Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hiperemesis gravidarum merupakan kejadian mual dan muntah
yang

berlebihan

sehingga

mengganggu

aktivitas

ibu

hamil.

Hiperemesis gravidarum sering terjadi pada awal kehamilan antara


umur kehamilan 8-12 minggu. Hiperemesis gravidarum apabila tidak
tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi bahkan
kematian ibu dan janin. Prevalensi hiperemesis gravidarum antara 13% atau 5-20 kasus per 1000 kehamilan. (hiperemesis gravidarum
diakses tanggal 08 juni 2014).
Menurut data World Health Organitation (WHO), pada tahun
2012, sebanyak 585.000 perempuan meninggal saat hamil atau
persalinan. Sebanyak 99% kematian ibu akibat masalah persalinan
atau

kelahiran terjadi di negara-negara berkembang merupakang.

Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan tertinggi


dengan

450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika

dibandingkan dengan rasio kematian ibu di 9 negara maju dan 51


negara permakmuran. (wordpress diakses tanggal 16 mei 2014).

Menurut Depkes RI tahun 2008 jika dibandingkan AKI singapura


adalah 100.000 kelahiran hidup, AKI Malaysia mencapai 160 per
100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI Vietnam sama seperti Negara
Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup, Filipina
112 per 100.000 kelahiran hidup, Brunei darusalam 33 per 100.000
kelahiran hidup, sedangkan di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran
hidup. Menurut depkes pada tahun 2010, penyebab kematian maternal
di indonesia terkaiy kehamilan dan persalinan terutama yaitu
perdarahan 28% sebab lain, yaitu eklampsi 24%, infeksi 11%, partus
lama

5%,

dan

abortus

5%.

(http//ASEAN, 2012 midwifecare.wordpress.com/diakses tanggal

16

mei 2014).
Dari profil dinas kesehatan provinsi Sulawesi selatan (Sulsel)
angka kematian ibu (AKI) tahun 2012 yaitu sebesar 160 orang atau
110,26 per 100.000 kelahiran hidup, terdiri dari kematian ibu hamil 45
orang (28,1%), kematian ibu bersalinan 60 orang (40%), kematian ibu
nifas 55 orang (30%). Adapun kematian ibu menurut umur yaitu < 20
tahun sebanyak 12 orang, umur 20-34 tahun sebanyak 102 orang, dan
35 tahun sebanyak 46 orang.
Data yang di peroleh di BPS Hasibah Abubakar Maros dari
januari sampai desember tahun 2012 terdapat 703 orang ibu hamil
dan

diantaranya

terdapat

10

orang

mengalami

Hiperemesis

Gravidarum, dan januari smapai desember tahun 2013 terdapat 694

orang ibu hamil dan diantaranya terdapat 8 orang mengalami


Hiperemesis Gravidarum.
Dari data tersebut

dapat

di

lihat

jumlah

Hiperemesis

Gravidarum di BPS Hasibah Abubakar Maros tidak terlalu besar, akan


tetapi mengingat bahwa hiperemesis gravidarum dapat berdampak
buruk terhadap ibu dan janin jika tidak ditangani secara cepat dan
tepat. Selain itu akan menimbulkan kecemasan terhadap ibu dan
keluarga.
Berdasarka hal tersebut di atas maka penulis tertarik untuk
membuat karya tulis ilmiah dengan judul menajemen asuhan
kebidanan dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat 1 ada Ny A
gestasi 15 minggu di BPS Hasibah Abubakar Maros tanggal 20 Mei
2014 sebagai bentuk tanggung jawab sebagai bidan dan membantu
mempersiapkan fisik dan mental ibu dalam menerima dan menjalani
setiap pemeriksaa, tindakan serta pemeriksaan tindakan serta
pengobatan yang di berikan dengan menajemen Asuhan kebidanan
untuk mencari pemecahan dari masalah yang ada.
B. Ruang lingkup penilisan
Berdasarkan urain tersebut di atas, maka ruang lingkup
permasalahan dalam penuliasan karya tulis ilmiah ini adalah
Manajemen Asuhan kebidanan pada Ny A kehamilan 15 minggu
dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat 1 di BPS Hasibah Abubakar
Maros tanggal 20 mei 2014
C. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum

Dapat melaksanakan menajemen asuhan kebidanan pada Ny A


kehamilan 15 minggu dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat 1 di
BPS Hasibah Abubakar Maros tanggal 20 Mei 2014, dengan
menggunakan perdekatan manajemen asuhan kebidanan sesuai
dengan wewenang bidan.
2. Tujuan khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian data pada Ny A kehamilan
15 minggu dengan hiperemesis grvidarum Tingkat 1 di Bps
Hasibah Abubakar Maros.
b. Dapat mengidentifikasikan diagnose \ masalah aktual pada Ny
A kehamilan 15 minggu dengan hiperemesis gravidarum
Tingkat 1di Bps Hasibah Abubakar Maros.
c. Dapat mengantisipasi diagonasa\masalah pontensial pada Ny
A kehamilan 15 minggu dengan hiperemesis gravidarum
Tingkat 1di Bps Hasibah Abubakar Maros.
d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kalaborasi guna
pemecahan masalah pada Ny A kehamilan 15 minggu dengan
hiperemesis gravidarum tingkat 1 di Bps Hasibah Abubakar
Maros.
e. Dapat merencanakan tindaka dalam asuhan kebidanan pada
Ny A kehamilan 15 minggu dengan hiperemesis gravidum
tingkat 1 di Bps Hasibah Abubakar Maros.
f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny A
kehamilan 15 minggu dengan hiparemesis gravidarum tingkat 1.
g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada Ny A kehamilan
15 minggu dengan hiperemesis gravidarum tingkat 1 di Bps
Hasibah Abubakar Maros.
h. Dapat mendokumentasikan semua temuan dan tindakan dalam
asuhan kebidanan yang telah di laksanakan pada Ny A
kehamilan 15 minggu dengan hiperemesis gravidarum Tingkat 1
di Bps Hasibah Abubakar Maros.
D. Manfaat Penulisan

Adapaun manfaat penulisan pada kasus tersebut diatas adalah :


1. Manfaat Praktis
Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan
pelaksanaan program di BPS Hasibah Abubakar Maros dalam
menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program
antenatal care terutama pada kasus hipperemesis gravidarum.
2. Mamfaat institusi
Sebagai bahan masukan\pertimbangan bagi rekan-rekan
mahasiswa program D3 kebidanan stikes nani hasanuddin
Makassar dalam penerapan asuhan kebidanan.
3. Mamfaat ilmiah
Diharapkan hasil penulisan ini dapat menjadi sumber informasi dan
memperkaya khasanah ilmu dan pengetahuan dan bahan acuan
bagi penulis selanjutnya.
4. Mamfaat bagi penulis
Adalah proses penulisan ini merupakan pengalaman ilmiah
berharga yang dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah
wawasan dalam asuhan kebidanan khususnya mengenai antenatal
care.
E. Metode penulisan
Metode yang di gunakan dalam penulisan karya ilmiah ini secara
sistematis meliputi: Dalam menyusun karya tulisa ini, metode yang di
gunakan adalah :
1. Studi kepustakaan
Penulisan mempelajari buku-buku\literatul, mengambgan data dari
internet, membaca buku yang berkaitan dengan hiperemesis
gravidum tingkat 1 yang termaksud karya tulis ada.
2. Studi kasus
Melaksanakan studi kasus dengan menggunakan pendekatan
pemecahan masalah melalui asuhan kebidanan yang,

