Anda di halaman 1dari 28

BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu metode di atas permukaan


(surface mapping methods) dan di bawah permukaan (sub surface mapping
methods). Metode di atas permukaan ini dilakukan dengan pengamatan langsung di
lapangan seperti pengamatan singkapan atau litologi, pengukuran struktur geologi
yang ada pada daerah telitian, pengambilan conto batuan yang nantinya akan
digunakan untuk analisa petrologi, petrografi, data geokimia defraksi sinar X dengan
metode analisa Assay Fire untuk mengetahui kandungan unsur-unsur kimia. Selain
itu didukung dengan interpretasi peta topografi untuk mengetahui kelurusan struktur
yang bekerja pada daerah telitian (Gambar 2.1.).
Sedangkan untuk pengamatan dengan metode di bawah permukaan dilakukan
dengan melakukan pengamatan berdasarkan data bor, berupa kedalaman dan
ketebalan zona laterit, serta kandungan kimia (Ni, Fe, Si, Mg) per meter.
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan, yakni sebagai berikut :
1. Tahap pendahuluan
2. Tahap penelitian lapangan
3. Tahap pengumpulan data
4. Tahap analisa dan interpretasi
5. Tahap penyelesaian serta penyajian data

2.1. Tahap Pendahuluan


Di dalam tahapan ini dilakukan persiapan kelengkapan administrasi, studi
pustaka, pemilihan judul dan diskusi dengan Dosen Pembimbing. Tahap ini
dilakukan di Prodi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas
Pembangunan Nasional VETERAN Yogyakarta. Namun begitu tahap pendahuluan
yang meliputi studi pustaka tidak hanya dilakukan selama berada di kampus tetapi
tetap dilakukan di lokasi penelitian PT. Stargate Pasific Resources.
8

2.1.1. Penyusunan Proposal Penelitian


Tahapan ini dilakukan sebelum melakukan penelitian di PT. Stargate Pasific
Resources dengan berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing. Proposal penelitian
tersebut ditujukan kepada STU untuk dapat memeperoleh surat ijin jalan dari Prodi
Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN VETERAN Yogyakarta.
2.1.2. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan guna menunjang kegiatan penelitian yang meliputi
studi geologi regional Sulawesi dan studi proses laterisasi terutama sistem endapan
nikel laterit secara umum. Studi pustaka kemudian difokuskan pada daerah Sulawesi
Tenggara, dengan menggunakan pendekatan-pendekatan teori yang berkaitan dengan
pembentukan nikel laterit di daerah Sulawesi Tenggara yang pernah ditulis oleh
peneliti-peneliti terdahulu. Tahap ini juga dilakukan di lokasi penelitian dengan
mempelajari literatur yang ada dan juga berkonsultasi dengan pembimbing lapangan.
Studi pustaka ini nantinya diharapkan dapat membantu kelancaran penelitian,
yaitu dapat digunakan sebagai bahan acuan guna untuk :

Mempelajari geologi daerah penelitian baik geologi regional, stratigrafi


regional, fisiografi regional, dan struktur geologi pada daerah telitian

Mengetahui konsep-konsep pembentukan endapan nikel laterit

Mengetahui karakteristik unsur-unsur kimia dalam laterisasi


Beberapa pustaka terpilih yang digunakan sebagai kajian pustaka dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :


Sukamto, R.,1975, menerangkan tentang tiga mandala geologi yang terdapat di
wilayah Sulawesi dan sekitarnya. Perbedaan itu terdapat pada stratigrafi, struktur
geologi dan sejarah geologi nya. Ketiga mandala geologi tersebut adalah :

Mandala Geologi Sulawesi Barat

Mandala Geologi Sulawesi Timur

Mandala Geologi Banggai-Sula

Waheed, Ahmad, 2009, menerangkan tentang dasar-dasar kimia, mineralogi,


petrologi, pelapukan, dan karaktersitik laterit.
Geokimia, Mineralogi, dan formasi nikel laterit. Juga menerangkan proses
laterisasi dan faktor-faktor pendukung terjadinya endapan laterit

Van Zuidam, R.A, 1983, menjelaskan tentang cara menginterpretasikan struktur


dan pemetaan geomorfologi serta pembagian bentuk asal dan satuan geomorfik
bentuk lahan

2.2. Tahap Penelitian Lapangan


Di dalam melakukan penelitian di lapangan, penulis terlebih dahulu
merencanakan lintasan, dengan target menelusuri sungai, jalan, pit dengan tujuan
untuk mendapatkan profil laterit yang bagus dan mendapatkan batuan dasar yang
segar. Dalam pelaksanaan penelitian di lapangan digunakan beberapa metode :
Observasi Lapangan
Dilakukan untuk mengenal kondisi lapangan pada daerah penelitian dan
untuk mengetahui gambaran dari bentuk geomorfologi dan keadaan geologi
secara umum, guna menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam
penelitian selanjutnya.
Peta Lintasan
Tujuannya untuk mengetahui penyebaran litologi secara horizontal maupun
vertikal dari setiap satuan batuan dan mengetahui keadaan geomorfologi, dimana
hasil pengamatan direkam dalam buku, kamera, dan peta topografi. Adapun isi
dari peta lintasan adalah semua hasil yang diperoleh selama melakukan
pengamatan lapangan, baik berupa lokasi pengamatan, penyebaran batuan dan
struktur geologi.
Pengambilan Conto Batuan (Sample) dan Foto
Pengambilan sampel dilakukan pada beberapa titik lokasi pengamatan yang
kemudian akan dilakukan analisis petrografi dan geokimia lebih lanjut. Untuk
dokumentasi, tidak terbatas hanya pada sampel yang diambil namun keadaan
topografi dan struktur geologi juga menjadi objek yang didokumentasikan.

2.3. Tahap Pengumpulan Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data
sekunder. Data primer terdiri dari data pengamatan lapangan (Lampiran 3 A. Peta
Lintasan dan Lokasi Pengamatan), maupun pengamatan megaskopis conto batuan
10

(mineralogi dan petrologi), mikroskopis conto batuan (petrografi), struktur geologi,


dan kimia batuan. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa data analisa
laboratorium, baik berupa data petrografi maupun data geokimia unsur-unsur
tertentu, peta topografi daerah telitian serta data pemboran (data core) dari setiap
pemboran yang dilakukan.

