Anda di halaman 1dari 22

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pertanaman (cropping system) adalah suatu sistem yang menyangkut
segala sesuatu yang berkaitan dengan aktifitas produksi tanaman dalam suatu
sistem usaha tani. Misalnya pola pertanaman, teknik budidaya tanaman, tenaga
kerja, pengelolan dan sebagainya. Model sistem pertanaman disusun berdasarkan
asumsi bahwa sistem pertanaman yang terdapat di suatu wilayah, pada dasarnya
merupakan ekspresi dari tanggapan petani dalam mengendalikan lingkungannya.
Pola tanam adalah merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan
dalam satu tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pola tanam
merupakan bagian atau sub sistem dari sistem budidaya tanaman, maka dari
sistem budidaya tanaman ini dapat dikembangkan satu atau lebih sistem pola
tanam. Pola tanam ni diterapkan dengan tujuan memanfaatkan sumber daya secara
optimal dan untuk menghindari resiko kegagalan. Namun yang penting
persyaratan tumbuh antara kedua tanman atau lebih terhadap lahan hendaklah
mendekati kesamaan.
Pola tanam di daerah tropis, biasanya disusun selama satu tahun dengan
memperhatikan curah hujan, terutama pada daerah atau lahan yang sepernuhnya
tergantung dari hujan. Makan pemilihan jenis/varietas yang ditamanpun perlu
disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah hujan.
Pola tanam adalah pengaturan penggunaan lahan pertanaman dalam kurun
waktu tertentu. Tanaman dalam satu areal dapat diatur menurut jenisnya. Ada pola
tanam monokultur, yakni menaman tanaman sejenis pada satu arealtanam. Ada

pola tanam campuran, yakni beragam tanaman ditanam pada satuareal. Ada pula
pola tanam bergilir, yaitu menanam tanaman secara bergilirbeberapa jenis
tanaman

pada

waktu

berbeda

di

aeral

yang

sama.

Pola tanam dapat digunakan sebagai landasan untuk meningkatkan produktivitas


lahan. Hanya saja dalam pengelolaannya diperlukan pemahankaedah teoritis dan
keterampilan yang baik tentang semua faktor yang menentukan produktivitas
lahan

tersebut.

Biasanya,

pengelolaan

lahan

sempituntuk

mendapatkan

hasil/pendapatan yang optimal maka pendekatan pertanianterpadu, ramah


lingkungan, dan semua hasil tanaman merupakan produk utamaadalah pendekatan
yang bijak.
Pengetahuan mengenai pola tanam sangat perlu bagi petani. Sebab dari
usaha tani yang dilakukan, diharapkan dapat mendatangkan hasil yang maksimal.
Tidak hanya hasil yang menjadi objek, bahkan keuntungan maksimum dapat
didapat dengan tidak mengabaikan pengawetan tanah dan menjaga kestabilan
kesuburan tanah.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum sitstem pertanaman ini adalah agar mahasiswa
mampu menerapkan teknik budidaya tanaman semusim dengan pola tanam
tumpangsari dan mengelola usaha tani dengan baik.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pertanaman ganda (Multiple cropping), yaitu intensifikasi pertanaman dalam


dimensi waktu dan ruang. Bentuknya adalah penanaman dua jenis tanaman atau
lebih pada lahan yang sama dalam kurun waktu satu tahun. Menurut bentuknya,
pertanaman ganda ini dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : pertanaman
tumpangsari (Intercropping) dan pertanaman berurutan (Sequential Cropping).
Hampir semua petani dengan lahan sempit di daerah tropis masih terus melakukan
budidaya ganda. Selama dua dasawarsa yang lalu, para ilmuwan semakin
menyadari bahwa hal ini merupakan praktek yang sangat cocok untuk
memaksimalkan produksi dengan input luar yang rendah sekaligus meminimalkan
resiko dan melestarikan sumberdaya alam (Beets, 1982).
Thahir 1994, menyebutkan Multiple cropping adalah suatu sistimbercocok
tanam selama satu tahun atau lebih/kurang pada sebidang tanah yang terdiri
atasbeberapa kali bertanam dari satu atau beberapa jenis tanaman secara bergilir
atau