meliputi

pengkajian,

maupun

potensial

merumuskan
melaksanakan

diagonasi\masalah
tindakan

segera

aktual
atau

kolaborasi,

perencanaan, serta melaksanakan evaluasi terhadap asuhan


kebidanan pada hiperemesis gravidarum tingkat 1.
a. Anamnesa
Penulis melakukan Tanya jawab dengan klien, suami maupun
keluarganya yang dapat membantu memberikan keterangan\
informasi yang di butuhkan.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematika untuk menjamin
di perolehnya data yang lengkap mulai dari kepala sampai ke
kaki (head to toe) meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi

dan

pemeriksaan diagonistik lainya dengan menggunakan format


pengkajian yang telah di susun sebelumnya.
c. Pengkajian psikososial
Pengkajian psikososial dilakukan meliputi pengkajian status
emosional, respon terhadap kondisi yang dialami serta pada
interaksi

klien terhadap keluarga, petugas kesehatan dan

lingkunganya.
d. Studi dokumentar
Studi dokumentar

dilakukan

dengan

memplajari

status

kesehatan klien yang bersumber dari catatan bidan, perawat,


petugas laboratorium dan atau hasil pemeriksaan pununjang
lainya yang dapat member kontribusi dalam penyeselesaian
tulisan ini.
e. Diskusi
Penulisan melakukan Tanya jawab dengan dokter dan atau
bidan

yang

menangani

mengadakan

diskusi

lansung
dengan

klien

tersebut

dengan

pengasuh\pembimbing karya tulis ilmiah ini.


F. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memudahkan pemahaman dalam

penulisan

serta
dosen

dan

penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menyusun dan menulis dalam
bab sebagai berikut :
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah


B. Ruang lingkup penulisan
C. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
2. Tujuan khusus
D. Manfaat penulisan
E. Metode penulisan
F. Sistimatika penulisan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan umum tentang kehamilan
1. Pengertian kehamilan
2. Tanda-tanda kehamilan
3. Perubahan fisiologi dalam kehamilan
4. Perubahan psikologi dalam kehamilan
B. Tinjauan umum tentang antenatal care
1. Pengertian Antenatal Care
2. Tujuan Antenatal Care
3. Kebijakan program Asuhan Antenatal Care
C. Tinjauan tentang Hiperemesis Gravidarum
1. Tinjauan umum tentang Hiperemesis Gravidarum
2. Tanda dan klasifikasi
3. Etiologi
4. Patofisiologi
5. Diagnosa
6. Pencegahan
7. penatalaksanaan
D. Tinjauan tentang Manajemen kebidanan
1. Pengertian manajemen kebidanan
2. Tahapan Manajemen Kebidanan
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
BAB III. STUDI KASUS
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Pengkajian dan analisa data dasar


Merumuskan Diagnosa/masalah aktual
Merumuskan diagnosa/masalah potensial
Identifikasi tindakan segera dan kolaborasi
Rencana Asuhan Kebidanan
Penatalaksanaan Asuhan Kebidanan
Evaluasi Asuhan Kebidan

H. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan


BAB IV. PEMBAHASAN
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ABAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN UMUM TENTANG KEHAMILAN


1. Pengertian kehamilan
a. Menurut federasi obsetri gynekologi internasional kehamilan
adalah fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi yang berlangsung
dalam waktu 40 minggu atau 9 bulan menurut kelender
internasional, terbagi dalam 3 trimester yaitu trimester pertama
0 12 minggu, trimester kedua 13 sampai 27 minggu dan .
trimester ketiga 28 40 minggu ( sarwono, 2010 : 213).
2. Tanda dan gejala kehamilan
a. Tanda-tanda presumptive :
1) Amenorea (tidak mendapat haid)
Wanita harus mengetahui tanggal hari pertama haid terakhir
(HPHT) supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran
tanggal

persalinan

(TTP),

yang

dihitung

dengan

menggunakan rumus dari Naegele :


TTP = (hari HPHT + 7) dan (bulan HPHT 3) dan (tahun
HPHT + 1)
2) Mual dan muntah (nausea and vomiting).
Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan
hingga akhir triwulan pertama. Karena sering terjadi pada
pagi hari, disebut morning sickness (sakit pagi). Apabila

10

timbul mual dan muntah berlebihan karena kehamilan,


disebut hiperemesis gravidarum.
3) Mengidam (ingin makanan khusus)
Ibu hamil sering meminta makanan atau minuman tertentu
terutama pada bulan-bulan triwulan pertama. Mereka juga
tidak tahan suatu bau-bauan.
4) Pingsan
Jika berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan
padat, seorang wanita yang sedang hamil dapat pingsan.
5) Tidak ada selera makan (anoreksia)
Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan,
kemudian nafsu makan timbul kembali.
6) Lelah (fatigue)
7) Payudara membesar, tegang, dan sedikit nyeri, disebabkan
pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang
duktus dan alveoli payudara.
8) Miksi sering, karena kandung kemih tertekan oleh rahim
yang membesar. Gejala itu akan hilang pada triwulan kedua
kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala tersebut muncul
kembali karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.
9) Konstipasi/obstipasi karena tonus otot-otot usus menurun
oleh pengaruh hormone steroid.
b. Tanda-tanda kemungkinan hamil
1) Perut membesar
2) Uterus membesar : terjadi perubahan dalam bentuk, besar,
dan konsistensi rahim
3) Tanda Hegar : ditemukannya serviks dan isthmus uteri yang
lunak pada pemeriksaan bimanual saat usia kehamilan 4
sampai 6 minggu.

11

4) Tanda Chadwick : perubahan warna menjadi kebiruanyang


terlihat di porsio, vagina dan labia. Tanda tersebut timbul
akibat pelebaran vena karena peningkatan kadar estrogen.
5) Tanda piskacek pembesaran dan pelunakan rahim ke salah
satu sisi rahim yang berdekatan dengan tuba uterine.
Biasanya tanda ini ditemukan di usia kehamilan 7-8 minggu.
6) Kontraksi-kontraksi kecil uterus jika dirangsang = BraxtonHicks.A
7) Teraba ballottement.
8) Reaksi kehamilan positif.
c. Tanda pasti (tanda positif) :
1) Gerak janin yang dapat dilihat atau dirasa atau diraba, juga
bagian-bagian janin.
2) Denyut jantung janin :
a) Didengar dengan stetoskop-monoaural Laennaec,
b) Dicatat dan didengar dengan alat Doppler,
c) Dicatat dengan feto-elektrokardiogram,
d) Dilihat pada ultrsonografi.
3) Terlihat tulang-tulang janin dalam foto rontgen. ( Mochtar
Rustam, 2013:36).
3. Perubahan fisiologi dalam kehamilan
a. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan bulan pertama dibawah
pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat.
Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar, sebesar telur
bebek, pada kehamilan 12 minggu sebesar telur angsa. Pada
16 minggu sebesar kepala bayi / tinju orang dewasa, dan
semakin membesar sesuai dengan usia kehamilan dan ketika
usia kehamilan sudah aterm dan pertumbuhan janin normal,

12

pada kehamilan 28 minggu tinggi fundus uteri 25 cm, pada 32


minggu 27 cm, pada 36 minggu 30 cm, pada kehamilan 40
minggu TFU turun kembali dan terletak 3 jari dibawah prosesus
xyfoideus. (Ai yeyeh, 2009:39)
b. Serviks uteri
Vaskularasi ke serviks meningkat selama kehamilan, sehingga
serviks menjadi lebih lunak dan warnanya lebih biru. Perubahan
serviks terutama terdiri atas jaringan fibrosa. Glandula servikalis
mensekresikan lebih banyak mukus dan plak bahan mukus
yang akan menutupi kanalis servikalis. Fungsi utama dari plak
mukus ini adalah untuk menutup kanalis servikalis dan untuk
memperkecil resiko infeksi genetalia yang meluas ke atas.
Menjelang

akhir

kehamilan

kadar

hormone

relaksasi

memberikan pengaruh perlunakan kandungan kolagen pada


serviks. (Ai yeyeh, 2009:40)
c. Segmen bawah uterus
Segmen bawah uterus berkembang dari bagian atas kanalis
servikalis setinggi ostium interna bersama sama isthimus
uteri. Segmen bawah lebih tipis dari pada segmen atas dan
menjadi lunak serta berdilatasi selama berminggu minggu
terakhir kehamilan sehingga memungkinkan segmen tersebut
menampung presenting part janin. Serviks bagian bawah baru
menipis dan menegang setelah persalinan terjadi. (Ai yeyeh,
2009:41)

