Anda di halaman 1dari 15

Cacing Tambang/Makalah Cacing Tambang

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dengan judul Cacing Tambang (Nekator Americanus dan Ancylostoma
duodenale) dan selesai tepat pada waktunya tanpa halangan suatu apapun.
Makalah ini disusun dengan harapan agar tiap mahasiswa mampu berfikir kritis,
rasional dan kreatif dalam menanggapi pemenuhan kebutuhan pasien dalam dunia
kesehatan khususnya keperawatan,
Dalam penyusunan makalah ini kami tidak luput dari berbagai pihak yang terkait.
Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
a)

Direktur STIKES ICME Jombang, Dr.M.Zainal Arifin,M.Kes yang menyediakan sarana


dan prasarana dalam menyediakan bahan ajar atau dr. Supariyanto selaku dosen
pengajar IKD II yang telah memberikan tugas kepada kami sehingga kami dapat
mengerti dan memahamai bab yang kami bahas.
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan,
dalam bahasa maupun materi. Sehingga penulis berharap semoga makalah ini dapat
berguna bagi para pembaca.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..............................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan...................................................................2
1.3 Manfaat Penulisan.................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................3
2.1 Sejarah Cacing.......................................................................3
2.2 Morfologi.................................................................................4
2.3 Cara Infeksi............................................................................5
2.4 Gejala Klinis Dan patologi .....................................................8
2.5 Patogenesis............................................................................9
2.6 Diagnosis................................................................................11
2.7 Pengobatan............................................................................11
2.8 Pencegahan...........................................................................11
BAB III PENUTUP...............................................................................14
3.1 Kesimpulan.............................................................................14
3.2 Saran......................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parasitologi merupakan ilmu yang berisi kajian tentang organisme (jasad hidup)
yang hidup dipermukaan atau didalam tubuh organisme lain untuk sementara waktu
atau selama hidupnya, dengan cara mengambil sebagian atau seluruh fasilitas
hidupnya dari organisme lain tersebut (Parasitologi kedokteran, 2010).
Parasitisme merupakan hubungan antara dua organisme, yang satu diantaranya
mendapat keuntungan dan yang lain dirugikan. Helmintologi adalah ilmu yang
mempelajari parasit yang berupa cacing. Stadium dewasa cacing-cacing yang termasuk
Nemethelminthes (kelas nematoda) berbentuk bulat memanjang dan pada potongan
transversal tampak rongga badan dan alat-alat. Cacing ini memiliki alat kelamin terpisah
(Parasitologi kedokteran, 1998).
Nematoda intestinal yaitu nematode yang berhabitat disaluran pencernaan
manusia. Manusia merupakan hospes beberapa nematoda usus. Sebagian besar
daripada nematoda ini menyebabkan masalah kesehatan masyarakat. Infeksi cacing ini
dapat ditularkan melaui vektor atau kontak langsung.
Diantara nematoda intestinal terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui
tanah dan disebut soil transmitted helmints, yaitu nematoda yang siklus hidupnya
untuk mencapai stadium infektif, memerlukan tanah dalam kondisi tertentu. Salah satu
nematoda golongan Soil Transmitted Helmints adalah jenis cacing tambang (Necator
americanus dan Ancylostoma duodenale).

Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva adalah tanah gembur (pasir, humus)
dengan suhu optimum untuk Necator americanus 28 o 32oC, sedangkan Ancylostoma
duodenale lebih rendah 23o 25oC. pada umumnya A.duodenale lebih kuat.

1.2 Tujuan Penulisan


Tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalah untuk mengetahui
morfologi, cara infeksi, gejala klinik, patogenesis, diagnosis, pengobatan dan
mengetahui bagaimana pencegahan cacing tambang.

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut
:
1. Membantu mahasiswa untuk memahami tentang cacing tambang.
2. Sebagai salah satu syarat dalam memperoleh nilai mata kuliah parasitology.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Cacing Tambang


Cacing tambang diberi nama cacing tambang karena pada zaman dahulu cacing
ini ditemukan di Eropa pada pekerja pertambangan, yang belum mempunyai fasilitas
sanitasi yang memadai. (Parasitologi kedokteran, 1998). Necator americanus banyak
ditemukan di Amerika, Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Tiongkok, and Indonesia,

sementara A. duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa
bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang.
Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat
kebersihan yang buruk. bentuk infektif dari cacing tersebut adalah bentuk filariform.
Setelah cacing tersebut menetas dari telurnya, munculah larva rhabditiform yang
kemudian akan berkembang menjadi larva filariform.