bersisipan,dengan

maksud

meningkatkan

produktivitas

tanah,

atau

pendapatan petani tiap satuan luasdan satuan waktu. Menurut Seetisarn (1977),
multiple cropping didifinisikan sebagaiintensifikasi penanaman dalam dimensi
waktu dan ruang, misalnya menanam dua macamtanaman atau lebih pada
sebidang tanah sama dalam waktu satu tahun.
Produksi yang lebih tinggi pada tanaman tumpangsari dapat diperoleh
dengan diusahakan menananam tanaman yang habitusnya berbeda, sehingga 2
jenis tanaman yang ditumpangsarikan akan memanfaatkan faktor-faktor

pertumbuhan dengan lebih baik jika tanaman yang ditumpangsarikan mempunyai


kanopi, struktur dan sistem perakaran yang berbeda (Prajitno, 1992).

III.METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain cangkul, sabit, tali
raffia, roll meter, tugal, sprayer, oven, kantong plastik, timbangan analitik dan alat
tulis. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain benih bayam, benih buncis,
pupuk urea, pupuk KCL dan pupuk SP-36.
B. Prosedur Kerja
1. Lahan berbentuk petak disiapkan dengan ukuran petak 2 m x 3 m. Pada
praktikum kelompok kami menggunakan tanaman buncis dengan jarak tanam
40cm x 30 cm dan diselingi dengan tanaman bayam.
2. Pengolahan tanah dilakukan dengan dua tahap, yaitu pengolahan tanah
pertama bertujuan untuk membajak tanah dan menghilangkan gulma yang
tumbuh; pengolahan yang kedua bertujuan untuk menggemburkan dan
menghaluskan tanah sehingga tanah menjadi gembur dan rata hingga tanah
siap untuk ditanami.
3. Penanaman dilakukan secara tumpangsari antara tanaman utama yaitu buncis
dengan bayam. Penanaman dilakukan secara serentak. Penanaman dilakukan
setelah pupuk kandang diberikan sebagai pupuk dasar.
4. Pemupukan susulan dilakukan sebanyak bagian pupuk N dan dilakukan
pada saat 4 minggu setelah tanam.
5. Pengairan dilakukan, pemberian air ini dilakukan bila keadaan tanaman
kekurangan air atau kekeringan.
6. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan tergantung kepada tingkat
serangan dengan menggunakan pestisida
7. Pengamatan dilakukan. Variabel yang diiamati yaitu variabel pertumbuhan,
komponen hasil serta kondisi lingkungan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
B. Pembahasan
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi
tanaman adalah dengan memilih sistem pola tanam yang tepat. Sistem pola tanam
dapat dilakukan dengan monokultur atau polikultur.
Pertanaman Tunggal (Monoculture) adalah penanaman satu jenis tanaman
secara berulang kali pada suatu luasan lahan tertentu. Pertanaman tunggal dapat
dilakukan untuk tanaman semusim maupun tanaman tahunan.
Kelebihan dari pola tanam monokultur yaitu teknis budidayanya relatif
mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu
jenis saja. Sedangkan kelemahannya ialah tanaman akan lebih mudah terserang
hama maupun penyakit (Sastradiharja, 2005).
Pertanaman ganda (Multiple Cropping) adalah suatu sistem pertanaman atau
usahatani yang mengusahakan dua atau lebih tanaman budidaya pada suatu luasan
lahan

tertentu.

Tujuan

pertanaman

ganda

adalah

untuk

meningkatkan

produktivitas lahan dan mengurangi resiko kegagalan panen.


