Anda di halaman 1dari 28

Anatomi dan Fisiologi Paru

Paruparu adalah organ berbentuk spons yang terdapat di dada (Nucleus, 2011). Paru-paru
terdiri dari paru kanan dan paru kiri. Paru kanan memiliki 3 lobus, sedangkan paruparu kiri memiliki
2 lobus. Paruparu kiri lebih kecil, karena jantung membutuhkan ruang yang lebih pada sisi tubuh ini.
Paruparu membawa udara masuk dan keluar dari tubuh, mengambil oksigen dan menyingkirkan gas
karbon dioksida (zat residu pernafasan). Lapisan di sekitar paruparu disebut pleura, membantu
melindungi paru-paru dan memungkinkan mereka untuk bergerak saat bernafas.
Batang tenggorokan (trakea) membawa udara ke dalam paruparu. Trakea terbagi ke dalam
tabung yang disebut bronkus, yang kemudian terbagi lagi menjadi cabang lebih kecil yang disebut
bronkiol. Pada akhir dari cabang-cabang kecil inilah terdapat kantung udara kecil yang disebut
alveoli. Di bawah paruparu, terdapat otot yang disebut diafragma yang memisahkan dada dari perut
(abdomen). Bila Anda bernapas, diafragma bergerak naik dan turun, memaksa udara masuk dan keluar
dari paruparu. Itulah peranan penting paruparu.

Fungsi paru-paru terdiri atas beberapa macam, antara lain: (Irman Somantri,2008)
1. Ventilasi, adalah proses keluar masuknya udara antara atmosfer dan alveoli paru-paru.
Mekanisme ventilasi adalah dimulai dari proses inspirasi. Selama inspirasi, udara
bergerak dari luar ke dalam trakea, bronkhus, bronkhiolus, dan alveoli. Selama
ekspirasi, gas yang terdapat dalam alveolus prosesnya berjalan seperti inspirasi dengan
alur terbalik.
2. Difusi, adalah proses pertukaran O 2 dan CO2 antara alveoli dan darah. Faktor-faktor
yang menentukan kecepatan difusi gas melalui membran paru- paru adalah:
a. Semakin besar perbedaan tekanan pada membran maka semakin cepat
kecepatan difusi.
b. Semakin besar area membran paru-paru maka semakin besar kuantitas gas
yang dapat berdifusi melewati membran dalam waktu tertentu.
c. Semakin tipis membran maka semakin cepat difusi gas melalui membran
tersebut ke bagian yang berlawanan.

d.

Koefisien difusi secara langsung berbanding lurus terhadap kemampuan


terlarut Suatu gas dalam cairan membran paru-paru dan berbanding terbalik
terhadap ukuran molekul.
3. Transportasi, adalah proses beredarnya gas (O 2 dan CO2) dalam darah dan cairan tubuh
ke dan dari sel-sel. Transportasi gas antara paru-paru dan jaringan meliputi prosesproses berikut ini:
a. Transport oksigen dalam darah, sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri
atas paru-paru dan sistem kardio vaskuler.
b. Transport karbondioksida dalam darah.
c. Kurva disosiasi oksihemoglobin, oksihemoglobin adalah struktur terikatnya
oksigen pada hemoglobin.
Definisi
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang
berasal dari paru sendiri (primer) dan metastasis tumor di paru (Suryo, 2010). Metastasis tumor di
paru adalah tumor yang tumbuh sebagai akibat penyebaran (metastasis) dari tumor primer organ lain.
Definisi khusus untuk kanker paru primer yakni tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus.
Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru-paru
dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen, lingkungan, terutama asap rokok.( Suryo, 2010).
Untuk menentukan jenis histologis, secara lebih rinci dipakai klasifikasi histologis menurut WHO
tahun 1999:
1. Jinak (benign)
2. Lesi sebelum infasiv (preinvasise lesion)
3. Ganas (malignant)
Klasifikasi Histologis Kanker Paru Menurut WHO tahun 1999
1. Squamous carcinoma (epidermoid carcinoma), with varians :
a.
b.
c.
d.

Papillary
Clear cell
Small cell
Basaloid

2. Small cell carcinoma, with varians : Combined small cell carcinoma


3. Adenocarcinoma, with varians :
a. Acinar
b. Papillary
c. Bronchoalveolar carcinoma
a) Non-mucinous
b) Mucinous
c) Mixed mucinous and non-mucinous or intermenate
d. Solid adenocarcinoma with mucin
e. Adenocarcinoma with mixed subtypes
f. Varian dari Adenocarcinoma with mixed subtypes
a) Well diffrentiated fetal adenocarcinoma
b) Mucinous (colloid) adenocarcinoma
c) Mucinous cystadenocarcinoma
d) Signet ring adenocarcinoma

e) Clear cell adenocarcinoma


4. Large cell carcinoma, with varians :
a.
b.
c.
d.
e.

Large cell neuroendocrine carcinoma Combined large cell neuroendocrine carcinoma


Basaloid carcinoma
Lymphoepithelioma-like carcinoma
Clear cell carcinoma
Large cell carcinoma with rhabdoid phenothype

5. Adenosquamous carcinoma
6. Carsinoma with pleomorphic, sarcomatoid atau sarcomatous with elemets
a. Carcinoma with spindle and/or giant cell
a) Pleomorphic carcinoma
b) Spindle cell carcinoma
c) Giant cell carcinoma
b. Carcinosarcoma
c. Pulmonary blastoma
7. Carcinoid tumours
a. Typical carcinoid
b. Atypical carcinoid
8. Salivary gland type carcinoma
a. Mucoepidermoid carcinoma
b. Adenoid cystic carcinoma
9. Unclassified carcinoma
Tetapi untuk kebutuhan klinis (Irman Somantri,2008) cukup jika hanya dapat diketahui :
1. Karsinoma sel kecil atau oat cell (small cell carcinoma)
Lokasi tumor di tengah-tengah(80%), berkembang cepat dan sering berbentuk
malign. Banyak bermetastasis melalui limfe dan sistem sirkulasi. Berhubungan
dengan sindrom paraneoplastik. Prognosis jelek, dapat bertahan hidup biasanya tidak
lebih dari 2 tahun dengan pengobatan.
2.

