Anda di halaman 1dari 19

Pengelolaan Sampah pada Industri

Kertas
dengan metode Aerob Composting
di PT. Arara Abadi

Oleh: Kelompok II

Kelompok II
Delia Putri
0910941007
Wilda Utami Nurhuda 0910942032
Adrian Ermanda
0910942041
Rahmi Pratiwi
0910942045

RuangLingkup

Proses Produksi Kertas

Proses Pembuatan Kertas (pulp)


Kayu diambil dari hutan produksi kemudian dipotong - potong atau
lebih dikenal dengan log.
Log disimpan ditempat penampungan beberapa bulan sebelum
diolah dengan tujuan untuk melunakan log dan menjaga
kesinambungan bahan baku.
Kayu dibuang kulitnya dengan mesin atau dikenal dengan istilah
De-Barker.
Kayu dipotong-potong menjadi ukuran kecil (chip) dengan mesin
chipping. Chip yang sesuai ukuran diambil dan yang tidak sesuai
diproses ulang.
Chip dimasak didalam digester untuk memisahkan serat kayu
(bahan yang digunakan untuk membuat kertas) dengan lignin.
Proses pemasakan ini ada dua macam yaitu Chemical Pulping
Process dan Mechanical pulping Process. Hasil dari digester ini
disebut pulp (bubur kertas). Pulp ini yang diolah menjadi kertas
pada mesin kertas (paper machine).

Proses Pembuatan Kertas


(Paper machine)

Sebelum masuk keareal paper machine pulp diolah dulu pada bagian
stock preparation.
Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan dulu
dengan alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke headbox.
Fourdinier berfungsi untuk membuang air yang berada dalam stock
(dewatering). Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah). Kadar
padatnya sekitar 20 %.
Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga kadar
padatnya mencapai 50 %. Hasilnya masuk ke bagaian pengering (dryer).
Cara kerja press part ini adalah. Kertas masuk diantara dua roll yang
berputar. Satu roll bagian atas di beri tekanan sehingga air keluar dari
web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena kerja dryer tidak terlalu
berat (air sudah dibuang 30 %).
Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar airnya mencapai
6 %. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk gulungan kertas
yang besar (paper roll). Paper roll ini yang dipotong - potong sesuai
ukuran dan dikirim ke konsumen.

Sumber Limbah Padat


Industri kertas

Timbulan
Satu industri pulp dan kertas tiap hari menghasilkan sludge
berkisar antara 3040 ton, sementara pemanfaatan sludge per hari
hanya 12 ton (Aritonang, 2005).
Sehingga masih banyak sludge yang tersisa yang belum
dimanfaatkan. Penanggulangan sludge di beberapa industri pulp
dan kertas di Indonesia, sebagian besar hanya dibenamkan ke
dalam tanah atau dibakar. Penanggulangan dengan cara ini
mempunyai beberapa resiko antara lain jika dibenamkan ke dalam
tanah membutuhkan areal yang luas, sedangkan jika dibakar
memerlukan biaya yang cukup besar dan dapat mencemari udara.

Komposisi
Komposisi limbah di dominasi organik kompleks yang terdiri dari
serat selulosa 59-72%, lignin 6-16% dan hemiselulosa 7-10%
(sosulski, 1993)

Pengolahan

Aerob Composting untuk Pembuatan Arkoba


Arang kompos bioaktif (Arkoba) adalah campuran arang dan
kompos hasil proses pengomposan
dengan bantuan mikroba
lignoselulotik yang tetap hidup di dalam kompos. Mikroba tersebut
mempunyai kemampuan sebagai biofungisida, yaitu melindungi tanaman
dari serangan penyakit akar sehingga disebut bioaktif. Keunggulan lain dari
Arkoba adalah sebagai agent pembangun yang menyatu dalam
kompos mampu meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki
sirkulasi air dan udara di dalam tanah (Gusmailina dan Komarayati,
2008)
Arkoba dibuat dalam rangka optimalisasi dan pemanfaatan limbah
industri perkayuan terutama serbuk gergaji. Akan tetapi arkoba kesuburan
tanah, karena arang juga dapat dimanfaatkan untuk pengolahan limbah
organik lainnya, baik yang berasal dari sampah rumah tangga,
pertanian, perkebunan
atau sampah kota (Gusmailina, Pari dan
Komarayati, 2002a).

Prinsip dan Mekanisme pengolahan


Limbah terdiri dari kulit kayu, sludge, serbuk kayu
sisa proses pembuatan chip, abu buangan boiler
dan gambut sisa boiler.
Hampir semua bahan diolah menjadi kompos
dengan proses konvensional secara terbuka tanpa
menggunakan aktivator, sehingga membutuhkan
waktu relatif lama, yaitu sampai 6 bulan.

Lanjutan
Pembuatan arang kompos prinsipnya sama dengan pengomposan biasa yaitu melalui
proses fermentasi, langkah-langkah pembuatan arang kompos adalah sbb:
Pada bahan baku yang sudah dicacah ditambah arang serbuk sebanyak 10-30 % dari
berat volume bahan yang akan dikomposkan
Tambahkan air hingga kondisi kadar air campuran bahan berkisar antara 20%-30 %
Masukkan ke dalam wadah pengomposan
Khusus untuk bahan yang sulit hancur, sebaiknya pada minggu ke dua, ke tiga dan ke
empat dibalik kemudian di aduk ulang, tambahkan air bila kondisi agak kering
Pengukuran suhu dilakukan guna mengetahui apakah proses berjalan dengan sempurna.
Proses berjalan dengan sempurna apabila pada minggu pertama dan ke dua suhu
meningkat hingga mencapai 55 oC 60 oC, lalu menurun pada minggu-minggu
berikutnya. Apabila kondisi suhu sudah stabil berarti proses pengomposan sudah selesai
dan kompos dapat dibongkar
Secara visual kompos yang sudah matang akan mengalami perubahan warna, sedangkan
indikator kompos yang siap pakai yaitu mempunyai nisbah C/N di bawah atau sama
dengan 20
Untuk menambah daya tarik penampilan, kompos digiling hingga halus kemudian dikemas
lalu disimpan ditempat yang kering dan teduh.