Bentuk-bentuk pertanaman ganda:
1)

Tumpang Sari (Intercropping)

Sistem tumpang sari, yaitu sistem bercocok tanaman pada sebidang tanah
dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman dalam waktu yang bersamaan.
Sistem tumpang sari ini, disamping petani dapat panen lebih dari sekali setahun
dengan beraneka komoditas (deversifikasi hasil), juga resiko kegagalan panen

dapat ditekan, intensitas tanaman dapat meningkat dan pemanfaatan sumber daya
air, sinar matahari dan unsur hara yang ada akan lebih efisien.
Ada tiga jenis bertanam tumpang sari yakni :.
a) Tanaman campuran (Mixed Cropping) adalah penanaman dua atau lebih
jenis tanaman secara bersama-sama di atas lahan yang sama dengan tidak
memperhatikan jarak tanam.
b) Tanaman baris (Row Intercropping) di atas lahan yang sama ditanam dua
atau lebih tanaman dengan mempertimbangkan baris-baris dan jarak tanam
tertentu.
c) Sedangkan dalam system tanam tumpang sari pita/jalur

(Strip

Intercropping) di atas lahan yang sama ditanam dua atau lebih tanaman
dalam jalur-jalur yang ditentukan. Sistem tumpangsari jenis terakhir ini
sering disebut sebagai system surjan.
2)

Sistem penanaman ganda yang lain yaitu sistem tumpang gilir, yang

merupakan cara bercocok tanaman dengan menggunakan 2 atau lebih jenis


tanaman pada sebidang tanah dengan pengaturan waktu. Penanaman kedua
dilakukan setelah tanaman pertama berbunga. Sehingga nantinya tanaman bisa
hidup bersamaan dalam waktu relatif lama dan penutupan tanah dapat terjamin
selama musim hujan.
Adapun kelebihan dari sistem polikultur atai sistem tanam ganda antara lain:

a. Mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman


yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat

mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau
allicin,
b. Menambah kesuburan tanah.
Dengan menanam kacang-kacangan- kandungan unsur N dalam tanah
bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar.
Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar
dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya
akan lebih gembur.
c. Dapat menambah kesuburan tanah
Menanam tanaman kacang-kacangan berdampingan dengan tanaman jenis
lainnya dapat menambah kandungan unsur Nitrogendalam tanah karena pada
bintil akar kacang-kacangan menempel bakteri Rhizobium yangdapat mengikat
Nitrogen dari udara. Dan menanam secara berdampingan tanaman yang
perakarannya berbeda dapat membuat tanah menjadi gembur.
d. Meminimalkan hama dan penyakit tanaman
Sistem polikultur dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutuskan siklus
hidup hama dan penyakit tanaman. Menanam tanaman secara berdampingan dapat
mengurangi hama penyakit tanaman salah satu pendampingnya, misalnya :
bawang daun yang mengeluarkan baunya dapat mengusir hama ulat pada tanaman
kol atau kubis.
e. Mendapat hasil panen beragam yang menguntungkan
Menanam dengan lebih dari satu tanaman tentu menghasilkan panen lebih
dari satu atau beragam tanaman. Pemilihanragam tanaman yang tepat dapat

menguntungkan karena jika satu jenis tanaman memilikinilai harga rendah dapat
ditutupi oleh nilai harga tanaman pendamping lainnya.
(Pracaya, 2002)
Kekurangan sistem polikultur adalah :
Apabila pemilihan jenis tanaman tidak sesuai, sistem polikultur dapat
memberi dampak negatif, misalnya :
a. Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman
b. OPT banyak sehingga sulit dalam pengendaliannya
c. Pertumbuhan tanaman akan saling menghambat
Tanaman yang kami gunakan dalam menerapkan sitem tanam ganda yaitu
Buncis dan Bayam. System yang kami gunakan yaitu tumpangsari, berikut
penjelasan tentang komoditas yang kami gunakan.
1. Buncis
a. Deskripsi
Buncis yang memiliki nama latin Phaseolus vulgaris merupakan tanaman
sayuran buah yang memiliki batang berbentuk sulur dengan daun trifoliate
berselang-seling . Tanaman ini banyak dibudidayakan di daerah tropis dan
subtropis, serta di daerah yang beriklim sedang pada saat musim panas.
Menurut Zulkarnain (2013), berdasarkan sifat pertumbuhannya, buncis ada 2
tipe, yaitu indeterminate dan determinate. Kultivar dengan tipe pertumuhan
indeterminate tumbuh dengan tipe ketinggian 2-3 m, sedangkan determinate dapat
mencapai ketinggian 20-60 cm dengan bunga terminal setelah daun keeempat
hingga kedelapan. Bunga tanaman buncis tergolong menyerbuk sendiri karena

