Anda di halaman 1dari 54

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT


Suatu

pendekatan yang digagas oleh WHO dan UNICEF untuk


menyiapkan petugas kesehatan melakukan penilaian,
membuat klasifikasi serta memberikan tindakan kepada anak
terhadap penyakit-penyakit yang umumnya mengancam jiwa.

MTBS bertujuan untuk meningkatkan keterampilan petugas,


memperkuat sistem kesehatan serta meningkatkan
kemampuan perawatan oleh keluarga dan masyarakat yang
diperkenalkan pertama kali pada tahun 1999.

MTBS

dalam kegiatan di lapangan khususnya di Puskesmas


merupakan suatu sistem yang mempermudah pelayanan serta
meningkatkan mutu pelayanan

MTBS

merupakan suatu sistem terdiri dari input, proses dan


output.

1. Input
Balita sakit datang bersama keluarga diberikan status
pengobatan dan formulir MTBS. Tempat dan petugas : Loket,
petugas kartu

2. Proses
Balita sakit dibawakan kartu status dan formulir MTBS
Memeriksa berat dan suhu badan
Apabila batuk selalu mengitung napas, melihat tarikan dinding
dada dan mendengar stridor
Apabila diare selalu memeriksa kesadaran balita, mata cekung,
memberi minum anak untuk melihat apakah tidak bisa minum
atau malas dan mencubit kulit perut untuk memeriksa turgor
Selalu memerisa status gizi, status imunisasi dan pemberian
kapsul VitaminA
Tempat dan petugas : Ruangan MTBS, case manager (Bidan
yang telah dilatih MTBS)

3. Output
Klasifikasi yang dikonversikan menjadi diagnosa
Tindakan berupa pemberian terapi dan konseling berupa
nasehat pemberian makan, nasehat kunjungan ulang, nasehat
kapan harus kembali segera.
Konseling lain misalnya kesehatan lingkungan, imunisasi,
konseling cara perawatan di rumah.
Rujukan diperlukan jika keadaan balita sakit membutuhkan
rujukan
Tempat dan petugas : Ruangan MTBS, case manager (Bidan
yang telah dilatih MTBS).
Petugas yang berkaitan dengan upaya konseling yang
dilakukan

Pemberian konseling menjadi unggulan dan sekaligus pembeda


dengan pelayanan balita sakit tanpa melakukan praktik MTBS.

Dengan pemberian konseling diharapkan pengantar atau ibu pasien


mengerti penyakit yang diderita, cara penanganan di rumah,
memperhatikan perkembangan penyakit anaknya sehingga mampu
mengenali kapan harus segera membawa anaknya ke petugas
kesehatan serta diharapkan memperhatikan tumbuh kembang anak
dengan cara memberikan makanan sesuai umurnya.

Semua pesan tersebut tercermin dalam Kartu Nasihat Ibu (KNI) yang
biasanya diberikan setelah ibu atau pengantar balita sakit
mendapatkan konseling ini untuk menjadi pengingat pesan-pesan yang
disampaikan serta pengingat cara perawatan di rumah.

Bila

dilaksanakan dengan baik, MTBS ini tergolong lengkap


untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering
menyebabkan kematian bayi dan balita.

Dikatakan

lengkap karena meliputi upaya kuratif


(pengobatan), preventif (pencegahan), perbaikan gizi,
imunisasi dan konseling (promotif).

Badan

Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa


pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara
berkembang dalam upaya menurunkan kematian, kesakitan
dan kecacatan pada bayi dan balita.

Praktek MTBS memliliki 3 komponen khas yang


menguntungkan yaitu:
1. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam
tatalaksana balita sakit (petugas kesehatan non-dokter yang
telah terlatih MTBS dapat memeriksa dan menangani pasien
balita)
2. Memperbaiki sistem kesehatan (banyak program
kesehatan terintegrasi didalam pendekatan MTBS)
3. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam
perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan balita
sakit (berdampak meningkatkan pemberdayaan masyarakat
dalam pelayanan kesehatan)

MENGAPA MTBS PERLU DITERAPKAN DI PUSKESMAS ?