2.4. Tahap Analisa Dan Interpretasi


Tahap analisa dan interpretasi melewati beberapa tahapan untuk dapat
mencapai tujuan penelitian.
2.4.1. Analisa Geologi
Analisa geologi yang dilakukan mencakup empat jenis analisa, yaitu :
2.4.1.1. Analisa Geomorfologi
Analisa morfologi didapatkan melalui pengamatan visual di lapangan
didukung dengan mengkaji peta topografi berdasarkan kelurusan punggungan,
penjajaran bukit sehingga dapat diinterpretasikan morfologi daerah telitian.
Pembagian bentuk lahan dalam analisa morfologi lebih didasarkan pada bentuk
morfologi serta tingkat kelerengan daerah telitian. Data morfologi diharapkan akan
mendukung dalam interpretasi permodelan tipe endapan nikel laterit di daerah
telitian.
2.4.1.2. Analisa Struktur
`

Analisa struktur dilakukan dari data hasil pengukuran di lapangan sehingga

diketahui

arah umum

struktur kekar daerah penelitian dan zona

yang

diinterpretasikan sebagai zona sesar. Dari pengukuran dan analisa kemudian


dilakukan interpretasi untuk dihubungkan dengan keadaan struktur geologi secara
regional.
Data struktur diharapkan akan mendukung dalam interpretasi geologi daerah
penelitian secara lokal maupun regional, sehingga dapat mendukung data mineralogi,

11

petrologi, mikroskopis maupun kimia untuk melihat asosiasi keberadaan Ni dan


pengaruh struktur terhadap kualitas Ni.
2.4.1.3. Analisa Petrologi
Analisa petrologi didapatkan melalui pengamatan secara visual di lapangan,
didukung dengan pendeskripsian conto batuan secara megaskopis, sebagai dasar
penamaan satuan batuan daerah penelitian. Di dalam pendeskripsian batuan, meliputi
: warna, struktur, tekstur (derajat kristalisasi, granularitas, kemas (bentuk kristal,
relasi), komposisi mineral)
2.4.1.4. Analisa Data Pemboran
Analisa data coring dilakukan untuk mengetahui jenis batuan pada daerah
telitian serta kenampakan laterit masing-masing zona overburden (OB), limonit,
saprolit, dan bedrock.
2.4.1.5. Analisa Kimia Metode Assay Fire
Analisa kimia dilakukan untuk mengetahui kandungan unsur kimia yang
terkandung dalam batuan (Ni,Fe,Co,Mg,Si) dan secara terperinci mengetahui kadar
Ni maupun Fe di surface pada daerah telitian dengan melakukan analisa assay conto
batuan.
2.4.1.6. Analisa Mikroskopis Batuan
Analisa ini dilakukan dengan menggunakan data sayatan tipis batuan (Thin
Section) melalui pengamatan secara petrografi. Sehingga dapat melakukan
pengamatan batuan secara rinci dan akurat, untuk menunjang pengamatan
megaskopis dari komposisi dan persentase mineral pada batuan . Data mikroskopis
yang diambil berasal dari conto batuan yang diambil dari lintasan pengamatan untuk
mendukung intrepetasi megaskopis. Data dari analisa mikroskopis ini akan
dipadukan dengan pengamatan secara megaskopis (petrologi) dan data analisa kimia
batuan.

12

2.5. Tahap Penyelesaian dan Penyajian Data


Semua data yang diperoleh dari analisa dan interpretasi di atas, kemudian
dibandingkan dan dihubungkan. Setelah melalui evaluasi dan pembahasan, maka
akan didapatkan kesimpulan dari tujuan penelitian ini.
2.6. Bahan dan Alat
Beberapa peralatan dan bahan yang dipergunakan untuk kelancaran penelitian
geologi ini adalah sebagai berikut :
Peta Rupa Bumi berskala 1 : 50.000 terbitan Bakosurtanal.
Peta geologi permulaan lembar Ambon berskala 1 : 250.000, oleh Dinas Energi
dan Sumber Daya Mineral, Provinsi Maluku
Palu geologi
Digunakan untuk mengambil conto batuan yang ada di titik pengamatan.
Lup
Digunakan untuk mengamati sampel batuan yang diambil serta untuk mengamati
komposisi penyusun batuan tersebut.
Komparator komparator lithologi, ukuran butir serta klasifikasi penamaan
batuan
Kantong sampel
Digunakan sebagai tempat conto untuk digunakan pada saat analisa laboratorium
Kompas geologi
Digunakan untuk melakukan orientasi medan/pengeplotan titik pengamatan,
mengukur kelerengan morfologi dan untuk mengukur data struktur baik struktur
primer maupun sekunder.
Buku catatan lapangan
Digunakan untuk mencatat data yang ada pada saat melakukan observasi
lapangan.
Clipboard
Digunakan untuk tempat alas peta topografi dan sebagai alat bantu dalam
melakukan pengukuran data di lapangan.
Alat tulis
13

Digunakan sebagai alat untuk tulis-menulis di lapangan.


Penggaris dalam berbagai bentuk
Digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan pengeplotan titik pengamatan.
Busur derajat
Digunakan untuk melakukan pengeplotan titik pengamatan pada peta topografi
dan untuk mengukur besar sudut data struktur yang ada di lapangan.
Kamera
Digunakan untuk mengambil data berupa gambar yang ada di lapangan
(dokumentasi).
HCl 0,1 M
Digunakan untuk mengetes ada tidaknya kandungan karbonat dalam suatu batuan
Tas/ransel/backpack
Digunakan sebagai tempat untuk menyimpan semua peralatan yang digunakan di
lapangan.