penyerbukannya pada saat setelah bunga membuka penuh (antesis). Buah buncis
berupa polong dengan panjang bervariasi dari 80-20 cm dan lebar 1-1 cm.
tergantung pada kultivar dan keadaan lingkungan, jumlah biji dalam setiap polong
bervariasi antara 4-12 butir (Zulkarnain, 2013).
Bentuk dari bijinya pun bervariasi ada yang bulat dan ada pula yang
menyerupai bentuk ginjal. Warna kulit biji buncis dapat berwarna putih kuning,
kehijauan, ping, merah, ungu, cokelat, atau hitam. Batang tanaman Buncis
umumnya berbuku-buku, yang merupakan tempat melekat tangkai daun. Daun
Buncis bersifat majemuk, dan helai daunnya berbentuk

jorong segi tiga

(Rukmana, 1994).
Di samping sifat pertumbuhan yang memanjat, kacang buncis adapula
yang memiliki pertumbuhan menyemak dan dikenal sebagai kacang jogo.
Menurut Sunaryono (2004) mengemukakan bahwa dua tipe kcang jogo yang
dibudidayakan di Indonesia, yaitu jogo cokelat dan jogo merah. Sedangkan
kacang buncis yang memiliki pertumbuhan memanjat yang banyak diusahakan di
Indonesia antara lain Surakarta, Helda, dan Hawaian Wonder.
Klasifikasi kacang buncis sebagai berikut :
Devisi

: Spermatofita

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dikotilledon

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Phaseolus

Spesies : Phaseolus vulgaris


b. Syarat Tumbuh
Seperti tanaman yang lain, buncis memiliki syarat tumbuh untuk
berproduksi dengan baik. Tanah dan iklim merupakan dua factor ekologis yang
perlu di perhatikan agar buncis yang di usahakan mampu tumbuh dengan baik dan
berproduksi secara maksimal.
Budidaya buncis sangat baik apabila dilakukan di tanah Andosol karena
tanah ini memiliki drainase yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan
produksi buncis. Tetapi selain di tanah Andosol menurut Yamaguchi (1983),
buncis dapat ditanam pada berbagai jenis tanah sepanjang tanah tersebut memiliki
pori udara yang cukup dan drainase yang baik untuk mendukung penambatan
oksigen oleh bintil akar.
Menurut Zulkarnain (2013), keasaman tanah yang dikehendaki untuk
pertumbuhan yang baik, berkisar 5,5-6,5. Pada tanah dengan pH kurang dari 5,5,
pertumbuhan akan terhambat karena mengalami keracunan besi, alumunium dan
mangan. Sebaliknya jika pH di atas 6,5 pertumbuhan akan terganggu karena
ketidaktersediaan sejumlah unsure-unsur hara esensial.
Optimum suhu tanah untuk perkecambahan biji adalah 30C. pada suhu
20C, persentase perkecambahan sangat tinggi dan diperlukan waktu 11 hari untuk
berkecambah. Sementara itu, pada suhu 30C, perkecambahan biji hanya
memerlukan waktu 6 hari (Yamaguchi, 1983).
Tanaman Buncis dapat tumbuh baik apabila ditanaman di dataran tinggi
yaitu pada ketinggian 1000-1500 meter dpl. Namun tidak tertutup kemungkinan

untuk di tanam pada daerah dengan ketinggian 500-600 meter dpl. Temperatur
udara yang paling baik untuk tanaman Buncis berkisar antara 20-500C. Di luar
kisaran temperatur tersebut produksinya tidak maksimal. Umumnya tanaman
Buncis menghendaki kelembaban

