Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pangan pada hakikatnya merupakan kebutuhan dasar yang penting untuk
kehidupan manusia dan yang paling hakiki untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya. Pada umumnya dalam mengolah pangan diberikan
beberapa perlakuan dalam berbagai cara antara lain dengan penambahan
bahan tambahan dengan tujuan untuk memperpanjang umur simpan,
memperbaiki tekstur, kelezatan atau kenampakan.Mengingat pentingnya
keamanan dalam penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) maka telah
diwujudkan oleh pemerintah dengan di keluarkannya Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan
Tambahan Pangan.
Teknologi pengolahan pangan di Indonesia sekarang berkembang cukup
pesat, diiringi dengan penggunaan bahan tambahan pangan yang juga makin
meningkat. Berkembangnya produk pangan awet saat ini, hanya mungkin
terjadi karena semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap berbagai
jenis makanan yang praktis dan awet. Kesalahan teknologi dan penggunaan
bahan tambahan yang diterapkan, baik sengaja maupun tidak disengaja dapat
menyebabkan gangguan pada kesehatan atau keamanan konsumen.
Salah satu contoh Bahan Tambahan Pangan diantaranya adalah
antioksidan. Atas kesadaran pentingnya mengontrol penggunaan BTP
antioksidan, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2013
tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Antioksidan.
Munculnya masalah keamanan pangan salah satu penyebabnya adalah
adanya bahan kimia berbahaya yang masuk kedalam tubuh manusia yang
berasal dari bahan tambahan dan kontaminan. Penggunaan bahan tambahan
pangan yang baik dan sesuai dengan ketentuan, menjadi harapan para
konsumen. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai
bahan tambahan pangan (BTP) khusunya BTP berupa antioksidan.

1.2 Rumusan Masalah


1.

Apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan (BTP)?

2.

Apa saja jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP)?

3.

Apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan (BTP)


antioksidan?

4.

Apa saja jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP) antioksidan?

5.

Apa bahaya dari Bahan Tambahan Pangan (BTP) antioksidan?

1.3 Tujuan
1.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan


(BTP).

2.

Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP).

3.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahan Tambahan Pangan


(BTP) antioksidan.

4.

Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP)


antioksidan.

5.

Untuk mengetahui apa bahaya dari Bahan Tambahan Pangan (BTP)


antioksidan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bahan Tambahan Pangan (BTP)


Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang
secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi
ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan
pangan. BTP ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar
kualitasnya meningkat. Pemakaian BTP merupakan salah satu langkah
teknologi yang diterapkan oleh industri pangan berbagai skala. Sebagaimana
langkah teknologi lain, maka risiko-risiko kesalahan dan penyalahgunaan
tidak dapat dikesampingkan.
BTP pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji
lama sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah telah
mengeluarkan aturan-aturan pemakaian BTP secara optimal. Dalam
kehidupan sehari-hari BTP sudah digunakan secara umum oleh masyarakat.
Kenyataannya masih banyak produsen makanan yang menggunakan bahan
tambahan yang berbahaya bagi kesehatan. Efek dari bahan tambahan beracun
tidak dapat langsung dirasakan, tetapi secara perlahan dan pasti dapat
menyebabkan sakit.
Penyimpangan atau pelanggaran mengenai penggunaan BTP yang sering
dilakukan oleh produsen pangan, yaitu :
a)

Menggunakan bahan tambahan yang dilarang penggunaannya untuk


makanan;

b) Menggunakan BTP melebihi dosis yang diizinkan.