13

d. Vagina dan vulva


Vagina dan serviks akibat hormone estrogen mengalami
perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan
vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiruan ( livide )
disebut tanda chadwick. Vagiana: membiru karena pelebaran
pembuluh darah, PH 3,5-6 merupakan akibat meningkatnya
produksi asam laktobaci Acidophilus, keputihan, selaput lendir
vagina

mengalami

edematus,

hypertropy,

lebih

sensitif

meningkat seksual terutama triwulan III. (Ai Yeyeh, 2009:41)


e. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih didapat korpus luteum
graviditas sampai terbentuknya plasenta pada kiira kira
kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditas kira kira 3 cm.
lalu ia mengecil setelah plasenta terbentuk. Ditemukan pada
awal ovulasi hormaon relaxing, suatu immunoreaktive inhibin
dalam sirkulasi maternal. Relaxing mempunyai pengaruh
menenangkan hingga pertumbuhan janin menjadi baik hingga
aterm. (Ai Yeyeh, 2009:42)
f. Mammae
Mammae akan membesar

dan

tegang

akibat

hormon

somatomammotropin, estrogen dan progesteron akan tetapi


belum mengeluarkan air susu. Pada kehamilan akan terbentuk
lemak sehingga mammae menjadi besar. Apabila mammae
akan membesar, lebih tegang dan tampak lebih hitam seperti

14

seluruh

areola

mammae

karena

hiperpigmentasi.

Pada

kehamilan 12 minggu keatas dari putting susu dapat keluar


cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. (Ai Yeyeh,
2009:42)
g. Sistem endekrin
Selama minggu minggu pertama, korpus luteum dalam
ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron, fungsih
utamanya pada stadium ini adalah untuk mempertahankan
pertumbuhan

desidua

dan

mencegah

pelepasan

serta

pembesaran desidua tersebut. Sel sel trofoblast menghasilkan


hormon karionik gonadotropin yang akan mempertahankan
korpus luteum sampai plasenta berkembang penuh dan
mengambil alih produksi estrogen dan progesteron dari korpus
luteum. (Ai yeyeh, 2009:43)
h. Sistem kekebalan
Kehamilan dianggap berkaitan dengan penekanan berbaagai
macam fungsi imunologi secara humoral dan seluler untuk
menyusaikan diri dengan graft janin semialogenik asing.
Sebenarnya, titer antibody humoral melawan beberapa virus.
Misalnya herves simplek, campak, dan influensa A, menurun
selama kehamilan. Tetapi penurunan titer sebanding dengan
efek homodilus pada kehamilan.(Ai yeyeh, 2009:43)
i. Tractus urianus
Dengan pembesaran yang terjadi pada bulan bulan pertama
kehamilan, uterus akan lebih banyak menyita tempat dalam

15

panggul. Setelah usia kehamilan 3 bulan, uterus keluar dari


dalam rongga panggul dan fungsi kandung kemih kembali
normal. Keinginan buang air kecil yang sering timbul kembali
pada kehamilan menjelang aterm ketika presenting part bayi
masuk ke dalam rongga panggul. (Ai yeyeh, 2009:45)
j. Sistem pencernaan, kardiovaskuler
1) Sistem pencernaan
Fungsih saluran cerna selama hamil menunjukkan
gambaran yang sangat menarik. Pada bulan bulan
pertama kehamilan terdapat perasaan enak ( nauses ).
Mungkin ini akibat kadar hormone estrogen yang meningkat,
ada pula sumber yang mengatakan peningkatan kadar hCG
dalam darah. Tonus otot otot traktus digestivus menurun,
sehingga motilitas seluruh traktus ini juga berkurang, yang
merupakan akibat dari jumlah progesteron yang besar dan
menurunnya kadar motalin, suatu peptida hormonal, yang
diketahui mempunyai efek perangsang oto otot polos.
Makanan lebih lama berada dalam lambung dan apa yang
telah dicernakan lebih lama berada dalam usus usus. Hal
ini baik untuk reabsorsi, akan tetapi menimbulkan juga
obstipasi, yang memang merupakan merupakan keluhan
utama wanita hamil.
2) Sistem kardiovaskuler

16

Perubahan yang terjadi pada jantung, yang khas denyut


nadi istirahat meningkat sekitar 10 sampai 15 denyut
permenit pada kehamilan. Karena diafragma semakin naik
terus selama kehamilan, jantung digeser ke kiri dan ke atas,
sementara pada waktu yang sama organ ini agak berputar
pada sumbu panjangnya. Akibat apeks jantung digerakkan
agak ke lateral dari posisinya pada keadaan tidak hamil
normal, dan membesarnya ukuran bayangan jantung
ditemukan pada radiograf, luasnya perubahan perubahan
ini dipengaruhi oleh ukuran dan posisi uterus, kekuatan otot
otot abdomen, dan komfigurasi abdomen dan toraks. (Ai
yeyeh, 2009:46)
k. Metablisme
Pada wanita hamil, laju metabolik basal ( basal metabolik rate /
BMR ), biasanya meningkat pada bulan keempat gestasi. BMR
meningkat 15 20 % yang umumnya ditemukan pada triwulan
terakhir. (Ai Yeyeh, 2009:56)
4. Perubahan psikologi kehamilan
a. Trimester pertama
Trimester pertama ini sering dirujuk sebagai masa penentuan.
Penentuan untuk wanita menerima kenyataan bahwa ia sedang
hamil, trimester pertama juga sering menjadi masa kekwatiran
dari penantian. Segera setelah konsepsi, kadar hormone
progesteron dan strogen dalam tubuh akan meningkat ddan ini

17

menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi hari,


lemah, lelah, dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak
sehat dan sering kali membenci kehamilannya. Banyak ibu
merasakan

kekecewaan,

penolakan,

kecemasan

dan

kesedihan. Sering kali, biasanya pada awal kehamilannya, ibu


berharap untuk tidak hamil. Hampir 80 % kecewa, menolak,
gelisah, depresi, dan murung.
b. Trimester kedua
Trimester kedua sering dikatakan periode pancaran kesehatan.
Ini disebabkan selama trimester ini wanita umumnya merasa
baik dan bebas dari ketidaknyamanan kehamilan.
c. Trimester ketiga
Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu/
penantian dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak
sabar menunggu kelahiran bayinya. Trimester III adalah waktu
untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orang
tua seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi. (Nurul
kamariah, dkk, 2014: 39).
B. Tinjauan tentang Antenatal Care
1. Pengertian Antenatal Care
Antenatal care adalah asuhan yang diberikan ibu sebelum
persalinan, dan prenatal care ( Ai yeyeh, dkk, 2009 : 2 ).
2. Tujuan Antenatal Care
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan
ibu dan tumbuh kembang ibu dan tumbuh kembang bayi.
b. Meningkaatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental
dan sosial ibu dan bayi.