Karsinoma skuamosa atau epidermoid


Berhubungan erat dengan rokok. Berkembang lambat, kurang invasif, metastasis
sering kali terbatas di rongga thorax termasuk nodus limfe regional, pleura, dan
dinding dada. Sering kali terlokalisasi di tengah atau cabang bronchus segmental,
sedangkan pada lokasi perifer, cavitas dapat terbentuk di jaringan paru-paru. Biasanya
berhubungan dengan gejala obstruksi dan pneumonia, pasien mengeluh nyeri dada,
batuk, dispnea dan hemoptisis.

3. Adenokarsinoma (adenocarcinoma)

Tumor terletak di daerah perifer, berkembang lambat dan penyebarannya secara


hematogen. Frekuensi tinggi metastasis ke otak, letak lain termasuk adrenal, hati,
tulang, dan ginjal. Tipe predominan pada yang bukan perokok dan sering pada
wanita. Sering timbul dalam fibrotik paru-paru
4. Karsinoma sel besar (large cell carcinoma)
Sering kali berbentuk tumor bermassa lebih besar daripada adenokarsinoma.
Perkembangannya pun juga lambat. Perifer, lesi subpleura dengan nekrotik.
Prognosis buruk.
Berbagai keterbatasan sering menyebabkan dokter specialis Patologi Anatomi
mengalami kesulitan menetapkan jenis sitologi/histologis yang tepat. Karena itu,
untuk kepentingan pemilihan jenis terapi, minimal harus ditetapkan, apakah termasuk
kanker paru karsinoma sel kecil (KPKSK atau small cell lung cancer, SCLC) atau
kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK, nonsmall cell lung cancer,
NSCLC).
Etiologi
Merokok
Sebanyak 90% dari kanker-kanker paru-paru timbul sebagai akibat dari penggunaan tembakau (Jusuf,
2005). Menghisap pipa dan cerutu dapat juga menyebabkan kanker paru, meskipun risikonya tidak
setinggi menghisap rokok. Dimana seorang yang merokok satu bungkus rokok per hari mempunyai
suatu risiko mengembangkan kanker paru yang 25 kali lebih tinggi daripada seorang yang tidak
merokok, perokok-perokok pipa dan cerutu mempunyai suatu risiko kanker paru yang kira-kira 5 kali
daripada seseorang yang tidak merokok. Asap tembakau mengandung lebih dari 4,000 senyawasenyawa kimia, banyak darinya telah ditunjukkan menyebabkan kanker, atau karsinogen (Jusuf,
2005). Dua karsinogenik-karsinogenik utama didalam asap tembakau adalah kimia-kimia yang
dikenal sebagai nitrosamines dan polycyclic aromatic hydrocarbons.
Paparan asbes
Serat-serat asbes (asbestos fibers) adalah serat-serat silikat (silicate fibers) yang dapat menetap untuk
seumur hidup dalam jaringan paru seiring dengan paparan pada asbes-asbes (Dodi, 2011). Kanker
paru dan mesothelioma (suatu tipe kanker dari pleura atau dari lapisan rongga perut yang disebut
peritoneum) dikaitkan dengan paparan pada asbes-asbes. Menghisap rokok secara dramatis
meningkatkan kemungkinan mengembangkan suatu kanker paru yang berhubungan dengan asbes
pada pekerja-pekerja yang terpapar. Pekerja-pekerja asbes yang tidak merokok mempunyai suatu
risiko sebesar lima kali mengembangkan kanker paru daripada bukan perokok, dan pekerja-pekerja
asbes yang merokok mempunyai suatu risiko sebesar 50 sampai 90 kali lebih besar daripada bukan
perokok.
Radon Gas
Radon gas adalah suatu gas mulia secara kimia dan alami yang adalah suatu pemecahan produk
uranium alami (Produk radio aktif) (Harryanto, 2005). Ia pecah atau hancur membentuk produkproduk yang mengemisi suatu tipe radiasi yang mengionisasi. Radon gas adalah suatu penyebab
kanker paru yang dikenal, dengan suatu estimasi 12% dari kematian-kematian kanker paru

diakibatkan oleh radon gas, atau 15,000 sampai 22,000 kematian-kematian yang berhubungan dengan
kanker paru setiap tahun di Amerika, membuat radon penyebab utama kedua dari kanker paru di
Amerika. Radon gas dapat bergerak melalui tanah dan masuk kedalam rumah melalui celah-celah
diantara fondasi-fondasi, pipa-pipa, saluran-saluran, atau tempat-tempat terbuka lainnya. Radon gas
tidak terlihat dan tidak berbau, namun ia dapat terdeteksi dengan kotak-kotak tes yang sederhana
Kecenderungan Keluarga (genetik)
Ketika mayoritas dari kanker-kanker paru dikaitkan dengan menghisap tembakau, fakta bahwa tidak
semua perokok akhirnya mengembangkan kanker paru menyarankan bahwa faktor-faktor lain, seperti
kepekaan genetik individu, mungkin memainkan suatu peran dalam menyebabkan kanker paru. Pada
faktor genetik terdapat mutasi/ perubahan beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni:
a. Proto onkogen adalah gen yang mengkode dan mengatur pembentukan protein
untuk pertumbuhan.
b. Tumor supressor gene adalah gen yang mengurangi kemungkinan bahwa sebuah
sel dalam organisme multisel akan berubah menjadi sel tumor.
c. Gene encoding enzyme adalah enzim yang mengkode gen yang mengalami
mutasi.
Polusi Udara
Sebanyak 1 % kematian karena kanker paru disebabkan oleh pernapasan udara yang terpolusi, dan
ahli-ahli percaya bahwa paparan yang memanjang (lama) pada udara yang terpolusi sangat tinggi
dapat membawa suatu risiko serupa dengan yang dari merokok pasif untuk mengembangkan kanker
paru (Harryanto, 2005).
Kekurangan Vitamin A dan C
Kandungan betakaroten dari vitamin A bersama dengan vitamin E dan C berperan aktif sebagai
antioksidan yang mampu melawan radikal bebas yang mampu mencegah terjadinya kanker (Dodi,
2011). Fakta menunjukkan bahwa vitamin C dosis tinggi telah terbukti menjadi toksik (racun) bagi sel
kanker.
Konsumsi Zat Karsinogen
Zat kimia ini umumnya berasal dari pewarna, pengawet, maupun bahan tambahan makanan atau
inuman yang berbahaya bagi tubuh.
Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen sub bronkus menyebabkan silia hilang dan
deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka
menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan olehmetaplasia,
hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, bisa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi
langsung pada kosta dan korpus vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan
obstruksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul
dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengar
pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya

metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur terdekat seperti
kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
Karakteristik dari kanker ini adalah sel-sel kanker mampu menginvasi jaringan yang sehat
disekitarnya serta dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain melalui sistem limfe
(limfogen),pembuluh darah (hematogen), dan lapisan serosa (transcoelomic spread) dan tumbuh
sebagai tumor metastasis. Liver, paru-paru, tulang, otak, dan kelenjar adrenal merupakan organ tempat
metastasis yang paling sering melalui jalur hematogen.
Transportasi metastasis dapat melalui saluran limfe, pembuluh darah, ruang di tubuh dan
transplantasi. Penyebaran melalui saluran limfe disebut limfogen. Daerah tujuan penyebaran limfogen
adalah kelenjar getah bening (KGB) regional.
Misalnya daerah tujuan metastasis payudara adalah KGB ketiak; melanoma di kaki, KGB lipat paha
dlsb. Gejala metastasis KGB adalah pembengkakan KGB Penyebaran melalui pembuluh darah
disebut hematogen. Daerah tujuan penyebaran hematogen adalah alat tubuh yang kaya dengan darah
misalnya otak, tulang, hati dan paru. Gejala metastasis otak adalah sakit kepala, kejang dan vertigo;
tulang, nyeri dan patah tulang; hati, pembengkakan hati dan kuning; dan paru, batuk batuk darah
dan sesak napas.( Dr Bahar, 2010)
WOC (terlampir)

Manifestasi Klinis
1. Gejala awal.
Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi pada bronkus.
2. Gejala umum.
Batuk yang tidak kunjung sembuh (lebih dari 2 minggu), kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan
oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang
sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi
sekunder.
Menurut Arifin (2008), manifestasi klinis dari klien dengan kanker paru ada beberapa macam namun
manifestasi klinis yang paling umum atau sering muncul pada klien antara lain :
1. Suatu batuk gigih yang baru atau memburuknya suatu batuk kronis yang telah ada
2. Darah dalam dahak atau haemoptisis (Sputum bersemu darah karena sputummelalui
permukaan tumor yang mengalami ulserasi)
3. Bronchitis yang gigih atau infeksi-infeksi pernapasan yang berulang-ulang
4. Nyeri dada
5. Kehilangan berat badan yang tidak dapat dijelaskan dan/atau kelelahan
6. Kesulitan-kesulitan benapas seperti sesak napas atau mengi (wheezing)
Manifestasi klinis lain yang dapat timbul namun tidak selalu ada antara lain :
1. Mulai secara tersembunyi selama berpuluh-puluh tahun dan sering asimptomatik sampai
tahap terakhir.
2. Tanda- tanda dan gejala- gejala tergantung pada lokasi, ukuran tumor, derajat obstruksi
dan keberadaan metastasis.

3. Gejala yang paling sering yaitu batuk kering tak produktif, pada tahap akhir batuk
menghasilkan dahak kental dan purulen. Batuk yang menunjukkanperubahan dalam
karakter harus menimbulkan kecurigaan terhadap adanya kanker paru. Perubahan suara
(menjadi serak) atau suara kasar saat bernafas.
4. Mengi (Bunyi menciut-ciut saat bernafas pada bukan penderita asma) terjadi jika
mengalami obstruksi secara parsial, pengeluaran sputum yang berwarna merah darah
adalah hal yang umum terjadi pada pagi hari.
5. Demam yang terjadi berulang mungkin terjadi pada beberapa pasien.
6. Nyeri adalah gejala terakhir, seringkali berhubungan dengan metastasis tulang.
7. Nyeri dada saat menarik nafas dalam-dalam, kekakuan, suara sesak, disfalgia, edema
pada leher dan kepala (Bengkak pada leher dan wajah), dan gejala efusi pleural atau
pericardial terlihat jika tumor menyebar pada struktur yang berdekatan dan pada nodus
limfe.
8. Tempat metastasis yang umum adalah nodus limfe, tulang, otak, paru kolateral, dan
kelenjar adrenalin.
9. Kelemahan, anoreksia, penurunan berat badan dan anemia terjadi pada tahap akhir.
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Fisik.
Pemeriksaan jasmani harus dilakukan secara menyeluruh dan teliti. Hasil yang didapat sangat
bergantung pada kelainan saat pemeriksaan dilakukan. Tumor paru ukuran kecil dan terletak di perifer
dapat memberikan gambaran normal pada pemeriksaan. Tumor dengan ukuran besar, terlebih bila
disertai atelektasis sebagai akibat kompresi bronkus, efusi pleura atau penekanan vena kava akan
memberikan hasil yang lebih informatif. Metastasis keorgan lain juga dapat dideteksi dengan erabaan
hepar, pemeriksaan funduskopi untuk mendeteksi peninggian tekanan intrakranial dan terjadinya
fraktur sebagai akibat metastasis ke tulang. (Himpunan Dokter Paru Indonesia, 2003)
1. Gambaran radiologis.
Hasil pemeriksaan radiologis adalah salah satu pemeriksaan penunjang yang mutlak dibutuhkan untuk
menentukan lokasi tumor primer dan metastasis, serta penentuan stadium penyakit berdasarkan sistem
TNM. Gambaran radiologis dapat melalui:
a. Foto toraks
Pada pemeriksaan foto toraks PA/lateral akan dapat dilihat bila masa tumor dengan ukuran
tumor lebih dari 1 cm. Tanda yang mendukung keganasan adalah tepi yang ireguler, disertai
identasi pleura, tumor satelit tumor, dll. Pada foto tumor juga dapat ditemukan telah invasi ke
dinding dada, efusi pleura, efusi perikar dan metastasis intrapulmoner.
Bila foto toraks menunjukkan gambaran efusi pleura yang luas harus diikuti dengan
pengosongan isi pleura dengan punksi berulang atau pemasangan WSD dan ulangan foto
toraks agar bila ada tumor primer dapat diperlihatkan. Keganasan harus difikirkan bila cairan
bersifat produktif, dan/atau cairan serohemoragik.
b. CT-Scan toraks
Tehnik pencitraan ini dapat menentukan kelainan di paru secara lebih baik daripadafoto
toraks. CT-scan dapat mendeteksi tumor dengan ukuran lebih kecil dari 1 cm secara lebih
tepat. Demikian juga tanda-tanda proses keganasan juga tergambar secara lebih baik, bahkan