Pada

sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat ke


Puskesmas, keluhan tunggal kemungkinan jarang terjadi,
menurut data WHO, tiga dari empat balita sakit seringkali
memiliki banyak keluhan lain yang menyertai dan sedikitnya
menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi
fokus MTBS.

Pendekatan

MTBS dapat mengakomodir hal ini karena dalam


setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering
menyebabkan keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.

BAGAIMANA CARA MENATALAKSANA BALITA SAKIT DENGAN


PENDEKATAN MTBS?

Seorang balita sakit dapat ditangani dengan pendekatan MTBS


oleh Petugas kesehatan yang telah dilatih.
Petugas memakai tool yang disebut Algoritma MTBS yang dapat dilihat
pada bagan MTBS untuk melakukan penilaian/pemeriksaan dengan cara
menanyakan kepada orang tua/wali, apa saja keluhan-keluhan/masalah
anak kemudian memeriksa dengan cara 'lihat dan dengar' atau 'lihat dan
raba'.
Setelah itu petugas akan mengklasifikasikan semua gejala berdasarkan
hasil tanya-jawab dan pemeriksaan.
Berdasarkan hasil klasifikasi penyakit, petugas akan menentukan
tindakan/pengobatan, misalnya anak dengan klasifikasi Pneumonia
Berat atau Penyakit Sangat Berat akan dirujuk ke dokter Puskesmas.

PROTAP PELAYANAN MTBS


1. Anamnesa
Wawancara terhadap orang tua bayi dan balita mengenai keluhan utama, keluhan
tambahan, lamanya sakit, pengobatan yang telah diberikan, riwayat penyakit lainnya.
2. Pemeriksaan :
a. Untuk bayi muda umur 1 hari s/d 2 bulan :
Periksa kemungkinan kejang.
Periksa gangguan nafas.
Ukur suhu tubuh.
Periksa kemungkinan adanya infeksi bakteri.
Periksa kemungkinan adanya icterus.
Periksa kemungkinan gangguan pencernaan dan diare.
Ukur berat badan.
Periksa status imunisasi.
Dan seterusnya lihat formulir MTBS.

b. Untuk bayi umur 2 bulan s/d 5 tahun :


Keadaan Umum.
Respirasi ( menghitung nafas )
Derajat dehidrasi ( turgor kulit ).
Suhu tubuh.
Periksa telinga ( apakah keluar cairan dari lubang telinga ).
Periksa status gizi.
Periksa status imunisasi dan pemberian vitamin A.
Penilaian pemberian makanan untuk anemia / BGM.
3. Menentukan klasifikasi, tindakan, penyuluhan dan konsultasi
dokter.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
1. Pasien bayi / balita dari loket pendaftaran menuju ruang KIA /
Gizi untuk ditimbang berat badannya, lanjut menuju ruang
pelayanan MTBS.
2. Petugas menulis identitas pasien pada kartu rawat jalan.
3. Petugas melaksanakan anamnesa :
Keluhan Utama.
Keluhan tambahan.
Lamanya sakit.
Pengobatan yang telah diberikan.
Riwayat penyakit lainnya.

4. Petugas melakukan pemeriksaan :


Keadaan Umum.
Respirasi.
Derajat dehidrasi
Suhu tubuh.
Telinga.
Status gizi.
Status imunisasi dan pemberian Vitamin A.

5.Petugas menulis hasil anamnesa dan pemeriksaan serta

mengklasifikasi dalam form klasifikasi dan memberikan


penyuluhan.
6. Petugas memberikan pengobatan sesuai Buku Pedoman
MTBS, bila perlu dirujuk ke ruang Pengobatan untuk
konsultasi dokter.