18

c. Mengenali secara dini ketidaknormalan atau komplikasi yang


mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan persalinan yang cukup bulan, melahirkan
dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal
mungkin.
e. Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan normal dan pemberian
asi eksklusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima
kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Ai
yeyeh, dkk, 2009 : 3).
3. Kebijakan program
Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali
selama kehamilan
a. Satu kali pada triwulan pertama
b. Satu kali padaa triwulan kedua
c. Dua kali pada triwulan ketiga
(Ai yeyeh, 2009:6)
Pelayanan / asuhan standar minimal 10T
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Timbang berat badan dan ukur tinggi badan


Pemeriksaan tekanan darah
Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
Pemeriksaan TFU
Tentukan presentase janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi toksoid

(TT) bila diperlukan


g. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
h. Test laboratorium
i. Tatalaksana kasus

19

j. Temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan


pencegahan komplikasi. (standar 10T dalam antenatal care
diakses tanggal 23 mei 2014)
C. Tinjauan umum tentang hiperemesis gravidarum
1. Pengertian Hiperemesis gravidarum
a. Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai
umur kehamilan 20 minggu, muntah begitu hebat dimana
segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga
mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat
badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton daalam urin
bukan karena penyakit seperti aappendiditis, pielititis, dan
sebagainya. (Nugroho Taufan 2012:187).
b. Adalah mual daan muntah yang berlebihan pada wanita hamil
sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan
umumnya menjaadi buruk, karena terjadi dehidrasi. (Mochtar
Rustam, 2013:141).
c. Pengertian hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi
sampai kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehinggah mempengaruhi
keadaan umum dan pekerjaan sehari hari, berat badan
menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine. (Ai yeyeh,
dkk, 2013 : 118).
d. Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan
pada wanita hamil sehingga pekerjaan sehari hari terganggu

20

dan keadaan umum menjadi buruk. ( Norma nita dan Dwi


mustika, 2013 : 46 ).
2. Tanda dan Klasifikasi Hiperemesis gravidarum
Hiperemesis Gravidarum menurut berat ringannya gejala daapat
dibagi:
a. Hiperemesis gravidarum tingkat I
1) Muntah berlangsung terus menerus menyebabkan penderita
lemah
2) Nafsu makan berkurang
3) Berat badan menurun
4) Kulit dehidrasi tonusnya lemah
5) Tekanan darah turun dan nadi meningjkat
6) Lidah kering
7) Mata tampak cekung
b. Hiperemesis gravidarum tingkat II
1) Penderita tampak lebih lemah
2) Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, tugor kulit
3)
4)
5)
6)

makin kurang, lidah kering dan kotor


Tekanan darah turun
Berat badan makin menurun
Mata ikterus
Gejala hemakonsentrasi makin tampak : urine berkurang,

badan aseton dalam urine meningkat


7) Terjadi gangguan buang air besar
8) Mulai tampak gejala gangguan kesadaran, menjadi apatis
9) Nafas berbau aseton
c. Hiperemesis gravidarum tingkat III
1) Muntah berkurang
2) Keadaan umum wanita hamil makin menurun: tekanan
darah turun, nadi meningkat, dan suhu naik, keadaan
dehidrasi makin jelas
3) Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi ikterus
4) Gangguan kesadaran dalam bentuk : samnolen sampai
koma;

komplikasi

susunan

saraf

pusat

(ensefalopati

21

Wernicke): nistagmus-perybahan arah bola mata, diplopia


gambar tampak ganda, perubahan mental. (Manuaba
I.A.C.dkk, 2013:231)

3. Etiologi Hyperemesis Gravidarum


Penyebab Hyperemesis Gravidarum belum diketahui secara
pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor
toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia.
Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah

1)

ditemukan adalah sebagai berikut :


a. Faktor predisposisi
Primigravida
2) Mola hidatidosa
3) Kehamilan ganda
b. Faktor organic
1) Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal
2) Perubahan metabolic karena hamil
3) Alergi sebagai salah satu respon jaringan ibu terhadap
anak.
c. Faktor psikologi
1) Rumah tangga yang retak
2) Kehilangan pekerjaan
3) Takut terhadap kehamilan dan persalinan
4) Takut terhadap tanggung jawab

sebagai

ibu

dapat

menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual


dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap

22

keengganan

menjadi

hamil

atau

sebagai

pelarian

kesukaran hidup. (Norma Nita dan Dwi Mustika, 2013:46).


4. Patofisiologi Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan
muntah pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat
menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan
alkalosis hipoklomik.
a. Hyperemesis Gravidarum dapat mengakibatkan cadangan
karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energy.
Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis
dengan tertimbunnya asam aseton asetik, asam hidroksi
butirik dan aseton dalam darah.
b. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena
muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler
dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah dan klorida
air

kemih

turun.

Selain

itu

juga

dapat

menyebabkan

hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang


c. Kurangnya kalium sebagai akibat dari muntah dan
bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi
muntah-muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah
lingkaran setan yang sulit di patahkan.
d. Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit
dapat terjadi robekan pada selaput lender esofagus dan
lambung ( Sindrom Mallory-Weiss ) dengan akibat perdarahan

23

gastro intestina. (ilmu asuhan kebidanan diakses tanggal 6 mei


2014)
5. Diagnosa Hiperemesis Gravidarum
Diagnosis hiperemesis gravidarum tidak terlalu sukar karena
penyakit ini berkaitan dengan gestose (gestatio-hamil), yaitu hanya
terdapat pada ibu hamil.
Ibu hamil denagn emesis gravidarum merupakan gestose
yang masih ringan dan diupayakan agar mendapat pengobatan
secara poliklinik tanpa rawat inap. Bertambahnya emesis yang
dapat mengakibatkan gangguan kehidupannya sehari-hari di sebut
hiperemesis graavidaarum
Hiperemesis gravidarum yang berlangsung lama (umumnya
antara minggu 6 12) dapat mengakibatkan gangguan tumbuh
kembang janin intrauteri. (Manuaba I.B.G, 2013:397).
6. Pencegahan Hiperemesis Gravidarum
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan
dengan cara:
a. Memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan
sebagai suatu proses yang fisiologik
b. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
muntah merupakan gejala fisiologi pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah umur kehamilan 4 bulan.
c. Menganjurkan mengubah makanan sehari-hari

dengan

makanan dalam jumlah kecil tapi sering


d. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun
dari tempat tidur , terlebih dahulu makan roti kering atau biscuit
dengan teh hangat.

24

e. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya


dihindarkan
f. Makanan yang disajikan dalam keadaan panas atau sangat
dingin
g. Defekasi teratur
h. Menghindari kekurangan

karbohidrat

merupakan

faktor

penting , dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.


(Ai Yeyeh, 2013:122)
7. Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang
maka diperlukan:
a. Obat-obatan
1)
Sedative : Phenobarbital
2)
Vitamin : vitamin B1 dan B6 atau B kompleks
3)
Anti histamine : dramamin , avomin
4) Anti emetic ( pada keadaan lebih berat ) : disiklomin
hidrokhloride atau khlorpromasin
Penanganan Hyperemesis Gravidarum yang lebih berat perlu
dikelolah di rumah sakit
1) Isolasi
a) Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi
cerah dan peredaran udara yang baik
b) Catat cairan yang keluar masuk
c) Hanya perawat dan dokter yang boleh masuk kedalam
kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita
mau makan.
d) Tidak diberikan makanan/minuman dan selama 24 jam
Kadang-kadang

dengan

isolasi

saja

berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

gejala-gejala

akan

25

2) Terapi psikologik
a) Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat
disebutkan
b) Hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan
c) Kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan
konflik
3) Cairan parenteral
a) Cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukosa 5 % dalam cairan fisiologis (2-3 liter/hari)
b) Dapat ditambah kalium, dan vitamin (vitamin B kompleks,
vitamin C)
c) Bila kekurangan protein dapat diberikan asam amino
secara intravena
d) Bila dalam 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan
umum membaik dapat diberikan minuman dan lambat
laun makanan yang tidak cair. (Ai Yeyeh, 2013:123).
D. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian manajemen Asuhan kebidanan
Manajemen kebidanan adalah metode/alur yang digunakan oleh
bidan dalam menentukan, melakukan dan mencari langkah
langkah pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk
melakukan

pelayanan

dan

menyelamatkan

pasiennya

dari

gangguan kesehatan. ( Heryani R, 2011 : 112 )


