Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM LINGKUNGAN KERJA

KEBISINGAN

Oleh
Candima Setyasa
Kelas: K3 IV C

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA


TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
2014

I. PENDAHULUAN
1.1 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah pengukuran kebisingan dengan menggunakan Sound
Level Meter?

2. Bagaimaakah cara pemetaan ruangan untuk pemgukuran kebisingan


(mapping)?
3. Bagaimana cara membuat peta kebisingan (noise mapping)?
I.2 TUJUAN
TIU
Mahasiswa diharapkan dapat mengaplikasikan teori Keselamatan Kesehatan
Kerja
TIK
1. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran kebisingan dengan
menggunakan Sound Level Meter.
2.
Mahasiswa mampu membuat pemetaan ruangan (mapping)
3.
Mahasiswa mampu membuat peta kebisingan (noise mapping)
II.DASAR TEORI
2.1 Pengertian dan Beberapa Sifat Fisik Kebisingan
Alat pendengaran merupakan sebuah anugrah terindah dari Tuhan,
oleh karena itu pendengaran perlu di jaga sebaik-baiknya agar tidak terjadi
hal yang tidak di inginkan, salah satu cara

menjaga alat pendengaran

dengan menghindari kebisingan yang berlebihan dan merusak telinga.


Beberapa pengertian beserta sifat fisik dari sebuah kebisingan antara
lain:
1. Bunyi/ Suara
Bunyi/ suara dapat di definisakan sebagai serangkaian gelombang yang
merambat dari suatu sumber getar sebagai akibat perubahan kerapatan
dan juga tekanan suara.
2. Frekuensi
Frekuensi adalah jumlah gelombang lengkap yang merambat per satuan
waktu yang di nyatakan dalam getaran perdetik (cps) atau dalam Hertz
(Hz). Besarnya frekuensi akan menentukan nada suara. Bunyi yang dapat
di dengar manusia sangat terbatas yaitu terletak pada kisaran frekuensi
antara 20-20.000 Hz
3. Infra Sound dan Ultra Sound
Bunyi dengan frekuensi di bawah 20 Hz disebut Infra sound dan bunyi
dengan frekuensi di atas 20.000 Hz di sebut ultra sound. Bunyi dengan
kedua frekuensi tersebut tidak dapat di dengar oleh manusia.
4. Intensitas bunyi/suara

Intensitas bunyi/suara adalah besarnya tekanan yang di pancarkan oleh


suatu sumber bunyi. Sebagaimana diketahui bahwa bunyi mengakibatkan
perubahan kerapatan dan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara
sebelum dan sesudah dipengaruhi oleh bunyi disebut tekanan suara.
5. Desibel
Desibel atau dB atau tingkat intensitas bunyi adalah perbandingan
logaritmis antara tekanan suara tertentu dengan tekana suara dasar yang
besarnya 0,0002 mikrobar yaitu tekanan suara dengan frekuensi 1.000 Hz
yang tepat dapat di dengar oleh telinga.
6. Amplitudo
Amplitudo merupakan simpangan getaran yang mempengaruhi intensitas
suara
2.2. Fisiologi Pendengaran
Telinga manusia terdiri dari tiga bagian yaitu:
1.
Telinga Bagian Luar
Bagian ini terdiri dari daun telinga dan liang telinga (audiotory canal)
dibatasi oleh membrane timpani. Telinga bagian luar berfunsi sebagai
mikrofon yang menampung gelombang suara dan memyebabkan
2.

membrane timpani bergerak


Telinga Bagian Tengah
Telinga bagian tengah terdiri dari osicle yaitu 3 tulang kecil (tulang
pendengaran yang halus), Martil-Landasan-Sanggurdi yang berfungsi
memeperbesar getaran dari membrane timpani yang meneruskan
getaran yang telah diperbesar ke oval-window yang bersifat fleksibel.

3.

Oval-window ini terletak pada ujung cochlea.