ALUR PELAYANAN MTBS


Balita
Sakit
Loket
Pendaftaran

Masuk Ruang
KIA/Gizi

Timbang
BB
Rujuk
RS
Pencacatan &
Pelaporan

Ruang MTBS
Tatalaksana Balita Sakit
Sesuai Formulir/Buku
Pedoman MTBS

Konsultasi Dokter
Di Ruang
Pemeriksaan

Apotik
Pasien
Pulang

KONSEP DASAR MASING-MASING PENYAKIT BERDASARKAN MTBS PADA BAYI MUDA


SAKIT (0 2 BLN)

1. PENYAKIT INFEKSI
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak ditemui pada
masyarakat.
Pembagian penyakit infeksi dasar utamanya adalah dari penyebabnya .
Adapun faktor penyebabnya adalah :
1. Bakteri misalnya pada penyakit difteri, tetanus, TBC, typhus.
2. Virus misalnya pada penyakit demam berdarah, influenza
3. Jamur misalnya pada anak-anak yang menderita gangguan Imunologis
tanda-tandanya warna putih pada mulut anak ,bisa juga terjadi pada anakanak yang menderita penyakit lama yang menyebabkan daya tahan tubuh
menurun.
4. Parasit misalnya pada malaria dan cacingan.

2. DIARE
Diare didefinisikan sebagai peningkatan dari frekuensi tinja atau
konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap abnormal oleh
ibunya.
Untuk keperluan diagnosis, secara epidemiologis dalam masyarakat,
diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sampai cair 3-5 kali perhari.
Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan
anak yang sebelumnya sehat. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral
melalui makanan dan minuman yang tercemar.
Diare adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di
negara berkembang. Sekitar 80% kematian yang berhubungan dengan
diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi sebagai akibat
kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja.

Berdasarkan

waktunya, diare dibagi menjadi diare akut dan

diare kronik.
Diare kronik adalah diare yang melanjut hingga 2 minggu atau
lebih.
Pembagian diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda
dehidrasi, dehidrasi ringan sedang, dan dehidrasi berat.
Dehidrasi terjadi bila cairan yang keluar lebih banyak daripada
cairan yang masuk.
Diare tanpa tanda dehidrasi terjadi jika kehilangan cairan <5%
BB
Diare dehidrasi ringan sedang jika kehilangan cairan 5-10% BB
Diare dehidrasi berat jika kehilangan cairan >10% BB.

3. IKTERUS
Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning
(ikterus) yang harus di kenali dan waspadai.
Sebetulnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya.
Setiap jangka waktu tertentu sel darah merah akan mati dan menguraikan
sel-selnya diantaranya menjadi bilirubin.
Normalnya yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati,
untuk kemudian dibuang lewat BAB.
Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibulah yang mengambil
tugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah bayi.
Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum
dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Akibatnya terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan
timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Pemeriksaan

adanya ikterus pada bayi muda dapat dilakukan


di rumah dan pada waktu kunjungan neonatal.
Untuk pemeriksaan gejala kuning di rumah adalah dengan
membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan
yang jelas atau dengan lampu fluorescent.
Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari anda secara
perlahan-perlahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan dan
telapak kaki. Kemudian angkat tangan anda dan perhatikan
adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang
ditekan tadi.
Bila kulit bayi tergolong hitam, paling jelas bisa diteliti pada gusi
atau bagian putih di area mata. Sedangkan pemeriksaan di
klinik, dokter anak akan memeriksa kesehatannya.

Klasifikasi ikterus
Untuk mengklasifikasikannya dilihat dari gejala-gejalanya yaitu:
a. Ikterus Fisiologis (ringan)
Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
Kuning tidak sampai telapak tangan / telapak kaki
Ikterus fisiologis tidak berbahaya, penanganannya bayi dijemur setiap
pagi antara jam 7 - 9 pagi selama 30 - satu jam.
Tingkatkan frekuensi pemberian ASI, minimal 8 - 12 kali sehari.
Jika dirasakan sudah cukup menyusuinya, sebaiknya perhatikan apakah
bayi benar-benar menghisap atau hanya mengempeng saja.
Bila dirasakan ada masalah dalam menyusui segera lakukan konsultasi
di klinik laktasi terdekat.
Bila gejala masih tampak hingga >14 hari segera periksakan ke dokter

b. Ikterus Patologis (berat)


Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir,
atau
Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari, atau
Kuning sampai telapak tangan / telapak kaki, atau
Tinja berwarna pucat
Jika tidak segera ditangani, kadar bilirubin terus meningkat
sehingga dapat meracuni otak, terjadinya kerusakan saraf
yang dapat menyebabkan cacat seperti tuli, pertumbuhan
terhambat atau kelumpuhan otak besar atau bahkan dapat
menyebabkan kematian.
Jika mengalami salah satu gejala tersebut di atas segera
periksakan bayi ke dokter

4. BERAT BAYI LAHIR RENDAH


Berat

bayi lahir rendah (BBLR) adalah berat bayi baru lahir


dengan berat kurang dari 2500 gram.
Kejadian BBLR dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
terdapat pada ibu hamil sendiri, diantaranya : hipertensi,
pendarahan antepartum, anemia, infeksi, usia, pendidikan,
paritas dan frekuensi ANC.
Berat bayi saat lahir :
1. Indikator kesehatan maternal
2. Prediktor pertumbuhan bayi
3. Daya tahan hidup bayi

Resiko

kesakitan, resiko kematian cukup tinggi oleh


karena :
1. Gangguan pertumbuhan
2. Imaturitas organ

Penyebab

utama kematian :

1. Afiksia
2. Sindroma gangguan pernapasan
3. Infeksi
4. Komplikasi hipotermia

BBLR dapat di klasifikasikan :


Berdasarkan BB lahir :
1. BBLR : BBL < 2500 gr
2. BBLSR : BB 1000 1500 gr
3. BBLASR : BB < 1000 gr
Berdasarkan

umur kehamilan :
1. Kurang bulan / pretem / prematur UK < 37 mgg
2. Cukup bulan / full term / Aterm UK 37 42 mgg
3. Lebih bulan atau post term / serotinus UK > 42 mgg.

Walau

bayi sudah memiliki refleks menghisap puting


ASI ibu sejak lahir, namun pada awalnya mungkin sulit
ia lakukan.
Bayi Ibu memang belum terbiasa.
Kadang-kadang, kesulitan pemberian ASI disebabkan
oleh faktor medis yang dapat mempengaruhi selera
makan bayi atau proses penyerapan makanan dan
nutrisi.
Berikut ini beberapa penyebab kesulitan pemberian ASI
dan gejala yang dapat membantu Ibu mengenalinya :

BERBAGAI MASALAH PEMBERIAN ASI PADA BAYI IBU

1. Kolik
Gejala kolik dapat dilihat dari wajah yang memerah,
tangan yang mengepal, dan kaki yang diangkat-angkat
ke arah dada disertai tangisan bayi selama 2-3 jam.
Kolik sering muncul 15 menit setelah minum susu.
Tapi bisa juga muncul kapan saja dalam mingguminggu pertama.
Kolik itu normal dialami oleh satu di antara empat bayi.

2. Menangis sebelum minum ASI


Kebanyakan bayi menangis saat ia lapar.
Seiring waktu, Ibu akan belajar untuk membedakan arti
tangisan bayi Segera berikan ASI bila tiba saatnya bagi bayi
mendapatkan ASI.
Karena perut kecilnya butuh diisi ASI lebih sering walau dalam
porsi sedikit.
3. Menangis setelah minum ASI
Merawat bayi memang perlu kesabaran.
Kalau lapar ia menangis, setelah disusui pun bisa saja ia
menangis juga. Biasanya hal ini terjadi karena ia kolik.
Karena itu , bantu ia bersendawa setelah menyusu.

4. Kurang pertambahan berat badan


Penurunan berat badan setelah lahir wajar bagi bayi. tapi
sebaiknya upayakan agar berat badannya berangsur-angsur naik
lagi.
Pertambahan berat badan tiap bayi berbeda dan akan naik
sesuai perkembangan masing-masing.
Bersama petugas, Ibu bisa memantau pertambahan berat badan
bayi Ibu
5. Muntah
Cukup normal bila bayi memuntahkan kembali sedikit ASI setelah
meminumnya, Ini disebut gumoh.
Tapi jika bayi terus-menerus muntah apalagi dalam jumlah yang
banyak, mungkin bayi Ibu terkena refluks
Dan dalam kasus ini Ibu harus berkonsultasi dengan dokter anak.