Kelebihan Arkoba
Manfaat arang kompos bioaktif (ARKOBA)
Arang kompos dapat ditingkatkan menjadi pupuk organik melalui
pengkayaan unsur hara dengan bahan-bahan organik alam.
Memacu perkembangan mikroorganisme tanah, meningkatkan nilai kadar
tukar kation (KTK) tanah, pH tanah pada tingkat yang lebih sesuai bagi
pertumbuhan tanaman, sehingga cocok untuk reklamasi lahan yang
mempunyai tingkat kesuburan dan keasaman tanah yang rendah.
Arang kompos mempunyai sifat yang lebih baik dari kompos karena
keberadaan arang yang menyatu dalam kompos. Morfologi arang yang
mempunyai pori sangat efektif untuk mengikat dan menyimpan hara.
Hara tersebut dilepaskan secara perlahan sesuai dengan konsumsi dan
kebutuhan tanaman (efek slow release). Karena hara tersebut tidak
mudah tercuci, lahan akan selalu berada dalam kondisi siap pakai.
Penggunaan arang kompos merupakan upaya untuk menjaga stabilitas
bahan organik tanah agar kelestarian produktivitas tanaman terjaga. Baik
diterapkan untuk mencapai keberhasilan pembangunan hutan tanaman
serta mendukung kesinambungan dan kelestarian hutan, sekaligus
program GERHAN.

Dari beberapa uji coba pemberian arang kompos pada tanah selain
dapat menambah ketersediaan unsur hara tanah, memperbaiki
sifat fisik, kimia dan biologis tanah, juga dapat meningkatkan pH
tanah dan nilai KTK tanah, sehingga cocok digunakan untuk
rehabilitasi/reklamasi lahan-lahan kritis, masam yang makin
meluas di Indonesia. Dari beberapa aplikasi arang kompos yang
telah diuji cobakan, baik di laboratorium, maupun di lapangan
menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang diberi arang
kompos meningkat hingga 2 kali lipat dibanding dengan yang tidak
diberi arang kompos.
Aplikasi arang kompos bioaktif yang telah dilakukan selain di
Kabupaten Garut adalah di Ciloto (KPH Cianjur), pada tanaman pak
choi, brokoli, dan wortel. Hasil yang diperoleh dalam satuan luas
400 m persegi, produksi meningkat 1, 5 kwintal, jika dibandingkan
dengan pupuk yang yang biasa digunakan oleh petani seperti
bokasi, selain itu juga mengurangi penggunaan pupuk kimia
sebesar 40 %.

Kerugian
Salah satu faktor yang menjadi tolak ukur pembanding dari proses
pengomposan adalah waktu pengomposan.
Karena waktu sangat berkaitan dengan efisiensi dan biaya dalam
suatu proses produksi, apalagi dalam kapasitas dan skala besar.
Waktu pengomposan yang berlangsung di PT. Arara Abadi
berlangsung sampai 6 bulan. Hal ini karena proses pengomposan
berlangsung secara alami dan terbuka, sehingga tidak dapat
dikontrol.
Sedangkan pengomposan di laboratorium berlangsung hanya satu
bulan dengan dua kali pembalikan. Hal ini karena proses yang
berlangsung terkontrol.

Saran
1.

2.
3.
4.
5.

Untuk mempercepat proses komposting sebaiknya digunakan


aktivator; Proses pengomposan dapat dipercepat dengan
menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang
berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat
mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi
beberapa minggu saja.
Sebaiknya proses komposting dilakukan di bawah naungan, agar
nutrisi/hara yang terkandung tidak tercuci sewaktu hujan;
Sebaiknya kompos yang dihasilkan disimpan di dalam gudang
yang memenuhi persyaratan penyimpanan;
Sludge yang masih mengandung kadar air tinggi, sebaiknya di
press terlebih dahulu sebelum komposting;
Sebagian kulit kayu atau serbuk kayu dibuat arang kemudian
dicampurkan pada saat komposting sehingga dapat mengurangi
bau sludge, atau arang dicampurkan pada sludge basah yang
baru keluar dari proses.

Sumber
Djazuli, M dan O. Trislawati. 2004. Pemupukan, pemulsaan dan
pemanfaatan limbah nilam untuk
peningkatan produktivitas
dan
Mutu
Nilam.
Perkembangan
Teknologi
Tanaman
Rempah
dan Obat Vol XVI no 2. Bogor. Hal 29 37.
Gusmailina dan S. Komarayati.
2008.
Teknologi inovasi
penanganan limbah industri pulp
dan kertas menjadi arang
kompos bioaktif. Prosiding seminar Teknologi Pemanfaatan Limbah
Industri Pulp dan Kertas Untuk Mengurangi Beban Lingkungan.
Bogor November. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hasil
Hutan, Bogor. Hal:18-30.
Gusmailina. 2008. Arang kompos bio aktif; teknologi inovatif untuk
menunjang pembangunan kehutanan yang berkesinambungan.
Alih teknologi / pelatihan pembuatan arang terpadu. Terselenggara
atas kerjasama : Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hasil Hutan
Dan
Bdk
Kadipaten.
Kadipaten
6

11
mei
2008