Telinga Bagian Dalam.
Telinga ini disebut cochlea berbentuk rumah siput, mengandung cairan
yang di dalamnya terdapat membrane basiler dan organ corti yang
terdiri dari sel-sel rambut yang merupakan reseptor pendengaran lebih
jauh. Seseorang dengan pendengaran normal dapat mendengar nada
suara pada kisaran frekuensi yang sangat luas (20-20.000 Hz). Sel-sel
rambut pada organ coti ternyata mengandung sel-sel yang peka suara
dengan frekuensi tertentu atau sel-sel yang peka terhadap frekuensi
tinggi. Getaran dari oval-window akan di teruskan oleh cairan dalam

cochlea dan menggetarkan membrane basiler. Getaran ini merupakan


sebuah impuls bagi organ corti yang selanjutnya diteruskan ke otak
melalui syaraf pendengaran.
2.3. Definisi Bising
Bising dapat dapat di artikan sebagai suara yang tidak enak di
dengar atau mengganggu pendengaran, atau merupakan suara yang tidak
di kehendaki, terdapat berbagai macam pendapat mengenai definisi
bising.
Pengertian bising dalam kesehatan kerja, dapat diartikan sebagai
suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara kwantitatif
(peningkatan

ambang

(penyempitan

spektrum

pendengaran)
pendengaran),

maupun

secara

berkaitan

kwalitatif

dengan

faktor

intensitas, frekuensi, durasi, dan pola waktu.


Suara dikatakan bising bila suara-suara tersebut menimbulkan
gangguan terhadap lingkungan seperti gangguan percakapan, gangguan
tidur, dan lain-lain (Sumamur, 1996).
Menurut Doelle (1993): suara atau bunyi secara fisis merupakan
penyimpangan tekanan, pergeseran partikel dalam medium elastis
seperti misalnya udara. Secara fisiologis merupakan sensasi yang timbul
sebagai akibat propagasi energi getaran dari suatu sumber getar yang
sampai ke gendang telinga.Menurut Patrick (1977): kebisingan dapat
pula diartikan sebagai bentuk suara yang tidak sesuai dengan tempat dan
waktunya.Menurut Prabu, Putra (2009) bising adalah suara yang
mengganggu. Menurut Ikron I Made Djaja, Ririn A.W, (2005) bising
adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau
membahayakan kesehatan.

Menurut Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996 definisi bising adalah


bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan
waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan
kenyamanan lingkungan.
Kebisingan dapat juga diartikan sebagai bentuk suara yang tidak
sesuai dengan tempat dan waktunya, sehingga secara umum kebisingan

dapat diartikan sebagai suara yang merugikan manusia dan lingkungan.


Bising dikategorikan pada polutan lingkungan/buangan yang tidak
terlihat, tapi efeknya cukup besar. Kebisingan adalah bahaya yang
umum di tempat kerja.
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan
dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan yang
dinyatakan

dalam

satuandesibel (dB).

Kebisingan

juga

dapat

didefinisikan sebagai bunyi yang tidak disukai, suara yang mengganggu


atau bunyi yang menjengkelkan. Berdasarkan Kepmenaker, kebisingan
adalah suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat,
proses produksi yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan
gangguan kesehatan dan pendengaran.
Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara
yang bergetar. Getaran sumber suara ini mengganggu keseimbangan
molekul udara sekitarnya sehingga molekul-molekul udara ikut
bergetar. Getaran sumber ini menyebabkan terjadinya gelombang
rambatan energi mekanis dalam medium udara menurut pola ramatan
longitudinal. Rambatan gelombang diudara ini dikenal sebagai suara
atau bunyi sedangkan dengan konteks ruang dan waktu, sehingga dapat
menimbulkan gangguan kenyamanan dan kesehatan
2.3. Jenis-Jenis Bising
Kebisingan memiliki beberapa jenis yang di klasifikasikan
berdasarkan spectrum dan sifat bunyi dan berdasarkan pengaruhnya
pada manusia.
Jenis-jenis kebisingan berdasarkan sifat dan spectrum bunyi dapat
di bagi sebagai berikut:
1. Bising Kontinyu
Bising kontinyu merupakan sebuah kebisingan dengan intensitas
tidak lebih dari 6 dB dan tidak putus-putus. Bising kontinyu dibagi
menjadi dua yaitu:
- Wide Sprectrum adalah bising dengan spectrum frekuensi yang luas,
bising ini relatif tetap dalm batas kurang dari 5 dB untuk periode 0,5
detik berturut-turut, seperti suara kipas angin, suara mesin tenun