bila terdapat penekanan terhadap bronkus, tumor intra bronkial, atelektasis, efusi pleura yang
tidak masif dan telah terjadi invasi ke mediastinum dan dinding dada meski tanpa gejala.
c. Pemeriksaan radiologik lain
Kekurangan dari foto toraks dan CT-scan toraks adalah tidak mampu mendeteksi telah
terjadinya metastasis jauh. Untuk itu dibutuhkan pemeriksaan radiologik lain, misalnya BrainCT untuk mendeteksi metastasis di tulang kepala / jaringan otak, bone scan dan/atau bone
survey dapat mendeteksi metastasis diseluruh jaringan tulang tubuh. USG abdomen dapat
melihat ada tidaknya metastasis di hati, kelenjar adrenal dan organ lain dalam rongga perut
2. Pemeriksaan Khusus
a) Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah pemeriksan dengan tujuan diagnostik sekaligus dapat dihandalkan
untuk dapat mengambil jaringan atau bahan agar dapat dipastikan ada tidaknya sel ganas.
Pemeriksaan ada tidaknya masa intrabronkus atau perubahan mukosa saluran napas, seperti
terlihat kelainan mukosa tumor misalnya, berbenjol-benjol, hiperemis, atau stinosis
infiltratif, mudah berdarah. Tampakan yang abnormal sebaiknya di ikuti dengan tindakan
biopsi tumor/dinding bronkus, bilasan, sikatan atau kerokan bronkus.
b) Biopsi aspirasi jarum
Apabila biopsi tumor intrabronkial tidak dapat dilakukan, misalnya karena amat mudah
berdarah, atau apabila mukosa licin berbenjol, maka sebaiknya dilakukan biopsi aspirasi
jarum, karena bilasan dan biopsi bronkus saja sering memberikan hasil negatif.
c) Transbronchial Needle Aspiration (TBNA)
TBNA di karina, atau trakea 1/1 bawah (2 cincin di atas karina) pada posisi jam 1 bila tumor
ada dikanan, akan memberikan informasi ganda, yakni didapat bahan untuk sitologi dan
informasi metastasis KGB subkarina atau paratrakeal.
d) Transbronchial Lung Biopsy (TBLB)
Jika lesi kecil dan lokasi agak di perifer serta ada sarana untuk fluoroskopik maka biopsi
paru lewat bronkus (TBLB) harus dilakukan.
e) Biopsi Transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB)
Jika lesi terletak di perifer dan ukuran lebih dari 2 cm, TTB dengan bantuan flouroscopic
angiography. Namun jika lesi lebih kecil dari 2 cm dan terletak di sentral dapat dilakukan
TTB dengan tuntunan CTscan.
f)

Biopsi lain
Biopsi jarum halus dapat dilakukan bila terdapat pembesaran KGB atau teraba masa yang
dapat terlihat superfisial. Biopsi KBG harus dilakukan bila teraba pembesaran KGB
supraklavikula, leher atau aksila, apalagi bila diagnosis sitologi/histologi tumor primer di
paru belum diketahui. Biopsi Daniels dianjurkan bila tidak jelas terlihat pembesaran KGB

suparaklavikula dan cara lain tidak menghasilkan informasi tentang jenis sel kanker. Punksi
dan biopsi pleura harus dilakukan jika ada efusi pleura.
g) Torakoskopi medik
Dengan tindakan ini massa tumor di bagaian perifer paru, pleura viseralis, pleura parietal
dan mediastinum dapat dilihat dan dibiopsi.
h) Sitologi sputum
Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik yang paling mudah dan murah. Kekurangan
pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di perifer, penderita batuk kering dan tehnik
pengumpulan dan pengambilan sputum yang tidak memenuhi syarat. Dengan bantuan
inhalasi NaCl 3% untuk merangsang pengeluaran sputum dapat ditingkatkan. Semua bahan
yang diambil dengan pemeriksaan tersebut di atas harus dikirim ke laboratorium Patologi
Anatomik untuk pemeriksaan sitologi/histologi. Bahan berupa cairan harus dikirim segera
tanpa fiksasi, atau dibuat sediaan apus, lalu difiksasi dengan alkohol absolut atau minimal
alkohol 90%. Semua bahan jaringan harus difiksasi dalamformalin 4%.
3. Pemeriksaan Invasif Lain
Pada kasus kasus yang rumit terkadang tindakan invasif seperti Torakoskopi dan tindakan
bedah mediastinoskopi, torakoskopi, torakotomi eksplorasi dan biopsi paru terbuka
dibutuhkan agar diagnosis dapat ditegakkan. Tindakan ini merupakan pilihan terakhir bila
dari semua cara pemeriksaan yang telah dilakukan, diagnosis histologis / patologis tidak
dapat ditegakkan.
Semua tindakan diagnosis untuk kanker paru diarahkan agar dapat ditentukan:
a. Jenis histologis.
b. Derajat (staging).
c. Tampilan (tingkat tampil, "performance status"). Sehingga jenis pengobatan dapat
dipilih sesuai dengan kondisi penderita.
4. Pemeriksaan lain
a. Petanda Tumor
Petanda tumor seperti CEA, Cyfra21-1, NSE dan lainya tidak dapat digunakan untuk
mendiagnosis tetapi masih digunakan evaluasi hasil pengobatan.
b. Pemeriksaan biologi molekuler
Pemeriksaan biologi molekuler telah semakin berkembang, cara paling sederhana dapat
menilai ekspresi beberapa gen atau produk gen yang terkait dengan kanker paru,seperti
protein p53, bcl2, dan lainya. Manfaat utama dari pemeriksaan biologi molekuler adalah
menentukan prognosis penyakit.
Penderajatan Internasional Kanker Paru Berdasarkan Sistem TNM
STAGE
occult carcinoma
O
IA
IB
IIA
IIB
IIIA