50-60%,

kondisi terlalu lembab dapat

mengundang hama dan penyakit sehingga dapat mengancam pertumbuhan


tanaman (Setiawan, 1994). Daerah yang banyak ditanami kacang buncis di
Indonesia antara lain Cisarua, Pangalengan, Pacet (Cipanas), Lembang
(Bandung), Batu dan Nangka Jajar (Malang) (Sunaryono, 2004).
Selain lingkungan tumbuh yang ideal, tindakan budidaya yang tepat juga
merupakan aspek penting untuk pertumbuhan tanaman buncis yang optimal dan
berproduksi tinggi. Budidaya buncis sama halnya dengan budidaya tanaman lain
yaitu ada persiapan lahan, penanaman, pemupukan, pemeliharaan hingga panen.
Persiapan lahan dimulai dengan membersihkan area tanam dari gulmagulma agar nantinya tidak terjadi persaingan dalam mengambil nutrisi dalam
tanah. Seperti pernyataan (Zulkarnain, 2013) bahwa pembersihan gulma untuk
menghindarkan terjadinya persaingan dalam mendapatkan unsur hara dan air.
Setelah lahan bersih dari gulma, pengolahan lahan dilakukan dengan cara di
cangkul atau di bajak. Pada saat praktikum lahan yang akan ditanami buncis oleh
kami telah dipersiapkan sebelumnya. Jadi lahan telah mengalami proses
pembersihan gulma maupun pengolahan tanah. Menurut Zulkarnain (2013),
pengolahan tanah merupakan upaya untuk mendapatkan kondisi media tanam
yang ideal dalam pertumbuhan dan produksi buncis. Tanah dibajak atau dicangkul
sedalam 20-30cm atau sedalam lapisan top soil.

Buncis diperbanyak secara generatif menggunakan biji yang ditanam


langsung. Benih yang digunakan harus benih yang bermutu dengan daya
kecambah 80-85% (Zulkarnain, 2013). Dalam praktikum ini kami menggunakan
benih buncis tipe merambat. Saat penanamannya kami memakai jarak tanam
40cmx30cm dan menanam 2 biji per lubang tanamnya. Hal ini hampir sama
dengan pernyataan (Rukmana, 2005) yang menyatakan bahwa untuk kacang jogo,
jarak tanam adalah 40cm x 40cm-50cm, sedangkan untuk kacang buncis, jarak
tanam adalah 20cm-30cm x 60cm-75cm dan setiap lubang tanam diisi dengan 2-3
biji kacang buncis dan ditutup dengan tanah tipis.
Untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari terjadinya genangan air
di sekitar batang tanaman, perlu dibuat bedengan dengan tinggi kira-kira 20cm,
lebar 100-125cm dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan atau keadaan lahan.
Hal ini berfungsi sebagai jalan sekaligus sarana pembuangan air (drainase)
(Zulkarnain, 2013).
Saat pelaksanaan praktikum kami melakukan penyulaman atau mengganti
tanaman yang rusak dan tidak tumbuh pada saat 7 hari setelah tanam. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Zulkarnain (2013) bahwa biji-biji yang tidak
berkecambah atau perkecambahannya tidak menghasilkan tanaman normal harus
segera diganti dengan benih yang baru atau disulam. Penyulaman hendaknya
dilakukan sesegera mungkin sebelum tanaman berumur 10 hari.
Pemupukan yang kami lakukan yaitu pada saat 14 hari setelah tanam.
Pemupukan dengan menggunaka pupuk urea sebanyak 30g/petak, SP-36 sebanyak
60g/petak dan pupuk KCl sebanyak 60g/petak.

Pemeliharaan yang kami lakukan salah satunya pengairan. Pengairan


dilakukan dengan melihat kondisi cuaca pada saat itu. Jika kondisi tanah
kekeringan, diperlukan pengairan. Selain pengairan kami juga memasang tugal
saat tanaman buncis mulai tumbuh merambat dengan cara melilitkan batang
buncis pada tugal yang telah ditancapkan ke dalam tanah. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Zulkarnain (2013) bahwa kacang buncis tipe pertumbuhan menjalar
ke atas, perlu diberi penopang atau lanjaran sebagai tempat merambatnya.
Masa panen tergantung pada kultivar dan suhu udara, kacang buncis dapat
dipanen dalam waktu 45-80 hari setelah tanam. Kacang buncis dapat dipanen
setelah polongnya mencapai tahap perkembangan optimum dengan ciri-ciri warna
agak muda, permukaan agak kasar, biji nelum menonjol dan apabila dipatahkan
menimbulkan suara meletup (getas). Pemanenan umumnya dilakukan secara
manual, yakni polong dipetik dengan tangan (Zulkarnain, 2013).

