Anda di halaman 1dari 3

Penambahan Pangan Kacang Hijau untuk Formula Penyembuhan Diare pada Neonatus

dengan Reseksi Usus


Neonatus yang didiagnosis dengan gangguan gastrointestinal atau usus nekrotik
membutuhkan intervensi bedah, tergantung pada keparahan reseksi usus. Reseksi usus yang
besar dapat menghambat kemampuan dari saluran pencernaan untuk secara efektif mencerna
dan menyerap zat gizi dan/atau cairan. Kegagalan usus (Intestinal Failure/IF) didefinisikan
sebagai penurunan kemampuan usus untuk mencerna dan menyerap cairan dan zat gizi secara
efisien, yang mengarah pada ketergantungan parenteral nutrition (PN) dalam memenuhi
kebutuhan gizi untuk pertumbuhan.
Neonatus mengalami reseksi usus yang luas dapat didiagnosis dengan sindrom usus
pendek (Short Bowel Syndrome/SBS). SBS didefinisikan sebagai keadaan malabsorptive yang
sering mengikuti reseksi masiv, yang mengarah ke ketidakmampuan neonatus untuk
mempertahankan gizinya, elektrolit, dan status cairan dari diet oral konvensional. Untuk
neonatus yang didiagnosis dengan IF atau SBS, awalnya PN ditentukan sebagai sumber
utama zat gizi.
Meskipun PN dapat mempertahankan status gizi neonatus, namun ketergantungan
jangka panjang dikaitkan dengan morbiditas. Neonatus yang bergantung pada PN jangka
panjang berada pada risiko yang lebih besar untuk mengembangkan kolestasis, osteopenia,
gagal pertumbuhan dan sepsis. Kasus yang paling parah dapat memerlukan transplantasi usus
dan dapat menyebabkan kematian.
Enteral nutrition merupakan pengobatan yang paling efektif untuk pencegahan dan
memperbaiki PN terkait morbiditas karena mengurangi ketergantungan bayi pada PN.
Sayangnya, intoleransi makanan tetap menjadi salah satu komplikasi paling umum pada
pasien dengan IF atau SBS. Intoleransi makanan dapat terjadi sebagai akibat dari
malabsorpsi, sekresi hypergastric, bakteri berlebih, hilangnya katup ileosekal, dan
hyperosmolar enteral feeding. Asam amino khusus untuk formula dan ASI sudah ditunjukkan
untuk memperbaiki intoleransi makanan pada neonatus dengan SBS atau IF. Bahkan dengan
formula khusus ini, intoleransi makanan masih tetap terjadi, sehingga mencegah tim medis
untuk meningkatkan makanan enteral dan memperpanjang penggunaan PN. Dokter telah
menetukan secara empiris menambahkan sumber serat makanan pada formula enteral untuk
memperbaiki intoleransi makanan seperti diare. Untuk pasien dewasa yang menerima
makanan enteral, penambahan serat makanan dapat meningkatkan konsistensi feses dan
meredakan diare.

Serat makanan telah diberikan pada anak untuk mengatasi diare. Berbagai sumber
serat makanan telah digunakan sebagai bulking agent, seperti pisang hijau, pektin, Guar gum,
dan kacang hijau. Sejak Agustus 2003, Neonatal Intensive Care Unit di Rumah Sakit Anak
Illinois (CHOI) telah secara berkala menambahkan makanan kacang hijau untuk formula bayi
sebagai sumber serat makanan ketika melaksanakan intervensi gizi secara konvensional untuk
mengobati neonatus dengan IF atau SBS.
Dalam penelitian oleh Douglas Drenckpohl dkk pada 18 bayi di Rumah Sakit Anak
Illinois pada tahun 2003 hingga 2011 diperoleh hasil bahwa penambahan dari makanan
kacang hijau dapat memperbaiki konsistensi feses. Penambahan jenis serat makanan tersebut
memungkinkan dokter untuk terus secara bertahap meningkatkan asupan enteral feeding dan
menurunkan ketergantungan banyi pada PN serta menghindari morbiditas terkait PN.
Serat makanan yang terdapat dalam kacang hijau adalah kombinasi dari 32% serat
larut air dan 68% tidak larut air. Zat yang dihasilkan dari fermentasi serat makanan dalam
usus besar adalah asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acid/SCFAs). SCFAs yang
paling sering dihasilkan antara lain asetat, propionat, dan butirat, yang merangsang
penyerapan air pada ascending colon. SCFAs yang dihasilkan memiliki efek trofik pada usus
besar dan usus kecil dengan meningkatkan penyerapan zat gizi dan cairan, serta mengarah
pada efek antidiare.

Pada tahun 2013, manfaat suplementasi glutamin dipertanyakan, setelah bukti baru
dilaporkan bahwa pemberian awal asam amino ini tidak meningkatkan hasil klinis
pada orang dewasa yang sakit kritis [6]. Suplementasi Gln dikaitkan dengan
peningkatan kematian pasien sakit kritis dengan kegagalan multiorgan.
Revisi editorial Van den Berghe menyatakan bahwa glutamin
suplemen pada pasien sangat sakit gagal meningkatkan hasil
[7] . SebuahmetaanalisisterbarumenyimpulkanbahwasuplementasiGln
gagal memperbaiki kematian secara keseluruhan dan lama tinggal di kritis
orang dewasa sakit, dan menunjukkan hasil yang heterogen mengenai
pengurangan infeksi nosokomial.