14

Gambar 2.1. Diagram Alir Penelitian

15

BAB III
DASAR TEORI

3.1. Batuan Ultramafik


Proses terbentuknya nikel adalah dimulai dari batuan ultramafik dengan
komposisi penyusunnya adalah mineral-mineral mafik (Ferromagnesia). Mineral
mafik adalah mineral yang mengandung gugusan senyawa besi (Fe) dan magnesia
(Mg), dimana mineral-mineral yang termasuk didalamnya adalah olivin, piroksen,
hornblenda. Akumulasi endapan nikel pada batuan dasar terjadi proses serpentinisasi
dan pelapukan. Sebagian besar batuan ultramafik adalah batuan ultrabasa, tetapi
tidak semua batuan ultrabasa adalah batuan ultramafik. Menurut Hughes (1982)
batuan beku ultrabasa adalah batuan yang kurang akan kandungan SiO2. Batuan
ultrabasa adalah batuan beku yang kandungan silikanya rendah (< 45 %), kandungan
MgO > 18 %, tinggi akan kandungan FeO, rendah akan kandungan kalium dan
umumnya kandungan mineral mafiknya lebih dari 90 %. Batuan ultrabasa umumnya
terdapat sebagai opiolit.
Menurut Whillie 1976, dalam Waheed 2002, ada beberapa hipotesa terjadinya
batuan ultramafik dari mantel :
1. Diferensiasi larutan basaltik akan membentuk mush (bubur) ultramafik berasal
dari perlapisan kumulat atau bubur ultramafik masif.
2. Pembentukan magma primer peridotitik pada mantel kemudian diintrusikan
sebagai mush atau terpindahkan pada kondisi padat oleh pergerakan tektonik.
Menurut Waheed (2002), pembentukan batuan ultramafik dibagi menjadi 3 tipe,yaitu
:

1. Batuan ultramafik yang berasosiasi dengan lapisan intrusi. Biasanya ditandai


dengan adanya fakta yang jelas pada lokasi ini batuan-batuan ultramafik
menembus sisa dari mineral-mineral mafik yang berat selama masa kristalisasi
batuan dasar
2. Tubuh yang berukuran kecil bercampur menyeluruh dengan batuan ultramafik
(lensa, lembaran, dikes, stock,dll). Kadang-kadang sebuah pengisi dari ruang

16

magmatik diindikasikan bahwa ultramafik mungkin telah terintrusi oleh padatan


massa kristalin.
3. Pembentukan ultramafik yang sangat luas, jelas berasosiasi dengan ofiolit,
subduksi melange, busur kepulauan terluar, dan sabuk-sabuk orogen.
Klasifikasi batuan ultramafik :
Dunit
Menurut Waheed (2002), dunit merupakan batuan ultramafik monomineral
yang hampir semuanya mengandung olivin (umumnya magnesia). Kandungan
olivine dalam batuan ini adalah 90%. Mineral-mineral penyerta dalam batuan dunit
seperti kromit, magnetit, ilmonit, dan spinel. Sedangkan dalam William (1954) ,
bahwa dunit merupakan batuan yang yang hampir murni olivin 90-100%, umumnya
hadir dalam forsterit atau krisolit.
Peridotit
Peridotit merupakan anggota dari kompleks ofiolit yang terbentuk pada
sikuen mantel bagian bawah dan berasosiasi dengan dunit. Menurut Waheed (2008),
peridotit mempunyai kandungan olivin yang banyak tetapi juga mengandung mineral
mafik lainnya dalam jumlah signifikan sehingga terkadang peridotit mempunyai jenis
pyroxene peridotit, hornblende peridotit dan mika peridotit (kimberlite). Pyroxene
peridotit adalah salah satu dari banyaknya batuan ultramafik yang umum.
Berdasarkan pada tipe pyroxene di atas, pyroxene peridotit dapat diklasifikasikan ke
dalam (Gambar 3.1.) :
Harzburgite : tersusun oleh olivine + orthopyroxene (enstantite atau bronzite)
Wehrlite

: tersusun oleh olivine + clinopyroxene (diopside atau diallogite)

Lhezorlite

: tersusun oleh olivine + orhopyroxene + clinopyroxen

17

Gambar 3.1. Klasifikasi Batuan Ultramafik Berdasarkan Kandungan Olivine, Clinopyroxene


dan Orthopyroxene, menurut Streickeisen, 1976

Peridotit tersusun atas mineral silikat magnesium dan ferro-magnesium


seperti olivin (Mg,Fe,Ni)2SiO4, enstatit (MgSiO3), hipersten ((Mg,Fe)2Si2O6) dan
kromit (Fe2+Mg)O(Fe3+AlCr2)3).
Piroksenit
Merupakan batuan ultramafik monomineral yang seluruhnya mengandung
piroksen

(>90%).

Selanjutnya

batuan

piroksenit

diklasifikasikan

menjadi

orthorombik piroksen, yang disebut sebagai orthipiroksenit dan monoklin piroksen


yang disebut sebagai klinopiroksenit.
Orthopiroksenit : bronzitit
Klinopiroksenit : diopsidit
Hornblendit
Merupakan batuan ultramafik monomineral yang seluruhnya mengandung
mineral hornblenda (>90% hornblenda). Secara fisik berdasarkan kandungan
mineralnya, batuan ini mempunyai warna cokelat atau hijau, bahkan kadang-kadang
hitam.
Serpentinit

18

Batuan ini merupakan hasil alterasi mineral olivin dan piroksen yang
merupakan alterasi hidrothermal yang kemudian membentuk mineral serpentin.
Batuan ini juga terbentuk dari dunit yang terserpentinisasikan dari hornblendit
ataupun peridotit. Secara umum serpentinit mempunyai komposisi batuan berupa
monomineralik serpentin, dimana serpentin merupakan mineral yang chrysotile
asbestos. Serpentinit terbentuk dari mineral kelompok serpentin >50%. Pada
prinsipnya kerak serpentinit dapat dihasilkan dari mantel oleh hidrasi dari mantel
ultramafik (mantel peridotit dan dunit) di bawah punggungan tengah samudera (mid
oceanic ridge) pada temperatur <5000C, kemudian terserpentinisasikan terbawa
keluar melalui migrasi litosfer.