Penggunaan bahan tambahan yang beracun atau BTP yang melebihi batas
akan

membahayakan

kesehatan

masyarakat,

dan

berbahaya

bagi

pertumbuhan generasi yang akan datang. Karena itu produsen pangan perlu
mengetahui peraturan-peratun yang telah dikeluarkan oleh pemerintah
mengenai penggunaan BTP.
Secara khusus tujuan penggunaan BTP di dalam pangan adalah untuk:
a) Mengawetkan makanan dengan mencegah pertumbuhan mikroba

perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat


menurunkan mutu pangan;
b) Membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak di
mulut;
c) Memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah
selera;
d) Meningkatkan kualitas pangan dan;
e) menghemat biaya.
Produsen produk pangan menambahkan BTP dengan berbagai tujuan,
misalnya membantu proses pengolahan, memperpanjang masa simpan,
memperbaiki penampilan dan cita rasa, serta pengaturan keseimbangan gizi.
2.2 Jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Berdasarkan fungsinya, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, BTP
dapat dikelompokan menjadi 27 yaitu: Antibuih, Antikempal, Antioksidan,
Bahan pengkarbonasi, Garam pengemulsi, Gas untuk kemasan, Humektan,
Pelapis, Pemanis, Pembawa, Pembentuk Gel, Pembuih, Pengatur Keasaman,
Pengawet, Pengembang, Pengemulsi, Pengental, Pengeras, Penguat rasa,
Peningkat volume, Penstabil, Peretensi Warna, Perisa, Perlakuan tepung,
Pewarna, Propelan dan Sekuestran.
BTP dikelompokan berdasarkan tujuan penggunaanya di dalam pangan.
Pengelompokkan BTP yang diizinkan digunakan pada makanan dapat
digolongkan sebagai : Pewarna; Pemanis buatan; Pengawet; Antioksidan;
Antikempal; Penyedap dan penguat rasa serta aroma; Pengatur keasaman;
Pemutih dan pamatang tepung; Pengemulsi; Pemantap dan pengental;
Pengeras, Sekuestran, Humektan, Enzim dan Penambah gizi.
Pewarna pada makanan dilakukan untuk memberi kesan menarik bagi
konsumen, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna, menutupi
perubahan warna selama proses pengolahan, dan mengatasi perubahan warna
selama penyimpanan. Pemerintah telah mengatur penggunaan pewarna ini,
namun masih banyak produsen pangan yang menggunakan bahan-bahan

pewarna yang berbahaya bagi kesehatan, misalnya pewarna untuk tekstil atau
cat yang umumnya mempunyai warna lebih cerah, lebih stabil selama
penyimpanan, dan harga lebih murah. Alternatif lain untuk menggantikan
penggunaan pewarna sintetis adalah dengan menggunakan pewarna alami
seperti ekstrak daun pandan atau daun suji, kunyit, dan ekstrak buah-buahan
yang lebih aman. Beberapa pewarna alami yang diizinkan digunakan dalam
makanan diantaranya adalah : Karamel, Beta-karoten, Klorofil, dan
Kurkumin.
Pemanis buatan sering ditambahkan ke dalam makanan dan minuman
sebagai pengganti gula karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan
pemanis alami yaitu rasanya lebih manis, membantu mempertajam
penerimaan terhadap rasa manis, tidak mengandung kalori ataupun
mengandung kalori yang jauh lebih rendah sehingga cocok untuk penderita
penyakit gula (diabetes) dan harganya lebih murah. Pemanis buatan yang
paling umum digunakan dalam pengolahan pangan di Indonesia adalah
Aspartam, sorbitol, sakarin, dan siklamat yang mempunyai tingkat
kemanisan masing-masing 30-80 dan 300 kali gula alami, oleh karena itu
sering disebut sebagai biang gula.
Pengawet umumnya digunakan untuk memperpanjang masa simpan
bahan makanan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan ini dapat
menghambat atau memperlambat proses degradasi bahan pangan terutama
yang disebabkan oleh faktor biologi. Penggunaan pengawet dalam makanan
harus tepat, baik jenis maupun dosisnya. Suatu bahan pengawet mungkin
efektif untuk mengawetkan makanan tertentu, tetapi tidak efektif untuk
mengawetkan makanan lainnya karena makanan mempunyai sifat yang
berbeda-beda

sehingga

mikroba

perusak

yang

akan

dihambat

pertumbuhannya juga berbeda. Beberapa bahan pengawet yang umum


digunakan adalah benzoat, propionat, nitrit, nitrat, sorbat dan sulfit.
Penyedap rasa dan aroma yang dikenal luas di Indonesia adalah vetsin,
atau bumbu masak dlm berbagai merek. Penyedap rasa tersebut mengandung
senyawa yang disebut monosodium glutamat (MSG). Peranan asam glutamat
sangat penting, diantaranya untuk merangsang dan mengantar sinyalsinyal