Taksonomi dari cacing tambang :


Phylum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Sub kelas : Secernantea
Ordo : Strongylida
Famili : Ancylostomatidae
Genus : Ancylostoma dan Necator
Spesies : Ancylostoma duodenale (Afrika)
Necator americanus (Amerika)

2.2 Morfologi
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus manusia, dengan mulut yang melekat
pada mukosa dinding usus. Ancylostoma duodenale ukurannya ebih besar dari Necator
americanus. Yang betina ukurannya 10-13 mm x 0,6 mm, yang jantan 8-11 x 0,5 mm,
bentuknya menyerupai huruf C, Necator americanus berbentuk huruf S, yang betina 9
11 x 0,4 mm dan yang jantan 7 9 x 0,3 mm. Rongga mulut A.duodenale mempunyai
dua pasang gigi, N.americanus mempunyai sepasang benda kitin. Alat kelamin jantan
adalah tunggal yang disebut bursa copalatrix. A.duodenale betina dalam satu hari dapat
bertelur 10.000 butir, sedang N.americanus 9.000 butir. Telur dari kedua spesies ini
tidak dapat dibedakan, ukurannya 40 60 mikron, bentuk lonjong dengan dinding tipis
dan jernih. Ovum dari telur yang baru dikeluarkan tidak bersegmen. Di tanah dengan
suhu optimum23oC - 33oC, ovum akan berkembang menjadi 2, 4, dan 8 lobus.

2.3 Cara Infeksi


Cacing tambang menimbulkan lebih banyak penyakit serius dari pada parasit lain.
Di dalam kebanyakan bagian dunia, termasuk bagian Amerika Serikat, terdapatlah
banyak penderita penyakit cacing tambang di antara penduduk.'' Di daerah seperti itu,
kesehatan dan tenaga manusia rata-rata di bawah normal.''
Cacing tambang kecil dan kursus, panjangnya kira-kira 8-13 mm. Cacing ini
bermukim di dalam usus halus dimana mereka melekatkan diri pada lapisan usus
dengan mulut bebentuk sangkutan. Mereka menusuk pembuluh darah dengan giginya
yang tajam dan menghisap darah. Cacing betina menghasilkan telur-telur dalam jumlah

yang besar. Telur-telur itu dikeluarkan manusia melalui tinja dan menetas diluasr
tubuhnya. Telur-telur itu menetas dan mengeluarkan janin di dalam tanah yang hangat
dan lembab. Apabila kaki yang tidak beralas menyentuh tanah lembab yang
mengandung cacing-cacing muda yang halus itu, cacing itu dengan cepat menembusi
kulit kaki dan memasuki pembuluh darah, dan darah membawa mereka ke dalam paruparu. Dari paru-paru cacing-cacing tambang yang masih muda itu memasuki saluran
pernafasan dan terus ke dalam kerongkongan sehingga tertelan. Dengan cara ini
mereka akhirnya memasuki usus halus dimana mereka mencapai kedewasaan. Kalau
jumlah cacing itu kurang dari seratus, maka belum terlihat gejala. Tetapi kalau
jumlahnya lebih dari lima ratus, maka lebih dari empat ribu ekor cacing terdapat dalam
tubuh seorang.''
Satu-satunya cara untuk memastikan infeksi cacing tambang ialah mencari telurtelurnya didalam tinja, tetapi dalam kebanyakan hal terluhatlah tanda-tanda yang nyata
atau gejala-gejala. Melumuri kulit tangan dan kaki dengan tanah kotor mengakibatkan
cacing-cacing halus menembusi kulit sehingga kulit itu terasa panas dan gata,
kemudian timbullah luka-luka dan bisul berkerak pada kulit. ini disebut gatal tanah, gatal
tambang, kaki gatal, ibu jari jkaki gata, gatal embun atau gatal air. Sementara parasit
yang belum dewasa itu bergerak menuju paru-paru, penderita akan batuk-batuk, sakit
kerongkongan dan dahaknya bercampur darah.
Sementara parasit itu bergantung pada dinding usus, dia bertumbuh menjadi
dewasa san timbullah gejala seperti menceret, perut gembung dan rasa tidak enak.
Kemudian badan lemah, pucatm berat badan berkurang, kurang darah dan susah
bernafas. Pada anak-anak yang sedang betumbh, perkembangan mental dan