c. Hama dan Penyakit


a) Hama
Kumbang daun epilachnia (Henosepilachna signatipennis Boisduval). Daun
daun buncis yang terserang hama ini berlubang lubang. Pada serangan berat
seluruh helaian daun dapat tersisa tulang daunnya saja, dan pertumbuhan tanaman
menjadi terhambat (kerdil) (Zulkarnain, 2013).
Penggerek daun (Etiella zinckenella Treitschke). Hama ini menyerang
polong muda sehingga mengalami keerusakan dan bijinya keropos (Zulkarnain,
2013).

Kutu daun (Aphis gossypii Glofer). Tanaman yang terserang hama ini akan
bertumbuh kerdil, batang berpilin, daun mengeritting dan berwarna kuning.
(Zulkarnain, 2013).
b) Penyakit
Antraknosa (Colletotrichum lindemuthianum Sacc. Et Magnus) Lams.
Serangan cendawan ini menimbulkan bercak kecil berwarna cokelat pada polong
muda dan bercak hitam atau cokelat tua pada batang (Zulkarnain, 2013).
Embun tepung (Erysiphe polygoni D.C.). serangan cendawan ini dicirikan
oleh timbulnya area berwarna putih ke abuan (seperti beludru) dipermukaan daun
(Zulkarnain, 2013).
Layu bakteri (Peseudomonas solanasearum Smith). Gejala serangan bakteri
ini dicirikan oleh tanaman menguning, layu dan kerdil. Batangnya apabila dipijit
akan keluar lendir putih (Zukkarnain, 2013).
2. Bayam
a. Deskripsi
Bayam merupakan sayuran yang telah lama dikenal dan dibudidayakan
secara luas oleh petani di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di negara lain.
Penyebaran tanaman bayam di Indonesia telah meluas ke seluruh wilayah, tetapi
sampai saat ini pulau Jawa merupakan sentra produksinya (Bandini dan
Azis,2001).
Menurut

Van

Steenis

(1978),

(Amaranthus sp.) sebagai berikut:


Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae

mengklasifikasikan

tanaman

bayam

Class : Dicotyledoneae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp.
Bentuk tanaman bayam adalah terna (perdu), tinggi tanaman dapat mencapai
1,5 2 m, berumur semusim atau lebih. Sistem perakaran menyebar dangkal pada
kedalaman antara 20 - 40 cm dan berakar tunggang (Bandini dan Aziz, 2001).
Batang tumbuh tegak, tebal, berdaging dan banyak mengandung air, tumbuh
tinggi diatas permukaan tanah. Bayam tahunan mempunyai batang yang keras
berkayu dan bercabang banyak. Bayam kadang-kadang berkayu dan bercabang
banyak (Van Steenis, 1978).
Daun berbentuk bulat telur dengan ujung agak meruncing dan urat-urat daun
yang jelas. Warna daun bervariasi, mulai dari hijau muda, hijau tua, hijau keputihputihan, sampai berwarna merah. Daun bayam liar umumnya kasap (kasar) dan
kadang berduri (Azmi, 2007).
Bunga bayam berukuran kecil, berjumlah banyak terdiri dari daun bunga 4
5 buah, benang sari 1 5, dan bakal buah 2 3 buah. Bunga keluar dari ujungujung tanaman atau ketiak daun yang tersusun seperti malai yang tumbuh tegak.
Tanaman dapat berbunga sepanjang musim. Perkawinannya bersifat unisexual
yaitu dapat menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Penyerbukan
berlangsung dengan bantuan angina dan serangga (Nazaruddin, 2000).

