misalnya
konversi, rgresi.
b. Teori Perilaku
Teori ini mengatakan bahwa kecemasan merupakan suatu respon terhadap
stimuli lingkungan keluarga.
c. Teori Eksistensial
Suatu konsep dan teori , bahwa bial seorang sadar akan adanya kehampaan yang
4

menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan


tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari.
Kecemasan adalah respons seseorang terhadapa kemampuan eksistensi tersebut.
B) Teori Biologis
a. Sistem Saraf Otonom
Stimuli sistem saraf otonom menimbulkan gejala gejala tertentu, seperti takikardi,
nyeri kepala, diare dan sebagainya.
b. Neurotransmitter
Tiga neurotransmitter yang berperan dalam gangguan cemas yaitu : norepinefrin,
serotonin dan gammma-aminobutyric acid.
c. Penelitian Genetika
Menurut hasil penelitian genetika, hampir sebagian besar penderita gangguan
panik memiliki paling sedikit satu saudara yang juga menderita gangguan tersebut.
ETIOLOGI
Menurut Mighwar (2006), secara psikologis, gangguan cemas merupakan pikiran-pikiran
negatif yang dialami seseorang yang semakin lama semakin kuat. Hal ini terjadi akibat :
a. Kurangnya pengetahuan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap pertumbuhan dan
perkembagan lingkungan sosial
b. Kurangnya dukungan dari orang tua, teman sebaya atau lingkungan masayarakat sekitar.
c. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tekanan yang ada.
FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Menurut Stuart dan Sundeen ( 2000 ) faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan cemas
dibedakan dalam beberapa hal :
a. Usia
b. Status kesehatan
c. Nila-nilai budaya
d. Pendidikan
e. Mekanisme defensi
5

f. Dukungan sosial
g. Tahap perkembangan
h. Pengalaman masa lalu
i. Pengetahuan
KLASIFIKASI
Menurut Sadock dan Virginia (2007), klasifikasi gangguan cemas dibedakan menjadi :
a. Gangguan Panikua kriteria gangguan panik : gngguan pankik tanpa agoraphobia dan
gangguan panik dengan agoraphobia kedua gangguan panik ini harus ada
Gambaran klinis :

Serangan panik pertama seringkali spontan

Ketakutan berlebihan

Tidak mampu menjelaskan sumber ketakutannya

Bingung, sulit konsentrasi

Takikardi, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat

Pedoman Diagnostik Agoraphobia :

Kecemasan berada di suatu tempat

Menghidar (fobia sosial)

Pedoman Diagnostik Gangguan Panik :

b.

Sekurangnya satu serangan diikuti satu atau lebih

Gangguan panik bisa dengan agoraphobia atau tanpa agoraphobia

Gangguan Fobia
Fobia adalah ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran secara
sadar terhadap objek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. Ada dua jenis fobia, yaitu fobia
spesifik, fobia sosial.
Pedoman Diagnostik :

c.

Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan

Gangguan Obsesif Kompulsif


6

Obsesif adalah pikiran , perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak
dikehendaki.
Pedoman Diagnosis :
Pikiran, impuls, yang berulang
Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
d.

Gangguan Stres Pasca Trauma


Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan,
kecelakaan.uma terdiri dari :

Pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran

Penumpukan responsivitas pada penderita tersebut

Pedoman Diagnostik Stres Pascatrauma :


a. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik
b. Keadaan traumatik secara menetap dialami kembali
c. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
d. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.
e.

Reaksi Stres Akut


Gangguan sementara yang cukup parah, terjadi pada seseorang tanpa adanya
gangguan jiwa lain muncul respons terhadap stres fisik mental dan biasanya menghilang
dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalam traumatik yang luar
biasa.
Pedomann Diagnostik :
a. Gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah
b. Gejala-gejalanya dapat mengilang dengan cepat (beberapa jam)

f.

Gangguan Anxietas Menyelutuh


Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap aktivitas atau peristiwa
tertentu , yang berlangsung hampir setiap hari, selama 6 bulan atau lebih. Gambaran
esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap
7

(bertahan lama). Gejala yang menonjol sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang
berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi,
pusing kepala dan keluhan epigastrik.
Pedoman Diagnostik : gejala- gejala ini baisanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan
tentang masa depan, ketegangan motorik, over aktivitas otonomik.
g.

Gangguan campuran anxietas dann depresi


Kategori campuran harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun
depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan raangkaian gejala yang cukup berat
untuk mengakkan diagnosis tersendiri.

Gejala Umum Gangguan Kecemasan


Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada kondisi
masing-masing individu, beberapa simtomp yang muncul tidaklah sama. Kadang beberapa
diantara simtom tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa individu, lainnya sangat
mengganggu.
1.

Berdebar diiringi dengan detak jantung yang cepat


Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan pada
pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memunculkan rasa
berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan individu yang mengalami
gangguan kecemasan kontinum detak jantung semakin lambat dibandingkan pada orang
normal.

2.

Rasa sakit atau nyeri pada dada


Kecemasan meningkatkan tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu dapat
merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan sebagai tanda
serangan jantung yang sebenarnya adalah bukan. Hal ini kadang menimbulkan rasa panik

3.

yang justru memperburuk kondisi sebelumnya.


