Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS KASUS ENRON DAN KAP ARTHUR ANDERSEN

I. Latar Belakang
Perkembangan perekonomian dan dunia bisnis saat ini, membuat peran dari
profesi akuntan semakin dibutuhkan. Namun, di balik semakin dibutuhkannya
profesi akuntan, saat ini profesi akuntan sedang menghadapi sorotan tajam. Hal
ini terkait dengan adanya skandal ataupun manipulasi akuntansi yang dilakukan
oleh profesi akuntansi itu sendiri. Setiap profesi pasti memiliki sebuah etika atau
hal-hal yang harus di patuhi. Dengan adanya etika setiap tindakan atau perbuatan
yang akan dilakukan harus dipikirkan terlebih dahulu agar dalam bertindak tidak
semena-mena.
Turunnya kepercayaan publik atas profesi akuntan antara lain karena
beberapa kasus-kasus pelanggaran terhadap etika profesi Selain itu juga karena
akuntan dipercaya sebagai gatekeepers atau palang pintu dari pasar keuangan.
Atas keadaan inilah diperlukan suatu kode etik sebagai panduan dan aturan
terhadap seluruh anggota profesi dalam memenuhi tanggung jawab
profesionalnya. Selain akan membentuk akuntan yang profesional, kode etik juga
akan memberikan keyakinan yang tinggi terhadap masyarakat luas atas kualitas
kinerja pelayanan profesi akuntan.
Berdasarkan studi etika dalam bisnis yang berangsur-angsur mulai diakui
penting akan keberadaanya, tinjauan mengenai pelanggaran etika oleh profesi
tertentu, sarat akan muatan etika dan moral, untuk itu penulis dalam paper ini
mencoba menguraikan permasalahan tersebut dengan mengambil contoh kasus
pelanggaran etika profesi akuntansi oleh Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen
terhadap laporan keuangan Enron Corp.
II. Rumusan Masalah
1. Apakah kasus Enron?
2. Apakah kasus dari Kap Arthur Andersen?
3. Apa Dampak Akibat Kasus Enron dan KAP Andersen?
III. Pembahasan
1) Kasus Enron
Enron merupakan perusahaan dari penggabungan antara InterNorth
(penyalur gas alam melalui pipa) dengan Houston Natural Gas. Kedua perusahaan
ini bergabung pada tahun 1985. Bisnis inti Enron bergerak dalam industri energi,
kemudian melakukan diversifikasi usaha yang sangat luas bahkan sampai pada
bidang yang tidak ada kaitannya dengan industri energi. Diversifikasi usaha
tersebut, antara lain meliputi future transaction, trading commodity non energy
dan kegiatan bisnis keuangan.Kasus Enron mulai terungkap pada bulan Desember
tahun 2001 dan terus menggelinding pada tahun 2002 berimplikasi sangat luas
terhadap pasar keuangan global yang di tandai dengan menurunnya harga saham
secara drastis berbagai bursa efek di belahan dunia, mulai dari Amerika, Eropa,
sampai ke Asia. Enron, suatu perusahaan yang menduduki ranking tujuh dari lima
ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan merupakan perusahaan
energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan meninggalkan hutang hampir
sebesar US $ 31.2 milyar.

Moh. Afandy Fariansyah/4514013019/Akuntansi/Ekonomi

Dalam kasus Enron diketahui terjadinya perilaku moral hazard diantaranya


manipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS
padahal perusahaan mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan
keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor, kasus memalukan ini
konon ikut melibatkan orang dalam gedung putih, termasuk wakil presiden
Amerika Serikat.

2) Kasus Kap Arthur Anderson


Kasus Enron melibatkan kantor akuntansi publik Arthur Andersen,
manajemen Enron telah melakukan window dressing dengan cara menaikkan
pendapatannya senilai US $ 600 juta dan menyembunyikan utangnya sebesar US
$ 1,2 miliar dengan teknik off-balance sheet. Auditor Enron, Arthur Andersen
kantor Huston dipersalahkan karena ikut membantu proses rekayasa laporan
keuangan selama bertahun-tahun. Akhirnya pada waktu yang singkat, Enron
melaporkan kebangkrutannya kepada otoritas pasar modal. Arthur Andersen juga
dipersalahkan karena telah melakukan pemusnahan ribuan surat elektronik dan
dokumen lainnya yang berhubungan dengan audit Enron. Perbuatan yang
dilakukan oleh Arthur Andersen tidak sesuai dengan Generally Accepted
Accounting Principles (GAAP) dan Generally Accepted Auditing Standard (GAAS).
Seharusnya Arthur Andersen bekerja dengan penuh kehati-hatian sehingga
informasi keuangan yang telah diauditnya dapat dipercaya tidak mengandung
keragu-raguan.
3) Dampak Akibat Kasus Enron dan KAP Andersen
Kasus ini mempunyai implikasi terhadap pembaharuan tatanan kondisi
maupun regulasi praktik bisnis di Amerika Serikat antara lain :
Pemerintah AS menerbitkan Sarbanes-Oxley Act (SOX) untuk melindungi para
investor dengan cara meningkatkan akurasi dan reabilitas pengungkapan yang
dilakukan perusahaan publik. Selain itu, dibentuk pula PCAOB (Public Company
Accounting Oversight Board) yang bertugas:
Mendaftar KAP yang mengaudit perusahaan public
Menetapkan atau mengadopsi standar audit, pengendalian mutu, etika,
independensi dan standar lain yang berkaitan dengan audit perusahaan
public
Menyelidiki KAP dan karyawannya, melakukan disciplinary hearings, dan
mengenakan sanksi jika perlu
Melaksanakan kewajiban lain yang diperlukan untuk meningkatkan standar
professional di KAP
Meningkatkan ketaatan terhadap SOX, peraturan-peraturan PCAOB, standar
professional, peraturan pasar modal yang berkaitan dengan audit
perusahaan publik.
IV.

Kesimpulan

Moh. Afandy Fariansyah/4514013019/Akuntansi/Ekonomi

Dari kasus tersebut bisa saya simpulkan bahwa Enron dan KAP Arthur
Andersen sudah melanggar kode etik yang seharusnya menjadi pedoman dalam
melaksanakan tugasnya dan bukan untuk dilanggar. Mungkin saja pelanggaran
tersebut awalnya mendatangkan keuntungan bagi Enron, tetapi akhirnya dapat
menjatuhkan kredibilitas bahkan menghancurkan Enron dan KAP Arthur Andersen.
Dalam kasus ini, KAP yang seharusnya bisa bersikap independen tidak dilakukan
oleh KAP Arthur Andersen. Karena perbuatan mereka inilah, kedua-duanya menuai
kehancuran dimana Enron bangkrut dengan meninggalkan hutang milyaran dolar
sedangakn KAP Arthur Andersen sendiri kehilangan keindependensiannya dan
kepercayaan dari masyarakat terhadap KAP tersebut, juga berdampak pada
karyawan yang bekerja di KAP Arthur Andersen dimana mereka menjadi sulit
untuk mendapatkan pekerjaan akibat kasus ini.

Moh. Afandy Fariansyah/4514013019/Akuntansi/Ekonomi