petumbuhan sangat lambat. Dalam hal jumlah cacing yang terlalu banyak, kaki akan
membengkak, demikian juga tubuh, cairan akan betumpuk di dalam rongga perut.
Penderita yang sudah mendapat gejala itu tidak dapat hidup lama kecuali cacing-cacing
itu dikeluarkan dari dalam badannya.
Pencegahan penyakit cacing tambang begitu penting. Orang yang sudah
ketularan harus ditolong untuk membuang cacing-cacing itu dari dalam ususnya dan
kemudian diajar untuk memcegah infeksi berikut.
Janganlah menjamah tanah yang telah ketularan cacing dan pakailah alas kaki di
daerah panas. Yang paling utama ialah membuang segala jenis kotoran manusia di
dalam tempat tertutup agar tanah itu tidak ditulari cacing. Kakus-kakus modern atau
yang dibangun menurut aturan kesehatan akan menolong membasmi penyakit cacing
tambang.
Harus disebutkan disini satu penyakit yang disebabkan oleh pemindahan jentikjentik cacing dari anjing atau kucing yang memiliki cacing tambang. Cacing ini
menembusi kulit manusia dan berpindah-pindah di kulit itu sendiri, biasanya tidak
menembus lebih dalam atau tidak bergerak lebih jauh dari beberapa inchi. Perpindahan
itu menimbulkan rasa gatal yang sangat hebat dan luka-luka merah yang bertahan
sampai beberapa bulan, tetapu cacing petualang itu akhirnya mati dan diserap oleh
jaringan. Kalau jumlahnya terlalu besar, akibatnya sangat buruk, apalagi kalau daerah
operasinya di bawah kulit, sang dokter harus menggunakan metode khusu untuk
membasminya. Kalau cacing itu menyusup lebih dalam, tidak ada yang dapat dilakukan
kecuali mengobati gejalanya dan menunggu saat kematian cacing-cacing itu.

2.4 Gejala Klinis dan Patologi


1. Stadium Larva
Bila banyak filariform sekaligus menembus kulit, maka terjadi perubahan kulit yang
disebut ground itch, dan kelainan pada paru biasanya ringan.
2. Stadium Dewasa
Gejala tergantung pada:
a. Spesies dan jumlah cacing
b. Keadaan gizi penderita
Gejala klinik yang timbul bervariasi bergantung pada beratnya infeksi, gejala yang
sering muncul adalah lemah, lesu, pucat, sesak bila bekerja berat, tidak enak perut,
perut buncit, anemia, dan malnutrisi.
Tiap cacing Necator americanus menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,005
0,1 cc sehari, sedangkan A. duodenale 0,08 0,34 cc. biasanya terjadi anemia
hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia.
Anemia karena Ancylostoma duodenale dan Necator americanus biasanya berat.
Hemoglobin biasanya dibawah 10 (sepuluh) gram per 100 (seratus) cc darah jumlah
erythrocyte dibawah 1.000.000 (satu juta)/mm 3. Jenis anemianya adalah anemia
hypochromic microcyic.
Bukti adanya toksin yang menyebabkan anemia belum ada biasanya tidak
menyebabkan kematian, tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun.

2.5 Patogenesis

Cacing tambang memiliki alat pengait seperti gunting yang membantu melekatkan
dirinya pada mukosa dan submukosa jaringan intestinal. Setelah terjadi pelekatan, otot
esofagus cacing menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan
intestinal ke dalam kapsul bukal cacing. Akibat kaitan ini terjadi ruptur kapiler dan
arteriol yang menyebabkan perdarahan. Pelepasan enzim hidrolitik oleh cacing
tambang akan memperberat kerusakan pembuluh darah. Hal itu ditambah lagi dengan
sekresi berbagai antikoagulan termasuk diantaranya inhibitor faktor VIIa (tissue
inhibitory factor).
Cacing ini kemudian mencerna sebagian darah yang dihisapnya dengan bantuan
enzim hemoglobinase, sedangkan sebagian lagi dari darah tersebut akan keluar melalui
saluran cerna.28) Masa inkubasi mulai dari bentuk dewasa pada usus sampai dengan
timbulnya gejala klinis seperti nyeri perut, berkisar antara 1-3 bulan. Untuk meyebabkan
anemia diperlukan kurang lebih 500 cacing dewasa. Pada infeksi yang berat dapat
terjadi kehilangan darah sampai 200 ml/hari, meskipun pada umumnya didapatkan
perdarahan intestinal kronik yang terjadi perlahanlahan. 22) Terjadinya anemia
defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status besi tubuh dan gizi
pejamu, beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita), serta spesies cacing
tambang dalam usus. Infeksi A. duodenale menyebabkan perdarahan yang lebih
banyak dibandingkan N. americanus.28) Gejala klinis nekatoriasis dan ankilostomosis
ditimbulkan oleh adanya larva maupun cacing dewasa. Apabila larva menembus kulit
dalam jumlah banyak, akan menimbulkan rasa gatal-gatal dan kemungkinan terjadi
infeksi sekunder. Gejala klinik yang disebabkan oleh cacing tambang dewasa dapat
berupa nekrosis jaringan usus, gangguan gizi dan gangguan darah

2.6 Diagnosa
Jika timbul gejala, maka pada pemeriksaan tinja penderita akan ditemukan cacing
tambang. Jika dalam beberapa jam tinja dibiarkan dahulu, maka telur akan mengeram
dan menetas larva.