Tx
Tis
T1
T2
T1
T2
T3
T3

TNM
NO
NO
NO
NO
N1
N1
NO
N2

MO
MO
MO
MO
MO
MO
MO
MO

IIIA
IV

Seberang T
T4
Sebarang T

N3
Sebarang N
Sebarang N

MO
MO
Sebarang T

Kategori TNM untuk Kanker Paru


T
:Tumor Primer
To
:Tidak ada bukti ada tumor primer.
Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari penemuan sel tumor
ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi tidak tampak secara radilogis atau
bronkoskopik.
Tx
:Tumor primer sulit dinilai, atau tumor primer terbukti dari penemuan sel tumor
ganas pada sekret bronkopulmoner tetapi tidak tampak secara radilogis atau
bronkoskopik.
Tis
:Karsinoma in situ
T1
:Tumor dengan garis tengah terbesar tidak melebihi 3 cm, dikelilingi oleh jaringan
paru atau pleura viseral dan secara bronkoskopik invasi tidak lebih proksimal dari
bronkus lobus (belum sampaike bronkus lobus (belum sampai ke bronkus utama).
Tumor supervisial sebarang ukuran dengan komponen invasif terbatas pada dinding
bronkus yang meluas ke proksimal bronkus utama
T2
:Setiap tumor dengan ukuran atau perluasan sebagai berikut :
- Garis tengah terbesar lebih dari 3 cm
- Mengenai bronkus utama sejauh 2 cm atau lebih distal dari karina mengenai
pleura viseral
- Berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif yang meluas ke
daerah hilus, tetapi belum mengenai seluruh paru.
T3
:Tumor sebarang ukuran, dengan perluasan langsung pada dinding dada (termasuk
tumor sulkus superior), diafragma, pleura mediastinum atau tumor dalam bronkus
utama yang jaraknya kurang dari 2 cm sebelah distal karina atau tumor yang
berhubungan dengan atelektasis atau pneumonitis obstruktif seluruh paru.
T4
:Tumor sebarang ukuran yang mengenai mediastinum atau jantung, pembuluh besar,
trakea, esofagus, korpus vertebra, karina, tumor yang disertai dengan efusi pleura
ganas atau satelit tumor nodul ipsilateral pada lobus yang sama dengan tumor
primer.
N
:Kelenjar getah bening regional (KGB)
Nx
:Kelenjar getah bening tak dapat dinilai
No
:Tak terbukti keterlibatan kelenjar getah bening
N1 :Metastasis pada kelenjar getah bening peribronkial dan/atau hilus ipsilateral, termasuk
perluasan tumor secara langsung
N2
:Metastasis pada kelenjar getah bening mediatinum ipsilateral dan/atau KGB
subkarina
N3 :Metastasis pada hilus atau mediastinum kontralateral atau KGB skalenus
/supraklavila ipsilateral / kontralateral
M
:Metastasis (anak sebar) jauh.
Mx
:Metastasis tak dapat dinilai
Mo :Tak ditemukan metastasis jauh
M1
:Ditemukan metastasis jauh. Metastastic tumor nodule(s) ipsilateral di luar lobus
tumor primer dianggap sebagai M1

Tampilan Menurut Skala Karnofsky dan WHO


Nilai Skala Karnofsky
90 - 100
70 80

Nilai SkalaWHO
0
1

50 60

30 40
10 20

3
4

0 -10

Keterangan
Aktifiti normal
Ada keluhan tetapi masih
aktif dan dapat mengurus
diri sendiri
Cukup aktif, namun kadang
memerlukan bantuan
Kurang aktif, perlu rawatan
Tidak dapat meninggalkan
tempat tidur, perlu rawat
dirumah sakit
Tidak sadar

Penata Laksanaan
Pengobatan kanker paru adalah combined modality therapy. Dalam
penerapannyapengobatan tidak hanya berdasarkan pada jenis histology, derajat, maupun
tampilan penderita, namun juga didasarkan pada fasilitas rumah sakit maupun keadaan
ekonomi
penderita.
1. Pembedahan
Indikasi pembedahan pada kanker paru adalah untuk non-small cell carcinoma
stadium I dan II. Pembedahan juga merupakan bagian dari combine modality therapy,
misalnya kemoterapi untuk non-small cell carcinoma stadium IIIA. Indikasi lain adalah bila
ada kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker paru dengan sindroma
vena kava superior berat. Prinsip pembedahan adalah sedapat pengangkatan sel kanker
termasuk jaringan kelenjar getah bening intrapulmoner, dengan lobektomi maupun
pneumonektomi. Segmentektomi atau reseksi baji hanya dikerjakan jika faal paru tidak
cukup untuk lobektomi. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003:8)
2. Radioterapi
Radioterapi pada kanker paru dapat menjadi terapi kuratif atau paliatif. Pada terapi
kuratif, radioterapi menjadi bagian dari kemoterapi untuk non small cell carcinoma stadium
IIIA. Syarat utama untuk tindakan radioterapi untuk kuratif adalah sel kanker terlokalisir
dan terdapat kontraindikasi untuk tindakan operatif. Menurut Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia Dosis radiasi yang diberikan secara umum adalah 5000 6000 cGy, dengan cara
pemberian 200 cGy/x, 5 hari perminggu.
Syarat standar sebelum penderita diradiasi
adalah :
1. Hb > 10 g%
2. Trombosit > 100.000/mm3
3. Leukosit > 3000/dl (Samiadji.1996:6)
Sedangkan pada radiasi paliatif diberikan pada pasien dengan keadaan:

1. pasien kurang aktif dan kurang mampu mengurus diri sendiri ataupun yang keadaannya lebih
buruk
2. Penurunan berat badan > 5% dalam 2 bulan.
3. Fungsi paru buruk. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003:9).

3. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan pada semua kasus kanker paru. Syarat utama harus ditentukan jenis
histologis tumor karena akan menentukan jenis obat yang akan diberikan dan keadaan pasien adalah
pasien cukup aktif tapi memerlukan bantuan. Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan beberapa
obat antikanker dalam kombinasi regimen kemoterapi. Kombinasi obat yang bisa diberikan pada
pasien adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Platinum based therapy ( sisplatin atau karboplatin)