3.2. Serpentinisasi Dari Olivin

Serpentinisasi adalah proses perubahan mineral olivin menjadi mineral


serpentin, atau dengan kata lain pelapukan mineral olivin yang kemudian tergantikan
oleh serpentin di dalam serpentinit. Proses serpentinisasi umumnya terjadi pada
batuan yang mengandung olivin dan piroksen, tetapi akan lebih reaktif terjadi pada
olivin dibandingkan piroksen.
Serpentinisasi dari olivin merupakan suatu hasil alterasi hidrothermal, dimana
memiliki tiga bentuk berdasarkan kondisi terbentuknya (Waheed, 2009), yaitu :
1. Dalam kondisi statik, terbentuk fibrous chrysotile.
2. Dalam kondisi tegang, terbentuk flaky antigorite.
3. Dalam kondisi biasa, terbentuk structureless serpophite.
Alterasi dari olivin umumnya dimulai secara acak pada tempat yang
mempunyai rekahan atau retakan dalam kristalnya. Kemudian kristal tersebut akan
teralterasi dan mengalami pergantian tempat seperti membentuk pseudomorph yang
merupakan hasil alterasi. Kehadiran zona serpentinisasi berada pada dasar dari
batuan bawah ultrabasa. Proses hidrothermal menyebabkan batuan peridotit berubah
bentuk menjadi serpentinit dengan ketebalan kurang dari 1 meter hingga lebih dari
100 meter. Tingkat serpentinisasi dihitung mulai dari zona kontak pada batuan
peridotit.
Proses serpentinisasi mineral olivin akan terjadi dalam kondisi sebagai
berikut :
19

1. Adisi atau penambahan air.


2. Pencucian magnesia dan pencucian silica.
3. Pelepasan unsur besi di dalam (Mg, Fe) olivin sebab dalam serpentin tidak
terdapat unsur besi.
4. Perubahan unsur besi dari ferro menjadi ferri yang membentuk mineral magnetit.
Oleh karena itu batuan yang mengalami serpentinisasi umumnya lebih bersifat
magnetit.
Mineral olivin yang tersenpentinisasi dipengaruhi juga oleh temperatur.
Temperatur ini didapat pada saat proses pembentukan ataupun pada saat batuan
tersebut terkena oleh struktur. Kehadiran air dan silika bebas, menyebabkan olivin
akan teralterasi menjadi serpentin pada temperatur sekitar 2000 C 5000 C. Diatas
5000 C, olivin tidak akan berubah menjadi serpentin, tetapi akan berubah menjadi
mineral-mineral lain. Mineral - mineral lain tersebut antara lain sebagai berikut :
Suhu 2000 C 5000 C, olivin akan berubah menjadi serpentin.
Suhu 5000 C 6250 C, olivin akan berubah menjadi talk.
Suhu 6250 C 8000 C, olivin akan berubah menjadi enstantit kemudian
menjadi talk.
Suhu > 8000 C, olivin akan berubah menjadi enstantit (piroksen).
Pada dasaranya serpentinisasi olivine ini melibatkan penambahan air ,
penambahan silika, dan pemindahan magnesia. Genetik pembentukan serpentin,
dapat disebabkan oleh kondisi dan lingkungan yang bekerja di lapangan :
Proses hidrotermal metamorfosis dari kerak samudera
Proses ini mungkin mekanisme yang paling umum untuk menghasilkan
serpentinit dalam jumlah yang besar. Karena berasosiasi dengan subduksi
melange dan jalur orogenik.
Tektonik yang meliputi sesar dan zona kekar
Sesar dan zona kekar menjadi salah satu akses yang mudah untuk terjadinya
hidrotermal.
Serpentin sekunder dalam profil laterit
Meskipun jelas serpentin adalah hasil pembentukan dari proses hidrotermal,
dengan temperatur lebih dari 200C, serpentin ini juga besifat sekunder yang
mana mineral tersebut berkembang pada lingkungan laterit.
20

3.3. Pelapukan

Endapan nikel laterit merupakan endapan hasil proses pelapukan lateritik


batuan induk ultramafik (peridotit, dunit dan serpentinit) yang mengandung Ni
dengan kadar tinggi. Faktor faktor yang mempengaruhi proses pelapukan
diantaranya berupa keterdapatannya struktur yang membantu mempercepat air
masuk ke dalam batuan, air hujan, suhu, kelembaban, topografi dan lain lain.
Umumnya membentuk endapan nikel laterit terjadi pada daerah tropis, contohnya
adalah Indonesia, New Caledonia dan Orogen (Anonim, 1985).
Pelapukan adalah suatu proses disintegrasi fisik dan dekomposisi kimia
material batuan yang ada di permukaan atau dekat permukaan bumi (Parker, 1997
dalam Waheed, 2008). Proses pelapukan diikuti oleh pembentukan soil, erosi,
transportasi dan sedimentasi.
Pelapukan Mekanis
Pelapukan mekanis umumnya disebabkan oleh perubahan suhu yang kontras,
tekanan dan penetrasi akar tanaman (Ollier, 1969). Pelapukan mekanis atau disebut
juga disintegrasi batuan masing masing mempunyai kesamaan yaitu merubah
ukuran batuan atau partikel batuan menjadi semakin kecil, sehingga luas permukaan
batuan yang mengalami kontak dengan agen agen proses lateritisasi menjadi
semakin luas.
Perubahan suhu yang kontras akan memecah batuan menjadi semakin kecil.
Pada siang hari suhu batuan di daerah tropis relatif tinggi, dapat mencapai 30 0 C
400 C, dan pengaruh suhu tersebut terkena batuan setiap hari. Demikian juga dengan
malam hari suhu akan berubah menjadi dingin yang dapat mencapai 150 C.
Akibatnya batuan yang pada siang hari menyerap panas, kemudian langsung melepas
panas ke atmosfer dan berganti menyerap suhu yang dingin, hal tersebut terjadi terus
menerus.
Selain perubahan suhu yang terus menerus, tekanan juga dapat
menyebabkan disintegrasi batuan. Tekanan dapat disebabkan oleh proses tektonik
atau karena pembebanan. Tekanan tektonik berkaitan dengan tektonisme regional
daerah yang bersangkutan. Tekanan tersebut dapat membentuk struktur struktur
geologi pada daerah tersebut, yaitu kekar, sesar dan lipatan. Masing masing