Biji berukuran sangat kecil dan halus, berbentuk bulat, dan berwarna coklat
tua sampai m mengkilap sampai hitam Kelam. Namun ada beberapa jenis bayam
yang mempunyai warna biji putih sampai merah, misalnya bayam maksi yang
bijinya merah. Setiap tanaman dapat menghasilkan biji kira-kira 1200 3000
biji/gram (Wirakusumah, 1998).
b. Syarat Tumbuh
Faktor-faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman
antara lain ketinggian tempat, sinar matahari, suhu, dan kelembaban. Bayam
banyak ditanam di dataran rendah hingga menengah, terutama pada ketinggian
antara 5 2000 m dpl. Kebutuhan sinar matahari untuk tanaman adalah tinggi,
berkisar antara 400 800 foot candles yang akan mempengaruhi pertumbuhan
optimum dengan suhu rata-rata 20C - 30C, curah hujan antara 1000 2000 mm,
dan kelembaban diatas 60%. Drainase tanah harus sudah diperhatikan meskipun
tanaman bayam tahan terhadap air hujan. Untuk itu, bedengan dibuat lebih tinggi
disbanding dengan penanaman saat musim kemarau, yaitu setinggi 35 cm.
Sebaliknya pada musim kemarau, penyiraman harus dilakukan secara teratur
(Bandini, 2001).
Tanaman bayam dapat tumbuh kapan saja baik pada waktu musim hujan
ataupun kemarau. Tanaman ini kebutuhan airnya cukup banyak sehingga paling
tepat ditanam pada awal musim hujan, yaitu sekitar bulan Oktober November.
Bisa juga ditanam pada awal musim kemarau, sekita bulan Maret April
(Nazaruddin, 2000).

Bayam sebaiknya ditanam pada tanah yang gembur dan cukup subur.
Apalagi untuk bayam cabut, tekstur tanah yang berat akan menyulitkan produksi
dan panennya. Tanah netral ber-pH antara 6 7 paling disukai bayam untuk
pertumbuhan optimalnya (Nazaruddin, 2000).
Tanah yang subur dan bertekstur gembur serta banyak mengandung bahan
organik paling disukai tanaman bayam. Pada tanah yang tandus dan liat, bayam
masih dapat tumbuh dengan baik jika dilakukan penambahan bahan organik yang
cukup banyak. Pada tanah yang ber-pH dibawah kisaran 6-7, tanaman bayam
sukar tumbuh. Tanaman akan menunjukkan pertumbuhan yang merana bila pH
tanah dibawah 6. Begitu pula pada pH diatas 7, tanaman akan mengalami gejaja
klorosis (warna daun menjadi putih kekuning-kuningan terutama pada daun-daun
yang masih muda). Jenis bayam tertentu masih dapat tumbuh pada tanah-tanah
alkalin (basa). Tanaman bayam tidak memilih jenis tanah tertentu (Murtensen and
Bullard, 1970).
Budidaya tanaman bayam pada praktikum ini lahan yang ingin digunakan
telah dilakukan pengolahan tanah agar tanah gembur dan mengurangi populasi
gulma agar tidak terjadi persaingan dalam mengambil unsur hara dan air. Sebelum
melakukan penanaman, kami juga membeerikan pupuk kandang sebagai dasarnya.
Menurut Widjaja dan Hadisoeganda (1996), Pengoolahan tanah, tanah dicangkul
sedalam 23-30 cm, dibersihkan dari rerumputan. Sambil diberi pupuk organik
secukupnya (pupuk kandang dan atau kompos) tanah terus digemburkan dan
dibedeng-bedeng selebar sekitar 100 cm, jarak antar bedengan sekitar 30-40 cm
dan panjang bedengan disesuaikan dengan bentuk lahan.