- Norrow Spectrum, adalah bising yang juga relative tetap, akan tetapi
hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (frekuensi 500,1000,4000)
misalnya gergaji sirkuler, katup gas.
2. Bising Terputus-Putus
Bisng jenis ini sering disebut juga Intermittent noise, yaitu bising
yang berlangsung secara tidak terus-menerus, melainkan ada periode
relatif tenang, misalnya lalu lintas, kendaraan, kapal terbang, kereta
api.
3. Bising Impulsif
Bising ini memiliki perubahan intensitas suara melebihi 40 dB dalam
waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya seperti
suara tmbakan suara ledakan mercon, meriam
4. Bising Impulsif Berulang
Seperti halnya bising impulsif, namun bising ini terjadi secara
berulang-ulang seperti mesin tempa.
Berdasarkan pengaruhnya pada manusia, bising dapat dibagi atas:
1. Bising yang mengganggu (Irritiating noise)
Bising yang menggannggu adalah bising yang mempunyai intensitas
tidak terlalu keras, misalnya mendengkur
2. Bising yang menutupi (Masking Noise)
Bising yang menutupi adalah bunyi yang menutupi pendengaran yang
jelas, secara tidak lagsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan
dan keselamatan tenaga kerja, karena teriakan atau isyarat tanda
bahaya tenggelam dalam bising dari sumber lain.
3. Bising yang merusak (damaging/injurious noise)
Bising yang merusak adalah bunyi yang akan merusak atau
menurunkan fungsi pendengaran.
2.4. Alat Pengukur Kebisingan
Alat ukur yang digunakan pada praktikum ini adalah Sound Level
Meter (SLM). Sound Level Meter merupakan alat ukur tekanan suara.
Gambar Sound Level Meter dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini

Gambar 2.1 Sound Level Meter


2.5 Perhitungan Sound Pressure level (dB) dan Kebisingan Kombinasi
Sound Pressure Level (dB) dapat di hitung dengan rumus
P rms
P 2rms
2
Lp
=
10
log
=
20
log
Pref
P ref

( )

( )

(2.1)
Dimana :
Lp
= Sound Pressure Level (dB)
Log
= Logaritma
Pref
= 20 x 10-6 Pa = Tekanan referensi
Kebisingan kombinasi adalah kebisingan yang diterima oleh pekerja
yang disebabkan oleh dua atau lebih peralatan yang menimbulkan suara
yang tidak di kehendaki. Perhitungan Kebisingan Kombinasi dapat
dilakukan dengan cara perhitungan maupun tabel. Berikut ini rumus
untuk mencari nilai kebisingan kombinasi
Lpt
= 10 log [(P2rms1+P2rms2)]/P2ref
= 10 log (10Lp1/10+ 10Lp2/10)(2.2)
Kebisingan kombinasi dengan menggunakan tael dapat dilakukan
apabila terdapat dua atau lebih sumber bising, maka ukuran decibel dari
2 suara yang berasal dari 2 atau lebih mesin tersebut tidak bisa di
jumlahkan begitu saja, namun harus dilakukan penambahan decibel.
Tabel efek gabungan suara dapat di lihat pada Tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1Efek Gabungan Dua Suara

Perbedaa

Penambahan

n Desibel

Pada Level

Tertinggi
3

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

2.6
2.1
1.8
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.5
0.4

Sumber : Wentz,1999

Lanjutan Tabel 2.1Efek Gabungan Dua Suara


Perbedaa

Penambahan

n Desibel

Pada Level

11
12
more

Tertinggi
0.3
0.2
0

Sumber : Wentz,1999

2.6 Nilai Ambang Batas Kebisingan


Nilai Ambang Batas dari kebisingan pada setiap peraturan memiliki
NAB yang berbeda-beda, berikut adalah tabel NAB Permenakertrans.
Nilai Ambang Batas Kebisingan menurut Permenaker N0 13/2012 dapat
di lihat pada Gambar 2.2 di bawah ini

Gambar 2.2. NAB Kebisingan Permenaker No 13/2012


(Sumber :Depnakertrans 2011)

2.7 Dosisi Paparan Harian (Daily Noise Dose(DND))


Dosis kebisingan/dosis paparan harian atau daily noise dose (dnd)
adalah dosis harian yang di terima pekerja dimana D kurang dari atau
sama dengan 1
Perhitungan Daily Noise Dose dapat dilakukan dengan rumus
C 1 C2
+
+
D = T1 T2
. +..
.(2.3)
Dimana
D= Dosis Harian
C= Waktu kontak aktual pada tingkat suara tertentu