21

struktur geologi ini berperan dalam menyebabkan batuan tersebut pecah pecah,
agen pelapukan kimia akan masuk melalui rekahan rekahan tersebut kemudian
bereaksi dengan batuan dan akhirnya akan merubah batuan menjadi soil.
Pelapukan Kimia
Pelapukan kimia yang berhubungan dengan proses lateritisasi ada beberapa
macam (Ollier, 1969), yaitu :
Pelarutan, merupakan tahap awal dari proses pelapukan kimia. Proses ini terjadi
pada saat adanya aliran air baik di permukaan atau dalam batuan. Pelarutan dapat
berupa presipitasi kimiawi yang akan merubah volume dan meningkatkan
pelapukan fisika.
Oksidasi dan reduksi, merupakan proses yang akan membentuk mineral mineral
oksidasi akibat reaksi antara mineral dengan oksigen, atau jika mengikutsertakan
air akan menjadi mineral hidroksida. Umumnya ditunjukkan dengan hadirnya besi
oksida atau hidroksida.
Hidrasi, merupakan proses penyerapan molekul molekul air oleh mineral,
sehingga membentuk mineral hydrous, contoh : hematit menjadi limonit.
Karbonasi, merupakan reaksi antara ion karbonat dan ion bikarbonat dengan
mineral, atau proses pembentukan asam bikarbonat dalam bentuk cair yang akan
memudahkan pelapukan. Banyak terkandung dalam hujan.
Hidrolisis, merupakan reaksi antara mineral dengan air, yaitu antara ion H + dan
ion OH- air dengan ion ion mineral.
Desilisikasi, adalah suatu proses perombakan atau penguraian silika dari batuan.
Silika merupakan penyusun utama mineral dalam batuan dan umumnya
mempunyai ikatan atom yang kuat dalam mineral mineralnya.
3.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pelapukan

Faktor yang mempengaruhi kecepatan pelapukan kimia ada 10 (Waheed,


2005), antara lain :
1. Kestabilan mineral (struktur kristal, titik peleburan)
2. Kondisi pH (asam / basa)
3. Potensial reduksi/oksidasi

22

4. Ukuran butir dan rekahan pada batuan


5. Laju dari proses leaching
6. Iklim
7. Topografi
8. Waktu
9. Peranan muka airtanah
10. Komposisi batuan induk

1. Kestabilan Mineral
Mineral-mineral

dapat

dibedakan berdasarkan resistensinya

terhadap

pelapukan kimia. Ada mineral yang sangat cepat mengalami pelapukan, ada juga
yang sangat lambat mengalami pelapukan. Menurut Godiich, 1938 dalam Waheed,
2005 mengemukakan berkurangnya resistensi mineral-mineral pembentuk batuan
terhadap tingkat pelapukan dikarenakan tingkat kestabilan dari mineral itu sendiri.
Hal tersebut dapat terlihat pada Bowen Reaction Series.
Pada umumnya, struktur kristal pada mineral mafik silikat memudahkan kita
dalam menentukan tingkat pelapukan kimia, seperti :
Olivin dengan struktur tetrahedral silicon yang berdiri sendiri merupakan mineral
yang sangat tidak stabil dan sangat rentan terhadap pelapukan kimia.
Piroksen dengan struktur rantai polimerisasi merupakan mineral yang relatif stabil
dan akan mengakibatkan kurang rentan terhadap pelapukan kimia jika
dibandingkan dengan olivine.
Mineral-mineral Amphibole dengan struktur cincin merupakan mineral yang tetap
stabil dan tetap resisten terhadap pelapukan kimia.
Clay dan mika dengan struktur lembaran merupakan mineral-mineral yang sangat
resisten terhadap pelapukan kimia.
2. Kondisi Asam / Basa (pH)
Perbedaan material-material dipengaruhi juga oleh nilai pH. Nilai pH air alam
berkisar 4-9. Ion hidrogen yang berasal dari hujan terbentuk karena pembusukan
bahan organik yang terdapat di dalam tanah. Nilai pH air hujan berkisar antara 3-9,8.
Sedangkan air murni dalam kondisi setimbang (atm) memiliki pH 5,7.

23

Proses oksidasi mempengaruhi proses kelarutan dalam air alamiah. Kelarutan


dari air alamiah tergantung pada nilai pH. Contohnya Alumina tidak larut pada pH
normal, tetapi pada pH di bawah 4 dan di atas 10 alumina akan larut.
Nilai pH dapat turun apabila kelimpahan bahan seperti bahan-bahan
organic(akar-akar tumbuhan) nilai pH dapat turun dari 4 menjadi 2, sedangkan
apabila kelimpahan mineral-mineral basa seperti olivine, piroksen, nephelin dapat
membuat pH naik menjadi 9.
3. Potensial reduksi/oksidasi
Potensial reduksi oksidasi (redoks) dalam suatu system adalah suatu
kemampuan system untuk mengalami reaksi reduksi atau oksidasi. Reduksi adalah
reaksi dimana berkurangnya valensi positif dari unsure (Fe 3+ menjadi Fe2+) atau
bertambahnya valensi negatif dari elemen. Oksidasi adalah reaksi dimana
bertambahnya valensi positif dari unsure valensi negatif. Contohnya pada kondisi
reduksi besi (Fe) mudah terlarut sehingga dalam profil pelapukan kondisinya ferrous.
Tetapi pada kondisi oksidasi besi (Fe) lebih stabil sehingga dalam profil pelapukan
kondisinya ferric.
4. Ukuran butir dan rekahan pada batuan
Ukuran butir dan rekahan pada batuan seperti joint, rekahan(fracture) dan
sesar, membantu dalam proses pelapukan dan pergerakan material yang terlarut.
Seperti diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang
kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan
tersebut akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan
lebih intensif.
Hal ini dapat diamati pada butiran kasar batuan beku yang memiliki
susceptibilitas tinggi pada pelapukan kimia daripada batuan yang berbutir halus.
5. Laju dari proses leaching
Laju dari pergerakan proses leaching tergantung pada beberapa kondisi yang
masuk dalam system, seperti :

Kelarutan relatif pada kondisi oksidasi.

Jumlah air yang menembus sistem

24

Kehadiran rekahan-rekahan (fractures), belahan (cleavage), porositas dan


rekahan pada batuan.
Fracture dan joint dalam batuan sangat penting peranannya dalam

menyediakan jalan masuk bagi oksigen dan airtanah dan sebagai saluran untuk
material yang terlarutkan. Banyaknya joint dan fracture dapat memudahkan dan
mempercepat proses laterisasi.
6. Peran Iklim
Iklim merupakan factor yang sangat berpengaruh terhadap laju dari pelapukan
kimia. Faktor-faktor yang termasuk didalamnya adalah :

Curah Hujan
Curah hujan adalah pengontrol dari kelembaban pada reaksi kimia dan
merupakan penyuplai air untuk proses pencucian , hujan yang kecil dan terus
menerus lebih efektif pada proses lateritisasi dibandingkan dengan hujan yang keras
dan tiba tiba. Banyaknya curah hujan sangat mempengaruhi tinggi rendahnya
muka air tanah. Muka air tanah yang tinggi mengisi rongga pada batuan dengan air
dan tidak diikuti oleh oksigen untuk mencapai permukaan suatu kristal baru, efek
yang menguntungkan dari muka air tanah yang tinggi adalah untuk memperkecil
zona oksidasi pada massa batuan.
Muka air tanah yang rendah diikuti dengan kelimpahan oksigen dan
menciptakan perluasan zona oksidasi. Hal ini juga menciptakan zona yang zona
yang tipis sebeum terjadi pengkayaan unsur. Naik turunnya muka air tanah
bermanfaat untuk mengontrol pengkayaan supergen.