6. Diare
Diare bisa disebabkan oleh virus atau ada masalah dalam pemberian ASI.
Jadi lebih baik berkonsultasi dengan petugas. Jika Ibu khawatir tentang
frekwensi buang air besar bayi.
7. Masalah kesehatan
Sama seperti kita, tidak enak badan bisa menyebabkan bayi kehilangan
selera menyusu.
Misalnya bila flu berat disertai hidung tersumbat, bisa menyebabkan bayi
sulit bernafas. Ia jadi enggan mengatupkan mulutnya untuk menyusu.
Penyebab lain adalah alergi makanan Ini bisa menyebabkan turunnya
berat badan karena ia sulit makan.
Konsultasikan pada petugas bila Ibu merasa ada masalah dengan
kesehatan si kecil.

PENGKAJIAN DATA ( TANDA/GEJALA ) YANG SERING TERDAPAT


PADA FORM MTBS
Tanyakan Pada Ibu Mengenai Masalah Anaknya
Tanyakan apakah ini kunjungan pertama atau kunjungan ulang untuk
masalah tersebut.
- Pada setiap kunjungan pertama lakukan penilaian sesuai dengan
bagan.
- Pada kunjungan ulang lakukan penilaian secara lengkap, untuk
klasifikasi
Kunjungan pertama gunakan pedoman pelayanan tindak lanjut.
Jika bayi muda ditemukan dalam keadaan kejang atau henti napas.
segera lakukan tindakan /pengobatan sebelum melakukan penilaian
yang lain dan RUJUK SEGERA

1.

Memeriksa Kemungkinan Penyakit Sangat Berat Atau Infeksi


Bakteri

.Tanyakan

:
Apakah bayi tidak mau minum atau memuntahkan
semuanya ?
Apakah bayi kejang ?

.Lihat

Dan Raba :
Apakah bayi bergerak hanya jika dirangsang ?
Hitung napas dalam 1 menit
Jika 60 kali/ menit, ulangi menghitung.

Apakah

bayi bernapas cepat( 60 kali/menit) atau bayi


bernapas lambat (< 30 kali/menit).
Lihat apakah ada tarikan dinding dada ke dalam yang
sangat kuat.
Dengarkan apakah bayi merintih ?
Ukur suhu aksiler.
Lihat, adakah pustul di kulit ?
Lihat, apakah mata bernanah ?
Apakah pusar kemerahan atau bernanah ?
Apakah kemerahan meluas sampai ke dinding perut ?

Penyakit

Sangat Berat Atau Infeksi Bakteri Berat


Tanda / Gejala :
Tidak mau minum atau memuntahkan semua
Riwayat Kejang
Bergerak hanya jika dirangsang
Napas cepat ( 60 kali /menit )
Napas lambat ( < 30 kali / menit )
Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat
Merintih
Demam 37.5 C
Hipotermia berat < 35.5 C
Nanah yang banyak di mata
Pusar kemerahan meluas ke dinding perut.

Infeksi

Bakteri Lokal
Tanda Dan Gejala
Pustul kulit
Mata bernanah
Pusar kemerahan atau bernanah

Mungkin

Bukan Infeksi
Tidak terdapat salah satu tanda di atas.

2. Apakah Bayi Diare ?


Jika YA, Tanyakan :
Sudah berapa lama ?
Lihat Dan Raba
Lihat keadaan umum bayi, Apakah :
- Letargis atau tidak sadar ?
- Gelisah/ rewel ?
Apakah matanya cekung ?
Cubit kulit perut, apakah kembalinya ?
- Sangat lambat ( > 2 detik ) ?
- Lambat ?