PE (sisplatin atau karboplatin + etoposid)
Paklitaksel + sisplatin atau karboplatin
Gemsitabin + sisplatin atau karboplatin
Dosetaksel + sisplatin atau karboplatin (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia,
6. 2003:10)
Pengobatan Lain
Selain 3 pengobatan lain tadi ada beberapa pengobatan lain yakni imunoterapi, hormonoterapi, dan
terapi gen. Namun pengobatan tersebut masih dalam tahap uji klinis maupun masih sebatas penelitian
sehingga data untuk penggunaan pada populasi umum tentang penggunaan pengobatan ini masih
belum ada.
KOMPLIKASI
Kanker paru dapat memicu timbulnya beberapa penyakit kain. Penyakit tersebut antara lain adalah
sebagai berikut
1. Efusi pleura. Terjadi karena sel kanker memproduksi cairan sehingga memenuhi rongga
pleura
2. Sindrom Vena kava superior. Muncul akibat penekanan atau invasi massa ke vena cava
superior, sehingga menimbulkan gejala ini.
3. Obstruksi bronkus. Terjadi karena sel kanker intrabronkial menyumbat langsung atau sel
kanker di luar bronkus menekan bronkus sehingga terjadi sumbatan.
4. Invasi Dinding Toraks,
5. Batuk darah (Hemoptisis)
6. Kompresi penekanan Esofogus,
7. Kompresi sumsum tulang. Biasanya terjadi karena efek samping obat maupun radiasi. Gejala
yang paling sering muncul adalah leucopenia dan trombositopenia
8. Metastasis sel kanker ke bagian tubah yang lain. Merupakan komplikasi paling umum pada
kasus kanker. Bisa terjadi secara intrapulmonal maupun ekstrapulmonal seperti metastasis ke
tulang maupun ke otak. (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003:17 )
PROGNOSIS

Secara umum penderita kanker paru menunjukkan prognosis buruk dengan angka harapan hidup 1
tahun adalah 41.08% dan harapan hidup 5 tahun sekitar 12%. Hal ini disebabkan pasien cenderung
mendapat pananganan saat telah stadium lanjut. Prognosis bisa lebih baik dengan deteksi dini dan
penanganan tepat saat stadium awal kanker (jusuf, 2007:1)

PENCEGAHAN
Pencegahan bagi pasien yang belum mengidap kanker paru antara lain : (National Cancer
Institute,2006)
1. Hindari Merokok
Studi menunjukkan bahwa produk tembakau dalam bentuk apapun adalah penyebab utama kanker
paru-paru. Asap rokok mengandung lebih dari 60 dikenal karsinogen (agen penyebab kanker).
Karsinogen ini mengganggu perkembangan sel normal.Orang yang berhenti merokok dan tidak
pernah memulai merokok menurunkan risiko mereka terkena kanker paru-paru atau kanker paru-paru
yang kambuh. Banyak produk, seperti permen karet nikotin, semprotan nikotin, inhaler nikotin, patch
nikotin, atau permen nikotin, dan obatan antidepresan mungkin bermanfaat untuk orang yang
mencoba untuk berhenti merokok. Perokok pasif juga dapat terpapar kanker paru-paru. Ini adalah
asap yang berasal dari pembakaran rokok atau produk tembakau lainnya, atau asap yang dihembuskan
oleh perokok. Perokok pasif memiliki kesempatan terkena kanker sama seperti perokok, meskipun
dalam prosentase yang lebih kecil.
2. Agen Penyebab Kanker
Agen penyebab kanker yang mungkin ditemukan dalam ruangan, terutama di tempat kerja, termasuk
asbes, radon, arsenik, krom, nikel, tar, Bensin, diesel knalpot, berilium, vinil klorida, nikel kromat,
produk batubara, gas mustard, klorometil eter, jelaga dan semua karsinogen dan dapat ditemukan di
beberapa lingkungan kerja. Zat ini dapat menyebabkan penyakit kanker pada orang yang tidak
merokok dan risiko tinggi kanker paru pada perokok. Ambillah tindakan pencegahan untuk
melindungi diri dari paparan bahan kimia beracun di tempat kerja Selain itu, uji rumah Anda untuk
radon. Periksa tingkat radon pada rumah terutama jika tinggal di daerah di mana radon diketahui
menjadi masalah. Tingkat radon tinggi dapat diperbaiki untuk membuat rumah Anda lebih aman.
Karena radon juga merupakan salah satu penyebab kanker.
3. Polusi udara
Polusi udara juga dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru. Studi menunjukkan bahwa tingkat
kanker paru-paru lebih tinggi di kota-kota dengan tingkat polusi udara yang lebih tinggi.
4. Beta Karoten
Studi menunjukkan bahwa perokok berat yang menghindari mengonsumsi suplemen beta karoten
dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru dibandingkan dengan perokok yang mengonsumsi beta
karoten.

5. Diet dan Aktivitas Fisik

Penelitian menunjukkan bahwa diet kaya buah, dan mungkin sayuran, dapat membantu menurunkan
risiko kanker paru-paru. Pilih diet sehat dengan berbagai buah-buahan dan sayuran. Makanan sumber
vitamin dan nutrisi yang terbaik. Hindari mengambil dosis besar vitamin dalam bentuk pil, karena
mungkin akan berbahaya Selain itu, studi menunjukkan bahwa orang yang aktif secara fisik mungkin
memiliki risiko lebih rendah terkena kanker paru-paru dibandingkan mereka yang tidak. Bertujuan
untuk mencapai setidaknya 30 menit latihan pada hari-hari dalam seminggu. Periksa dengan dokter
Anda terlebih dahulu jika Anda belum berolahraga secara teratur. Mulailah perlahan-lahan dan terus
menambahkan lebih banyak aktivitas. Bersepeda, berenang dan berjalan kaki adalah pilihan yang
baik. Tambahkan latihan sepanjang hari Anda - taman jauh dari kerja dan berjalan sepanjang jalan
atau naik tangga ketimbang lift.

6. Chemoprevention
Chemoprevention adalah penggunaan obat alami atau buatan manusia yangspesifik untuk
membalikkan, menekan, atau mencegah pertumbuhan kanker. Chemoprevention adalah suatu area
dari penelitian klinis aktif dan ini belum menjadi terapi standar

PROSES KEPERAWATAN
Pengkajian
a. Identitas
Umur : Karsinoma cenderung ditemukan pada usia dewasa
Jenis Kelamin : Laki-laki lebih beresiko daripada wanita
b. Riwayat masuk
Keluhan utama yang sering muncul saat masuk adalah adanya sesak napas dan nyeri dada yang
berulang tidak khas, mungkin disertai/tidak disertai dengan batuk darah.
c. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang sering terjadi seperti ISPA, influenza dan dialami dalam rentang waktu yang relative
lama dan berulang, adanya riwayat tumor pada organ lain, baik pada diri sendiri maupun dari
keluarga. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis
penderita.
d. Pemeriksaan Fisik
B1 (Sistem Pernafasan)
Data Subyektif : nyeri didada pada saat bernafas, batuk