2. Tahapan-tahapan manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen kebidanan yang digunakan oleh bidan adalah Helen
Varney (1997). Adapun tahapan-tahapan manajemen kebidanan
menurut Helen Varney adalah
a. Pengumpulan data/pengkajian
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara

26

1) Anamnesa/wawancara
Anamnesa/wawancara ini dilakukan untuk mengetahui
a) Biodata pasien
b) Keluhan pasien
c) Riwayat pernikahan, obstetric (kehamilan, persalinan,
nifas yang lalu), keluarga dan medis, pola kebiasaan
sehari-hari dan keadaan psikososial.
2) Pemeriksaan
a) Pemeriksaan fisik dari kepala sampai ke kaki yang
dilakukan

dengan

pemeriksaan

inspeksi,

palpasi,

auskultasi dan perkusi.


b) Untuk mengetahui tanda-tanda vital
c) Pemeriksaan Khusus untuk mengetahui data dan kondisi
obstetric pasien (keadaan kehamilan, persalinan, dan
lain-lain).
b. Identifikasi Diagnosa, masalah, dan kebutuhan
Setelah data di kumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis
untuk menentukan 3 hal yaitu diaagnosa, masalah dan
kebutuhan. Hasil analisis tersebut dirumuskan sebagai syarat
dapat ditetapkan masalah kesehatan ibu dan anak di komuniti.
Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis yang dapat
ditemukan jawaban tentang
1) Hubungan antara penyakit atau status kesehatan dengan
lingkungan keadaan sosial budaya atau perilaku, pelayanan
kesehatan yang ada serta factor-faktor keturunan yang
berpengaruh terhadap kesehatan. (H.L.Blum)
2) Masalah-masalah kesehatan, termasuk penyakit ibu, anak
dan balita
3) Masalah-masalah utama ibu dan anak serta penyebabnya

27

4) Factor-faktor pendukung dan penghambat


Rumusan masalah dapat ditentukan berdasarkan hasil
analisa yang mencakup masalah utama dan penyebabnya
serta masalah potensial.
c. Identifikasi Diagnosa/Masalah potensial
Identifikasi diagnosa/masalah potensial adalah mengidentifikasi
masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan
dilakukan

pencegahan

sambil

mengamati

klien

bidan

diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial


ini terjadi.
d. Identifikasi kebutuhan penanganan segera/kolaborasi
Merupakan tindakan segera terhadap kondisi yang

di

perkirakan akan membahayakan klien. Oleh karena itu, bidan


harus bertindak segera untuk menyelamatkan jiwa ibu dan
anak. Tindakan ini dilaksanakan secara kolaborasi dan rujukan
sesuai dengan kondisi klien.
e. Rencana asuhan yang menyeluruh (intervensi)
Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan,
rencana pelaksanaaan dan evaluasi. Rencana ini disusun
berdasarkan kondisi klien (diagnosa, masalah dan diagnosa
potensial) berkaitan dengan semua aspek asuhan kesehatan.
Rencana yang dibuat harus rasional dan benar-benar valid
berdasarkan pengetahuan dan teori yang up date serta
evidence terkini serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang
akan dilakukan klien.
f. Pelaksanaan (implementasi)

28

Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas adalah mencakup


rencana pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang akan
dicapai.
Pemberian asuhan dapat dilakukan oleh bidan, klien/keluarga,
atau tim kesehatan lainnya namun tanggung jawab utama tetap
pada bidan untuk mengarahkan pelaksanaannya. Asuhan yang
dilakukan secara efisien yaitu hemat waktu, hemat biaya dan
mutu meningkat.
g. Evaluasi
Kegiatan evaluasi ini dilakukan untuk mengevaluasi keefektifan
asuhan yang diberikan. Hasil evaluasi dapat menjadi data dasar
untuk menegakkan diagnosa dan rencana selanjutnya. Yang di
evaluasi adalah apakah diagnosa sesuai, rencana asuhan
efektif, masalah teratasi, masalah telah berkurang, timbul
masalah baru, dan kebutuhan telah terpenuhi. (Heryani R,
2011:120).
3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
Format SOAP umumnya digunakan untuk mengkaji awal pasien.
a. Subjektife (S)
Menggambarkan pendokumentasian data klien melalui
anamnese. Tanda diperoleh dari hasil bertanya dari pasien,
suami, atau keluarga (identitas umum, keluahan riwayat
menarche, riwayat perkawinan, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, riwayat KB, penyakit penyakit keluarga, riwayat
penyakit keturunan, riwayat psikososial, pola hidup).

29

Catatan ini berhubungan dengan masalah sudut pandang


pasien.

Ekspresi

keluahannya

pasien

dicatat

mengenai

sebagai

kekhawatiran

kutipan

langsung

dan
atau

ringkaasaan yang berhubungan dengan diagnosa. Pada orang


yang bisu, dibagian data dibelakang S diberi tanda O atau
X ini menandakan orang itu bisu. Data subjektif menguatkan
diagnosa yang akan dibuat.
b. Objektife (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan fisik
klien, hasil lab, dan tes diagnostic lain yang dirumuskan dalam
data fokus untuk mendukung assessment. Tanda gejala objektif
yang diperoleh dari hasil pemeriksan (tanda KU, fital sign, fisik,
khusus, kebidaanan, pemeriksaan dalam, laboratorium dan
pemeriksaan

penunjang).

Pemeriksaan

dengan

inspeksi,

palpasi, auskultasi dan perkusi. Data ini member bukti gejala


klinis pasien dan fakta berhubungan dengan diaagnosa. Data
fisiologis, hasil observasi yang jujur, informasi kajian teknologi
(hasil laboratorium, sinar X, rekaman CTG, dan lain-lain) dan
informasi dari keluarga atau oaring lain dapat dimasukkan
dalam kategori ini. Apa yang di observasi oleh bidan akan
menjadi komponen yang berarti dari diagnose yang akan
ditegakkan.
c. Analisa (A)

30

Masalah atau diagnosa yang ditegakkan berdaasarkan data


atau informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau
disimpulkan. Karena keadaan pasien terus berubah dan selaalu
ada informasi baru baik subjektif maupun objektif, dan sering
diungkapkan secara terpisah-pisah, maka proses pengkajian
adalah suatu proses yang dinamik. Sering menganalisa adalah
sesuatu yang penting dalam mengikuti perkembangan pasien
dan menjamin suatu perubaahan baru cepat diketahui dan
dapat diikuti sehingga daapat diambil tindakan yang tepat.
d. Planning (P)
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan
evalusi berdasarkan Assesment. SOAP untuk perencanaan,
implementasi dan evaaluasi dimaasukkan dalam P. (Heryani
R, 2011:125).