antar sel otak, dan dapat memberikan cita rasa pada makanan.
Pengemulsi, pemantap dan pengental makanan adalah digunakan untuk
memantapkan emulsi dari lemak dan air sehingga produk tetap stabil, tidak
meleleh, tidak terpisah antara bagian lemak dan air, serta mempunyai tekstur
yang kompak. Bahan-bahan pengemulsi, pemantap dan penstabil yang
diizinkan digunakan dalam makanan diantaranya agar, alginate, dekstrin,
gelatine, gum, karagenan, lesitin, CMC, dan pektin.
Pengatur keasaman pada makanan adalah digunakan untuk membuat
makanan menjadi lebih asam, lebih basa, atau menetralkan makanan.
Pengatur keasaman mungkin ditambahkan langsung ke dalam makanan,
tetapi seringkali terdapat di dalam bahan-bahan yang digunakan untuk
membuat makanan. Beberapa pengatur keasaman yang diizinkan untuk
digunakan dalam makanan, diantaranya adalah aluminium amonim/ kalium/
natrium sulfat, asam laktat, asam sitrat, kalium, dan natrium bikarbonat.
Antikempal biasa ditambahkan ke dalam pangan yang berbentuk tepung
atau bubuk. Karena itu peranannya di dalam makanan tidak secara langsung,
tetapi terdapat di dalam bahan-bahan yang digunakan untuk membuat
makanan seperti susu bubuk, tepung terigu, gula pasir dan lain sebagainya.
Beberapa bahan anti kempal yang diizinkan di dalam bahan-bahan untuk
makanan diantaranya adalah aluminium silikat, kalsium aluminium silikat,
kalsium silikat, magnsium karbonat, magnesium oksida, dan magnesium
silikat.
Pemutih dan pematang tepung adalah bahan yang dapat mempercepat
proses pemutihan dan sekaligus pematangan tepung sehingga dapat
memperbaiki mutu hasil pemanggangan, misalnya dalam pembuatan roti,
kraker, biskuit, dan kue. Beberapa bahan pemutih dan pematang tepung yang
diizinkan untuk makanan diantaranya adalah asam askorbat, kalium bromat,
natrium stearoil-2- laktat.
Pengeras ditambahkan ke dalam makanan untuk membuat makanan
menjadi lebih keras atau mencegah makanan menjadi lebih lunak. Beberapa
bahan pengeras yang diizinkan untuk makanan diantaranya kalsium glukonat,
kalsium klorida, dan kalsium sulfat.

Sekuestran adalah bahan yang dapat mengikat ion logam pada makanan
sehingga memantapkan warna dan tekstur makanan, atau mencegah
perubahan warna-warna makanan. Beberapa bahan sekuestrans yang
diizinkan untuk makanan di antaranya adalah asam fosfat, iso propil sitrat,
kalsium dinatrium edetat (EDTA), monokalium fosfat, dan natrium
pirofosfat.
Enzim yaitu BTP yang berasal dari hewan, tanaman atau mikroba, yang
dapat menguraikan komponen pangan tertentu secara enzimatis, sehingga
membuat makanan menjadi lebih empuk, lebih larut dll. Penambahan gizi
yaitu penambahan berupa asam amino, mineral dan vitamin, baik tunggal
maupun campuran yang dapat meningkatkan nilai gizi makanan.
Humektan yaitu BTP yang dapat menyerap uap air sehingga
mempertahankan kadar air bahan pangan.
Antioksidan adalah BTP yang digunakan untuk mencegah terjadinya
ketengikan pada makanan akibat proses oksidasi lemak, atau minyak yang
terdapat di dalam makanan. Bahan antioksidan yang diizinkan digunakan
dalam makanan diantaranya askorbat, BHA, BHT, TBHQ, propel galat, dan
tokoferol.
2.3 Bahan Tambahan Pangan (BTP) Antioksidan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033
Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, Antioksidan (Antioxidant)
adalah bahan tambahan pangan untuk mencegah atau menghambat kerusakan
pangan akibat oksidasi.
Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi
komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan
rangkap), terutama lemak dan minyak. Meskipun demikian antioksidan dapat
pula digunakan untuk melindungi komponen lain seperti vitamin dan
pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya.
Penggunaan antioksidan yaitu pada lemak hewani, minyak nabati, produk
lemak tinggi, produk daging, produk ikan, dll.
Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong

terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan


penambahan senyawa pengkelat, dan dapat juga disebut bersifat sinergistik
dengan antioksidan karena menaikkan efektivitas antioksidan utamanya.
Untuk dapat digunakan sebagai antioksidan, suatu senyawa harus
mempunyai sifat-sifat: tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,010,02%), dapat terkonsentrasi pada permukaan/lapisan lemak (bersifat
lipofilik) dan harus dapat tahap pada kondisi pengolahan pangan umumnya.
2.4 Jenis-jenis Bahan Tambahan Pangan (BTP) Antioksidan
Berdasarkan sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua
jenis, yaitu:
1.

Antioksidan yang bersifat alami: seperti komponen fenolik/flavonoid,


vitamin E, vitamin C dan beta-karoten.

2.

Antioksidan sintetis: seperti BHA (Butylated Hydroxyanisole), BHT


(Butylated Hydroxytoluene), PG (Propil Galat), dan TBHQ (di-t-Butyl
Hydroquinone).

2.4.1

BHA (Butylated Hydroanisole)


BHA

merupakan

campuran

dua

isomer,

yaitu

2-

dan

3-

tertbutilhidroksianisol. Di antara kedua isomer tersebut, isomer 3-tert


memiliki aktivitas antioksidan yang lebih efektif dibandingkan isomer 2-tert.
Bentuk fisik BHA adalah padatan putih menyerupai lilin, bersifat larut dalam
lemak dan tidak larut dalam air. BHA memiliki kemampuan antioksidan
(carrythrough) kemampuan antioksidan baik dilihat dari ketahanannya
terhadap tahap-tahap pengelolaan maupun stabilitasnya pada produk akhir
yang baik pada lemak hewan dalam sistem makanan panggang, namun relatif
tidak efektif pada minyak tanaman. BHA bersifat larut lemak dan tidak larut
air, berbentuk padat putih dan dijual dalam bentuk tablet atau serpih, bersifat
volatil sehingga berguna untuk penambahan ke materi pengemas. Batas
maksimum Antioksidan BHA dalam margarine menurut Per KBPOM No 38
Tahun 2013 Tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan
PanganAntioksidan adalah 175 mg/kg dengan ADI (Acceptable Daily
Intake) 0-0,5 mg/kg berat badan.

2.4.2

BHT (Butylated Hydroxytoluene)


Sifat-sifat BHT sangat mirip dengan BHA dan bersinergis dengan BHA.

Menurut

Sherwin

(1990), antioksidan

sintetik

BHT(Butil

Hidroksi

Toluen) memiliki sifat serupa BHA, akan member efek sinergis bila
dimanfaatkan bersama BHA, berbentuk kristal padat putih dan digunakan
secara luas karena relatif murah. Batas maksimum Antioksidan BHT dalam
margarine menurut Per KBPOM No 38 Tahun 2013 Tentang Batas
Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Antioksidan adalah 200
mg/kg dengan ADI (Acceptable Daily Intake) 0-0,3 mg/kg berat badan.
2.4.3

Propil Galat
Propil galat merupakan ester propanol dari asam trihidroksi benzoat.