T= Waktu kontak acuan maksimum yang menunjukkan mulai


berbahayanya sebuah tingkat kebisingan atau waktu pemajanan
maksimum.
2.8 Waktu Paparan Maksimum (T)
Untuk intensitas kebisingan yang tidak disebutkan dalam tabel, NIOSH
telah menetapkan wktu maksimum (T) yang di perkenankan bagi para
pekerja untuk berada di sebuah lokasi dengan tingkat (intensitas)
kebisingan tertentu adalah sebagai berikut.
8
T = 2( L85) 3 ....
(2.4)
Dimana
T = Waktu pemajanan maksimum (jam)
8= 8 jam kerja/hari
L=Tingkat (intensitas) kebisingan (dB)
85 = NAB kebisingan (Permenakertrans);OSHA,ACGIH = 90
3= Exchange rate (Permenakertrans); OSHA,ACGIH =5 yaitu angka
yang menunjukkan hubungan antara intensitas kebisingan dengan tingkat
kebisingan.
2.9 Pembuatan Jumlah Kelas dan Lebar Interval Kelas
Ketentuan dalam membuat jumlah kelas dan lebar interval kelas dapat
menggunakan rumus yang dibuat oleh Sturges, yaitu :
1. Jumlah Kelas
m= 1+ 3,3 log n .(2.5)
dimana : m = jumlah kelas
n = jumlah observasi
2. Interval Kelas
R
i= m .
(2.6)
dimana :
i = interval kelas
m = jumlah kelas
R = jarak (range) yakni perbedaan nilai tertinggi dan terndah
(Sumber : Mahfoedz, 2005)

Cara penentuan Titik Pengukuran Ruangan :


1. Pengukuran dilakukan setiap 1 - 1,5 meter (semakin kecil jarak
pengukuran maka semakin baik)
2. Jarak pengukuran dari dinding adalah 1,5 meter
3. Jarak pengukuran dari pintu adalah 2 meter
4. Jarak pengukuran dari jendela adalah 1,5 meter
(Sumber : Modul Praktikum Lingkungan Kerja 2014)

2.10 Pengaruh Kebisingan Terhadap Manusia


Kebisingan dapat menyebabkan berbagai pengaruh terhadap
manusia di antaranya pengaruh fisiologis dan juga psikoligis, serta
ketulian
a. Pengaruh Fisiologis
Kebisingan bernada tinggi sangat mengganggu, terlebih apabila
kebisingan dating secara tiba-tiba dan terputus-putus, dan tidak
terduga hal tersebut dapat menimbulkan reaksi fisiologis seperti:
peningkatan

tekanan

darah,peningkatan

denyut

nadi,

basal

metabolism, gangguan tidur, kontriksi pembuluh darah kecil


terutama pada kaki dan tangan, dapat menyebabkan pucat dan
gangguan sensoris, serta ganggua reflek.
b. Pengaruh Psikologi
Kebisingan mempengaruhi stabilitas mental dan reaksi psikologis,
menimbulkan rasa khawatir, jengkel, dan lai-lain. Stabilitas mental
adalah kemampuan seseorang untuk berfungsi atau bertindak norma.
Kebisingan memang tidak dapat menimbulkan mental illness, namun
dapat memperberat problem mental yang sudah ada. Reaksi
kebisingan psikologis yang timbul akibat kebisingan adalah: marah,
mudah tersinggung, gugup, jengkel.
c. Ketulian
Ketulian merupakan pengaruh yang paling buruk diantara semua
pengaruh yang di timbulkan oleh kebisingan, pekerja yang
mengalami paparan kebisingan dapat mengalami ketulian sementara
dimana fungsi pendengaran akan berkurang. Pekerja dapat juga
mengalami ketulia permanen apabila terkena pemajanan terhadap
intensitas bisng yang tinggi dalam jangka waktu yang lama.

III.

PENGUKURAN
3.1 Peralatan
Cara pengukuran kebisingan, biasanya dilakukan sesuai dengan tujuan
daripada pengukuran itu sendiri antara lain:
1. Pengukuran yang ditujukan hanya sekedar untuk pengendalian terhadap
lingkungan kerja.
2. Pengukuran yang ditujukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap
tenaga kerja yang bersangkutan.
Alat yang digunakan untuk mengukur kebisingan adalah Sound Level
Meter (SLM) dan satuan kebisingan sebagai hasil pengukuran adalah decibel
(dB)
Selain itu sound level meter juga di lengkapi dengan alat penganalisa
frekuensi dalam tingkat oktaf, setengah oktaf, dan sepertiga oktaf.
Setiap akan digunakan Sound Level Meter harus dikalibrasi terlebih dahulu
atau tiap tiga bulan sekali, agar dalam pengukuran diperoleh hasil dengan
ketelitian yang maksimal.