31

BAB III
STUDI KASUS

Pada bab ini akan diuraikan mengenai asuhan kebidanan pada Ny. A
gestasi 14-16minggu dengan Hyperemesis Gravidarum tingkat I di BPS
Hasibah Abubakar Maros dengan menggunakan proses manajemen
kebidanan meliputi pengkajian dan analisa data dasar, mengidentifikasi
diagnose/masalah actual dan potensial, mengidentifikasi tindakan segera dan
kolaborasi, rencana asuhan kebidanan, melakukan asuhan kebidanan dan
evaluasi asuhan kebidanan.
A. Identifikasi data dasar
1. Identitas istri dan suami
a. Nama
: NyA / TnA
b. Umur
: 29 tahun / 31 tahun
c. Pendidikan
: SMA / DIII
d. Pekerjaan
: IRT / w. swasta
e. Agama
: islam / islam
f. Suku
: bugis / bugis
g. Golongan darah : B
h. Alamat
: Barangdasi
2. Riwayat Kehamilan Sekarang
a. HPHT : 02 februari 2014, TP : 09 November 2014
b. Belum terasa adanya pergerakan janin
c. Ibu mual muntah yang berlebihan sampai mengganggu aktivitas.
d. Ibu tidak pernah menggunakan obat-obatan termasuk jamujamuan.
e. Untuk BAK dan BAB tidak mengalami gangguan

32

f. Kegiatan ibu sehari-hari sebagai ibu rumah tangga terganggu


karena ibu merasa lemas sehingga ibu banyak tidur
3. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu
Ini merupakan kehamilan yang ketiga, pada hamil yang pertama ibu
juga mengalami mual muntah tapi tidak berlebihan. Ibu melahirkan
anak laki-laki tahun 2010 secara normal yang ditolong oleh bidan di
puskesmas, bayi lahir dengan BB 2,8 kg. dan hamil kedua ibu tidak
mengalami mual dan muntah. Ibu melahirkan anak laki-laki tahun 2011
secara normal yang ditolong oleh bidan di puskesmas, bayi lahir
dengan BB 2 kg.
4. Riwayat Penyakit/kesehatan yang diderita sekarang dan lalu
Tidak ada riwayat penyakit menular dalam keluarga, alergi
terhadap makanan, penyakit jantung, hipertensi, DM dan AIDS /
HIV.
5. Riwayat Psikososial, spiritual dan ekonomi
a. Kehamilan direncanakan dengan suami
b. Pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami
c. Selalu menanyakan keadaannya dan mengharapkan
kehamilannya berlangsung dengan baik
d. Ingin persalinannya di tolong oleh bidan
e. Khawatir dengan keadaannya dan selalu bertanya kepada
bidan
f. Ibu berharap petugas dapat menanganinya segera
g. Ibu tetap melaksanakan ibadah shalat 5 kali sehari
6. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Kebiasaan
1) Jenis
: nasi, lauk-pauk
2) Porsi
: 1 piring
3) Frekuensi
: 2-3 kali sehari
4) Nafsu makan : baik

33

5) Minum

: 7-8 gelas sehari

Perubahan pola nutrisi pada saat hamil :

ibu memuntahkan

setiap apa yang dimakan.


b. Pola eliminasi
1) Kebiasaan BAB
a) Frekuensi
: 1-2 x sehari
b) Konsisten & warna
: lembek dan kuning
c) Tidak ada perubahan pola eliminasi
2) Kebiasaan BAK
a) Frekuensi
: 3-4x sehari
b) Warna dan bau
: kuning/amoniak
c) Tidak ada perubahan pola eliminasi selama
hamil
3) Istirahat
a) Personal Kebiasaan tidur siang 14.00-16.00 wita dan malam
22.00-05.00 wita
b) Selama hamil pola tidur kurang dari biasanya
4) Personal hygiene : bersih
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum tampak lemah
b. Kesadaran komposmentis
c. TB : 160 cm, BB : 52 kg, LILA : 23 cm
d. Berat badan sebelum hamil 58 kg,berat badan sekarang 52 kg
e. TTV : TD : 90/70 mmHg, N : 86 x /menit, S : 36,5 0C, P : 22 x /menit
f. Kepala
Keadaan rambut bersih, rambut tidak rontok dan tidak ada
nyeri tekan, tidak ada oedema, tidak ada cloasma dan tidak
ada nyeri tekan, wajah simetris kiri dan kanan ,raut wajah ibu
nampak

lemah,

konjungtiva

merah

muda,

sclera

tidak

ikterus, mata tampak cekung, bibir kering, lidah kering dan


kotor, tidak ada caries pada gigi, telinga simetris kiri dan
kanan.

34

g. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada nyeri tekan,
tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid.
h. Dada
Payudara simetris kiri dan kanan ,puting susu terbentuk dan
menonjol, tidak ada massa pada payudara, tidak ada nyeri
tekan
i. Abdomen
Pembesaran perut sesuai umur kehamilan TFU 2 jari atas
sympisis, tidak ada bekas operasi, tampak stria albican,
Leopold I TFU 2 jari diatas simpisis, belum teraba bagianbagian janin.
j. Ekstremitas bawah
Tidak ada varises, tidak oedema, refleks patella positif (+)
k. Pemeriksaan Laboratorium : 9 mei 2014, pukul 10.00 wita
1) Darah
: Hb 11gr%
2) Urine
: Albumin (-) dan reduksi (-).
3) Planotest
: Positif
B. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
GIII PII A0, gestasi 14-16 minggu , hyperemesis gravidarum Tingkat I
dengan masalah keterbatasan aktivitas.
1. GI P0 A0

35

DS

: Kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran

DO

: a. Tampak linea nigra dan strie livide

b. pembesaran perut sesuai umur kehamilan


Analisa dan Interpretasi Data :
1) Hal ini ditunjang dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan strea livida
pada daerah abdomen. Adanya linea nigra karena kulit tampak
deposit, pigmen dan hiperpigmentasi otot-otot tertentu, pigmentasi
ini disebabkan oleh panggul Melanopase Stimulating Hormone.
2) Pembesaran perut pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot
polos uterus disamping itu selaput-selaput kolagen menjadi
higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus
dapat mengikuti pertumbuhan janin.(Wiknjosastro, 2010)

2. Gestasi 14-16 minggu


DS : HPHT 02 februari 2014, umur kehamilan 3 bulan
DO : TFU 2 jari atas simpisis (16 cm), TP : 09 november 2014, tanggal
pengkajian 20 mei 2014
Analisis dan Interpretasi Data :

36

Dengan menggunakan rumus neagle maka umur kehamilan dapat di


hitung dari HPHT tanggal 02 februari 2014 sampai tanggal 20 mei 2014
maka gestasi 14-16 minggu. (Yuni Kusmiyati, 2009).
3. Hyperemesis

Gravidarum

Tingkat I
DS : Mual dan muntah setiap mengkonsumsi makanan, mengeluh
nyeri ulu hati, tidak ada nafsu makan.
DO : Ibu tampak lemah, berat badan menurun 6 kg,mata cekung dan
turgor kulit berkurang.
Analisis dan Interpretasi Data :
1) Mual dan muntah dialami oleh kurang lebih 70 % wanita hamil
puncaknya pada usia kehamilan 6-14 minggu kemungkinan
akibat peninggian hormon HCG.
2) Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah,
tidak mau makan, berat badan turun, nyeri epigasrtum, nadi
meningkat 100x/i, tensi menurun, turgor kulit turun, lidah kering
dan mata cekung. Keadaan ini disebut gejala pada hyperemesis
tingkat I . (Sarwono, 2010).
4. Masalah
aktivitas

keterbatasan

37

DS : Tidak ada nafsu makan sehingga merasa lemah dan tidak


dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari.
DO : Tampak lemah dan berat badan menurun 6 kg
Analisa dan interpretasi data :
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada
wanita hamil, sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena
keadaan umumnya menjadi buruk.(Mochtar Rustam, 2013 : 141)
C. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial
Potensial terjadinya hyperemesis gravidarum Tingkat II.
D. Langkah IV. Tindakan Segera/Kolaborasi
Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk pemberian obat
E. Rencana Tindakan Kebidanan
Tujuan :
1. Kehamilan berlangsung dengan normal sampai
aterm.
2. Hyperemesis gravidarum tingkat I dapat teratasi
menjadi normal
Kriteria :

a.
b.
c.
d.

1. Keadaan umum ibu baik


2. Mual dan muntah sudah berkurang
3. Nafsu makan baik
4. Nyeri epigastrium berkurang/hilang
5. Berat badan meningkat
6. TTV dalam batas normal :
TD : sistole = 90-130 mmHg, diastole = 60-80 mmHg
N
: 60-100 x/menit
P
: 16-24 x/menit
S
: 36,5C-37,5C.