Temperatur
Temperatur berpengaruh pada saat mineral mengalami perubahan atau
pergantian tempat. Berdasarkan teori Vant hoff, setiap perubahan 100C terjadi
penambahan kecepatan reaksi kimia dari 2 3.

Vegetasi (Reagen-Reagen Kimia)


Akumulasi material organik yang luas pada lingkungan tropik mempengaruhi

nilai pH dalam kumpulan air. Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah
unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses
pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam
proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan
dan dapat merubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan
vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan:
25

penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar
pohon-pohonan
akumulasi air hujan akan lebih banyak
humus akan lebih tebal
Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana hutannya lebat pada
lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar
yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat berfungsi untuk menjaga hasil
pelapukan terhadap erosi mekanis.
7. Topografi
Menurut Waheed (2002), dalam Waheed (2005), keadaan topografi akan
sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen lain (Gambar 3.2.).
Peranan topografi tersebut dalam proses laterisasi melalui beberapa faktor, yaitu :
Penyerapan air hujan, dimana pada slope yang curam umumnya air hujan
akan mengalir ke daerah yang lebih rendah (run off) dan penetrasi ke
batuan akan sedikit. Hal ini menyebabkan pelapukan fisik lebih besar
dibanding pelapukan kimia
Daerah tinggian memiliki drainase yang lebih baik daripada daerah
rendahan dan daerah datar
Slope yang kurang dari 200 memungkinkan untuk menahan erosi dari
endapan laterit

26

Flat upland

Hill slope

Lowland basin

Erosion
Low
Very high
Very low
Deposition
Ni
Ni
Very high
Water runoff
Medium
Very high
Very low
Water absorbed
High
Low
Very high
Drainage
Good
Very good
Very poor
Leaching
Good
Good
Very poor
Clays
Kaolinitic
Kaolinitic
Smectitic
Gambar 3.2. Hubungan topografi terhadap proses laterisasi (Waheed, 2002)

Pada proses pengkayaan nikel, air yang membawa nikel terlarut akan sangat
berperan dan pergerakannya tersebut dikontrol oleh topografi. Untuk daerah yang
bergerak landai, air akan bergerak perlahan-lahan sehingga akan mempunyai
kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau
pori-pori batuan.
Akumulasi endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah dengan
topografi landai sampai sedang, sehingga endapan laterit masih mampu untuk
ditopang oleh permukaan topografi sehingga tidak terangkut semua oleh proses erosi
ataupun ketidakstabilan lereng. Hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan
mengikuti bentuk topografi. Pada daerah yang bertopografi curam, secara teoritis
jumlah air yang meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap sehingga
ini dapat menyebabkan pelapukan kurang intensif.
8. Waktu
Waktu atau durasi waktu yang panjang merupakan suatu bagian yang
dibutuhkan oleh unsure dalam membentuk endapan nikel laterit.

27

9. Peranan muka airtanah


Ketinggian permukaan air pada suatu daerah bergantung pada topografi
local, jumlah muatan yang masuk dan laju pergerakan airtanah yang menembus
batuan. Faktor-faktor ini tergantung pada jumlah curah hujan, karakteristik
kemiringan lereng serta porositas dan permeabilitas batuan.
Permukaan air yang tinggi mengisi ruang pori dengan air dan oksigen tidak
dapat mencapai

permukaan kristal baru. Permukaan air juga mempengaruhi

keasaman air yang bergerak dari bagian atas.


Permukaan air yang rendah membuat kandungan oksigen yang berlebih sangat besar
sehingga menciptakan zona terluas pada proses oksidasi. Hal ini juga menciptakan
suatu zona yang tebal dari hasil pencucian sebelum unsur-unsur supergen terakhir
terendapkan pada bagian bawah.
10. Komposisi batuan induk
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan
nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada
batuan ultramafik tersebut : mempunyai unsur Ni yang paling banyak diantara batuan
lainnya ; mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil,
seperti olivin dan piroksin ; mempunyai komponen-komponen yang mudah larut dan
memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.

3.5. Mobilitas Geokimia Pada Batuan Ultramafik


Mobilitas adalah kemampuan suatu unsur untuk terdeplesi ke dalam matriks
material lain di sekitarnya (Gambar 3.2.). Mobilitas ini mempengaruhi respon unsur
terhadap proses depresi. Faktor yang mempengaruhi mobilitas geokimia adalah
stabilitas kimiawi unsur (Rose dkk, 1979).
Menurut Waheed (2008), mobilitas dari suatu unsur yang dijumpai pada
batuan ultramafik dan mafik dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Elemen yang bersifat sangat larut dan sangat mobile.
Mudah hilang dalam profil pelapukan dan sangat larut dalam air tanah (sedikit
asam), seperti Mg, Si, Ca, Na.
2. Elemen bersifat tidak larut dan tidak mobile.

28

Tidak dapat larut dalam air tanah, sebagian besar unsur-unsurnya merupakan
penyusun dari residu tanah (residual soil), seperti Fe3+ (ferric), Co, Al, Cr.
3. Elemen dengan daya larut terbatas dan mobilitas terbatas.
Sebagian larut dalam air tanah yang bersifat asam, seperti Ni, Fe 2+ (ferrous).