Rasa sesak napas
Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang
menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti

4.

kesulitan bernafas karena kehilangan udara.


Berkeringat secara berlebihan
Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat yang
8

5.
6.
7.

muncul disebabkan otak mempersiapkan perencanaan fight or flight terhadap stressor.


Kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual.
Gangguan tidur.
Tubuh gemetar
Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada situasi
yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang mengalami
gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan secara berlebihan,

rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian anggota tubuh yang lain.
8. Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan bekeringat.
9. Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri.
10. Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain).
Terapi gangguan kecemasan
Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan tujuan
penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut sama-sama
mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber kecemasan
mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa pendekatan:
1. Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada
konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi.
Psikoanalisis tradisional menyadarkan bahwa kecemasan klien merupakan simbolisasi
dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat dibebaskan dari
menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian ego dapat memberi
perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan memberi peningkatan. Begitu
juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern lebih menjajaki sumber kecemasan
yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang daripada hubungan masa lampau. Selain
itu mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2. Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial diri kita
yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self seseorang
yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran. Oleh sebab itu
terapis-terapis

humanistik

bertujuan

membantu

orang

untuk

memahami

dan

mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya.


Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka

yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan-perasaan


mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka mulai muncul ke
permukaan.
3. Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati gangguan
kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine, Valium dan Xanax (alprazolam).
Meskipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat mengakibatkan
depensi fisik. Obat antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan antipanik selain juga
mempunyai efek antidepresi
4. Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak dibenarkan
oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk membantu individu
menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya
kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam pendekatan belajar,
diantaranya:
a. Pemaparan Gradual
Metode ini membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui pendekatan setapak
demi setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Efektifitas terapi
pemaparan sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai terapi pilihan untuk
menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak dipakai pada penanganan
agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan individu yang agorafobik kepada
situasi stimulus yang makin menakutkan, sasaran akhirnya adalah kesuksesan individu
ketika dihadapkan pada tahap terakhir yang merupakan tahap terberat tanpa ada perasaan
tidak nyaman dan tanpa suatu dorongan untuk menghindar. Keuntungan dari pemaparan
gradual adalah hasilnya yang dapat bertahan lama.
b. Rekonstruksi Pikiran
Yaitu membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi sebenarnya.
biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c. Flooding
Yaitu individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya takut dan
dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita anxiety untuk
menghadapinya sendiri.
d. Terapi Kognitif
Terapi yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasional-emotif, terapi
kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa kebutuhan-kebutuhan
10

irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan perfeksionisme melahirkan


kecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial. Kunci terapeutik adalah
menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan sosial. Terapi kognitif berusaha
mengoreksi keyakinan-keyakinan yang disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia
sosial mungkin berpikir bahwa tidak ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin
bercakap-cakap dengannya dan bahwa mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi
sepanjang sisa hidup mereka. Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacatcacat logis dalam pikiran mereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara
rasional. Salah satu contoh tekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu proses
dimana terapis membantu klien mencari pikiran-pikiran dan mencari alternatif rasional
sehingga

mereka

bisa

belajar

menghadapi

situasi

pembangkit

kecemasan.

e. Terapi Kognitif Behavioral (CBT)


erapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehnik-tehnik
kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan yang mungkin
dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial, gangguan stres pasca
trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan
panik.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan pada
pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien mampu
menghadapi sendiri situasi tersebut.
PENANGANAN GANGGUAN CEMAS
a.

Non Farmakologi, Freund, Sigmund (2002)


1. Pendekatan-pendekatan psikologis
a. Pendekatan-pendekatan psikodinamika
b. Pendekatan-pendekatan humanistik
c. Pendekatan-pendekatan biologis
d. Pendekatan-pendekatan belajar
2. Penerapan pola hidup sehat

b.

Farmakologi, Departemen Kesehatan R.I (1993)


1. Antiansietas

11

a. Golongan Benzodiazepin
b. Buspiron
2. Antidepresi
Golongan Serotonin Norepinephrin Reuptake Inhibitors (SNRI)
4. Plan:
Diagnosis:
Dari hasil pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan maka pasien didiagnosis
dengan Gangguan Anxietas Menyeluruh (F41.1).
Penatalaksanaan:
1. Alprazolam 1 mg 0-1-1 tab/hari/pc
2. Edukasi pasien, rencana psikoterapi.
3. Kontrol seminggu kemudian di poliklinik Jiwa oleh SpKJ.
5. Evaluasi
Prognosis
Prognosis baik bila gejala berespon terhadap pengobatan konservatif. Kasus berat
mungkin akan membutuhkan psikoterapi adjuvant.
Pendidikan:
Dokter menjelaskan prognosis dari pasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi.
Konsultasi:
Dijelaskan adanya konsultasi dengan spesialis penyakit jiwa untuk penanganan lebih
lanjut.
Rujukan:
Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit dengan
sarana dan prasarana yang lebih memadai.

Watansoppeng, 10 Okober 2012


Peserta

Pendamping

12

dr. Rika Yulizah Gobel

dr. Misdawaty

13