38

Rencana tindakan :
1. Ciptakan suasana akrab dan bersahabat dengan
Rasional:

ibu,serta berikan dukungan dan bimbingan.


Dengan suasana yang nyaman dan akrab dan bersifat
bersahabat

dengan

diperhatikan,

hal

ibu,
ini

membuat

membantu

ibu

merasa

dalam

proses

penyembuhan.
2. Sampaikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
keluarga.
Rasional: Penyampaian dan penjelasan tentang hasil pemeriksaan
hari itu kepada ibu sangat penting agar ibu dapat
mengetahui keadaan kehamilannya (kondisi ibu dan janin).
3. Anjurkan makan dan minum sedikit demi sedikit
tapi sering misalnya kue kering dan teh manis.
Rasional : Pemberian makan sedikit demi sedikit dapat merangsang
nafsu makan dan mencegah kontraksi asam lambung
yang berlebihan yang dapat merangsang terjadinya mual
dan muntah dan sedangkan pemberian minum untuk
mengganti out put cairan, melembabkan bibir, mulut dan
tenggorokan agar tidak kering.
4. Anjurkan ibu untuk menghindari makanan yang
berminyak, berlemak, dan pedas
Rasional : Makanan yang berminyak, berlemak, pedas dapat me
ningkatkan rasa mual.

39

5. Anjurkan untuk makan biscuit atau roti kering


sebelum bangun dari tempat tidur dan hindari
makanan yang berlemak.
Rasional : Roti kering dan biscuit tidak merangsang asam lambung
dan mengandung gula sebagai sumber karbohidrat, dan
asupan

karbohidrat

gangguan

pada

yang

lambung

cukup

dapat

mengurangi

yang

kosong

sedangkan

makanan gorengan yang berlemak dapat meningkatkan


asam lambung sehingga dapat menimbulkan rangsangan
untuk muntah.
6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi air 8-9 gelas
perhari.
Rasional : Dengan minum air yang banyak maka dehidrasi tidak akan
terjadi.
7. Jelaskan pada ibu tentang Gizi ibu hamil
Rasional : Makanan yang mengandung cukup karbohidrat (KH) dan
protein sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk
pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh janin.
8. Diskusikan dengan dokter untuk pemberian obat anti
muntah.
Rasional : Dengan pemberian obat anti muntah akan mengurangi
F.
a.
b.
c.
d.
e.

mual-muntah yang dialami ibu.


Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
1. Identitas Ibu / Suami
Nama
: Ny.A / Tn.A
Umur
: 29 tahun / 31 tahun
Pendidikan : SMA / DIII
Pekerjaan : IRT / w.swasta
Agama
: Islam / Islam

40

f. Suku
: bugis / bugis
g. Golongan darah
:B
h. Alamat
: Barangdasi
2. S ( Subjektif )
Kehamil ketiga dan tidak pernah keguguran, HPHT : 02 februari 2014,
gestasi 14-16 minggu, mual dan muntah setiap kali mengkomsumsi
makanan, tidak ada nafsu makan sehingga merasa lemah, nyeri pada
epigastrum.
3. O ( Osbjektif )
a. Keadaan

umum

lemah,

kesadaran

composmentis
b. TB 160 cm, BB sekarang 52 kg, LiLA : 23
cm
c. TTV : TD : 90/70 mmHg, N : 86 x/i, P : 22
x/i, S : 36,50C
d. Konjungtiva merah muda, lidah tampak
bersih,

caries

tidak

ada,

pembesaran

kelenjar limfe dan tiroid tidak ada, payudara


simetris, putting terbentuk
e. Pemeriksaan Laboratorium

albumin

reduksi (-), darah HB, 11gr %


4. A ( Analisa )
GIII PII A0, gestasi 14-16 minggu , hiperemesis gravidarum Tingkat I
dengan masalah keterbatasan aktifitas.

41

5. P ( Penatalaksanaan )
Tanggal 20 mei 2014, pukul 10.30 wita
Jam 10.30 : Menciptakan suasana akrab dan bersahabat dengan ibu,
serta berikan dukungan dan bimbingan, ibu senang
dengan dukungan yang diberikan
Jam 10.35 : Menyampaikan hasil pemeriksaan pada ibu dan asuhan
yang diberikan, ibu memahami
Jam 10.37 : Menganjurkan ibu makan dan minum sedikit demi sedikit
tapi sering, misalnya kue kering dan teh manis, ibu
bersedia
Menganjurkan ibu untuk makan biskuit dan roti sebelum
bangun dari tempat tidur,ibu mengerti
Menghindari makanan yang berlemak, berminyak, dan
pedas, ibu mengerti
Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi air 8-9 gelas per
hari, ibu mau melakukannya.
Jam 10.40

: Menjelaskan HE tentang Gizi ibu hamil

42

Jam 10.45

: pemberian obat , ibu diberikan vitamin C dan obat emesis


yaitu mediamer B6.

Jam 10.48

: menganjurkan ibu untuk datang kembali jika keluhan yang


dirasakan tidak berubah. Ibu mengerti.

43

Tanggal 24 mei 2014. Jam 09.30 wita

.
.
.

3.
4.

1. (S) Subjektif
Ibu masih mual dan tidak muntah
Ibu sudah merasa baikkan
Nyeri epigastrium mulai berkuran
2. (O) Objektif
a. Kesadaran komposmentis:
b. TTV TD : 90/70 mmHg, N : 82 x/I, S : 36 C, P: 20x/i
c. Wacah tampak ceriah
(A) Analisa
Ibu hamil dengan riwayat hiperemesis gravidarum tingkat I
(P) Penatalaksanaan
Jam 09.45 : Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang
muntah merupakan gejala yang normal pada kehamilan
muda dan akan hilang setelah 4 bulan. Ibu mengerti
penjelasan yang telah diberikan
Jam 09.48 : Menganjurkan ibu di pagi hari sewaktu bangun tidur
jangan langsung bangun cobalah duduk dahulu dan
baru perlahan berdiri bangun, bila merasa mual bangun
tidur pagi makanlah snak atau biskuit sebelum mencoba
untuk berdiri. Ibu mengerti dan akan melaksanakan.
Jam 09.50 : Menganjurkan ibu untuk menghindari makanan yang
berminyak, berlemak, dan pedas seperti makanan yang

44

digoreng, rujak, makanan bersantan karena dapat


memperburuk rasa mual, ibu mengerti dan akan
melaksanakan.
Jam 09.54 : Menganjurkan ibu untuk banyak minum air putih atau jus
agar tidak dehidrasi serta menghindari minuman yang
mengandung kafein dan karbonat seperti kopi dan
minuman yang bersoda. Ibu mengerti.
Jam 09.55 :

menganjurkan

ibu

untuk

sering

memeriksakan

kehamilannya atau jika ada keluhan. Ibu mengerti

BAB IV
PEMBAHASAN

45

Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan yang


terjadi antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus. Dalam penerapan
Asuhan Kebidanan pada Ny.A gestasi 14-16 minggu dengan Hyperemesis
Gravidarum Tingkat I Di BPS Hasibah Abubakar Maros Tanggal 20 mei 2014.
Pembahasan ini disusun berdasarkan teori dari asuhan yang nyata
dengan pendekatan Asuhan kebidanan yang terdiri dari 7 langkah
A. Identifikasi Data Dasar
Dalam

pengkajian

dimulai

dari

pengumpulan

data

berupa

anamnese serta data-data yang dapat ditemukan saat melakukan


anamnese yang dapat mendukung terjadinya kasus tersebut. Setelah
dilakukan anamnese dilakukan pemeriksaan fisik berupa inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi kemudian pemeriksaan laboratorium untuk
mendukung hasil pemeriksaan.
Ibu hamil dikatakan mengalami hyperemesis gravidarum Tingkat I
bila mengalami keluhan-keluhan sebagai berikut : Muntah terus menerus
yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu
makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium, nadi
meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor
kulit berkurang,lidah mengering dan mata cekung.