Gambar 3.3. Pelapukan kimiawi batuan batuan mafik nickeliferrous seperti peridotit,
melepaskan nikel yang terjebak dalam olivin yang kemudian diendapkan
kembali sebagai mineral mineral seperti garnierite. (Menurut E. de
Chetalat, Bull. Soc. Geol. France, Ser. Vol. XVII, 1967, p. 129, Fig. 4
dalam Zen dan Skinner, 1982)

3.6. Definisi Endapan Nikel Laterit


Pada umumnya endapan nikel terdapat dalam dua bentuk yang berlainan,
yaitu berupa nikel sulfida dan nikel laterit. Endapan nikel laterit merupakan bijih
yang dihasilkan dari proses pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan
bumi. Istilah Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin later yang berarti batubata
merah, yang dikemukakan oleh Buchanan (1807), yang digunakan sebagai bahan
bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang merupakan wilayah India bagian
selatan. Material tersebut sangat rapuh dan mudah dipotong, tetapi apabila terlalu
lama terekspos, maka akan cepat sekali mengeras dan sangat kuat (resisten) Smith

29

(1992) mengemukakan bahwa laterit merupakan regolith atau tubuh batuan yang
mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah mengalami pelapukan, termasuk di
dalamnya profil endapan material hasil transportasi yang masih tampak batuan
asalnya.
3.7. Asal Nikel

Menurut Boldt, 1967, bahwa inti bumi mengandung lebih kurang 3 % nikel,
kemudian zona mantel bumi yang mempunyai ketebalan sampai 2.898 km
mempunyai kandungan nikel antara 0,1 0,3 %. Menurut Anonim (1985), Ni
terdapat dalam mineral olivin, piroksen, ilmenit, magnetit serta mineral serpentine
nickelliferrous yang merupakan hasil dari olivin (Mg, Fe, Ni) 2SiO4 karena proses
hidrothermal.
Ni dalam batuan ultramafik biasanya terdapat dalam mineral mafik. Pada
umumnya mempunyai proporsi : Olivin > Orthopiroksen > Klinopiroksen. Kromit
dan magnetit mungkin juga berisi sedikit Ni. Di dalam mineral mafik, nikel terutama
terdapat di dalam jaringan mineral olivin yang terbentuk pada proses kristalisasi
awal. Masuknya Ni ke dalam struktur mineral olivin melalui proses aktifitas
magmatik. Olivin dapat mengandung 0,4 % NiO dan 0,322 % Ni. Olivin (mineral
yang terbentuk pada temperatur tinggi) sangat tidak stabil di bawah kondisi atmosfer,
sehingga saat terjadi pelapukan akan melepaskan ion Ni yang terdapat dalam ikatan
atomnya (Waheed, 2009).
Unsur logam Ni dan Co sebagai penyusun magma basa hadir dalam kristal
olivin dan enstatit karena adanya kesamaan jari jari ion (Ni = 0,69 dan Co = 0,82
) dengan jari jari Mg dan Fe sehingga Ni dan Co dapat bertukar (proses
replacement) dengan Mg dan Fe pada jaringan mineral asli. Ni dan Co menjadi
bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam batuan ultramafik, dimana dalam keadaan
segar mengandung Ni sebesar 0,1 0,3 % (Prijono, 1977 dalam Nushantara, 2002).
Umumnya hidroksida dari beberapa unsur kimia dijumpai berasosiasi dengan
lingkungan laterit. Ion ion yang dilepaskan selama proses hidrolisis dari mineral
mineral mafik, ditetapkan sebagai hidroksida (Waheed, 2008). Pada hidrosilikat nikel
(mineral garnierit) menggantikan atom Mg dalam mineral serpentin, talk dan klorit.

30

Anggota nikel murni tidak muncul secara alami dan kebanyakan garnierit berisi (Ni,
Mg) sebagai pengganti Mg (Waheed, 2009).
Istilah garnierite telah digunakan sebagai suatu istilah yang meliputi seluruh
bentuk hidrous nikel magnesium silikat. (Faust, 1966 dalam Waheed, 2009),
menyatakan bahwa kebanyakan garnierit terkait dengan talk dan serpentin. (Kans,
1961 dalam Waheed, 2009), bahwa garnierit yang ditemukan di New Caledonia,
merupakan struktur yang serupa dengan serpentin, talk dan klorit. Sedangkan
Springer (1974) dalam Waheed (2008), mengusulkan tentang definisi garnierit
sebagai nickel magnesium hydrosilicate, dengan atau tanpa berisi alumina, melalui
X-Ray Deffraction menunjukkan bentuk khas serpentin, talk, sepiolit, klorit,
vermiculite atau campuran / gabungan semuanya.
Bentuk mineral garnierit mempunyai anggota : wilemsite (Ni talk) [3NiO,
4SiO2, H2O], pimelit (Ni kerolit) [Ni3Si4O10(OH)2.nH2O) dan nepouit (Ni serpentin)
[Ni3Si2O5(OH)4] dan sebagainya. Garnierit terjadi dengan mengisi rekahan rekahan
yang ada. Warna garnierit mencakup dari hijau (terang dan gelap) kekuning
kuningan, biru terang gelap. Garnierit yang berwarna hijau berisi lebih banyak
kandungan nikel (Waheed, 2009).
3.8. Genesa Endapan Nikel Laterit
Tubuh endapan nikel laterit terbentuk setelah tubuh batuan beku yang
tersingkap di permukaan dan mengalami pelapukan secara terus-menerus yang
mengakibatkan batuan menjadi rentan terhadap proses pencucian (Prijono,1977).
Sedangkan menurut Evans (1933), endapan nikel residual terbentuk karena
tingginya intensitas pelapukan kimia batuan yang mengandung Ni di daerah tropis.
Batuan tersebut adalah peridotit, serpentinit, dan beberapa batuan lainnya. Batuanbatuan tersebut mineral utamanya adalah grup olivin, grup serpentin, dan grup
piroksen dengan Ni sebagai unsur asesoris. Serpentinisasi peridotit akan merubah
olivin menjadi serpentin dan akan membentuk mineral pembawa Ni berupa garnierit.
Air permukaan yang mengandung CO2 dari atmosfer dan terkayakan kembali oleh
material-material organik di permukaan meresap ke bawah permukaan tanah sampai
pada zona pelindian, dimana fluktuasi air tanah terjadi dan mempercepat proses
pelapukan dan proses pencucian, unsur-unsur bersifat asam, sementara silika terlarut