Diare

Dehidrasi Berat
Tanda Dan Gejala :
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
Letargis atau tidak sadar.
Mata cekung.
Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat

Diare

Dehidrasi Ringan/ Sedang


Tanda Dan Gejala :
Terdapat 2 atau lebih tanda berikut :
Gelisah / rewel.
Mata cekung.
Cubitan kulit perut kembalinya lambat.

Diare Tanpa

Dehidrasi
Tanda Dan Gejala :
Tidak cukup tanda untuk dehidrasi berat atau ringan /
sedang
NB :
Bayi muda dikatakan diare apabila terjadi perubahan bentuk
feses, lebih banyak dan lebih cair (lebih banyak air daripada
ampasnya).
Pada bayi dengan ASI eksklusif berak biasanya sering dan
bentuk feses lembek.

3. Memeriksa Ikterus
Tanyakan :
Apakah bayi kuning ?
Jika ya, pada umur berapa timbul kuning ?
Apakah warna tinja bayi pucat ?
Lihat :
Lihat, adakah kuning pada bayi ?
Tentukan sampai di daerah manakah warna kuning pada
bagian badan bayi ?

Ikterus

Berat
Tanda Dan Gejala
Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir.
Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari
Kuning sampai telapak tangan atau kaki
Tinja berwarna pucat

Ikterus

Tanda Dan Gejala


Timbul kuning pada umur 24 jam sampai 14 hari dan tidak sampai
telapak tangan atau kaki
Tidak Ada

Ikterus
Tanda Dan Gejala
Tidak kuning.

4. Memeriksa Kemungkinan Berat Badan Rendah Dan/ Atau


Masalah Pemberian ASI
Jika Tidak Ada Indikasi Untuk Dirujuk
Tanyakan ;
Apakah inisiasi menyusu dini dilakukan ?
Apakah bayi bisa menyusu?
Apakah ibu kesulitan dalam pemberian ASI ?
Apakah bayi diberi ASI ? Jika YA berapa kali dalam 24 jam ?
Apakah bayi diberi makanan / minuman selain ASI ? Jika YA,
berapa kali dalam 24 jam ? Alat apa yang digunakan ?
Lihat ;
Tentukan berat badan menurut umur.
Adakah luka atau bercak putih (thrush) di mulut ?
Adakah celah bibir/ langit-langit ?

Lakukan

Penilaian Tentang Cara Menyusui :


Apakah bayi diberi ASI dalam 1 jam terakhir ?
Jika TIDAK, minta ibu untuk menyusui.
Jika YA, minta ibu menunggu dan memberitahu saudara jika bayi
sudah mau menyusu lagi.
Amati pemberian ASI dengan seksama.
Bersihkan hidung yang tersumbat, jika menghalangi bayi
menyusui.

Lihat,

apakah bayi menyusu dengan baik ?


Lihat, apakah posisi bayi benar ?
Seluruh badan bayi tersangga dengan baik, kepala dan badan
bayi lurus, badan bayi menghadap ke dada ibu, badan bayi dekat
ke ibu.

Lihat,

apakah bayi melekat dengan baik ?


Dagu bayi menempel payudara, mulut terbuka lebar, bibir
bawah membuka keluar, areola tampak lebih banyak di bagian
atas daripada di bawah mulut.

Lihat

dan dengar, apakah bayi mengisap dengan efektif ?


Bayi mengisap dalam, teratur, diselingi istirahat, hanya
terdengar suara menelan.

Berat Badan Rendah Menurut Umur Dan/ Atau Masalah Pemberian ASI
Tanda Dan Gejala :
Berat badan menurut umur rendah
Bayi tidak bisa menyusu
Ada kesulitan pemberian ASI
ASI kurang dari 8 kali/ hari
Mendapat makanan atau minuman lain selain ASI
Posisi bayi tidak benar
Tidak melekat dengan baik
Tidak mengisap dengan efektif.
Terdapat luka atau bercak putih di mulut (thrush)
Ada celah bibir / langit-langit

Berat Badan Tidak Rendah Dan Tidak Ada Masalah Pemberian ASI
Tidak terdapat tanda / gejala diatas.