2.7 Pengobatan
Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai macam
anthelmintik, antara lain befenium hidroksinaftoat, tetraldoretilen, pirantel pamoat dan
mebendazol. Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akan berhenti, tetapi
pengobatan dengan preparat besi (sulfas ferrosus) per os dalam jangka waktu panjang
dibutuhkan untuk memulihkan kekurangan zat besinya. Di samping itu keadaan gizi
diperbaiki dengan diet protein tinggi.

2.8 Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara Sanitasi lingkungan, diantaranya:
1. Hindari berjalan keluar rumah tanpa memakai alas kaki
Kebiasaan tidak memakai alas kaki merupakan faktor resiko yang kuat untuk
terjadinya infeksi cacing tambang.
2. Cuci tangan sebelum makan
Cuci tangan, pekerjaan ini adalah Awal yang terpokok jika anda ingin tetap sehat.
Dimanapun dan kapanpun selalau ada bakteri atau mikroorganisme yang siap masuk

melawan tubuh kita 70 % perantara yang tepat adalah dari tangan, untuk itu cuci tangan
adalah salah satu tindakan preventif yang sangat tepat.
3. Hindari pemakaian feces manusia sebagai pupuk pada sayuran
Jika sayuran yang dimakan tidak bersih maka larva cacing akan ikut termakan
karena sayuran dipupuk menggunakan feces manusia yang telah terinfeksi.
4. Jika anda Ibu, awasi dan jaga anak anda main di Tanah
Dari sifat hidupnya, cacing tambang hidup pada tanah, sangat cepat menular
melalui kulit, melewati epidermis kulit teratas hingga terakhir, anak anak tentulah
sangat mudah untuk dijadikan media untuk hidup si cacing tambang. Untuk itu perlu
awasi anak anda saat bermain di tanah atau di halaman rumah yang memungkinkan
adanya cacing tambang. Jika terlanjur memanjakan anak anda, lakukan kegiatan
prefentif yaitu bersihkan seluruh badan anak dari tanah sehabis main.
5. Bersih Pakaian dan tempat
Mikroba penyebab infeksi ada dimana mana, bahkan tempat maupun pakaian kita
yang terlihat bersihpun bisa saja terdapat kuman kuman yang membahayakan
kesehatan. Dengan demikian Kebersihan atau sanitasi dan higienis tempat anda sangat
diperlukan untuk mempertahankan kesehatan anda dan keluarga.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Cacing tambang yang menginfeksi manusia adalah Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale. Cacing ini berhabitat di usus halus manusia. Necator
Americanus

menyebabkan

Ankilostomiasis.

Necatoriasis

dan

A.duodenale

menyebabkan

Dalam sehari N. americanus dapat bertelur 9.000 butir dan A.duodenale 10.000
butir. Telur yang keluar bersama tinja manusia ditanah akan menetas setelah 1-1,5 hari,
keluarlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform akan tumbuh
menjadi larva fiariform, dan dapat hidup selama 7-8 minggu didalam tanah. Larva
filariform inilah bentuk infektif cacing tambang ini yang dapat menembus kulit manusia.
larva filariform masuk kedalam tubuh manusia melalui pembuluh darah balik atau
pembuluh darah limfa, maka larva akan sampai ke jantung kanan. Dari jantung kanan
menuju ke paru paru, kemudian alveoli ke broncus, ke trakea dan apabila manusia
tersedak maka larva akan masuk ke oesophagus lalu ke usus halus dan menjadi
dewasa (siklus ini berlangsung kurang lebih dalam waktu dua minggu).
Infeksi ini terjadi didaerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan
yang buruk. Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang BAB di
tanah dan pemakaian feces manusia sebagai pupuk. Selain lewat kaki, cacing tambang
juga bias masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang masuk ke mulut.
Gejala yang ditimbulkan, stadium larva menyebabkan kelainan pada kulit (ground
itch). Stadium dewasa tergantung dari spesies dan jumlah cacing serta keadaan gizi
penderita.
Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan tambahan zat besi per-oral atau
suntikan zat besi, jika kasus berat dapat diberikan tranfusi darah, dan jika kondisi
penderita stabil dapat diberikan pirantel pamoat dan mabendazol yang digunakan
beberapa hari berturut-turut. Pencegahan yang paling utama yaitu dengan sanitasi
lingkungan dengan menjaga pola hidup bersih.

3.2 Saran
1. Menjaga pola hidup bersih agar terhindar dari penyakit.
2. Segera berobat jika timbul gejala awal, karena penyakit yang sudah kronis akan sulit
untuk disembuhkan.
3. Hindari faktor resiko terinfeksi.