46

Pada tinjauan kasus yaitu melalui pengkajian pada anamnese dan


pemeriksaan fisik ditemukan: Ibu mengeluh mual dan muntah setiap kali
makan, mengeluh nyeri ulu hati dan tidak ada nafsu makan, ibu nampak
lemah, berat badan sekarang 50 kg sedangkan berat badan ibu sebelum
hamil 52 kg, turgor kulit jelek, bibir dan lidah tampak kering, konjungtiva
merah muda, mata tampak cekung dan sklera tidak ikterus, dan tandatanda vital dengan tekanan darah 110/70mmHg, pernapasan 22 x /menit,
nadi 86 x /menit, suhu 36,50C.
Dengan demikian apa yang dipaparkan dalam tinjauan pustaka
dan yang ditemukan pada studi kasus

ditemukan adanya perbedaan,

dimana pada tinjaun kasus terdapat nadinya normal yaitu 86x/menit


sedangkan pada teori dikatakan hyperemesis gravidarum tingkat I adalah
nadi mengalami peningkatan 100 x/menit.
B. Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Dalam menegakkan suatu diagnosa atau masalah kebidanan harus
didukung dan ditunjang oleh beberapa data baik data subjektif maupun
data objektif yang diperoleh dari hasil pengkajian yang telah dilaksanakan.
Dari data hasil pengkajian pada Ny. A maka penulis merumuskan
diagnosa aktual yaitu hipermesis gravidarum Tingkat I. Dengan demikian
penerapan tinjauan pustaka dan studi kasus pada Ny.A secara garis

47

besar tampak ada persamaan dalam diagnosa aktual yang ditegakkan


sehingga memudahkan dalam memberikan tindakan selanjutnya.
C. Antisipasi Diagnosa/Masalah Potensial
Langkah ini dalam proses manajemen kebidanan merupakan
antisipasi terjadinya masalah sehingga hal tersebut tidak berlanjut
menjadi masalah yang memerlukan penanganan yang serius. Dalam
tinjauan pustaka Hiperemesis Gravidarum Tingkat I apabila tidak ditangani
dengan baik akan berlanjut menjadi hiperemesis gravidarum tingkat II dan
terjadinya dehidrasi yang dapat mengakibatkan antara lain terjadinya
pertumbuhan janin yang terhambat.
Sehubungan hal tersebut tidak ada perbedaan antara tinjauan
pustaka dan studi kasus yang terjadi.
D. Tindakan Segera / Kolaborasi
Tidak ada data yang menunjang untuk dilakukannya tindakan
segera/kolaborasi.
E. Rencana Tindakan
Membuat rencana tindakan asuhan kebidanan hendaknya ditentukan
tujuan dan kriteria yang ingin dicapai dalam penerapan asuhan kebidanan
pada Ny. "A" dengan kasus hiperemesis gravidarum tingkat I. Dalam
tinjauan pustaka penanganan /tindakan hiperemesis gravidarum tingkat I

48

yaitu berupa anjuran makan dalam porsi kecil tapi sering, makan roti
kering atau biscuit dengan minuman teh manis, terapi obat dan terapi
psikologik, menghindari makanan yang berminyak,pedas, dan berlemak,
istirahat yang cukup, gizi ibu hamil, pemberian obat anti mual muntah dan
vitamin sehingga tidak berlanjut ke keadaan yang lebih berat.
F. Implementasi
Memantau keadaan muntah ibu dan tanda-tanda vital, pantau berat
badan, He tentang perubahan fisiologis, tanda bahaya dalam kehamilan,
istirahat yang cukup, pemberian obat anti muntah, vitamin dan penenang
sehingga tidak berlanjut ke keadaan yang lebih berat.
Rencana tindakan yang sudah dibuat pada Ny.A sudah
dilaksanakan seluruhnya di BPS Hasibah Abubakar Maros dari tanggal
20 Mei 2014 dalam pelaksanaan asuhan kebidanan penulis tidak
menemukan hambatan yang berarti karena adanya kerjasama dan
penerimaan yang baik dari klien dan keluarga serta dukungan, bimbingan
dan arahan dari pembimbing di lahan praktek.
G. Evaluasi Asuhan Kebidanan
Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses Asuhan kebidanan
yaitu penilaian terhadap tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan klien
dengan berpedoman pada masalah dan tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya.

49

Hasil evaluasi setelah perawatan tanggal 20 mei 2014 yaitu


keadaan umum ibu sudah membaik , mual muntah berkurang, tandatanda vital dalam keadaan normal, dehidrasi sudah teratasi, nafsu makan
membaik, tidak nyeri pada epigastrum, pembesaran perut sesuai umur
kehamilan dan ibu mengerti tentang penjelasan dan anjuran yang
diberikan.
Dari hasil yang diperoleh diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian
masalah dapat teratasi dengan baik tetapi tidak menutup kemungkinan
masalah itu akan muncul kembali sehingga memerlukan perawatan dan
pengawasan yang lebih lanjut.

BAB V
PENUTUP

50

Setelah penulis membahas dan menguraikan kasus pada Ny. A


dengan Hiperemesis Gravidarum tingkat I di BPS Hasibah Abubakar Maros ,
maka dalam bab ini penulis menarik kesimpulan dan membuat saran sebagai
berikut :
A Kesimpulan
1. Hyperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada
wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena
keadaan umumnya lemah sehingga mengganggu aktivitas.
2. Penyebab dari hyperemesis gravidarum belum dapat ditentukan
dengan pasti namun diduga faktor yang amat berperan adalah
faktor hormonal, faktor organik dan faktor psikologis.
3. Hyperemesis gravidarum jika diberikan penanganan yang lebih
baik dan lebih awal akan lebih cepat mengatasi morbiditas dan
dapat mencegah terjadinya mortalitas bagi ibu dan janin.
4. Berdasarkan praktek yang dilaksanakan di BPS Hasibah Abubakar
Maros

dalam

memberikan

asuhan

kebidanan

pada

kasus

Hyperemesis Gravidarum tingkat I pada Ny.A menunjukkan tidak


ada kesenjangan dengan teori yang telah ada. Hal ini dapat dilihat
dari awal pengkajian sampai pada evaluasi dan pendokumentasian
asuhan kebidanan yang diberikan pada klien tersebut dapat

51

terlaksana dengan baik dan didukung oleh kerjasama yang baik


antara klien, tim paramedic dan tim dokter.
B. Saran-Saran
1 Saran Untuk Petugas Kesehatan
Sebagai seorang petugas kesehatan khususnya bidan diharapkan
dapat mengetahui tanda dan gejala hyperemesis gravidarum sehingga
dapat segera mengambil keputusan klinik yang tepat serta bidan dapat
menjelaskan tanda gejala dari hyperemesis gravidarum .
2 Saran untuk Ibu Hamil
a. Diharapkan klien (ibu hamil) dapat segera memeriksakan dirinya
sejak merasa dirinya hamil dan bersedia melaksanakan nasehat
serta anjuran yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga ibu
mengerti dan paham dampak yang terjadi pada ibu dan janinnya.
b. Pentingnya kematangan fisik dan mental ibu dalam setiap
kehamilan agar status kesehatan ibu dan janin tetap optimal.
3 Saran bagi Institusi Pendidikan
Diharapakan setiap institusi pendidikan dapat meningkatkan dan
mengembangkan metode pelaksanaan menajemen asuhan kebidanan
dalam memecahkan masalah kebidanan.