Anda di halaman 1dari 18

KLASIFIKASI

PROSES
PEMBENTUKAN
LOGAM

Jenis

proses pembentukan banyak sekali


digunakan dalam industri.
Untuk mempermudah pengkajian maka
proses-proses tersebut diklasifikasikan
berdasarkan yaitu :
1. daerah temperatur pengerjaan
2. jenis gaya pembentukan
3. bentuk benda kerja

4. tahapan produk
Klasifikasi lain yaitu berdasarkan jenis
mesin atau sumber energi yang digunakan
untuk proses pembentukan

Klasifikasi berdasarkan temperatur


pengerjaan
Menurut temperatur pengerjaannya, proses
pembentukan dapat diklasifikasikan menjadi
dua kelompok besar :
1. Pengerjaan panas (hot working)
2. Pengerjaan dingin (cold working)

Pada

awalnya batasan kedua kelompok


tersebut hanya didasarkan, ada atau tidaknya
proses pemanasan benda kerja.
Dari segi metalugis, hal ini tidak semuanya
benar.
Batasan yang berlaku lebih umum adalah
berdasarkan pada temperatur rekristalisasi
logam yang diproses.
Hal ini berkaitan dengan ada atau tidaknya
proses pelunakan selama proses berlangsung.

Proses

pengerjaan panas
Definisi proses pengerjaan panas adalah
Proses pembentukan yang dilakukan
pada daerah temperatur logam yang
diproses atau lebih singkat daerah
temperatur rekristalisasi yang
selanjutnya disebut sebagai daerah
temperatur tinggi.

Dalam

proses deformasi temperatur tinggi


terjadi proses pelunakan terus menerus,
khususnya akibat terjadinya rekristalisasi.
Akibatnya bersifat lunak pada temperatur
tinggi.
Kenyataan inilah yang membawa
keuntungan-keuntungan pada proses
pengerjaan panas, yaitu bahwa deformasi
yang diberikan kepada benda kerja relatif
besar.

Keuntungan

proses pengerjaan panas :


1. Deformasi yang diberikan pada benda
kerja sangat besar.
2. Karena sifat lunak dan ulet maka gaya
pembentukan yang dibutuhkan relatif
kecil
3. Benda kerja mampu menerima
perubahan bentuk tanpa mengalami
retak

Karena

keuntungan itulah proses


pengerjaan panas biasanya digunakan
pada proses-proses pembentukan
primer karena dapat memberikan
deformasi yang besar.
Contoh : pengerolan panas, tempa dan
ekstrusi.

Proses

pengerjaan dingin
Proses pengerjaan dingin didefinisikan
sebagai proses pembentukan yang
dilakukan pada daerah temperatur di
bawah temperatur rekristalisasi.
Dalam praktek, pengerjaan dingin
dilakukan pada temperatur kamar atau
tanpa pemanasan benda kerja.

Agar

lebih singkat,daerah temperatur


dibawah temperatur rekristalisasi atau
disebut daerah temperatur rendah.
Dalam praktek proses pengerjaan dingin
dilakukan pada temperatur kamar atau
tanpa pemanasan benda kerja.
Daerah temperatur dibawah temperatur
rekristalisasi disebut daerah
temperatur rendah.

Pada

kondisi ini logam yang dideformasi


terjadi proses pengerasan regangan
(strain hardening). Logam akan
bersifat :
Makin keras, makin kuat dan makin
getas bila mengalami deformasi.
Hal ini menyebabkan relatif kecilnya
deformasi yang dapat diberikan pada
proses pengerjaan dingin.

Bila dipaksakan akan terjadi perubahan bentuk


yang besar maka benda kerja akan retak.
Meskipun demikian, proses pengerjaan dingin
menempati posisi yang khas, dalam rangkaian
proses pengerjaan.
Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan terbatasnya
kemungkinan proses pengerjaan dingin.
Langkah deformasi awal biasanya adalah pada
temperatur tinggi, produk pengerolan panas.
Balok, ingot, billet atau slab dirol panas menjadi
bentuk yang lebih tipis, misalnya pelat.

Pada

tahapan tersebut deformasi yang


dapat diberikan adalah relatif besar.
Namun proses pengerolan ini tidak
dapat diteruskan pada pelat yang relatif
lebih tipis. Mungkin saja suatu gulungan
pelat dipanaskan terlebih dahulu pada
tungku sampai temperaturnya melewati
temperatur rekristalisasi.

Apabila

pelat tersebut dirol, maka


temperaturnya akan cepat turun sampai
di bawah temperatur rekristalisasi.
Hal i i disebabkan oleh besarnya panas
yang berpindah dari pelat ke sekitarnya.
Pelat yang tipis akan lebih cepat
mengalami penurunan temperatur dari
pada pelat yang tebal.

Dari

uraian tersebut jelaslah bahwa


proses deformasi yang dapat dilakukan
pada benda kerja yang luas permukaan
spesifiknya besar .(luas permukaan
spesifik = luas permukaan dibagi
dengan volume).