Bentuk fisik propil galat adalah kristal putih. Propil galat memiliki sifatsifat : (1) dapat bersinergis dengan BHA dan BHT, (2) sensitif terhadap
panas, (3) membentuk kompleks berwarna dengan ion logam, oleh karenanya
jika dipakai dalam makanan kaleng dapat mempengaruhi penampakan
produk. Propil galat mempunyai karakteristik sensitif terhadap panas,
terdekomposisi pada titik cairnya 148C, dapat membentuk komplek warna
dengan ion metal, sehingga kemampuan antioksidannya rendah. Selain itu,
propil galat memiliki sifat berbentuk kristal padat putih, sedikit tidak larut
lemak tetapi larut air, serta memberi efeksinergis dengan BHA dan BHT.
2.4.4

TBHQ (Tertiary Butylhydroquinone)


TBHQ merupakan antioksidan yang paling efektif dalam minyak makan

dibandingkan BHA, BHT, PG dan tokoferol. TBHQ memiliki sifat-sifat: (1)


bersinergis dengan BHA (2) cukup larut dalam lemak (3) tidak membentuk
komplek dengan ion logam tetapi dapat berubah menjadi merah muda, jika
bereaksi dengan basa. Dosis pengunaan tiap-tiap antioksidan sintetik ini tidak
sama untuk masing-masing negara.
Berikut jenis Bahan Tambahan Pangan Antioksidan yang diizinkan
dalam penggolongan (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan)

2.5 Bahaya Bahan Tambahan Pangan (BTP) Antioksidan


Antioksidan adalah merupakan senyawa-senyawa yang keberadaannya
mengganggu reaksi rantai radikal bebas seperti halnya dalam reaksi oksidasi
lipida. Meskipun beberapa reaksi oksidasi berguna di dalam makanan, reaksireaksi lain dapat berdampak yang merusak misalnya degradasi pigmen,
vitamin dan lipida disertai kehilangan nilai gizinya dan timbul bau yang tidak
enak. Secara umum, mekanisme kerja antioksidan adalah menghambat
oksidasi lemak.
Sebenarnya, selama suatu senyawa yang digunakan sebagai antioksidan
dalam fungsinya sebagai bahan tambahan pangan, jika tidak digunakan
secara berlebihan maka tidak akan menimbulkan efek samping yang buruk.
Namun dengan adanya kemungkinan efek samping dari antioksidan sintetik
maka yang sangat dibutuhkan kontrol ataupun pengawasan terhadap batasbatas penggunaan antioksidan ke dalam makanan sebagai bahan tambahan
pangan.
Penggunaan antioksidan terlalu banyak dan lama akan menyebabkan

10

proses penuaan dan penyakit degeneratif seperti kanker kardiovaskuler,


penyumbatan pembuluh darah yang meliputi hiperlipidemik, aterosklerosis,
stroke, dan tekanan darah tinggi serta terganggunya sistem imun tubuh dapat
disebabkan oleh stress-oksidatif (keadaan tidak seimbangnya jumlah oksidan
dan prooksidan dalam tubuh). Ada beberapa antioksidan sintetik yang dapat
menyebabkan efek karsinogenesis antara lain BHA (Butil Hidroksi Anisol),
BHT (Butil Hidroksi Toluen) dan PG (Propil Galat).
Kontroversi seputar penggunaan BHA dalam makanan, Institusi
Kesehatan Nasional AS melaporkan bahwa BHA menyebabkan karsinogen
pada manusia berdasarkan bukti carcinogenicity pada hewan percobaan.
Secara khusus, bila diberikan dalam dosis tinggi sebagai bagian dari bahan
tambahan pangan, BHA meyebabkan papiloma dan karsinoma sel skuamosa
dari forestomach pada tikus dan hamster emas Suriah. Pada tikus, tidak ada
efek