PERENCANAAN TINDAKAN PADA BAYI MUDA SAKIT SESUAI


DENGAN MASALAH PADA PENYAKIT MASING-MASING
Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri
a. Penyakit sangat berat atau infeksi bakteri berat
Rencana tindakan:
.Jika ada kejang, tangani kejang
.Cegah agar gula darah tidak turun
.Jika ada gangguan napas, tangani gangguan napas
.Jika ada hipotermia, tangani hipotermia
.Beri dosis pertama antibiotik intramuskular
.Nasihati cara menjaga bayi tetap hangat di perjalanan
.Rujuk segera
1.

b. Infeksi bakteri lokal


Rencana tindakan:
Jika ada pustul kulit atau pusar bernanah, beri antibiotic oral
Jika ada nanah di mata, beri salep/ tetes mata antibiotik
Ajari cara mengobati infeksi bakteri lokal di rumah
Lakukan asuhan dasar bayi muda
Nasihati kapan kembali segera
Kunjungan ulang 2 hari
c. Mungkin bukan infeksi
Rencana tindakan:
Ajari cara merawat bayi di rumah
Lakukan asuhan dasar bayi muda

2. Diare
a. Diare dehidrasi berat
Rencana tindakan:
Tangani sesuai rencana terapi c
Jika bayi juga mempunyai klasifikasi lain yang membutuhkan
rujukan segera :
- rujuk segera setelah memenuhi syarat rujukan dan selama
perjalanan berikan larutan oralit sedikit demi sedikit.
- nasihati agar asi tetap diberikan jika memungkinkan.
- cegah agar gula darah tidak turun.
- nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan.

b. Diare dehidrasi ringan/sedang


Rencana tindakan:
Jika bayi tidak mempunyai klasifikasi berat lain, tangani sesuai rencana
terapi b
Jika bayi juga mempunyai klasifikasi berat yang lain :
- rujuk segera dan selama perjalanan beri larutan oralit.
- nasihati agar asi tetap diberikan jika memungkinkan.
- cegah agar gula darah tidak turun.
- nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan
Lakukan asuhan dasar bayi muda
Nasihati kapan kembali segera
Kunjungan ulang 2 hari.

c. Diare tanpa dehidrasi


Rencana tindakan :
Tangani sesuai rencana terapi a.
Nasihati kapan kembali segera.
Lakukan asuhan dasar bayi muda.
Kunjungan ulang 2 hari.
3. Ikterus
a. Ikterus berat
Rencana tindakan :
Cegah agar gula darah tidak turun
Nasihati cara menjaga bayi tetap hangat selama perjalanan
Rujuk segera

b. Ikterus
Rencana tindakan :
Lakukan asuhan dasar bayi muda
Menyusu lebih sering
Nasihati kapan kembali segera
Kunjungan ulang 2 hari
c. Tidak ada ikterus
Rencana tindakan :
Lakukan asuhan dasar bayi muda

4. Kemungkinan berat badan rendah dan/ atau masalah


pemberian asi
a. Berat badan rendah menurut umur dan/ atau masalah
pemberian asi
Rencana tindakan :
Lakukan asuhan dasar bayi muda
Nasehati ibu untuk menjaga bayinya tetap hangat
ajarkan ibu untuk memberikan asi dengan benar
Jikamendapat makanan/ minuman lain selain asi, berikan asi
lebih sering. Makanan / minuman lain dikurangi kemudian
dihentikan

Jika

bayi tidak mendapat asi : rujuk untuk konseling laktasi dan kemungkinan
bayi menyusu lagi
Jika ada celah bibir/ langit-langit, nasihati tentang alternatif pemberian
minum.
Konseling bagi ibu / keluarga
Nasihati kapan kembali segera
Kunjungan ulang 2 hari untuk gangguan pemberian asi dan thrush
Kunjungan ulang 14 hari untuk masalah berat badan rendah menurut umur
b. Berat badan tidak rendah dan tidak ada masalah pemberian asi
Rencana tindakan :
ujilah ibu karena telah memberikan asi kepada bayinya dengan benar.

SELANJUTNYA ?