Penanaman biasanya dilakukan dengan sebar benih langsung secara merata,


tanpa alur (barisan), tanpa jarak tanam. Sebaran benih dibuat serata mungkin,
disusul dengan penutupan benih tersebut dengan selapis tanah untuk menghindari
terhanyutnya benih oleh air hujan atau air siraman (Widjaja dan Hadisoeganda,
1996). Hal ini sama seperti yang kami lakukan saat di lapang yaitu menanam
bayam dengan cara disebar membentuk barisan dan menutupnya dengan sedikit
tanah.
Pemupukan dilakukan pada 2 minggu HST dengan pupuk SP-36 sebanyak
60 gr/petak, pupuk KCl sebanyak 60gr/petak. Menurut Rukmana (1995), pupuk
buatan yang diberikan pada tanaman bayam adalah 300 kg Urea, 200 kg TSP dan
100 kg KCl per hektar.
Pemeliharaan tanaman bayam yang kami lakukan adalah dengan penyiangan
dan pengairan. Pengairan dilakukan dengan melihat kondisi curah hujan pada saat
itu. Jika lahan atau kondisi tanah kering dilakukan pengairan atau penyiraman.
Seperti yang diungkapkan Rukmana (1995) bahwa pemeliharaan tanaman yang
penting ialah menjaga kelembapan tanah dan tanaman bayam memerlukan air
4liter/m2 pertanaman/hari pada saat tanaman masih muda sampai minggu pertama.
Bayam cabut biasanya mulai dipanen apabila tingginya telah mencapai kirakira 20 cm, yaitu pada umur antara tiga sampai empat mencapai minggu setelah
tanam. Tanaman ini dipanen (dicabut) sampai akarnya (Rukmana, 1995).
c. Hama dan Penyakit
a) Hama

Hama yang sering menyerang tanaman bayam adalah ulat daun, kutu daun
dan belalang. Tanaman bayam yang terserang ulat daun atau ulat Hymenia akan
terlihat berlubang. Ulat ini memakan daun bayam sampai berlubang-lubang.
b)Penyakit
Karat putih memiliki gejala bercak-bercak putih pada daun yang disebabkan
oleh cendawan Albugo candida, terutama pada bagian daun seblah bawah.
Penyakit ini banyak terjadi apabila cuacanya lembab sekali (Zulkarnain, 2013)
Busuk daun memiliki gejala yaitu daun terinfeksi cendawan Choanephora
menjadi berwarna hitam, kemudian cabang dan daun yang terserang menjasi
busuk. Serangan meningkat apabila cuacanya terlalu lembab.
Pengamatan praktikum ini, variabel yang diamati meliputi variabel
pertumbuhan, komponen hasil serta kondisi lingkungan. Tujuan dari pengamatan
tersebut adalah untuk mengetahui bagaimana hasil produksi suatu tanaman, dapat
pula menentukan pola tanam yang tepat dan jika ditanam berdampingan tanaman
apa yang cocok dan menghasilkan produksi tinggi. Selain itu, dari pengamatan
variabel tersebut kita dapat mengembangkan potensi dari suatu tanaman dan dapat
mengetahui prediksi hasil produksi suatu tanaman.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Sistem pertanaman adalah suatu sistem yang menyangkut segala sesuatu yang
berkaitan dengan aktifitas produksi tanaman dalam suatu sistem usaha tani.
2. Pertanaman ganda (Multiple Cropping) adalah suatu sistem pertanaman atau
usahatani yang mengusahakan dua atau lebih tanaman budidaya pada suatu
luasan lahan tertentu. Tujuan pertanaman ganda adalah untuk meningkatkan
produktivitas lahan dan mengurangi resiko kegagalan panen.
B. Saran
Sebaiknya praktikum dilaksanakan selalu setiap pagi hari dan ada dosen
yang membimbing dan memberi pengarahan.

Dapus
Sastradiharja, Singgih.2005. Menanam Sayuran Secara Organik. Jakarta:Azka
Press
Pracaya. 2002. Bertanam Sayuran Organik di Kebun, Pot, dan Polibag. Jakarta :
Penebar Swadaya
Rukmana, R, 1994, Bertanam Buncis, Kanisius, Yoyakarta.
Setiawan, 1994, Sayuran Dataran Tinggi, Penebar Swadaya, Jakarta
Hadisoeganda, A. Widjaja W. 1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani di
Indonesia. Monograf No. 4. BPPP. Lembang, Bandung.