31

dan tertransport sebagai larutan koloid (Prijono,1977), atau dapat dikatakan bahwa
air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara luar dan tumbuh-tumbuhan, akan
menghancurkan olivin. Penguraian olivin, magnesium, besi, nikel, dan silika ke
dalam larutan, cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel
silika yang submikroskopis. Di dalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida
dan mengendap sebagai ferri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan
air dengan membentuk mineral-mineral seperti karat, yairu goetit (FeO(OH)),
hematit (Fe2O3) dalam jumlah kecil, jadi besi oksida mengendap dekat dengan
permukaan tanah.
Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut dan
silika dari profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam, hangat, dan lembab,
serta membentuk konsentrasi endapan hasil pengkayaan proses laterisasi pada unsur
Fe, Cr,Al, Ni, dan Co(Rose, 1979 dalam Nushantara, 2002).
Proses pelapukan dan pencucian yang terjadi, akan menyebabkan unsur Fe,
Cr, Al, Ni, dan Co terkayakan di zona limonit dan terikat sebagai mineral-mineral
oksida/hidroksida, seperti limonit, hematit, goetit dan sebagainya (Hasanuddin,
1992) (Gambar3.5.). Pada proses pelapukan lebih lanjut Magnesium (Mg), Silika
(Si), dan Nikel (Ni) akan tertinggal di dalam larutan selama air masih bersifat asam.
Tetapi jika dinetralisasi karena adanya reaksi dengan batuan dan tanah, maka zat-zat
tersebut akan cenderung mengendap dengan membentuk mineral Ni-magnesium
hydrosilicate yang disebut mineral garnierite (Ni,Mg) SiO3nH2O dan mineral
nickelliferous phyllosilicates (Boldt,1967). Akibat pengkayaan sekunder ini, zona
bijih nikel silikat terbentuk diantara zona paling atas yang telah mengalami
pencucuian dan batuan peridotit segar. Zona bijih dicirikan oleh tingginya kandungan
nikel, magnesia, silika, dan bongkah-bongkah residual dari peridotit yang
terlapukkan dan terserpentinisasi sebagian (Nushantara, 2002).
Endapan nikel laterit terbentuk dari hasil pelapukan dan erosi pada periode
waktu yang lama dalam batuan ultramafik yang kandungan nikelnya tinggi. Proses
pelapukan sangat dipengaruhi iklim. Pada daerah beriklim tropis perombakan Si
sangat cepat, sehingga pembentukan endapan mineral Ni juga berlangsung cepat,
terutama pada musim hujan, air hujan yang banyak membawa agen-agen pelarut
sehingga perombakan silika pada batuan induk akan lebih besar jika dibandingkan
32

dengan saat musim kering intensitas pelapukan mekanisnya lebih tinggi


(Anonim,1985).

3.9. Penyebaran Horizontal Nikel Laterit


Penyebaran horizontal Ni tergantung dari arah aliran air tanah yang sangat
dipengaruhi oleh bentuk kemiringan lereng (topografi). Air tanah bergerak dari
daerah daerah yang mempunyai tingkat ketinggian ke arah lereng, yang mana
sebagian besar dari air tanah pembawa Ni, Mg dan Si yang mengalir ke zona
pelindian atau zona tempat fluktuasi air tanah berlangsung (Hasanuddin dkk, 1992).
Tempat tempat yang banyak mengandung rekahan rekahan, Ni akan
terjebak dan terakumulasi di tempat tempat yang dalam sesuai dengan rekahan
rekahan yang ada, sedangkan pada lereng dengan kemiringan landai sampai sedang
merupakan tempat pengkayaan nikel (Hasanuddin dkk, 1992). Pada dasarnya proses
pelindian ini dapat dikelompokkan, yaitu proses pelindian utama yang berlangsung
secara horizontal di zona pelindian dan proses pelindian yang berlangsung secara
vertikal yang meliputi proses pelindian celah di zona saprolit serta proses pelindian
yang terjadi di waktu musim penghujan di zona limonit (Golightly, 1979 dalam
Hasanuddin dkk, 1992) (Gambar 3.4.).

Gambar 3.4. Penampang tegak endapan nikel laterit (Golightly, 1979 dalam Hasanuddin
dkk, 1992)

33

Faktor faktor yang mempengaruhi tingkat sebaran secara horizontal


endapan nikel laterit (Golightly, 1979 dalam Hasanuddin, 1992) yaitu :
a. Topografi / morfologi yang tidak curam tingkat kelerengannya, sehingga
endapan laterit masih mampu untuk ditopang oleh permukaan topografi
sehingga tidak terangkut semua oleh proses erosi ataupun ketidakstabilan
lereng.
b. Adanya proses pelapukan yang relatif merata walaupun berbeda tingkat
intensitasnya, sehingga endapan laterit terbentuk dan tersebar secara merata.
c. Adanya tumbuhan penutup yang berfungsi untuk mengurangi tingkat
intensitas erosi endapan laterit, sehingga endapan laterit tersebut relatif tidak
terganggu.
3.10. Profil Endapan Laterit
Profil nikel laterit menurut Waheed (2002), menjadi 4 zona (dari atas ke
bawah)
sebagai berikut :
Zona limonit (zona oksidasi)
Lapisan bagian atas kaya akan mineral geothit, iron capping (ferricrete) yang
terbentuk akibat mobilitas limonit yang terbentuk pada kondisi asam dekat
permukaan dengan morfologi relative datar. Sering dijumpai mineral-mineral
stabil seperti: spinel, magnetit, dan talk primer. Pada bagian dasar limonit terjadi
pengkayaan manganis kobalt dan nikel pada pembentukan asbolit atau manganese
wad. Zona limonit mewakili zona yang hancur karena beratnya sendiri. Secara
umum material-material penyusun zona ini berukuran halus.
Zona transisi
Zona ini adalah zona intermediet antara zona limonit bawah dan zona saprolit
atas. Zona ini terdiri dari smectit soft dan kriatal kuarsa yang keras.
Zona saprolit ( serpentine ore )
Zona ini merupakan alterasi dari bedrock dimana proses-proses pelapukan
kimia lebih aktif. Proses kimia dan pelapukan merupakan proses-proses yang
terjadi sepanjang kekar dan rekahan-rekahan yang terdapat dalam batuan maupun

34

kekar-kekar kecil dan belahan-belahan dalam kristal. Bongkah-bongkah yang


terdapat pada zona saprolit membawa kadar nikel yang tinggi. Struktur dan tekstur
batuan induk dapat terlihat.
Zona batuan induk
Tersusun atas bongkahan atau blok dari batuan induk yang secara umum
sudah tidak mengandung mineral ekonomis ( kadarnya sudah mendekati atau
sama dengan batuan dasar ). Bagian ini merupakan bagian terbawah dari profil
laterit.

35