kersinogenik

dan

bahan

bukti

efek

perlindungan

terhadap

carcinogenicity bahan kimia lainnya. Ketika memeriksa statistik populasi


manusia, tingkat asupan biasa BHA tidak menunjukan hubungan yang
signifikan dengan peningkatan resiko kanker, namun jika tingkat asupan
dinaikkan melebihi dosis biasa makan terdapat peningkatan resiko kanker.
Untuk penggunan BHT sebagai antioksidan dalam makanan, peraturan
Eropa dan AS memnungkinkan presentasi kecil unutuk digunakan sebagai
bahan tambahan pangan, BHT dianjurkan sebagai suplemen diet dan
antivirus berguna melawan virus herpes. Tapi itu bukan tanpa kontroversi
karena ada yang mengaku bahwa BHT berlebih menyebabkan anak menjadi
hiperaktif serta berefek kanker.
Propil gallat sering ditambahkan ke dalam bahan pengepak pangan
seperti sereal, keripik kentang, sehingga penambahan propil gallat
dimungkinkan dapat mencemarkan aroma pangan. Semua alkil gallat
berpotensi menyebabkan iritasi pada lambung dan kulit, memberikan efek
negatif terhadap penderita asma atau mereka yang sensitif terhadap aspirin.
Penggunaan tidak diizinkan untuk pangan bayi atau anak kecil.
Pada intinya, selama digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam
dosis yang sesuai dengan batas aman, antioksidan kecil kemungkinan untuk

11

berefek negatif bagi tubuh dan kesehatan. Namun akan ditemukan efek
samping dari penggunaan antioksidan sintetik berupa keracunan dan bersifat
karsinogenik jika digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dalam
jumlah yang berlebihan. Oleh karena itu, sangan diperlukannya pengawasan
dan pengendalian dalam penggunaan antioksidan sebagai bahan tambahan
pangan.
Sumber: Denny Indra Praja Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya (2015)

12

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan yang secara alami bukan
merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam
pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk bahan pangan. Berdasarkan
fungsinya, menurut Permenkes Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012
tentang Bahan Tambahan Pangan, BTP dikelompokan menjadi 27 jenis yaitu
salah satu diantaranya adalah Antioksidan.
Menurut Permenkes Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang
Bahan Tambahan Pangan, Antioksidan adalah bahan tambahan pangan untuk
mencegah atau menghambat kerusakan pangan akibat oksidasi. Berdasarkan
sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu:
Antioksidan yang bersifat alami (komponen fenolik/flavonoid, vitamin E,
vitamin C, beta-karoten) dan Antioksidan sintetis (BHA (Butylated
Hydroxyanisole), BHT (Butylated Hydroxytoluene), Propil Galat dan TBHQ
(di-t-Butyl Hydroquinone))
Dengan adanya kemungkinan efek samping dari antioksidan sintetik
maka sangat dibutuhkan pengawasan terhadap batas-batas penggunaan
antioksidan ke dalam makanan sebagai BTP. Penggunaan antioksidan terlalu
banyak akan menyebabkan proses penuaan dan penyakit degeneratif seperti
kanker kardiovaskuler, penyumbatan pembuluh darah yang meliputi
hiperlipidemik, aterosklerosis, stroke, dan tekanan darah tinggi serta
terganggunya sistem imun tubuh.
3.2 Saran
Cermat memilih makanan yang aman dan bebas dari bahaya zat-zat
tertentu terutama BTP Antioksidan adalah salah satu upaya dalam
mengurangi resiko zat tersebut. Berikan penyuluhan kepada masyarakat
mengenai BTP Antioksidan, fungsi serta dampaknya bila tidak digunakan
sesuai fungsinya. Pengawasan yang ketat oleh pemerintah dan pengambilan

13

tindakan tegas. Masyarakat harus lebih jeli dalam memilih makanan,


mengingat bahaya yang ditimbulkan bila BTP terutama antioksidan tidak
sesuai dengan batas aman dosis penggunaan.

14

DAFTAR PUSTAKA

Anggrahini, Sri. 2008. Keamanan Pangan Kaitannya dengan Penggunaan Bahan


Tambahan.http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/732_pp0906016.pdf Diakses pada
6 April 2016.
Aries Rusrika, Antioksidan, dalam http://www.Blogdokter. net/ 2008/10/
28/antioksidan/, diakses pada 6 April 2016.
Cahyadi, Wisnu (2006). Bahan Tambahan Pangan. Bumi Aksara. Jakarta.
Denny (2015). Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya. Penerbit
Garudhawaca. Yogyakarta.
Tranggono (1990). Bahan Tambahan Pangan (Food Additive). Pusat Antar
Universitas. Pangan dan Gizi. UGM. Yogyakarta.

15