Obyektif :sputum kadang berwarna merah karena melalui permukaan tumor yang mengalami
ulserasi, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat,
dispnea, terdengar stridor, wheezing, clubbing finger
B2 (Sistem Kardiovaskular)
Data Subyektif : Sakit kepala
Obyektif :Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokonstriksi, kuantitas darah menjadi
menurun, asidosis ringan/berat.
B3 (Sistem Persyarafan)
Data Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran
Obyektif : Letargi
B4 (Sistem Perkemihan)
Data Subyektif

: Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal)

Obyektif : Produksi urine menurun/normal


B5 (Sistem Pencernaan)
Data Subyektif : mual, kadang muntah, anoreksia
Data Obyektif : penurunan berat badan
B6 (Sistem Muskuloskeletal dan Integumen)
Data Subyektif : Lemah, cepat lelah
Data Obyektif : Tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot
aksesoris pernafasan,
Data Obyektif : Kulit pucat, sianosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak
keringat, suhu kulit meningkat/normal.
e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien kanker paru antara lain (PDPI,2003) :
a. Foto toraks
dapat melihat massa dan ukuran tumor yang lebih dari 1cm

b. Bronkoskopi
dapat digunakan untuk mengambil jaringan atau bahan agar dapat dipastikan ada
tidaknya sel ganas.
c. CT-Scan toraks
dapat mendeteksi tumor dengan ukuran lebih kecil dari 1cm

d. Biopsi aspirasi jarum


memberikan hasil yang lebih baik dari biopsy bronkus.
e. Transbronchial Needle Aspiration (TBNA)
didapat bahan untuk sitologi dan informasi metastasis KGB subkarina atau
paratrakeal.
f. Transbronchial Lung Biopsy (TBLB)
mendeteksi lesi kecil yang lokasinya agak di perifer.
g. Biopsi Transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB)
melihat lesi yang terletak di perifer dan ukuran lebih dari 2cm.

h. Sitologi sputum
pengambilan atau pengeluaran sputum
Masalah yang mungkin muncul :
1.
2.
3.
4.
5.

Muncul sputum pada jalan nafasnya yang mengganggu pernafasan.


Kekurangan nutrisi yang disebabkan batuk yang melelahkan.
Aktivitas juga menurun karena nyeri pada dadanya.
Koping pada individu tersebut menjadi tidak efektif.
Pertukaran gas diparu-paru menjadi terganggu karena jalan nafasnya terhambat.

Diagnosa Keperawatan
a. PREOPERASI (Gale, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, 2000, dan Doenges, Rencana
Asuhan Keperawatan, 2007).
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan :
a. Kehilangan fungsi silia jalan nafas
b. Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.
c. Meningkatnya tahanan jalan nafas

Kriteria hasil :
a.
b.
c.
d.
a.

Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.


Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersihan jalan
nafas.

Intervensi :
a) Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan
upaya bernafas.
b) Observasi penurunan ekspansi dinding dada.
Rasional : Ekspansi dada terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan
sekret dalam seksi lobus.
c) Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik
sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal pernafasan.
Sputum bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, dan/ atau purulen.
d) Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.
e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, salbuterol dll. Awasi untuk efek samping
merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret,
memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret. Memerlukan perubahan dosis/ pilihan
obat.
f) Ajarkan batuk efektif pada pasien.
Rasional : Batuk efektif dapat mengeluarkan sekret sehingga mengurangi tahanan pada jalan nafas.
2). Ketakutan/Anxietas.
Dapat dihubungkan :
d) Krisis situasi
e) Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.
f) Faktor psikologis.
Kriteria hasil :

Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.


Mengakui dan mendiskusikan takut.
Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapatditangani.
Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.

TTV normal ( RR : 16-20 x/menit, P: 60-100 x/menit, T: 36,5-37,5 oC)


Intervensi :
a) Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
b) Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.
c) Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa
terkontrol.
d) Identifikasi persepsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu
untuk individu.
e) Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi.
Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.
3). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Dapat dihubungkan :
1.
2.
3.

Kurang informasi.
Kesalahan interpretasi informasi.
Kurang mengingat.

Kriteria hasil :
a. Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.
b. Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
c. Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan
perhatianmedik.
d. Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.
Intervensi :
a) Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/
ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien,
konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru
b) Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memampukan pasien untuk mengikuti
dengan tepat program pengobatan.

c) Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami
penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk penyembuhan.
d) Berikan pedoman untuk aktivitas.
Rasional : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi
periode istirahat dan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/
kebutuhan oksigen berlebihan.

b. PASCAOPERASI (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 2007).


1). Kerusakan pertukaran gas.
Dapat dihubungkan :
a. Pengangkatan jaringan paru
b. Gangguan suplai oksigen
c. Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan darah).
Kriteria hasil :
a. Menunjukkan gangguan pertukaran gas dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA (Gas
Darah Arteri) dalam rentang normal.
b. Bebas gejala distress pernafasan.
Intervensi :
a) Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu, nafas
bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.
Rasional : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal
terhadap hilangnya jaringan paru.
b) Auskultasi paru untuk gerakan udara dan bunyi nafas tak normal.
Rasional : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien
pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang
masih ada.
c) Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan
penggunaan alat
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.
d) Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi miring.
Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.
e) Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.

Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.

2). Bersihan jalan nafas tidak efektif


Dapat dihubungkan :
-

Peningkatan jumlah/ viskositas sekret


Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.
Kelemahan/ kelelahan.

Kriteria hasil :
Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan
pernafasan tak bising.
Intervensi :
a) Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.
Rasional : Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi
jalan nafas.
b) Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi
dan menekan daerah insisi.
Rasional : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menguatkan upaya
batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.
c) Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai
kemajuan penyembuhan.
d) Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.
e) Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan
menurunkan viskositas sekret.

3). Nyeri (akut).


Dapat dihubungkan :
Kriteria hasil :

Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal.


Adanya selang dada.
Invasi kanker ke pleura, dinding dada

Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.


Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.
Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.

Intervensi :
a) Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala 0
10.
Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan skala rentang membantu
pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic,
meningkatkan control nyeri.
b) Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.
Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat
nyeri, kebutuhan/ keefektifan intervensi.
c) Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.
Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain
itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan
mengatasinya.
d) Dorong menyatakan perasaan tentang nyeri.
Rasional : Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
e) Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.
4). Anxietas.
Dapat dihubungkan:
a. Krisis situasi
b. Ancaman/ perubahan status kesehatan
c. Adanya ancaman kematian.
Kriteria hasil :
a. Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
b. Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat
c. Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
Intervensi :
a) Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.
Rasional : Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi
perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan
perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.

b) Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan Rasional : Dukungan
memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.
c) Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.
Rasional : Bila penyangkalan ekstrem atau ansietas mempengaruhi kemajuan penyembuhan,
menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan membuka cara penyelesaiannya.
d) Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi
perawatan mempunyai pemahaman yang sama.
Rasional : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap
informasi.
e) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan
peristiwa/ pengobatan.
Rasional : Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang
merasa tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.
f) Berikan kenyamanan fisik pasien.
Rasional : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan
fisik menetap.

5). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.


Dapat dihubungkan :
a. Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber
b. Salah interpretasi informasi.
c. Kurang mengingat
Kriteria hasil :
a.
b.
c.
d.

Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.


Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan tersebut.
Berpartisipasi dalam proses belajar.
Melakukan perubahan pola hidup.

Intervensi :
a) Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi saat ini dan hasil yang diharapkan.
Rasional : Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untukbelajar lanjut tentang
manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi penting
untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi.

b) Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram yang
tepat. Masukkan informasi ini dalam diskusi tentang harapan jangka pendek/ panjang dari
penyembuhan.
Rasional : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi,
dan lamanya/ derajat komplikasi.
c) Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.
Rasional : Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk
meyakinkan penyembuhan optimal. Juga memberikan kesempatan untuk merujuk masalah/
pertanyaan pada waktu yang sedikit stres.

Faktor Resiko :
1Karsinogen
2.Rokok
3.Radon Gas
4.Genetic
5.Polusi udara
6.Polusi industry
7.Min Vit A& C

Menyerang
percabangan segmen /
sub bronkus

Metaplasia,
dysplasia,
hyperplasia

Sel-sel abnormal

Silia hilang
+dekuamasi

Pengendapan
karsinogen

Kanker paru-paru

Mutasi gen dansel


epitel paru tumbuh
tak terkendali
(tumor)

Iritasi massa
tumor
Peningkatan
produksi
sekresi
trakheobronkhi
al (secret )

Tekanan tumor pd
jaringan penunjang

Resiko
infeksi

Nyeri
(dada,
tulang,
abdomen)

Bat
uk

kemoterapi
dan radioterapi

Kelemahan

Intake
Ronchi +
Obat
antibiotik
&Kompres

MK:
Gangguan
Pertukaran

Kerontokanramb
ut, perubahan
warna kulit

Oksigenasi, pertahankan
kepatenan jalan napas,
ubah posisi

Alergi

MK:
Ketidakefektifa
n bersihan
jalan nafas

Fisioterapi
napas,
nebulizer,
suction

Penurunan
transport Oksigen

MK: Gangguan
Pertukaran Gas

MK:
Intoleransi
aktivitas
Analgesic,
ubah posisi

Pembedaha
n

RR ,
Mengi,dipsneu,
stridor

Demam

anoreks
ia

Obtruksi
bronkus

Alergi
MK: Ggn
pemenuhan
nutrisi

Intake
nutrisi

Tidak Steril

Bakteri
Masuk

infeksi

PENUTUP

Kesimpulan
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang
berasal dari paru sendiri (primer) dan metastasis tumor di paru. Jenis kanker berdasarkan sel kanker

dibagi dua yaitu Kanker paru jenis bukan sel kecil (Non Small Cell Lung Cancer -NSCLC) dan
Kanker paru jenis sel kecil (Small Cell Lung Cancer - SCLC). Beberapa penyebab kanker paru ini
yaitu merokok, genetik, polusi udara, dan kontaminasi gas kimia yang beracun. Gejala yang menjadi
tanda-tanda adanya kanker paru terdiri dari gejala awal yaitu stridor lokal dan dispnea ringan yang
mungkin diseabkan oleh obstruksi pada bronkus. Kemudian gejala umum yang sering muncul yaitu
batuk yang tidak kunjung sembuh (lebih dari 2 minggu), kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan
oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang
sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi
sekunder.
Sedangkan untuk pemeriksaan diagnostik kanker paru dapat diketahui melalui gambaran radiologis
bronkoskopi, biopsi aspirasi jarum , transbronchial needle aspiration (TBNA) , transbronchial lung
biopsy (TBLB), biopsi transtorakal (Transthoraxic Biopsy, TTB), torakoskopi medik, sitologi sputum,
torakoskopi dan tindakan bedah mediastinoskopi, torakoskopi, torakotomi eksplorasi dan biopsi paru
Petanda Tumor dan Pemeriksaan biologi molekuler. Untuk penatalaksanaannya yaitu pembedahan,
kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, hormonoterapi dan terapi gen.
Saran
Untuk penulis selanjutnya, diharapkan dapat mencari reverensi lebih agar makalah dapat lebih
lengkap dalam mengulas permasalahan kanker paru, sehingga pembaca dapat memperoleh informasi
selengkap-lengkapnya. Sehingga pencegahan, pengobatan, dan asuhan keperawatan pada pasien
kanker paru dapat dilaksanakan dan tersosialisasikan dengan baik.

Daftar Pustaka
Bahar,Dr. 2009. Sudahkah terjadi metastasis?. Diakses tanggal 17 Oktober 2011.
http://www.suaradokter.com/page/6/

URL:

Doenges, Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta
Dodi.
2011.
Penyebab
Kanker
Paru.
Diakses
tanggal
5
Oktober
2011.
URL:http://rotinsuluhospital.org/index.php?option=oncontent&view=article&id=79:apa-itu-kankerparuJusuf, Anwar. Dkk. 2007. Kemoterapi Kanker Paru. Journal Respirologi.1-6. Diakses tanggal 3
oktober 2011.
URL:jurnalrespirologi.org/jurnal/Okto09JRI/Kemoterapi%20paru%20last%20check10.pdf.
Long, Barbara C, (1996), Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Holistik, Yayasan
Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
National Cancer Institute. 2006. Diakses tanggal 18 Oktober 2011. URL:www.cancer.gov
Samiadji, Sentot. 1996. Radioterapi pada karsinoma paru. Kumpulan Naskah Ilmiah Laboratorium
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Diakses tanggal 3 oktober 2011.
URL: eprints.undip.ac.id/13806/1/1996KI326-1.pdf

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Kanker Paru. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia. Diakses tanggal 3 oktober 2011. URL: www.klikpdpi.com/konsensus/konsensuskankerparu/kankerparu.pdf
Somantri, Irman.2008.Asuhan Keperawatan
Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika 2.

pada

Pasien

dengan

Gangguan

Sistem

Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta.

Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan Sistematik, Edisi 2, EGC, Jakarta.