3.2 Bagian-Bagian
Alat yang dgunakan untuk mengukur adalah Sound Level Meter (SLM),
bagian-bagian dari Sound Level Meter (SLM) adalah:
1. Microphone
2. Pengatur intensitas dB range
Range mulai dari 20-80 dB,40-100 dB,60-120 dB,80-140 dB.
3. Tombol HOLD
Tombol HOLDJika di tekan akan menampilkan dan menahan angka
terakhir yang terekam pada tampilan SPL maupun MAX.Dengan
menekan HOLD tidak akan menghentikan update nilai MAX.
4. Tombol RESET
Tombol RESET Jika di tekan akan menghapus nilai MAX dari hasil
pembacaan, dan kemudian akan melkukan pembacaan baru.
5. Tombol BATTERY
Tombol BATTERY Jika di tekan akan menunjukkan kekuatan dari baterai,
dan selama di tekan tidak akan mempengaruhi pengukuran.
6. Tombol RESPON

Tombol RESPON akan mengontrol angka respon meter yang dapat


mengubah signal masuk. Pengukuran kebisingan biasanya menggunakan
SLOW respon, sedangkan untuk FAST respon digunakan untuk mengukur
kebisingan yang durasinya pendek seperti gerakan dari kendaraan. PEAK
respon biasanya digunakan untuk menangkap gerakan yang sangat cepat
dengan durasi yang sangat pendek misal: suara tembakan
SLOW
: durasi 1 detik
FAST
: durasi 12,5 milidetik
PEAK
:durasi 50 mikrodetik dan dapat menangkap puncak (Peak)
sound level dan akan tetap merekam sampai tombol RESET
ditekan
7. Tombol WEIGHTING
Tombol WEIGHTING ini mengontrol frekuensi respon meter. Ada
WEIGHTING A,B,C, dan LIN (Linier)
- Respon WEIGHTING A
:
Respon yang sesuai mendekati
-

kepekaan telinga manusia


Respon WEIGHTING B
:
Respon WEIGHTENING C :

pengukuran terhadapkebisingan pada pemakaian pelindung telinga.


Respon WEIGHTENING LINEAR : Merupakan respon dengan

Jarang digunakan
Sering
digunakan

pada

frekuensi yang melebihi kemampuan dengar manusia. Biasa dipakai


untuk analisa audiometry
8. Tombol MODE
Tombol MODE digunakan untuk memilih Sound Level yang spontan
(SPL) atau untuk memilih MAX dari Sound Pressure Level (MAX)
9. Tombol POWER
Tombol POWER untuk menyalaka (ON) dan mematika (OFF)
10. Overload Detection (OL)
Bila respon di setting pada SPL, Overload Detection akan terlihat dengan
tampilan OL pada saat signal masuk dengan level yang terlalu tinggi
untukpengukuran tersebut.
11. Output Jacks
12. Bola Gabus
Tujuannya untuk mengurangi pengaruh dari aliran udara dan melindungi
3.3.

MICROPHONE dari debu.


Prosedur Kerja
Prosedur penggunaan Sound Level Meter (SLM) adalah sebagai berikut:
1. Memasang MICROPHONE pada tempat yang tersedia

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memasang bola gabus di ujung MICROPHONE


Menekan tombol POWER pada ON untuk menghidupkan
Menekan BATTERY untuk melihat kekuatan baterai
Menekan RESPON pada skala yang SLOW
Menekan WEIGHTENING pada skala A
Meneka MODE ke SPL untuk melakukan pembacaan spontan atau MAX

untuk melihat nilai tertinggi


8. Menekan dB range mulai dari yang terendah. Bila ada tampilaan OL,
maka menaikkan dB Range
9. Untuk menahan nilai, menekan HOLD
10. Untuk menghapus data yang sudah terbaca tekan RESET kemudian
melakukan pembacaan dengan data baru
11. Setelah mendapatkan data yang diinginkan, meneka POWER (OFF)
untuk mematikan
12. Melepaskan MICROPHONE dan bola gabus dari tempatnya, kemudian
menempatkan pada penyimpanan
13. Sebelum di simpan, mengeuarkan baterai dari tempatnya.

Anda mungkin juga menyukai